028 – Kesaktian Sang Dahrun

Sekarang aku berjalan menuju huntara tempatku menginap. Tangan kananku tidak henti-hentinya menggaruk kepala. Jawaban temanku beberapa menit yang lalu, yang berujar beriring senyum jahil khas masyarakat Kelinti Capung, di bawah atap bambu huntara miliknya itu, membuatku semangat. Aku menggaruk-garuk kepala karena… tidak tahu…, mungkin itu reaksi faali badaniah diri yang sedang berusaha menimbang-nimbang kalimat rayuan macam apa yang bisa aku lancarkan supaya Sang Dahrun mau meminjamkan—kalau bisa memberikan—Cincin Temokan itu kepadaku. Aku juga yakin, Sang Dahrun pasti punya lebih dari satu cincin.

Beruntungnya, aku sudah lumayan mengenal dekat Sang Dahrun. Aku bahkan sudah sering menginap di rumahnya. Dia orang yang baik dan senang membantu orang lain. Tapi, lebih daripada itu: aku percaya bahwa Sang Dahrun menyimpan jauh lebih banyak misteri yang tidak saja menakjubkan di mata orang-orang lain, tetapi juga sering tidak disadari oleh dirinya sendiri. Beberapa orang menganggapnya sakti mandraguna, yang lain menganggapnya karismatik, ada juga yang hormat sepenuhnya kepada Sang Dahrun karena alasan yang tak mudah kita pahami. Orang-orang ibukota mengaguminya sebagai seniman. Di antara semua politikus-politikus dan pejabat pemerintah seantero Kelinti Capung, ada yang menjadikannya kawan, ada juga sebagai lawan.

Aku pun pernah melihat keistimewaan—kalau tak mau menyebutnya keanehan—Sang Dahrun. Pengalaman itu tidak sekali. Kejadiannya mirip cerita-cerita yang dikaitkan dengan para habib legendaris. Misalnya, Sang Dahrun menyuruh orang lain untuk pergi lebih dulu ke suatu tempat. Ketika orang yang disuruh itu tiba di tempat tujuan, Sang Dahrun sudah lebih dulu ada di sana. Atau, peristiwa yang terjadi di hutan bambu kaum Hindu: saat orang-orang bergotong-royong menebang batang bambu satu per satu, Sang Dahrun tampak menyebalkan karena ia duduk-duduk santai saja, acuh tak acuh, tidak ikut membantu. Namun, yang hebat darinya adalah: justru ketika semua orang sedang beristirahat, Sang Dahrun mengambil sebuah parang dan melanjutkan kegiatan menebang batang-batang bambu yang ada, seorang diri. Ketika semuanya dikumpulkan, jumlah batang bambu yang ditebang Sang Dahrun seorang diri itu sama banyaknya dengan jumlah batang bambu yang dikerjakan oleh sepuluh orang lainnya, dan itu semua dikerjakannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.

Namun, ada juga kejadian yang sepertinya aneh dari tingkah laku Sang Dahrun. Kurasa, mungkin, hanya aku seorang yang menyaksikannya waktu itu: Sang Dahrun tidak bisa menghidupkan api untuk membakar sampah. Bukankah seharusnya dia bisa menghidupkan api dengan satu kali jentikan tangannya yang sakti itu, tanpa bantuan alat bakar apa pun…? Setelah berjongkok lama dalam kegagalannya menyalakan api untuk membakar sampah, Sang Dahrun kembali duduk-duduk santai sambil bersenandung tenang, mengelus-elus kumisnya. Dia sempat melirik ke arahku, tersenyum sambil menaikkan kedua alis matanya satu kali, dan kemudian bersenandung lagi. Ia menyulut sebatang rokok, kemudian pandangan matanya menyapu pemandangan dedaunan bambu yang menghalangi dan meneduhkan sinar terik mentari hari itu, berlagak seolah-olah tidak ada masalah apa pun. Lalu, saat pandanganku teralihkan darinya sesaat, Sang Dahrun sudah hilang. 

