Tentang Samar yang Menerabas

Bosan membuat langkah kaki
orang-orang bergerak dari kursi
menjauhi deretan biru itu sembari
pura-pura batuk berkali-kali
menggoda samar yang berdiri
di pagar balkon yang tinggi
dan di antara penonton yang gerogi
oleh kelam yang mengingkari sunyi.

Bunyi kanan menyahuti bunyi di kiri
sedang langkah sepatu mengimbangi
kebingungan mata yang mencari
sumber suara yang bersembunyi
di dalam kegelapan akustik dan indrawi,
menggelisahkan naluri
hati-hati yang membenci
bosan dan distorsi,
bukan sepi…

seketika cahaya saling membalas arah,
meluaskan cakupan tempat duduk yang terbelah,
menerangi raut muka hadirin yang terperangah,
kesadaranku melompat dari kerlingan patah
menuju sudut ambilan mata yang tersumpah;

sumpah pada gambar bergerak yang diperluas
dengan usaha menghadapi gelap yang diterabas.
Batas-batas yang dipuja itu kini terganggu
oleh rupa bosan baru
untuk memicu
reaksi dan gerutu
dari mereka yang mencintai kesakitan dan sendu
sebagai bahan baku
untuk membangun disiplin-tampil berbasis waktu
yang selalu begitu.                                                        

Manshur Zikri
Jakarta, 27 Juni 2019

2 thoughts on “Tentang Samar yang Menerabas

  1. Pingback: Berbekal Rasa Malu dan Ingin Tahu – Ikatan Kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.