027 – Sang Dahrun

“Aku tidak bohong!” kata temanku itu. “Kalau sudah terbang, bisa berputar-putar kencang. Katanya, kayak magnet, kayak kompas.” Ia memperagakan bagaimana bentuk putaran keempat pisau yang jika saling bertemu akan membentuk gasing yang memiliki empat penjuru arah mata angin, melayang-layang berputar-putar di udara.

“Tapi, kenapa kau ingin Temokan?” tanya temanku itu kemudian, berhati-hati.

“Aku hanya ingin benda yang bisa terbang,” jawabku. “Apa pun itu, sebenarnya…”

“Untuk apa?”

“Supaya bisa terbang, dong!”

“Mana mungkin?!” seru temanku, mengernyit. “Yang bisa terbang itu cuma Temokan. Manusia—orang—tidak bisa.”

“Tapi kalau benda itu terbang, dengan kekuatan gaibnya, Temokan pasti bisa mengangkat benda-benda yang diikat ke benda itu, dan akan ikut terbang juga. Iya, kan?”

“Aku tidak tahu,” temanku menggeleng.

“Benar, kan? Kita bisa mengait kuat tali-tali ke benda Temokan yang bisa terbang itu. Jadi, kalau dia terbang, dia jadi semacam sumber energi yang membuat benda-benda lain juga bisa terbang. Iya, nggak?”

“Aku belum pernah melihat yang seperti itu.”

“Kau pernah melihat pisau terbang yang kau ceritakan padaku dulu?” tanyaku dengan tak sabar.

Temanku menggelengkan kepala, pelan-pelan.

“Tapi tadi kau bilang bentuknya seperti magnet, seperti kompas…?!”

“Pamanku yang bilang padaku. Dia yang punya pisau itu.”

“Makanya, aku ingin bertemu dengannya.”

“Paman sedang merantau ke desa yang jauh sekali dari sini,” temanku itu berujar dengan nada yang menyiratkan keberatan. “Desa di negeri orang. Masih lama dia di sana, kurasa. Tidak tahu kapan dia akan ke Kelinti Capung. Kalau mau ke sana, kita harus naik kapal tiga kali dua puluh empat jam.”

“Tidak ada lagikah orang lain yang punya Temokan di sini, sekarang ini…?”

“Ada beberapa orang yang aku kenal. Rumahnya tidak jauh dari huntara tempat kau menginap. Dia mendapat Temokan itu dari ayahnya; kakeknya yang mewariskan benda itu ke ayahnya.”

“Nah…! Kalau begitu, kenalkan aku padanya…”

“Tapi Temokan miliknya kurang sakti,” temanku menyela cepat. “Aku rasa, punya dia tidak bisa terbang.”

“Yang lainnya…?”

“Ada. Tetangga Kepala Desa.”

“Bisa terbang?”

“Tidak bisa juga. Temokan yang dia punya adalah sebuah pohon di samping pagar rumahnya, di dekat parit kecil yang meliuk-liuk memanjang hingga ke sawah.”

“Tidak ada lagi yang lain…?”

“Dahrun punya cincin,” kata temanku, pelan sekali. “Tapi aku tidak tahu, cincinnya bisa terbang atau tidak…?”

“Dahrun…?”

“Ya! Sang Dahrun! Siapa lagi….?!” seru temanku, cepat, sambil tersenyum. Sepertinya dia baru teringat kalau ayah dari bocah yang kuduga bisa menggambar gajah terbang itu juga punya benda Temokan, yaitu sebuah cincin. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.