Ketikan Keempat Para Pengikat Kata di Tahun 2019

Artikel ini sudah dimuat lebih dulu di situs blog Ikatan Kata, dengan judul yang sama, beberapa menit sebelum diterbitkan di situs ini.

INI HARI PERTAMA saya, Manshur Zikri (seorang pengikat kata pemula), membuka halaman dashboard Ikatan Kata. Lanjut membuka “add new post”, saya diingatkan dengan tampilan halaman penyunting klasik. Waduh! Saya sudah terlanjur terbiasa dengan tampilan block editor yang sekarang; tampilan Classic Editor malah membuat saya “gugup”.

Tidak lama setelah kemunculannya di tahun 2018, fitur block editor (sebutan lain bagi nama resminya: Gutenberg WordPress Editor) yang digunakan WordPress sekarang ini sempat membuat dunia per-blog-an di “WordPress Universe” geger. Tidak sedikit yang menghujatnya karena dianggap membuat ribet pengalaman yang sederhana tapi asyik dari kegiatan menyunting tulisan. Dulu, saya juga merasakan keribetan itu. Beberapa kawan saya yang berprofesi sebagai administrator website dan programmer pun mengeluhkan hal yang sama.

Tapi belakangan, ketika sudah mulai terbiasa dengan block editor, saya akhirnya mengakui bahwa Gutenberg memang lebih nyaman digunakan daripada Classic Editor. Selain itu, fitur-fiturnya juga lebih lengkap dan dapat digunakan dengan cepat.

Sekarang, saya jadi penasaran lagi, Para Pengikat Kata selain saya lebih suka yang mana? Saya akan senang membaca tanggapannya nanti.

***

CUKUP LAMA JUGA saya mencari-cari ide untuk artikel pertama saya di Ikatan Kata ini. Sempat terpikir untuk membuat puisi, seperti Sunarno, meskipun saya tidak merasa hujan datang terlambat beberapa hari belakangan. Kalau air dari langit itu turun lebih awal, bisa-bisa saya masih tak akan beranjak dari kasur hingga detik ini. Saya sekarang sudah duduk di meja kerja, mengetik lagi seperti kemarin sore, membiarkan jemari saya untuk terus saja menari sekenanya di atas keyboard sembari menimbang-nimbang apakah sebaiknya saya menulis suatu hal yang filosofis juga, seperti Nomina? Hm…! Sulit juga, apalagi saya tak punya banyak waktu hari ini untuk membuka, setidaknya, dua atau tiga halaman artikel referensial supaya tulisan saya tidak ngawur.

Akhirnya, sampai di sini, hati saya cukup mantap untuk melanjutkan ide yang sempat melintas di kepala ketika menulis paragraf di atas: meninjau beberapa artikel bertagar ketik4 yang sudah ditulis oleh Para Pengikat Kata sebelum saya, untuk saya cerna dan tanggapi (kalau perlu). Eksekusi dari ide ini mungkin akan memakan waktu juga, sepertinya… Tapi, tak apalah! Hitung-hitung untuk sedikit lebih mengenal mereka lewat karya. Bukankah Ikatan Kata memang dibikin untuk wadah belajar bersama?

***

Memang mengikuti syarat sebuah soneta (empat belas baris; empat bait), Hasrat Yang Membara-nya Andy Riyan memancing pertanyaan saya: apakah benar si penyair (yang menggunakan nama akun jejakandi) ini sudah menulis 43 Soneta (saya menduganya dari “Soneta 43” yang disematkan pada judul puisi)? Kalau itu benar, saya tertarik ingin membaca semua soneta gubahannya. Mungkinkah situs blog miliknya memuat lebih banyak jenis puisi? Saya kembali penasaran. Tapi, saya tidak menemukan nama “Andy Riyan” di daftar anggota Ikatan Kata sehingga tak tahu alamat url dari blog si penyair. Atau, jangan-jangan, saya lalai karena melewatkan namanya di daftar itu?

Alangkah serunya jika setiap penulis menampilkan nama aslinya ke publik, sebagaimana yang tertera di daftar anggota, sehingga memudahkan kita yang ingin berkunjung ke setiap blog pribadi yang dikelola masing-masing penulis. Saya pikir, kegiatan saling berkunjung blog ini adalah hal terpenting untuk menguatkan silaturahmi dan juga membangun kemesraan. Persis seperti refleksi zaki19482 atas pesan eyangnya, bahwa mesra itu penting.

