032 – Musabab Perilaku Langit

Si sosok kecil tak tahu pasti apa alasan yang mendasari pribadinya meminta Sang Dahrun mengajarkannya syair itu. Beberapa kata, bahkan, tidak punya arti. Menurutnya, ada dua kata yang disertakan ke dalam syair, yang hanya menjadi penanda bunyi belaka. Nah, soal mengapa syair itu begitu dicintai orang-orang di Kelinti Capung pun, sejujurnya, bukanlah alasan yang membuatnya tertarik untuk ikut mengalami sang syair. Dia tahu, bukan itu alasan yang mendorong dirinya karena, sebetulnya, ada alasan lain meskipun dia tidak tahu apa…

Bukan, bukan…! Bukan tidak tahu. Tapi, dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Si sosok kecil lebih bersedia mengakui bahwa, jika mendengar suara Sang Dahrun melantunkan syair “Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa…” dengan nada yang turun-naik dan berulang-ulang, ia merasa diselimuti oleh suasana yang menenangkan, yang sejuk, yang bisa membuatnya mengenang sejumlah peristiwa, baik yang terkait maupun tidak, dengan sudut pikiran yang lebih bijak. Tragedi masa lalu berubah menjadi kejadian yang patut disyukuri, layak dirayakan. Suara Sang Dahrun yang bernyanyi membuat dirinya menemukan alasan untuk berseru mengamini ja-sagen, dan dengan kepala yang ringan bisa menyambut Dea yang merenung dan berkesimpulan: bahwa kita bukan sedang tidak melakukan apa-apa.

Menghela napas, si sosok kecil teringat Si Tupai. Tapi lantunan dari mulut Sang Dahrun membuatnya bisa melanjutkan helaan itu dengan hembusan lega.

Pagi hari usai malam mengejutkan itu —malam ketika ia bertemu Denok di dalam mimpi— Onyong menemaninya menikmati kopi di halaman rumah Sang Dahrun. Si sosok kecil sadar, suara Sang Dahrun semalam masih membekas di kepalanya (karena pelajaran singkat itu ternyata mengharuskannya mengulang-ulang sang syair lebih dari dua puluh lima kali menggunakan lidah dan bibirnya yang kering). Hingga seruputan kelimanya pada segelas kopi yang harus diminum oleh dua orang (dirinya dan Onyong), suara Sang Dahrun masih terngiang-ngiang juga.

Manusia sakti mandraguna itu sedang tidak ada di rumah, begitu juga istrinya. Ke mana mereka? Si sosok kecil tidak tahu.

Sebagai seorang sohib yang baik hati, yang senang mendengar, yang juga senang memaparkan asal-muasal dan sebab-musabab perkara lewat gaya bahasa sederhana, Onyong adalah orang yang tepat untuk dimintai penjelasan mengapa dia bisa terbangun di rumah Sang Dahrun. Si sosok kecil penasaran sekali, peristiwa-peristiwa apa saja yang terlewatkan olehnya selama dia tertidur sore kemarin. Dia ingat, hujan-angin-petir telah membuatnya pingsan, dan pingsan itu membuatnya pingsan lagi di dalam mimpi.

Dia juga penasaran, apakah Onyong bisa memberikan penjelasan masuk akal seandainya dia bercerita tentang pertemuannya dengan Denok?

Akan tetapi, seperti yang bisa kau duga tentunya, si sosok kecil pada saat itu tidak pernah mengira bahwa sohibnya itulah yang nanti akan memaparkan perubahan-perubahan yang dialaminya secara temporal kepada… —sampai di sini, Sarah mungkin akan mengerti bahwa keberadaan manusia di alam narasi merupakan prakondisi bagi suatu ruang yang di dalamnya pandangan-pandangan arbitrer menjadi emansipatif terhadap anggapan-anggapan insaniah…, pada akhirnya. Bukankah Onyong adalah satu di antara mereka yang bisa meledakkan garis-garis tinta cina di kebun binatang, sebuah tempat yang ternyata bisa membuat orang lupa mengirimkan kartu pos?

Ah, kartu pos…!? Bagaimana kabar Sundea dan pasukan pecinta Pak Raden, yang pernah memajang seribu kartu pos untuk Presiden, dua ribu lima ratus dua puluh tiga hari yang lalu, selama tiga hari di halaman-halaman yang saling berlapis namun tak berdinding…? Apakah ia kini tengah mendengar bunyi seruling Ikan Paus yang tak pernah kukenal itu? Sayangnya, aku hanya bisa mengintip mereka dari balik layar yang —sebagaimana ramalan Papuq Mekas tiga puluh tiga bulan lebih satu hari kemudian— sedang mengubah kata-kata menjadi pecahan-pecahan ketinampilan yang akan menggetarkan jari-jemari dan, konon, mengaburkan mata Ayam Kayang satu generasi!

