046 – Benang Segara-Gunung

Inilah Desa Kelinti Capung! Sudah barang tentu, Boal—yang katanya bergerak atas nama para tertindih—belum kenal seekor pun capung desa ini. Apa mau dituturkan…?! Lagipula, tidak ada yang tahu pasti mengapa suara sari pati segara-gunung menghilang dari negeri yang dahulu penuh bebunyian ini. Beberapa orang mengira kalau sinyal telepon seluler, sebagaimana dampak dramatisnya terhadap lebah, adalah cerita utama yang melatari peristiwa Hijrah Tanpa Arah yang menimpa ribuan kawanan capung.

Ada banyak nelayan muda desa ini—yang semakin hari semakin tergoda untuk menjadi anak pantai saja daripada pergi melaut mencari ikan—mempercayai cerita itu. Suatu tuturan dapat berpindah dari mulut satu orang ke mulut orang lain—kalau sebagai catatan virtual, kisah itu mem-viral dari satu akun ke akun yang lain. Tuturan pun seakan-akan melewati jutaan lapis saringan sehingga bagian-bagian penting yang membangun cerita utuh tentang capung, sebetulnya, telah mengalami seleksi alam yang ekstrem. Cerita pun menjadi menyimpang, bahkan “beranak-pinak”, melahirkan puluhan versi.

Pelajar yang nyaris setiap minggu hilir mudik berpindah pulau atau keluar-masuk area pinggiran di utara dan ibu kota justru meyakini bahwa cerita tentang capung dan sinyal telepon seluler adalah versi terkonyol. “Versi catatan Facebook!” kata mereka. Tapi, di kalangan intelektual (yang juga) muda, kelompok yang percaya kutukan lebah bisa dibilang tidak sedikit meskipun mereka bergaul dengan hal-hal rasional.

Konon, terhitung sejak kehidupan serangga-serangga di dunia ini dimulai, sudah ditakdirkan bahwa Temokan Pengetahuan dijaga oleh lebah, dan Temokan itu diwariskan turun-temurun menurut tradisi buruh-buruh madu. Namun, pada suatu masa, muncul kekalapan di diri para capung. Sebagai salah satu jenis pemangsa lebah yang, sebenarnya, tidak terlalu signifikan (awalnya), capung bisa makan hingga lima puluh ekor nyamuk dalam sehari. Itu rutinitas yang sangat biasa. Tapi, ketika mereka menyadari bahwa setiap lebah dilengkapi Temokan—karenanya mereka sangat terampil menghasilkan madu—para capung mulai tergoda; mereka ingin menguasai Temokan itu.

Mereka pun menyerang dan memangsa lebah lebih sering; mereka berubah menjadi predator yang seratus kali lebih ganas dan bengis. Mereka suka menindih serangga yang lebih lemah. Capung haus kekuasaan.

Perang antara dua jenis serangga ini pun pecah. Perang yang cukup menghebohkan jagat, katanya. Dengan kekuatan Temokan Pengetahuan, demi mengakhiri perang itu, lebah lantas merapalkan kutukan yang sangat menakutkan; mereka menyumpahi capung, predator mereka, menjadi raja-raja berumur pendek. Jadilah mereka raja berumur pendek. Sekarang kaupaham, kan, kenapa capung suka kawin…? Ya, mereka harus melawan seleksi alam dengan menggenjot reproduksi. Karena capung dewasa tahu bagaimana sulitnya hidup dalam usia pendek, mereka pun menjadi penyayang anak-anak mereka yang memiliki rentang usia kehidupan lebih lama. Mereka pun mulai belajar menghargai kehidupan.

Situasi akibat kutukan itu berhasil meredakan kekalapan capung, juga meredakan ketamakan mereka. Tobat para capung dihargai dewa-dewa dengan sebuah kedudukan: capung menjadi kaum penanda kelestarian. Sejak saat itu, bangsa capung mendapatkan Temokan mereka sendiri Temokan Air Kehidupan. Dari capung-capunglah kita akan mengetahui letak sumber-sumber air bersih, dan dari capung-capunglah kita akan menyadari bahwa anak-anak manusia masih akan punya pengalaman sosial yang seimbang antara di dalam dan di luar rumah.

