036 – Sang Badai dan Ceritanya tentang Rusa

Segera saja aku bangun dari posisi berbaring, berjongkok cepat, menjulurkan leher hingga kepalaku melewati ambang pintu dan menyentuh sinar jingga senja yang menggaris di sisi luar dinding bangunan. Aku mengejap lantas membuka kedua kelopak mata lebar-lebar, mencoba meyakinkan diri tentang siapa yang melambai-lambaikan tangan itu. Denok masih berdiri di posisi yang sama.

Aku mengejapkan mata lagi. Sosok Denok hilang.

Aku kemudian berdiri, bertegak pinggang dengan tangan kiri sementara tangan kanan menggaruk-garuk kepala. Ke mana gadis itu? Aku yakin tadi dia berdiri di sana!

Kebingunganku disambut oleh bunyi gemuruh langit yang terdengar samar. Ada petir jauh di sana, barangkali…? Tanpa kilat…? Yang jelas, itu bukan gemuruh bangunan yang runtuh. Kemudian angin berhembus pelan. Langit tidak berubah. Dengan tampangnya yang kencang lagi dingin itu, aku tak tahu pasti apakah ia mulai memendungkan diri untuk kemudian menjatuhkan jutaan rintik air ke Kelinti Capung. Awan tak ada. Langit tetap saja tampak datar dan tawar.

Kebingungan yang sebenarnya singkat itu terasa lumayan melelahkan karena kepalaku berusaha mencerna kejadian yang baru saja lewat dengan pikiran maksimal, sekuat yang aku bisa, dan sedetail mungkin; seakan-akan aku sedang menggerakkan semua badan di dalam air sungai, berusaha berenang melawan arusnya demi menggapai tepian yang kasar. Melelahkan!

Kau keliru jika misalnya mengharapkan Denok tiba-tiba muncul di belakang atau di sampingku —aku pribadi masih tak yakin dengan apa yang baru saja kulihat. Denok, si gadis dalam mimpi, sesekali memang masih mengganggu pikiran, tapi gangguannya tidak berhasil menyita perhatianku dari urgensi mengajak Wafda dan Lili menggambar— karena yang justru muncul di belakangku adalah Sang Badai. Ketika aku menoleh, dia baru saja akan duduk di dekat pintu bagian belakang huntara. Tentunya dia masuk ke huntara ini dari pintu sebelah sana.

Aku pun masuk ke dalam, lalu lebih dulu mengambil posisi duduk di dekat bantal sambil meminta sebatang rokok darinya. Sang Badai mengeluarkan sebungkus rokok dari saku sembari melempar pelan tas hitam kecilnya ke atas tikar yang menjadi alas lantai ruangan.

Seminggu terakhir, aku lebih sering bermenung-menung dan jarang menemani Sang Badai jalan-jalan keliling desa. Dia lebih sibuk sekarang, dan sebagian besar urusan yang dia kerjakan tidak ada sangkut pautnya denganku.

Sang Badai duduk tenang-tenang. Berbeda dengan saudaranya yang selalu karismatik dan mengandung jutaan misteri di setiap gestur dan mimik, Sang Badai tampil dengan pembawaan yang memadukan keseriusan dan komedi. Tenang, dalam bahasa tubuh Sang Badai, adalah kesederhanaan yang mengisi kesadaran atas tanggung jawabnya sebagai salah seorang pemikir di lingkungan desa.

Kau mungkin mencerna ceritaku bahwa aku sedang mengamati Sang Badai. Cernaan seperti itu pun keliru. Nyatanya, apa yang kuutarakan sedari tadi hanyalah apa yang biasanya kusadari dari seorang Sang Badai. Alih-alih diamati oleh mataku, Sang Badailah yang justru mengamati gaya dudukku, yang dari gaya duduk itu mungkin oleh matanya tertangkap suatu kegelisahan yang rumit. Aku tidak tahu, rumit yang seperti apa. Aku sendiri tidak menganggap bahwa emosiku sedang rumit, apalagi gaya dudukku. Tapi, mata Sang Badai, yang mengamat-amatiku dengan saksama, mengindikasikan kesimpulannya bahwa aku sedang rumit. Dan kerumitan yang ia tangkap merupakan kasus yang akan selalu menarik perhatiannya.

Sang Badai bisa menyederhanakan hal-hal rumit. Tentu saja, menyederhanakan bukan dalam arti menyepelekan. Penyederhanaan dalam kamus Sang Badai adalah usaha menemukan ungkaian-ungkaian ringan dan layak cerna, tanpa mengurangi bobot-bobot utama dari masalah yang perlu disederhanakan. Aku masih ingat bagaimana Sang Badai bisa menyederhanakan kebingunganku tentang strategi membendung bahaya industri pariwisata hanya dengan dua kata lokal, padahal strategi-strategi semacam itu seharusnya membutuhkan penjelasan panjang, paling tidak sepanjang belasan halaman jurnal ilmiah. Dengan dua kata yang ia cetuskan waktu itu, pertanyaan bocah dari mulutku bisa berhenti seketika. Aku langsung nurut.

