042 – Pertanyaan di Masa Massa Menjaga Jarak

Masih terbilang sedikit yang mau menyadari—kusebut “mau” daripada “bisa” karena memang begitulah kecenderungannya—bahwa gelombang yang menghantam kita biasanya berasal dari sapuan takramah manusia atas hamparan luas air garam.

Ya, sedikit yang mau menyadari bahwa api yang menyerang kita biasanya berasal dari sisiran dan garuan bengis manusia atas padang belukar. Memang, masih sedikit yang mau menyadari bahwa panas yang menerpa kita biasanya berasal dari jelajahan pongah manusia atas rimba belantara.

Kusebut “mau” daripada “bisa” karena sebenarnya banyak yang bisa, tapi takmau, menyadari bahwa getaran yang menghantui kita sehari-hari biasanya berasal dari pandangan tak acuh manusia atas genangan dingin embun. Kau dan aku adalah dua dari manusia itu.

Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung. Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung. Mentigi dasan embe laine pak kecubrek! Mentigi dasan embe laine pak kecubrek…! Suara Sang Badai melintas di kepala si sosok kecil. Matanya masih menatap senyum jahil Sang Dahrun. Yang kepalanya dilintasi bunyi ini, mengingat-ingat, sejak kapan ia tahu kalau ia sudah tak tahu arah?

Sedangkan Wafda, juga Lili, memandang kedua orang laki-laki dewasa di berugaq itu; kepala mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, ke Sang Dahrun dan ke si sosok kecil, serentak, seirama, begitu juga lirikan mata mereka, bagaikan tatapan lekat para penonton bulu tangkis yang terus mengikuti ke mana pun kok diarahtembakkan oleh para pemain yang semakin lama semakin memanas. Tapi tidak ada orang yang bergerak-gerak cepat, berteriak seru, dan berkeringat pada hari itu. Tidak ada yang panas di atas berugaq kecuali sinar matahari yang menerpa lantai kayu yang mereka duduki bersama. Di mata Wafda dan Lili, mungkin sekali, adegannya tampak konyol: laki-laki dewasa yang satu seakan merana di bawah kuasa kejahilan laki-laki dewasa yang lain. Atau sebaliknya: lelaki dewasa yang kedua sedang menaruh simpati atas kegelisahan lelaki dewasa yang pertama. (“Mengapa Bapak harus bersimpati…?” mungkin Wafda sering bertanya begitu di dalam hatinya).

Sedangkan para perempuan dewasa—ibunya Wafda dan ibunya Lili beserta si ahli tani dan dua-tiga orang gadis yang usianya lebih muda dari mereka—juga ada di sana, di dekat mereka, dan sudah menghabiskan tiga per empat isi piring mereka masing-masing. Mereka saling tertawa satu sama lain, taktahu menertawakan apa. Perbincangan mereka sungguh-sungguh terlewatkan oleh si sosok kecil gara-gara pikiran melanturnya yang semakin hari semakin tumbuh liar. Dan sekarang Sang Dahrun sudah muncul di hadapannya, ditambah pula ingatannya sendiri ikut mengompori kejahilan-berlipat-ganda siang itu dengan memunculkan suara Sang Badai di ruang pikirannya, maka isi yang menjadi penyebab pecahnya tawa para perempuan dewasa tersebut semakin takdapat ia simak. Sama sekali takdapat, Sarah.

Benar, memang, si sosok kecil sedang gelisah; semakin hari semakin kencang saja, kegelisahannya itu. Wajar juga kalau orang sebaik Sang Dahrun—meskipun ia sering jahil (toh, itu hanya canda supaya orang-orang bisa tertawa lantas bahagia)—akhirnya bersimpati kepada si sosok kecil yang tak putus dirundung gelisah. Apakah itu, bersimpati, adalah suatu hal yang sangat buang-buang waktu…? Tentu tidak. Tapi bagi Wafda dan Lili, orang yang sedari beberapa hari lalu mengajaknya menggambar gajah terbang ini memang cukup menggelikan.

Seandainya, Sarah, seandainya Greta beserta kekuatannya hari ini sudah lebih dulu ada sebelum abad ke-14, mungkin hari ini kita tidak akan kebingungan dengan keputusan para leluhur moyang kita untuk tidak lagi meramu di hutan yang satu sebelum pindah ke hutan yang lain. Mungkin juga kita tidak akan pernah mengenal kematian kelam. Tapi sekarang, kita benar-benar dihukum; kosmos pun sepertinya setuju untuk memaksa manusia agar mau berpindah sejarang mungkin.

Di situasi begitu, bagaimana caranya si sosok kecil bisa dengan rinci menjelaskan kepada Wafda dan Lili tentang seekor gajah yang ingin terbang menemui langit, dan bahwa keinginan gajah itu cukup mendesak dan sudah membuatku, juga kau, Sarah, dan abangmu, bertanya-tanya cukup lama…? *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.