031 – Sari Pati Kelinti Capung

“Makanya Ente dibawa ke rumah Sang Dahrun, Heib!” saya bilang seperti itu, akhirnya, ke dia.

Waktu itu, saya juga bingung, kok, wajahnya kelihatan aneh…, ya…? Tidak seperti biasanya, gitu…?! Saya tahu sekali dia. Kenal dekat, kami, tentu saja; dekat sekali. Sebelum-sebelumnya, tidak pernah dia linglung begitu.

Mungkin karena kemarinnya itu, dia…, ya, benar… maksud saya, hari sebelumnya; sebelum saya ketemu dan ngobrol dengannya.

Eh, apa…? Yang…, yang keberapa, ya? Tidak tahu juga, Heib… Lupa. Soalnya, kan, saya memang sering kerja, bantu-bantu di kantornya Sang Badai, jadi tahu banyak mengapa Sang Dahrun begini begitu. Jarak antara rumah si kakak, Sang Dahrun, rumahnya yang baru, dengan lokasi kantor si adik, Sang Badai itu, tidak jauh. Dulu, kalau dia datang ke desa ini… dia, sih, biasanya tidur di rumah Sang Badai, tapi juga sering mampir ke tempat Sang Dahrun kalau siang hari, maksud saya rumah Sang Dahrun yang dulu. Hampir setiap hari, malah! Kadang, kalau sedang bekerja, Sang Badai menyuruh saya ke rumah Sang Dahrun itu… alasannya macam-macam… mengantar barang, ambil barang, atau minta nasehat… Nah, biasanya saya ketemu dia di situ. Jadi, lumayan sering jugalah saya ketemu dia. Kami sering ngopi-ngopi.

Sekarang saja yang agak berbeda, dia tidak tidur di rumah Sang Badai karena, sejak punya istri, Sang Badai pindah ke kota Seribu Masjid, kota istrinya. Sang Dahrun punya rumah baru, lebih bagus, tapi letaknya di tengah hutan. Sepupu mereka punya tempat yang agak dekat ke jalan raya, yang di dekat kebun kelor itu, ada tanah bekas sawah, huntara yang saya kasih tahu lokasinya kemarin… Ingat? Ya, dia menginap di sana selama satu bulan lebih satu minggu lebih empat hari. Dulu-dulu, kalau ke sini, dia bisa menginap di mana saja, di rumah siapa saja, biasanya salah satu dari kami. Tapi karena ada banyak rumah yang hancur, huntara itu tempat yang paling pas, karena dekat dengan jalan raya. Orang-orang kayak dia itu butuh tempat yang dekat dengan jalan raya, supaya bisa beli ini itu… ada saja yang dia butuhkan. Seringnya untuk menulis, katanya.

Nah, saya tahu ceritanya dari Sang Dahrun langsung. Iya, dia yang cerita… Biasa…, sambil ngelus-ngelus cincin. Kebetulan, waktu itu cuma satu cincin yang dia pakai. Biasanya, kan, tiga, tuh…? Ya, kan…, tiga? Satu telunjuk kanan, jempol…, satu lagi jari manis di kiri. Tapi pas dia cerita itu, tidak tahu kenapa, Sang Dahrun cuma pakai satu cincin.

Ah, enggak! Takhayul saja itu. Orang-orang sering bicara yang aneh-aneh, mengada-ada, dilebih-lebihkan. Sang Dahrun itu…, sebenarnya, banyak orang yang tidak paham kalau dia itu pecinta seni sejati. Kalau saya tidak salah —kalau tidak salah, loh, ini, Heib; kalau keliru, ya, nanti bisa ditanya langsung ke Sang Dahrun— yang sebenarnya adalah, karena Sang Dahrun suka sekali dengan lekuk batu cincin. “Indah!” katanya. Saya pernah tanya dia alasannya. “Ini estetika, Heib!” begitu jawabnya. Makanya dia suka koleksi banyak cincin. Katanya, ada belasan cincin di rumahnya. Terakhir kali, saya juga dengar, kalau Sang Dahrun mau beli cincin baru dari salah seorang Tokoh Pemuda yang tinggal di Seribu Masjid. Itu, loh, yang pernah ke sini juga, teman dekatnya Sang Badai. Dia itu juga pengoleksi cincin. Tapi, saya rasa, temannya Sang Badai itu tidak paham estetika cincin seperti yang diajarkan Sang Dahrun. Saya…? Oh, saya tentu lebih tahu dari Tokoh Pemuda itu, karena saya belajar langsung dari Sang Dahrun.

