About Manshur Zikri

MANSHUR ZIKRI adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter dan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada aktivisme kebudayaan. Sejak tahun 2019, ia bekerja sebagai Kurator dan Manajer Artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Goncangan

Rasa itu bius beraroma
Hasrat itu pisau tumpul
Darma itu apa?

Detik ini aku menjadi Ka dan terheran-heran menerima bukti bahwa puisi bisa mampir ke pikiranku sungguh sangat sebentar saja. Ia pergi seketika bahkan sebelum benar-benar menunjukkan kata-katanya padaku.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 11 Desember 2020

Setapak Sufistik

Setapak sufistik mesti kami tempuh
walau itu proyek mustahil
tapi kemestian menjadikannya ada
mendorong kami tetap mengada

Hilangnya batas bukanlah tujuan
melainkan menghancurkan keterbatasan
dengan menyisakan keping-keping
pembatas
hingga kami tetap mengingat
bahwa dahulu ada masa
ketika pikiran kami terbatas
tertutup
sempit

Kami harus membuka semuanya
membuka pikiran dan jiwa
seterbuka-terbukanya
dengan batas-batas yang telah hancur tanpa lebur
menjadi puing yang tetap tampak
lantas terus membuat kami ingat
bahwa batas-batas itu dulu ada
sehingga kami dapat tetap mengada
dengan apa yang akan dibuka
agar menjadi terbuka
sepenuhnya

Setapak sufistik harus kita tempuh
dan keharusan itu mengingatkan kita
tentang batas-batas yang harus kita
lompati bersama
dengan pikiran terbuka

Manshur Zikri
Yogyakarta, 24 November 2020

Tentang Tindakan Jatuh

Tindakan jatuh kini menjadi gaya ungkap
untuk menelaah bagaimana kekerasan budaya
bekerja pada tubuh-tubuh terberi.
Pada limit ultimanya, pose jatuh
memberikan artikulasi paling polemis
sekompleks tebaran maneken pascakejadian
katastropis Sulawesi Tengah

Pada tindakan jatuh, kita mungkin akan
melihat apa yang dilihat Angelus Novus.
Itu mungkin, meski belum tentu lebih.

Ia melihat kerusakan terbentang
di bawah kakinya yang melayang
dengan tatapan dingin seakan tanpa jiwa,
namun melontarkan imajinasimu
ke tepi jurang kewajaran duniawi
yang bertetangga dengan alam mental
jelmaan ruang super-representasi

Tapi Angelus Novus, agaknya,
tak pernah kita ketahui pernah jatuh
ke relung terdalam jurang itu, atau ke lekuk pangkuanmu
Walaupun katastrop universal nan abstrak:
sejarah,
adalah apa yang berhadapan dengannya.
Hanya kita, manusia, yang menyelam haru
ke sana.

Tindakan jatuh adalah narasi baru
yang barang kali lain sama sekali
karena kejatuhan bukan hanya milik orang-orang
semacam Nicolae Ceaușescu di akhir kerusuhan sipil
pada penghujung dekade pertama periode-periode
kelahiran generasi milenial.
Jatuh adalah cara baru untuk berada,
di linimasa yang merayakan virtualitas massa,
atau siasat untuk mengindahkan jeda jari
pada layar-layar berdurasi lima belas detik
yang menjadi etalase cerita-cerita warga
sebagaimana tindakan Polla, seniman yang sedang mengkaji itu.

Manshur Zikri
Jakarta, 30 Juni 2019

Tentang Tai

Sebagaimana politik tai kerap dikutip-kutip serampangan,
kita juga menebar terbitan tai secara sembarangan
dengan kegembiraan yang melampaui
perayaan atas seribu slogan
di media sosial yang, hingga kini, kerap terabaikan
sifat dasariahnya dalam menentukan
aksi-reaksi manusia.

Tai tak lagi hanya soal teknis, bukan?
Urusan duburku dan duburmu juga
bukan hanya bagian dari cemoohan klise
para pelaku intimidasi keseharian yang dibingkai TV
Tai adalah urusan politik juga, kata akademisi.
Tai menemukan jati dirinya yang, mungkin, sejati (?)

