048 – Gugus Konsonan yang Muncul di antara Vokal

Zaman sekarang, daya cermin-diri bekerja lebih kuat pada kata-kata singkat yang bergulir otomatis di halaman umpan berita. Suatu hari nanti, Sarah, anak-anakmu mungkin tidak lagi mengenal jam tayang utama. Bagaimana tidak? Sekarang saja sudah banyak teman-temanku yang, tanpa kenal waktu, menayangkan tubuh dan memperdengarkan kata dari bilik-bilik pribadi rumah mereka sendiri pada jam-jam yang melewati batas-batas wajar dari kemampuan mata dan telinga manusia yang sesungguhnya. Dan di waktu-waktu yang menegangkan seperti minggu-minggu pembatasan sosial (yang baru benar-benar dilakukan empat puluh lima hari setelah COVID-19 pertama berjangkit di Wuhan), gejalanya meningkat dan terasa semakin aneh.

Sementara pemutusan hak kerja melanda mereka yang sulit mengakses beragam kemungkinan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, orang-orang malas yang kebetulan kreatif dan terdidik membanjiri ruang pengalaman virtual kita dengan impresi-impresi romantik atas tubuh. Sudah lewat dua puluh tahun sejak Krishna Sen mewanti-wanti kita terkait sengkarut akibat operasi firma-firma yang, dengan media yang mereka kuasai, menyetak dan menyiarkan kabar apa pun selain pemandangan tanah-tanah yang sudah mereka bobol selama puluhan tahun. Namun hari ini, yang buram juga muncul dari kehendak orang-orang untuk mengungkap apa-apa yang sebelumnya enggan diungkap; daya-pandang dan daya-cerap kita pun kembali kepada situasi yang dikisahkan dalam alegori goa.

Adakah salah kiranya jika kubilang bahwa kita sedang memasuki era penyelewengan fungsi yang membius…? Salah…? Benar, kan…? Iya, kan…? Hei…?!

Bukan fungsinya, Sarah, tapi penyelewengannyalah yang membiusi kita! Sedemikian hingga—begitulah Yumni sering kali berseru di depanku, lewat teks-teksnya, di saat kami sampai pada titik untuk harus menyimpulkan beberapa hal kecil—layar-layar yang kita lihat sehari-hari di hari ini adalah candu, dan efek buruk kehadirannya memang tak kurang dari itu. Dan jangan kaubuka lebar-lebar matamu hanya untuk menguatkan ekspresi terkejutmu itu, Sayang, kalau suatu hari nanti kukatakan padamu bahwa, pada suatu waktu di masa lalu, argumen-argumen superfisial pernah menggantikan kewajiban orang-orang untuk menegakkan pandangan mereka lebih lama. Sekali lagi, jangan engkau terkejut karena aku—yang kaubaca ini—pun berasal dari apa yang disebut olehnya sebagai candu. Dan asal kau tahu, yang di masa lalu itu terjadi berulang kali sampai sekarang meskipun selalu dalam fase dan iringan fenomena yang berbeda.

Dahulu, kami hanya diterpa kata-kata. Sekarang, jauh berbeda. Fungsi kami telah terselewengkan lewat muatan-muatan di atas layar yang kami yakini telah kami buat dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk sumbangsih terhadap krisis-krisis yang tengah berlangsung. Tapi kenyataan fisik tidak berkata demikian. Adakah kaupikir bahwa aku—yang kaubaca ini—adalah mantra-mantra yang akan mengubahmu menjadi sesuatu yang akan mengubah tinggi tanaman di teras depan rumahmu? Adakah kauduga bahwa aku adalah sebuah performativitas yang akan membuatmu semakin bergembira menjalani euforia layar ini…?

Semua hal yang membius itu—penyelewengan, atas fungsi yang semestinya—yang menjadikan kita sekarang ini benda-benda yang tunduk pada hukum alam artifisial, yang sedang diam dalam delusi “yang bergerak” dan “tentang pergerakan”, yang meracau di balik ilusi-ilusi puitik, ya… semua yang membiusi kita itu, semuanya sama saja, Sarah. Mereka berulang lagi hari ini. Mereka sesungguhnya sama dalam suatu kemungkinan kata yang merasuk dalam lapis-lapis kepembedaan yang sangat memungkinkan segi-segi paling mencolok dari dasar-dasar ketidakmungkinan. Bahwa, penyelewengan fungsi yang melekat padaku, bisa jadi, memang performatif justru karena kami sedang menyatakan ketidakfungsian kata-kata di atas layar genggammu.

Tapi, dia juga sedang berpikir bahwa kami, suatu hari nanti, akan diperbanyak menggunakan mesin-mesin yang akan mencetak berliter-liter tinta ke atas ratusan lembar kertas. Wujud kami, katanya, akan hadir sebagai deretan rupa yang dibentuk oleh tinta-tinta itu. Ya, tinta-tinta itu akan mewakili kami untuk menyapa matamu, seiring dengan aroma khas buku-buku yang menyinggung penciumanmu yang sangat bersifat pemilih itu. Jangan-jangan, kau yang sekarang adalah orang yang sudah pernah melihat kami dalam wujud cacahan layar; kau yang sekarang adalah orang yang akan melihat tinta-tinta perwakilan kami.

Kalau memang begitu, Sarah, selamat datang di dunia kejahilan situasionis yang baru—bukan, orang-orang sekarang menyebutnya “normal baru”. Lucu! *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.