041 – Momen Rumpang Pascarerapuhan

Peristiwa yang biasa-biasa saja semuanya sama; setiap peristiwa yang mengejutkan mengejuti kita dengan caranya sendiri.

Hal-hal yang tidak terduga kerap datang dengan aura yang mengejutkan tanpa timbang-timbang. Tapi, sering juga manusia malah dengan pongah bertegak pinggang dan balik menantang, melantunkan koar yang, kedengarannya, jauh lebih panjang. Di saat krisis begini pun, koar sebagian orang—kebanyakan para pejabat—sama saja: awalnya berlagak garang, pada akhirnya gamang.

“Sialan!!! Dahrun…?!!! Bagaimana kau tiba-tiba bisa ada di tengah-tengah kami…!?” si sosok kecil yang tersentak dari lamunan berkata kepada dirinya sendiri. Dia ingat betul, tidak ada laki-laki dewasa yang hadir di berugaq, siang itu,selain dirinya…, tadinya.

Bukan hal yang wajar jika pada siang hari tidak ada laki-laki dewasa datang pulang, atau berkumpul ke berugaq itu, untuk makan siang bersama. Rutinitas orang-orang di Kelinti Capung tampak mencolok: tengah hari adalah waktu untuk bersantai di berugaq; para bujang dan bapak-bapak biasanya akan bersiap-siap untuk dijamu makan siang oleh kakak atau adik perempuan atau istri mereka. (Hei, desa ini tidak sebebas yang kau kira, jika kita bicara perihal kesetaraan hak.) Karenanya, si sosok kecil tentu akan ingat sekali jika sebelumnya dia menyadari tidak ada laki-laki dewasa di berugaq itu. Tidak biasa. Hari itu berbeda daripada hari-hari biasa: hanya dia, laki-laki dewasa, yang siang hari datang ke berugaq. Karena tidak biasa, tidak mungkin dia tidak ingat bagaimana situasi yang terakhir kali—terkait jumlah orang dan siapa-siapa saja yang ada—sebelum mereka memulai ritual makan siang bersama.

Iya!!! Kubilang sekali lagi! Dia ingat betul bahwa memang tidak ada laki-laki dewasa selain dirinya sendiri waktu si ahli tani mengajak semua orang duduk di berugaq untuk makan siang. Bahkan, hingga suapan ke-entah-berapa—sampai akhirnya ia melamunkan Taifun Olga sebagai dalih untuk menyangkal revolusi yang sedang digalakkan ingatan-ingatannya (yang memang sudah lama membangkang)—terutama waktu dia melirik Wafda sambil menduga-duga komentar Sarah tentang rerapuhan kimiawi yang menghujam tubuh representasi Sentot Sudiharto di atas pita hitam-putih itu, si sosok kecil benar-benar masih sadar dan sungguh berani bersumpah bahwa memang tidak ada laki-laki dewasa selain dirinya di berugaq.

Lah, sekarang, di hadapannya, Sang Dahrun muncul tiba-tiba sembari tersenyum! Senyumnya sangat khas; senyum yang laki-laki itu lontarkan setiap kali orang-orang memandang kepadanya dengan raut muka kebingungan.

Tapi detik itu si sosok kecil tidak kebingungan. Dia sedikit terkejut, memang. Sedikit saja, tahu!? Yah, kejutnya jelas sekali tidak nyaman; dia mengalami sensasi seperti habis terlempar dari alam pikirannya sendiri. (Artinya, sebelumnya, dia, entah bagaimana, sempat mengalami keberadaan di alam yang bukan nyata: terbius rerapuhan ingatannya sendiri, gara-gara berusaha menjahit suatu alasan dari arsip-arsip tarian yang secara waktu berjarak cukup jauh dari usia generasi pascalanggas; bius yang membuatnya seakan-akan berada di suatu ambang yang mengantarai alam semesta dan alam pikiran.) Serdawa sang-sakti-mandraguna-Sang-Dahrun-yang-dipertuan-besar-atas-alam-kelakar-se-hutan-bambu-kebun-belakang-rumah-Nengah-Karuna telah mengganggu komunikasi-komunikasi yang bergulat di internal kepalanya. Serdawa itu telah menariknya kembali ke sumber bunyi-bunyi konkret, tapi juga seakan menstilasi selera makannya.

Eh, sebentar, sebentar…! Jangan salah paham dulu! Sang Dahrun bukan pejabat, apalagi orang yang gamang. Jangan kau kira si sosok kecil sedang mengkritik sang-sakti-mandraguna itu! Justru, si sosok kecil merasa agak lega—meskipun sempat tak nyaman akibat kejutan yang ia terima—karena Sang Dahrun mendadak hadir di hadapannya. Dia tahu, dari peristiwa-peristiwa yang biasanya, akan lebih mudah mengajak Wafda menggambar saat bocah itu berada di dekat ayahnya. Tentu saja, anak-anak perempuan yang bahagia semuanya sama; setiap anak perempuan cerdas, ya…, cerdas dengan caranya sendiri. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.