033 – Jeda di atas Motor

Semut Rangrang pernah berkata, Sarah, bahwa bingkai bisa datang dari mana saja, tidak jarang juga pada waktu-waktu yang tak pernah kau duga sebelumnya. Bingkai juga bisa dibangun dari remah-remah, bahkan dalam situasi ketika kau kehabisan strategi. Bingkai, pada dasarnya, adalah cara melihat dengan tepat, atau panduan untuk memilah tuturan-tuturan yang pantas. Bingkai menghindari kesia-siaan, tapi mengindahkan sisa-sisa.

Tiga puluh tiga menit sebelum motor yang kutumpangi ini melaju di lintasan Jalan Raya Kelinti, menuju pasar Capung —tidak, di sana tidak ada pedagang capung— Sang Dahrun tiba-tiba saja muncul dari kamarnya. Suaranya, sebelum ia keluar dari kamarnya itu, seakan terlontar dari lantai dua rumahnya. Oh, aku lupa bercerita bahwa rumah kecil Sang Dahrun memiliki dua lantai. Kamar untuk para pendatang berada di atas, sedangkan kamar Sang Dahrun sendiri berada tepat di bawah kamar tamu itu, di sebelah tangga kayu. Nah, nyatanya, bukan dari ambang pintu kamar yang di atas sebagaimana kesan yang ditangkap telingaku, Sang Dahrun justru memanggil Onyong dari balik tirai kamar pribadinya yang berhadapan langsung dengan ruang tamu (yang sekaligus menjadi ruang makan). Sementara, kamar tempat tidurnya seseorang yang dihantui Denok terletak di sebelah kamar Sang Dahrun; kamar itu juga langsung berhadapan dengan ruang tamu atau ruang makan.

Aneh sekali, pikirku, karena penataan ruang dari rumah Sang Dahrun bisa menyarukan alur gerak suara dari sumber bunyi ke telinga-telinga orang yang ditakdirkan untuk mendengarnya.

Kami —aku dan Onyong— tidak sempat melihat Sang Dahrun dan istrinya pulang ke rumah. Tahu-tahu, mereka sudah di rumah saja. Adakah mungkin percakapan tentang mimpi itu membuat diriku dan Onyong terlepas dari koneksi kesadaran terhadap lingkungan fisik sehingga bebunyian dan gerakan benda-benda alam luput dari indra kami? Bagaimana pun itu, yang pasti suara Sang Dahrun telah menarik kami kembali, dengan mendadak, ke situasi yang terasa nyata. Namun, puisi adiknya, Sang Badai, tidak tertinggal begitu saja di alam percakapan; bait-baitnya ikut terbawa oleh pikiranku ke sini.

Hm…?! Mungkin lebih tepat jika kita menyebut bahwa puisi itu sendirilah yang menemukan kolam baru untuk memarasit dan mereplikasi keberadaannya lewat kehendak subjek-subjek yang terinspirasi untuk mengimitasinya, mengadaptasinya, dan mengubah-ubahnya sedikit. Buatku, puisi Sang Badai adalah bingkai untuk membantu temanmu, Si Gajah, menemui langit.

Bagaimana caranya puisi itu bisa menolong Si Gajah? Aku belum yakin ke mana puisi itu akan membawa kita. Namun, setidaknya, ungkaian kata-kata Sang Badai menyatakan bahwa hal-hal yang dekat adalah bantuan paling tepat. Di dalam puisi itu, tersebutlah satu jenis binatang yang konon membantu Gajah Bersayap pertama, yang pernah kuceritakan kepadamu. Angsa. Para Ingatan, seperti yang bisa diduga, memang menyambut baik rencana gila kita ini —rencana untuk menerbangkan Si Gajah— dan karenanya mereka membawa kita ke desa Kelinti Capung, sebuah negeri tempat berdiamnya orang-orang yang senang mendayagunakan hal-hal yang dekat sebagai solusi untuk berbagai masalah.

Di desa ini masih ada banyak angsa, Sarah! Daripada berpusing-pusing mencari Temokan yang misterius itu, mengapa tak kupetik saja sedikit demi sedikit bulu-bulu angsa Kelinti Capung, untuk kubawa kembali ke rumahmu…? Kau, kan, nanti bisa menggunakan bulu-bulu angsa itu untuk menggantikan sarung bantal berhelai-helai dan kantong-kantong kresek yang sudah kau rakit menjadi mesin sayap sebagaimana petunjuk Si Burung Tukan…?!

Masalahnya, Sarah, Si Burung Tukan sudah pergi entah ke mana. Jika burung misterius itu masih tinggal di dalam rumahmu, tentu kita bisa memintanya menggambarkan rancangan mesin baru berbahan bulu-bulu angsa, bukan sarung bantal, kabel, jeruji kipas angin, dan kantong kresek. Kepergian burung misterius yang penuh tanda tanya itu —tapi kau tidak tampak khawatir sama sekali, kan, Sarah?— sungguh sangat disayangkan, setelah kupikir-pikir.