Kegiatan blogwalking sering kali memakan banyak waktu. Beberapa orang berpendapat bahwa nge-blog itu malah bisa merugikan karena menyita waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk kegiatan yang, katanya, lebih bermanfaat. Pendapat semacam itu tentunya kolot sekali, bukan? Ya, saya setuju bahwa kita tidak boleh membiarkan waktu terbuang sia-sia, sebagaimana pendapat Mia di Ketik #4 miliknya. Karena itu, agar nge-blog ini berkah, saya sungguh-sungguh memanfaatkannya sebagai waktu untuk benar-benar membangun pertemanan yang tulus demi menggapai cita-cita tentang lingkungan yang appreciative dan supportive. Tulus, penuh apresiasi, dan saling dukung; dalam arti bahwa pertemanan yang lepas dari berbagai bias, termasuk bias gender sekalipun. Pertemanan yang dibangun lewat kepercayaan dan penghargaan atas karya yang dibuat oleh masing-masing Para Pengikat Kata.

***

Nah, ngomong-ngomong soal gender, saya punya masukan untuk tulisan @dianpurnamasari1903 yang berjudul “Gender dan Wanita“. Terlepas dari isinya, perlu saya sampaikan bahwa penggunaan kata “wanita” sebenarnya sudah dihindari oleh para aktivis perempuan dan kaum feminis di Indonesia. Sebab, kata “wanita” justru kontraproduktif dengan gagasan kesetaraan gender. Konon, “wanita” berasal dari gabungan kata “wani ditoto” (‘berani diatur’), yang mana hal ini dianggap sebagai buah dari konstruksi masyarakat patriarkis dalam menentukan peran perempuan di hadapan laki-laki. Sebagai gantinya, kaum feminis dan aktivis perempuan menyerukan penggunakan kata “perempuan” (karena dianggap berasal dari kata “empu”, yang berarti ‘orang yang sangat ahli’ atau ‘gelar kehormatan’) karena jauh lebih menggaungkan makna penting dari gerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan haknya. Memang, ini semua merupakan perihal politik bahasa. Tapi, sebagai sebuah strategi, atau sikap dan pernyataan kultural, penggunaan kata “perempuan” di segala produk dan objek artikulasi mengenai kesetaraan hak dan gender, dianggap sebagai salah satu hal yang tidak boleh diabaikan. Menurut saya, tidak ada salahnya juga mengganti judul itu menjadi “Gender dan Perempuan” supaya terasa lebih josss!!!

***

Sampai di sini, saya sempat tertegun sejenak ketika membaca paragraf kedua di artikel KETIK #4 yang ditulis @ulfahheroekadeyo: “Bagaimana nantinya nasib Indonesia? [di tahun 2020]

Seandainya saya melompat ke masa lalu, ke masa ketika ia menulis kalimat itu, saya membayangkannya sekarang: saya akan membisikkan kalimat yang, bisa jadi, akan terdengar berlebihan di telinganya: “Dunia mengalami pandemi; manusia akan berperang melawan virus mematikan!”

Dan kita semua tahu sekarang bahwa kalimat saya itu bukanlah bualan. Pandemi benar-benar mengkhawatirkan. Orang tua beberapa kawan saya saja, yang tinggal di Jakarta, sudah dinyatakan positif Covid 19. Mereka kini tengah berjuang agar penyakitnya tidak parah, juga berharap bisa sembuh. Bukan hanya teman-teman saya, kabar itu juga mengagetkan dan mengkhawatirkan saya pribadi. Situasi hari ini memang benar-benar menakutkan!

Kapan pandemi ini akan berakhir?!

Tapi, di tengah-tengah kekhawatiran kita akan pandemi, tak ada salahnya juga jika kita masih bisa menghibur diri, dan menjadikan situasi yang menakutkan ini sebagai inspirasi untuk aksi komedi. Ya, nggak? Tertawa secara kritis, kira-kira begitu. Anda mungkin akan paham maksud saya kalau sudah menonton video jenaka dari Kristo Immanuel yang berjudul “Kalau 2020 adalah manusia” ini:

***

JUJUR SAJA, SAYA senang dengan gaya menulis Iqbal Syauqi (nama akunnya: “samuqi”) dalam “Paguyuban Busway Ciputat-Kampung Rambutan“. Bisa dibilang, kalau kita mengacu kepada twist yang ada di bagian akhir, ini adalah contoh “fiksi berbingkai” (yaitu: fiksi yang dibingkai dengan latar nyata si penulis). Dengan kata lain, sejak awal kita sudah membaca sebuah fiksi yang—di dalam “dunia kepengarangan si Iqbal” (untuk konteks tulisannya itu)—semata imajinasi di kepala “Si Saya”. Paguyuban itu hanyalah imajinasi Si Saya, yang mana Si Saya adalah tokoh imajinatif (sudut pandang orang pertama) dari Iqbal.

