About Manshur Zikri

MANSHUR ZIKRI adalah penulis, peneliti, kritikus dan pegiat budaya independen di bidang media, seni, dan film. Ia anggota Forum Lenteng, sebuah organisasi egaliter dan nirlaba yang berbasis di Jakarta dan berfokus pada aktivisme kebudayaan. Sejak tahun 2019, ia bekerja sebagai Kurator dan Manajer Artistik di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat.

Bagaimana Cinta dan Hasratku Berhenti Bernyanyi?

Kau gantung kegilaanmu akan citra
begitu rendah di dasar kantong celanamu
agar setiap saat bisa kau raih lagi
untuk dirombak sana-sini
untuk diganti isinya sekehendak hati
tergantung pada mood hari ini
atau malam nanti

Cintaku nyatanya telah berhenti untuk dipajang pada etalase linimasa

Emosi buatan mereka tak lagi mampu
mencairkan bibirku yang beku
semakin hari, alis mataku semakit menyatu
menjadi garis yang mengejang-ngejang setiap waktu
seakan menjadi benang yang menunggu jarum dari dalam laci kamarmu
yang tak lama lagi akan menjahit mulutku
dan menahan kata apa pun keluar dari jempol kita

Bukan siapa-siapa,
yang kuajak bercengkerama memang kau,
yang mengernyit memahami tarian jari-jemariku detik ini
Dan barangkali dirimu menggeliat di balik selimut kebingungan,
mencari pegangan pada sendi-sendi peramban
yang tak akan pernah bisa kita lihat jelas
apalagi raba dengan perhatian tatkala kepala terus merunduk

Hasratku nyatanya telah berhenti diikat pada bilah samping linimasa

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Burung Gereja Ketiga

Benar, memang, bidadari tidak pernah disebut oleh kitab-kitab langit
Rayuan surgamu, yang menipu dengan takhta kerajaan patriarkis itu,
adalah pelintiran dari sebuah kekuasaan besar
yang menutup kampung Noura dengan tembok-tembok mitologis
masa depan yang merindukan Ratu Adil yang mustahil

Hanya kepada burung gereja bergaun merah tua
hasratku menumpuk berulah
meskipun ia, sang burung, digerakkan oleh kelopak mata
yang bertingkah bukan melihat melainkan berbisik
dengan picingan yang setajam garis tepi sutra

Konon, burung gereja adalah agen
yang menyampaikan pesan dengan melompat-lompat di bumi
seperti anak-anak yang bermain lompat-lompatan pula,
melompati garis-garis yang digores menggunakan kapur
membentuk kerangka kubus yang terbuka.

Burung gereja meluapkan agensi sang pertapa
hingga menarik hati seorang sutradara untuk membingkainya
menjadi sebuah cerita yang di kemudian hari kutonton pada hari Senin
di senja buta.

Burung gereja ketiga yang kukenal tahun lalu
merupakan ia yang paling pandai bercinta
lewat metafora
menyentuh perasaanmu, perasaanku, perasaan mereka
yang justru hidup dengan mempelajari
apa yang hina
apa yang dusta

Bagaimana kau menilai Nawal el-Saadawi, yang mengajarkanmu
bahwa malu dan kalah adalah jurang ketidaksetaraan,
sedangkan tubuh hanyalah perantara tak abadi belaka…?

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Ukuran Gelas Dapurnya Kecil

Air yang jatuh dari moncong dispenser dapurnya
memenuhi gelas putih yang kupilih tak lebih dari tujuh belas detik.
Di gelas itu tertulis kata “Kementerian Perdagangan”.
Air yang jatuh ke dalam gelas itu kutenggak seraya mengerling ke kiri,
memperhatikan lekuk tubuhnya yang tertelungkup,
masih bermandi berkeringat, dengan napas tersengal-sengal

Ruang kelabu otakku melayang ke sebuah meja
yang dikerumuni orang-orang melingkar.
Mereka hanya berjumlah sembilan orang, yang seharusnya sepuluh
karena satu yang lain telah memilih untuk bekeluarga
bersama seorang perawan yang menguntit dengan menjinjing seekor simpanse.

Kami bukan usai bersenggama; keringat itu adalah jawaban bagi hujan.
Sedari kemarin, lubang atap yang berusaha ia paku itu
menelan sukma yang kami punya untuk menyapa surga.
Rerintik kemarin malah bergerak melawan arus gravitasi,
begitu pula dengan keringatnya, kini, yang mulai melayang-layang
membentuk butiran air di udara.

Sorotan cahaya yang menghantam rambutnya itu
menembus butiran-butiran air di udara yang kusebut tadi
hingga menciptakan biasan-biasan warna.
Biasan yang melambungkan ingatanku dari meja itu
ke sebuah penampakan air mancur di tengah kota,
menyapa bocah-bocah yang melambai-lambaikan tangan ke langit
karena melihat Jean berlari menggiring bola sepak.
“Tega, kau, mengingkari persetubuhan kita!?” katanya.
Katanya di dalam ruang kelabuku.

