Catatan Awal: Lagu Performatif

Ain’t got no, I got life (1968), yang ditulis ulang oleh Nina Simone berdasarkan lirik dari dua lagu yang terdapat di dalam Hair (1960-an), barangkali, dapat diambil sebagai salah satu contoh “lagu performatif”.

Baca juga: Notabene Generasi Performatif

Mengapa saya menyebutnya—atau mengambilnya sebagai contoh—lagu performatif? Beberapa alasannya, berikut akan saya coba paparkan, menurut pendapat pribadi. Namun, sebelum itu, cobalah simak video Nina Simone menyanyikan lagu tersebut:

Nina Simone menyanyikan lagu ini di London pada tahun 1968.
  1. Mengacu gagasan tekstualnya: Lagu ini mendasarkan visi kemanusiaan—kebebasan dan kehidupan itu—di atas hal-hal konkret. Hidup adalah tubuh; nilai-nilai yang direproduksi dalam lingkup superstruktur, misalnya cinta (ataupun konsep-konsep lainnya dari pranata sosial dan politik), justru dibantah.
  2. Merefleksi dampak kulturalnya, yaitu dengan menimbang sejauh apa transformasi sosial yang diakibatkannya (sekaligus bagaimana wacana lagu itu juga mengkonfirmasi suatu keadaan sosial tertentu). Lagu ini, konon, dihayati sebagai “anthem baru” bagi beberapa kelompok besar masyarakat di dunia dan mewakili sebuah gerakan kultural melawan rasisme.

Baca juga: Bagaimana Karya Seni yang Performatif

  1. Terkait dengan bagaimana lagu itu ditampilkan (dalam hal ini, oleh Nina Simone): Tampilan yang memunculkan efek kekerabatan kolektif. Pertunjukan dari lagu ini demikian disruptif. Bukan saja dari segi romantisasi yang hadir tatkala lagu itu diperdengarkan (di saat konser), tetapi juga dari sisi penghayatan atasnya yang nyaris seperti ibadah, dan pengaruhnya bagi tindakan massa dalam aksi, serta gaungnya hingga ke tataran wacana aktivisme global.
Ini adalah rekaman konser dari Nina Simone menyanyikan Ain’t got no, I got life yang paling saya suka. Tapi sejauh ini, saya pribadi belum mengetahui kapan dan di mana konser ini diadakan. Pihak yang mengunggah video ini belum merespon komentar saya.

Update (ditambahkan tanggal 8 November 2020):

Seseorang menanggapi pertanyaan saya di kolom komentar, dan menyebutkan bahwa konser Nina Simone yang terekam pada video YouTube di atas adalah konser Harlem Cultural Festival, 1969. (Oh, iya, kalimat pertanyaan saya itu keliru, ya…?! Harusnya “hold”, bukan “held”. Wkwkwk)
  1. Mengutip versi sinema (tahun 1979) dari karya teater musikal rock yang berjudul Hair itu, yang mana versi sinema-nya ini bisa kita tarik sebagai konteks lain untuk menyusun interpretasi lanjutan:
Salah satu cuplikan adalan dalam Hair, sebuah film drama komedi musikal antiperang Amerika di tahun 1979, yang dibuat berdasarkan Hair: The American Tribal Love-Rock Musical, sebuah karya musikal Broadway tahun 1968.

Adegan “I’ve got life” juga mengingatkan kita sebuah adegan “perang makanan” dalam Sedmikrásky (atau Daisies), sebuah film eksperimental yang dibuat pada masa Gelombang Baru Ceko (1960-an) oleh salah seorang sutradara avant-garde, Věra Chytilová.

Daisies (bahasa Ceko: Sedmikrásky) karya Věra Chytilová (Cekoslowakia, 1966).

Bagi saya, itu adegan “tanpa tata krama” yang mengganggu kemapanan kelas sosial tertentu. Makanan, dalam konteks tersebut, adalah perpanjangan dari tuntutan tubuh yang konkret, dan ke dalamnya subversivitas disisipkan melalui penampilan yang absurd dan gila, yang secara bersamaan menggemakan suatu krisis (juga suatu kritik) mengenai sistem (dalam hal ini, sistem borjuasi).

  1. Dalam lagu ini, bagian-bagian tubuh dipreteli lewat kata-kata (dari si aku—sang penyanyi). Lagu ini lantas menjadi corong yang demikian subjektif dan personal, sekaligus menyiratkan ide tentang pengalaman. Lagu, atau musik, sejatinya, bukan hanya soal mendengar, tetapi juga soal menubuh. Yang menarik, bagaimana dua lirik (“Ain’t got no” dan “I got life”) itu diurutkan oleh Nina Simone menjadi alur yang dari “tidak punya apa-apa” yang kemudian “menjadi apa-apa”. Bukankah “montase” bait semacam ini sangat mencerminkan gagasan-gagasan Nietzsche mengenai “ke-afirmatif-an” itu…?!
  2. Yang terakhir (penting dan lucu untuk disebutkan): Unsur sastranya mumpuni. Lagu ini puisi, bukan semata kumpulan kalimat ngedumel a la millennial kelas menengah ngehe yang memoles-moles hati tatkala jenuh bekerja sampai esok hari. Karena menubuh, kata-kata tentang tubuh dari Ain’t got no, I got life justru tentang perjuangan sepanjang hayat; bukan angin-anginan seperti lagu-lagu anyar “indie” sekarang: kala masih mahasiswa teriak aktivisme hingga menggunakan kata ‘penis laki-laki’, tapi setelah di dunia kerja berkoar soal kesehatan emosional dan nostalgia, juga melenakan diri sendiri sebagai serangga yang menyembah-nyembah terhadap cinta. Tidak “perform” sama sekali.

Kumpulan Artikel akumassa

Selama sepuluh tahun (2009 – 2019), saya aktif berkegiatan di Forum Lenteng, salah satunya menjadi pengurus akumassa, sebuah Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media yang fokus pada pengembangan pengetahuan literasi media dan praktik-praktik pemberdayaan di masyarakat. Salah satu output dari program ini adalah jurnal daring http://www.akumassa.org yang memuat artikel-artikel jurnalisme warga mengenai narasi-narasi kecil di masyarakat.

Dukung saya untuk terus berkarya dengan memberi donasi melalui PayPal atau Saweria.

Berikut ini adalah artikel-artikel yang pernah saya tulis dan dimuat di jurnal akumassa. Saya mengumpulkan (me-repost) mereka semua di sini untuk memudahkan pembaca yang ingin menyimak narasi-narasi kecil yang diharapkan dapat bermanfaat.

Selamat membaca!

  1. Mencoba Mengurai Benang Hantu
  2. Masyarakat Berdaya untuk Pemberdayaan Pemerintah
  3. Pemberdayaan. Apakah itu?
  4. Kembali Ke Bangsal; Kembali Ke Kehidupan
  5. Aktivasi Ruang Demi Seni Sehari-hari
  6. Wates Bermedia Membangun Desa
  7. Catatan Dari SeMA: Tentang Cermin Tradisi yang Kita Punya
  8. Jurnalis Juga Manusia; Pembaca Harus Lebih Dewasa
  9. Berbagi Ide akumassa di Willem de Kooning Academy
  10. [Tanpa] Basa-Basi Soal Pemilu 2014
  11. Akses Terhadap Pemilu Layaknya Akses Warga Terhadap Perbaikan Jalan
  12. Partisipasi Politik Bukan Semata Coblos
  13. Seni adalah Penelitian; Penelitian adalah Seni
  14. Salah Satu Siasat Melawan Serangan Primetime TV
  15. Kami, Pendatang, Bongkar Senen Sekarang
  16. Zakat Fitrah di Masjid Ar-Rahim
  17. Muslihat OK. Video
  18. Buruh Orasi di Bojongkokosan
  19. Ngobrol di Warung Teh Talua si Rozi
  20. Sesampainya di Warung Kaleng, Ternyata Sampay Memang Kampung Arab
  21. Proses Kegiatan Pelatihan Program Akumassa Bernas
  22. Program Akumassa Bernas
  23. Delman dan Polemik Kemanusiawian Jakarta
  24. Dilarang Memotret e-ticketing
  25. Sumpah Pemuda di Mata Warga RT 10/02
  26. Warga yang Memilih
  27. Jadi Ahli Kartografi Itu Gampang!
    English version: Becoming a Cartographer is Easy!
  28. Catatan Seorang Bukan Demonstran
  29. Selamat Datang, Rumba!
  30. Membaca ‘Membaca’
    English version: Reading the ‘Reading’
  31. Tafakur Agustus-an di Jalanan
  32. Mengapa Jakarta
  33. Pameran Foto Bung Karno 2011: “Aku Melihat Indonesia”
  34. Cerita Kami di Kota Tua
  35. Warnet Bayu
  36. Rekonvasi Bhumi
  37. The Loss of The Real
  38. Oleh-oleh dari Ancol: Pentingnya Strategi Politik Bagi Komunitas
  39. Pasar Malam di Taman Lenteng, Lenteng Agung
  40. SD Pondok Cina
  41. Para Pengamen di Kereta Terakhir
  42. Es Pocong
  43. Jalan Kebo dan Ziarah Malam di Kuburan Syekh Al-Maghribi

“Ko-Ordinat”: Notabene dan Anotasi Sinematik atas Wacana Pinggiran

Artikel ini sudah dimuat di dalam buletin tiga bulanan, The Equator, Vol. 08, No. 02, April – Juni 2020, yang diterbitkan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta.

DALAM ARAS DISIPLIN komunikasi dan kajian budaya, konon dikenal beberapa ilustrasi umum untuk memahami bahasa, salah satunya adalah dengan memahami model isyarat pada APILL (alat pemberi isyarat lalu lintas) yang bekerja menyampaikan makna tertentu, melalui suatu kerja representasi, kepada para pengendara motor di jalan. Menurut Stuart Hall (1997), sebagai sebuah sistem penandaan, lampu lalu lintas bisa menandakan makna “stop”, “jalan”, ataupun “bersiap-siap” bukan karena warna “merah”, “hijau”, dan “kuning” itu sendiri, tetapi justru karena adanya pengetahuan [dari budaya] kita tentang fakta bahwa ketiga lampu itu masing-masing memiliki spektrum yang berbeda dan, yang terutama, ketiganya diletakkan dalam susunan dan urutan serta posisi tertentu. Merujuk para konstruksionis, ia menyatakan bahwa “perbedaan antara Merah dan Hijau-lah yang menandakan” (Hall, 1997, hlm. 27).

Sengaja saya menukil ilustrasi teoretis di atas agar dapat, terlebih dahulu, menggiring arah pembahasan kita tentang upaya pencarian makna baru dari hubungan antara wacana “pusat” dan “pinggiran”. Tentu saja bukan dengan maksud untuk mengungkit-ungkit pembedaan sifat dari keduanya (dalam pengertian dikotomis) ataupun untuk mengesampingkan potensi dialektis yang sangat dimungkinkan dalam relasi mereka satu sama lain. Akan tetapi, di dalam esai ini, saya ingin mencoba memaparkan refleksi mengenai gagasan “Pinggiran”—yang mendasari topik kuratorial Biennale Jogja XV 2019: Do We Live in the Same Playground? —dengan suatu anotasi sinematik terhadap sebuah karya yang juga turut dipamerkan pada acara seni dua tahunan Yogyakarta tersebut. Karya yang hendak saya elaborasi adalah Letters from Panduranga (2015), sebuah film experimental yang menggunakan pendekatan esaistik, yang dibuat oleh Nguyen Trinh Thi, seorang sutradara dan seniman media yang berasal dari Hanoi, Vietnam.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

“Ko-ordinat” sebagai Titik Berangkat Gagasan Emansipasi

Terkait tema Biennale, apa yang perlu kita garisbawahi terlebih dahulu—sebagaimana kuratorial Biennale Jogja 2019 sudah tegaskan juga—ialah tentang keberadaan “pinggiran” di dalam kontestasi dan hubungan-hubungan kekuasaan: ia kerap digunakan untuk mengafirmasi keberadaan “pusat”. Namun, lewat sudut pandang itu, kita juga bisa berujar bahwa “yang pusat” menjadi berarti justru karena ada “yang pinggiran”, dan begitu pula sebaliknya (perlu kita akui) bahwa “yang pinggiran” menjadi penting karena “yang pusat” itu tetap ada. Tapi yang menarik, membedakan (atau menegaskan keberadaan) keduanya masing-masing dengan cara tersebut, malah menggaungkan suatu nuansa kesetaraan—dari segi filosofisnya, tentu saja, yang bisa menggeser (atau membuat kita beranjak dari) pembagian “ordinat” vs “sub-ordinat”—yang mana sebenarnya ada domain ketiga yang sering terlupakan, yaitu “super-ordinat”—ke pengertian yang lebih bersifat seimbang, yaitu tatkala semuanya dilihat sebagai hal-hal yang terletak pada derajat yang sama, dan hubungannya dapat dipahami sebagai suatu bentuk “ko-ordniat”.

“Ko-ordinat” dalam hal ini tentu saja murni dari pemboncengan gagasan “konformitas” karena “keselarasan” yang dimaksud bukanlah dalam arti menafikan keberadaan “konflik”, terlebih-lebih gagasan yang mengarah pada penghilangan kesadaran [pertentangan] kelas.

Publikasi Biennale Jogja XV 2019: “Do We Live In The Same Playground?”

Imajinasi tentang “yang pinggir menyeimbangi yang pusat” ini, dalam hemat saya, sebetulnya memiliki orientasi pada peluruhan pandangan stereotipikal kita mengenai “yang pinggir selalu tunduk (atau tidak berdaya) terhadap yang pusat”, ataupun labelisasi tentang “yang pinggir yang selalu memberontak”—atau bersifat “histerikal” (meminjam istilah para kurator Biennale Jogja 2019)—kepada yang pusat. Sudut pandang ini, dengan kata lain, perlu diketengahkan sebagai suatu upaya yang bisa mengafirmasi potensi berdaya dari apa yang selama ini dianggap “subordinat” atau “pinggiran”, alih-alih melanggengkan nilai superioritas dari “yang pusat” atau yang [super]ordinat itu.

Demikianlah, sebagaimana dramaturgi pameran Biennale Jogja XV (Do We Live in the Same Playground?, 2019), terdapat tiga kategori pengalaman terkait topik tersebut, yaitu “pengalaman subordinasi”, “pengalaman resistensi”, dan “pengalaman emansipasi”, dan gagasan tentang “ko-ordinat” yang saya maksud dalam esai ini, agaknya, merujuk pada model pengalaman yang ketiga. Berkaitan dengan ulasan atas karya, kita pun patut bertanya: bagaimana seniman mengartikulasikan pengalaman-pengalaman emansipatif ke dalam karya yang menekankan bahasa metrik—mempertimbangakan hitungan-hitungan puitik…?

Anotasi Sinematik atas Gagasan “Ko-ordinat”

Kembali kita kepada contoh di awal, Stuart Hall menegaskan bahwa makna bersifat “relasional”—antara tanda dan konsep yang ditetapkan lewat sandi tertentu (Hall, 1997, hlm. 27). Menarik konteksnya ke dalam kajian lingustik, terutama mengenai sandi, telah lama disepakati bahwa salah satu faktor utama dari suatu keterbacaan sandi adalah aspek sekuensial yang memungkinkan adanya celah antara satu huruf ke huruf yang lain. Pada celah-celah inilah relasi itu sesungguhnya bekerja sebagai sistem penandaan dan bergulir di dalam rezim bahasa. Setiap elemen pada sandi berdiri sama rata, saling ber-“ko-ordinasi”.

Dalam sejarah pemikiran mengenai sinema (atau bahasa film), dikenal apa yang dinamakan montase (seni menyusun gambar), yang dalam beberapa segi juga mengamini model sekuensial yang bekerja pada sandi. Pada visual gambar bergerak, misalnya, atau film, sebuah shot dapat dianalogikan seperti sebuah “kata”, sedangkan sebuah frameshot terdiri dari kumpulan frame—bisa disejajarkan dengan sebuah “huruf”. Maka, sebuah skena (kumpulan shot) adalah “kalimat”, sementara sebuah sekuen (kumpulan skena) adalah sebuah “paragraf”.

Namun, dalam mazhab Montase Rusia, teoretisasi Eisenstein—teori montase yang paling banyak diacu dan terbuktikan secara praktis—cenderung beranjak dari logika persandian semacam itu. Ia justru—dalam rangka menerapkan pendekatan materialisme ala Marxis—melihat bahwa montase bekerja secara utuh dalam pengertian “dialektika Hegelian”. Sebuah shot jika diikuti oleh shot yang lain, menciptakan suatu tegangan yang akan memancing lahirnya makna baru sebagaimana halnya hubungan “tesis-antitesis-sintesis”. Pengertian relasi dalam pendekatan teoretik semacam ini masih bersifat “mengikat” (sangat lekat dalam suatu asoiasi) dan mengerdilkan kemungkinan bagi suatu image (atau shot) untuk bisa menjadi bebas dan berdiri sendiri. Selain itu, penekanannya ialah pada “kualitas kontras” antar dua gambar dan sering kali juga terjebak pada hubungan yang “subordinatif”.

Sumber gambar: Sergei Eisenstein, “A Dialectic Approach to Film Form”, dalam Sergei Eisenstein, Film Form (Harcourt Brace Jovanovich, 1977).

Pendekatan lain yang lebih kontekstual dengan gagasan ini, saya kira, ada pada pemikiran Dziga Vertov (1919) tentang “teori interval”. Dalam pandangan teoretisnya, Vertov menekankan “hubungan ritmis” antara dua image (atau shot, atau frame) terlepas sejauh apa “kualitas kontras”-nya, yang diintervensi ke dalam suatu pola kinestetik. Sebab, menurut Vertov, dengan memanfaatkan permainan ritmis terhadap peluang yang dihadirkan “intervalitas” antar-image (yaitu, celah-celah dari setiap image), penonton justru akan merasakan sensasi kinesthesia—resolusi kinetik.

Adegan penutup dalam film Man with a Movie Camera (1929) karya Dziga Vertov, yang dianggap oleh kebanyakan kritikus atau pengkaji film sebagai contoh dari penerapan teori interval-nya Vertov. (Catatan: film ini, aslinya, adalah film bisu.)

