044 – Gerupuk-Opak di Mula Gambar Gajah

Akhirnya berugaq itu sekarang menjadi sebuah panggung yang di atasnya duduk tiga orang. Ketiganya seakan larut dalam pusaran saling adu “kekuatan untuk saling memengaruhi” satu sama lain. Dua anak perempuan kecil bersekutu, sedangkan satu orang laki-laki dewasa di depan mereka harus pasrah menerima nasibnya untuk bertarung seorang diri.

Sebenarnya, kalau kaulihat dengan saksama, Wafda dan Lili bukan sedang menolak ajakan untuk menggambar. Mereka justru senang sekali. Hanya saja, si sosok kecil yang merayu-rayu mereka berdua itu memang punya masalah dalam hal komunikasi, bukan hanya dengan anak kecil tapi juga dengan siapa pun. Kendala komunikasi itu tentu saja memicu interaksi yang tak nyaman. Dampaknya, sikap malu-malu kucing Wafda dan Lili—mungkin karena tempaan singkat pascagempa yang membuat kewaspadaan mereka muncul lebih sering daripada sebelumnya—malah keluar dalam bentuk pertahanan diri yang ketat; mereka mempertahankan diri dari… apa pun, apalagi dari rayuan-rayuan konyol tanpa alasan masuk akal. (Kaukira menggambar gajah terbang itu menarik…?!)

Ayah Lili, si Imran, datang belakangan, tepat di saat gadis-gadis remaja yang ikut serta makan siang tadi mengangkut piring-piring kotor mereka kembali ke dapur umum. Istrinya dan Ana (ibunya Wafda—istri Sang Dahrun), serta si ahli tani, sudah lebih dulu menyimpan sisa lauk-pauk dan plecing kangkung mereka ke dalam lemari yang letaknya bersebelahan dengan komputer-komputer bekas yang dua minggu terakhir ini aktif digunakan oleh Sang Badai dan beberapa temannya. (Dengan komputer itu, mereka mencetak banyak hal, mulai dari tulisan, gambar, logo-logo, dan segala macam surat. Mereka juga memindahkan banyak rekaman foto dan video ke dalam komputer itu).

Seperti yang kita tahu, ada Sang Dahrun juga di sana sekarang. Imran dan Sang Dahrun tidak duduk di atas panggung berugaq. Imran berdiri di atas tanah yang retak-retak itu, lutut dan pahanya menempel ke tepi lantai berugaq. Ia berdiri dekat sekali dengan anaknya. Sementara itu, Sang Dahrun duduk sedikit lebih jauh, di atas bongkahan batu yang besar. Dia sedang merokok. Kedua ayah ini memperhatikan anak mereka yang duduk di atas berugaq dan tengah diajak menggambar oleh seorang teman mereka yang, sepertinya, hari ini, baru saja sembuh dari panas dalam.

“Aku mau warna merah!” kata Wafda.

“Kalau kau…?” si sosok kecil bertanya kepada Lili, sembari menyerahkan oil pastel kepada Wafda. “…mau krayon warna kuning…?” (Betapa tak bertanggung jawabnya si sosok kecil ini karena, di hadapan kedua bocah itu, ia malah menyebut kata krayon, padahal alat gambar yang mereka gunakan adalah pastel minyak.)

Menanggapi pertanyaan si sosok kecil, Lili menggeleng kepala saja dengan gerakan yang malu-malu sekali. Dia melirik Wafda; Wafda juga meliriknya. Lili kemudian tersenyum, dan ia menunjuk sebatang oil pastel lainnya yang juga berwarna merah meskipun tak sama merahnya dengan yang sedang dipegang Wafda. Kotak kecil yang memuat semua batang oil pastel itu tampak lusuh dan berantakan.

“Ini krayon untukmu…” kata si sosok kecil; ia memindahkan sebatang oil pastel yang ditunjuk Lili tadi dari kotak oil pastel ke atas sehelai kertas yang ada di hadapan si bocah.

Meskipun sempat mengagetkan karena muncul tiba-tiba di depan wajah si sosok kecil, dan bersama Imran juga sempat membantu si sosok kecil menyelesaikan perdebatan dengan anaknya sendiri dan Lili, Sang Dahrun tetap menganggap bahwa waktu, toh, berjalan seperti biasanya. Dia tidak pernah mengakui kalau dirinya sering muncul tiba-tiba. Menurutnya, orang-orang saja yang sering kali abai dengan apa yang ada di sebelah bahu kanan dan bahu kiri mereka sehingga mereka jarang menyadari jika ada orang lain datang. Itulah yang sebenarnya terjadi, menurut Sang Dahrun. Dia tentu saja tidak akan mau repot-repot membuang-buang tenaga dalamnya, berteleportasi dari suatu tempat yang nun jauh letaknya, hanya untuk memenuhi tuntutan perutnya yang keroncong. Tapi, nyatanya, siang itu perutnya memang sedang keroncongan. Karena para perempuan sudah membereskan meja makan, jadi dia harus bergerak sendiri mengambil seporsi nasi.

Imran juga begitu. Sambil mengikuti Sang Dahrun yang berjalan menuju dapur, dia berkata kepada Lili, “Nanti kita bikin gajah terbang yang makan baberok saja, ya…?!”

Mata si sosok kecil mengikuti gerak badan kedua ayah yang seketika menghilang ke balik tembok triplek berugaq. Keningnya berkerut, bukan karena kesal, tapi karena matahari semakin terik meskipun sudah lewat pukul dua siang.

Beberapa saat kemudian, Sang Dahrun muncul lagi dengan sepiring nasi yang dilengkapi lauk ikan goreng yang dilumuri sambal merah dan ditumpuki batang-batang layu sayur kangkung yang panjang-panjang. Di atas piring itu juga ada gerupuk-opak, berukuran sangat besar, lebih besar dari ukuran piringnya. Sedangkan Imran, datang dengan hanya membawa gerupuk-opak yang sudah ditumpuki sayur kangkung, ditaburi suwiran ayam, dan dilengkapi dengan tumpahan sambal plecing. Tumpukannya tinggi sekali. Sedikit demi sedikit, Imran mengotes bagian-bagian tepi opak sambil sesekali mencicipi lauk yang berada di tengah-tengahnya. Hingga nanti, beberapa menit kemudian, ketika kuah plecing itu berhasil meresap ke dalam sebagian besar daging gerupuk-opak, Imran akan melipatnya seperti selapis panekuk yang halus-lembut, untuk kemudian dilumat lahap ke dalam mulutnya.

Keduanya menyantap hidangan makan siang yang tampak begitu mewah. Demikianlah, seperti yang sudah dicatat oleh si ahli tani, bahwa gempuran keluh bumi dan langit nyatanya tak menyurutkan semangat orang-orang di Kelinti Capung untuk memanjakan lidah-lidah mereka sendiri. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.