039 – Yang Menelan Pengalaman hingga Jauh; Yang Membuat Ingatan-ingatan Lari

Waktu mengatur segalanya—menurut Lucy, bukan menurutku, juga bukan menurut kitab sucimu. Waktu mengaburkan konstruksi dan narasi, Sarah.

Setelah suapan pertama, ingatanku berlari entah ke mana. Adegan teman Wafda dan Lili yang tersungkur tadi, di dalam kepalaku, pelan-pelan tertutup kabut. Aku sedang berusaha menilik kembali kecelakaan yang menimpanya. Namun, perlahan-lahan pekarangan di depan dapur umum tenggelam di asap abu-abu yang meluap tiba-tiba. Beberapa peristiwa sedang didorong ke belakang—er… tertelan ke dalam—kabut itu; ia seolah-olah menjelmakan keniskalaan Waktu yang mengatur segala apa yang bergerak di dunia.

Kalau suatu hari nanti kaupunya kesempatan menonton bagaimana Taifun Olga menerjang Sentot Sudiharto di Osaka, engkau akan paham maksudku: bagaimana ingatan-ingatan bisa berlari dari kepala. Yang kaulihat ketika menyaksikan terjangan taifun di tubuh Sentot Sudiharto itu adalah apa yang juga kulihat—detik ini—di dalam kepalaku. Saat menonton, kau akan menyadari bahwa tubuh Sentot bukan hanya diterjang taifun, tetapi juga diterpa oleh rerapuhan—kalau istilah ini boleh kupakai—suatu material. Ya, rerapuhan material tersebut mengabut, memilin, dan bahkan memelintir tatapan para penonton di ruang gelap yang pengap dan berisik. Kau tahu, rerapuhan itu adalah Waktu; waktu yang fisik.

Begitu jugalah kabut di dalam kepalaku sekarang ini: ia memelintir lidahku untuk berbasa-basi. Tepat ketika lidahku terpenjara diam dan menjadi kaku, di saat itu pulalah kabut menggulung di pekarangan berugaq, mendorong—atau menelan…?—semua pengalaman tersudut ke belakangnya. Kabut itu membuat pengalaman-pengalaman menjauh sementara ingatan-ingatan mulai bergerak bangun, lantas memutuskan berlari dan meninggalkan lidahku yang akhirnya cuma mampu melegakan diri—dengan tergagap-gagap, sialnya—dari kesemutan yang menyusul kemudian.

Plecing kangkung mengganggu dayaku untuk mencegah ingatan-ingatan itu pergi. Aku dongkol sekali saat menyadari bahwa diriku mengalami gejala sindrom Wafda: semua ingatan kabur pada menit-menit sebelum auman di tengah hari berhasil dilakukan.

Nasi suapan keduaku masih tergenggam di tangan yang menggantung diam, enggan menghampiri mulutku sendiri, karena mataku kemudian mengamati hal yang lain. Wafda lebih dari sekali melirik kotak oil pastel yang kuletakkan di samping pahaku. Dia duduk lesehan sementara piring nasinya mengantarai kedua kakinya yang menjulur lebar ke kanan ke kiri. Tangannya mengubek-ubek nasi yang berkurang sedikit demi sedikit jumlahnya karena tumpah dari piring; beberapa sudah terlanjur hilang karena lebih dulu dilumat gigi-gigi kecilnya, beberapa lainnya jatuh ke lantai dan ikut meramaikan bintik-bintik pasir di atas papan berugaq.  Sementara itu, mataku tidak hanya sekali melirik mata Wafda yang melirik lebih dari sekali kotak oil pastel-ku. Sedangkan Lili, yang tampak lebih acuh tak acuh dengan keberadaan oil pastel, duduk diam sambil matanya mengikuti arah sendok yang diterbangkan ibunya ke sana ke mari, sebelum sendok itu mendarat di mulut mungilnya.

Aku tahu benar, tak berapa lama lagi, papan berugaq yang kami duduki sekarang akan menjadi arena negosiasi antara si sosok kecil dan Wafda sekali lagi. Ketegangan di antara keduanya sudah terlalu lama, sepertinya. Sementara tidak ada yang tahu di mana catatan-catatan tentang bebek makan kue itu tercecer, di bagian selatan ibu kota si burung tukan sedang menyiapkan beberapa dokumen hitam-putih untuk bisa diintip bersama-sama. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.