Mengacu Vertov, jika kita menaruh perhatian yang besar terhadap “hubungan” (yang juga berarti “celah di antara”) dua image, maka sebagai suatu deretan objek yang berturutan, kedua image tersebut akan terlepas dari beban mengenai kualitas substansi yang dikandungnya. Dan dalam situasi itu, sebuah gambar, jika merupakan bagian dari suatu sekuens, akan tetap berhubungan dengan gambar yang lain, tetapi keberadaannya tidak terikat dalam sebuah asosiasi. Hubungan antar-image pun menjadi horizontal dan setara. Selain itu, dengan peluangnya untuk bisa saling berdiri sendiri meskipun dalam satu sekuen, akan menciptakan keterhubungan yang (bisa jadi) tidak nyambung, atau mempunyai daya untuk menghasilkan diskontinuitas yang unik. Meminjam istilah Deleuze (Deleuze, 1989), yang terjadi ialah keterhubungan ulang dari citra-citra yang independen alih-alih terasosiasi. Dengan kata lain, sebuah celah, atau interval, antara dua objek pada dasarnya juga membuka “dialektika” (upaya penemuan makna baru) meskipun tidak melulu dalam konsepsi Hegelian (lihat juga pembahasan teoretik dari Rascaroli, 2017).

Refleksi Gagasan “Ko-ordinat” pada “Pinggiran” Biennale Jogja

Dengan melandaskan argumen pada pemaparan saya di dua subjudul sebelumnya, saya hendak menyatakan bahwa konsep “Pinggiran” pada Biennale Jogja, agaknya, akan lebih bermakna jika kita menyikapinya sebagai sesuatu yang dihubungkan secara setara dengan “Pusat”. Sikap inilah yang menunjukkan kekuatan “berdaya” daripada terjebak dalam jargon “pemberdayaan” (mengejar kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan). Sikap ini mengandaikan suatu situasi bahwa setiap elemen dalam sebuah sistem memiliki dayanya masing-masing yang dengan demikian menawarkan spekulasi tentang situasi yang seimbang. “Keseimbangan” yang semacam itulah yang membuat “wacana tanding” menemukan tujuan politisnya secara subtil.

Dari sekian banyak karya yang dipamerkan pada Biennale Jogja XV yang berlangsung tanggal 20 Oktober hingga 30 November 2019, menarik untuk meninjau kembali karya Nguyen Trinh Thi yang berjudul Letters from Panduranga (2015).

Baik dari segi modus pengungkapan secara visual maupun pendekatan naratif, Nguyen menggaungkan gagasan “ko-ordinat” yang sudah saya coba paparkan di atas. Menggunakan model epistolari (berbalas surat), film ini bermain-main dengan apa yang patut disebut sebagai “ruang-antara” (lihat Rascaroli, 2017, hlm. 151-154), yang dengan kata lain, ia menaruh perhatian yang tinggi terhadap “hubungan”.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

Sebagaimana juga termuat dalam sinopsis film ini (Thi, 2015), disebutkan bahwa Letters from Panduranga membingkai fakta sosial tentang kebijakan pemerintah Vietnam yang, baik secara langsung maupun tidak, mengancam kelangsungan hidup masyarakat pribumi dan budaya Hindu matriarkal kuno Champa. Film ini bermain-main pula dengan hubungan antara “yang fiksi” dan “non-fiksi” (yang dengan kata lain menunjuk langsung rezim kategorisasi sinema berbasis pandangan subordinatif tentang mana yang lebih unggul, film fiksi atau dokumenter). Selain itu, film ini juga bermain dengan resepsi penonton mengenai “latar depan dan belakang, antara penggambaran yang dekat dan pemandangan yang jauh…”, serta menawarkan refleksi mengenai “posisi seniman” (Thi, 2015, para.2) yang kerap berahadapan dengan “situasi antara”: ketika terlibat dengan masyarakat di lokasi produksi, dan ketika harus memutuskan untuk pergi (menyudahi kegiatan produksi, dan meninggalkan mereka); juga permainan tentang keterhubungan ulang antara masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta antara pengalaman terhadap kolonialisme dan kenyataan teraktual dari hari-hari sekarang (Thi, 2015, para. 3).

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

Apa yang menarik dari film ini ialah keputusannya untuk menggunakan pendekatan “esaistik” sebagai gaya ungkap. Karakteristik esai cenderung menawarkan makna terbuka daripada simpulan yang bersifat tertutup, yang pada derajat tertentu bisa saja menyiratkan kebimbangan personal yang kritis dari sisi si pengarang/sutradara, tetapi secara bersamaan tetap menunjukkan optimismenya yang kuat untuk tetap mempertahankan ekspresi. Ambiguitas sikap ini pun pada akhirnya mengafirmasi permainan atau eksperimen dalam tataran konseptual tentang—lagi-lagi—hubungan antara “yang pasti” dan “tidak pasti”, antara “hal berbasis bukti” dan “spekulasi”. Keterbukaan gaya ungkap dari esai film, dengan demikian, membuka interpretasi yang begitu luas bagi penonton. Sebagaimana esai—dalam pengertian Theodor W. Adorno (Adorno, 1991, dalam Rascaroli, 2017, hlm. 5)—“esai film” juga mengamini “pertentangan terhadap zaman”, menolak apa yang telah mapan—dalam hal ini adalah bahasa/montase sinema.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

Letters from Panduranga berada pada ranah itu. Alih-alih menghadirkan konflik yang bersifat dialektis ala Hegelian, ia menggunakan pendekatan “ko-ordinat” dengan sangat cemerlang. “Ko-ordinat” dalam arti bahwa setiap elemen di dalam filmnya memiliki daya untuk berdiri sendiri, tetapi hubungan dari kesemuanya berlangsung secara horizontal dan tetap merangsang pemaknaan baru bagi penonton.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

Lihatlah, misalnya, adegan ketika kamera menyoroti para lelaki Cham dalam bentuk split screens (‘layar terbagi’), yang sengaja diatur menampilkan adegan (dengan sudut ambilan gambar) yang sama persis tetapi dalam momen durasi yang berbeda beberapa detik. Sejumlah orang dengan sadar melihat ke kamera, sedangkan yang lain sengaja menghidari tatapan kamera. Dua realitas yang terbagi ke dalam dua layar tersebut menegaskan kesetujuan Thi atas karakteristik esai yang cenderung menjukstaposisi setiap elemen daripada mengikatnya ke dalam suatu bangunan deduktif yang bersifat menjelaskan. Seiring dengan gerak kamera, suara laki-laki memaparkan tentang sudut pandang media arus utama mengenai posisi kaum pribumi (atau kaum pinggiran; kaum subordinat) yang kerap “terdikte” oleh kamera. Menyusul dengan kalimat tersebut, ialah suara perempuan (suara Thi sendiri) yang menyiratkan kritisismenya terhadap kontrol kamera yang dipegang oleh seorang sutradara.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara laki-laki yang membahas sudut pandang media massa arus utama.

Aspek eksperimentasi pada Letters from Panduranga justru mencolok dalam hubungan ketiga elemen itu,[1] yang jika dideretkan dalam satu persandian sekuensial, justru menciptakan suatu diskordansi. Alih-alih saling men-subordinat atau men-superordinat satu sama lain, masing-masing elemen dalam adegan ini berdiri dalam hubungan horizontal yang sama rata, tetapi merangsang kritisisme kita, penonton, tentang kerja ideologi kolonial (yaitu: pembangunan nuklir dan kerja aparatus film—kamera) terhadap warga pribumi yang terancam hilang. Dengan konstruksi sebagaimana contoh dalam adegan tersebut, Thi justru melakukan kritik diri, yaitu tentang posisinya sebagai “pemegang kuasa (lewat kamera)” terhadap subjek yang ia rekam, tetapi juga posisinya sebagai pihak yang memiliki ikatan dengan kelompok masyarakat Cham terhadap rezim pemerintah. Dengan kata lain, Thi menempatkan dirinya sendiri di “ruang-antara” dan berposisi dalam relasi yang “ko-ordinatif” alih-alih membawahi dan membawahkan yang lain.

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara perempuan yang menyinggung soal kuasa memegang kamera.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara perempuan yang menyinggung soal kuasa memegang kamera.
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot]. Adegan tentang suara perempuan yang menyinggung soal kuasa memegang kamera.

Perlakuan yang sama, tentang indikasi bahwa Thi bukan saja menguak latar subjek-subjek yang ia rekam, tetapi juga menginterogasi dirinya sendiri sebagai pembuat film, sekaligus investigasi terhadap ketidakadilan yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah Vietnam, juga dapat kita lihat pada adegan-adegan diam (“potret sejumlah subjek”). Modus seperti ini, sebagaimana diakui oleh Thi sendiri, memang menjadi ciri khasnya dalam berkarya: “…saya menjelajahi hubungan kekuatan antara si perekam dan subjek yang direkam karena kamera mempunyai semacam kekuatan atas subjeknya.” (Thi, Curiosity and the role of the artist: Vietnamese artist and filmmaker Nguyen Trinh Thi – interview, 2017).

Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].
Letters from Panduranga (2015) by Nguyen Trinh Thi. [Snapshot].

Menutup esai ini, saya ingin menyampaikan bahwa kehadiran Letters from Panduranga di Biennale Jogja XV 2019: Do We Live in the Same Playground? barangkali menjadi salah satu tancapan penting bagi kita untuk tetap menguatkan pemikiran mengenai usaha untuk menyetarakan esensi “Pinggiran” terhadap yang “Pusat” tanpa menghilangkan kesadaran kita sendiri mengenai adanya pertarungan kelas yang tetap harus diperjuangkan. Namun, Letters from Panduranga sudah memprovokasi kita, bahwa usaha penciptaan “wacana tanding” tidak perlu dilakukan secara histeris, tetapi juga bisa lewat gumam-gumam naratif yang puitik. ***


Endnote:

[1] Catatan tambahan (ditambahkan ketika tulisan ini dimuat di blog): ketiga elemen tersebut, yaitu visual yang terbagi dua, suara laki-laki, dan suara perempuan.


Bibliografi:

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London, Thousand Oaks & New Delhi: Sage Publications & Open University.

Arham Rahman, A. A. (2019). Do We Live in the Same Playground? In I. N. Anshari (Ed.), Do We Live in the Same Playground? (hlm. 31-34). Yogyakarta: Yayasan Biennale Yogyakarta.

Deleuze, G. (1989). Cinema 2: The Time-Image. (H. T. Galeta, Terj.) Minneapolis: University of Minnesota Press.

Thi, N. T. (2015). Letters from Panduranga (2015). Diakses dari situs web-blog Nguyen Trinh Thi.

Adorno, T. W. (1991). The Essay As Form. In T. W. Adorno, & R. Tiedemann (Ed.), Notes to Literature (S. W. Nicholsen, Trans., Vol. I, hlm. 3-23). New York: Columbia University Press.

Thi, N. T. (17 Desember 2017). Curiosity and the role of the artist: Vietnamese artist and filmmaker Nguyen Trinh Thi – interview. (A. Radar, Pewawancara)
Rascaroli, L. (2017). How the Essay Film Thinks. New York: Oxford University Press.

Ketikan Keempat Para Pengikat Kata di Tahun 2019

Artikel ini sudah dimuat lebih dulu di situs blog Ikatan Kata, dengan judul yang sama, beberapa menit sebelum diterbitkan di situs ini.

INI HARI PERTAMA saya, Manshur Zikri (seorang pengikat kata pemula), membuka halaman dashboard Ikatan Kata. Lanjut membuka “add new post”, saya diingatkan dengan tampilan halaman penyunting klasik. Waduh! Saya sudah terlanjur terbiasa dengan tampilan block editor yang sekarang; tampilan Classic Editor malah membuat saya “gugup”.

Tidak lama setelah kemunculannya di tahun 2018, fitur block editor (sebutan lain bagi nama resminya: Gutenberg WordPress Editor) yang digunakan WordPress sekarang ini sempat membuat dunia per-blog-an di “WordPress Universe” geger. Tidak sedikit yang menghujatnya karena dianggap membuat ribet pengalaman yang sederhana tapi asyik dari kegiatan menyunting tulisan. Dulu, saya juga merasakan keribetan itu. Beberapa kawan saya yang berprofesi sebagai administrator website dan programmer pun mengeluhkan hal yang sama.

Tapi belakangan, ketika sudah mulai terbiasa dengan block editor, saya akhirnya mengakui bahwa Gutenberg memang lebih nyaman digunakan daripada Classic Editor. Selain itu, fitur-fiturnya juga lebih lengkap dan dapat digunakan dengan cepat.

Sekarang, saya jadi penasaran lagi, Para Pengikat Kata selain saya lebih suka yang mana? Saya akan senang membaca tanggapannya nanti.

***

CUKUP LAMA JUGA saya mencari-cari ide untuk artikel pertama saya di Ikatan Kata ini. Sempat terpikir untuk membuat puisi, seperti Sunarno, meskipun saya tidak merasa hujan datang terlambat beberapa hari belakangan. Kalau air dari langit itu turun lebih awal, bisa-bisa saya masih tak akan beranjak dari kasur hingga detik ini. Saya sekarang sudah duduk di meja kerja, mengetik lagi seperti kemarin sore, membiarkan jemari saya untuk terus saja menari sekenanya di atas keyboard sembari menimbang-nimbang apakah sebaiknya saya menulis suatu hal yang filosofis juga, seperti Nomina? Hm…! Sulit juga, apalagi saya tak punya banyak waktu hari ini untuk membuka, setidaknya, dua atau tiga halaman artikel referensial supaya tulisan saya tidak ngawur.

Akhirnya, sampai di sini, hati saya cukup mantap untuk melanjutkan ide yang sempat melintas di kepala ketika menulis paragraf di atas: meninjau beberapa artikel bertagar ketik4 yang sudah ditulis oleh Para Pengikat Kata sebelum saya, untuk saya cerna dan tanggapi (kalau perlu). Eksekusi dari ide ini mungkin akan memakan waktu juga, sepertinya… Tapi, tak apalah! Hitung-hitung untuk sedikit lebih mengenal mereka lewat karya. Bukankah Ikatan Kata memang dibikin untuk wadah belajar bersama?

***

Memang mengikuti syarat sebuah soneta (empat belas baris; empat bait), Hasrat Yang Membara-nya Andy Riyan memancing pertanyaan saya: apakah benar si penyair (yang menggunakan nama akun jejakandi) ini sudah menulis 43 Soneta (saya menduganya dari “Soneta 43” yang disematkan pada judul puisi)? Kalau itu benar, saya tertarik ingin membaca semua soneta gubahannya. Mungkinkah situs blog miliknya memuat lebih banyak jenis puisi? Saya kembali penasaran. Tapi, saya tidak menemukan nama “Andy Riyan” di daftar anggota Ikatan Kata sehingga tak tahu alamat url dari blog si penyair. Atau, jangan-jangan, saya lalai karena melewatkan namanya di daftar itu?

Alangkah serunya jika setiap penulis menampilkan nama aslinya ke publik, sebagaimana yang tertera di daftar anggota, sehingga memudahkan kita yang ingin berkunjung ke setiap blog pribadi yang dikelola masing-masing penulis. Saya pikir, kegiatan saling berkunjung blog ini adalah hal terpenting untuk menguatkan silaturahmi dan juga membangun kemesraan. Persis seperti refleksi zaki19482 atas pesan eyangnya, bahwa mesra itu penting.

Kegiatan blogwalking sering kali memakan banyak waktu. Beberapa orang berpendapat bahwa nge-blog itu malah bisa merugikan karena menyita waktu yang seharusnya bisa kita gunakan untuk kegiatan yang, katanya, lebih bermanfaat. Pendapat semacam itu tentunya kolot sekali, bukan? Ya, saya setuju bahwa kita tidak boleh membiarkan waktu terbuang sia-sia, sebagaimana pendapat Mia di Ketik #4 miliknya. Karena itu, agar nge-blog ini berkah, saya sungguh-sungguh memanfaatkannya sebagai waktu untuk benar-benar membangun pertemanan yang tulus demi menggapai cita-cita tentang lingkungan yang appreciative dan supportive. Tulus, penuh apresiasi, dan saling dukung; dalam arti bahwa pertemanan yang lepas dari berbagai bias, termasuk bias gender sekalipun. Pertemanan yang dibangun lewat kepercayaan dan penghargaan atas karya yang dibuat oleh masing-masing Para Pengikat Kata.

***

Nah, ngomong-ngomong soal gender, saya punya masukan untuk tulisan @dianpurnamasari1903 yang berjudul “Gender dan Wanita“. Terlepas dari isinya, perlu saya sampaikan bahwa penggunaan kata “wanita” sebenarnya sudah dihindari oleh para aktivis perempuan dan kaum feminis di Indonesia. Sebab, kata “wanita” justru kontraproduktif dengan gagasan kesetaraan gender. Konon, “wanita” berasal dari gabungan kata “wani ditoto” (‘berani diatur’), yang mana hal ini dianggap sebagai buah dari konstruksi masyarakat patriarkis dalam menentukan peran perempuan di hadapan laki-laki. Sebagai gantinya, kaum feminis dan aktivis perempuan menyerukan penggunakan kata “perempuan” (karena dianggap berasal dari kata “empu”, yang berarti ‘orang yang sangat ahli’ atau ‘gelar kehormatan’) karena jauh lebih menggaungkan makna penting dari gerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan haknya. Memang, ini semua merupakan perihal politik bahasa. Tapi, sebagai sebuah strategi, atau sikap dan pernyataan kultural, penggunaan kata “perempuan” di segala produk dan objek artikulasi mengenai kesetaraan hak dan gender, dianggap sebagai salah satu hal yang tidak boleh diabaikan. Menurut saya, tidak ada salahnya juga mengganti judul itu menjadi “Gender dan Perempuan” supaya terasa lebih josss!!!

