Tiga Jendela Adalah Ramai

Saat kulihat tiga jendela di kaki langit,
di 810 Fahrenheit, dini hari

Garis retak aspal membentuk lekuk
sepasang entitas memadu kasih

langit kering, hujan lelap di sana

Konon, Jakarta indah tatkala orang-orang
meninggalkannya sementara
Tapi keheningan Kukusan Teknik seperti kota mati

Aku tidak sabar. Pasca-mereka-bersenandung
tentang kebebasan, kuharap hujan datang
menggodaku

Depok tak sedingin kota mereka, memang
Tapi tahukah kau, aku sudah lama tidak mandi hujan?

Maka datanglah dengan pola-pola semarak itu
seperti mereka yang acap kali berseru: “Ramai…!”

Di sini, masih ada tempat duduk tersisa,
untuk kita bisa terus bercanda jauh dari sederhana
Di saat kulihat tiga jendela menggantung di gedung yang bisu itu,
langit di belakangku begitu kelam
Konon, Jakarta indah saat orang-orang meninggalkannya sementara

Walau langit sudah kering lesu begitu
aku tidak peduli
Sudah kulepas payung dari genggaman,
berharap gemuruh pelan membuat penasaran
membangunkan aku

Adakah diinginkan, hujan nanti siang?

Manshur Zikri
Depok, 27 Mei 2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.