050 – Kelahiran Para Gajah

Sejak dulu, lembaga-lembaga besar senang menyambut peristiwa-peristiwa besar masa depan. Berugaq, meskipun memiliki sejarah yang panjang, bukan dari jenis yang seperti itu. Kelasnya warung kopi.

Sementara, peristiwa-peristiwa besar hari ini menjadi manusiawi justru karena obrolan warung kopi. Bukankah begitu? Spekulasi di masa depan tidak jarang pula jadi semakin tajam ketika segelas kopi tumpah, pada suatu siang bolong, di dalam sebuah warung yang terletak di pinggir jalan raya. Berugaq memang bukan warung, tapi ada banyak juga berugaq yang di sampingnya berdiri warung yang ke situlah orang-orang penggemar berugaq tersebut bisa memesan segelas-dua gelas kopi untuk menemani mereka menghabiskan sisa waktu sebelum azan berkumandang.

Yang terjadi di berugaq adalah politik sehari-hari: politik kecil nan penting, bukan hanya karena mereka mewakili politik-politik besar yang di dalamnya lembaga-lembaga besar itu kerap terlibat memanipulasi kesadaran masyarakat, tetapi juga karena narasi-narasi mereka, keseringan, tidak dianggap dalam mata pelajaran sekolah.

“Apa…!?” seruku, menantangmu.

Para guru biasanya memerintahkan siswa-siswinya membuat karangan bebas tentang liburan; bocah yang menghabiskan waktu liburnya main game di berugaq saban hari pasti kewalahan karena tidak tahu mau menulis apa. Ya, wajar saja! Negeri asal berugaq dikenal sebagai negeri pariwisata. Jadi, ya, “Masa disuruh menulis tentang liburan ke pantai saja tidak bisa?!”

“Tuh! Begitu, kan…?! Main game tidak dianggap!” seruku, mencoba meyakinkanmu.

Nah, justru karena tidak dianggap itulah, mereka, pada akhirnya, jadi sangat penting. Orang-orang baru akan percaya bahwa pembatasan sosial itu menjengkelkan tatkala kesempatan untuk duduk di ruang-ruang sekelas warung kopi itu dibatasi. Lama-lama, kita penat dengan ruang-ruang yang lengang. Manusia rindu yang rapat-rapat, padahal mereka sudah rapat sepanjang hari di depan layar.

Generasi Ayam Kayang—yang sekarang hobi berlayar walaupun bukan permainan daring—mungkin tidak terlalu peduli karena mereka sudah terbiasa untuk merasakan keramaian di antara bilik-bilik kecil yang sekatnya hanya setinggi pinggang. Mereka berbeda dengan ayah dan ibu mereka yang, pastinya, sekarang sudah tertekan karena tidak bisa lagi ikut serta arisan. Barulah, ketika sudah begitu, mereka—para orang tua ayam kayang satu generasi ini—ingat betapa pentingnya kerapatan di ruang-ruang sekelas warung kopi, dan baru mereka ingat bahwa ruang-ruang tersebut sudah lama pula diokupasi—kalau bukan dikontaminasi—oleh layar-layar yang ditemukan ayah dan ibu mereka, kakek dan nenek ayam kayang satu generasi.

Tapi kegamangan terhadap wabah yang menyebabkan manusia menangis saat kehilangan ruang-ruang seperti berugaq, sebagaimana yang kuceritakan di atas, baru akan terjadi 549 hari lagi. Karena, sekarang ini, si sosok kecil masih fokus pada setiap tarikan garis Wafda dan Lili. Beberapa orang yang menyemuti berugaq mereka juga sama: terlalu fokus melihat interaksi mereka bertiga. Memang terlalu lama. Rusa saja sudah mau melahirkan anak. Konon—dan ini yang masih membuat si sosok kecil bingung—Denok pun akan berangkat ke negeri Timur yang demikian jauh, menerabas batasan-batasan yang disebabkan wabah korona. Mungkin saja dia sudah terlalu lama menunggu, dan menjadi tidak sabar seperti rusa yang mencuri kaca mata itu. Tidak ada yang mengerti, apakah ini semua benar atau tidak.

Sementara itu, pertunjukan tentang kelahiran gajah di rahim ingatan Wafda, ingatan yang sempat kabur beberapa malam sebelumnya, memang pertunjukkan yang melelahkan bagi orang-orang yang ingin segera menuntaskan saga gajah terbang. Wafda dan Lili mungkin tidak menyadari kelelahan mereka. Tidak seperti orang tua mereka. Namun, tidak ada pula sesuatu, apa pun, yang surut dari angan-angan masyarakat Kelinti Capung. Lelah bukanlah apa-apa. Auman Wafda di tengah hari kini sedang berganti menjadi goresan garis di atas kertas menjelang sore.