***

Sampai di sini, saya sempat tertegun sejenak ketika membaca paragraf kedua di artikel KETIK #4 yang ditulis @ulfahheroekadeyo: “Bagaimana nantinya nasib Indonesia? [di tahun 2020]

Seandainya saya melompat ke masa lalu, ke masa ketika ia menulis kalimat itu, saya membayangkannya sekarang: saya akan membisikkan kalimat yang, bisa jadi, akan terdengar berlebihan di telinganya: “Dunia mengalami pandemi; manusia akan berperang melawan virus mematikan!”

Dan kita semua tahu sekarang bahwa kalimat saya itu bukanlah bualan. Pandemi benar-benar mengkhawatirkan. Orang tua beberapa kawan saya saja, yang tinggal di Jakarta, sudah dinyatakan positif Covid 19. Mereka kini tengah berjuang agar penyakitnya tidak parah, juga berharap bisa sembuh. Bukan hanya teman-teman saya, kabar itu juga mengagetkan dan mengkhawatirkan saya pribadi. Situasi hari ini memang benar-benar menakutkan!

Kapan pandemi ini akan berakhir?!

Tapi, di tengah-tengah kekhawatiran kita akan pandemi, tak ada salahnya juga jika kita masih bisa menghibur diri, dan menjadikan situasi yang menakutkan ini sebagai inspirasi untuk aksi komedi. Ya, nggak? Tertawa secara kritis, kira-kira begitu. Anda mungkin akan paham maksud saya kalau sudah menonton video jenaka dari Kristo Immanuel yang berjudul “Kalau 2020 adalah manusia” ini:

***

JUJUR SAJA, SAYA senang dengan gaya menulis Iqbal Syauqi (nama akunnya: “samuqi”) dalam “Paguyuban Busway Ciputat-Kampung Rambutan“. Bisa dibilang, kalau kita mengacu kepada twist yang ada di bagian akhir, ini adalah contoh “fiksi berbingkai” (yaitu: fiksi yang dibingkai dengan latar nyata si penulis). Dengan kata lain, sejak awal kita sudah membaca sebuah fiksi yang—di dalam “dunia kepengarangan si Iqbal” (untuk konteks tulisannya itu)—semata imajinasi di kepala “Si Saya”. Paguyuban itu hanyalah imajinasi Si Saya, yang mana Si Saya adalah tokoh imajinatif (sudut pandang orang pertama) dari Iqbal.

Tipis sekali sebenarnya perbedaan gaya ini dengan tulisan-tulisan autobiografis. Tapi, di akhir tulisan, si penulis membuka “isi dapur” imajinasinya: dia sedang mengimajinasikan tokoh “Si Saya” (atau “Si Aku”) yang sedang berimajinasi pula tentang paguyuban. Kompleks!

***

PADA SERI PUISI Faris Fauzan, saya justru tergelitik dengan komentar Fahmi Ishfah (yang menanggapi dengan membuat puisi pula). Pada bagian bawah, Fahmi menyarankan si penyair untuk mengoreksi beberapa kata. Katanya: “Pada pos ‘Puan Puisi’ karyamu ini ada kata-kata yang mesti dikoreksi. Seperti kata ‘meniti’ bukan ‘menitih’, ‘di mana’ bukan ‘dimana’, ‘di sini’ bukan ‘disini’, dan ‘dirundung’ bukan ‘dirunding’.”

Kalau boleh saya berpendapat, kita mempunyai hak untuk membebaskan puisi dari aturan-aturan baku tata bahasa (paradigma ini berkembang di negeri kita terutama sejak Chairil Anwar menerapkan konsep Licentia Poetica atau Lisensi Puitika dalam karya-karyanya yang, pada hari ini, sering menjadi rujukan bagi eksperimentasi puisi dalam ranah sastra Indonesia). Puisi adalah ruang untuk menyimpangkan bahasa. Yang tidak di pisah, bisa saja saya tulis menjadi duakata yang ditulis sebagai satu kata. Aturan bahwa “di sini” harus menyesuaikan sifat bakunya sebagai keterangan tempat, sebenarnya, tidak lagi berlaku di dalam puisi. Karena puisi bukan dunia bahasa lazim, melainkan dunia eksperimen bagi subjektivitas pengarang. Adalah hak mutlak seorang penyair untuk menulis kata dan mengungkai kalimat sebebas yang ia inginkan; kata-kata bagi penyair bisa menjadi rupa-rupa liris dan ekspresif yang melanggar sama sekali ejaan-ejaan yang disempurnakan itu.

Jadi, menurut saya, “menitih” dalam konteks puisi Faris Fauzan, tidak perlu dikoreksi, begitu juga dengan “dimana” dan “disini” yang ia gunakan, jika memang si penyair sejak awal sudah meniatkannya begitu. Kalau “dirunding”…? Hm…, saya rasa itu kesalahan teknis robotik dari mesin WordPress saja, yang mengubah secara otomatis kata itu menjadi “-runding” daripada “-rundung”…? Atau, jemari si penyair tanpa sengaja terpeleset di atas keyboard yang ia gunakan…? Siapa tahu, kan?!

***

SAMA SEPERTI ADIK saya, Rahma Frida punya hobi memelihara kucing juga, rupanya, ya…?!

Sampai sekarang, terutama sejak gandrung media sosial dan kerap lalai menghabiskan waktu menatap layar-layar selebar telapak tangan, saya tak habis pikir bagaimana mungkin ada fenomena kucing peliharaan bisa akrab dengan anjing peliharaan. Sungguh tidak mungkin. Setidaknya, hal itu belum pernah menjadi mungkin di pengalaman hidup saya. Belum pernah saya temukan ada orang (teman, kerabat, kenalan, siapa pun yang saya tahu) yang memelihara kucing, bisa membuat kucingnya akrab dengan anjingnya. Bagaimana caranya???

Frida mungkin bisa berbagi pandangannya kepada saya tentang fenomena itu. Apakah mendidik kucing adalah faktor mutlak bagi orang yang memutuskan untuk memelihara kucing? Bagaimana caranya mendidik kucing? Paman saya pernah berkata bahwa kucing itu lebih licik daripada anjing. Konon, jika anjing setia menemani majikannya yang sakit sampai mati, kucing justru setia untuk menanti kematian sang majikan. Katanya, sih, begitu… saya tidak tahu apakah itu hanya bualan atau memang begitu…? Ini intermezo saja, sebenarnya. Tapi, saya jadi ingat percakapan saya dengan ayah.

“Lai tau ang, a bedo kuciang jo anjiang?” tanya ayah saya. (‘Kamu tahu apa bedanya kucing dengan anjing?’)

Saya menggeleng saja sewaktu ia tanya begitu.

“Kalau anjiang, tulang dagiang dari rumah sabalah dibaok larinyo ka mari,” kata ayah saya, menjelaskan. “Kalau kuciang, tulang dapua wak yang dibaoknyo lari dari rumah ko.” (‘Kalau anjing, tulang daging dari rumah tetangga dibawa lari olehnya ke sini. Kalau kucing, tulang dari dapur kita yang dibawanya lari dari rumah ini.’)

Dari percakapan itu, ayah saya seperti ingin menyatakan bahwa kucing lebih licik daripada anjing. Saya ingat, percakapan ini terjadi tatkala rumah saya dulu sedang menjadi “rumah singgah” bagi kucing-kucing jalanan. Seberapa pun sinisnya ayah saya dengan kucing-kucing, itu tak menyurutkan rasa kasih sayang adik saya terhadap kucing-kucing jalanan. Semakin hari, semakin banyak saja kucing datang ke rumah, dan entah bagaimana menjadi peliharaan adik saya. Sampai-sampai saya pun ikut jengah. Hahaha!

***

ARTIKEL SELANJUTNYA, YANG berjudul Pengalamanku cara membiasakan Membaca Buku, yang ditulis oleh Edwin Firmansyah, sepertinya, menjadi artikel terakhir yang saya “colek” di sini. Detik ini, ruang kerja saya sudah gelap. Saya harus segera bergegas. Biasanya, jam-jam segini, saya akan bersiap membuka buku untuk dibaca-baca.

Membaca buku, dalam kasus kegiatan sehari-hari saya, bukan lagi semata hobi, tapi justru menjadi kewajiban. Saya harus membaca apa pun, sebanyak mungkin, karena tuntutan pekerjaan. Menjadi seorang kurator seni dan aktivis kebudayaan, mau tidak mau, harus berwawasan luas. Cara cepat untuk mendapatkannya, selain bergaul sebanyak-banyaknya dengan orang, adalah dengan membaca buku. Buku apa saja.

Sekarang ini, saya sedang berusaha menuntaskan membaca buku Everything You Always Wanted to Know About Curating* (*But Were Afraid to Ask) karya Hans Ulrich Obrist (2011). Ini buku lama, sebenarnya. Bisa dibilang, saya terlambat mendapatkan buku ini. Artinya, saya termasuk dalam kategori orang yang telat membaca buku penting dari Obrist mengenai medan seni rupa kontemporer dunia itu. Tapi, tidak apa-apa! Bukankah lebih baik terlambat tahu daripada tidak tahu sama sekali?

Saya pun, seperti Edwin, ingin merekomendasikan buku Obrist yang lain, berjudul Ways of Curating (2014)—yang sudah lebih dulu saya tuntaskan dua tahun lalu ketika melakukan riset selama tiga minggu di London. Rekomendasi ini saya tujukan kepada orang-orang yang punya hobi atau minat dengan kesenian. Apalagi yang suka foto-foto di pameran-pameran seni rupa kontemporer untuk content yang instagrammable. Di situ, kita akan tahu betapa seni tidak sesederhana mengartistik-artistikkan peristiwa, objek, dan kata-kata saja. Seni, pada dasarnya, adalah sebuah pengetahuan yang penting, sepenting pengetahuan kedokteran. (Buku ini juga ada versi interaktifnya, loh! Benar-benar keren!)

***

NAH, AKHIRNYA, TULISAN saya sudah begitu panjang! Jadi, saya sudahi dulu. Kepada teman-teman yang saya tag di artikel ini, saya dengan senang hati akan membaca tanggapan kalian semua (baik dalam bentuk komentar ataupun artikel lainnya di blog kalian masing-masing). Semoga artikel ini bisa menjadi pemicu bagi kita untuk semakin produktif menulis.

Oh, iya! Rencananya, untuk KETIK berikutnya, saya akan melakukan metode yang sama: men-tag beberapa Para Pengikat Kata, sebagai cara saya untuk bisa bertegur sapa dengan teman-teman semua.

Ditunggu, ya! #asyek

Tentang Jaringan Blogger

Tidak lebih dari seminggu yang lalu, saya berbincang dengan Izul, rekan kerja saya, yang juga seorang blogger—situs blog yang ia kelola bernama Sharelist. Saat itu, kami membayangkan bagaimana rasanya membangun suatu jaringan pertemanan para penulis blog, yang di dalam jaringan itu, para blogger bisa saling dukung satu sama lain. Saya lantas menemukan hal menarik di website Maria Frani Ayu ketika, pada malam harinya—karena sudah tak ada pekerjaan lain yang perlu saya selesaikan—saya meninjau satu per satu akun blogger yang terpampang di daftar halaman Reader-nya WordPress. Blogwalking—aksi yang sudah lama tak saya lakukan (padahal 11 tahun lalu aksi ini adalah kegemaran saya)—malam itu membuat saya menyadari suatu pola: beberapa orang sudah saling kenal, terlihat dari bagaimana mereka berinteraksi melalui kolom komentar ataupun dari intensitas mereka memberi apresiasi berupa “Like” pada sejumlah terbitan para blogger yang saya ikuti. Saya pun jadi tahu, karenanya, bahwa ada komunitas blogger bernama Ikatan Kata.

Dengan gembira, segera saja saya mengirim alamat url blog itu via WhatsApp kepada Izul, mendorongnya untuk ikut bergabung. Namun, sepertinya, malam itu, Izul belum benar-benar tertarik dengan komunitas ini, selain juga karena—saya duga—perhatiannya sedang tersita penuh ke rencananya untuk mengadakan semacam giveaway dalam rangka merayakan 2 tahun aktifnya Sharelist. Tapi, justru karena saya tahu bahwa dia akan mengadakan giveaway itulah, saya pikir, penting baginya untuk bergabung ke Ikatan Kata. Komunitas ini berpotensi untuk membuka jaringan pertemanan bagi sesama penikmat musik.

Artikel ini sengaja saya buat dalam rangka menuntaskan tantangan bertajuk KETIK yang diberikan oleh pengurus Ikatan Kata kepada para Pengikat Kata (istilah bagi anggota komunitas tersebut). Tantangannya: membuat artikel ajakan bergabung ke komunitas ini. Nah, jadi wajarlah kemudian kalau misalnya di sini, Anda (para pembaca budiman sekalian) akan mendapati nama-nama seperti Maria (yang punya webblog juga di sini), Dhuha, Asti, Michan, Dimaz, Dini, Mika, Ade, dan Afifah, serta beberapa nama lain yang sempat saya kenal melalui WordPress: Ulan, Audhina, Ziza, Umi Sholikhah, dan Bang Ical. Semuanya sengaja saya tag dan beri hyperlink, semacam menjadi “notifikasi” untuk mereka, agar “terdampar” ke rumah Ikatan Kata dan tertarik untuk bergabung.

Saya kurang tahu juga, sebenarnya, apakah Ulan (yang lebih-kurang sebulan lalu saling merespon komentar dengan saya terkait ulasan esai yang ia tulis) dan Audhina, Ziza, Umi Sholikhah, serta Bang Ical (yang keempatnya pernah saya “colek” di artikel saya, berjudul “Enter Title Here“, gara-gara mereka me-“like” beberapa artikel di blog saya; kami pun berkomunikasi di kolom komentar) sudah bergabung di Ikatan Kata, atau belum. Saya sendiri belum melihat profil anggota komunitas ini satu per satu, jadi tidak tahu siapa-siapa saja yang sudah dan belum bergabung. Bagaimanapun situasinya, tidak ada salahnya, toh, jika saya menghubungkan mereka semua agar bisa saling berkorespondensi melalui artikel ini?

Saya pribadi penasaran, bagaimana komunitas blogger semacam Ikatan Kata ini akan berkembang dan beradaptasi di masa depan, ketika platform-platform media sosial semakin beragam dan canggih…? Di masa lalu, belum pernah kita menyaksikan frekuensi para blogger yang mendadak jadi superstar dan orang kaya baru semasif fenomena YouTuber hari ini, bukan? Ya…, memang ada yang menjadi superstar, sebutlah salah satu contohnya: si penulis Kambing Jantan itu—yang lawakannya tak lucu sama sekali di telinga saya (dan malah tidak sedikit banyolannya yang mengarah kepada perendahan kelompok tertentu)—yang sekarang juga menjadi salah satu YouTuber “papan atas” di Indonesia. Tapi, Raditya Dika hanya satu dari sedikit pegiat blog yang kala itu mendapat atensi publik luas dan berkesempatan melebarkan karirnya di industri hiburan. Dulu, kisah seperti penggagas SUCRD ini tidak banyak; kuantitasnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan banyaknya YouTuber terkenal di zaman menjelang akhir periode generasi langgas ini.

Di satu sisi, hari ini, peluang untuk menapak kisah seperti si pengarang Kambing Jantan itu sudah semakin terbuka lebar, tetapi kondisi ini beriringan pula dengan semakin tingginya tingkat persaingan di antara para penulis-penulis baru. Terlepas dari politik “arus utama vs alternatif” di dunia industri buku/sastra, saya sering kali merenung: bagaimana kemudian kita memikirkan dan mengupayakan wacana tekstual (di ranah webblog) yang bisa bersaing, dari segi kontennya, dengan wacana audiovisual (dari ranah platform-platform pengumpul video dan image, semacam TikTok, Instagram, dan YouTube itu)? Sebenarnya, ide seperti Sharelist yang dikerjakan Izul itu menarik, dan berpeluang besar untuk membangun ruang yang kritis. Tapi mungkin kita butuh gerakan yang bisa saling dukung. Ini semua, tentu saja, dalam upaya untuk lebih menghidupkan budaya literasi dan tulis-menulis, daripada sekadar latah menjadi orator-orator kelas karbitan yang gandrung beropini secara lisan di YouTube tapi kurang memiliki kedalaman.

Maria (istri saya) beserta teman-temannya (Asti, Dini, Mika, Ade, dan Afifah), sudah pasti, belum bergabung ke komunitas blogger Ikatan Kata. Saya tahu itu. Mereka semua seniman, kecuali Ade dan Afifah, yang bekerja sebagai petani (tapi pernah juga mengerjakan sebuah proyek yang terkait dengan seni berbasis masyarakat). Mereka ini orang-orang yang produktif dan juga mengerti wacana-wacana budaya tulisan, tapi kurang punya intensitas yang tinggi untuk mengurus website mereka (mungkin karena kesibukan mereka—dan saya paham betul kesibukannya). Dimaz dan Michan lebih rajin menerbitkan post baru karena, memang, isi dari website mereka berkaitan erat dengan profesi mereka sekarang ini. Saya kira, jika mereka semua bersedia bergabung dengan Ikatan Kata, maka pertemanan di antara pegiat blog ini akan menjadi lebih menarik. Saya yakin itu.

Alasan lain yang “mengganggu” kepala saya adalah, ketakjuban saya secara personal kepada seorang seniman, Gretchen Andrew. Ia dikenal sebagai “search engine artist”, yang dengan sadar menjadikan strategi SEO sebagai medium artistiknya. Menurut saya, si seniman ini berhasil menunjukkan bagaimana seni bisa selalu relevan: dia mengelabui teknologi (mengelabui Google, dalam hal ini) tanpa “meninggalkan” dunia literasi kata dan kepiawaian tekstual, dan mampu mendemonstrasikan kemungkinan-kemungkinan lain dari dunia per-media-sosial-an hari ini. Bukankah proyek-proyeknya terasa begitu inspiratif? Kau bisa melihat salah satu proyeknya yang berjudul Frieze Los Angeles itu, kalau tidak percaya!

Saya rasa, Ikatan Kata—dan komunitas blogger lainnya yang sudah lebih dulu aktif—dan korespondensi semacam ini, bisa menjadi salah satu peluang untuk melangkah lebih dekat ke cita-cita tersebut. Mungkin, ini bisa menjadi jawaban untuk rasa penasaran Izul tentang “jaringan para blogger” yang kami obrolkan beberapa hari lalu.