Sekarang, kita harus mencari siapa yang bisa menggambarkan kita rancangan mesin sayap untuk Si Gajah…! Siapa…?

Kurasa Sang Dahrun, orang sakti mandraguna seantero Kelinti Capung, mengetahui masalah yang kubawa. Ya, dia tentu sudah tahu masalah ini sejak hari-hari sebelum Denok membuat perjalanan melompati ingatan ke masa depan ini semakin runyam. Tanpa bertanya-tanya soal topik perbincanganku dengan Onyong, Sang Dahrun menyarankan kami membeli buku gambar ke pasar Capung. Dia pasti sempat mendengar ucapanku yang berkata, “Ane pengen menggambar saja, Heib!” saat dia masuk ke dalam rumah dengan diam-diam. Dan mungkin sekali dia menguping hampir semua perbincangan kami. Juga tentang niatku untuk mengajak Wafda menggambar.

Sebenarnya, Sarah, aku awalnya tidak percaya bahwa Si Burung Tukan itu ada. Tak pula aku percaya sebelumnya bahwa dialah yang membuatkanmu gambar rancangan mesin sayap itu. Aku sempat menebak, kalau bukan kau, tentu abangmu yang menggambarnya. Tapi, puisi Sang Badai mengingatkanku, bahwa skeptisisme terhadap yang imajinatif adalah kesia-siaan, dan kerap mengabaikan apa-apa saja yang tersisa. Sementara, Temokan Sang Badai, yaitu Bingkai, mengharuskan kita untuk peka terhadap sisa-sisa, dan menghindari apa saja yang sia-sia.

Maka, untuk melanjutkan perjalanan kita demi membantu Si Gajah agar ia bisa terbang menemui langit, seharusnya aku juga mulai menggambar hari ini juga; menggambar mesin sayap, atau menggambar bagaimana rupa gajah ketika terbang, agar kita tidak lagi menyia-nyiakan waktu, dan memanfaatkan sisa-sisa pastel minyak.

Tapi, semua orang juga tahu, gambarku terlalu rumit. Gambar orang-orang lain yang hidup satu generasi denganku, juga sama rumitnya. Artinya, aku harus mencari artikulasi garis yang setara dengan gambar rancangan mesin sayap sebelumnya—karena aku yakin bahwa Si Burung Tukan yang misterius itu menggunakan intuisi tanpa beban, dan gerakan tangannya tak pernah sia-sia, serta kepekaannya yang juga penting karena mengindahkan benda-benda sisa: jeruji kipas angin bekas, kabel, sarung bantal, dan kantong kresek.

Kalau memang benar Si Burung Tukan kini berkelana—entah melompat atau entah bagaimana—ke kota yang dahulu terbagi dua oleh sebuah tembok yang reruntuhannya kini dikeramatkan secara sekuler, tentu berbahagialah ia karena bisa menemukan teman-teman baru yang juga senang menarik garis. Suatu hari nanti, jika Si Burung Tukan bertemu denganmu lagi, Sarah, dan juga dengan abangmu, Aghy, kalian mungkin akan bergotong-royong menarik garis-garis yang lebih tegar daripada kejenuhan hari ini.

Lalu, di antara reaksi-reaksi kejutan yang masih bekerja pada dirinya, si sosok kecil mengulang-ulang kembali syair Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa di saat dirinya menatap tanpa fokus trotoar yang bergerak cepat. Motor Onyong melaju menuju pasar yang ditunjuk Sang Dahrun. Mereka ingin membeli buku gambar dan pensil serta pulpen.

Sembari terus menyanyikan syair itu, si sosok kecil juga berpikir, betapa Sang Dahrun, salah seorang pendendang sejarah desa, begitu terbuka membiarkan sistem-sistem memetis itu bekerja pada diri dan kawan-kawannya, demi melestarikan sari pati negerinya. Pergulatannya dalam menyiasati tantangan yang diberikan Semut Rangrang —subjek lain yang melaluinya para capung masih berpeluang untuk berpindah-pindah di antara kolam-kolam pikiran kita— justru membuahkan suatu sintesa dari peristiwa-peristiwa kecil yang, oleh kebanyakan orang, dipercaya sebagai dongeng. Mereka dengan tegas memungut sisa-sisa demi memperbaiki kesia-siaan. Sisa-sisa getaran bumi, bagi mereka, adalah tanda cemerlang bagi kelanjutan penulisan kisah leluhur mereka di lembaran zaman baru.

Masih terus bernyanyi, si sosok kecil pun menemukan jawaban, ada pada siapakah garis-garis tanpa beban itu di desa ini? Jawabannya: Wafda dan Lili, dua anak kecil yang ingin diajaknya menggambar. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.