047 – Peribahasa untuk Garis pada Berugaq

Ada gula, ada semut. Begitulah peribahasa berkata tentang tempat yang bisa mendatangkan banyak rezeki dan kesenangan bagi banyak orang.

Peribahasa; adakah mungkin bahasa memiliki roh dengan gender tertentu, sebagaimana makhluk-makhluk berindra (dari yang jumlahnya hanya lima, enam, tujuh, delapan, hingga sembilan) juga konon terbagi-bagi ke dalam banyak jenis bangsa, yang satu di antaranya disebut peri dan dipercaya lebih unggul dalam hal tradisi, kekuatan gaib, pengetahuan alam, dan kebijakan-kebijakan sosial…? Ataukah lirik-lirik ringkas padat berupa ungkapan subtil berkandung ajaran tentang prinsip-prinsip hidup terkait dasar-dasar bermasyarakat semacam itu hanyalah hal ihwal terlupakan dalam bahasa…?

Bagaimanapun, berugaq yang sedang kita bicarakan ini telah menjadi bukan hanya titik kumpul bagi sebagian orang-orang Kelinti Capung yang tidak mau kalah oleh rasa takut. (“Mereka tidak menyangkal rasa takut dan trauma yang muncul pascabencana,” tulis si sosok kecil suatu hari di buku hariannya. “Tapi mereka belum pernah berhenti berjuang untuk memastikan bahwa rasa takut di diri mereka itu tidak akan mengalahkan diri mereka sendiri.”) Berugaq ini sedang menjadi medan kelakar. Dan medan kelakar memang tidak perlu besar-besar, asalkan hangat, akrab, dan segar. Beberapa orang percaya, seperti kakak-beradik Sang Dahrun dan Sang Badai, bahwa kelakar-kelakar yang menjadi kebiasaan di Kelinti Capung adalah sebuah harapan, kalau bukan jawaban hari ini, sehingga orang-orang bisa tetap lega bahwa waktu untuk bercanda dan bersenang-senang belum lagi sirna.

Nah, begitulah dramaturginya! Penuh ketelitian, si sosok kecil sedang mengamati alur tarikan garis-garis Wafda dan Lili. Dan bagaikan butiran gula yang dikerumuni semut-semut, mereka sedang dikelilingi banyak orang. Si sosok kecil insyaf bahwa dirinya sama saja dengan sang perintis asal Prancis ataupun sang dramawan Jerman, ataupun—tokoh yang ketiga—sang alderman asal Brazil itu. Ia sama dalam hal ketidaktahuan mereka mengenai arti luhur peristiwa-peristiwa kelakar, dan kelakar-kelakar peristiwa, yang jadi rutinitas desa ini.

Seperti yang sudah kusebut berulang-ulang di babak-babak yang telah lewat, bahwa, menurut si sosok kecil, sumber informasi mengenai mesin sayap untuk Si Gajah bisa ditemukan di Kelinti Capung. Bukan karena dia percaya maka dia kembali ke desa ini. Ingatannyalah yang telah membawanya tanpa diminta, seolah-olah ingatan-ingatan itu sendiri yang menginginkan inang tempat mereka memarasit berpindah ke waktu-waktu yang mereka sukai.

“Keren, ya, garisnya…? Ya, kan, Heib…?!” Sang Dahrun berseru, menepuk betis Onyong yang sedang berdiri sejauh satu hasta dari gundukan batu yang ia duduki.

Belum sempat Onyong—yang tersenyum lebar sembari menahan sakit akibat tepukan di kakinya—menanggapi seruan Sang Dahrun, si sosok kecil sudah mendelik saja ke arah mereka. “Ah, Sang Dahrun!” gerutu si sosok kecil dalam hati, menyalahkan seruan itu karena dia benar-benar khawatir komentar-komentar begitu hanya akan mengganggu fokus Wafda yang sedang menggambar. Dan si sosok kecil seakan-akan telah melupakan jasa ayah si bocah itu yang tadi sudah menolongnya memenangkan perdebatan tentang objek apa yang perlu digambar. Si sosok kecil lupa, kalau bukan karena Sang Dahrun, mungkin sekarang ini dia sudah kebingungan menerjemahkan bebek-bebek makan kue. (“Oh, iya…?! Aku pernah menyebut itik, ya…? Ya…, tapi kukira itu sama saja. Kupikir Wafda juga berpendapat demikian…”)

“Ck! Diam dulu, Jali…!” kata Sang Badai, menegur saudaranya.

Fokus pandangan orang-orang yang mengelilingi berugaq itu teralihkan sebentar ke arah Sang Dahrun. Sedetik kemudian setelah Sang Badai memprotes tingkah kakaknya, tatapan orang-orang kembali lekat ke peristiwa yang terjadi di atas berugaq. Si ahli tani tersenyum-senyum girang. Suara mulut Imran yang mengunyah gerupuk-opak terdengar konstan, asap rokok Onyong mengepul pekat. Oil pastel yang digariskan Wafda dan Lili, anehnya, terdengar simultan dan halus. Bagaimana, ya, bunyinya, kalau boleh aku kiaskan…? Terdengar ramah, mungkin…?

Lah, tidak sedikit hasil goresan tinta orang-orang besar, yang jadi, tampak berisik; seperti meracau. Wafda punya potensi begitu, seperti halnya garis-garis si sosok kecil di buku harian. Sementara si sosok kecil pernah merekam bunyi pensil warna ke dalam layar genggam berwarna hitam selama lima belas detik, bunyi-bunyi goresan yang dihasilkan Wafda—walaupun tidak semenggebu-gebu itu—terdengar dan terasa lebih meyakinkan.

Sedikit demi sedikit, gajah terbang Wafda dan Lili pun mulai kelihatan. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.