Ya, salam kenal, teman-teman semua yang sudah saya tag di artikel ini! Hahaha!

Esai Chairil Anwar: “Hoppla!”

Esai ini ditulis oleh Chairil Anwar di Pembangunan Th. 1 No. 1, 10 Desember 1945. Silakan unduh pindaian dokumen aslinya di sini (sumber dokumen: Mahardika Yudha dan Divisi Arsip Kultursinema)

COLLAGE NO. 1, 2020, karya Mardi Al Anhar. Karya ini adalah bagian dari proyek GREGOR, DEHUMANIZE COLLAGE yang diselenggarakan oleh MILISIFILEM Collective, tanggal 20 Juli – 20 Agustus 2020. (Image courtesy: Seniman dan MILISIFILEM).

Hoppla!

Bagi seorang hanya bisa menulis menurut kepercayaan yang sudah mendarah-nanah dalam dirinya, bukan menurut kepercayaan yang masih diharapkannya.

Ch. A.

JIKA kita memaling ke belakang, kita dapati “Pujangga Baru” terlahir dalam 1933 bersama dengan terebutnya oleh Hitler kekuasaan di Jerman, tetapi majalah ini selama hidupnya hanya memuat satu artikel dangkal tentang fasisme! Di samping itu melengganglah “Pujangga Baru” dengan nomor-nomor pertamanya berisi esai yang tidak berdasarkan pengetahuan (dalam arti seluasnya!) kesusasteraan, meneriakkan “pembaruan”. Tetapi oleh karena memang ada intensiteit dalam golakan mulanya, tersembur jugalah beberapa ikatan sajak. “Jiwa Berjiwa” oleh Armijn Pane: tidak satu sajak pun dari kumpulan ini yang tinggal lagi dalam ingatan. “Tebaran Mega” oleh Sutan Takdir Alisjahbana: 2 atau 3 sajak duka ketika kematian istrinya turut menyembilu hati. Beberapa pula dari Or. Mandank yang bersahaja menggores. Puncaknya dalam gerakan Pujangga Baru selama 9 tahun adalah Amir Hamzah dengan prosa-prosa liris, sajak-sajak lepas, 2 ikatan sajak: “Buah Rindu”, “Nyanyi Sunyi”, salinan dari beberapa sastrawan-sastrawan Timur yang ternama, disatukan dalam “Setanggi Timur”. Kata kawan-kawan seangkatannya Amir Hamzah dapat pengaruh dari pujangga-pujangga Sufi dan Parsi. Tetapi yang perlu diperhatikan bagi saya ialah, bahwa Amir dalam “Nyanyi Sunyi” murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh “kemerdekaan penyair” memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru! Puisi Amir dalam “Nyanyian Sunyi” ialah yang dinamakan “puisi gelap” (duistere poezie). Maksudnya: kita tidak akan bisa mengerti Amir Hamzah, jika kita membaca “Nyanyi Sunyi” sonder pengetahuan tentang sejarah dan agama, karena kalimat-kalimat Amir di sini mengenai misal-misal serta perbandingan-perbandingan dari sejarah dan agama (ke-Islaman). Kalau kawannya Takdir menempatkan Amir sudah di tingkatan “internasional”, saya hanya bisa menerima kegembiraan ini dalam arti: puisi yang dilahirkan Amir bisa digabungkan pada hasil pujangga-pujangga lain di masa ini. Karena puisi Amir juga meminta “pengetahuan”, tenaga rohani si pembaca. Dalam waktu belakangan dari Pujangga Baru menjejer lagi seorang, Karim Halim, yang menuliskan 4 atau 5 sajak untuk kenangan, dan Asmara Hadi dengan kelantangan pekikan perjuangan, sepoi lagu cintanya bisa dicatatkan juga. Selain itu beberapa kritik serta polemik yang tidak berdasarkan pengetahuan dan kepribadian (personality) mencoba meributkan kehidupan “Pujangga Baru” yang sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapan kebudayaan. Jadi: “Pujangga Baru” selama 9 tahun tidak memperlihatkan corak, tidak seorang pun dari majalah tersebut sampai kepada suatu “perhitungan”.

Maka datanglah “Kulturkammer” Jepang dengan nama “Pusat Kebudayaan” yang “memberi kesempatan tumbuhnya kesenian” dengan garis-garis Asia Raya—jarak—kapas—memperlipat ganda hasil bumi—romusha—menabung—pembikinan kapal, dan lain-lain. Dan terjelma pulalah pasukan seniman muda yang dengan patuhnya tinggal dalam garis-garis tersebut, tidak sedikit pun berdaya meninggalkannya!!! Tidak mereka tahu bahwa beratus seniman-seniman di Eropa (Jerman, Italia), di Jepang sendiri, menentang dengan pertaruhan jiwa, yang meninggalkan negeri yang dicintainya karena aliran kebudayaan paksaan ini. Yang berpendirian: lebih baik tidak menulis daripada memperkosa kebenaran, kemajuan.

Sekarang: Hopplaaa! Lompatan yang sejauhnya, penuh kedararemajaan bagi Negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata, kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan rasa penghargaan, Mimpi, Pengharapan. Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata adalah These sendiri!!

Dan waktu lampau cuma mengajar kita: didesakkannya kita ke kesadaran yang ada memang dalam diri sendiri; harga-harga kerohanian yang sudah terobek-robek kita raba kembali dalam bentuk sepenuh-penuhnya.

Dunia—terlebih kita—yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan.

Kemerdekaan dan Pertanggungan Jawab adalah harga manusia, harga Penghidupan ini. Dan apa saja pun tidak akan membikin kita rela menekan diri sendiri lagi……

Hopplaa!! Melompatlah! Nyalalah api murni, api persaudaraan bangsa-bangsa yang tidak akan kunjung padam……

Hopplaa! Mari kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna. Dunia sempurna …………

CHAIRIL ANWAR.

Peta Majas Media @masdalu (Bag. 5)

Esai ini saya buat dalam rangka penelitian kuratorial dan usaha mewacanakan praktik artistik seniman Dalu Kusma yang membuat karya dengan medium media sosial Instagram, @masdalu. Esai ini sudah pernah dimuat di situs web @masdalu pada tanggal 8 Juni 2019.

Pada esai kali ini, saya ingin menyinggung praktik Dalu Kusma lainnya dalam mengelola @masdalu, yang menurut saya tak kalah berarti dibandingkan post-post yang ia unggah di bagian feed. Tampak di permukaan, bahwa, praktik yang saya maksud tersebut, yang sudah tentu performatif (sebagaimana telah saya coba ulas di bagian sebelumnya[1]), dilakukan oleh Dalu dengan sederhana, sesederhana mengikuti tren para netizen yang senang berbagi hal-hal yang bukan hanya berupa dokumentasi pengalaman terkait sebuah peristiwa, tetapi juga merupakan preferensi kultural yang bersifat personal—entah itu dalam hubungannya dengan kegiatan konsumsi, narsistik, ataupun niatan baik untuk mendistribusikan informasi. Yang sedang saya bicarakan ialah kritisisme @masdalu di fitur Instagram Stories.

Untuk mengulas posisi seni dari Instagram Stories @masdalu, pertama-tama saya akan mencoba menguraikan sebuah spekulasi tentang kemungkinan adanya perbedaan persepsi yang tercipta—sebagai dampak dari mekanisme komunikasi—dari tampilan halaman konten Instagram Stories dengan halaman Profil sebuah akun Instagram. Spekulasi ini mengacu kepada pola yang ada pada semua akun Instagram yang terjangkau dalam pengamatan saya selama ini, mulai dari para influencer hingga akun-akun biasa yang saya ikuti. Dengan kata lain, spekulasi ini belum tentu bisa berlaku pada keseluruhan kasus yang ada di dalam jagatraya Instagram, tetapi tetap layak untuk dipikirkan. Selanjutnya, spekulasi terhadap persepsi tersebut akan menjadi dasar kita untuk melakukan spekulasi kedua, yaitu mengenai motif-motif yang mungkin mengiringi tindakan seorang netizen dalam mendistribusikan konten di Instagram Stories. Dua spekulasi ini, nantinya, akan dikaitkan dengan motif @masdalu dan bagaimana Dalu Kusma membangun suatu modus berbahasa dalam rangka mengganggu daya tangkap “penonton” Instagram Storiesnya. Praktik dalam melakukan modus berbahasa itu juga akan saya lengkapi dengan menarik konteks wacana mengenai “oprek-oprek teknologis” yang berkembang di ranah praktik seni media di Indonesia.

Keberadaan Sementara dan Minimal, untuk Berada Lebih Lama dan Maksimal

Sejumlah ahli, dan para influencer yang juga kemudian dianggap “ahli”, yang menaruh perhatian tinggi terhadap media sosial, berpendapat bahwa Profil sebuah akun merupakan representasi terpenting untuk memahami bagaimana seseorang membuat identitas diri (persona—tanpa huruf “l”) di dunia maya, untuk membangun “brand” tertentu yang dilekatkan pada dirinya sebagai seorang netizen. Pada Instagram, apa yang disebut “profil” ialah tampilan depan sebuah akun yang di dalamnya termuat segala konten yang diunggah oleh pemilik akun. Profil adalah etalase yang sangat menentukan, yang secara tersirat juga menunjukkan kualitas manner seorang netizen dalam mengelola, menata, dan mencitrakan dirinya ke khalayak dunia maya. Bagi mereka yang terobsesi menjadi influencer, misalnya, Profil adalah area vital.

Namun, kita juga kerap menemukan para pengguna atau netizen Instagram aktif yang justru senang menghadirkan Profil-nya dalam keadaan kosong melompong, atau hanya berisi konten dua hingga lima posts saja. (Perhatikan: saya bukan sedang menyebut akun-akun bodong, tetapi akun-akun aktif).[2] Pada beberapa akun, saya perhatikan, kekosongan ini terasa mempunyai maksud, dan bukan dalam arti si pemilik akun tersebut malas mengunggah post baru. Indikasi itu bisa disadari—tentunya sejak kemunculan fitur Arsip—dengan memperhatikan akun-akun yang dengan sengaja menghilangkan beberapa post yang sudah pernah dibagi di halaman Profil, dan setelah berselang beberapa waktu, post tersebut dimunculkan lagi (dengan jumlah like dan comment, serta keterangan tanggal unggahan yang sama). Tindakan itu seakan menyampaikan pesan bahwa si pemilik akun tengah “menata ulang” tampilan Profil. Atau, keinginannya untuk menunjukkan beberapa konten saja, sesuai mood. (Fenomena ini juga telah dibingkai Dalu menjadi salah satu konten text-image @masdalu).

Menurut saya, “perombakan etalase” merupakan aksi representatif, aksi yang juga memuat makna tertentu, begitu juga dengan aksi mempertahankan “profil yang sepi”. Agaknya, “profil sepi” ini tidak berada dalam pola-pola tingkah laku netizen kebanyakan (yang mengincar penambahan jumlah follower lewat tampilan Profil persuasif dan konsisten), tapi lebih merupakan pencitraan strategis untuk membangun wibawa di dalam jaringan pertemanan yang terbatas, semacam konkretisasi virtual dari peribahasa “diam itu emas”. Jika pendapat ini, ternyata, tidak berlaku pada sebagian netizen aktif ber-“profil sepi” lainnya, kita bisa bersandar pada pendapat kedua: Instagram lebih dimanfaatkan sebagai semata-mata wahana untuk menonton, memantau, atau mengintip, daripada sebagai ruang berbagi konten. Di sini, kita pun akan memiliki dugaan bermata dua yang saling berkaitan. Pertama, dugaan tentang penggunaan Instagram sebagai “ruang menonton” belaka; kedua, dugaan tentang antisipasi seorang netizen agar tidak menjadi bahan tontonan/pantauan netizen lain sehingga pola tampilan Profil yang dipilihnya ialah “profil sepi”, dan karena itu, ia pun seolah-olah hadir ke dunia maya dalam rupa atau tindak-tanduk yang sama dengan sosok para akun “observer”.

Tafsiran saya yang, mungkin di mata Anda, terasa “mengada-ada” ini, saya ajukan sebagai uraian yang cukup relevan untuk berspekulasi mengenai psikologi netizen Instagram—yang sudah pasti berbeda dengan netizen Twitter dan Facebook atau platform online lainnya. Tafisran ini merupakan refleksi berdasarkan pengalaman saya menghadapi sejumlah teman dan kerabat yang memiliki kecenderungan demikian. Misalnya, beberapa teman mengaku kepada saya bahwa mereka dengan sengaja menghapus atau men-deaktivasi akunnya untuk sementara waktu, dengan alasan: ingin “diet media sosial”. Persoalan “diet media sosial” ini, akhirnya, jadi problematis karena pada kenyataannya, “diet” yang dimaksud justru dilakukan dengan orientasi yang bertolak belakang dengan makna “diet” yang semestinya; “diet” malah menjadi penegas hasrat eksistensial. Dengan kata lain: menarik perhatian dengan menghilangkan atau menarik diri selama beberapa waktu dari dunia maya. Menurut saya, dalam derajat yang lebih rendah (atau justru lebih tinggi…?), tampilan “profil sepi” juga merepresentasikan maksud yang sama halnya, atau setidaknya akan memicu efek yang kurang lebih sama.

Dengan menggarisbawahi dugaan yang disebut di atas, kita bisa mengembangkan pemikiran mengenai aspek lain dari “estetika snapshot[3], terkait dengan konsepsi tentang pengadaptasian logika “photo snapshot[4] ke dalam metode penyajian (pameran) konten di media sosial, bahwa “tindakan sekejap” bukan hanya berlaku dalam proses produksi konten, tetapi juga pada tahap penyajiannya—“pameran berdurasi sangat singkat”. Konsep inilah yang agaknya mendasari cara kerja platform Snapchat (rilis tahun 2011, lalu ditiru oleh Instagram untuk fitur Instagram Stories pada tahun 2016): selain mendorong pengguna untuk membuat konten visual atau teks dengan metode snapshot, Snapchat juga memfasilitasi “pameran pesan yang hanya bisa diakses dalam waktu 24 jam”. Gaya platform ini tentunya menghasilkan suatu haluan baru pada praktik media berbagi pesan, sebagai kekhasan baru di media sosial, karena yang kemudian bernilai adalah momen, dengan kata lain: ‘kesesaatan’, ‘kesejenakan’, atau ‘momentary’ (tapi dalam arti yang tidak sepenuhnya sepadan dengan ‘evanescent’) dari aksi membaca dan melihat. Fitur tersebut bukan lagi hanya soal “momen yang terekam” (yang diolah menjadi pesan), tetapi juga “momen di saat menonton/membaca” pesan itu sendiri. Fenomena ini, menurut saya, memancing penafsiran baru kita terhadap konsep “keterbacaan” (readability), “ketertontonan” (spectacleable-­ity), ataupun “ketereksibisian” (exhibition-able-ity).

Kaitannya dengan spekulasi yang saya sampaikan tadi, kesesaatan konten menjadi manifestasi dari bagaimana konsep “ketidakterpantauan” bisa diterapkan sebagai sebuah pendekatan atau metode untuk menegaskan eksistensi. Secara psikologis, pendekatan ini bermain-main di ranah sifat dasar manusia—“rasa ingin tahu” atau “rasa penasaran”. Kepenasaranan itu dikelola dalam rangka menarik atensi. Pesan diolah ke dalam bentuk yang minimal (baik dari segi rupa maupun durasi) dan sesederhana mungkin (baik dari segi pencerminan tingkah laku maupun tindak komunikatif lainnya). “Minimalisasi” pesan adalah pesan itu sendiri, sehubungan dengan usaha pembangunan identitas persona si pemilik akun. Dalam konteks tersebut, upaya untuk “berada secara sebentar” dan “berada secara minimal” merupakan strategi utama yang dilakukan untuk dapat berada lebih lama dan lebih maksimal. Snapchat, atau fitur Instagram Stories, memfasilitasi ‘kesesaatan’, ‘kesejenakan’, atau ‘momentary’, yang dibutuhkan sebagai “cara berada yang baru” atau “cara tampil yang baru” di media sosial. Pada akhirnya, etalase atau “ruang pamer konten” yang menekankan “kesementaraan” tersebut berdampak pada sifat tampilan (atau pen-display-an) konten yang lebih dinamis—yang mana hal ini, menurut saya, perlu kita rayakan sebagai model komunikasi yang lumayan menyegarkan.

Motif Snapshot

Penjelasan Schroeder mengenai estetika snapshot menunjukkan bahwa visual-visual yang dibuat lewat cara snapshot sesungguhnya mengandung “gaya yang mempunyai maksud” (intentional style), apalagi ketika fenomena ini menjadi khas di media sosial. Snapshot, yang mengedepankan tampilan realistis dan natural, dihadirkan [seolah-olah] tanpa gaya. Namun, bagi Schroeder, justru “ketiadaan gaya/langgam” (the absence of style) itu sendirilah yang merupakan gaya/langgam. Sebagai sebuah strategi komunikasi, ini sudah umum diterapkan oleh para pengiklan.

Contohnya, iklan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berupaya “meng-ikon-kan” ujaran “Udah…? Udah…?”—kesalahan di depan umum (yang terjadi di luar skenario) sengaja ditampilkan sebagai strategi untuk menjerat perhatian penonton. Ya, sayangnya, iklan PSI justru terlihat sangat konyol dan menggelikan. Akan tetapi, iklan tersebut adalah salah satu yang mewakili kecenderungan dari fenomena ini. Penyertaan bloopers ke dalam konten telah menjadi strategi umum yang diterapkan oleh banyak pengelola konten kontemporer. Lihatlah konten-konten para YouTuber!

Di konten-konten mereka, kita akan menyadari bagaimana sesuatu yang “tidak siap” adalah bagian dari “yang [sebenarnya] sudah dipersiapkan”, atau sengaja diambil untuk memperindah narasi. Saya kira, bloopers pada dasarnya mengikuti logika snapshot itu: “…the absence of style is itself a style”[5]unreadiness is itself a readinessunplanned is itself a plan.

