049 – Yaitu Interlud

Adegannya sekarang—tapi sebenarnya adegan seperti ini sudah berlangsung jauh sebelum si sosok kecil dilompatkan oleh ingatannya sendiri ke Kelinti Capung, bahkan mungkin lebih jauh dari waktu ketika langkah-langkah si Sarah mungil yang berlari-lari kecil di Suwon terekam ke dalam layarku—adalah anjing menggonggong kafilah berlalu. Sebagai deretan sandi algoritims, kata-kata tetap berusaha keras mencoba menyalak, tapi ada banyak kontingen yang suka menciak di waktu-waktu senggang—(semakin ke sini kegiatan itu kian menjadi agenda utama mereka)—atau yang gemar membagi riwayat bahkan lakon pribadi ke dalam durasi yang dipecah-pecah di lingkup waktu ketahanan otot jemarimu—(paling sering terjadi di saat cahaya temaram menepis pinggiran bingkai-bingkai jendela mobil-mobil kota yang sering keruh kacanya)—memilih untuk menggulir layar mereka. Menggulung lembaran imajiner, mereka itu…! Lembaran dengan isi yang jelas nyata, tapi tak akan pernah bisa disentuh langsung oleh kulitmu sampai kapan pun; meskipun, untuk mengoperasikannya, isi-isi itu memang perlu disentuh.

Pada saat rusa belajar bagaimana menjadi tidak peduli keluhan sayur-sayur busuk, yang bersamaan dengan periode semasa Denok giat berlari dari ketidakpercayaan diri tanpa henti yang melandanya setiap malam, Polla menerima kabar dari pengagum Teater Mustahil bahwa tiga menara yang masing-masing berasal dari tiga kota berbeda—yang setiap dua tahun menyaring para penenun metafora—telah mengumumkan sebuah pembatasan terhadap imajinasi-rintis (jenis imajinasi yang juga tak jarang dipicu Semut Rangrang) yang sampai hari ini masih terus diceritaulangkan oleh keempat pendendang desa. Bukan mereka saja yang dibatasi, sebenarnya, tapi hampir semua penenun. Sebagian masih bisa merayakan pembatasan itu (dan mereka perlahan akan menjadi semakin tidak sadar bahwa mereka sedang dibatasi), sedangkan yang lain sudah marah karena dipaksa berada di luar batas.

Sekarang adalah bulan Mei…, masa kami harus menerbitkan Mei Hitam…?! Lewat saluran yang sedang kami masalahkan pula…?! Itu gila, Sarah!

Oh, betapa malang! Kelinti Capung—kini warga pemuja gerimis pun pelan-pelan mulai mengeluhkan hal yang sama—menyadari bahwa kegamangan terhadap tembok-tembok rumah tidak berhenti setelah Bumi meredakan tegangan ototnya. Kegamangan itu rupanya juga muncul hari ini, di kala toa-toa rumah ibadah menambah kuota penggunaan listrik mereka untuk menyalakan mikrofon lebih dari lima kali sehari. Orang-orang dihimbau masuk ke rumah, tapi karena perintah itulah, ternyata, dinding-dinding kamar mulai dikeluhkan dan dituduh membosankan. Bagi mereka yang menyangkal keluhan itu, pelarian yang paling menggiurkan untuk menghentikan pidato-pidato semacam ini adalah pemandangan di balik jendela-jendela maya yang lebarnya, kebanyakan, tak lebih dari seluas telapak tangan.

Terhadap lanskap di dalam bingkai jendela yang memancar itu, akan kaulihat, alih-alih kaubaca, susunan yang secara ketubuhan tidak lagi engkau kenali sama sekali meski pikiranmu yang terkini mengiyakan apa siarannya setiap dini hari. Jendela itu memancarkan cahaya dari depan; mereka bukan jendela yang berada di belakang punggungmu, yang biasanya memaparkan cahaya ke atas dinding di depan hidungmu. Hanya kaudengar suara “tik” dan “klik” di kala matamu mencoba memindai kata-kata, bukan lagi “krrrrk” yang konstan seperti yang dahulu kaualami saat menyimak perpindahan gambar dari angka 9 ke angka 8 lalu ke angka 7 terus ke 6, ke 5, 4, 3, dan ke 2, terus hingga yang terakhir, ke angka 1, sebelum akhirnya kaulihat hanya peristiwa tumpahnya kerumunan buruh dari dalam pagar sebuah pabrik, kerumunan itu bubar dengan cepat, dan yang menyusul kemudian bukanlah sepi, melainkan diam yang benar-benar puitik akibat rerapuhan kimiawi yang menjadi sangat romantis di ujaran dan di jempol anak-anak ayam kayang satu generasi.

