045 – Adakah Berugaq Menjadi Gula?

Pesan-pesan subtil tidak melulu harus dimainkan dengan metafora yang memang sebanding secara visual. Toh, pada penampakan yang bertolak belakang dalam hal kesesuaian logika rupa pun, kesubtilan itu selalu mungkin. Yang keras bisa jadi adalah gagasan yang lembut, dan sebaliknya. Maka, yang kau duga selama ini lemah barangkali merupakan sebuah baju zirah yang berarti untuk mencegah, atau menyiasati, kelemahan-kelemahan yang lain.

Lili menggoreskan oil pastel warna merahnya—yang tak sama warnanya dengan oil pastel merah Wafda itu—ke atas kertas untuk yang pertama kali; bertepatan dengan kotesan kedelapan ayahnya pada bagian gerupuk-opak besar yang digenggam tangan kekar sawo matang. Sementara itu, di atas kertas Wafda yang baru saja mengibas poni tipis tak rapinya tepat ketika kau menyimak kalimat ini (bersamaan dengan serdawa Sang Dahrun, setelah ia menuntaskan kepala ikan di piringnya dengan sekali suap), garis-garis merah—yang tak sama warnanya dengan oil pastel merah Lili itu—sudah berisik dari tadi. Tarikan garis Wafda ke sana ke mari, tegas-tegas, menyesuaikan suasana hati yang tercermin di wajahnya yang berusaha tampak serius. (Tapi tentu saja kau tidak akan bergidik melihat keseriusan wajah anak-anak, kan…?! Justru kau akan tersenyum senang.) Beberapa detik kemudian, kita bisa melihat betapa kedua bocah itu memang punya karakter yang bertolak belakang. Alih-alih berisik, garis-garis Lili mengalir lebih tenang dan halus, persis seperti garis air yang mengalir di atas dedaunan pagi hari.

Si sosok kecil mengamati setiap inci garis yang muncul dari gerakan tangan kedua bocah itu. Sesekali—Ah, kenapa aku begitu sering berkata, “Sesekali…” ?!!!—… Sesekali…, dia melemparkan pandangan ke wajah Imran dan Sang Dahrun. Setiap kali ia menatap wajah kedua orang ayah itu, pandangannya benar-benar waspada, seolah-olah dirinya sudah siap menangkap berbagai jenis komentar berisi kekaguman seorang ayah terhadap kecerdasan anak perempuannya. Atau, jangan-jangan, dia sedang bersiap-siap akan menumpahkan komentar balasan yang antisipatif dalam rangka mencegah gangguan. (Banyak seniman yang setuju bahwa komentar orang lain yang dikeluarkan di saat si seniman bekerja merupakan gangguan paling laknat seantero studio). Dia tak mau Wafda dan Lili terganggu hanya karena ayah mereka—meskipun tanpa maksud ingin mengganggu—mengomentari gambar anaknya.

Dan begitulah, karena berugaq tersebut sudah menjadi panggung, orang lain pun mulai berdatangan. Sekarang, yang berdiri atau duduk-duduk di dekat berugaq itu bukan lagi hanya Sang Dahrun dan Imran saja. Para gadis remaja yang ikut makan siang tadi pun nimbrung, ikut menonton apa yang terjadi di atas berugaq. Mereka duduk segan-segan di pinggir lantai papan berugaq itu, yang tingginya setinggi pinggang dari tanah. Para istri juga berdatangan kembali dari dapur umum. Ana duduk di samping Sang Dahrun, di gundukan batu yang tak jauh jaraknya dari berugaq; ia meletakkan segelas air putih di tepi lantai papan berugaq (sisi tepi tempat ia meletakkan gelas berisi air itu berhadap-hadapan dengan wajahnya, berjarak kira-kira enam puluh senti). Aceq, istri Imran, sambil menggendong Ben, menghampiri Imran. Dengan penuh rasa sayang, tanpa diminta tanpa aba-aba, Imran menyuapkan sekotesan gerupuk-opak ke mulut istrinya. Kedua orang istri itu pun, akhirnya, ikut mengamati apa yang terjadi di atas panggung berugaq.

Si ahli tani, yang nantinya—di suatu masa tak lama setelah masa berburu gajah terbang yang dilakukan si sosok kecil ini berlalu—akan menjadi istri seorang penyair, juga ikut meramaikan berugaq. Berbeda dengan para gadis remaja yang kusebut tadi, si ahli tani dengan sikap yang begitu akrab justru duduk di samping Wafda. Badannya sedikit membungkuk, mengamati, lebih dekat daripada si sosok kecil, garis-garis berisik anak kesayangan Sang Dahrun itu.

Dan berugaq akan semakin ramai karena ternyata, tidak berselang satu menit, sekawanan orang lain tampak sedang mendekati berugaq. Mereka berjalan cepat-cepat, bukan sedang lari dari sesuatu, tapi justru sedang berusaha mengejar tempat yang teduh karena langit memang terasa lebih panas dibandingkan jam-jam sebelum makan siang tadi. Di antara mereka, ada dua orang yang sudah kaukenal, tentu saja: Sang Badai dan Onyong.

“Sialan! Mengapa berugaq mendadak jadi ramai di saat aku harus berkonsentrasi dengan kedua bocah ini…?!” si sosok kecil menggerutu dalam hati, sambil memperhatikan sekelilingnya.

Angin sepoi-sepoi yang sebelumnya terasa melewati celah-celah tiang berugaq, kini sudah tidak bisa menyentuh leher bagian belakang si sosok kecil lagi. Orang-orang yang berkerumun mengelilingi berugaq—Sang Badai dan Onyong bergerak cepat ke dapur umum dan sekejap kemudian muncul di samping berugaq dengan piring berisi nasi dan lauk di tangan mereka (adegannya persis seperti Imran dan Sang Dahrun ketika akan mulai makan siang tadi)—menghambat jalur tanpa hambatan angin-angin segar itu. Selain Sang Badai dan Onyong, beberapa pemuda yang namanya nanti akan kau dengar satu demi satu juga ikut mengerumuni berugaq. Oh, berugaq berlantai papan kayu setinggi pinggang, oh…, betapa kau kini tampak seperti sebutir gula pasir yang dikerumuni semut-semut!

Tapi…, tunggu dulu! Bukankah pesan-pesan subtil, sekali lagi, tidak mesti hadir dalam wujud rupa yang sepadan…? Ruang narasi kita akan benar-benar membosankan jika berugaq yang ramai itu, lagi-lagi, dilihat hanya sebatas bagaikan gula yang tercecer di lantai. Iya, kan…?

Paling tidak, begitulah yang sampai saat ini selalu diyakini oleh si sosok kecil, si pemuda yang, tatkala semakin ramai orang datang ke berugaq, tampak semakin gugup saja. Dia bersiap-siap menanti bukan hanya komentar para ayah, tetapi juga pertanyaan dari para bocah. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.