Jika kita mengikuti logika semacam itu untuk menafsir pola-pola komunikasi di fitur-fitur Stories (Instagram, WhatsApp, Facebook, Line, Snapchat, dll.), kita juga bisa memperbanyak ragam motif dari snapshot, antara lain: “yang sesaat” adalah “[untuk] tidak sesaat”, “yang tidak serius” adalah “serius itu sendiri”, “yang tidak terencana” adalah “rencana utama”, “yang sampingan” adalah “yang utama”. Melalui cara pikir semacam ini, kita bisa mempresumsikan lebih jauh motif-motif seorang netizen; mengapa ada banyak netizen yang lebih sering memilih Instagram Stories—yang memfasilitasi langgam snapshot dan kesesaatan itu—dibandingkan dengan fitur Post utama. Terlepas dari fenomena akun-akun Instagram yang memang sengaja menyajikan trivia-trivia (seperti akun-akun semacam @bikinilfil) dan menggunakan fitur Post sebagai ruang penyajian utama mereka, kita bisa sama-sama bersepakat bahwa Instagram Stories umumnya lebih sering dipilih sebagai kanal untuk berbagi trivia-trivia personal dari masing-masing pemilik akun Instagram, yaitu konten-konten yang dirasa kurang pas untuk diletakkan di tampilan Profil, atau announcement tertentu yang, jika diletakkan di halaman Profil, justru akan merusak tampilan keseluruhan dari grid yang ada. Dengan kata lain, Instagram Stories mewadahi hasrat kita untuk bisa berbagi shitpost dan konten-konten impulsif, atau kebutuhan untuk mendistribusikan pesan-pesan advertorial, atau publikasi lainnya, yang bisa ditampilkan dalam rentang waktu tertentu dan akan terhapus (tak bisa diakses) setelah 24 jam kemudian. Melalui cara ini, wibawa Profil bisa tetap terjaga meskipun kita sering “nyampah”. Lagipula, fitur Instagram Stories dilengkapi dengan beragam animasi dan augmentasi yang akan mempercantik “sampah” yang hendak kita bagi.

Yang juga menarik untuk diperhatikan, kebutuhan untuk berbagi shitpost atau trivia-trivia itu sebetulnya merupakan perpanjangan dari hasrat untuk bisa tetap aktual (atau mengaktualisasikan diri), yang artinya, juga berporos pada kebutuhan untuk tetap bisa exist. Nah, di sini, esensi (atau nilai pesan) bukan lagi hal yang utama, karena eksistensi (basis pengalaman dari naratif yang dibagikan) telah menjadi hal yang lebih dikedepankan. Barangkali, banyak dari kita yang pernah berpikir seperti ini: “Orang tak perlu tahu banyak tentang saya!” (tapi, sadar tidak sadar, di dalam hati, kita sebenarnya juga berharap: “Mereka semua harus tahu saya ada di mana, apa yang saya lakukan, atau betapa update-nya saya dengan berbagai hal!”). Maksud-maksud semacam ini adalah “sampah”, dan sampah tidak pantas berada di depan. Namun, “sampah-sampah” itu sayang dibuang, karena banyak di antaranya yang justru berkesan, lucu, penting-tidak-penting, dan… “Tidak, tidak, tidak… saya tidak akan mau menaruhnya di profil Instagram saya…!” begitulah kiranya kita berujar dalam keadaan perang batin. Maka, Instagram Stories adalah jawabannya.

“Dunia Instagram Stories” pun memiliki ilusinya sendiri. Data mengenai jumlah orang yang melihat unggahan kita di Instagram Stories kerap kita jadikan acuan sebagai tolok ukur pencapaian popularitas kita—meskipun kita sudah tahu bahwa itu hanyalah data-data berdasarkan algoritma mesin cyber, dan juga mafhum bahwa tak semua orang benar-benar memperhatikan apa yang kita bagi di Instagram Stories. Skip, skip, skip! Tapi, tindakan follower yang hanya “melewati” itu, tetap tercatat oleh mesin media sosial yang kita operasikan, yang nantinya akan menguraikan pola tingkah laku kita dan para follower kita ketika menggunakan media sosial, lalu secara otomatis mesin itu akan mengajukan sejumlah pilihan atau feedback yang mau tak mau mesti kita tanggapi. Kemunculan iklan (atau konten bersponsor) di antara daftar konten Instagram Stories yang terpampang di bagian teratas feed Instagram, pada dasarnya, bisa muncul karena mekanisme semacam itu. Demikianlah, hasrat eksistensial kita di media sosial dan kerja otomatis mesin media sosial tersebut, memang, saling memengaruhi pola dari proses pembangunan persona masing-masing netizen.

Lebih jauh, dalam situasi pola komunikasi Instagram Stories ini, sebagai contoh, kita pun bisa menambah upaya untuk menetapkan definisi dari persona yang kita inginkan: kita bisa berbagi video atau foto tentang ruang tongkrongan favorit, foto makanan yang berselera, buku yang dibaca, tingkah laku gokil diri sendiri atau orang-orang terdekat, kelucuan binatang peliharaan, keseruan dari peristiwa yang sedang kita saksikan, hingga screenshot atau screen-video dari judul lagu di Spotify. Itu semua merupakan strategi-strategi yang akan memengaruhi persepsi orang lain dalam menilai kualitas persona kita. Namun, konten-konten itu agaknya mulai dianggap sampingan dan justru mengganggu kewibawaan tampilan halaman profil. Akan tetapi, jika itu semua ditumpahkan ke Instagram Stories: it’s fun! Jika ada orang yang terganggu dengan “kecerewetan” kita, mereka cukup melakukan swipe untuk melompat ke akun lain atau cukup melakukan “Skip, skip, skip!”. (Dan jikalau mereka masih protes, maka kita: “Hellooooow…?!”) Artinya, Instagram Storie telah membuat semuanya baik-baik saja.

Motif @masdalu

Menanggapi fenomena tersebut, Dalu Kusma bermain-main di area yang menjadi kontradiksi antara “kesementaraan” dan “ketidaksementaraan”, antara “yang sesaat” dan “yang terus ada”, antara “yang tidak terencana” dan “yang direncanakan”, antara “yang sampingan” dan “yang utama”, antara “tampilan yang tampak realistis” dan “tampilan yang dipersiapkan”, antara “visual yang tampak tanpa gaya” dan “visual yang dibuat dengan penggayaan kreatif”, juga antara “apa yang akan di-skip” dan “apa yang kemudian tidak di-skip”. Menerapkan metode yang terus dikembangkan Dalu sejak ia pertama kali mengelola @masdalu, yaitu bermain kata-kata, Instagram Stories @masdalu sedang mengolok-olok kita. Dari sekian banyak pilihan konten “sampah”, ia memilih fenomena “berbagi screenshot atau screen-video Spotify” sebagai bahan kritiknya. Kumpulannya dapat kita lihat pada sorotan Instagram Stories @masdalu yang berjudul “Sing a Song”.

Sederhana saja: Instagram Stories @masdalu yang bertajuk “Sing a Song” ini berisi daftar tampilan halaman Spotify dari lagu-lagu, yang mana masing-masing judul lagu telah diubah menjadi kata atau kalimat lain, tapi secara bunyi masih berkaitan dengan judul asli. Di satu sisi, distorsi yang dilakukan Dalu masih mengikat kita pada konteks judul asli atau isi lagu, sedangkan pada sisi yang lain, ia juga menarik kita ke konteks baru yang bersifat humor. Namun demikian, apa yang saya coba tangkap dan akan saya uraikan di bawah, mengenai praktik tersebut, justru tidak sesederhana apa yang sudah saya paparkan di paragraf ini.

Pertama, konteks kritisisme “Sing a Song” @masdalu terhadap pola keseharian netizen penggandrung Instagram Stories, terkait usaha pendefinisian diri lewat pencitraan berbasis preferensi kultural, misalnya musik. Meskipun selera orang berbeda-beda satu sama lain, kita bisa menyatakan bahwa pilihan lagu—apa pun jenisnya—adalah vokabulari yang sering kali diharapkan dapat merepresentasikan kualitas diri (atau kualitas persona). Karenanya, playlist lagu menjadi penting sebagai salah satu “wajah terdepan” seseorang. Tidak jarang, kita menemukan ketertarikan tertentu pada diri orang lain melalui playlist lagu yang ia punya—atau kita meyakini bahwa orang lain akan menilai diri kita (sesuai dengan apa yang kita harapkan) berdasarkan playlist lagu yang kita punya. (Kasus ini, tentu saja, berlaku untuk mereka yang memang senang memamerkan playlist. Pada beberapa kasus, ada orang yang justru menganggap playlist lagu bukanlah hal penting meskipun nyatanya ia mempunyai kualitas preferensi lagu yang tidak sembarangan).

Menurut saya, komedi yang terkandung pada “Sing a Song” @masdalu justru merupakan kritik yang menyasar netizen daripada menyasar si pemilik lagu. Pada Instagram Stories, orang-orang tidak berbagi playlist, tapi hanya satu lagu pada setiap unggahan; mengesankan tindakan sepintas, tanpa persiapan, yang sambil lalu, “snap-message” (atau mungkin istilah yang lebih tepat ialah “snap-song”…?). Mewakilkan nuansa keseharian—“betapa sehari-harinya lagu ini bagi saya”—kesekejapan menjadi bumbu jitu untuk exist secara memukau. Kecenderungan semacam itulah yang, saya pikir, dikritik di dalam “Sing a Song” @masdalu.

Kedua, spekulasi Dalu terhadap reaksi follower yang akan melihat daftar “Sing a Song” @masdalu. Saya menduga, agaknya Dalu tengah menggoda baik mereka yang senang memajang lagu maupun mereka yang tidak senang berlama-lama menghabiskan lima belas detik menyimak konten Instagram Stories orang lain. Maksud saya, Dalu sedang menggoda narsisme netizen sekaligus pengabaian netizen (yang tercermin lewat tindakan “Skip, skip, skip!”). Dengan cara apa? Dengan menjadikan distorsi tekstual sebagai bahasa, yaitu memanfaatkan logika typo, atau penambahan/pengubahan kata, yang diterapkan pada penulisan judul lagu yang ia pilih. Bagi mereka yang bersedia menyimak, distorsi pada judul lagu (beberapa juga diterapkan Dalu pada image sampul album lagu tersebut) merupakan sesuatu yang pantas untuk tidak dilewatkan. Bagi mereka yang terbiasa Skip, skip skip!, distorsi judul lagu itu tidak akan tersadari sehingga visual yang tertangkap tak ubahnya dengan visual-visual dari screenshot halaman Spotify umumnya yang terunggah ke Instagram Stories. Dengan kata lain, orang yang melakukan Skip, skip, skip! tersebut, sadar tidak sadar, justru tidak beruntung karena telah melewatkan momen komedi @masdalu.

Tapi, apa artinya itu semua? Bagi saya, di antara perbedaan reaksi orang-orang, antara mereka yang menyimak/menyadari dan mereka yang boam (‘bodo amat’) terhadap kejahilan @masdalu (yang menyajikan judul-judul lagu yang diplesetkan), akan tercipta suatu tegangan, yang mana pada ranah tegangan semacam itulah sesungguhnya seni bekerja, bermain-main, untuk menawarkan suatu kemungkinan bahasa yang bisa ditafsirkan sebagai usaha kritis dalam menanggapi fenomena sehari-hari.

Dengan kata lain, “Sing a Song” @masdalu mencoba mendekonstruksi konsepsi “keterbacaan”, “ketertontonan”, dan “ketereksibisian” yang sudah sempat saya sebut pada subjudul pertama di esai ini. “Sing a Song” @masdalu adalah sebuah tindakan kreatif yang melandaskan “momentary” sebagai gaya bahasa.

Ketiga, kaitan praktik Dalu Kusma dengan perbincangan paling membosankan di ranah seni media: oprek-oprek teknologi. Sebagaimana yang akan saya paparkan di subjudul berikutnya.

Oprek-oprek Aplikasi

Lev Manovich menyebutkan bahwa, banyaknya video-video tutorial “how to” di internet, yang menjelaskan tata cara membuat foto yang bagus atau cara mengatur feed Instagram, umumnya oleh para influencer di media sosial, merupakan fakta yang mencirikan perkembangan terkini dari budaya foto kontemporer, terutama sejak kemunculan Instagram (yang menggeser posisi Flickr). Instagramisme, menurut Manovich, “bukanlah tentang perbedaan biner dari arus utama, melainkan tentang seleksi dan kombinasi dari elemen-elemen partikular, yang diambil dari bidang-bidang disiplin kontemporer dan historis, termasuk tawaran-tawaran dari ranah komersial.”[6] Dengan kata lain, para pengguna Instagram tidak berhasrat untuk beraktivisme secara baru layaknya para avant-gardis. Mereka justru lebih setuju—disadari atau tidak—untuk mengadopsi, mengadaptasi, atau mengambil lalu mengombinasikan elemen-elemen yang sudah ada untuk dapat hadir secara segar di depan khalayak.

Kecenderungan ini terjadi bukan hanya pada pengguna Instagram, tetapi juga dilakukan oleh para pelaku media sosial milenial secara umum di berbagai platform. Oleh karena itu, wajar kemudian jika kita berhadapan dengan istilah perfotografian ala media sosial yang digaung-gaungkan oleh para netizen yang mendaku dirinya sebagai “minimalis”, atau re-komposisi beberapa konten menjadi satu konten baru (seperti yang terjadi pada karya-karya mash up atau sing off yang tenar di YouTube), tanpa mereduksi karakteristik dari konten asli. Secara paradoks, metode ini justru diyakini sebagai upaya untuk menjadi “autentik” (artinya, pengertian “autentik” di ranah kehidupan pelaku platform-platform kontemporer pun juga telah bergeser). Deformasi dilakukan bukan dalam rangka menjadi antitesa bagi estetika pendahulu, tapi sebagai siasat eksistensial yang melaluinya ungkapan dan ekspresi personal tetap bisa ditambatkan. Dan beriringan dengan kecenderungan seperti itu, usaha-usaha menyiasati teknologi pun dilakukan karena adanya keterbatasan, entah itu dari segi akses ataupun dari segi kemampuan khusus.

Di ranah seni sendiri, konsep “oprek-oprek teknologis” kerap diperbincangkan di dalam wacana seni media Indonesia. Tingkah cerdik warga yang mengubah fungsi kuali menjadi antena TV, paku bengkok sebagai pembuka tutup botol, atau rice cooker untuk memasak mie, adalah contoh-contoh umum yang sering digunakan para pembicara, kritikus, ataupun seniman, untuk menjelaskan fenomena penting yang turut membangun estetika seni media khas negeri kita. Kata kuncinya: siasat warga, atau inisiatif warga dalam menyiasati teknologi yang apa adanya. Siasat-siasat warga awam ini, nyatanya, menjadi bahan refleksi penting para seniman, dan bahkan diadopsi sebagai metode untuk menemukan gagasan-gagasan baru bagi praktik seni media di Indonesia. Dari situlah kemudian berkembang praktik-praktik seni eksperimental seperti yang dilakukan oleh Lifepatch, WAFT Lab, Jatiwangi Art Factory, Oom Leo, Benny Wicaksono, Julian “Togar” Abraham, Gelar Soemantri, Mahardika Yudha, atau Lintang Raditya (beberapa contoh yang penting kita sebut). Eksperimentasi mereka mencakup baik ranah analog maupun digital, area medium tradisional hingga medium super-teknologis.

Ketika teknologi semacam Android muncul ke permukaan, “oprek-oprek teknologis” menjadi semakin wajar di dalam kehidupan bermedia sosial. Bukan hanya tentang banyaknya aplikasi Third Party yang mudah akses, tetapi juga tentang bagaimana para pengguna media sosial mengulik beragam aplikasi yang ada demi menghasilkan konten visual yang diinginkan. Video-video tutorial “how to” merupakan bukti dari fenomena ini.

Dalu Kusma, sebagai seniman, mengikuti senior-seniornya di ranah seni media (atau seni kontemporer), pun dengan berjiwa besar mengadaptasi kebiasaan “oprek-oprek aplikasi” yang sudah umum dilakukan netizen kebanyakan, untuk mengkonstruksi karya seni, terutama untuk menyunting tampilan screen-video (serta teks berupa judul lagu) untuk diunggah ke Instagram Stories-nya. Sementara para netizen memiliki motif personal, Dalu Kusma didorong oleh kesadaran kultural. Sebab, ia tidak hanya membingkai fenomena “oprek-oprek aplikasi” tersebut ke dalam praktiknya, tetapi juga membingkai motif para netizen yang mengoprek-oprek aplikasi—demi hasrat untuk membentuk identitas persona mereka—itu sendiri.

***

Mengakhiri esai kali ini, saya teringat cerita Dalu Kusma kira-kira seminggu yang lalu, tentang percakapannya dengan seorang follower via DM Instagram. Si follower menanyakan aplikasi apa yang digunakan oleh Dalu untuk menyunting tampilan halaman Spotify yang ia unggah ke Instagram Stories. Bagi Dalu, percakapan itu menarik karena terjadi suatu kegiatan “saling berbagi pengalaman dan pengetahuan” antara dirinya dan para pengguna media sosial yang lain. (Cerita Dalu ini juga mengingatkan saya pada kajian-kajian mengenai praktik seni media yang berkembang di awal dekade 2000-an, yaitu tentang strategi para pelaku kreatif dalam mendistribusikan pengetahuan kultural secara peer-to-peer—betapa bentuk komunikasi itu telah begitu berkembang sedemikian rupa, sekarang ini).

“Gila! Itu orang ngulik-nya lebih canggih dari gue, masa…?!” seru Dalu, kepada saya, ketika menjelaskan bahwa si follower yang bertanya itu, ternyata, justru berhasil melakukan siasat yang lebih canggih dari apa yang dia lakukan di “Sing a Song”. Tapi Dalu tidak merasa tersaingi, ia malah mengapresiasi kenyataan itu sebagai suatu fenomena yang patut dipikirkan terus-menerus. Sebab, dari situlah inspirasi karyanya bersumber.

Saya dan Dalu pun sepakat, bahwa, di samping kebiasaan-kebiasaan kita semua (para netizen) yang tidak jarang jadi lumayan menyebalkan karena berkontribusi menciptakan “banjir informasi”, netizen tetap mempunyai potensinya yang khas untuk berkontribusi pula menghasilkan lompatan-lompatan menyegarkan di ranah kebudayaan visual.

