035 – Pesan Si Tupai

Dari salah satu titik di permukaan bumi, di antara koordinat 110°21′ – 110°50′ BT dan 7°46′ – 8°09′ LS, tampak arsiran awan kelabu merembes ke pantulan jingga rembulan senja, yang mana diameternya nyaris menyentuh garis tepi dari siluet bukit yang melandai ke horizon berwarna hitam lebih pekat. Di belakang mereka, terhampar luas langit dengan gradasi kuning, jingga, merah, dan abu-abu, sedangkan yang lebih dekat ke mata si pemandang ialah ranting pepohonan entah jenis apa. Mengagumi lukisan alam perbukitan kapur itu, Si Tupai pun menyebarkan sebuah pesan yang dahulu pernah dijahit Papuq Mekas ke dalam bingkai—kisah yang tanpa malu-malu bahagia—pada tahun terakhir milenium kedua kalender Gregorian. “Tatkala aku bergerak maju, sesekali kulihat kilasan-kilasan ringkas keindahan,” begitu kalimat si papuq yang dikutip menjadi pesan oleh Si Tupai.

Sayangnya, tidak ada pemandangan seperti itu yang dapat kulihat melalui ambang pintu huntara. Padahal, di sini, hari juga sudah senja. Wafda dan Lili tak lagi kelihatan sejak mereka mengiyakan ajakanku tadi siang untuk menggambar di berugaq pada sore hari. Memandangi langit, seolah-olah mengajaknya bicara, aku bukan sedang termangu seperti orang bodoh. Bukan! Aku sedang berpikir dan mengira-ngira, bagaimana cara dan kapan waktu yang pas untuk menghadang kedua bocah itu, lalu menodong mereka dengan sekotak pastel minyak—yang kujawab pensil lilin warna-warni ketika mereka bertanya itu apa—dan sebuah buku gambar berisi dua puluh empat lembar kertas putih. Baiklah, kalau memang bukan gajah terbang, melainkan bebek makan kue, yang ingin mereka gambar lebih dulu, aku rela menuruti mereka asalkan cara itu berguna. Barangkali saja, kan, dari suasana yang akrab-akrab begitu, muncul kesempatan baru untuk merayu mereka kembali sehingga mau menggambar gajah terbang…?!

Onyong juga tak muncul-muncul lagi. Terakhir kali bertemu, dia menemaniku membeli buku gambar di Pasar Capung seminggu yang lalu. Ke mana dia? Kalau Sang Dahrun…? Yah, dia ada di mana-mana! Seperti adiknya, yang kerap hilang sesaat, tapi lebih sering muncul ke tengah tongkrongan para pengeliling api unggun yang membara dari tumpukan sampah berisi campuran botol-botol plastik, batang-batang lidi tusuk sate ayam, dan rumput-rumput. Bara api itu biasanya menyala pada sore atau malam hari, tapi tak pernah sampai larut. Nah, selain langit senja yang dingin, yang sepertinya enggan bercakap-cakap denganku, tumpukan sampah itulah yang terlihat dari ambang pintu huntara di mana aku kini berbaring sambil menimbang-nimbang pesan yang ditulis ulang oleh Si Tupai. Adakah mungkin ia sudah mendengar cerita itu hingga selesai, narasi yang membungkus pengalaman sang arsip selama tiga puluh tahun menghadapi sekian gejolak zaman…?

Mengakui ketidakmampuannya mencari tahu dari mana dan ke mana hidupnya bermula dan berakhir, si papuq tua Mekas dengan riang gembira merayakan kebancuhan citra-citra —wujud lain ingatan— yang ia percaya mengandung beberapa jenis orde tertentu, kendati masih sukar dipahami. Toh, ia malahan benar-benar tak ingin memahaminya. Kalau diperkenankan meniru model pembelaan diri si Cipto, cerpenis Jogja yang pernah diinterogasi Prima terkait pencurian buku mediokernya itu, menurutku kita memang perlu mencuri sejumlah ingatan dengan tangkapan layar, seiring citra-citra mereka menerpa mata para pengagum mimpi. Sebab, pencurian yang demikian, boleh jadi, adalah alasan mengapa, di dalam ruang gema kiwari ini, Clair de Lune milik Debussy bisa sampai ke telinga-telinga yang ramah. Telinga Si Tupai yang cantik jelita itu, salah satunya.

