Ketidakadilan Adalah Misogyny

Dunia tidak pernah adil
sejauh misogyny terus memainkan andil
menyesaki alam bawah sadar kecil
mengelabui pikiran nan kerdil

Mira, lima tahun lalu,
berkata kepadaku:
“Perempuan tidak membenci laki-laki,
begitupun sebaliknya.
Hanya saja di dunia ini, mereka
terlanjur ditaruh dalam posisi tanding.
Seolah-olah harus membela
kaum masing-masing.
Akhirnya, perempuan mendambakan kesetaraan,
dan laki-laki semakin berusaha lari
kencang.”

Kita tenggelam dalam konstruk
“Ibu Sempurna”, yang ditentukan
pengertiannya oleh Bapak
kita, anakanak mereka yang
tak setuju di dalam persetujuan.

Pada situasi itu,
nyatakah tindakan afirmatif itu ada?
Sedang yang muda-muda mengamini
postulat-postulat “sinema elektronik(a)”;
dan percintaan pun berjalan gembira
di setapak aksioma-aksioma
yang tiada rambu-rambu kepercayaan
melainkan kehendak, kepentingan, dan
tendensi untuk rela dideritakan
yang justru menjadi dominan,
menjadi pedoman

Bolehkah kita berpikir lagi,
untuk apa kita berpuisi,
membaca fiksi percakapan
yang dibuahkan dari mimpi?

Perempuan dan laki-laki, nyatanya
memang bergerak dengan arah yang
berbeda, berlawanan
tapi sadarkan bahwa arah itu
menuju titik yang satu…?

Manshur Zikri
Jakarta, 27 Desember 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.