Dan saya pikir, tema “oprek-oprek” yang membosankan itu, belum akan berakhir hingga belasan tahun ke depan. ***

Catatan Kaki:

[1] Lihat Manshur Zikri, “Peta Majas Media @masdalu (Bag. 4)”, di situs web ini.

[2] Saya menyematkan kata “aktif” pada istilah “pengguna Instagram aktif”, “akun aktif”, atau “netizen aktif” untuk membatasi kasus ini dengan hanya mencakup subjek-subjek yang terbilang aktif ber-Instagram, yaitu mereka yang memiliki pola konsisten dalam mengakses platform tersebut (misalnya, membuka Instagramnya setiap hari pada jam-jam tertentu meskipun tidak mengunggah konten apa pun), dan bukan mereka yang jarang ber-media sosial (atau mereka yang mengakses platform ini seingatnya saja).

[3] Lihat Jonathan Schroeder, “Snapshot Aesthetics and the Strategic Imagination”, InVisible Culture, Issue 18, 10 April 2013.

[4] Secara sederhana, snapshot bisa diartikan “foto informal hasil dari ‘bidikan yang lekas’ tanpa terbebani persiapan tertentu.”

[5] Jonathan Schroeder, op cit.

[6] Lev Manovich, Instagram and Contemporary Image, 2017, hlm. 137.

Peta Majas Media @masdalu (Bag. 4)

Esai ini saya buat dalam rangka penelitian kuratorial dan usaha mewacanakan praktik artistik seniman Dalu Kusma yang membuat karya dengan medium media sosial Instagram, @masdalu. Esai ini sudah pernah dimuat di situs web @masdalu pada tanggal 3 Juni 2019.

Media sosial. Ia lahir dari teknologi internet. Pokok bahasan mengenainya bervariasi sekaligus sangat luas. Meskipun tidak selalu, media sosial lebih sering menuntut sudut pandang paling kini dalam kajian atasnya di ranah disiplin media. Hal itu dilatarbelakangi oleh keberadaannya sebagai teknologi komunikasi dan informasi yang hadir sebagai kanal aneka-arah. Meskipun tetap diperantari oleh jaringan mesin, media sosial nyatanya mampu mengondisikan semua orang untuk terhubung secara langsung dan dapat mengalami tindak komunikasi dalam waktu yang nyaris bersamaan; real time—layaknya komunikasi purba (yang tidak membutuhkan perantaraan alat). Karenanya, pembahasan tentang media sosial bisa menjadi sangat kompleks dan berlapis-lapis. Yang lebih menarik, pada fenomena media sosial pulalah kita mendapati bagaimana konsep “privat dan publik”, “aku dan massa”, “individu dan kolektif”, “penonton dan menonton”, “kolaborasi dan berbagi”, dan “simulasi dan mediasi”, serta “produsen dan konsumen” mengalami perluasan yang sungguh luar biasa. Bahkan, konsep performans, performatif, dan performativitas pun demikian.

Lev Manovich tidak sekali-dua kali menyatakan di dalam bukunya, Instagram and Contemporary Image (2017), bahwa analisisnya terhadap platform Instagram, mungkin, bisa dibilang hanya berlaku pada ruang lingkup penelitiannya saja—yaitu dari tahun 2012 hingga 2015—dan tidak bisa digeneralisir sebagai pandangan universal tentang budaya foto kontemporer. Sebab, “[m]edia platforms such as Instagram continuously change during their histories.”[1] Tentu saja, apa yang berubah terus-menerus itu tidak hanya terjadi pada Instagram, tetapi juga pada Twitter, Facebook, aplikasi chatting, web blog, dan platform-platform online lainnya. Adanya perubahan terus-menerus dalam sejarah keberadaannya, menandakan bahwa media sosial tidak akan menetap dalam waktu yang lama pada satu bentuk mekanisme penggunaan; akan selalu ada pembaharuan fitur-fitur yang disajikan perusahaan pemiliknya, yang mana hal itu juga beriringan dengan pembaharuan yang terjadi pada modus persepsi masyarakat terhadap platform-platform tersebut. Mengambil contoh Instagram, saya masih ingat betul, betapa takjubnya saya dengan kemunculan IGTV, padahal rasa penasaran saya terhadap fitur Instagram Stories atau fitur multi-video-post belum tuntas sama sekali. Dan hal-hal baru ini, tidak hanya terjadi pada segi fitur-fitur platform tersebut, tetapi juga terjadi dari segi konten-konten yang dibuat oleh para pengguna (users; netizen)—konten-konten tertentu dengan cepat muncul dan menyerang mata kita bertubi-tubi, tapi dengan sekejap pula ditinggalkan karena fokus orang-orang seketika berpindah ke konten-konten baru dengan kecenderungan yang lebih baru.

Sudah jelas, media sosial adalah turunan kesekian dari teknologi digital. Tak bisa pula kita elakkan fakta bahwa teknologi digital merupakan faktor utama penentu budaya masa kini, meminjam pendapat Leeker, Schipper, dan Beyes (2017). Berkaitan dengan konsep performativitas, mereka berkata:

…digital cultures are performative cultures. They condition and are shaped by techno-social processes and agencies, and they afford new possibilities for performative practices and interventions. It follows that the study of performativity in its heterogeneous dimensions cannot afford to ignore the agential forces and effects of digital technologies and their entanglements with human bodies.(2)

Dalam wujudnya yang kini hadir secara online, teknologi digital juga mengubah nilai dari sebuah objek: informasi.[3] Ya! informasi menjadi lebih berharga daripada apa pun. Informasi menjadi berharga, karena teknologi digital—si penghasil atau penyedia informasi itu—‘bertindak’ (perform) atas dirinya sendiri, juga “membuat manusia (dan nonmanusia) ikut bertindak”.[4] Di zaman kita, media sosial merupakan kondisi termutakhir dari budaya digital. Kini, tidak lagi relevan jika kita hanya bersandar pada dikotomi antara manusia dan alat media, karena keduanya telah saling berhimpit dan saling memengaruhi. Bahkan, lebih daripada sekadar memengaruhi sikap dan perilaku, media sosial telah menjadi keseharian kita yang tanpa batas. Maka, jika budaya digital adalah budaya performatif, bisa dikatakan sekarang, bahwa, media sosial adalah era paling performatif di dalam sejarah manusia sejauh ini.[5]

Menyetujui bahwa media sosial, dari segi entitasnya sebagai mesin yang bekerja untuk kebutuhan manusia, pada dasarnya, adalah performatif, berarti kita patut berpendapat bahwa konten-konten yang bergulir di media sosial dengan sendirinya akan hadir sebagai konten yang performatif pula.[6] Oleh karena itu, dalam memetakan gaya bahasa media @masdalu—salah satu akun Instagram milik Dalu Kusma yang secara spesifik diambil sebagai studi kasus atau contoh yang dapat mewakili fenomena media sosial—kita juga mesti melihat konten-konten @masdalu sebagai konten yang performatif.

Performativitas konten-konten media sosial dapat dilihat dengan menyadari bahwa, di balik konten-konten yang tampak di atas layar-layar gawai pintar yang kita genggam, terdapat suatu kerja otomatis dari sistem algoritma yang rumit, bersifat terukur tapi sekaligus arbitrer, yang dengan kerja otomatisnya itu, teknologi online ini mampu membaca pola tingkah laku kita terhadapnya, dan dengan demikian akan membaca selera dan kebiasaan, yang kemudian, sebagai dampaknya, akan menentukan pula keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan para pengguna yang tengah menghadapi layar-layar tersebut.

Berhadapan dengan itu, Dalu Kusma justru dengan sadar menyikapi media sosial sebagai medium seni, bukan semata tempat untuk memajang atau mendistribusikan dokumentasi dari karya seninya. Yang disebut karya seni dalam konteks keberadaan akun Instagram @masdalu, bukanlah teks-image yang diterbitkan (di-post) Dalu Kusma di feed, melainkan akun @masdalu itu sendiri. Kesadaran semacam itu mengindikasikan suatu usaha yang berusaha melampaui “kontrol teknologis yang tak-terkontrol” dari media sosial. Seni ala @masdalu adalah siasat penaklukan media sosial. Dengan kata lain, bagi Dalu Kusma, performativitas media sosial harus digenggam menjadi sebuah permainan bahasa, baik itu bahasa dari segi substansi dan bentuk (teks-image) maupun dari konteks media sosial itu sendiri sebagai bagian dari fenomena media baru (new media). Praktik Dalu Kusma tidak melepaskan begitu saja performativitas media sosial sebagai sebuah kerja yang bergerak sendiri di luar jangkuan eksistensi kreatifnya sebagai seniman. Sebaliknya, Dalu Kusma justru berupaya mengontrol performativitas media sosial itu dengan menciptakan performativitas seni, yaitu performativitas @masdalu. Sederhananya, @masdalu memiliki performativitas yang berlapis: sebagian berasal dari takdirnya sebagai akun media sosial, sebagian yang lain tercipta dari praktik seismografis dan nonseismografis sang seniman.[7]

***

Pada tahun 2011 di Indonesia, Instagram belum sepopuler sekarang. Kala itu, orang-orang masih lebih menggandrungi Twitter. Sementara, Facebook sudah mulai membosankan—atau mulai mengkhawatirkan—yang muda-muda: para orang tua ikut-ikutan bermain Facebook sehingga anak-anak mereka beralih ke Twitter untuk tetap bisa berekspresi secara bebas tanpa dipantau. Setidaknya, itulah situasi yang tergambarkan di lingkungan pertemanan saya di masa perkuliahan dulu.

Sejalan dengan alasan bahwa ia sengaja diciptakan sebagai platform “berruang terbatas” (menyediakan ruang celoteh dengan jumlah kata yang dibatasi), Twitter secara sosial sebenarnya berfungsi untuk melemparkan ujaran-ujaran sepintas lalu. Twitter adalah verbal snapshots, meminjam konsep Jonathan Schroeder[8], atau ruang blog mini yang simpel dan tidak merepotkan, apalagi memberatkan. Baru kemudian, kaum intelektual—juga para “pejuang” moral dan agama, serta aktivis kacangan dan buzzer politik—memanfaatkan platform ini sebagai “toa” untuk berceramah: kultwit. Kecenderungan yang muncul belakangan ini, bagi saya kala itu, memang agak menyebalkan, karena kultwit-kultwit tersebut lagi-lagi mengganggu ketentraman saya saat bermedia sosial. Tapi, yang sebenarnya lebih menyebalkan daripada itu, adalah tingkah narsistik para netizen Twitter yang jumlahnya tidak sedikit: segala hal di-twit.

Menanggapi hal itu (yang ternyata masih terjadi hingga sekarang), di tahun yang sama, seorang teman saya membuat akun Twitter bernama @biasa_ajah. Dengan sengaja memantau linimasa nasional menggunakan kata kunci “banget” di fitur pencari, @biasa_ajah me-retweet secara acak terbitan-terbitan dari akun-akun Twitter yang mencantumkan kata “banget” pada twit-nya, lalu menambahkan ungkapan “ajah” di awal kalimat. Contohnya, dapat dilihat pada screenshot di bawah ini:

Performativitas Twitter (atau media sosial, secara umum, sebagai mesin otomatis) “memakan” mereka yang secara tidak sadar telah menginternalisasi pemaknaan diri sebagai “orang terkenal” karena dibuai panggung termediasi media sosial—para sang aku yang selalu merasa tengah disimak oleh para followers-nya. Dalam kasus penggunaan Twitter, kepuasan dapat diraih hanya dari jumlah likes dan retweet. Netizen lantas menjadi narsis secara berlebihan; dalam kondisi riil yang sebenarnya sedang sendirian, netizen yang narsis ini kerap merasakan sensasi keramaian, dan kemudian merasa penting untuk mengabarkan segala aktivitas dan keluh kesahnya di Twitter (padahal belum tentu penting), layaknya seorang selebriti yang kehidupannya selalu menarik dan diekspos media massa.

Di tengah-tengah itu, akun @biasa_ajah secara sepintas tampak sebagai akun iseng belaka, yang sedang bergurau. Akan tapi, sesungguhnya aksi yang dimainkan @biasa_ajah—terhadap akun-akun yang ia serang—merupakan performatif, dalam arti: ia perform di atas performativitas Twitter. Bisa dibilang, twit-twit @biasa_ajah muncul dua kali lipat lebih bertubi-tubi dibandingkan twit orang-orang, namun tendensinya kemudian dapat dibaca sebagai “mocking buzzer” yang secara sarkastik menertawakan—kalau istilah “mengkritisi” terdengar terlalu serius buat akun ini—keterlenaan para netizen yang disebabkan ilusi ke-selebritas-an yang diciptakan media sosial. Meskipun bukan fake account, @biasa_ajah malah mengadopsi logika tutur dari social bot sebagai suatu performans bahasa dengan merepetisi pola kalimat yang di dalamnya kata “ajah” mensubordinatkan kata “banget”. Dengan pola tersebut, mekanisme komunikasi media sosial ala Twitter didisrupsi menjadi komedi.

Namun sekarang, seperti yang dapat dilihat, akun Twitter @biasa_ajah tampaknya sudah jarang dioperasikan oleh Galer, nama teman saya itu. Saya sempat tahu bahwa Galer juga pindah ke Instagram ketika platform media terbaru ini semakin digandrungi orang-orang. Tapi, Instagram @biasa_ajah tidak beroperasi sejenius aksi Twitter @biasa_ajah. Juga dapat disadari, Galer meninggalkan—atau gagal mengembangkan—pola performatif yang ia miliki di Twitter dan malah mencari bentuk tindakan kreatif yang lain ketika beroperasi di Instagram. Mungkin karena juga tak sukses, Instagram @biasa_ajah pun terlihat sudah tak beroperasi lagi sejak tahun 2015.

Meskipun dengan gaya ungkap yang berbeda, motif yang mengarah pada “mockery of netizen” (‘pengolok-olokan terhadap netizen’), menurut saya, juga ada pada praktik Dalu Kusma dalam @masdalu. Kata-kata, bagi Dalu Kusma, adalah ungkapan visual daripada sekadar verbal. Baik @biasa_ajah maupun @masdalu adalah komedi. Akan tetapi, jika Twitter @biasa_ajah mengintervensi jejak aksi ngetwit para netizen melalui fitur retweet, yang artinya menjadikan konten dari twit seseorang sebagai bagian dari komposisi punchline-nya, akun Instagram @masdalu lebih menekankan intervensi terhadap aspek kognitif netizen, yaitu melalui komposisi konten berupa perpaduan antara (1) teks yang dijadikan image pada post (kita sebut teks-image) dan (2) teks pada kolom caption. Dengan imajinasi strategis yang berbeda ini, tentunya, konstruksi performativitas yang dihadirkan oleh @masdalu pun juga berbeda.

***

Platform-platform media sosial, pada dasarnya, adalah performatif karena mereka merupakan mesin yang telah diatur sedemikian rupa untuk dapat bekerja sebagai robot data, yang membaurkan eksistensi kerja otomatis mesin digital dengan operasi berdasarkan perintah pengguna, menjadi sebuah aksi atau bahasa hybrid (manusia + nonmanusia). Agaknya, inilah yang bisa kita sebut sebagai lapisan utama dari performativitas media sosial, yang jika kita hadapi dengan posisi hanya sebagai pengguna, suatu saat ia akan “memakan” kita. Performativitas ini tidak lagi bekerja layaknya aura[9] yang menggetarkan hati, melainkan seperti virus yang tidak disadari, yang mampu membius. Ia tidak hanya sekadar menghilangkan batas antara yang tidak nyata dan nyata, antara simulasi dan realitas, antara representasi dan presentasi, ataupun antara dunia maya dan dunia asli, tetapi juga justru menjadikan konsep yang pertama sebagai konsep yang kedua: yang tidak nyata ialah nyata, yang simulasi adalah realitas, yang representasi adalah presentasi, dan dunia maya adalah dunia asli itu sendiri. Sebab, performativitas media sosial terjadi berulang-ulang, hampir setiap detik di kehidupan para pengguna, dan dengan sendirinya akan membentuk habitualitas sensorik dan motorik pada diri manusia yang menggunakannya. Kepuasan yang ilusif dari media sosial, bagi sebagian besar orang yang menggandrungi media sosial, adalah kepuasan yang sebenarnya. Memodifikasi kalimat Barbara Kruger: I do online therefore I am.

Berusaha untuk lepas dari bius performativitas media sosial seperti yang disebut di atas (selanjutnya kita sebut “performativitas lapis pertama”), praktik kesenian Dalu Kusma (dan juga praktik kreatif Galer) mencoba menciptakan performativitas lain (yang selanjutnya kita sebut “performativitas lapis kedua”), sebagai performativitas tandingan, atau sebagai cara untuk melepas belenggu ketidaksadaran yang diakibatkan media sosial, atau setidaknya untuk bisa menertawakan (mengolok-olok) keabsurdan yang terjadi pada “performativitas lapis pertama”. Mungkin, di mata Anda, penafsiran yang saya ketengahkan ini terkesan mendukung orientasi “heroisme” khas kritisisme universal ala Modernis. Namun, sederhananya, apa yang ingin saya sampaikan sesungguhnya ialah spekulasi tentang pengembangan kesadaran media (media literacy) ke dalam praktik kesenian, bahwa seni media kontemporer agaknya akan lebih berarti tatkala mampu memicu emansipasi terhadap hegemoni media. Sebagai suatu praktik spekulatif, kegiatan Dalu Kusma dalam membangun konsepsi seni di dalam karyanya, @masdalu, menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang layak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita bisa mendayagunakan media sosial—daripada sekadar mengonsumsinya—dengan lebih arif dalam rangka menjadi suatu agensi.