Tipis sekali sebenarnya perbedaan gaya ini dengan tulisan-tulisan autobiografis. Tapi, di akhir tulisan, si penulis membuka “isi dapur” imajinasinya: dia sedang mengimajinasikan tokoh “Si Saya” (atau “Si Aku”) yang sedang berimajinasi pula tentang paguyuban. Kompleks!

***

PADA SERI PUISI Faris Fauzan, saya justru tergelitik dengan komentar Fahmi Ishfah (yang menanggapi dengan membuat puisi pula). Pada bagian bawah, Fahmi menyarankan si penyair untuk mengoreksi beberapa kata. Katanya: “Pada pos ‘Puan Puisi’ karyamu ini ada kata-kata yang mesti dikoreksi. Seperti kata ‘meniti’ bukan ‘menitih’, ‘di mana’ bukan ‘dimana’, ‘di sini’ bukan ‘disini’, dan ‘dirundung’ bukan ‘dirunding’.”

Kalau boleh saya berpendapat, kita mempunyai hak untuk membebaskan puisi dari aturan-aturan baku tata bahasa (paradigma ini berkembang di negeri kita terutama sejak Chairil Anwar menerapkan konsep Licentia Poetica atau Lisensi Puitika dalam karya-karyanya yang, pada hari ini, sering menjadi rujukan bagi eksperimentasi puisi dalam ranah sastra Indonesia). Puisi adalah ruang untuk menyimpangkan bahasa. Yang tidak di pisah, bisa saja saya tulis menjadi duakata yang ditulis sebagai satu kata. Aturan bahwa “di sini” harus menyesuaikan sifat bakunya sebagai keterangan tempat, sebenarnya, tidak lagi berlaku di dalam puisi. Karena puisi bukan dunia bahasa lazim, melainkan dunia eksperimen bagi subjektivitas pengarang. Adalah hak mutlak seorang penyair untuk menulis kata dan mengungkai kalimat sebebas yang ia inginkan; kata-kata bagi penyair bisa menjadi rupa-rupa liris dan ekspresif yang melanggar sama sekali ejaan-ejaan yang disempurnakan itu.

Jadi, menurut saya, “menitih” dalam konteks puisi Faris Fauzan, tidak perlu dikoreksi, begitu juga dengan “dimana” dan “disini” yang ia gunakan, jika memang si penyair sejak awal sudah meniatkannya begitu. Kalau “dirunding”…? Hm…, saya rasa itu kesalahan teknis robotik dari mesin WordPress saja, yang mengubah secara otomatis kata itu menjadi “-runding” daripada “-rundung”…? Atau, jemari si penyair tanpa sengaja terpeleset di atas keyboard yang ia gunakan…? Siapa tahu, kan?!

***

SAMA SEPERTI ADIK saya, Rahma Frida punya hobi memelihara kucing juga, rupanya, ya…?!

Sampai sekarang, terutama sejak gandrung media sosial dan kerap lalai menghabiskan waktu menatap layar-layar selebar telapak tangan, saya tak habis pikir bagaimana mungkin ada fenomena kucing peliharaan bisa akrab dengan anjing peliharaan. Sungguh tidak mungkin. Setidaknya, hal itu belum pernah menjadi mungkin di pengalaman hidup saya. Belum pernah saya temukan ada orang (teman, kerabat, kenalan, siapa pun yang saya tahu) yang memelihara kucing, bisa membuat kucingnya akrab dengan anjingnya. Bagaimana caranya???

Frida mungkin bisa berbagi pandangannya kepada saya tentang fenomena itu. Apakah mendidik kucing adalah faktor mutlak bagi orang yang memutuskan untuk memelihara kucing? Bagaimana caranya mendidik kucing? Paman saya pernah berkata bahwa kucing itu lebih licik daripada anjing. Konon, jika anjing setia menemani majikannya yang sakit sampai mati, kucing justru setia untuk menanti kematian sang majikan. Katanya, sih, begitu… saya tidak tahu apakah itu hanya bualan atau memang begitu…? Ini intermezo saja, sebenarnya. Tapi, saya jadi ingat percakapan saya dengan ayah.