Yang tak pernah kuduga: Si Tupai bisa terbahak begitu lepasnya dari sore sampai pagi, sembari berulang-ulang menceritakan kepadaku lima hingga tujuh humor receh di atas layar-layar semacam ini. Suara bahaknya begitu keras…, ya, benar-benar lepas! Bahkan, ia tetap terpingkal-pingkal di saat seorang tetangga yang kesal mendengar tawanya melampiaskan amarah dengan memukul tembok penginapan di depan sebuah galeri seni.

Ck…! Sekali lagi sayang, aku belum pernah tahu perkara mengirim senja, apalagi jika harus berpikir mengirim kartu pos di senja hari kepada seorang fotografer amatir yang kini menetap di Amerika. Kau tahu, ia juga kerap menertawai wajahnya sendiri hanya karena layar yang sama bisa membuat paras cantiknya membesar seperti wajah dr. Slump…, laaah…?!

Kartu pos senja hari…?! Ah…! Lagi-lagi…! Bagaikan sang seniman yang menjahit ingatan Temanggung —kepingan-kepingan masa lalu yang ia sebut fragmen tanpa mediasi itu— dengan pastel minyak warna-warni, aku pun merasa perlu untuk mencocokkan kembali ukuran tapak kaki pada jejak-jejak tepung purba agar bisa mundur beberapa saat, menghampiri senja yang dituang. Di bawah rayuan senja semacam itulah, aku pernah mengirimkan sejumlah kartu pos yang —entah dengan cara apa mereka diterbangkan (yang jelas bukan dengan bantuan burung hantu)— melintasi sebuah zona multikota —yang pada tanggal 4 Agustus mengalami pemadaman total dan berdampak kerugian bagi buruh-buruh listrik— selama lebih dari lima minggu untuk bisa sampai di tujuannya, yaitu sebuah distrik berjarak satu jam dua puluh delapan menit menaiki mobil ke arah timur laut dari Pelabuhan Ratu.

Di tempat tujuan kartu pos itu, perempuan-perempuan buruh pabrik garmen setiap harinya menuang senja di antara angan-angan yang tak pernah selesai. Lucunya, angan-angan mereka bisa diredam selama dua belas minggu dengan segopok dua gopok tumpukan uang kertas dua puluh ribu rupiah. Tapi, angan-angan mereka tak pernah jera untuk bangkit kembali maka satu setengah gopok uang lima puluh ribuan menjadi pilihan lainnya. Aku tak tahu kata apa yang tepat untuk menyebutnya, menggelikan atau mengerikan…? Untuk meredam angan-angan itu, mereka harus mengucap janji “saling tolong-menolong” sekali seminggu. Tolong-menolong apa? Tolong-menolong untuk saling meredam angan-angan yang sama. Apa mau kau kata? Menggelikan atau mengerikan…? Bagaimana pun, salah satu dari keduanya, aku yakin, tidak akan pernah bisa menjawab rasa penasaran orang-orang soal berapa jumlah hari yang seharusnya dibutuhkan kartu-kartu pos berbalut rayuan senja (tanpa kopi) itu untuk bisa tiba di ambang pintu pabrik mereka tepat waktu.

Gila! Lama sekali, pastinya…, laaamaaa sekali…! Pidato sang pembawa pesan dari Nordik saja tak akan memakan waktu selama itu untuk bisa tiba di…

“Hei! Ente ngelamun, Heib…?!” Onyong menegur, sambil menepuk bahu pemuda di depannya yang baru saja berhasil membebaskan telinga dari bekas-bekas suara Sang Dahrun.

Si sosok kecil kaget tidak berlebihan.

Dia kaget karena bahunya ditepuk, bukan karena lamunannya diganggu. Lagipula, siapa yang sedang melamun? Si sosok kecil membantah itu. “Aku sedang mengayuh sampan di danau ingatan,” katanya, menanggapi Onyong. Lalu, dia diam lagi, matanya mengamati semut hitam kecil yang berjalan di tanah, di dekat sandal jepitnya yang sengaja dilepas. Sembari mengamati sebelas ekor semut itu, yang sepertinya sedang mencari bekas-bekas buah mangga yang disantap Sang Dahrun semalam, si sosok kecil tidak bisa mencegah pikirannya melompat-lompat dari satu ingatan ke ingatan lain; dari kolam pendapat ke kolam pendapat yang lain—pendapat-pendapat yang mencoba menanggapi ingatan-ingatan itu.