Sebenarnya, saya suka sekali curi-curi dengar tiap kali Sang Dahrun berdiskusi dengan kekasih Si Tupai ini…

Iya, kekasihnya Si Tupai…?! Dia itu kekasih Si Tupai, loh…, sumpah!

Demi Tuhan!

Ente tidak tahu, Heib…?! Wah, masa, sih? Itu panjang lagi ceritanya, Heib. Mau saya ceritakan…?

Oke, nanti saja, ya, kapan-kapan…

Ya, udah, begitu, Heib… memang aneh sekali.

Sang Dahrun bilang ke saya, waktu dia cerita masalahnya, bahwa ini persoalan yang rumit, tapi juga indah. Ya, memang, Sang Dahrun suka bilang yang ‘indah-indah’, hampir semuanya dinilai indah; dia bisa lihat keindahan dari apa pun, di mana pun, kapan pun. Wajar saja, dia juga sering bilang ke saya: “Jangan lupa bahagia, Heib!” Karena, menurutnya, bahagia itu indah. Nah, terkait pertanyaan yang aneh, menggelikan, juga membingungkan, yang ditanyakan oleh kekasih Si Tupai ini, sejak hari pertama datang ke sini —ini kunjungannya yang ke tiga…, atau empat kali, ya…? Saya lupa juga. … ya, pokoknya, dia tanya-tanya soal Benda Temokan.

Tidak salah juga, sih, orang yang bilang ke dia soal cincin Sang Dahrun itu. Meskipun itu mengada-ada. Benar, ini serius. Itu ngarang! Tapi, orang sudah banyak yang mengagumi Sang Dahrun, jadi sering salah kira kalau cincinnya sakti, bahwa cincinnya adalah Cincin Temokan. Padahal, asal Ente tahu, Heib, sekarang ini, Benda Temokan itu bukan cuma keramat, tapi langka. Benar-benar langka! Tidak semua orang punya, bahkan orang sehebat Sang Dahrun. Nggak tahu juga, sih, tapi… kalaupun Sang Dahrun punya, tidak mungkin dia bawa ke mana-mana, kan? Itu, kan, seharusnya keramat. Tidak boleh sembarangan.

Kasihan juga. Gara-gara percaya cerita yang ngarang begitu, malah jadi mimpi yang aneh-aneh. Iya, kan? Jadinya masalah. Saya bukannya mau mengatakan bahwa Benda Temokan itu tidak ada. Ada. Tapi, belum tentu cincin Sang Dahrun itu Cincin Temokan. Saya sendiri, orang yang sangat dekat dengan Sang Dahrun, tidak pernah berpikir begitu.

Saya rasa, dia harus cari jawaban yang lain. Tapi, saya bingung juga, mengapa dia mau menerbangkan gajah? Kenapa bukan sapi saja? Di Kelinti Capung, sapi ada di mana-mana. Sering jadi gangguan karena mereka nakal, tidak diurus, main asal makan sayur-sayuran di kebun-kebun warga. Ente tahu, nggak, kalau kebun istrinya Pak Iyaadh, si Bu Suji, juga pernah kena serang sapi…? Tahu…? Ane pernah cerita ke Ente, kan? Kasihan, kan? Kalau kuda, orang-orang masih butuh. Kuda bisa narik cidomo lebih cepat daripada sapi.

Coba Ente pikir, Heib! Kalau kita bisa menerbangkan sapi, kita bisa mengirim sapi-sapi tak bertuan itu ke bulan. Rencana yang bagus, bukan, itu? Makanya, kalau di sini, daripada gajah, mendingan sapi. Betul, nggak?

Apa? Rokok? Sikat, Heib? Kita sama-sama… yang ada di meja, itu milik bersama. Ini kopi, juga, buat kita berdua, Heib. Santai…!

