About Manshur Zikri

MANSHUR ZIKRI adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter dan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada aktivisme kebudayaan. Sejak tahun 2019, ia bekerja sebagai Kurator dan Manajer Artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Tentang Tai

Sebagaimana politik tai kerap dikutip-kutip serampangan,
kita juga menebar terbitan tai secara sembarangan
dengan kegembiraan yang melampaui
perayaan atas seribu slogan
di media sosial yang, hingga kini, kerap terabaikan
sifat dasariahnya dalam menentukan
aksi-reaksi manusia.

Tai tak lagi hanya soal teknis, bukan?
Urusan duburku dan duburmu juga
bukan hanya bagian dari cemoohan klise
para pelaku intimidasi keseharian yang dibingkai TV
Tai adalah urusan politik juga, kata akademisi.
Tai menemukan jati dirinya yang, mungkin, sejati (?)

Aku tidak tahu, kalau urusan tai
mengemban sejarah emansipasi
dan meneror
ketersempitan hubungan-hubungan komunikasi.
Tapi adakah terbitan tai juga demikian, dan
setai puisi-puisi gampangan yang memviral kini?
Yang dengan teknis desain sederhana,
ribuan buku kumpulan puisi diterbitkan
untuk membelai nafsu-nafsu kita yang menggerogot
demikian halus, membicarakan ke-aku-an
yang dipenting-pentingkan,
yang diharga-hargakan…?

Lebih tai-nya lagi, tai menjadi bumbu dakwah
sederas dakwah menaikan dirinya sendiri
di hadapan kita yang belum juga usai
berurusan dengan teknis membuang tai,
apalagi mendiskusikannya sebagai disiplin filsafat
yang “harus ketimuran!” seru temanku, pongah.
Dia memang tai.

Seandainya tai bisa ditelan,
mungkinkah ia suatu saat nanti
menjadi valuta baru yang paling kekinian
dan diperdalam oleh para filsuf dadakan
yang bergerilya di media kita hari ini…?
Tai! Betapa kacaunya.

Manshur Zikri
Jakarta, 29 Juni 2019

Tentang Merah Jambu

Ia bentangkan kain merah luas
ketika segaris cahaya kecil
tumpah dari langit ruangan besar.
Puluhan mata melihat, bertanya-tanya;
baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Badannya beringsut pelan usai para dayang
melepas sudut-sudut kain pada penghujung
sentuhan segaris cahaya ramping
yang menegaskan: bagaimana ruang kosong
perlahan terjajah tubuh yang tak kerempeng.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tubuhnya diam di bawah kemerahjambuan
kain yang ia sematkan sebuah konsep
performativitas Judith Butler.
Geming lekuknya merupakan tekstur pekat
Yang menerjang mata kami yang menganggap
kain itu merah menjerat
tubuh kami untuk menetap di tempat.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tatkala tekstur sirah itu bergerak perlahan,
Kami bertanya: menangiskah, ia?
Lantas langgam biomorfis itu
mencari formasi tertentu
tiba-tiba menjadi figur yang kaku.
Kami bertanya: tertawakah, ia?

Merah jambu menari-nari di alam kebisuan kami
yang merinding dan tercengang oleh pertanyaan
tentang apa yang selama ini kita ingkari

dari protes-protes yang diungkap demi kesetaraan

Di ujung ekstasis puitik yang meneror itu,
Merah jambu berteriak kencang menjadi ambigu,
antara tawa dan tangis; antara kuasa dan dikuasai.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Manshur Zikri
Jakarta, 28 Juni 2019

Tentang Samar yang Menerabas

Bosan membuat langkah kaki
orang-orang bergerak dari kursi
menjauhi deretan biru itu sembari
pura-pura batuk berkali-kali
menggoda samar yang berdiri
di pagar balkon yang tinggi
dan di antara penonton yang gerogi
oleh kelam yang mengingkari sunyi.