Karena dia berkilah dengan kata “sampan” dan “danau”, dia malah teringat sebuah percakapan lain, yaitu tentang seorang teman yang memilih memancing di sebuah danau di dalam hutan yang asing. “Hutan asing” yang muncul menjadi citra mental di kepala mereka yang pernah ditanyai Semut Rangrang satu per satu, tentang rumah, tentang kamar tidur, tentang jendela, tentang apa yang terlihat dari balik jendela, tentang harimau yang datang mengganggu, tentang pintu belakang untuk melarikan diri, tentang letak pohon—yang bisa berjarak bisa tidak—dari rumah, tentang jurang, tentang niat mencari kayu, dan tentang danau, serta tentang apa yang terlihat di danau itu, atau tentang apa yang akan kau lakukan jika sudah tiba di danau. Lalu, tentang pemandangan yang akan kau temui jika mendapati jalan menembus semak belukar dan rimbunan pepohonan, menuju keluar hutan.

Si sosok kecil penasaran, apa yang akan dijawab Sarah jika gadis kecil itu ditanyai hal yang sama. Hm…?! Agaknya, bukan pertanyaanlah yang patut diberikan kepadanya, melainkan selembar kertas dan sebuah pensil—tak perlu berwarna. Si sosok kecil pun mengira-ngira, pohon macam apa yang akan digambar oleh Sarah: barangkali sebuah pohon dengan dedaunan hijau nan rindang yang melindungi atap rumah mungil sederhana yang berdiri di tengah sebuah pekarangan yang bersih lagi asri. Di batang pohon itu, mungkin kita bisa melihat barisan semut-semut jinak berotak cerdas seperti pikiran Semut Rangrang. Akan tetapi, dugaan-dugaan si sosok kecil mengenai adegan di dalam hutan yang digambar Sarah tidak sampai pada bagian danau. “Tidak, tidak…, itu masih terlalu dini…!” si sosok kecil berkata dalam hati, menggelengkan kepalanya.

Onyong menyimak raut muka si sosok kecil. Ia menyeruput kopi lagi. Itu sudah seruputan yang ketujuh belas kalau ditotal dengan jumlah seruputan milik si sosok kecil. Mereka menikmati kopi itu pelan-pelan.

Onyong lantas menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan. Dengan mimik muka yang cekatan, lidah di dalam mulutnya mengeluarkan bunyi unik, seperti ini: “Hhh… dheqh tse keuh…!”

Mengagumkan! Hanya bunyi itu yang membuat si sosok kecil dapat terlepas dari ingatan-ingatannya. Tapi, ingatan yang lebih lain malah muncul pula, dan lagi-lagi nama Sang Dahrun harus kita sertakan. Si sosok kecil pernah melihat Sang Dahrun memainkan bunyi yang lebih kompleks ketika merokok seperti yang dilakukan Onyong, bahkan dengan mimik muka yang lebih performatif. “Betapa hanya ia, Sang Dahrun, yang bisa melakukan itu!” seru seseorang di Kelinti Capung, suatu hari, kepada si sosok kecil.

Saling melihat satu sama lain, dia dan Onyong tertawa. Sohibnya itu mengangguk-anggukkan kepala; tersenyum lebar. “Gimaaana, Heib?!” serunya.

Si sosok kecil menghela napas lagi, tapi kali ini dilanjutkan dengan hembusan yang berat dan pendek.

“Siapa yang mengangkutku ke rumah Sang Dahrun?” tanya si sosok kecil, akhirnya.

“Ane dan Sang Badai, Heib…” jawab Onyong.

“Hujannya tidak bersahabat,” kata si sosok kecil. “Aneh sekali.”

“Musababnya bukan hujan, Heib, tapi langit.”

Si sosok kecil merasa seakan dirinya diserang gejala kesemutan, bukan di kaki tapi di telinga. Sejujurnya, dia sudah akan mau berkata “Langitnya tidak bersahabat”, tapi urung karena ada kekhawatiran yang aneh, mendadak mampir ke pikirannya. Dia pelan-pelan mengakui bahwa dirinya agak sensitif dengan langit.