Ah, seandainya aku bisa meminta pendapatnya tentang seekor rusa yang mengambil kacamataku pada suatu malam di belakang keramaian orang-orang yang sedang menari menyambut senandung khayalan…! Mengenakan kacamataku di wajahnya, rusa itu berlari dan menyelinap ke dalam celah-celah yang tercipta dari langkah orang-orang yang bergerak serempak. Dalam kegirangannya, sesekali rusa itu melirik ke arahku, tersenyum. Saat khayalan yang bersenandung melalui layar supraantropologis itu berakhir, ia kembali mendekat dan mengabaikan keramaian yang ada. Ia menatapku lekat, dan mengucapkan hal-hal yang sulit dilupakan. Karena sulit dilupakan itulah, rusa itu menjadi rumit di mataku, begitu pula ingatan tentangnya.

Bagaimana kiranya kata-kata sederhana yang akan tercetus dari mulut Sang Badai jika kuceritakan padanya tentang rusa itu? Apakah sesingkat nasihat yang pernah ia berikan di waktu yang lebih dulu lagi, saat dia berusaha mencegah niatku untuk menemui kembali senja yang dituang?

“Ente masih nggak terima dihantui perempuan itu, Heib?” Sang Badai bertanya tiba-tiba, memotong lamunanku. Orang-orang Kelinti Capung memang suka sekali memotong lamunan teman bicaranya. “Hhh… tsseu thaq tse qeuh…!” Sang Badai mengeluarkan bunyi dari mulutnya. Ya, dia pun bisa bermain bunyi ketika menghembuskan asap rokok, seperti yang sering dilakukan Onyong.

Aku tidak menjawab iya, pun tidak menjawab tidak. Aku diam saja mendengar pertanyaan Sang Badai yang terdengar datar itu. Tidak ada nada penasaran sama sekali di dalam pertanyaannya maka aku diam saja. Karena diam sudah cukup untuk menjadi jawaban yang sangat sederhana buat Sang Badai, kan?

“Ck, ck, ck!” Sang Badai menggeleng sambil tersenyum jahil. Dia menghisap rokoknya lagi.

Sekarang, kami berdua sama-sama diam. Di dalam huntara, udara terasa sejuk. Hari sudah gelap. Suara jangkrik belum terdengar kencang, suara anjing-anjing juga belum datang. Suara sapi-sapi yang merebahkan diri di petakan antara huntara kami dan parit kecil di tepi kebun kelor, terdengar sayup, seolah mengajak orang-orang di dalam rumah untuk ikut bersantai bersama mereka. Sapi-sapi itu tampak masih mengunyah rumput.

“Kau dengar suara petir tadi…?” tanyaku, memotong diam kami yang membosankan.

Sang Badai mendadak mematung. Empat puluh tiga detik, lamanya. Sungguh! Aku menghitungnya benar-benar. Jarinya yang menggenggam rokok berhenti di ambang bibir. Setelah lewat semenit, kepalanya menoleh dengan sangat pelan ke arahku; matanya menatap mataku lekat-lekat, selekat tatapan rusa yang kuceritakan tadi—rusa yang mengambil kacamataku.

“Sepertinya langit masih belum puas dengan puisi yang ane buat, ya, Heib?” katanya, dengan wajah yang serius.

“Ha…?!” aku mengernyit, bingung dengan kata-katanya.

Sang Badai lantas tertawa, menertawai kebingunganku, tertawa begitu lepas dan keras. Sang Badai sialan!

“Maksudnya bagaimana?”

“Sudah, lupakan saja!” serunya. “Eh, di mana kacamataku?” Sang Badai mengorek isi tas hitam kecilnya.

“Kenapa langit begitu penting di sini, Heib?” tanyaku. Grasak-grusuk tangan Sang Badai di dalam tas hitam membuatku teringat lagi rusa yang mengambil kacamata. Tapi rupanya Sang Badai menganggap penting pertanyaanku, dan jawabannya mengejutkan:

“Biasa saja, sebenarnya, Heib! Langit terasa penting karena kau terlalu memikirkannya.”

“Mengapa Si Gajah ingin bertemu Si Langit…?”

“Denok. Gajah ingin bertemu Denok,” kata Sang Badai dengan senyum girang.

“Lah…?! Jadi benar kalau anak perempuan itu langit…?!” aku berkata sambil menegakkan badan. Pantatku meninggalkan bantal yang sedari tadi kududuki. Pernyataan Sang Badai semakin membuat perjalanan ini terasa semakin tai.