Tidak, tidak, tidak! Kautidak akan terperanjat kaget sehisteris teriakan orang-orang yang berlindung ke balik kursi karena takut ditabrak kereta pada sebuah peristiwa yang hampir serupa mukjizat di masa lalu itu. Barangkali, tokoh yang—menurut cerpenis Jerome Bixby—telah disalahpujakan oleh orang-orang ribuan tahun pun akan sama kagetnya dengan orang-orang biasa jika dia juga berada pada peristiwa yang sama. Tapi aku yakin, sebagaimana dirimu sekarang ini, tokoh yang lahir dalam perenungan nyeleneh Jerome pun akan bereaksi sedatar mungkin. Tidak, tidak, tidak! Paling-paling kita hanya akan beseru, “Anjing!”, atau “Taik!”, kalau-kalau ada kepala buntung melayang-layang, membelah area jendela yang luasnya tidak lebih dari telapak tanganmu.

Suatu hari nanti, bersiap-siaplah, Sarah, jika engkau mengalami apa yang selalu orang bilang “sepi di tengah keramaian”. Tapi, kauperlu juga mengerti bahwa yang kami alami hari ini justru kebalikannya: kami ramai di tengah kenyataan sedang sendiri di dalam kamar, ruang TV, ruang tamu, toilet, dapur, dan pinggir jalan. Anehnya, di saat Bumi mengabulkan hasrat semacam itu dengan meledakkan wabah kiwari lebih cepat daripada lelehan es di utara, kami justru merengek, merindukan sentuhan-sentuhan fisik, sembari meratapi nasib diri yang semakin hari semakin didekati sebuah gejala paling aneh: selalu merasa nyaris berhasil menjawab sebuah ketidakmungkinan. Bagaimana hal yang tidak mungkin sebaiknya diimajinasikan sebagai hal yang punya kemungkinan untuk dimungkinkan pada situasi-situasi yang tidak memungkinkan sekarang ini…? Apakah benar kebaruan itu adalah satu-satunya jalan bagi dunia kita hari ini, Sarah? Tidakkah kaupikir, masa lalu, sebenarnya, tidak pernah benar-benar mengalami kenormalan…?!

Lama-lama, kami, orang-orang yang suka menciak di waktu-waktu temaram, akan menjadi fasik terhadap alam pengetahuan yang sejatinya. Tapi anjing menggonggong, kafilah berlalu. Kata-kata akan terbenam begitu saja jika lebih dari satu jam kemudian kaugagal mendapatkan lebih dari sepuluh jantung. Firma-firma besar memang bisa mengubah hitungan-hitungan orang kiri, asal kautahu! Mereka tidak pandang bulu, firma-firma itu. Ya, di satu sisi, ya, mereka tidak pandang bulu, karena mereka memang memukul rata kerja data-data mereka atas semua orang. Tapi, mereka itu juga punya sisi yang lain: mereka ada pandang bulunya juga, nggak, sih, sepertinya…?! Mereka pandang bulu di saat tidak memandang bulu. Dan nyatanya, mereka memandang bulu maka hampir setiap orang kini merasa selalu dipantau. Sebagiannya—mungkin sebagian besar—suka dengan sikon itu, sebagiannya lagi tidak—pasti selalu saja ada antonimnya dan memang akan selalu begitu. Tapi, toh, kami semua sudah terlanjur mendaftarkan kesukarelaan untuk mengungkap dan diungkap dengan dan oleh mesin-mesin firma itu.

Kata-kata berusaha keras menyalak, tapi kontingen yang suka menciak di waktu-waktu senggang memilih untuk menggulir layar mereka. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.