043 – Ingatan yang Melintas sebelum Wafda dan Lili Menggambar

Aku sekarang sedang tergoda, Sarah, untuk berpikir bahwa perjalananku melompati ingatan ke masa depan adalah bagian dari takdir yang tidak bisa kita hindari, yaitu takdir untuk tidak berbicara hanya tentang gajah yang ingin terbang. Sedangkan di Kelinti Capung, yang kaulihat adalah sapi di mana-mana. Tanduk binatang mungkin bisa menerjemahkan tindak tanduk manusia maka suara hewan-hewan yang hilang bisa mencerminkan tingkat kekesalan bumi sekaligus gegar lingkungan yang kita alami semua.

Wafda dan Lili, akhirnya, mau duduk tenang di hadapanku sekarang. Ini terjadi setelah aku terlibat baku debat yang sengit dengan mereka; kulewati proses lobi yang sangat berbelit. Kulobi mereka untuk mau menangguhkan gambar bebek makan kue itu, mengingat kami tak lagi punya banyak waktu. Aku cukup kesulitan, sebenarnya, saat meyakinkan mereka bahwa gajah terbang—aku belum menyinggung soal mesin sayap—adalah peristiwa penting untuk imajinasi. Paling tidak, penting untuk imajinasi mereka sendiri. Untung saja aku tertolong: komunikasi kami menjadi agak lancar di ujung debat. Ayah masing-masing kedua bocah itu membantuku menyusun kata-kata. (Aku sudah cerita, kan, siapa ayahnya Lili…? Imran. Kau ingat…?)

Dengan sikap badan yang tegas, wajah mereka tampak berani, jadinya. Aku rasa, Wafda sudah paham betapa aku sangat mengharapkan bantuannya sehingga dia mulai…, kau tahu…, “jual mahal”. Tapi sudah tidak penting lagi berapa pun mahalnya ia menjual kemauan, aku bisa “membelinya” karena ayah gadis itu, sang-sakti-mandraguna-Sang-Dahrun, tadi sudah membujuknya untuk mau ikut menggambar bersamaku. Walaupun memberungut, ia tak bisa menolak permintaan ayahnya. Di momen-momen seperti itulah aku ingat Kartini—tentu saja Kartini lewat penggambaran Pram; kau tidak sedang berpikir kalau aku pernah bertemu dengan perempuan itu, kan?

Moetidjo bilang padaku suatu hari, bahwa Kartini tak pernah membantah bapaknya. Dari cerita itu, entah bagaimana dan entah sejak kapan, aku sudah meyakini bahwa, sepemberontak apa pun seorang anak perempuan, ia akan luluh di hadapan ayahnya yang baik hati. Ayah yang baik hati. Aku tidak menghitung ayah-ayah brengsek yang menyia-nyiakan kecerdasan anak-anaknya dan kesetiaan istrinya. Untuk ayah-ayah yang seperti itu, kita benamkan saja mereka di rawa bersama-sama, dan jangan pernah beri mereka kue; karena kue hanya untuk para bebek. Meskipun ayah Kartini belum tentu sebaik yang aku bayangkan, tapi aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk meyakininya, bahwa ayah yang baik adalah pangkal bagi anak yang baik.

Kau tahu, ada seorang wartawan yang sekarang tinggal bersama istri barunya—sayang sekali bukan penulis zine penuh keceriaan dan imajinasi anak-anak itu yang menjadi ibu dari anaknya yang sekarang—di sebuah kota yang masih diperintah oleh Sultan. Tapi si wartawan itu belum melupakan dinding-atap yang menyusun kamar-kamar sebuah komplek kos-kosan di bilangan jalur besar area selatan Ibukota, yang lokasinya nyaris menyentuh sebuah kota satelit yang porak poranda akibat kebodohan mantan wali kotanya sendiri. (Apa benar dia masih suka makan ubi?) Di balik pintu salah satu kamar kos, pada bulan yang sama dengan bulan ketika engkau mendengar cerita ini, beberapa tahun yang lalu, si wartawan menulis bahwa Kartini mungkin akan menjadi pegiat lingkungan paling unggul jika saja ia mengalami apa yang dialami oleh ayah dan ibumu hari ini, Sarah; mengalami apa yang Bumi alami, mengalami apa yang orang-orang hari ini hindari dengan cara menetap di dalam rumah saja. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.