Burung Gereja Ketiga

Benar, memang, bidadari tidak pernah disebut oleh kitab-kitab langit
Rayuan surgamu, yang menipu dengan takhta kerajaan patriarkis itu,
adalah pelintiran dari sebuah kekuasaan besar
yang menutup kampung Noura dengan tembok-tembok mitologis
masa depan yang merindukan Ratu Adil yang mustahil

Hanya kepada burung gereja bergaun merah tua
hasratku menumpuk berulah
meskipun ia, sang burung, digerakkan oleh kelopak mata
yang bertingkah bukan melihat melainkan berbisik
dengan picingan yang setajam garis tepi sutra

Konon, burung gereja adalah agen
yang menyampaikan pesan dengan melompat-lompat di bumi
seperti anak-anak yang bermain lompat-lompatan pula,
melompati garis-garis yang digores menggunakan kapur
membentuk kerangka kubus yang terbuka.

Burung gereja meluapkan agensi sang pertapa
hingga menarik hati seorang sutradara untuk membingkainya
menjadi sebuah cerita yang di kemudian hari kutonton pada hari Senin
di senja buta.

Burung gereja ketiga yang kukenal tahun lalu
merupakan ia yang paling pandai bercinta
lewat metafora
menyentuh perasaanmu, perasaanku, perasaan mereka
yang justru hidup dengan mempelajari
apa yang hina
apa yang dusta

Bagaimana kau menilai Nawal el-Saadawi, yang mengajarkanmu
bahwa malu dan kalah adalah jurang ketidaksetaraan,
sedangkan tubuh hanyalah perantara tak abadi belaka…?

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.