Dengan Temokan Air Kehidupan, dikisahkan juga bahwa bangsa-bangsa capung kemudian berbondong-bondong membawa kantung-kantung berisi energi dari Gunung Rinjani. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu pasti apa sebenarnya energi yang mereka bawa itu. Yang jelas, dengan energi tersebut, orang-orang bisa tertawa senang dan bahagia.

Energi itu, rupanya, seperti benang, yang bisa dipakai untuk mengikat erat gunung dan lautan menjadi satu-kesatuan. Tapi tentu saja capung tidak akan pernah berhasil menjadi bangsa sepintar lebah, karena hanya lebah yang memegang Temokan Pengetahuan, apalagi membangun sarang yang bisa menyimpan madu berliter-liter. Hanya karena kegigihan mereka untuk bersyukur kepada dewa-dewa atas hadiah Temokan Air Kehidupan-lah, capung-capung ini memintal benang yang mereka bawa, semampu yang mereka bisa dan mereka tahu. Mereka memintal Benang Energi dari ujung lautan ke ujung gunung. Mereka terus memintal hingga terbentang tali-temali yang kemudian saling menganyam, lalu membentuk suatu bidang serupa kain. Orang-orang di sini percaya bahwa kain itu adalah Desa Kelinti Capung.

Tapi sepertinya, kutukan lebah tidak berakhir begitu saja. Atau mungkin, kutukan tersebut, entah bagaimana, tetap berlaku dan berjalan dengan sendirinya, beroperasi di luar kehendak bangsa lebah yang mengeluarkannya. Dan memang begitulah, sebagaimana beberapa bukti menunjukkan, bahwa Pengetahuan bisa menjadi hal yang bergerak atas namanya sendiri dan balik menguasai para penemu dan praktisi. Ramalan tentang apokalips-apokalips yang paling kurang mungkin di antara yang rasanya tak mungkin—seperti gejala demam bumi di tengah laku buruk para pengemban amanah yang terlempar dari langit—kini bukan lagi semata ramalan.

Sementara mereka sedang sengsara dan kehilangan arah gara-gara menara telekomunikasi yang semakin ramai mengisi ladang-ladang, bangsa lebah juga tidak bisa berkomentar apa-apa saat melihat beton-beton pencakar langit menyebabkan bangsa capung, predator yang dulu mereka kutuk, menjadi kehilangan arah pula. Dalam rentang periode yang sangat lama, serangga telah mengalami (dan masih akan mengalami) apa yang tadi kita sebut Hijrah Tanpa Arah. Namun begitu, tetap saja belum ada alasan yang jelas mengapa capung-capung akhirnya bermigrasi meninggalkan Kelinti Capung. Kisah-kisah mereka pun kini tinggal semata dongeng saja, sebuah legenda yang ujung-ujungnya disimpangsiurkan banyak wartawan.

Mereka memang punya banyak kisah tentang Benda Temokan, tetapi orang-orang Kelinti Capung tidak mewarisi agitasi Artaud mengenai sandiwara angkara. Desa ini sama halnya dengan Gerimis Sepanjang Tahun, sebuah negeri yang terletak seribu kilometer lebih ke arah barat. Seorang Kuwu di sana, bersama saudara laki-lakinya yang, katanya, punya otak sejenius Brecht, membangun Museum Kiat-kiat yang di dalamnya bisa kita pelajari cara menghidupkan bara api epos-epos kampung. Tidak epik seperti yang kauduga, memang, tapi mereka punya bukti berakrab-akrab dengan tanah liat dan sudah membangun tungku besar serta membakar keramik secara berjamaah setiap sebelas Oktober. Mereka, warga Gerimis Sepanjang Tahun, juga tidak pernah pusing dengan tembok keempat.

Begitu juga dengan Kelinti Capung yang menyimpan benang segara-gunung. Artaud, Brecht, dan Boal tidak pernah bertemu Wafda dan Lili, juga kedua orang tua mereka dan teman-teman orang tua mereka. Artaud, Brecht, dan Boal agaknya tidak pernah tahu bahwa Kelinti Capung—terbangun lewat sejarah lokal dan lisannya sendiri—juga punya kata yang sepadan untuk kedisiplinan, pergolakan, keganasan, kekejaman, kemustahilan, angkara, saga, dialektika, konflik, gerak-gerik, isyarat, ketertindihan, pelaku mata, citra, pematungan, dan ketidakmungkinan (yang menjadi kemungkinan): isin angsat—kelakar warga biasa. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.