Aku tidak tahu, kalau urusan tai
mengemban sejarah emansipasi
dan meneror
ketersempitan hubungan-hubungan komunikasi.
Tapi adakah terbitan tai juga demikian, dan
setai puisi-puisi gampangan yang memviral kini?
Yang dengan teknis desain sederhana,
ribuan buku kumpulan puisi diterbitkan
untuk membelai nafsu-nafsu kita yang menggerogot
demikian halus, membicarakan ke-aku-an
yang dipenting-pentingkan,
yang diharga-hargakan…?

Lebih tai-nya lagi, tai menjadi bumbu dakwah
sederas dakwah menaikan dirinya sendiri
di hadapan kita yang belum juga usai
berurusan dengan teknis membuang tai,
apalagi mendiskusikannya sebagai disiplin filsafat
yang “harus ketimuran!” seru temanku, pongah.
Dia memang tai.

Seandainya tai bisa ditelan,
mungkinkah ia suatu saat nanti
menjadi valuta baru yang paling kekinian
dan diperdalam oleh para filsuf dadakan
yang bergerilya di media kita hari ini…?
Tai! Betapa kacaunya.

Manshur Zikri
Jakarta, 29 Juni 2019

Tentang Merah Jambu

Ia bentangkan kain merah luas
ketika segaris cahaya kecil
tumpah dari langit ruangan besar.
Puluhan mata melihat, bertanya-tanya;
baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Badannya beringsut pelan usai para dayang
melepas sudut-sudut kain pada penghujung
sentuhan segaris cahaya ramping
yang menegaskan: bagaimana ruang kosong
perlahan terjajah tubuh yang tak kerempeng.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tubuhnya diam di bawah kemerahjambuan
kain yang ia sematkan sebuah konsep
performativitas Judith Butler.
Geming lekuknya merupakan tekstur pekat
Yang menerjang mata kami yang menganggap
kain itu merah menjerat
tubuh kami untuk menetap di tempat.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tatkala tekstur sirah itu bergerak perlahan,
Kami bertanya: menangiskah, ia?
Lantas langgam biomorfis itu
mencari formasi tertentu
tiba-tiba menjadi figur yang kaku.
Kami bertanya: tertawakah, ia?

Merah jambu menari-nari di alam kebisuan kami
yang merinding dan tercengang oleh pertanyaan
tentang apa yang selama ini kita ingkari

dari protes-protes yang diungkap demi kesetaraan

Di ujung ekstasis puitik yang meneror itu,
Merah jambu berteriak kencang menjadi ambigu,
antara tawa dan tangis; antara kuasa dan dikuasai.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Manshur Zikri
Jakarta, 28 Juni 2019

Tentang Samar yang Menerabas

Bosan membuat langkah kaki
orang-orang bergerak dari kursi
menjauhi deretan biru itu sembari
pura-pura batuk berkali-kali
menggoda samar yang berdiri
di pagar balkon yang tinggi
dan di antara penonton yang gerogi
oleh kelam yang mengingkari sunyi.

Bunyi kanan menyahuti bunyi di kiri
sedang langkah sepatu mengimbangi
kebingungan mata yang mencari
sumber suara yang bersembunyi
di dalam kegelapan akustik dan indrawi,
menggelisahkan naluri
hati-hati yang membenci
bosan dan distorsi,
bukan sepi…

seketika cahaya saling membalas arah,
meluaskan cakupan tempat duduk yang terbelah,
menerangi raut muka hadirin yang terperangah,
kesadaranku melompat dari kerlingan patah
menuju sudut ambilan mata yang tersumpah;

sumpah pada gambar bergerak yang diperluas
dengan usaha menghadapi gelap yang diterabas.
Batas-batas yang dipuja itu kini terganggu
oleh rupa bosan baru
untuk memicu
reaksi dan gerutu
dari mereka yang mencintai kesakitan dan sendu
sebagai bahan baku
untuk membangun disiplin-tampil berbasis waktu
yang selalu begitu.                                                        