Tidak ada satu pun yang surut dari mereka. Yang surut adalah hal-hal luar yang menghampiri garis tepi tradisi. Politik-politik besar itu, peristiwa-peristiwa besar itu, lembaga-lembaga besar itu; mereka semualah yang surut. Cerita-cerita Kelinti Capung justru akan tampak tatkala mereka semua surut. Pada waktu itulah isin angsat mencuat, menjadi telanjang tanpa setitik air pun menutupi mereka.

549 hari lagi, akan muncul kejadian besar yang lain. Tapi aku yakin, sebagaimana kau juga mungkin sama meyakininya, kejadian yang besar itu nantinya juga akan sama surutnya, dan ruang-ruang sekelas warung kopi akan beradaptasi lagi—terutama dengan generasi ayam kayang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk dengan kepala tertunduk memandang layar selebar telapak tangan mereka dan membiarkan jempol-jempol mereka menari-nari untuk mengontrol gerak avatar-avatar tanpa ekspresi—mengikuti kehendak zaman, menghasilkan narasi-narasi kecil yang semakin meyakinkan kita semua bahwa kejadian sehari-hari adalah politik yang lebih penting daripada apa yang digemari oleh lembaga-lembaga besar.

Pada hari ke-550, mungkin kita akan berpikir bahwa itulah saat-saat terakhir bagi kita untuk mengenal kekerabatan berugaq, dan kita tidak akan tahu kapan kita akan bertemu lagi dengan kerapatan-kerapatan itu, sekaligus juga dengan layar-layar yang mengontaminasi mereka, yang belum sempat berhasil kita bereskan di hari-hari sebelumnya. Tapi, siapa yang tahu? Bisa jadi, ini seperti peristiwa tidur sepuluh abad, dan generasi A akan menemukan jawabannya sendiri pada waktu ayam kayang satu generasi sudah menjadi kakek-nenek, pada saat anak-anak generasi A sudah bisa merasakan kerapatan-kerapatan yang lain. Benarkah demikian? Mungkinkah kita perlu melompat ke dalam kehampaan—sekaligus mengamini doktrin perairan—untuk menyentuh kemungkinan-kemungkinan semacam itu? Siapa yang tahu? Siapa yang tahu?!

Tapi berugaq selalu berpikir tentang hari ini, tidak memusingkan masa depan dan tidak terbebani masa lalu. Di berugaq, Yang Sehari-hari muncul dari generasi yang beragam.

Begitulah! Aku memandang lekat jari-jari tangan kiri Wafda, kotor oleh warna pastel. Wajahnya juga sudah cemong. Tangan kirinya itu mengibas rambut setiap beberapa detik. Kutebak bahwa dia sadar kalau orang-orang sedang melihat aksinya. Lili, lebih malu-malu, tapi tidak peduli dengan orang lain. Dia hanya ingin ayahnya memandang dirinya.

Untunglah tidak ada bebek makan kue dalam pertunjukan ini.

Perlahan-lahan, aku melihat kemunculan gajah terbang dari tangan mereka. Perlahan-lahan…

Salah, kalau misalnya kau mengira bahwa sayap milik gajah-gajah mereka tampak seperti sayap naga. Keliru sekali. Di mataku, sayap pada salah seekor gajah terlihat seperti perut cacing. Rupanya, imajinasi bocah ini lebih dekat dengan kendaraan terbang semacam pesawat dan helikopter daripada makhluk jadi-jadian sebagaimana yang sering kita lihat pada cerita-cerita rakyat.

Dari sudut pandang yang lain, gajah-gajah mereka juga terlihat seperti kura-kura. Mungkin sifat mereka juga sama: bergerak pelan, tapi pasti, menuju ke ujung kisah yang belum tentu merupakan akhir dari perjalanan mereka.

Perlahan-lahan, Sarah, kulihat perlahan tangan-tangan Wafda dan Lili. Gajah terbang yang kita nanti-nanti tampak semakin jelas!

Aku berdebar sekarang! Debaran ini sama persis dengan penantianku dan Si Rusa akan kedatangan syair-syair lelangkah dari arah barat laut. Lelangkah Samatra mungkin belum akan menuntaskan perjalanannya melintasi kolam-kolam keinginan, dan masih jauh untuk meneguk air ketuban. Namun, kita tidak bisa bersembunyi dari kegembiraan dalam menyambut Kidung Kamatora, Sarah, yang dalam beberapa waktu ke depan, akan menemanimu menyelesaikan saga gajah terbang ini.

Sampai di sini, aku penasaran, apa benar Denok itu adalah jelmaan langit?

“Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana wajah Gajah Terbang yang lahir dari goresan kapur-kapur minyak Wafda dan Lili?” tanyamu tiba-tiba, setelah begitu lama diam dan hanya mendengarkan ceritaku.

Mau tak mau memang harus kujawab pertanyaanmu itu, setelah ini. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.