Bodoh Berulang Adalah Aku

Pak Sapardi,
Bapak tahu,

cinta tidak sesederhana kata
yang sebenarnya sudah diucapkan
kayu kepada api, toh ia tetap jadi abu…?

cinta tidak sesederhana isyarat
yang sesungguhnya telah disampaikan
awan kepada hujan,
lah, ia pun akhirnya tiada juga…?

daya kami akan cinta
nyatanya diredam paksa
oleh sifat penurut mudi-muda
yang takut tercela…?
ditentukan paksa oleh kelaliman
suku, agama, dan keluarga
yang menjadikan orang-orang berbeda…?

bahwa kita belum beranjak dari era
siti nurbaya…?

mencintai itu, menjelma jelas
lebih jauh dari cara sesederhana majas,
daripada mimpi-mimpi kami, para langgas
yang gagal paham tentang bebas,
tapi lupa pengertian malas.
dengan pujian saja sudah cukup puas
menapak dengan langkah yang tak
tegas…?

bahwa
pengembaraan untuk mencari
kata-katamu dan isyarat-isyaratmu,
tak pernah tuntas…?

cara cintamu itu telah direnggut
oleh hasrat citra yang akut
oleh mulut yang hanya bisa mencatut
serapah dan ancaman maut
di lingkung kekerasan yang tak patut…?

ilusi kami selalu berulang
dalam kebodohan mengambang
di lingkup jaringan terbayang,
pola yang sangat usang
yang oleh waktu tak pernah lekang…?

Begitulah kenyataan dari
cara cintamu yang kami pegang
sekarang

Kuberi tahu, Pak Sapardi,

aku tidak ingin lagi mencintai
dengan sederhana;
dengan mimpi yang selalu sempat
diingatkan lulusan muda kepada
kekasihnya pekerja kelas menengah
yang menjadikannya lupa mencerna

aku tidak ingin lagi mencintai
dengan sederhana;
dengan foto yang selalu sempat
di-share seorang netizen kepada
followers-nya yang menjadikannya
terlena

aku tidak ingin lagi mencintai
dengan sederhana;
dengan isyarat yang selalu sempat
kubuat untuk dirinya yang membuatku
berkilah dari gulana

aku pilih gundah dalam kejujuran;
dalam pandangan yang bisa
membebaskan aku dari perasaan
yang membuatku tenggelam.
aku pilih galau dalam keluguan;
dalam puisi yang bisa
mengikat aku pada kebudayaan
yang membuatku tentram

ketika kebodohan telah diakui
sebagai suatu pengulangan,
peringatan itu sungguh benar
adalah untukku.

memilih berkasih-kasih, ya,
nggak segoblok itu juga, njir!

Manshur Zikri
Jakarta, 14 Mei 2018