“Dia pergi membeli kopi untuk kita,” kata si pemilik kebun, sembari menyulut api untuk membakar sampah yang ditinggalkan Sang Dahrun, menanggapi kebingungan mataku yang mencari sosok aneh tersebut. Mungkin itu trik lainnya dari Sang Dahrun untuk membuat sampah itu tetap bisa terbakar. Sebab, karena Sang Dahrun menghilang, si pemilik kebun justru mengajak kami yang ada di sana untuk membantunya melanjutkan kegiatan menyalakan api. Aku kebagian tugas untuk mengambil lebih banyak ranting-ranting kering. “Sialan, Dahrun! Bisa-bisanya dia kabur…?!” gerutuku dalam hati.

Terlepas dari kisah-kisah tentang ketidakpintarannya (yang kadang-kadang terjadi), toh kisah-kisah yang lebih hebat tentang kesaktiannya selalu saja ada, semakin hari semakin banyak, dan tak pernah basi untuk diceritakan orang-orang lagi dan lagi. Kisah-kisah kesaktian Sang Dahrun yang lebih, lebih, lebih, lebih, lebih, lebih, lebih sakti. Konon, Sang Dahrun bisa membekukan ombak di pantai, memanggil ikan-ikan untuk berkumpul sehingga memudahkan kegiatan memancing para nelayan. Orang-orang juga percaya bahwa dia bisa berpindah-pindah dengan cepat dari Kuil Buddha yang terletak di atas bukit, di belakang desa Kelinti Capung, ke ujung dermaga pelabuhan paling utara di desa itu. Bahkan, kemudian, kalau dia mau, dia bisa berpindah pula ke Masjid Besar milik kaum Wetu Telu di kampung tetangga. Katanya, Sang Dahrun bisa berbicara dengan serangga-serangga pohon, bercanda gurau dengan angin-angin hutan, mendengar bisik-bisik alam hanya dengan menempelkan daun telinganya ke tanah atau dinding atau batang pohon. Yang paling menganggumkan banyak orang, konon Sang Dahrun bisa membaca pikiran manusia; Sang Dahrun juga banyak tahu tentang berbagai hal yang tidak diketahui orang-orang di desa Kelinti Capung.

Namun, menariknya, meskipun dihiasi dengan segala kesaktiannya, baik kesaktian yang benar-benar ada maupun yang hanya merupakan mitos belaka yang didramatisir orang-orang, Sang Dahrun tidak pernah berperilaku sombong. Dia selalu tampil biasa-biasa saja, lebih sering menjalani hari-harinya seperti warga biasa juga.

Aku pun masih penasaran, kalau memang dia sesakti-semandraguna itu, apakah Sang Dahrun memang sengaja menyembunyikan kesaktiannya…, atau apakah sebenarnya dia memang tidak sadar kalau dirinya sehebat itu? Karena dia tidak pernah membahasnya kepada siapa pun. Atau jangan-jangan dia hanya ahli sulap saja, yang kalau triknya gagal, selalu punya cara lain untuk membuat orang tetap takjub? Sang Dahrun adalah warga biasa yang entah mengapa bisa menjadi begitu penting di desa Kelinti Capung dan sekitarnya. Yang pasti, ada banyak orang yang senang mendengarkan (dan beberapa mengikuti) apa yang Sang Dahrun bilang, tidak terkecuali Pak Kades, Lurah, Camat, dan Bupati.

Ketika di masa-masa krisis pascabencana gempa bumi, orang-orang mengacu ke tindak-tanduk Sang Dahrun. Maksudnya, apa yang dilakukan Sang Dahrun, orang-orang akan mengikuti. Ketika dia duduk, orang-orang yang sedang mengalami ketakutan terhadap gempa susulan juga akan ikut duduk, di dekatnya. Ketika dia berdiri, kebanyakan orang juga ikut berdiri. Ketika dia menghela napas, orang-orang panik. Ketika dia tersenyum di siang hari bolong di bawah tenda pengungsian, hampir semua orang merasa lega dan percaya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, entah itu urusan masakan dan makanan di dapur darurat, ataupun kabar soal bantuan dari pemerintah atau lembaga swasta, orang-orang selalu bertanya kepada Sang Dahrun meskipun dia bukan Kepala Desa—nyatanya dia memang warga biasa saja. Toh, Kepala Desa juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa dirinya pun pasti akan selalu bertanya kepada Sang Dahrun, meminta nasehat untuk menghadapi warga binaannya.

