034 – Danau Ingatan

Mungkin kau bertanya-tanya tentang kronologi waktu. Jadi, begini, Heib: manusia bisa terombang-ambing di dalam danau ingatan. Danau! Bukan sekadar kolam. Manusia itu mungkin saja tidak tenggelam, hanya melayang-layang di dalamnya, kalau bukan mengambang di permukaan.

Danau itu bukan danau buatan, memang, bukan pula danau yang mati. Danau yang sangat luas meskipun tidak seluas lautan. Manusia tidak tenggelam, tapi gelombang yang berputar-putar, yang hidup di bawah permukaan air-ingatan danau itu, bisa membuat kita berpindah-pindah dari satu ingatan ke ingatan lainnya dalam satu seri kejadian yang melibatkan ragam masa.

Seri kejadian itu, bentuknya, bisa dibilang seperti vortex, dengan garis yang saling bersitumpuk dan meliuk-lingkar menuju satu lubang hitam yang kelam. Kalau kau masih tak paham, kita bisa bertanya kepada dæmon dari Danau Enara yang pernah bercerita kepada Lyra tentang alam semesta yang berlapis-lapis seperti kue lapis, yang jika diiris-iris akan menghasilkan celah-celah setipis garis; melalui celah itulah kita bisa mengintip ungkapan-ungkapan liris dari dunia-dunia yang jauh berbeda dan, tentunya, lebih fantastis.

“Rentangkan kedua tanganmu, seperti ini, maka kau sebenarnya sedang menyentuh jutaan dunia yang masing-masing berbeda dimensi!” kata dæmon itu. Tapi Lyra tidak melihat ada dunia lain selain dunia tempat dia merentangkan tangan.

Seri kejadian yang dilalui manusia yang terombang-ambing di dalam danau ingatan bisa menjadi pengalaman yang aneh: terasa kronologis dari sudut pandang faali fisiknya, tetapi bisa jadi merupakan tumpukan waktu yang tidak runut jika dilihat dari sudut pandang masa alam semesta kita. Pengalaman fisik terhadap ingatan yang satu akan menyaru dengan pengalaman fisik terkait ingatan yang lain yang diingat pada waktu yang lain. Atau pada kasus lain: ingatan akan pengalaman yang satu akan tumpang-tindih dengan ingatan akan pengalaman lain di waktu yang juga lain. Bahkan, kau bisa mengingat kejadian tentang peristiwa lain yang belum terjadi.

Jika kau terombang-ambing di dalam danau ingatan, kau mungkin saja mengingat sebuah kejadian yang sebenarnya belum kau alami sama sekali. Kejadian itu, mungkin, baru akan benar-benar ada lima hari kemudian jika dihitung maju dari momen ketika kau mengingatnya. Lima hari itu contoh saja. Mungkin satu bulan, atau satu tahun, atau justru hanya sepersekian detik setelahnya. Tapi, kau malah bercerita kepada orang-orang di sekitarmu seakan-akan kejadian yang kau ingat itu adalah kejadian masa lampau, padahal bukan. Sebagian besar orang meyakininya sebagai imajinasi sementara yang lain menyepelekannya sebagai khayalan, tapi tidak sedikit juga yang mengamininya sebagai harapan. Tapi, ingat saja pesan ini: itu semua ingatan.

Di dalam danau ingatan, tubuh kita bisa terlempar ke lapis ingatan yang sebenarnya ditakdirkan akan diingat pada satu waktu, sedangkan kejadian yang menjadi isi ingatan itu baru akan terjadi pada waktu yang berbeda. Kemudian, tubuhmu itu akan terlempar lagi ke lapis lainnya, yaitu lapis yang berada di urutan sebelum lapis pertama. Dari segi raga, tubuh si pengingat merasa bahwa lapis pertama adalah kejadian fisik yang dialaminya lebih dulu, dan lapis kedua adalah kejadian fisik setelahnya. Padahal, yang sebenarnya terjadi—jika kita melihat lewat mata alam semesta tempat kita benar-benar berada, yaitu alam Sang Penutur—adalah sebaliknya.

Aneh, bukan…?

Begitulah! Nyatanya, Wafda mengaum di depan huntara tujuh hari setelah si sosok kecil memukul kepalanya di pekarangan rumah Sang Dahrun gara-gara teringat puisi Gegutu Indah. Sebuah ingatan, mengenai bunyi, yang melarikan diri dari pikiran Wafda, faktanya, terjadi enam hari setelah sebuah niatan terlintas di pikiran si sosok kecil untuk mengajak gadis kecil itu menggambar mesin sayap buat Si Gajah. Begitu juga, tiga hari setelah ia bermimpi bertemu Denok, barulah si sosok kecil melihat Lili berlari-lari menggoda ayahnya di depan huntara. Tapi, itu semua justru merupakan ingatan belaka bagi si sosok kecil pada saat ia duduk bersama Onyong, bercakap-cakap sembari menghabiskan segelas kopi, di hari kedua pascakesembuhannya dari demam yang diakibatkan oleh lompatan ingatan ke masa depan sejauh satu tahun dua bulan. 

Cobalah kau ingat gerutu si sosok kecil seratus enam puluh lima hari yang lalu…

Lucunya, ketika semua momen itu benar-benar terjadi, si sosok kecil tak pula merasa bahwa dirinya tengah mengalami déjà vu. Menurutnya, itu semua semata ingatan. Dia tidak pernah benar-benar percaya déjà vu, tapi dengan bodohnya tak pula pernah menyadari bahwa dirinya kini tengah terombang-ambing di dalam danau ingatan. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.