Kata yang terakhir itu, “langit”, jelas sekali, senang mencari masalah. Itu dialami si sosok kecil mulai dari permintaan seorang anak kecil yang mengaku ingin menolong seorang sahabat (seekor gajah…???), berlanjut ke peristiwa penemuan seekor burung nyasar di kusen pintu rumah ayahnya. Burung Tukan; binatang malang yang mungkin saja merupakan salah satu dari kawanan bersayap yang, dengan langit, gagal berakrab-akrab.

Dan memang, sejauh yang diketahui si sosok kecil, tingkah laku langit itu mengesalkan, tak segan-segan juga menyakitkan. Si sosok kecil pernah menyaksikannya langsung, betapa kesakitan yang sedang dialami seorang kolega satu kamar bisa memancing penciptaan sebuah puisi dramatis yang tidak bisa dihapus dengan karet, tapi akan menghilang begitu saja setelah dua puluh empat jam. Kesakitan itu disebabkan oleh langit. Usaha untuk meredakan sakit itu, sebagaimana yang ia pernah coba lakukan, justru nyaris membuka luka-luka lama pada orang-orang yang berusaha menolong si sakit. Dan langit yang dikenalkan Sarah, pikir si sosok kecil, mungkin tidak ada bedanya. Langit itu, toh, yang itu-itu juga, dan pasti sama kejamnya kalau begitu, kan…?

Lalu kejanggalan lain yang juga tengah dialaminya, yaitu tatkala ingatannya melompat ke masa depan, bukan ke masa lalu. Lompatan ini terjadi akibat perpaduan muram antara rasa ingin dan rasa enggan untuk membantu Sarah. Ketika jasmaninya menyerah, lalu, tanpa menuruti perintah pikirannya, mengikuti ingatan-ingatan yang melompat tersebut untuk akhirnya terdampar ke desa Kelinti Capung, dia justru jadi mengingat kembali hal-hal yang semestinya dilupakan untuk selama-lamanya. Hal-hal yang sudah sempat berhasil dilupakan itu, sedikit-banyak, berkaitan pula dengan langit.

Bahkan, hutan asing itu pun mengingatkannya pada satu adegan yang dibayangkannya saat membaca sebuah cerita pendek yang ditulis seorang Romo, yang terlipat dalam gunungan arsip sebagai salah satu manuskrip yang diduga tidak selesai. Cerita Romo itu ialah tentang seorang pilot yang menghilang ke balik abu vulkanik, meninggalkan seorang istri muda yang lantas berkisah. Dan bayangannya mengenai adegan penuturan istri si pilot itu membuatnya teringat pula pada pesan terakhir yang sempat ia bekukan di sebelah sepatu abu-abu, di belakang koper merah, sesaat sebelum pesawat menerbangkannya ke Seoul. Setelah pesan terkirim, yang tersisa hanyalah kotak-kotak berwarna biru yang berasal dari Sudan.

Kotak biru itu membuatnya teringat Si Gajah. Oh, ya, dia datang ke desa ini memang untuk mencari bantuan. Setelah dipikir-pikir, dia harus mencari benang biru, bukan benang merah. Sebab, benang biru itulah yang rupanya berhasil menghubungkan Si Gajah dengan sebuah warna yang konon bersembunyi di dalam lingkaran-lingkaran Claude Boutet ataupun Wilhelm von Bezold, yang pada suatu waktu mampu menghilangkan tubuh-tubuh bertato yang bergerak seperti mesin di atas panggung. Yang dibutuhkan adalah kejutan. Jadi, wajar saja jika para Ingatan—kalau memang mereka adalah entitas yang hidup—membawanya melompat ke desa Kelinti Capung, karena desa ini memang penuh kejutan. Seharusnya, usai kejutan dari mimpinya semalam, pagi ini si sosok kecil juga akan menemukan kejutan lainnya. Lalu dia sadar kembali, dan bergegas menanggapi pernyataan Onyong.

“Maksudnya…?” tanya si sosok kecil kemudian.

“Iya, Heib. Langit…” Onyong diam sebentar, menghisap rokoknya, lalu mengeluarkan bunyi: “Dheqh tse keup pe teuq, gheuh…!”

Si sosok kecil tertawa lagi, tapi dia masih menanti penjelasan—karena memang hanya Onyong yang bisa memberikan pemaparan.

“Sang Badai itu, pernah cerita ke saya…” Onyong berkata dengan bertahap. [—Nah, kalau sudah pake “saya”, si sosok kecil tahu benar, Onyong akan menjelaskan hal yang serius.]

