030 – Terjaga dari Mimpi?

Nyaris dirinya percaya bahwa Denok adalah langit yang ingin ditemui Si Gajah. Lagi-lagi ia menuju ketidaksadaran, tapi ia tidak mau mafhum dengan situasi tersebut. Menjelang keterlelapan berlapis di alam yang ia duga mimpi itu, ia masih bisa melihat mulut Denok bergerak mengucapkan sesuatu. Tampangnya tidak tampak menyeramkan, tak ada pula tanda-tanda urgensi. Tentu saja, karena si sosok kecil tahu bahwa dirinya bukan sedang menjadi tokoh dalam cerita-cerita seperti karangan Jonathan Stroud, Philip Pullman, Rick Riordan, atau Tolkien, Lewis, atau Rowling, apalagi Paolini. Dia bukan sedang menerima pesan penting yang berhubungan dengan keselamatan hidup umat manusia sejagat. Jelas bukan.

Si sosok kecil lebih memilih untuk meyakini bahwa kejadian-kejadian yang baru saja ia alami tidak lebih daripada mimpi, atau hanya efek serangan psikologis menjengkelkan dari sebuah replikator yang tengah memarasit di dalam kepalanya. Replikator itu meloncat melalui binar mata Sarah, Aghy, Wafda, dan Lili, lalu mendarat tepat di pupilnya, lantas berkembang biak dan menjajah pikirannya sendiri. Ia ingat percakapannya dengan Aghy tentang superhero ketika mereka berdua menaiki Silitink—beneran, loh, nama pesawat itu Silitink! (Tanya saja Aghy, kalau kau tidak percaya!). Yang membius pikirannya bukanlah kehebatan superhero yang hampir semua kisahnya menjadi ngawur di mulut Aghy, melainkan warna mata si bocah yang saat itu sudah terinjeksi replikator paranoid yang berasal dari bangsa yang mengimpikan kejayaan Yunani kuno. Dan memang begitulah keadaannya, toh, tokoh-tokoh fiksi itu juga diserbu oleh unit-unit teknologis yang menjangkiti generasinya sekarang ini, yang mana unit-unit itu sudah lebih dulu mengalami infeksi futuristis akibat mimpi para penggemar dan pembenci ramalan distopian Orwell yang meleset tiga puluh lima tahun.

Virus-virus semacam itu, pastinya, masih terus mencari mangsa. Salah satu target empuk mereka adalah si sosok kecil yang, di tengah-tengah pikirannya yang melantur ke mana-mana, perlahan tapi pasti, mulai terlepas dari kesadaran. Tubuhnya merasa seakan sedang ditarik menuju suatu ruang gelap gulita. Visual ruangan itu hitam sama sekali. Tapi kepalanya masih bisa berpikir dengan sisa-sisa energi kesadaran terakhir; dirinya masih bisa merasakan detik-detik reaksi yang sedang berlangsung pada tubuh dan kesadarannya. Dia pun masih sempat berkata dalam hati, “Tertidur di dalam tidur, ya? Mimpi yang aneh!”

Dia tidak tahu berapa lama ia berada dalam posisi tidak sadar. Baginya, ketidaksadaran itu hanya berlangsung kurang dari sedetik. Tiba-tiba saja matanya terbuka, terbangun dari tidur (yang mungkin panjang); bangun dengan terkejut, benar-benar terkejut, disusul oleh sesakan napasnya yang terdengar seperti gaya sesak napas yang mungkin akan kau dengar jika melihat Jake secara mendadak mengalami putus koneksi dari avatarnya.

Duduk seketika, si sosok kecil mendapati lapisan empuk yang ditidurinya basah oleh keringat. Bajunya juga basah sebagian, oleh keringat, bukan air hujan. Baju yang ia kenakan pun berbeda, bukan hitam melainkan biru. Dia berada di atas kasur dengan seprei berwarna hijau daun muda, polos; diterpa remang cahaya lampu kamar berwarna kuning. Suara jangkrik terdengar, sesekali disela oleh lolongan anjing yang berada entah di mana. Pada malam hari kala itu, gigitan nyamuk tidak berhasil mengalihkannya dari efek kaget yang diakibatkan oleh keterjagaannya dari mimpi yang aneh.

Melempar pandangan ke sekitar ruangan, ia lihat benda yang tergeletak di atas kasur hanyalah sebuah bantal dan sebuah guling, serta tas ransel berwarna hijau tuanya, sebuah hadiah ulang tahun dari seorang teman. Benda-benda lain di kamar itu—empat kointainer kecil berbahan plastik yang disusun bertingkat di ambang pintu, sebuah rak kayu di dekat jendela yang salah satu daunnya terbuka, tumpukan seperangkat alat solat di samping kasur yang membentang menyentuh lantai, dan segulung tikar kain cokelat yang menyandar miring pada sisi dinding di seberang rak kayu (di samping kasur)—bukanlah miliknya.

Saat napasnya mulai teratur, si sosok kecil berhasil mengingat bahwa dia sedang berada di rumah Sang Dahrun. Artinya, dia masih berada di desa Kelinti Capung—kenyataan yang melegakan perasaannya. Tapi, hari keberapakah malam itu? Apakah ia terbangun pada malam di hari yang sama dengan sore ketika ia masih sadar terakhir kali, saat ia mengejar huntara yang tak kunjung berhasil ia hampiri?

Bebunyian dari binatang-binatang alam malam hari adalah keheningan sosial yang bersahabat, tapi juga suatu bentuk keramaian yang begitu tenang dan meneduhkan. Dialog binatang-binatang mitologis justru merupakan wujud dari sunyi yang sungguh hiruk-pikuk, meledak-ledak; menggoda para pendongeng untuk menjasadkan makhluk-makhluk abstrak ke dalam memori. Seperti itu jugalah nasib peristiwa-peristiwa, baik yang ada dengan sendirinya atau sengaja dibuat-buat keberadaannya, yang bertahan hingga saat ini lewat lisan dan tulisan. Sebenarnya, seperti sesuatu yang memarasit di mata-kepala si sosok kecil, dalam wujud narasi, mereka melompat-lompat mencari peluang kehidupan dari kolam pikiran yang satu ke kolam lainnya. Mereka menancapkan fondasi alam memetis pada lubuk-lubuk penggemar, kemudian sepanjang ribuan tahun berkembang menjadi blok-blok menara yang memenuhi sisi terdalam kedung-kedung ingatan para mayoritas. Di dalam menara-menara itulah peradaban dari jutaan rumpun turunan mereka mendominasi definisi-definisi hari ini.

Sementara, sejumlah binatang dari alam yang asli, yang nyaris gagal bertahan, masih berupaya mencari pijakan-pijakan baru untuk dilihat atau didengarkan kembali. Di antaranya, ialah para capung; nasib mereka lebih mujur daripada burung-burung pemberi petuah yang menghilang dari desa. Di Kelinti Capung, capung-capung itu masih bisa ditemui lewat mulut Sang Dahrun. Beberapa saat setelah si sosok kecil sepenuhnya sadar dari efek mimpi yang menggelikan itu, ia mendengar suara Sang Dahrun bersenandung di pekarangan rumah, “Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa…” *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.