Sang Badai berhasil mengambil kacamata dari dalam tasnya. Dia membersihkan lensa kacamata itu, lalu mengenakannya untuk membaca sebuah catatan. Kami diam lagi, karena Sang Badai tengah membaca. Tapi diamnya hanya sebentar. Sang Badai melirikku. Dia menghela napas, lalu menutup buku catatannya, memasukkan kacamata itu kembali ke dalam tas.

“Itu ada kisahnya, Heib…” Sang Badai menanggapi kebingunganku dengan santai, sesantai ia meregangkan badan sembari menguap lalu mengambil bantal, meletakkan bantal itu di posisi yang lebih dekat ke pintu. Sang Badai berbaring, melepas lelah. Dia memejamkan mata sembari bersenandung kecil: Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung, Mentigi dasan embe laine pak kecubrek…

Aku masih diam. Kali ini menunggunya selesai melantunkan syair. Meskipun tidak sememukau Sang Dahrun, orang yang menelentangkan badan di depanku saat itu jauh lebih memancing rasa penasaran. Seakan-akan ia tengah menyindir, betapa aku kehilangan arah tujuan…

“Kisah tentang gajah yang belajar dari burung-burung, gajah kecil yang ingin terbang,” kata Sang Badai, usai ia bernyanyi. “Semua orang juga tahu, kisah-kisah itu hidup di dalam cerita-cerita rakyat yang memoros pada si kancil. Karena kecerdikannya, rusa kecil itu disebut kancil. Padahal, sama saja, ia tetap saja rusa.”

“Artinya…?”

“Aku kira sejak awal kau sudah salah mengira, Heib…” kata Sang Badai. “Mungkin itu terjadi karena kau berusaha menampik apa yang sebenarnya terjadi, atau luput memeriksa alasan yang paling jujur dari tindakan-tindakanmu…”

Aku jadi merasa aneh.

“Mengapa kau tidak menjelaskannya dengan sederhana saja seperti biasa…?” kataku, gemas. “Rumit sekali, harus menarik kancil—rusa kecil itu—dan teman-temannya segala…?! Ayolah! Maksudnya apa…?”

Aku terpaksa harus menyelanya demikian karena, aku ingat, jika kami harus menyertakan begitu banyak binatang ke dalam percakapan ini, berarti aku masih punya pekerjaan rumah yang belum selesai. Jangankan teman-teman Si Kancil, aku masih harus bertemu dengan empat teman Si Gajah yang lain. (“Kau masih ingat siapa saja mereka, kan?”). Belum lagi Si Tupai…

“Masalahnya, Heib, kunci persoalan ini, ane rasa, bukan ada pada Si Tupai,” kata Sang Badai, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

“Terus, ada pada siapa?” ketusku. “Rusa…?!”

“Lah, iya, Heib! Siapa lagi…?!” kata Sang Badai.

Aku terdiam. Jantungku berdebar.

“Kau tahu, dalam legenda burung-burung pembawa petuah disebutkan bahwa orang yang membantu Denok membebaskan gajah-gajah dari jeratan para dewa adalah dia yang hampir setiap hari bermain dengan rusa,” kata Sang Badai. “Si penolong gajah itu tidak suka memburu binatang-binatang, dan lebih memilih berteman dengan mereka semua. Karena itu Denok senang padanya. Konon, kata orang-orang tua yang mendengar cerita dari orang-orang tua yang hidup di masa sebelum Tuan Guru, si penolong gajah menghilang dari desa ini pada suatu hari. Beberapa hari sebelum menghilang, orang itu berkata kepada Denok bahwa dia punya rencana untuk menempuh perjalanan selama tiga hari menuju arah barat laut, menuju bekas letusan bumi yang sangat luar biasa. Bekas letusan itu kini menjadi sebuah danau yang sangat luas, yang di dalamnya triliunan ingatan lintas zaman diselamatkan. Dia memilih mengembara karena dia sudah paham betul bahwa rusa bisa memberikan ketenangan yang lebih jujur daripada yang lain-lainnya.”

“Jadi, kau ingin bilang bahwa Denok masih mencari orang itu karena dia tidak pulang-pulang…, begitu…?!”

“Ya, kalau dalam cerita-cerita picisan, kan, begitu, Heib…” jawab Sang Badai, tertawa geli.

“Kau sepertinya sengaja menghindari penjelasan yang sederhana, oh, Sang Badai!” seruku, kesal.

“Hahaha! Kalau kau ingin sesuatu yang sederhana, jangan mengharapkan hal itu dariku kali ini. Mintalah kepada rusa…!”

Aku masih mengerutkan kening!

“Iya, rusa yang mengambil kacamatamu malam hari itu…” kata Sang Badai. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.