Catatan Awal: Lagu Performatif

Ain’t got no, I got life (1968), yang ditulis ulang oleh Nina Simone berdasarkan lirik dari dua lagu yang terdapat di dalam Hair (1960-an), barangkali, dapat diambil sebagai salah satu contoh “lagu performatif”.

Baca juga: Notabene Generasi Performatif

Mengapa saya menyebutnya—atau mengambilnya sebagai contoh—lagu performatif? Beberapa alasannya, berikut akan saya coba paparkan, menurut pendapat pribadi. Namun, sebelum itu, cobalah simak video Nina Simone menyanyikan lagu tersebut:

Nina Simone menyanyikan lagu ini di London pada tahun 1968.
  1. Mengacu gagasan tekstualnya: Lagu ini mendasarkan visi kemanusiaan—kebebasan dan kehidupan itu—di atas hal-hal konkret. Hidup adalah tubuh; nilai-nilai yang direproduksi dalam lingkup superstruktur, misalnya cinta (ataupun konsep-konsep lainnya dari pranata sosial dan politik), justru dibantah.
  2. Merefleksi dampak kulturalnya, yaitu dengan menimbang sejauh apa transformasi sosial yang diakibatkannya (sekaligus bagaimana wacana lagu itu juga mengkonfirmasi suatu keadaan sosial tertentu). Lagu ini, konon, dihayati sebagai “anthem baru” bagi beberapa kelompok besar masyarakat di dunia dan mewakili sebuah gerakan kultural melawan rasisme.

Baca juga: Bagaimana Karya Seni yang Performatif

  1. Terkait dengan bagaimana lagu itu ditampilkan (dalam hal ini, oleh Nina Simone): Tampilan yang memunculkan efek kekerabatan kolektif. Pertunjukan dari lagu ini demikian disruptif. Bukan saja dari segi romantisasi yang hadir tatkala lagu itu diperdengarkan (di saat konser), tetapi juga dari sisi penghayatan atasnya yang nyaris seperti ibadah, dan pengaruhnya bagi tindakan massa dalam aksi, serta gaungnya hingga ke tataran wacana aktivisme global.
Ini adalah rekaman konser dari Nina Simone menyanyikan Ain’t got no, I got life yang paling saya suka. Tapi sejauh ini, saya pribadi belum mengetahui kapan dan di mana konser ini diadakan. Pihak yang mengunggah video ini belum merespon komentar saya.
  1. Mengutip versi sinema (tahun 1979) dari karya teater musikal rock yang berjudul Hair itu, yang mana versi sinema-nya ini bisa kita tarik sebagai konteks lain untuk menyusun interpretasi lanjutan:
Salah satu cuplikan adalan dalam Hair, sebuah film drama komedi musikal antiperang Amerika di tahun 1979, yang dibuat berdasarkan Hair: The American Tribal Love-Rock Musical, sebuah karya musikal Broadway tahun 1968.

Adegan “I’ve got life” juga mengingatkan kita sebuah adegan “perang makanan” dalam Sedmikrásky (atau Daisies), sebuah film eksperimental yang dibuat pada masa Gelombang Baru Ceko (1960-an) oleh salah seorang sutradara avant-garde, Věra Chytilová.

Daisies (bahasa Ceko: Sedmikrásky) karya Věra Chytilová (Cekoslowakia, 1966).

Bagi saya, itu adegan “tanpa tata krama” yang mengganggu kemapanan kelas sosial tertentu. Makanan, dalam konteks tersebut, adalah perpanjangan dari tuntutan tubuh yang konkret, dan ke dalamnya subversivitas disisipkan melalui penampilan yang absurd dan gila, yang secara bersamaan menggemakan suatu krisis (juga suatu kritik) mengenai sistem (dalam hal ini, sistem borjuasi).

  1. Dalam lagu ini, bagian-bagian tubuh dipreteli lewat kata-kata (dari si aku—sang penyanyi). Lagu ini lantas menjadi corong yang demikian subjektif dan personal, sekaligus menyiratkan ide tentang pengalaman. Lagu, atau musik, sejatinya, bukan hanya soal mendengar, tetapi juga soal menubuh. Yang menarik, bagaimana dua lirik (“Ain’t got no” dan “I got life”) itu diurutkan oleh Nina Simone menjadi alur yang dari “tidak punya apa-apa” yang kemudian “menjadi apa-apa”. Bukankah “montase” bait semacam ini sangat mencerminkan gagasan-gagasan Nietzsche mengenai “ke-afirmatif-an” itu…?!
  2. Yang terakhir (penting dan lucu untuk disebutkan): Unsur sastranya mumpuni. Lagu ini puisi, bukan semata kumpulan kalimat ngedumel a la millennial kelas menengah ngehe yang memoles-moles hati tatkala jenuh bekerja sampai esok hari. Karena menubuh, kata-kata tentang tubuh dari Ain’t got no, I got life justru tentang perjuangan sepanjang hayat; bukan angin-anginan seperti lagu-lagu anyar “indie” sekarang: kala masih mahasiswa teriak aktivisme hingga menggunakan kata ‘penis laki-laki’, tapi setelah di dunia kerja berkoar soal kesehatan emosional dan nostalgia, juga melenakan diri sendiri sebagai serangga yang menyembah-nyembah terhadap cinta. Tidak “perform” sama sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.