Kesadaran media dalam konteks @masdalu diwujudkan dengan tidak menolak cara kerja Instagram, tetapi mengamininya justru untuk mengkritisi baik Instagram itu sendiri maupun penggunaan Instagram oleh netizen. Cara kerja tersebut—yaitu membuat konten, unggah, sebar, dan mendapat likescomments, dan followers—adalah pokok-pokok kegiatan yang sengaja di-perform-kan di dalam kerangka pembangunan kesadaran kultural daripada kebiasaan konsumeristik. Membingkai isu-isu receh para netizen menjadi kontennya, @masdalu membongkar ulang pengertian kenyamanan (comfort) dengan menyiratkan ketidaknyaman (discomfort), mengkritisi imajinasi kesusilaan dengan membenturkan keasusilaan kata-kata, menggoda keseriusan dengan menawarkan kerecehan, merombak kebakuan dengan memermak alternatif, dan mempertanyakan esensi yang memusat dengan mencitrakan trivia yang terfragmentasi.

Jika akun Twitter @biasa_ajah menggoda ujaran seseorang dengan menghadirkan perandaian yang jauh menyimpang dan tak terkait dengan makna teks yang ia retweet, apa yang dilakukan oleh Dalu Kusma melalui teks-image @masdalu ialah menggugah etika bahasa sehari-hari dengan menyajikan retorika visual yang dekat dengan netizen.

Dengan pintar mengemas persoalan-persoalan yang dekat dengan publik netizen, @masdalu juga memiliki daya pikat bagi perealisasian peristiwa repost dan reshare sehingga memicu reproduksi berdampak terhadap jaringan sosial yang ada. Ujaran-ujaran bercanda @biasa_ajah bukan berarti tak bisa di-retweet kembali oleh orang-orang, tetapi sebagai rupa artistik, @masdalu lebih berarti karena peka komposisi dan lebih menghasilkan “greget”.

***

Jika kita meninjau pandangan Jim Supangkat, sebagaimana yang dikutip Hendro Wiyanto, tentang keinginan seniman untuk “berkomunikasi dalam arti yang sesungguhnya, bukan komunikasi filosofis, humanistis”, dapat dipahami bahwa pendekatan “non-seismograf” pun sengaja dipilih dan termanifestasi dalam kecenderungan untuk memburu objek-objek yang ada di luar dunia imajinasi seniman (yaitu, dunia konkret): benda-benda dipilih dan diseleksi untuk dibingkai dengan cara menyusupkan konsepsi seni ke dalamnya.[10] Dalam perkembangannya yang lebih kontemporer, esensialisme medium (yang menjadikan representasi seni bersifat esensial) tidak lagi dipercayai karena dianggap memiliki distansi dengan peristiwa sehari-hari yang nyata.[11] Koneksi antara seni dan peristiwa pun, akhirnya, semakin terus dikejar, setidak-tidaknya untuk bisa menjadikan apa yang artistik sebagai hal yang dapat dialami—menjadi “peristiwa artistik”; atau, ada kecenderungan untuk menjadikan peristiwa sebagai seni, yakni dalam rangka membebaskan seniman dan juga para penonton,[12] entah itu dari jeratan “dunia dalam yang tertutup” (dunia representasi/ekspresi dari karya seni), atau mungkin dari polemisasi konseptual antara esensi dan eksistensi, terkait yang mana yang dianggap lebih tepat mendahului yang lain: apakah “esensi mendahului eksistensi” atau justru sebaliknya, “eksistensi mendahului esensi”.

Menelaah praktik yang dilakukan Dalu Kusma lewat karyanya, @masdalu, kita agaknya tidak perlu lagi berkutat dengan soal apa yang mendahului apa. Sebab, dengan menetapkan “media sosial sebagai medium seni”, @masdalu merupakan karya yang secara dasariah adalah peristiwa [bermedia]—@masdalu diklaim baik sebagai peristiwa (atau metonimia dari peristiwa media sosial yang sangat luas) sekaligus sebagai peristiwa seni yang beroperasi lokal dan kekinian. Dalam praktik Dalu Kusma, “esensi” tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu ditolak—apalagi jika dikaitkan dengan ide “penolakan terhadap esensi[alisme] medium”—sedangkan “eksistensi” tidak serta-merta menjadi satu-satunya hal yang mesti dikejar dan diraih. Dalam posisi ini, yang diterapkan adalah pendekatan campuran antara “seismografis” dan “non-seismografis”. Dari segi substansi teks-image-nya, seismografis sang seniman dengan jelas berperan penting bagi kualitas konstruksi konten pada @masdalu. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, lewat pendekatan yang non-seismografis, Dalu Kusma menyikapi akun Instagram @masdalu sebagai objek dunia luar yang telah ia pilih, ambil, lalu posisikan sebagai seni. Dan lebih dari sekadar “aksi komunikatif” ala Jim Supangkat (sebagaimana yang dirujuk Hendro Wiyanto), @masdalu adalah “objek temuan” yang bukan semata dipandang, melainkan sesuatu yang pastinya akan dialami, oleh penonton, lewat mekanisme perlakuan atau pengalaman yang sama persis dengan apa yang dialami oleh Dalu Kusma sendiri (karena, bagaimanapun, Dalu adalah seniman yang menjadi netizen). Dengan kata lain, likes, comment, dan share adalah aspek-aspek peristiwa yang juga menjadi seni dalam dunia @masdalu.

Kita juga perlu mencatat, interaktivitas yang kemudian terbingkai dalam wacana @masdalu bukanlah interaktivitas yang tertutup (dalam arti: tidak sama dengan karya-karya seni interaktif yang dipamerkan di galeri seni—interaktivitas terjadi di “ruang seni”), tetapi merupakan interaktivitas yang sehari-hari sebagaimana adanya: interaktivitas di dunia media sosial. Logika ini lebih cenderung mendekati praktik dari seni [di ruang] publik. Kecenderungan semacam ini juga telah kita temukan pada karya-karya semacam fotografi Agan Harahap atau karya-karya moving-image Fluxcup. Kedua seniman tersebut, dengan sadar menjadikan dunia maya sebagai “medan seni”. Atau, dalam konteks yang lebih global, ialah praktik-praktik di ranah internet art (misalnya Gretchen Andrew yang dikenal dengan sebutan search engine artist). Akan tetapi, Dalu Kusma agaknya hanya memilih lingkup spesifik, yaitu di lingkup lokal “media sosial”, tanpa membutuhkan kemampuan khusus terkait keahlian komputer dan wawasan robotik ataupun bahasa-bahasa algoritmik. Ia hanya perform sebagai netizen untuk mencapai puncak agensinya sebagai generasi milenial.

Sebagai suatu kesimpulan: dengan menyadari adanya performativitas media sosial atau peformativitas Instagram itu sendiri (performativitas lapis pertama), dan mengimbanginya dengan performativitas @masdalu lewat permainan isi dan bentuk terbitan dalam rangka menggugah aspek kognitif para netizen lain yang berinteraksi dengan karyanya (performativitas lapis kedua), Dalu Kusma sebenarnya tengah melakukan suatu performans pula dengan menjadi netizen secara utuh, tetapi netizen yang agensial (performativitas lapis ketiga). Performativitas berlapis inilah yang, saya kira, merupakan hal penting yang perlu kita lihat dari @masdalu. ***

Catatan Kaki:

[1] Lev Manovich, Instagram and Contemporary Image, 2017, hlm. 4. (Penekanan kata—cetak tebal—berasal dari penulis). Buku ini dapat diunduh di situs web Lev Manovich.

[2] Martina Leeker, Imanuel Schipper, & Timon Beyes, “Performativity, Performance Studies and Digital Cultures”, dalam M. Leeker, I. Schipper, & T. Beyes (Eds.), Performing the Digital: Performativity and Performance Studies in Digital Cultures, Bielefeld: Transcript Verlag, 2017, hlm. 9.

[3] Pembahasan panjang lebar mengenai hal ini dapat ditinjau dalam buku Wendy Hui Kyong Chun, Updating to Remain the Same: Habitual New Media, Cambridge, Massachusetts & London, England: The MIT Press, 2016.

[4] Martina Leeker, Imanuel Schipper, & Timon Beyes, op. cit., hlm. 11.

[5] Lihat juga pembahasan tentang generasi performatif oleh Otty Widasari, “Seni Performans Indonesia di Generasi Performatif”, 69 Performance Club, 22 Maret 2019, dan Manshur Zikri, “Notabene Generasi Performatif”, situs web manshurzikri.com, 5 Mei 2019.

[6] Terkait dengan hal ini, saya juga telah menulis esai tentang bagaimana suatu karya seni dapat dianggap performatif di esai berjudul “Bagaimana Karya Seni yang Performatif”, dapat diakses di situs web manshurzikri.com, 21 Mei 2019.

[7] Dalam salah satu naskah—yang ditemukan dari dokumentasi miliknya—Sanento Yuliman menyebut istilah “jarum seismograf” untuk mengibaratkan perpanjangan tangan seorang seniman dalam mengonstruk rupa dan menangani medium ketika berproses menciptakan sebuah karya; konsep “jarum seismograf” Sanento erat berkaitan dengan konsep “jiwa ketok” Sudjojono. Lihat Sanento Yuliman, “Perspektif Baru”, dalam  Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan, Penyunting: Asikin Hasan, Jakarta: Yayasan Kalam, 2001, hlm. 153. Konsep ini layak kita adopsi—dan karenanya saya memilih istilah “praktik seismografis”—untuk menegaskan kepekaan seorang subjek pengelola akun media sosial (user), sebagai seorang seniman, dalam mengkonstruksi konten dan kerja akun media sosial miliknya.

[8] Lihat Jonathan Schroeder, “Snapshot Aesthetics and the Strategic Imagination”, InVisible Culture, Issue 18, 10 April 2013.

[9] Lihat pemaparan saya tentang perbedaan (dan juga kesalinghubungan) antara “performativitas” dan “aura” dalam konteks ini di Manshur Zikri, “Bagaimana Karya Seni yang Performatif”, op. cit.

[10] Lihat catatan panjang lebar Hendro Wiyanto mengenai hal ini di esai berjudul “Seni dan Peristiwa”, Kalam, No. 27, 2015.

[11] Hendro Wiyanto, ibid.

[12] Hendro Wiyanto, ibid.

Peta Majas Media @masdalu (Bag. 3)

Esai ini saya buat dalam rangka penelitian kuratorial dan usaha mewacanakan praktik artistik seniman Dalu Kusma yang membuat karya dengan medium media sosial Instagram, @masdalu. Esai ini sudah pernah dimuat di situs web @masdalu pada tanggal 3 April 2019.

Sewaktu kami mulai sering mendiskusikan @masdalu sekitar dua tahun lalu, aspek yang kerap disinggung oleh Dalu Kusma adalah font. Kemudian, perbincangan terus berkembang di waktu-waktu selanjutnya, dan kami menyinggung pula persoalan tipografi. Mengingat hal itu, saya kira polemik terkait tipografi juga penting untuk kita tuliskan di sini, akhirnya.

Akan tetapi, di esai ini, saya tidak bermaksud memberikan analisa tipografis, apalagi matematis, terhadap bentuk visual dari puisi-puisi kontemporer @masdalu karena saya bukan ahli di bidang itu. Saya hanya akan menyinggung beberapa—yang artinya: sangat sedikit sekali—kerangka konsep dan praktik yang berhubungan dengan “teks”, dalam rangka mencoba manawarkan suatu diskusi yang—harapan saya—dapat memicu terbukanya kemungkinan observasi yang lebih jauh saat memahami @masdalu ataupun outputoutput berupa text/image yang dimiliki akun-akun lain yang tersebar di media sosial.

Teks sebagai “Ekspresi Seni”

Seperti yang kita tahu bersama, wacana tentang “menyikapi dan menggunakan teks sebagai medium kesenian”, atau “teks sebagai ekspresi seni”, sudah jauh-jauh hari ada bahkan sebelum zaman kakek-nenek kita. Ringkasnya, itu semua sudah dimulai bahkan sebelum Art Nouveau di 1890-an, dan berlanjut ke gerakan-gerakan kultural pada awal Abad ke-20 (menyebut beberapa di antaranya: Futurisme di Italia, puisi-puisi Dada di lingkup yang lebih global, atau Suprematisme dan Konstruktivisme di Rusia, Die Stijl di Belanda, ataupun Bauhaus di Jerman).

Theo van Doesburg, “Passing troop”, 1916. Sumber: Ad Petersen (ed.; 1968) De Stijl [vol] 2. 1921_1932. Complete Reprint 1968, Amsterdam: Athenaeum, Den Haag: Bert Bakker, Amsterdam: Polak & Van Gennep, hal. 133. (Public domain via Wikimedia Commons).

Lalu berkembang lagi di era 1960-an, misalnya eksplorasi yang dilakukan oleh Wolfgang Weingart (satu nama yang konon sangat memengaruhi dunia desain grafis) dan gerakan Fluxus; hingga kemudian di era 1980-an, saat komputer sudah benar-benar menginvasi aktivitas bermedia masyarakat (April Greiman, salah satunya, kala itu mengeksplorasi komputer sebagai medium visual baru dalam konteks desain); lalu seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, … sampai hari ini.

“Does It Make Sense?” karya desain dari April Greiman di Design Quarterly #133, 1986. Image courtesy: April Greiman. (Sumber: idsgn).

Beragam pendekatan dalam menginterpretasi ketersalinghubungan elemen-elemen di dalam teks, dan hubungan elemen-elemen teks itu dengan elemen-elemen lain yang ada di luarnya, juga kian berkembang, apalagi pengetahuan lingustik telah kian berpadu dengan pengetahuan visual, disusul dengan berkembangnya wacana “media baru”. Dalam disiplin kajian media di negeri kita sekarang ini, contohnya, juga berkembang teori “analisa wacana kritis”. Dalam teori yang saya sebut ini, cakupan interpretasi dalam analisis yang dilakukan bisa sangat luas. Misalnya, ada kajian-kajian terhadap surat kabar (belum termasuk media massa online) yang mencoba melihat dan membuktikan keterhubungan antara teks-teks yang tertera pada judul headline dengan teks-teks atau gambar-gambar yang terletak di bagian terbawah halaman pertama surat kabar tersebut. Keterhubungan ini, jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian aktual, akan menghasilkan makna yang bisa melandasi argumen seorang peneliti untuk menebak arah agenda setting si perusahaan media.

Gambar di atas adalah salah satu contoh bagaimana wacana atau agenda seting sebuah surat kabar diinterpretasi dalam kajian Kriminologi, dengan mengadopsi teori montase yang dikembangkan Kuleshov. Gambar tersebut merupakan ilustrasi analitik tentang sebuah halaman The Sun. (Sumber: dikutip dari Jones, P. J., & Wardle, C. (2008). `No emotion, no sympathy’: The visual construction of Maxine Carr. Crime, Media, Culture: An International Journal, 4(1), hal. 63)

Situasi dan cara kerja media massa, nyatanya, memang sering menjadi isu yang ditanggapi oleh para seniman dalam rangka mencari kemungkinan terbaru yang bersifat estetik. Tanggapan itu mencakup persoalan substansi atau konten, bentuk, dan gaya, termasuk juga modus penggunaan tipografi, serta kritisisme terhadap paradigma-paradigma mapan yang melatarbelakangi produksi media massa. Bahkan, ada juga yang mendobrak paradigma-paradigma umum yang biasanya diacu dalam proses pengkajian materi-materi media.

Contoh halaman Ray Gun. (Sumber: cvltnation).

Tanpa melupakan nama-nama yang aktif di periode-periode yang telah saya sebutkan sebelumnya, tentu saja, Ray Gun (1992 – 2000) adalah salah satu yang paling gampang untuk kita ambil sebagai contoh. Dengan membingkai kultur musik 90-an, majalah ini menunjukkan bagaimana diskursus komunikasi dan desain bisa “dilampaui”, yaitu dengan “meledakkan kemungkinan-kemungkinan teks pada sebuah halaman”.[1]

Perlawanan David Carson (seniman yang mengawali majalah itu) terhadap dogma-dogma desain tradisional terwujud dalam usahanya “…mendisrupsi prasangka-prasangka tentang bagaimana dan di mana hubungan antara headline, caption, body text, image dan batas halaman disusun/dibuat.”[2]

Cuplikan sejumlah halaman dari buku The End of Print yang membahas estetika desain David Carson. Buku ini ditulis oleh Lewis Blackwell, yang mana desain buku tersebut dibuat oleh David Carson. (Sumber: koleksi PDF milik penulis).

Tatak letak yang “kacau-balau” menjadi penting bukan hanya karena bisa memberikan pengalaman melihat/membaca yang segar, tetapi juga secara bersamaan menggaungkan ide bahwa “keterbacaan bukanlah satu-satunya syarat komunikasi” dan ekspresi-ekspresi yang dihadirkan lewat “kekacau-balauan” itu mungkin saja bisa menyasar perasaan terdalam para pembaca.[3]

Bayangkan, jika metode produksi seperti itu semakin terus berkembang di alam media massa online sekarang ini!? Bayangkan juga, jika metode pembacaan tersebut diterapkan tidak hanya terhadap konten yang diproduksi oleh media massa online arus utama, ataupun “akun-akun seni/seniman”, tetapi juga terhadap akun-akun kelas awam lainnya!? Mungkin sekali, kita bisa “melompat” ke wilayah refleksi, spekulasi, dan apresiasi yang jauh lebih progresif daripada sekadar memberi “like”.

Di antara semua kemungkinan itu, ketika memperhatikan post-post yang diterbitkan oleh Dalu di akun Instagram @masdalu, terlintas di pikiran saya praktik salah seorang seniman konseptual asal Amerika yang juga menjadikan teks sebagai medium: Barbara Kruger.

Namun, sebelum saya menyinggungnya lebih jauh, saya terlebih dahulu ingin memaparkan beberapa hal agar diskusi kita lumayan berdasar.

