040 – Melankolia dan Empedu

Makan, si sosok kecil diam-diam mengakui bahwa dirinya menyimpan melankolia yang berbeda jenisnya, apalagi warnanya, dengan empedu milik orang-orang yang sungguh pernah merasa terlempar ke sudut ruang.

Terpelanting, tubuh orang-orang itu melintasi ambang—tanpa memijak lantai!!! Bergetar, ambang itu lekas runtuh akibat efek terdekat dari lengking-dengking di bawah kaki yang tiba-tiba menguning.

Getir di telinga, pekik itu menjalar secepat kilat, tapi yang kasatmata bukanlah cahaya, melainkan lekuk pasir cokelat bergradasi ungu, rumput hijau yang basah dan kedinginan, bebatuan beserta lumut-lumut mereka yang menempel di lapisan terluar, dan tanah humus bercampur kulit sapi dan kuda yang membentang membentuk permadani yang menolak bunga-bunga; hamparan yang murung nian.

Namun begitu, empedu yang mereka punya mampu memintas bukan hanya proses pencernaan makanan yang biasanya mesti melalui muara halus sepanjang dua puluh lima hingga tiga puluh delapan sentimeter, ataupun hanya proses penayangan tragedi populer siap saji versi standar lainnya yang berdurasi tiga menit, tetapi juga jalan menuju komedi hitam yang bisa mengubah diri mereka menjadi penyintas yang kelak terbiasa merayakan hal-hal masygul di atas cincin api.

Mereka tahu betul bahwa seni tidak diperintah, dan bahwa “seni tidak diperintah” juga harus dijelajahi berdasarkan rambu-rambu yang sudah banyak dicatat, dan bahwa catatan-catatan itu tidaklah kaku sama sekali, bukan doktrin, apalagi sekaku bentuk yang sering dibayang-bayangkan—hanya dibayangkan tanpa dialami benar-benar—sebagai dogma oleh orang-orang fasik dan sinis berlebihan; para fasik yang menjadikan puisi sebagai dalih kemalasan atau tujuan pelarian mereka yang tak elok. Mereka, yang selalu menjaga kesehatan empedunya, tahu betul bagaimana merangkul para fasik macam itu. Ya, nyatanya memang karena empedu sehat yang mereka selalu jaga seperti itulah yang akan membuat kita bertanya: melankolia macam apa lagi yang bisa dipindah ke panggung drama demi menyaingi ketangkasan orang-orang seperti ini…?

Yang si kecil juga ingat, terutama tatkala mintakat-mintakat temaram (sebagaimana yang diyakini para pengagum Zomia) mulai menjadi entitas yang tengah mendesak diujarkannya untai-untai liris mengenai sifat remang milik mereka, ialah niskala yang konon ingin menggubah sajak berwujud Monodon monoceros dengan garis-garisnya. Sangat kuat! Menjadi persimpangan tempat lalu lintas makhluk-makhluk terpencil (tak berwajah; tak penting) selama jutaan tahun, niskala mengemban takdir sebagai akal budi yang jauh lebih tua daripada usia para penjajah, namun terus dianaktirikan kemajuan industri.

Makhluk Bunyi-bunyian di tanah Melayu, salah satu kawanan dari jenis mereka, adalah jejak-jejak asli yang mengingatkan kita bagaimana anak-anak kecil sering bersembunyi diam-diam, atau diculik dengan diam-diam, ke dalam semak-semak kota—kalau bukan ke hutan rimba di kampung-kampung—saat senja hari. Kejadian itu menuntut piuhan waktu dari kedua belah dimensi, dan piuhan-piuhan yang dihasilkan, sebenarnya, adalah ambangan-ambangan (remah-remah di ambang) yang mengerumuni penglihatan mental si sosok kecil pada suapannya yang ketiga. Ia terkejut, kera dansa kini menyaru capung-capung di desa tempat sohibnya, Onyong, berada. Gila, seperiuk nasi telah disekulerisasi menjadi komedi tergenggam. Tak lebih dari lima belas detik, dan hanya selebar telapak tangan, kera dansa itu memicu pikiranmu terbahak.

Mungkin sekali, situasi yang sedang dihadapinya sama saja: menyelisik kemungkinan-kemungkinan kecil dari seekor itik yang makan kue (atau mungkin sebenarnya mereka terdiri dari beberapa ekor…?! Siapa tahu?!) ibarat mempreteli bungkus alat supersonik; alat yang bisingnya sering kali dengan gagap digaung-gaungkan kawula muda maniak kelas menengah hingga lupa waktu. Lupa waktu! Kau dengar, Sarah? Mereka lupa waktu, bahkan lupa bagaimana caranya bermalas-malasan dengan indah.

Sang Dahrun berserdawa, si sosok kecil terlempar—meskipun tidak ke sudut ruang—lepas dari lamunan. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.