Tanpa basa-basi, kutekan lebih kencang tombol mesin dispenser dapurnya
agar memenuhi gelas “Kementerian Perdagangan” kurang dari lima detik;
dan tanpa basa-basi, kurebahkan diriku di sampingnya.
Ia mendongak dan menelentangkan sehelai rambutnya di atas kelopak mataku.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Perjamuan di Simpang Fajar

Sayup-sayup kumandang berbahasa lokal mengganggu yang tidur
maka jalan sepanjang lima menit rekaman bunyi digital
akan membentang menganga menutup lubang napas hidung kami,
karena sendal jepit mereka akan berdecit di atas aspal
untuk membeli sebungkus nasi padang

Di dekat portal yang diterangi cahaya temaram,
tiga-empat lelaki tua masih menghisap kretek mereka yang tersisa
dan akan bertanya padamu tentang apa yang hendak kau beli.
Tapi, ia yang berceloteh melalui toa di balik kubah itu
tak mau tahu, asal kau tetap ikut berjalan mencari makan
sebelum fajar mendorong bahasa asing diperdengarkan.
Toa-toa bukanlah kesalahan.
Sejarah yang melompat-lompat yang menjadikannya demikian.

Pada saat daging cokelat bertabur minyak-minyak kental
dipijat-pijat jemari kanan, jemari kirimu akan mengelus
tombol-tombol cahaya yang mengalienasi kenikmatan lidahmu
dari aroma kunyit bercampur tomat dan bawang.
Sementara kumandang dari seberang jalan kian bertalu-talu kencang,
gubuk komersil yang kau gemari sepanjang siang
akan dihampiri bukan hanya oleh dirimu seorang.

Ambang fajar tidak lagi menjadi ruang kontemplasi
karena kunang-kunang telah bersembunyi ke balik semak belukar—
gulma-gulma yang bisa digapai hanya dengan melompati sejumlah trotoar retak.
Mengingatkanku pada gemuruh mesin air
yang tak pernah lelah bernyanyi di samping kursiku
pada waktu-waktu aku berusaha menarik diri
dari layar-layar supra yang melaluinya kau
kini, sedang menyumpahi pesan-pesanku.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Kala Cicak Menggenggam Silet

Mesin air di sampingku, berbunyi bukan dengan irama kantuk,
mengalirkan aroma belerang ke kamar mandi sebelah;
melantunkan gemericik, menyela denting-denting spatula tetangga
dan imajinasi rasa cabai-cabai yang ditumis dengan bawang busuk

Saat dini hari, bunyi keringnya tidak berhenti.
Meskipun karat rantai yang melilit roda sepeda di dekatnya
merupakan tekstur kasar yang patut bersuara,
mengganggu telinga mentalku yang menggantung di tulang punggung;
Meskipun lumut yang membalut batu di bawahnya
merupakan usapan alam yang pantas menari,
menggugah bulu romaku yang tertabur di ujung dedaunan berlapis lumpur;

Semut-semut merah tua berhasil menggerayangi bunyi itu
dengan gerak kaki mereka yang menjadi aura lantas merobek buntut cicak
yang menjulurkan lidahnya di depan mataku.

Mulutku yang berbau asap
kerap gagal melantunkan derap
terhadap udara yang tak kunjung pengap
di peralihan suhu yang menguliti arwah-arwah yang terkesiap

Saat petang hari, asap lembab itu tetap berlari.
Meskipun lapisan terluar dari bangku kayu yang patah tengah-tengahnya
merupakan urat nadi dari dunia benda yang mengapung,
menepuk-nepuk bajuku yang didesiskan kipas rongsok;
Meskipun kulit batang pohon di sekelilingnya
merupakan ruas-ruas basi dari bisik-bisik pujangga buntung,
menebas-nebas rambutku yang dimainkan rayap dari besi bobrok;

Pisau silet hijau tua berhasil membelah pendengaranku
dengan sayatan terhalusnya yang menjadi bahasa dan melubangi layar kertas
yang perlahan memicu api di samping telinga kiriku.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Batik Pintu sebelum Bersetubuh

Garis meliuk yang membayang di lapisan putih
terbingkai sebagai bukan jendela
melainkan pintu besi yang melaluinya langkahku akan dihantarkan
ke sebuah kamar seorang kenalan—perempuan

… untuk bercinta, bersetubuh, katamu…?!