Tahukah kau, Sarah, bahwa mereka sanggup membingkai sisi lain dari situs-situs, yang oleh kebanyakan orang dianggap menyeramkan, untuk kemudian dihayati sebagai suatu kefirdausan, alih-alih sekadar kebersituasian belaka? Tangkapan impresionis Si Tupai terhadap rembulan senja itu mencuri perhatianku karena ia seakan sedang memperingatkan kita betapa gundah gulana kawula muda penggandrung senja dan kopi tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman katastropis, trauma sejarah, dan mimpi para penjaga dongeng-dongeng desa. Isin angsat, yang kemudian kuingat. Bulan jingga itu pada akhirnya berkias, sedangkan diriku menilainya sebagai metafora dari sebuah tempuran yang di situ beragam sisa-sisa dapat bertemu dan saling mengemukakan kembali diri.

Tapi, sekali lagi kubilang, bukan langit seperti itu yang kulihat melalui ambang pintu huntara yang berdiri di tengah lapangan bekas sawah ini. Cuaca hari ini tenang sekali. (“Tumben…?!”). Walau begitu, tampang langit yang berada di hadapanku ini tak semenggairahkan citra yang ditangkap Si Tupai. Langit yang ini —apakah dia sedang menatapku sekarang?— terkesan tawar, kaku, dan tidak ramah. Kalau dia punya wajah, tentu wajahnya begitu kencang meskipun tidak ada angin yang bertiup kencang di sekitaran huntara. Tenang, tapi menegangkan.

Aku tahu, aku tahu…! Langit memang bukan antagonis, tidak etis kalau aku terus-terusan menyalahkannya. Lagi pula, Kelinti Capung masih bersedia bersahabat, bahkan sejak kuketahui bahwa langit memantulkan regangan bumi. Ya, ya, ya…! Aku harus lebih santai menyikapi kerongsengan langit. (“Tapi kemarin aku rongseng karena kerongsengan langit ini! Kan, kau tahu itu…?!”). Bukan juga karena keberadaannya yang tanpa sengaja terlanjur tercitrakan menjadi antagonis itu yang membuatku berkali-kali mendongak ke atas untuk menatapnya berulang-ulang. Aku cuma ingin tahu, sebelum misi menerbangkan gajah ini berhasil (“Semoga saja!”), mengapa gajah tolol itu ingin menemui langit? Mengapa Sarah dan Aghy juga mengiranya begitu? Lebih lagi, kurasa langit pun juga mengharapkan keberhasilan misi ini. Siapa dia…?!

Apa sebenarnya yang terjadi antara Si Langit—kalau nama ini cocok untuknya—dan Si Gajah? Apakah benar Si Gajah sedang bersedih? Lagi-lagi si sosok kecil curiga, jangan-jangan Sarah dan Agy hanya mengerjainya saja.

Aaah…! Sekawanan burung tiba-tiba melintas. Sekilas saja. Tidak berlama-lama mereka berkeliling di area cakupan pandang si sosok kecil. Semakin lama semakin ia waspada bagaimana supaya perenungan tentang Si Langit dan Si Gajah tak akan menyebabkan jiwanya memiliki kesamaan dengan jiwa-jiwa yang menjadi lanskap perjalanan para penari Verlaine; bagaimana agar mereka yang berjalan kaki di dalam jiwanya bukanlah para pemain kecapi yang hampir bersedih di bawah penyamaran. Jika hal itu terjadi, tentulah burung-burung itu sedang bermimpi sekarang.

“Tapi, Sarah, kita tak perlu khawatir!” ujarnya dalam hati, seolah-olah Sarah menyimak setiap kata-katanya. “Aku yakin, kita bukan sedang menjalani masa dekadensi. Aku yakin itu karena itulah maksud Si Tupai yang sebenarnya dari pesan yang ia sebar. Benar, kan, Heib? Si Gajah tak akan berlama-lama murung. Tenang saja…!”

Baru saja aku berlagak bijak dengan mengucap semacam petuah di dalam hati, tiba-tiba aku terkejut. Denok…! Gadis itu berdiri di seberang tanah bekas sawah, dan sambil tersenyum melambai-lambaikan tangan ke arahku. Ck!!! *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.