037 – Pada Saat Berpindah

Seharusnya, seperti ini legendanya: usai membantu Denok, seseorang yang membebaskan para gajah dari jeratan langit-langit yang buruk pada akhirnya bergerak ke desa-desa barat laut, sebelum sampai di Danau Ingatan. Konon, ia ingin mengikuti dan menemani rusa.

Akan tetapi, tahu-tahu terjadi suatu gegar yang sulit dimengerti. Agaknya, gegar itulah yang telah menguak kenyataan tentang kegagapan Sang Menara Gading dalam mengenali fondasi-fondasi organiknya sendiri. Dan mungkin sekali, gegar yang sama, juga telah melukai mata Semut Rangrang dengan sayatan beruntun yang sangat tajam, hingga Semut Rangrang meraung dan, mau tak mau, berenang di genangan kekesalannya sendiri tatkala menyadari dirinya diseret hanyut oleh arus paling ekstrem, arus yang memaksanya memandangi titik nadir. Tapi tarikan arus itu memicu sensasi yang lian dalam dirinya: ada imajinasi untuk melompat lebih jauh…, jaaauuuuuh sekali…!

Semut Rangrang menatap tembok runtuh. Menyedihkan. Tapi mungkin di balik tembok itu ada hal berbeda yang bisa dilihat, pikir Semut Rangrang di tengah-tengah kegiatannya menyeberangi samudra air matanya. Namun, tak ada satu orang pun yang tahu dan berani meyakini itu. Hanya karena sifatnya yang pantang jatuh—karena ia juga keras kepala, Semut Rangrang masih terus berenang hingga sekarang, berusaha mencapai tepi kelopak yang dibanjiri luka, demi melihat pemandangan apa yang ada di balik tembok yang runtuh.

Seharusnya, memang seperti ini legendanya: usai membantu Denok, seseorang yang sudah bekerja membantu pembebasan para gajah, semestinya, melanjutkan perjalanan ke arah barat laut, mengikuti dan menemani rusa, membangun teritorinya yang tenang juga nyaman di sudut sebuah desa. Namun, gegar yang aneh itu rupanya membuat rencana-rencana yang telah disusun menjadi tertunda untuk beberapa periode. Perjalanan harus berbelok sebentar ke arah timur, sekadar untuk memungut sejumput dua jumput isin angsat baru. Meskipun bukan dari Kelinti Capung, isin angsat khusus yang sedang dicari oleh si pembebas gajah itu mungkin bisa jadi bekal yang jauh lebih sakti dari Benda Temokan mana pun.

Tapi, si rusa tampaknya lelah menunggu, dan mungkin juga karena jarak pandangnya yang cukup jauh, makanya ia terus saja berlari melompat menyusuri jalanan yang tidak berbelok, melupakan keberadaan si pembebas gajah yang begitu ingin mengikuti dan menemaninya. Sementara, Denok pun tidak menyahut ketika si pengelana —si pembebas para gajah yang kuceritakan ini— memanggil-manggil, dengan panik bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Sepertinya Denok juga menghilang, menyusul hilangnya si rusa dari pandangan. Si pembebas para gajah itu menjadi sangat sedih sekali.

Barangkali si sosok kecil yang tengah terdiam di depan pintu, karena menyimak gerimis yang sedari sore turun segan-segan, juga mengalami kesedihan yang sama karena ia tak kunjung mengerti gegar-gegar apakah yang sering mengganggu kita semua, yang bahkan bisa membuat “seorang prajurit berani mati” sekalipun mengalami kegugupan yang sangat tidak biasa.

Hm…! Aku lupa, Sarah, sudah berapa lama, ya, aku tidak melihat wajahmu yang ceria? Bagaimana nasib mesin sayap kita?

Kau tahu, seorang kakak sepupu gendut yang belum kau kenal dekat, menurut kabarnya, sedang dalam perjalanan menuju pinggir kota yang dahulu didirikan oleh Ngabehi. Ia juga membawa setumpuk pertanyaan, tak lebih sedikit dari pertanyaan-pertanyaan si sosok kecil sendiri yang tampak gundah di depan pintu huntara sekarang ini.

Beberapa orang masih mencari rumah baru untuk pindah dari atap yang sudah lama rubuh, di atas bumi yang suatu waktu bisa bergoncang lagi, dan di bawah langit yang kapan-kapan bisa bergemuruh lebih keras lagi. Nyatanya, beberapa waktu yang lalu, mereka bergoncang dan bergemuruh lagi, meskipun kita merasakannya hanya karena kata-kata dan teks-teks singkat. 

Satu di antara orang-orang yang sibuk mencari-cari rumah itu, terlihat sedang duduk dan berpikir-pikir, mengulang-ulang pertanyaan yang pernah diucapkan oleh seorang fotografer muda di Brooklyn yang tahun depan akan berusia seperempat abad: “Mau ke mana kau biar senang?” *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.