051 – Sejenak, Bukan Gajah Terbang

Satu tahun setelah hari ke-550 itu, aku duduk ditemani kidung yang merayu lembut. Dayuannya menggoda dengan bayangan kisah Schubert yang sudah terlanjur dilamun-lamunkan oleh kamera delapan puluh delapan tahun silam. Saat fokus pendengaran kami bergeser ke bunyi gesekan biola dari percintaan kesebelasnya Dvořák, aku sadar bahwa aku sendiri juga harus memaparkan kepadamu isi katalog sederhana yang pernah kubuat; katalog yang memuat keterangan mengenai lebih banyak gajah terbang—informasi tentang gajah-gajah di dalam katalog itu dikumpulkan dari beberapa kenalan.

Tapi, Sarah, aku akan bercerita tentang beberapa gajah saja. Di antara sekian banyak gajah yang aku coba pahami, pasti ada beberapa yang bisa menggandakan ketertarikanmu terhadap saga ini. Dan mereka, yang akan kuceritakan, adalah pilihan terbaik yang kurasa layak memenuhi harapanmu. Semoga saja kau tidak kecewa!

Sebelum aku bercerita tentang gajah-gajah terbang di katalog itu, dan juga memaparkan bentuk gajah terbang yang digambar Wafda dan Lili di berugaq, aku ingin pula menceritakan kepadamu sebuah pengalaman menjengkelkan yang terjadi padaku di minggu-minggu penuh debar setelah aku mendapat kabar bahwa Si Rusa akan segera mendengar syair-syair yang akan membuahkan kegembiraan dan keberuntungan. Pengalaman itu terasa menjengkelkan hari ini karena gagal memenuhi harapanku untuk bisa menyelesaikan saga Si Gajah.

Pengalaman itu terjadi di minggu pertama bulan April, tiga hari setelah pembatasan sosial diresmikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21. Tanpa disengaja, aku melihat seekor gajah besar yang kakinya menapak hingga ke dasar… entah sungai, entah lautan. Kalau menerka dari warna airnya, mungkin genangan itu adalah lautan. Dan kalau memang benar itu lautan, berarti ukuran gajah itu sungguh sangat besar sekali. Aku sempat salah mengira kalau gajah itu Zunesha, karena, selain kakinya yang begitu panjang hingga bisa menapak dasar lautan, tampak di mataku kalau dia juga menggendong sesuatu. Tapi kau tahu, kan, kalau Zunesha menggendong pulau di punggungnya…? Sedangkan gajah hijau super besar yang kulihat waktu itu, dia menggendong gajah-gajah hitam yang berukuran lebih kecil—aku rasa mereka itu anak-anaknya.

Tampak si gajah raksasa itu tengah berjalan dan membuat riak dahsyat di air lautan. Dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah tujuan makhluk-makhluk di bawah permukaan laut itu. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat ada ikan-ikan yang juga berukuran besar, tapi bentuknya seperti ikan piranha. Tampang ikan-ikan itu ganas. Bukan tidak mungkin kalau gigi-gigi mereka yang tajam bisa melukai kaki si gajah raksasa.

Lautan itu juga ditumbuhi pepohonan yang aneh: pohon-pohon yang begitu tinggi, setinggi si gajah dan—kalau gajah raksasa yang kuceritakan ini benar seukuran Zunesha—menjulang hingga ke langit angkasa. Tapi mereka hanya mempunyai beberapa helai daun saja. Daun yang begitu luas, nyaris seluas telinga si gajah. Aku melihat pepohonan itu melatari si gajah raksasa, dan daun-daun mereka yang begitu sedikit—setiap sebatang pohon mempunyai tak lebih dari tiga helai daun saja—juga sempat membuatku salah menduga kalau gajah hijau tersebut adalah sejenis gajah terbang.

Foto lukisan gajah di salah satu dinding di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta. (Foto: Manshur Zikri, 3 April 2020).

Ya, aku memang salah duga. Saking salahnya, aku hampir meloncat girang saat melihatnya, mengira bahwa aku telah berhasil menemukan seekor gajah terbang, mengira bahwa gajah terbang itu bisa kutanya-tanyai segala hal yang berkaitan dengan terbang dan penerbangan (tentu saja hal ini harus kutanyakan jikalau kita tetap membutuhkan mesin sayap), dan berpikir pula bahwa jawabannya bisa kubawa pulang dan akan kuceritakan ulang kepadamu dan Si Gajah—gajah kita—supaya dia bisa terbang, sehingga saga ini dapat kita tuntaskan.

Tapi gajah hijau raksasa yang aku lihat waktu itu, nyatanya, bukan gajah terbang, Sarah. Dia hanyalah seekor gajah yang memanggil-manggil ingatan siapa saja yang merindu, terutama mereka yang merindu masa-masa ketika benih-benih sayuran ditanam di rumah-rumah bersama-sama dengan keyakinan. Gajah hijau itu, entah mengapa, memancing kerinduanku yang begitu besar akan penampakan rumahmu yang—masih kuingat jelas hingga detik ini—sempat kupandang beberapa detik sebelum kakiku memijak keset kaki di depan pintu rumahmu dan lantas terpelanting ke Kelinti Capung. Baru sekarang aku tersadar, gajah hijau itu agaknya lebih mirip dengan gajah ungu yang ada pada salah satu tembok di taman depan rumahmu. *


___
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

2 thoughts on “051 – Sejenak, Bukan Gajah Terbang

  1. Pingback: 050 – Kelahiran Para Gajah | manshurzikri

  2. Pingback: 052 – Gajah Arang Punya Malsi | manshurzikri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.