Bunyi kanan menyahuti bunyi di kiri
sedang langkah sepatu mengimbangi
kebingungan mata yang mencari
sumber suara yang bersembunyi
di dalam kegelapan akustik dan indrawi,
menggelisahkan naluri
hati-hati yang membenci
bosan dan distorsi,
bukan sepi…

seketika cahaya saling membalas arah,
meluaskan cakupan tempat duduk yang terbelah,
menerangi raut muka hadirin yang terperangah,
kesadaranku melompat dari kerlingan patah
menuju sudut ambilan mata yang tersumpah;

sumpah pada gambar bergerak yang diperluas
dengan usaha menghadapi gelap yang diterabas.
Batas-batas yang dipuja itu kini terganggu
oleh rupa bosan baru
untuk memicu
reaksi dan gerutu
dari mereka yang mencintai kesakitan dan sendu
sebagai bahan baku
untuk membangun disiplin-tampil berbasis waktu
yang selalu begitu.                                                        

Manshur Zikri
Jakarta, 27 Juni 2019

Tentang Kita yang Bertahan

Kita
bertahan
dari
hasrat
netizen
umumnya
karena
kita,
nyatanya,
netizen
itu
pula

untuk memuja
aku semata;
merindu suka
citra belaka,
sekejap saja

cita-citamu diketik
seakan setinggi delik
dengan mata mendelik,
menghiraukan telinga terpekik,
menahan suara tercekik
tatkala jarimu berisik
mengungkai kata apik
demi menghindari delik
di antara bisik-bisik

temberos tidak mengizinkan
rantingnya dihinggapi burung-burung jalak
yang menginjak-injak kulit gajah-gajah Afrika

delik itu bukanlah ruang bagi delik
meski delik menyimpan misteri
bagi latarbelakang delik-delik
di mata peradilan yang picik

seharusnya kita bertahan
dari hasrat
netizen, karena…

Manshur Zikri
Jakarta, 26 Juni 2019

Tentang Kapital

Sebagian yang muda, teman-teman dekatku,
melihat urusan kapital semerah kelahiran
Marxisme yang telah berumur 170 tahun.
Valuta terbatas.
Batas durasi lima belas detik pun dilupakan,
seabai jari di atas bingkai vertikal;
bingkai yang merupakan kosa gambar
kita hari ini.

Cerita Kevin Roose setengah bulan lebih yang lalu,
diulangceritakan Didi Achjari hari ini,
tentang lubang kelinci…
belum menjadi koentji seampuh tagar Jum’at
bagi persona yang senang mengumpat
dan menelan kata sebagai candu,
mengulangujarkan sepenggal kabar hari ini
tentang lubang kelinci…
sebagai jurus terampuh untuk memikat
persona lain yang kepalang berhasrat.

Pada ruang-ruang bernotifikasi,
kami menggantungkan mimpi. Siapa saja.
Dari citra hingga kerja; dari harta hingga cinta.
Dari ruang-ruang beremoji,
kami menghantar harapan. Diri sendiri.
pada citra dan kerja; pada harta juga cinta.

Sebagian yang muda, termasuk aku,
melihat data, canggung begitu,
secanggung bacaan kami
terhadap kata kiri.

Manshur Zikri
Jakarta, 25 Juni 2019

Tentang Telinga pada Bintang di Surga

Entahlah! Mungkin, seperti aku juga,
telinga mereka masih tertambat pada
bintang di surga,
karena Matraman terlalu jauh bagiku
yang terjerat keram di bangku
depan layar supraantropologis itu,
mendengar ragam lantunanmu
yang digabung jadi satu.

“Kita tak lagi bercakap seperti dulu!”
katamu.
Kita tidak berbicara seperti dulu lagi,
kataku, semestinya.

Para penyanyi itu berseru,
“Beri aku percakapan manis,
yang bisa menyembuhkan diriku…!”

Di antara ribuan komentar,
nyaris semuanya berteriak
agar Reza dan Ama kembali bersatu
untuk bisa “Sweet talk!”

Tapi bukankah Dea mencatat
bahwa Ika Natassa menyebut
“Kau harus punya sepuluh juta!”…?

Untuk membebaskan telingamu
dari bintang di surga, untuk berlari ke ibukota
ke Matraman,
atau ke Mondo, setidaknya sekali
walau tak setiap bulan.

Sedangkan teman terbaikku,
barangnya tinggal setengah.
Aku bisa bilang apa?

Manshur Zikri
Jakarta, 24 Juni 2019

Tentang Garis

Garis bukan siksa
bagi mereka yang bersedia menaja,
melainkan petaka tatkala sejarah dihentikan
dengan api
atau dengan kepandiran; kemalasan;
kedurhakaan;
juga kelaliman.