Saking dipercayanya Sang Dahrun oleh hampir semua orang di desa Kelinti Capung, bahkan, pernah suatu hari di masa krisis pascabencana gempa itu, orang salah mengartikan tindakan Sang Dahrun. Ketika si tokoh sakti mandraguna itu menyandang tasnya lalu berjalan mencari Wafda, anaknya, dua-tiga pemuda mengira itu sebagai pertanda bahwa sudah saatnya warga mengungsi ke tempat lain. Sebab, menurut mereka, Sang Dahrun sedang bergegas untuk beranjak dari lokasi tempat mereka mengungsi, menuju ke tempat lain. Padahal, tidak demikian kenyataannya. Kesalahpahaman ini sempat membuat kekacauan di daerah pengungsian gempa. Untung saja, tidak ada yang menyalahkan baik Sang Dahrun maupun para pemuda yang salah mengira itu.

Ya, itulah kisah-kisah Sang Dahrun, orang yang harus aku temui sesegera mungkin. Aku ingin cincinnya yang sakti, Cincin Temokan, untuk digunakan sebagai sumber energi mesin sayap yang berguna bagi Si Gajah sehingga binatang bodoh itu bisa menemui Langit, dan dengan begitu, Sarah dan kakaknya akan berhenti membuatku bingung berkepanjangan.

Hari mendung. Saat itu, aku tidak curiga sedikit pun dengan tingkah laku langit dan hari-hari yang akan datang. Hanya khawatir sepintas saja: jika hujan turun sebelum langkah kakiku mencapai huntara tempat aku menginap hari itu, aku akan jatuh sakit lagi. Tak mungkin aku merayu Sang Dahrun dalam keadaan pilek dan radang. Bisa-bisa, kata-kataku malah terpeleset karena bersin lalu diputarbalikkan oleh Sang Dahrun sebagai mantra untuk menggelitik badanku. Tidak… itu tidak boleh terjadi. Aku trauma dengan mantra gelitik Sang Dahrun—sebetulnya aku yakin dia hanya menggunakan trik ulung daripada mantra gaib.

Huntara itu sudah kelihatan. Sudah dekat, seharusnya, tapi mengapa masih terasa begitu jauh…? Aku seakan merasa sudah berjalan lebih dari dua ribu langkah. Tak mungkin huntara itu—milik seorang temanku yang lain—berjarak sejauh itu, kan? Mengapa kakiku tak juga bisa mencapai huntara yang seharusnya sudah dekat? Sudah kelihatan, tapi tampak masih agak jauh di depan mata?

Kemudian, langit bergetar; ada kilat yang disusul garis bercabang-cabang seperti kaca yang retak, membentang sangat besar dan panjang dari pucuk horizon sana. Gunturnya berbunyi keras sekali, bertalu-talu. Iramanya perlahan mengikuti irama langkah kakiku. Gumpalan awan hitam terlihat bergerak pelan dengan arah diagonal, menggulung-gulung. Angin juga sudah berhembus kencang sejak langkah kakiku yang keseribu dua puluh tiga. Memang belum ada rintik air sama sekali; hanya mendung dan angin, serta nuansa yang agak kelam daripada hari kemarin.

Huntara masih saja tampak jauh di depanku. Demamku kumat, bagian belakang leher memanas, dan perut terasa lebih kembung dibandingkan dengan kondisiku saat masih berbincang dengan temanku tadi di huntara miliknya. Aku juga berkeringat. Keningku basah oleh bintik-bintik air. Sewaktu mengusap bintik-bintik keringat dari kening, sedikit kesegaran hinggap di kepalaku, tapi tak lama kemudian hilang dan malah terasa panas lagi—sekarang aku mulai pusing.

Reaksi fisik ini perlahan-lahan menyebar. Kakiku menjadi ngilu sementara jemari tanganku menggigil. Ketika guntur terakhir berbunyi paling keras, aku tahu aku sudah tumbang. Aku merasakan kantuk yang sangat berat. Mataku pelan-pelan menutup, dan menjelang keadaan tidak sadar itu, aku bisa mendengar bunyi rintik-rintik hujan yang mulai menyentuh bumi dan membasahi punggungku.

“Sialan!” aku mengumpat dalam hati sebelum semuanya jadi hening, benar-benar hening. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.