Manshur Zikri
Jakarta, 27 Juni 2019

Tentang Kita yang Bertahan

Kita
bertahan
dari
hasrat
netizen
umumnya
karena
kita,
nyatanya,
netizen
itu
pula

untuk memuja
aku semata;
merindu suka
citra belaka,
sekejap saja

cita-citamu diketik
seakan setinggi delik
dengan mata mendelik,
menghiraukan telinga terpekik,
menahan suara tercekik
tatkala jarimu berisik
mengungkai kata apik
demi menghindari delik
di antara bisik-bisik

temberos tidak mengizinkan
rantingnya dihinggapi burung-burung jalak
yang menginjak-injak kulit gajah-gajah Afrika

delik itu bukanlah ruang bagi delik
meski delik menyimpan misteri
bagi latarbelakang delik-delik
di mata peradilan yang picik

seharusnya kita bertahan
dari hasrat
netizen, karena…

Manshur Zikri
Jakarta, 26 Juni 2019

Tentang Kapital

Sebagian yang muda, teman-teman dekatku,
melihat urusan kapital semerah kelahiran
Marxisme yang telah berumur 170 tahun.
Valuta terbatas.
Batas durasi lima belas detik pun dilupakan,
seabai jari di atas bingkai vertikal;
bingkai yang merupakan kosa gambar
kita hari ini.

Cerita Kevin Roose setengah bulan lebih yang lalu,
diulangceritakan Didi Achjari hari ini,
tentang lubang kelinci…
belum menjadi koentji seampuh tagar Jum’at
bagi persona yang senang mengumpat
dan menelan kata sebagai candu,
mengulangujarkan sepenggal kabar hari ini
tentang lubang kelinci…
sebagai jurus terampuh untuk memikat
persona lain yang kepalang berhasrat.

Pada ruang-ruang bernotifikasi,
kami menggantungkan mimpi. Siapa saja.
Dari citra hingga kerja; dari harta hingga cinta.
Dari ruang-ruang beremoji,
kami menghantar harapan. Diri sendiri.
pada citra dan kerja; pada harta juga cinta.

Sebagian yang muda, termasuk aku,
melihat data, canggung begitu,
secanggung bacaan kami
terhadap kata kiri.

Manshur Zikri
Jakarta, 25 Juni 2019

Tentang Telinga pada Bintang di Surga

Entahlah! Mungkin, seperti aku juga,
telinga mereka masih tertambat pada
bintang di surga,
karena Matraman terlalu jauh bagiku
yang terjerat keram di bangku
depan layar supraantropologis itu,
mendengar ragam lantunanmu
yang digabung jadi satu.

“Kita tak lagi bercakap seperti dulu!”
katamu.
Kita tidak berbicara seperti dulu lagi,
kataku, semestinya.

Para penyanyi itu berseru,
“Beri aku percakapan manis,
yang bisa menyembuhkan diriku…!”

Di antara ribuan komentar,
nyaris semuanya berteriak
agar Reza dan Ama kembali bersatu
untuk bisa “Sweet talk!”

Tapi bukankah Dea mencatat
bahwa Ika Natassa menyebut
“Kau harus punya sepuluh juta!”…?

Untuk membebaskan telingamu
dari bintang di surga, untuk berlari ke ibukota
ke Matraman,
atau ke Mondo, setidaknya sekali
walau tak setiap bulan.

Sedangkan teman terbaikku,
barangnya tinggal setengah.
Aku bisa bilang apa?

Manshur Zikri
Jakarta, 24 Juni 2019

Tentang Garis

Garis bukan siksa
bagi mereka yang bersedia menaja,
melainkan petaka tatkala sejarah dihentikan
dengan api
atau dengan kepandiran; kemalasan;
kedurhakaan;
juga kelaliman.

Menaja garis, mereka bersedia,
tatkala dengan api sejarah
kepandiran; kemalasan; kedurhakaan;
kelaliman.

Menaja garis
dengan api
kelaliman

Menaja api
kelaliman

Kudengar lagu cinta populer dikeraskan
dari sebelah ruangan.
Mereka menaja kelaliman
dengan kenikmatan.
Membakar telinga dengan kemanjaan.
Menyiksa diriku
dengan garis ternyaman;
membawa kita
ke dalam ceruk kepandiran.

Padahal,
garis bukan siksa
bagi mereka
yang bersedia menaja.

Manshur Zikri
Jakarta, 23 Juni 2019