038 – Tersungkurnya Teman Wafda dan Lili

Maka, keesokan harinya, dengan pikiran yang penuh duga-duga terkait cerita Sang Badai tentang rusa, si sosok kecil berjalan pelan, melanjutkan niatnya untuk mengajak Wafda dan Lili menggambar. Dia menjinjing sekotak oil pastel untuk menggambar. Hari itu, kata ibu-ibu yang duduk ngaso di depan warung yang berada di sebelah huntara tempat ia biasa menginap, Wafda dan Lili sedang bermain kejar-kejaran di halaman sekitar berugaq yang menghadap sebuah lapangan bola kecil yang tak pernah rapi.

Jarak berugaq itu tidak jauh dari huntara. Seperti biasanya di hari-hari terik, setapak yang mengantarai huntara dan berugaq yang dituju si sosok kecil tampak retak-retak. Kondisi basah dan lembab di malam hari, apalagi jika malam hari hujan turun, membuat tanah yang diterpa cahaya matahari panas menjadi kering lagi regang. Karenanya, si sosok kecil tetap harus berjalan dengan hati-hati. Sebagaimana tanah yang becek, tanah kering dan retak-retak itu juga bisa membuatnya terjerembap.

Jarak berugaq semakin dekat, si sosok kecil mendengar sayup-sayup suara Wafda dan Lili yang berteriak-teriak riang. Bukan mereka berdua saja anak-anak kecil yang ada di pekarangan depan berugaq itu. Ada tiga bocah laki-laki lainnya. Si sosok kecil tidak kenal ketiganya.

Saat dirinya masuk ke pekarangan, seorang ahli tani—istri dari seorang penyair—tengah memasak sayur kelor di dapur umum yang berada di belakang berugaq. Seorang perempuan lainnya membantu si ahli tani. Ia mengenal perempuan yang membantu si ahli tani itu sebagai Ana, istri Sang Dahrun—ibunya Wafda. Seorang perempuan lagi, yang membantu si ahli tani dan Ana, adalah si pemilik rumah di Meno, ibunya Lili. Ketiga perempuan itu acuh tak acuh dengan kedatangannya. Si sosok kecil memperhatikan kegiatan ketiga perempuan itu sebentar saja karena matanya kemudian lebih tertarik mengikuti pergerakan Wafda dan Lili beserta tiga bocah laki-laki sepantaran mereka yang berlari-lari.

Anak-anak itu berlari mengitari area dapur umum, kemudian masuk ke kebun sayur, keluar dari kebun sayur lantas berlari ke samping berugaq, lalu muncul lagi dari arah yang berlawanan ke dekat dapur umum, kemudian berhenti di tengah-tengah pekarangan. Semua bocah bersorak gembira saat Wafda berhasil menepuk bahu salah seorang bocah laki-laki. Sebelumnya, empat bocah berlari menghindari kejaran Wafda. Sekarang, si bocah laki-laki itu yang harus mengejar dan menyentuh salah satu dari empat temannya. Lili berlari tidak selincah Wafda, memang, tapi dia cukup lihai menghindari tangkapan si bocah laki-laki yang “terhukum” menjadi “pemburu”.

Tanah di pekarangan itu sama kering dan regangnya dengan lapisan setapak yang tadi dilalui oleh si sosok kecil. Tanah yang mengkhawatirkan, kalau bukan menakutkan; wajah tanah yang harus diperhatikan baik-baik, yang bisa membahayakan keselamatan kita.

Benar saja, tak lama setelah si sosok kecil membayangkan kemungkinan risiko yang disebabkan kondisi tanah, seorang bocah laki-laki, yang berusaha menghindari kejaran si bocah laki-laki yang sedang “kena kutuk”, jatuh tersungkur di gundukan retak yang menjadi batas area kebun sayur. Sorak-sorai girang keempat temannya mendadak berhenti, dan sedetik kemudian, meledaklah tangis si bocah yang tersungkur itu. Tiga orang perempuan yang sedang memasak pun menghentikan pekerjaan mereka. Si ahli tani bergerak cepat, menarik ke atas lengan si bocah yang tersungkur, membantu si anak itu berdiri. “Hati-hati!” kata si ahli tani itu, dengan nada yang sedikit memarahi tapi lebih kental kesan perhatiannya. “Bagian mana yang sakit…?!”

Si bocah yang tersungkur dan menangis itu menggeleng saja. Wajahnya memerah, matanya banjir air mata. Tak berapa lama kemudian, seorang ibu muncul dari pekarangan rumah lain—tetangga berugaq yang berada di sebelah kanan area dapur umum (jika kita mengukur letaknya dengan menghadap ke arah lapangan bola yang tak pernah rapi itu). Si ibu yang baru datang tersebut, tentunya, adalah ibu si anak yang sekarang menangis dengan lebih keras. Si ahli tani lantas tertawa geli, begitu pula dengan Ana dan si pemilik rumah di Meno. Wafda dan Lili, serta dua bocah laki-laki lainnya, diam saja. Mereka menatap peristiwa itu dengan wajah yang bingung, tapi peduli.

Sedangkan si sosok kecil, wajahnya datar saja. Dia kemudian menghisap rokok, berusaha menyimak momen.

Aku bukannya tak peduli dengan si bocah yang tersungkur itu. Lagipula, ibunya sudah datang menghampiri. Ia sekarang menggendong dan membawa anaknya itu pulang ke rumah sembari mengusap-usap punggung si bocah yang menjadi korban tanah yang tak kokoh. Si bocah, dengan tangis yang semakin kencang, memeluk erat ibunya.

“Sudah, sudah, jangan lari-larian lagi, ya…!” seru si ahli tani kepada empat anak yang masih berada di pekarangan berugaq. Maka, permainan pun selesai. Orang-orang di sekitaran dapur umum itu, baik yang masih anak-anak maupun orang-orang dewasa, tahu bahwa anjuran untuk berhenti bermain dari si ahli tani juga siratan untuk mengajak semuanya duduk bersama di atas berugaq, karena hidangan makan siang sudah tersaji hangat dan tampak sangat lezat.

Aku bukannya tak peduli dengan si bocah yang tersungkur itu. Lagipula, semakin banyak tangan yang membantu mengurusnya, akan semakin tidak baik. Memilih diam, agaknya, wajar-wajar saja. Dan sepertinya juga, peristiwa jatuhnya si bocah itu tidak mencederai tubuh si anak sedikit pun. Dia mungkin menangis karena merasa malu terlihat konyol di depan orang-orang, di depan teman-temannya.

“Hei! Ayo ikut makan!” kata si ahli tani kepada si sosok kecil.

“Ya…, tentu!” jawabnya, sembari mematikan bara api di ujung puntung rokok yang masih tersisa setengah batang.

Tidak ada orang dewasa laki-laki di berugaq siang itu. Hanya aku. Dan kurasa momen makan siang ini bisa menjadi kesempatan yang lumayan akan berhasil untuk merayu Wafda dan Lili lagi. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.