Yang benar saja! Telinga orang-orang di sini
bisa menembus ruang paling kedap mana pun
dan karena mereka, lenguhan indah
hanya akan menjadi petaka;
bukan karena keringat berahi yang menggores di kulit kami
tapi pintu itu semestinya tak perlu dibuka
dengan paksa

Sekarang, orang-orang takut kepada tetangga mereka
karena moncong senapan telah merasuki tubuh-tubuh
mana pun
menjadi suara yang menghalalkan darah
untuk ditumpahkan lewat kekerasan sehari-hari.
Sementara, cita-cita transfigurasi daging sebagai puisi
tinggal menjadi dokumen usang
lagi asing
di seberang samudra—
dan memang dari awalnya itu bukan buah pikiran kita, bukan?

Bayangan liukan garis yang membatiki daun pintu
yang kini terkunci seratus meter di depanku
merupakan modus-modus rupa sepintas waktu
yang membuat pikiranmu berkelana ke belantara gerutu,

… jauh…,
menjauhi apa yang pasti bisa diukir bagi lingkungan semu.

Manshur Zikri
Jakarta, 10 Mei 2019

Tiada Arus pada Tiga Bilah yang Diam

Jaring-jaring yang membola melapisi tiga bilah yang diam
Tiada arus yang kini menghidupkannya
Ia berdiri dalam kematiannya itu, di balik kursi biru
yang kemarin diduduki oleh temanku saat membaca buku

Di sebelah dinding, ada enam orang yang bukan sedang berbisik.
Mereka bicara juga bukan untuk berisik.
Aku tahu, mereka tengah terusik
oleh jerami-jerami masa kini yang harus ditelisik

Di samping tiga bilah yang kini berdiri diam,
puluhan kotak disesaki oleh lembaran-lembaran mendekam—
entah kapan mereka akan dilirik lagi oleh kulit-kulit masam
yang mengeluhkan diri mereka yang kurang asam-garam;
takut akan masa depan suram;
tapi abai terhadap simulasi yang terus menghantam

Di antara keragu-raguan semacam itulah aku juga berdiri,
lebih sering duduk, nyatanya…

Menarik satu PDF tertentu untuk dikaitkan dengan PDF yang lain
demi membuat PDF yang lain untuk menguraikan
PDF yang lain lagi

Tiada arus yang kini mengalir ke tiga bilah diam itu
padahal, sekarang jelas sekali tidak mati lampu.

Jaring-jaring yang membola melapisi tiga bilah yang diam, diammu
Tiada arus yang kini menghidupkannya, napasmu
Ia berdiri dalam kematiannya itu, di balik kursi biru, bekasmu
yang kemarin diduduki oleh temanku saat membaca buku, milikku

Manshur Zikri
Jakarta, 9 Mei 2019

Surat dari yang Melawan Sakral

Pada yang profan kita menakar mimpi
tatkala senandung si muadzin tetangga
mendayu dari balik tembok lembab itu;
Sedang situs-situs yang saling terhubung
di atas layar supra belum juga berikan kepastian
tentang apa yang semestinya kita tolak dari sendu

Entah berapa segi doa itu mereka panjatkan
di antara jejaring kata yang menyapa tangan-tangan
manusia yang kian melebur ke dalam gerak-gerak kecil
di lingkup jemari nan kian tumpul;
Sedang siulku, siulmu, tak jua menyatu
di sepanjang garis takdir kemanusiaan
yang menjeritkan peristiwa pada seluas potongan kuku

Tempurung lututku adalah belahan dunia;
dunia cita-cita yang diseret beban-beban mengambang,
yang menuntut keputusan diri di perlintasan generasi.
Adakah mungkin sekarang kujampikan mesiu
sebagai butir yang melekat di jantung kota
dan kata
demi menjadi sejarah?

“Konyol…!” kata mereka.

Bukankah Dada telah menulis surat kepada yang sehari-hari,
bahwa hasrat untuk melayang ke alam tak terjamah
dalam situasi kemabukan, adalah kesia-siaan?
Kau dan aku justru diminta untuk mencair
di lingkaran rumahan, kantoran, dan meja-meja
yang dua puluh empat jam menyalakan rupa algoritma
semesta yang tak lagi bisa kita sentuh.

Tapi, kepada yang profan juga, akhirnya,
kita tetap menakar mimpi-mimpi.

Manshur Zikri
Jakarta, 9 Mei 2019

Bunyi

Saat kau membaca bunyiku,
akan kau dengar kertasku,
mereka dengar napasmu,
kita dengar yang tak berbunyi itu.

Manshur Zikri
Jakarta, 2018

Puisi Mati Adalah Mustahil

Ini adalah penghabisan
yang menandakan
tak ada habis-habisnya
adalah itu

Puisi belum akan mati!

Puisi-puisi belum akan mengecewakan
hingga kau mati nanti

Maka tak apa
jika kau ingin mati sekarang

Karena ini adalah penghabisan
yang menandakan
ketiadaan dari yang sehabis-habisnya
dari adalah itu

Puisi mati,
adalah
mustahil

Manshur Zikri
Yogyakarta, 27 Oktober 2020