052 – Gajah Arang Punya Malsi

Dan……… Baiklah! Kita kembali ke berugaq itu, Sarah! Ah, ya, bukan berugaq itu, sebenarnya, yang ingin aku bilang! Maksudku, berugaq itu mengingatkanku lagi kepada Kelinti Capung.

“Wafda dan Lili sedang menggambar gajah di sana,” katamu, menyelaku.

“Ya, benar! Wafda masih menggambar gajah-gajahnya, Sayang! Aku bisa melihatnya dengan jelas. Wafda sedang memoles sayap salah seekor gajahnya, sekarang ini. Warna merah jambu! Ya, dia memberinya warna merah jambu! Ini sungguh menggembirakan! Kita tidak bisa memaksa Lili kalau memang dia sudah tidak tertarik dengan gambar gajah, kan? Dia lebih semangat melihat gambar gajah Wafda yang sudah semakin tampak. Aku tidak bisa menggambarkan betapa semangatnya orang-orang yang menyemuti berugaq itu. Mereka berdebar-debar, pastinya, sama halnya dengan perasaanku sekarang ini, melihat Wafda menggambar gajahnya. Gajah Wafda telah lahir dan semakin tegas, hidup di atas kertas itu.”

Kulihat matamu berbinar. Penuh semangat! Aku yakin kau pasti bisa menjadi sahabat Wafda yang baik, Sarah. Ingatlah, betapa besar jasanya dalam membantu kita mencari kemungkinan tentang ada atau tidaknya gajah-gajah ini!

“Ceritakan lagi kepadaku tentang gajah yang lain, Pakpang!” katamu.

“Oh, ya! Kau juga penasaran dengan gajah-gajah yang lain itu, rupanya…!?”

Di Kelinti Capung, ada seseorang yang hidup lebih seperti pengembara daripada sebagai orang yang berrumah, Sarah. Tapi, bukan berarti dia tidak punya rumah. Hanya saja, langkah-langkah si orang ini menunjukkan betapa dirinya menginginkan petualangan-petualangan yang menggetarkan. Langkah-langkahnya yang seperti itu, demikian tampak dari sapuan-sapuan arangnya. Ya, dia adalah ahli gambar! Namanya, Lutajjuh Malsi.

Suatu hari, aku dan Malsi pernah berjalan-jalan menelusuri semak dari dataran rendah di Tebango Bolot, menuju bukit, untuk mencapai puncak yang di sanalah Tugu Wasiat berbahan kayu pernah didirikan. Tugu itu dahulu digotong banyak orang saat diselenggarakannya sebuah pesta besar! Pesta rakyat yang tak akan pernah kami lupakan. Pesta itu mungkin tak semegah perayaan obor yang diampu Empat Pendendang Desa. Tapi, sebagai awal mula kebangkitan Desa Kelinti Capung, tugu itu menguak tabir yang selama berpuluh-puluh tahun telah menutupi intisari Kelinti Capung. Tugu itu menunjukkan betapa lautan yang begitu luas bersaudara dekat dengan pegunungan yang begitu tinggi.

Ada kejadian lucu, sebenarnya, sewaktu kami hampir tersesat di tengah-tengah semak belukar. Kala itu, hujan deras menerpa kami. Malsi, yang semestinya paham Kelinti Capung, malah terlihat sangat aneh. Aku tidak tahu, apa yang membuatnya bertingkah aneh. Pokoknya, dia tiba-tiba saja merebahkan diri ke tanah, berteriak histeris, dan menyambut derasnya hujan yang menghantam setiap jengkal bagian-bagian tubuh dan bajunya. Aku nyaris putus asa dan sempat mengira kami tak akan pernah kembali lagi ke ruang terbuka, ke ruang-ruang kota, dan akan tersesat selamanya di tengah-tengah semak belukar yang menyesakkan itu.

Namun, baru belakangan aku sadari, agaknya tingkah Malsi itu adalah pertanda, bahwa lokasi kami sudah dekat dengan Tugu Wasiat. Dan benar saja, ketika aku bersikeras ingin menerabas semak belukar lainnya yang ada di hadapan kami, aku melihat tugu yang sungguh sederhana itu. Kau tahu, semak-semak yang kuterabas itu bagaikan tirai, dan adegan yang kulakukan persis seperti saat kau membuka tirai kamarmu di senja hari.

Setelah kejadian di semak belukar, aku jadi tahu kalau Malsi mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan yang lebih bijak dari waktu-waktu sebelumnya. Dia menggambar lebih banyak wajah orang-orang Kelinti Capung. Hingga akhirnya, sekitar dua tahun setelah pengalaman lucu itu, dia mengabarkan padaku bahwa dia telah membuat seekor gajah dari arang.

Gajah Arang punya Malsi tampak serupa dengan bayanganku tentang gajah terbang yang selama ini kita cari-cari, Sarah! Gajah Arang itu mengenakan ikat kepala. Otot belalainya terlihat kokoh sekali; tampak kuat, sekuat kaki-kakinya. Sayap gajah itu melekat dipunggung. Bukan sayap buatan, Sarah, juga bukan sayap mesin. Kedua sayap itu merupakan bagian dari tubuhnya, terbuat dari otot-otot dagingnya sendiri. Sementara, gadingnya yang tak terlalu besar membengkok dan menempel rapat ke belalainya.

Gajah Arang.

Mata gajah itu menatap teduh ke depan. Gajah Arang yang lusuh, mungkin, seperti Malsi yang kulihat merebahkan diri ke tanah di tengah-tengah semak belukar di Bukit Tebango. Tapi, tatapannya yang teduh justru menunjukkan kemurnian dirinya, Sarah. Seketika aku merasakan hawa yang demikian bersih terpancar dari tubuh gajah itu. (“Dan, ya, aku selalu merasakan hawa yang bersih di diri Malsi meskipun aku tahu, setiap harinya, dia tampil lusuh karena sering minum tuak.”) Aku lihat Gajah Arang itu terbang, Sarah! Terbang! Terbang dengan mantap sebagaimana yang sering kita bayangkan jikalau seekor gajah terbang dan mengudara dengan gembira.

Apakah dia bergerak menuju langit? Aku tidak tahu. Yang jelas, Gajah Arang yang dibuat Malsi mengajarkanku satu hal: kita bisa terbang menuju langit dengan kemurnian jiwa, terlepas dari penampilanmu sehari-hari yang mungkin sering kali tampak lusuh. Dan di saat aku sadar bahwa gajah itu sekarang bersembunyi di semak-semak belukar yang mengelilingi Tugu Wasiat, aku yakin bahwa apa yang dituliskan di atas lempengan kayu pusaka, yang di dalamnya kata-kata menjadi garis penghubung antara Tugu Wasiat dan Monumen Pintu (yang dibangun di ujung Dermaga Bangsal), adalah petunjuk lainnya yang bisa kita cerna. Paling tidak, untuk mendapatkan arti, mengapa Si Gajah ingin menemui langit. *

Gambar “Gajah Arang” dibuat oleh seorang seniman yang tinggal di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Namanya, Hujjatul Islam. Gambar ini telah diakuisisi oleh Embaragram.


Bab 053 >>

___
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

1 thought on “052 – Gajah Arang Punya Malsi

  1. Pingback: 051 – Sejenak, Bukan Gajah Terbang | manshurzikri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.