Batik Pintu sebelum Bersetubuh

Garis meliuk yang membayang di lapisan putih
terbingkai sebagai bukan jendela
melainkan pintu besi yang melaluinya langkahku akan dihantarkan
ke sebuah kamar seorang kenalan—perempuan

… untuk bercinta, bersetubuh, katamu…?!

Yang benar saja! Telinga orang-orang di sini
bisa menembus ruang paling kedap mana pun
dan karena mereka, lenguhan indah
hanya akan menjadi petaka;
bukan karena keringat berahi yang menggores di kulit kami
tapi pintu itu semestinya tak perlu dibuka
dengan paksa

Sekarang, orang-orang takut kepada tetangga mereka
karena moncong senapan telah merasuki tubuh-tubuh
mana pun
menjadi suara yang menghalalkan darah
untuk ditumpahkan lewat kekerasan sehari-hari.
Sementara, cita-cita transfigurasi daging sebagai puisi
tinggal menjadi dokumen usang
lagi asing
di seberang samudra—
dan memang dari awalnya itu bukan buah pikiran kita, bukan?

Bayangan liukan garis yang membatiki daun pintu
yang kini terkunci seratus meter di depanku
merupakan modus-modus rupa sepintas waktu
yang membuat pikiranmu berkelana ke belantara gerutu,

… jauh…,
menjauhi apa yang pasti bisa diukir bagi lingkungan semu.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.