029 – Denok

Si sosok kecil yakin bahwa tak mungkin langit, hujan, dan angin bersekongkol menjatuhkan dirinya, seorang manusia yang sedang gelisah gara-gara imajinasi dari dua orang anak kecil, Sarah dan Aghy, serta kepala batu dua orang anak kecil lainnya, Wafda dan Lili.

Dari posisinya yang tertelungkup diguyur hujan, dia kemudian berdiri dengan cepat saat kesadaran sudah memenuhi isi kepalanya.

Tepat ketika dia sudah bisa berdiri mantap dan bersiap ingin melangkah lagi, beberapa suara berbisik ke telinganya yang berbentuk aneh, seperti terompet; telinga mimpi. Suara-suara itu menuduh: si sosok kecillah pihak yang berimajinasi terlalu berlebihan dan berkepala lebih keras daripada batu. Saking berlebihan dan kerasnya, menurut mereka, si sosok kecil lupa diri, berani-beraninya dia melompati ingatan, bukan ke masa lalu, tapi ke masa depan. Padahal, kata suara-suara itu lagi, Sarah dan kakaknya sedang terlelap, mendengkur dengan irama bunyi-bunyi yang teratur dan tenang di rumah mereka di Suwon; sedangkan Wafda dan Lili, mereka tengah menguap-nguap menahan kantuk di pangkuan ibu mereka masing-masing yang sedang duduk menemani suami mereka menghabiskan kopi di atas berugaq pada malam sewaktu anjing-anjing di dekat dermaga, tumben-tumbennya, enggan melolong panjang.

Semakin berisik suara-suara bisikan itu, si sosok kecil semakin kuat menduga jika langit, hujan, dan angin memang bisa berbicara.

Pada langkahnya yang pertama menuju huntara, mata si sosok kecil tiba-tiba tertambat pada satu bentuk tubuh yang muncul sekejap kilat petir di depanya. Tubuh manusia. Bukan orang dewasa, tetapi anak kecil juga. Hanya satu orang anak kecil. Meskipun wajah anak kecil itu tidak jelas, sangat jelas bentuk tubuhnya bukanlah tubuh Sarah ataupun tubuh Aghy, juga bukan tubuh Wafda ataupun tubuh Lili. Anak kecil yang sedang berdiri dalam jarak sebelas langkah di depannya itu berambut panjang. Apakah perempuan juga? Tiga anak kecil perempuan—Sarah, Wafda, dan Lili—yang sudah ditemuinya dalam petualangan menangani masalah Si Gajah yang ingin terbang (dan belum selesai sama sekali)—Sarah-lah yang menurutnya patut disalahkan karena sudah menyeretnya ke dalam persoalan ini—tidak ada satu pun yang berambut panjang. Aghy, apalagi, kepalanya masih botak plontos.

Mengamati anak kecil berambut panjang melangkah mendekat, si sosok kecil masih mendengar bisik-bisik langit, hujan, dan angin. Wajah anak kecil berambut panjang itu tak kunjung tertangkap jelas oleh matanya. Apakah mungkin gadis kecil ini, yang umurnya mungkin sedikit lebih tua dibandingkan Sarah, Aghy, Wafda, dan Lili memang tidak memiliki wajah? Gadis kecil berambut panjang… bukan…, setan kecil berambut panjang!!!

Kalau sudah begini, si sosok kecil tahu betul bahwa apa yang sedang terjadi di depan matanya itu bukanlah kenyataan. Ini pasti mimpi. Ya, pasti mimpi lagi.

“Mengapa aku harus bermimpi bertemu anak-anak kecil?!” si sosok kecil protes, mendongak dengan muka garang, marah kepada orang yang menuliskan kisahnya. “Kau kira aku pedofil…?!!!”

Tapi si sosok kecil insaf benar bahwa protesnya adalah hal yang sia-sia. Yang terus bersuara hanyalah langit, hujan, dan angin; mereka berbisik-bisik, tidak berhenti menyuarakan tuduhan.

Mungkin pada jarak tiga langkah kaki orang dewasa, gadis setan berambut panjang itu berhenti. Perlahan, wajahnya menjadi jelas. Dia bukan setan, ternyata. Wajahnya normal seperti wajah anak-anak kecil lainnya. Parasnya cantik, berkulit putih mengilat, bermata sipit, berpipi tembam dengan warna merah merona. Gadis itu mengenakan celana berbahan jin biru dongker dan baju kaus katun polos biru laut.

“Kau siapa?” tanya si sosok kecil, menggertak. “Jangan sampai kau menambah masalah baru pula. Aku sudah cukup terbebani karena belum bisa menjawab pertanyaan Sarah…” (Walau dia tahu bahwa tak seharusnya dia berbicara dengan nada orang dewasa kepada seorang gadis yang belum remaja itu, si sosok kecil tak mau repot-repot beramah-tamah. Dia sedang kesal karena langit, hujan, dan angin sudah membuatnya sempoyongan hingga jatuh ke atas tanah berlumpur. Terlebih lagi, hujan membuat bajunya basah kuyup.)

Gertakan itu sepertinya malah memicu kejutan baru. Tiba-tiba saja langit benar-benar runtuh, semuanya, sesaat setelah hujan berhenti mendadak, sedangkan angin menjadi berhembus sangat kencang dengan arah yang berputar-putar. Hujan muncul lagi, tapi bukan jatuh ke bumi, melainkan bergerak meruncing ke arah tubuh gadis kecil berambut panjang dan bermata sipit itu. Tapi tubuhnya tidak basah. Reruntuhan langit pun demikian, jatuh dari ketinggian tak terhingga dengan begitu cepat, menghantam tubuh si gadis kecil berambut panjang dan bermata sipit itu. Tapi tubuhnya tidak terpental; dia tetap berdiri tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sebagaimana yang dilihat sendiri oleh si sosok kecil, yang runtuh hanyalah langit lapis pertama. Di atas langit yang sudah runtuh, ada langit yang baru, berwarna lebih terang. Sementara itu, hembusan angin yang kencang memilin memutari tubuh si gadis kecil berambut panjang dan bermata sipit itu sebagai poros.

Langit, hujan, dan angin; ketiganya meledak dan berubah arah gerak, menuju titik yang satu: tubuh si gadis kecil berambut panjang dan bermata sipit itu.

Seketika suasana menjadi hening setelah gemuruh berisik sepanjang tiga belas detik berhenti, disusul dengan memelannya suara bisik-bisik. Gadis kecil berambut panjang dan bermata sipit itu pun tersenyum ramah, lalu berkata kepada si sosok kecil, “Namaku Denok.” *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.