“Lai tau ang, a bedo kuciang jo anjiang?” tanya ayah saya. (‘Kamu tahu apa bedanya kucing dengan anjing?’)

Saya menggeleng saja sewaktu ia tanya begitu.

“Kalau anjiang, tulang dagiang dari rumah sabalah dibaok larinyo ka mari,” kata ayah saya, menjelaskan. “Kalau kuciang, tulang dapua wak yang dibaoknyo lari dari rumah ko.” (‘Kalau anjing, tulang daging dari rumah tetangga dibawa lari olehnya ke sini. Kalau kucing, tulang dari dapur kita yang dibawanya lari dari rumah ini.’)

Dari percakapan itu, ayah saya seperti ingin menyatakan bahwa kucing lebih licik daripada anjing. Saya ingat, percakapan ini terjadi tatkala rumah saya dulu sedang menjadi “rumah singgah” bagi kucing-kucing jalanan. Seberapa pun sinisnya ayah saya dengan kucing-kucing, itu tak menyurutkan rasa kasih sayang adik saya terhadap kucing-kucing jalanan. Semakin hari, semakin banyak saja kucing datang ke rumah, dan entah bagaimana menjadi peliharaan adik saya. Sampai-sampai saya pun ikut jengah. Hahaha!

***

ARTIKEL SELANJUTNYA, YANG berjudul Pengalamanku cara membiasakan Membaca Buku, yang ditulis oleh Edwin Firmansyah, sepertinya, menjadi artikel terakhir yang saya “colek” di sini. Detik ini, ruang kerja saya sudah gelap. Saya harus segera bergegas. Biasanya, jam-jam segini, saya akan bersiap membuka buku untuk dibaca-baca.

Membaca buku, dalam kasus kegiatan sehari-hari saya, bukan lagi semata hobi, tapi justru menjadi kewajiban. Saya harus membaca apa pun, sebanyak mungkin, karena tuntutan pekerjaan. Menjadi seorang kurator seni dan aktivis kebudayaan, mau tidak mau, harus berwawasan luas. Cara cepat untuk mendapatkannya, selain bergaul sebanyak-banyaknya dengan orang, adalah dengan membaca buku. Buku apa saja.

Sekarang ini, saya sedang berusaha menuntaskan membaca buku Everything You Always Wanted to Know About Curating* (*But Were Afraid to Ask) karya Hans Ulrich Obrist (2011). Ini buku lama, sebenarnya. Bisa dibilang, saya terlambat mendapatkan buku ini. Artinya, saya termasuk dalam kategori orang yang telat membaca buku penting dari Obrist mengenai medan seni rupa kontemporer dunia itu. Tapi, tidak apa-apa! Bukankah lebih baik terlambat tahu daripada tidak tahu sama sekali?

Saya pun, seperti Edwin, ingin merekomendasikan buku Obrist yang lain, berjudul Ways of Curating (2014)—yang sudah lebih dulu saya tuntaskan dua tahun lalu ketika melakukan riset selama tiga minggu di London. Rekomendasi ini saya tujukan kepada orang-orang yang punya hobi atau minat dengan kesenian. Apalagi yang suka foto-foto di pameran-pameran seni rupa kontemporer untuk content yang instagrammable. Di situ, kita akan tahu betapa seni tidak sesederhana mengartistik-artistikkan peristiwa, objek, dan kata-kata saja. Seni, pada dasarnya, adalah sebuah pengetahuan yang penting, sepenting pengetahuan kedokteran. (Buku ini juga ada versi interaktifnya, loh! Benar-benar keren!)

***

NAH, AKHIRNYA, TULISAN saya sudah begitu panjang! Jadi, saya sudahi dulu. Kepada teman-teman yang saya tag di artikel ini, saya dengan senang hati akan membaca tanggapan kalian semua (baik dalam bentuk komentar ataupun artikel lainnya di blog kalian masing-masing). Semoga artikel ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk semakin produktif menulis.

Oh, iya! Rencananya, untuk KETIK berikutnya, saya akan melakukan metode yang sama: men-tag beberapa Para Pengikat Kata, sebagai cara saya untuk bisa bertegur sapa dengan teman-teman semua.

Ditunggu, ya! #asyek

2 thoughts on “Ketikan Keempat Para Pengikat Kata di Tahun 2019

  1. Pingback: Ketikan Keempat Para Pengikat Kata di Tahun 2019 – Ikatan Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.