“…katanya, langit itu cermin dari bumi, Heib.”

Si sosok kecil mengambil sebatang rokok pula, lalu menyulutnya. Dia juga bisa mengeluarkan bunyi yang sama: “Hhh… dheqh tse keuh…!”

“Karena bumi sedang meregangkan otot, langit memantulkan regangan itu ke kita, Heib…” kata Onyong.

“Tadi malam mimpiku aneh sekali, Nyong,” kata si sosok kecil. “Langit retak… sebelumnya aku mendengar suara sungut-sungut, lalu bisik-bisik. Sepertinya, ada suara orang yang sedang merajuk. Itu terjadi cukup lama…, sebelum langit runtuh. Itu artinya apa, ya…?”

Maka dia ceritakanlah kepada Onyong tentang gadis berambut panjang yang muncul di mimpinya semalam. “Denok,” dia menyebut namanya. Hanya itu kata yang sempat didengarnya. Si sosok kecil masih ingat bahwa ada kalimat-kalimat panjang yang diucapkan Denok, tapi dia terlanjur pingsan sementara telinganya lebih mendengarkan gerutuannya sendiri.

Onyong mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Di bagian kisah tentang Denok itu, Onyong tidak tersenyum, tapi tidak pula bertampang khawatir. Jika kau mencoba mengamati mereka dari dekat, dan mengamati ekspresi Onyong lebih dekat lagi, yang singgah di kepalamu sebagai kesimpulan, mungkin ini: Onyong sedang mengingat-ingat sesuatu.

Sembari terus bercerita, si sosok kecil tidak bisa menduga apa gerangan yang tengah didiamkan sohibnya itu di dalam kepala.

“Padahal, langkah kakiku ringan-ringan saja,” kata si sosok kecil. “Tapi huntara tak kunjung bergerak mendekat. Tanah serasa melandai begitu panjang. Hujan turun dengan biasa saja, awalnya. Tapi, pada hentakan petir yang ketujuh, suatu dengung panjang menyentuh gendang telingaku—gejala yang kerap muncul kalau panasku mendadak kumat lagi…

“Nah, aku tidak bisa merasakan bedanya; tidak tahu apakah ada rentang waktu yang cukup lama sebelum kalian menemukanku,” lanjut si sosok kecil. “Yang aku rasakan, justru, tak lama setelah itu, aku terbangun lagi di atas tanah yang sama, di posisi yang sama. Hujan masih mengguyur deras. Saat itulah aku mendengar suara bisik-bisik itu… Oh, bukan…, sebelumnya aku mendengar suara sungut-sungut. Tidak jelas. Kupikir itu mungkin suara angin yang menggeliat di antara celah bambu-bambu yang retak, atau geliat dedaunan bambu ketika digelitik angin yang sama. Tapi, setelah kupikir-pikir lagi, kuingat-ingat lagi, suara sungut-sungut itu seperti suara seorang anak kecil, perempuan. Kalau mengaitkannya dengan kemunculan Denok, mungkin sekali, kan, itu suara dia…? Tapi, dia tidak tampak bersedih, sih…! Dia malah tersenyum sebelum aku menutup mata untuk yang kedua kalinya. Entahlah, pokoknya itu suara sungut-sungut. Kalau sekarang aku menyatakannya sebagai suara sungut-sungut seorang anak perempuan, wajar-wajar saja, kan?

“Yang aku tidak mengerti, suara bisik-bisik itu berasal dari mana, ya? Warna suaranya berbeda, Heib…, tidak seperti suara sungut-sungut. Seolah-olah alamlah yang sedang berbicara waktu itu—mungkin hujan, atau angin, atau petir? Aku sempat menebaknya begitu. Tapi itu sepertinya berlebihan, ya…? Pokoknya, satu hal yang pasti, aku yakin sekali, bisikan-bisikan itu mengarah kepadaku yang waktu itu bangun dengan kepala yang pusing. Yah, walaupun cuman mimpi, aku masih bisa mengingat rasa pusingnya. Jangan kau terheran-heran pula dengan ceritaku ini, apalagi bertanya-tanya mengapa aku bisa menceritakannya dengan begitu rinci. Ini malah belum serinci yang aku harapkan untuk bisa diceritakan kepadamu. Ya, pokoknya begitu. Mungkin mimpi ini tidak ada artinya sama sekali; bahwa aku saja yang terlalu memikirkannya.