Nah, karena dia sempat pingsan di dekat kebun kelor itu…, —iya, sehari sebelum saya ngobrol dengannya— semua orang di desa ini jadi panik. Terutama mereka yang tinggal di sekitaran kebun kelor. Soalnya, dia itu tamu istimewa Sang Dahrun. Bukan hanya dia, sih, yang istimewa, sebenarnya… mungkin, bisa dibilang, semua orang adalah tamu istimewa bagi Sang Dahrun. Cuma, dia ini sudah dekat dengan kami… Jadi, dipikir-pikir, daripada sakitnya tambah parah, lebih baik kami pindahkan dia ke rumah Sang Dahrun. Meskipun di tengah hutan, agak jauh dari jalan raya, tapi rumah Sang Dahrun yang baru ini, suasananya lebih nyaman untuk beristirahat. Pagi-pagi, kita bisa ngopi di pekarangan rumahnya yang teduh. Istri Sang Dahrun juga pintar memasak makanan bergizi, terutama sayur bening kelor. Itu baik buat kesehatannya.

Di tangga rumah Sang Dahrun, yang menghadap ke rumah Pak Iyaadh —iya, benar, Pak Iyaadh itu tetangganya Sang Dahrun— dia minta saya menceritakan apa-apa saja yang sudah terjadi sejak dia pingsan, dan alasan mengapa dia bisa terbangun di kamar rumah Sang Dahrun. Ceritanya, ya, seperti yang saya ceritakan ke Ente tadi itu, Heib.

Demamnya kumat gara-gara hujan-petir-angin; langit memang tidak ramah, akhir-akhir ini, Heib. Desa kami, Kelinti Capung, sedang dalam proses bangkit, dan langit selalu menjaga hal-hal yang sedang berproses. Sang Dahrun juga pernah cerita ke saya. Katanya, langit itu suka teka-teki, dan suka menggoda orang yang sulit menebak teka-teki. Kata Sang Dahrun, kalau bisa kita gambarkan, langit itu seperti gadis kecil cantik jelita yang punya kecerdasan tinggi, IQ yang tinggi, dan suka main teka-teki. Teka-teki juga sesuatu yang indah, kata Sang Dahrun. Jadi, kalau ada orang yang bingung tapi banyak mengeluh, langit anggap itu gangguan. Saya juga tidak tahu mengapa dia sering mengeluh sekarang. Dulu, dia tidak seperti itu. Wajar saja langit berreaksi. Saya bilangin, Heib, kalau Ente sedang berada di desa kami, jangan pernah mengeluh. Nanti disambar petir, mau…?!

Atau, mungkin juga, demamnya kumat karena dia terlalu banyak pikiran, kan? Masa mau menerbangkan gajah? Pakai cincin Sang Dahrun pula; itu rencana yang janggal. Jangankan langit, dengan memikirkan ide konyol seperti itu saja, Sang Dahrun pun bisa memantrai dia dengan ‘gelitikan maut’-nya itu. Bukan untuk menghukum, tapi untuk mengerjai saja. Soalnya, Sang Dahrun itu juga seperti langit… dia suka menggoda orang yang berpikiran aneh-aneh.

Setelah saya ceritakan semua yang terjadi, dia cuma garuk-garuk kepala. Juga garuk-garuk hidung. “Ane ingin menggambar saja, kalau begitu, Heib!” katanya tiba-tiba. “Wafda dan Lili pasti bisa gambar gajah, kan?”

“Untuk apa?” saya tanya ke dia begitu.

“Karena kita tidak punya jawabannya,” jawabnya. Dia yakin, kalau Sang Dahrun saja tidak bisa membantu, berarti, kita yang lain, yang tidak lebih sakti daripada Sang Dahrun, juga tidak akan bisa.

Nah, itu juga pertanyaan yang sering orang-orang cari jawabannya, terutama warga di sini. Siapa yang lebih sakti daripada Sang Dahrun…?

Saya sendiri, sejujurnya, punya dugaan, Heib. Ini subjektif, ya… pendapat saya pribadi. Kalau saya boleh mengingat-ingat petuah dari ayahnya Sang Dahrun, satu-satunya orang tua di desa ini yang pernah bertemu dengan burung-burung legendaris Kelinti Capung, kira-kira begini: sesuatu hal, yang hidup, yang merupakan keturunan dari sesuatu hal juga, biasanya akan punya kemampuan beradaptasi lebih mumpuni, serta mengembangkan ciri-ciri yang lebih tangguh daripada generasi sebelumnya. Contohnya, kalau Ente orang yang pintar, seharusnya anak-anak Ente bisa lebih pintar, Heib. Begitu teorinya.