Menaja garis, mereka bersedia,
tatkala dengan api sejarah
kepandiran; kemalasan; kedurhakaan;
kelaliman.

Menaja garis
dengan api
kelaliman

Menaja api
kelaliman

Kudengar lagu cinta populer dikeraskan
dari sebelah ruangan.
Mereka menaja kelaliman
dengan kenikmatan.
Membakar telinga dengan kemanjaan.
Menyiksa diriku
dengan garis ternyaman;
membawa kita
ke dalam ceruk kepandiran.

Padahal,
garis bukan siksa
bagi mereka
yang bersedia menaja.

Manshur Zikri
Jakarta, 23 Juni 2019

Tentang Warna

Kebutuhan warna kerap dialihkan
dari kenyataan yang mengiritasi;
dialihkan dengan dalih subtil menggelikan.

Keberadaan warna sering dijauhkan
dari impian yang suci;
dijauhkan dengan rayuan ganjil melenakan.

Kebenaran warna acap dibedakan
dari keharusan yang memuji;
dibedakan dengan hukum kerdil meyakinkan.

Keniscayaan warna lekas dilupakan
dari kewajaran yang asli;
dilupakan dengan niat usil menakjubkan.

Karena kau dan aku
mencintai isu
hanya dari dua kubu.

Manshur Zikri
Jakarta, 22 Juni 2019

Tentang Burung Gereja Merah

Burung gereja merah
membelah langit-langit mulutku
dengan sayapnya yang patah;
menahan tetesan darah
yang melintasi tempurung lututmu
dari lubang tanpa luka merekah.

Di hadapan hentakan kaki
lelaki yang menari di balik dinding,
darah kotormu dihakimi
lisan-lisan tergeming
tatkala burung gereja merah
bersiasat di lingkaran awan lidahku
yang kelu akibat percikan darahmu
itu.

Rentang kaki burung gereja merah
merangsang bulu kudukku
untuk berkata: “Biarlah
kucing menelan emisi cahaya sirah
yang mengurat dari pangkal kuku-kukuku!”

Pada ruang-ruang yang diperantarai
kaca-kaca kemilau tersentuh sinar matahari
yang dari baliknya kulihat jari-jemari
tanganmu menggapai slogan kiwari,
terpampang bentuk patahan sayap
burung gereja merah yang meratap
karena lukamu penuh sebab-musabab
yang membuat dunia kita selalu tetap—

berkuasa atas tubuh-tubuh yang bisa luka tanpa disentuh.

Pada ruang-ruang yang diperantarai
kaca-kaca berwarna pengindah mimpi surgawi
yang dari atasnya kudengar gemuruh bumi
bersenandungkan memori-memori terberi,
paruh jinak burung itu terpapar
narasi sejarah yang ditukar
dengan pandangan-pandangan vulgar
para penari kekar.

Manshur Zikri
Jakarta, 21 Juni 2019

Tentang Cinta Layar Supra Lainnya

Cinta kita dipupuk oleh kebiasaan jari yang mencari
ketidakpastian lewat bingkai vertikal lima belas detik itu;
tak jarang kita mengunci etalase layaknya berangkas kaca
untuk menangkal terjangan mata yang bergibah;

Walau sebenarnya, kau sudah tak pernah menggeser indeks visualku
pada jam-jam ketika ayam jago berkokok, mengabarkan
betapa cerahnya hari yang tengah menjelang

Walau sebenarnya, kau sudah tak pernah mengusap jempol
ke atas daftar pancinganku pada jam-jam biasa;
lupakah dirimu bagaimana caranya nelayan memeluk ikan?

Cintamu dirawat dengan percakapan
antara dirimu dan dirimu yang menyapa dari seberang cermin,
sebagaimana yang kau akui ketika ayam jago,
yang seharusnya akan berkokok malam ini,
tengah dipanggang untuk kemudian diolesi bangkai-bangkai rawit
yang tergilas batu-batu kali.

Cintamu sungguh membuatku meringkih
setiap kali kucoba memupuknya dengan
nada-nada yang diketikkan ke dalam garis waktu
untuk kemudian diunduh oleh mereka yang mendamba
jenis cinta serupa

Cintaku diketik di atas garis waktu
untuk bertebaran di momen-momen utama
ketika azan ashar berkumandang.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019