“Tadi malam, sempat aku berniat untuk menanyakan pendapat Sang Dahrun, awalnya. Tapi kau tahu, kan, gara-gara terpesona dengan nyanyiannya, aku malah memintanya mengajarkanku lagu Pong pang, dan soal mimpi terlupakan sama sekali. Baru pagi ini aku ingat lagi.

“Sebenarnya aku tahu kalau Denok itu hanya mimpi, begitu juga dengan sungut-sungut dan bisik-bisik yang mendahului kemunculannya. Itu sangat mudah dibedakan, kok, Heib. Ente pernah, kan, Heib, punya pengalaman seperti itu: Ente sadar sedang bermimpi waktu masih berada di alam mimpi itu sendiri. Pernah, kan? Yang tidak kuduga adalah, aku akan terbangun—benar-benar bangun di dunia nyata—di tempat yang berbeda. Dan yang membuatku tak nyaman, nyatanya aku bangun dari mimpi itu di rumah Sang Dahrun. Ente pasti setuju, kan, kalau hal-hal yang seperti ini sudah ditangani Sang Dahrun, atau bersinggungan dengan Sang Dahrun, pasti itu ada artinya. Iya, kan?”

Si sosok kecil diam sebentar. Dia menghisap rokoknya, lalu menyeruput kopi, lalu menghisap rokoknya lagi. Kemudian, dia berkata, “Yang jadi pikiranku itu, Heib, kok, rasanya Denok muncul dengan maksud… Sepertinya dia muncul karena alasan tertentu. Sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, apakah mungkin Denok adalah langit? Soalnya, langit runtuh, dan kepingan-kepingan dari reruntuhan itu menyatu ke tubuh anak perempuan itu. Artinya, selama ini… —eh, bukan, sih… itu, kan, mimpi, ya…?!— tapi, maksudku, kalau Denok adalah langit, berarti yang menyelimuti bumi adalah Denok…? Ane jadi teringat kata orang-orang, Heib, bahwa Sang Dahrun pernah bilang, langit itu cantik, langit itu perempuan. Tapi, kok anak kecil, sih?!”

Ceritanya selesai, dan si sosok kecil menantikan tanggapan sohibnya, Onyong.

“Sang Badai pernah bikin puisi di Gegutu Indah, Heib!” kata Onyong, kemudian, penuh semangat. “Tapi, buat saya, puisi itu seperti cerita, tentang perilaku langit.”

“Oh, ya…?” si sosok kecil mengernyit. “Bagaimana puisinya?”

“Saya tidak ingat betul,” Onyong mendongak, memicing mata. Tapi, seketika mulutnya mengucap: “Langit lelah, memikul tumpukan puisi tentangnya…”

“Hah…?!” si sosok kecil menyeru tanpa sadar. Kali ini, dia kaget lebih dari wajar.

“Iya, begitu puisinya, Heib.”

Si sosok kecil tahu sekali puisi itu. Ah, tolol sekali! Si sosok kecil mengumpat di dalam hati. Dia mengutuk dirinya sendiri karena melupakan puisi itu. Ya, puisi itulah jawabannya!

Si sosok kecil menggaruk-garuk kepalanya kencang-kencang. Dia kesal.

Onyong, memang seorang sohib yang baik dan pengertian, justru tersenyum. Dia tahu benar bahwa reaksi tubuh dari si sosok kecil menandakan bahwa sebuah solusi sudah menghampiri. Berbahagialah para leluhur Kelinti Capung, ucapnya dalam hati.

“Ente tahu, bedanya Sang Badai dengan Sang Dahrun…?” si sosok kecil tiba-tiba bertanya kepada Onyong.

“Tidak, Heib!” Onyong menggeleng sekali saja, tapi dengan senyum yang lebih lebar. Onyong berdebar-debar menunggu jawabannya.

Si sosok kecil menyeruput sisa kopi untuk yang terakhir kalinya pagi itu. Lalu ia menghisap rokok, dan lagi-lagi mengeluarkan bunyi: “Deuph peuh ghe, teu tse qeu dagh…!”

“Kalau kita setuju bahwa Sang Dahrun adalah Temokan itu sendiri, Heib…” ujar si sosok kecil kemudian…, pelan, sambil berpikir…, lalu diam sejenak…

“Heeeib…, Heib…!” Onyong menggeleng tiga kali, tapi masih tersenyum, juga masih menunggu.

“Maka Sang Badai adalah orang yang mempunyai Temokan berupa bingkai…!”

“Asyek, Heib!” Onyong berseru, menepuk pahanya. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.