Saya percaya, Sang Dahrun lebih sakti daripada ayahnya. Meskipun dia tidak pernah bertemu dengan burung-burung legendaris, Sang Dahrun bisa menghidupkan kembali energi yang sudah lama hilang, jauh lebih lama dari kisah tentang berpindahnya burung-burung legendaris ke negeri seberang. Yang saya maksud, energi dari sebuah legenda yang lebih legendaris daripada legenda burung-burung, energi yang sebenarnya merupakan sari pati desa kami. Energi itu, konon, dibawa oleh para capung dari Gunung Rinjani. Capung-capung inilah yang suatu hari, di zaman dahulu kala, mendorong kelahiran desa kami.

Sekarang, bersama tiga orang penting —salah seorangnya merupakan perempuan pendatang dari Makassar— Sang Dahrun sedang dalam proses menghidupkan kembali sekaligus menyebarkan energi itu; energi yang sudah lama hilang. Usaha Sang Dahrun ini juga didukung langit.

Jadi, ada benarnya, kan, teori dari ayahnya Sang Dahrun? Sang Dahrun, si anak, lebih sakti dibandingkan ayahnya. Paling tidak, Sang Dahrun lebih penting dan berarti buat kami sekarang ini.

Nah, kalau begitu, kita juga boleh percaya, Wafda itu lebih hebat lagi. Mungkin cuma Wafda satu-satunya orang, meskipun masih anak-anak, yang punya kesaktian jauh lebih hebat daripada Sang Dahrun. Makanya, wajar saja, kami juga percaya, kalau Wafda selalu bisa mendapatkan apa yang Wafda mau. Dia itu masa depan.

Waktu saya utarakan hal itu padanya, matanya jadi berseri lagi. Lalu, dia bilang kalau dia mau beli buku gambar…, untuk menggambar, tentu saja. Untuk apa lagi kalau bukan menggambar? Dia ingin mengajak Wafda dan Lili ikut menggambar, katanya.

Sang Dahrun rupanya mendengar obrolan kami. Atas perintah Sang Dahrun, saya mengantarkan kekasih Si Tupai ini kembali ke huntara di dekat kebun kelor itu, supaya dia bisa berjalan-jalan ke jalan raya. Supaya dia bisa membeli buku gambar.

Waktu kami tiba di huntara, saya jadi kepikiran juga. Soalnya, kebetulan saya lihat Wafda dan Lili memperhatikan kegiatan Polla—perempuan pendatang dari Makassar itu, yang katanya (Ssst… jangan bilang-bilang ke orang lain, ya…!), dia jatuh hati sama Sang Dahrun. Tapi, itu bukan masalah, soalnya Sang Dahrun setia sekali sama istrinya.

Perempuan dari Makassar itu pandai menggambar; gambarnya juga pola-pola. Bulat-bulat, polanya. Dan itu membuat Wafda dan Lili suka. Jadi, mungkin saja dugaan kekasih Si Tupai ini benar: Wafda pasti bisa menggambar gajah.

Oh, iya! Saya rasa, Sang Dahrunlah yang mengajarkan lirik itu padanya. Bukan, maksud saya, teman kita ini, kekasihnya Si Tupai, bukan Wafda. Kalau Wafda, sih, sudah barang tentu tahu syair itu, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Maksud saya, teman kita ini, Heib… Sang Dahrun ternyata juga mengajarkannya bagaimana cara melantunkan syair itu. Soalnya, waktu mengendarai motor, saya dengar dia mengulang-ulang lirik itu. Beeerkali-kali! Tapi iramanya belum pas. Ya, saya tahu iramanya belum pas. Semua orang di Kelinti Capung tahu syair itu dengan benar, Heib. Itu sudah menjadi tradisi kami. Kalau menurut saya, syair itu juga mengandung petuah, teori, yang saya bilang tadi, yang diajarkan oleh ayahnya Sang Dahrun: keturunan selalu lebih hebat dari yang menurunkan. Makanya, syair itu mengajarkan kami untuk selalu menyayangi anak-anak.

Ente mau dengar? Begini: Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa… *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.