Pertama: Dalil Barthes tentang Text

Hal pertama ini menyoal pemikiran yang diajukan oleh Roland Barthes dalam esai berjudul “From Work to Text”.[4] Menurut saya, ketika menyebut Text—dengan huruf “T” kapital—dalam kerangka tujuh dalil yang ia ajukan, Barthes bukan semata sedang merujuk “text” sebagaimana “naskah tertulis” dalam pengertian harfiahnya atau yang kerap diartikan dalam ranah tipografi sebagai “urutan kata yang berkelanjutan”[5], melainkan Text sebagai sebuah gagasan. Gagasan yang ia maksud adalah gagasan tentang objek baru; objek yang baru ini menjungkirbalikkan atau bertolak belakang dengan gagasan mengenai objek lama—yang ia sebut Work.[6]

Saya coba persingkat di sini: Barthes menjelaskan bahwa Text dan Work adalah dua objek yang memiliki perbedaan sifat. Work merujuk kepada sesuatu yang [barangkali] bisa disentuh tangan, bisa diklasifikasi (ke dalam berbagai genre), bersifat tetap (sebagai petanda—”telah ditentukan” dan “tertutup”), terperangkap dalam suatu proses filiasi (berkaitan dengan persoalan asal-usul—“suatu karya selalu terikat oleh si pengarang”), dan biasanya merupakan objek konsumsi.

Sebaliknya, menurut Barthes, Text adalah sesuatu yang digenggam di dalam bahasa—“ada di dalam pergerakan sebuah wacana”[7], tidak bisa diklasifikasi atau diletakkan dalam sistem hierarkis, dialami sebagai reaksi atas tanda (dengan kata lain, Text bekerja seperti penanda—bersifat “terbuka” dan “tak terbatas”) dan logika yang bekerja padanya adalah metonimik. Text dalam hal ini juga bersifat plural, dan ia terus berkembang layaknya organisme (dan karena itu, metaforanya adalah “jaringan”). Text tidak berjarak dengan audiens, dan karenanya “kepuasan” yang diraih bukan seperti “kenikmatan” yang didapat saat kita mengonsumsi barang yang terkomodifikasi, tetapi lebih karena keaktifan dari audiensnya sendiri dalam menginterpretasi.

Menurut saya, yang menjadi poin dari ketujuh dalil tersebut ialah, Barthes, dalam maksudnya untuk memperluas pembacaan yang bersifat semiologis, menyerukan bahwa kita mesti “membaca” semua objek kultural sebagai Text—yang dengan demikian akan membuka peluang interpretasi yang tidak terbatas. Apakah objek yang hendak “dibaca” itu adalah visual, bebunyian, ataupun material dan imaterial, keputusan untuk memaknainya sebagai suatu “Text” akan mendorong kita melakukan sebuah penggalian makna terhadap objek tersebut. Maka, dengan berdasar pada pemikiran Barthes, kita bisa menyikapi bahwa karya sastra adalah “teks”, berita di media massa adalah “teks”, pemandangan adalah “teks”, foto adalah “teks”, film adalah juga “teks”, musik pun adalah “teks”, bahkan suatu peristiwa juga bisa kita sikapi sebagai “teks”; semuanya bisa dibaca, dan bisa diinterpretasi. Jika hanya melihat novel sebagai semata [karya] novel, berita semata berita, pemandangan semata pemandangan, foto semata [karya] foto, film semata film, musik semata musik, dan lain sebagainya sebagai semata “dan lain sebagainya”, kita hanya akan menemukan interpretasi-interpretasi yang terbatas.

Beberapa sumber literatur menyebutkan juga, dalam perkembangannya, pemikiran Barthes inilah salah satu inspirasi yang memicu lahirnya bentuk-bentuk “teks baru”. Misalnya di dunia digital, bentuk “jaringan teks” dalam penerapan hyperlink, agaknya, adalah contoh output yang berusaha mengongkretkan ide tentang tujuh dalil tersebut. Bahwa, Text memiliki berbagai lapisan berjejaring yang dari sana kita akan mendapatkan banyak kemungkinan tafsir atau informasi-informasi baru. Barthes mengantisipasi kemunculan Internet yang kini telah menjadi wajah dominan dunia kita.[8]

Kedua: “Wacana Tipografi” ala Katherine McCoy

Tahun 1988, Katherine McCoy bersama koleganya, David Frej, menulis artikel berjudul “Typography as Discourse” di ID Magazine 35(5). Beberapa kalimat pamungkas mereka, menurut saya, sebagai berikut: “Signifikasi verbal—‘pengartian atas perihal yang berkenaan dengan kata’—berinteraksi dengan citra dan simbol”, karena “teks bukan lagi taman bermain sintaksis para keturunan Weingart”, dan “fokus hari ini adalah ekspresi melalui konten semantik, memanfaatkan perangkat lunak intelektual dari bahasa visual dan perangkat keras struktural dan tata bahasa grafis dari Modernisme”.[9]

Terlepas apakah seruan itu akan kembali membuat kita tunduk pada wacana Modernisme atau tidak, namun ada hal penting yang ditekankan oleh McCoy—yang mana hal itu, menurut saya, seturut dengan pemikiran Barthes, yaitu: bagaimana kita melihat citra (atau ‘image’) seperti membaca teks, sekaligus membaca teks seperti melihat citra. Penjelasan ini dapat diverifikasi dengan meninjau artikel McCoy yang ditulis dua tahun berikutnya, berjudul “American Graphic Design Expression: The Evolution of American Typography”, yang dimuat di Design Quarterly 149 (The MIT Press). Di artikel kedua ini, McCoy menjelaskan bahwa terdapat dua modus yang secara tradisional dimiliki manusia untuk menerima pesan secara visual, yaitu “Melihat” (‘Seeing’) dan “Membaca” (‘Reading’)—masing-masing memiliki karakteristik tersendiri dan berkaitan dengan medium yang berbeda.

“Melihat” berelasi dengan medium citra (yaitu: ‘image’); merupakan “proses visual” yang bersifat emosional, intuitif, simultan, serta dialami tanpa sadar; basisnya adalah pengalaman (‘experential’). Gelagat ini biasanya kita alami ketika melihat pemandangan, lukisan, atau saat menonton. Kita lebih “merasakan” daripada “menganalisa”.[10] Sementara itu, “Membaca” berelasi dengan medium tulisan (yaitu: ‘text’); merupakan “proses verbal dalam menguraikan sandi/kode (decoding)”, dan bersifat cerebral (yakni: berhubungan dengan kerja otak), analitis, rasional, penuh pertimbangan dan kesadaran, serta linear (berturutan—karena kita perlu mengikuti aturan sekuens dari sandi-sandi yang dibaca). Jika seseorang buta huruf, atau tidak paham sandi-sandi tertentu, ia tidak akan bisa mendapat pesan dari teks-teks yang ada.[11]

Image courtesy: Katherine McCoy & Michael McCoy. (Sumber: co-lab)

Menurut McCoy, pergulatan tentang hubungan antara image (‘melihat’) dan text (‘membaca’) ini terjadi dalam sejarah perkembangan wacana linguistik dan senirupa yang berjalan beriringan. Hubungan kedua modus tersebut menjadi persoalan, bahkan, sejak dari zaman lukisan gua hingga memapannya Modernisme—meski sempat ditinggalkan ketika wacana Seni Abstrak menolak bentuk-bentuk yang merepresentasikan pesan, tapi kemudian muncul lagi di era-era Surealisme.[12]

Bagaimanapun, yang perlu digarisbawahi dari pemikiran McCoy ini ialah, kita harus terus-menerus menemukan hubungan-hubungan baru antara text dan image. Sebagaimana penjelasan Ellen Lupton mengenai gagasan McCoy ini,[13] kita bisa memanfaatkan ambiguitas antara proses “melihat” dan “membaca” sebagai satu kesatuan cara dalam menginterpretasi sebuah objek yang mengandung pesan tertentu, demi mendapatkan makna (hasil interpretasi) yang relevan. Jika “text” ternyata juga dapat diserap lewat modus “melihat” sementara “image” juga bisa diserap lewat modus “membaca”, maka kedua modus dan kedua medium tersebut tentunya bisa melebur mengamini keserempakan di dalam sebuah proses pemaknaan. Maka, dengan dasar inilah nantinya akan menjadi lebih menarik bagi kita untuk memaknai suatu “objek berkandung pesan” yang bermain-main dengan lapisan-lapisan dan jukstaposisi, serta superimposisi, antara “teks” (atau “tulisan”, “kata-kata”, ‘words’) dan “citra” (atau “gambar”, ‘pictures’), sebagai suatu komposisi yang menuntut tafsiran-tafsiran yang melampaui tujuan-tujuan objektif kontennya.[14]

Menurut saya, meskipun lewat artikulasi dan penggunaan istilah yang berbeda, McCoy sebenarnya mendukung pemikiran Barthes yang menyerukan kita untuk “melihat semua objek sebagai Text”. Peniadaan batas antara “text (dengan huruf “t” kecil)” dan “image”, sebagaimana yang diajukan oleh McCoy, adalah sama halnya dengan ajuan Barthes mengenai istilah “Text” (dengan huruf “T” kapital). Karena Text dalam pengertian Barthes berkaitan dengan “wacana” dan “bahasa”, maka kita pun dapat menyetujui pemikiran McCoy yang melihat bahwa “sistem-sistem penandaan yang menggunakan huruf-huruf” (dengan kata lain: tipografi) adalah harus benar-benar disadari sebagai persoalan semantik (bahasa—memiliki konteks baik dari segi bentuk [visual] maupun penggunaannya) daripada sekadar persoalan sintaksis (tata aturan dalam struktur kalimat).

Barbara Kruger: Image-text sebagai Statement

Surat kabar The Australian memberi pujian karena kepiawaiannya mengkritisi kekuasaan manipulatif media massa lewat desain yang sederhana.[15] Sementara itu, The Age memahami bahwa Barbara Kruger “menggunakan warna-warna fasisme, surat kabar, dan Coca-cola—hitam, putih, dan merah—sebagai suatu tindak sinisme yang keras terhadap kekuasaan dan kapitalisme”.[16] Tidak sedikit pengamat juga menilai bahwa ia adalah seorang feminis—tapi Kruger menolak label itu di beberapa kesempatan wawancara. Apa pun itu, yang jelas adalah: ia berusaha mengelaborasi gagasan keadilan melalui kritisisme terhadap konsumerisme, fetisisme komoditas, dan seksualitas. Siapa di antara kita yang tidak tahu dan tersindir dengan salah satu image-text buatannya, “I Shop therefore I am”, yang terkenal seantero skena kontemporer itu…?

“I shop therefore I am” (Foto oleh Mark Hillary, di bawah lisensi Creative Commons – CC BY 2.0). (Sumber:  Flickr).

Nyatanya, kesadaran Kruger dalam mewacanakan karya visualnya memang tidak sesederhana mencomot atribut dari sumber yang satu lalu mengombinasikannya dengan atribut dari sumber lainnya. Justru, “pencomotan” atau klaim visual yang dilakukan Barbara Kruger melalui karya-karyanya adalah contoh lain dari aksi disrupsi terhadap bahasa, budaya visual, media massa, dan bahkan posisi kultural dari satu jenis tipografi. Bukan tanpa alasan, misalnya, mengapa seniman yang jago bermain kata-kata lewat Wit[17] ini dengan sengaja menggunakan salah satu jenis huruf geometris sans-serif, Futura, yang dirilis oleh Paul Renner pada tahun 1927.

Ariela Gittlen, dalam artikel berjudul “How Feminist Artists Reclaimed Futura from New York’s Mad Men”, menjelaskan bahwa Futura, satu jenis huruf (typeface) yang mendasarkan elemen visualnya pada gaya Bauhaus, telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa-peristiwa besar di sepanjang Abad ke-20.[18] Jenis huruf ini telah digunakan mulai dari eksperimen majalah Vanity Fair tentang tipografi baru ala avant-garde Eropa di kisaran 1929, pada teks-teks propaganda Nazi dalam majalah die neue linie selama Perang Dunia II, pada poster film 2001: A space Odyssey-nya Stanley Kubrick (1968), pada plakat peninggalan Neil Armstrong tahun 1969, hingga pada album musik Vampire Weekend yang rilis tahun 2010, Contra.[19] Bahkan, kepopulerannya dalam dunia periklanan dan korporasi di era 1980 dan 1990-an, konon, pernah membuat jengah para pekerja di ranah seni sehingga mereka menyerukan pemboikotan atas penggunaan jenis huruf tersebut.[20]

Image courtesy: Barbara Kruger. (Sumber: designhistory).

Futura selalu muncul di mana-mana dan kapan saja. Dengan memaparkan latar belakang sosiokultural dari jenis tipografi Futura, Douglas Thomas (sejarawan desain grafis di Brigham Young University)—sebagaimana yang dikutip Gittlen—menjelaskan bahwa, karya-karya cerdik Kruger jadi punya relevansi dan hubungan yang jelas terhadap persoalan aslinya, yaitu dunia konsumerisme dan kapitalisme yang direpresentasikan oleh dunia perikalanan, justru karena Futura yang ia pilih adalah bagian terpenting dari itu semua.[21] Dengan kata lain, Kruger secara sadar menempatkan konteks dari tipografi sebagai bagian dari “bahasa seni”-nya. Di titik itu, tipografi Futura tidak lagi hanya wacana tentang “tata aturan struktur kalimat”, atau soal “keterbacaan” dalam hal “mengkomunikasikan pesan”, tetapi juga persoalan semantik. Dan tentu saja, persoalan tersebut muncul bukan dari “pesan objektif” sebuah kata atau kalimat yang ia buat, tetapi justru dari visual atau komposisinya.

Bagi Kruger, baik “kata-kata” maupun “gambar” bukanlah hal yang terpisah. “I don’t see them as separate spaces. I’m interested in pictures and words because they have specific powers to define who we are and who we aren’t,” suatu kali Kruger pernah berujar.[22] Dalam praktik Kruger, text telah menjadi bagian dari image itu sendiri, demikian pula sebaliknya. Menyajikan komposisi yang superimposisional, antara kata-kata tertulis dan gambar-gambar yang ditemukan dari media massa, karya-karya Kruger menjadi otokritik masyarakat yang mempertanyakan kembali mitos-mitos terkini dan identitas-identitas baik sosial, kultural, maupun politik setiap individu.

Jika Barthes menyebut bahwa kita perlu mengurai kompleksitas dari semua produk kultural yang pernah ada dengan menelaahnya sebagai Text (apa pun itu, entah bentuknya tulisan ataupun gambar, ucapan, kejadian, dll.), sementara Katherine McCoy (dengan kerangka gagasan yang tiada beda) merangkumnya dengan menekankan bahwa kita perlu membangun rumusan tentang hubungan-hubungan baru antara “text” dan “image”, Barbara Kruger tampaknya justru tak mau ambil pusing dengan istilah-istilah itu. Bagaimanapun, menurut saya, “kata-kata” dan “gambar” (atau ‘words’ dan ‘pictures’ dalam padanan bahasa Inggris) yang diulik oleh Barbara Kruger di dalam karya-karyanya, juga mewakili ide “Tipografi sebagai Diskursus” yang diajukan oleh Katherine McCoy, ataupun “Text” yang diajukan Barthes.

“Kata-kata” dan “gambar” yang oleh Kruger dieksperimentasikan sebagai bahasa kritik, adalah salah satu bentuk statement dalam proses penggalian akan kompleksitas hubungan antara “text” dan “image”, yaitu statement yang mencakup persoalan “medium”, “estetika”, “substansi”, “gaya”, “konteks”, dan “makna” secara sekaligus. Statement tersebut, pada akhirnya, mewakili ideologi, posisi, dan visi subjektif si pengkarya dalam keterhubungannya dengan masalah-masalah publik.

Kembali ke @masdalu dan kawan-kawan segenerasinya

Tujuan saya memaparkan sejumlah kerangka konsep dan praktik berbasis “teks”, sebagaimana telah tertulis pada sub-subjudul di atas, adalah untuk mengajukan pendapat bahwa puisi-puisi kontemporer @masdalu, agaknya, memikul lebih banyak peluang interpretasi daripada sebatas soal bahwa (1) isi puisi-puisinya mengutip/mengadopsi ujaran-ujaran receh, atau (2) sering “kebetulan mewakili” pengalaman sehari-hari para millennial. Selain @masdalu, kita harus menggarisbawahi bahwa hampir semua produk-produk visual di dunia digital-internet, khususnya media sosial, yang memadukan gambar, suara, dan teks, sesungguhnya membutuhkan “interpretasi baru” jikalau kita tak ingin semuanya berlalu begitu saja usai tersentuh sekali-duakali oleh jempol kita.

Dengan ajuan kerangka-kerangka konsep dan contoh-contoh praktik di atas, mungkin akan muncul pertanyaan: apa maksud Dalu Kusma memilih jenis font digital bernama Makiba yang—semampu penelusuran saya—konon didistribusikan secara gratis oleh situs berbahasa Jepang, bernama Vector[23] dan nama pemiliknya adalah Fui[24] …? Kita bisa dengan sangat mudah menebak bahwa jenis font ini diambil dari aplikasi telepon pintar yang biasa digunakan untuk menyunting “teks” di atas gambar atau foto. Tapi, barangkali juga, karena Dalu adalah salah satu yang mewakili generasi millennial dan digital native Indonesia (generasi yang sering dituduh “berjarak” dengan sejarah kebudayaan dunia), orang-orang mungkin akan menjawab bahwa Dalu Kusma memilih font itu bukan dengan kesadaran sebagaimana Barbara Kruger memilih Futura sebagai medium seninya. Wajar saja jika ada yang beranggapan bahwa menebak-nebak alasan pemilihan Makiba sebagai font khas @masdalu adalah tindakan yang sia-sia belaka karena tidak ada tujuan politis di balik itu.

Namun, poin yang ingin saya sampaikan, ialah, bukanlah bahwa “alasan politis” di balik desain grafis @masdalu sungguhan ada atau tidak. Yang justru lebih penting, adalah, kita tidak boleh mengabaikan fakta tentang konsistensi dan pengembangan desain yang diterapkan Dalu terhadap akun @masdalu. Dalu Kusma bahkan dengan sadar untuk tidak menghapus terbitan-terbitan awalnya yang masih mencari bentuk desain yang pas atau terbitan-terbitannya yang tanpa sengaja typo. Dalu sendiri menyatakan bahwa kerangka desain pada terbitannya itu mungkin sekali akan terus berkembang menyesuaikan kebutuhan dan agenda @masdalu ke depannya. Berdasarkan kesadaran yang ia utarakan itu, perlu diakui bahwa konsistensi dan pengembangan tersebut menciptakan suatu energi magnetis yang menarik perhatian kita, sehingga, @masdalu bisa menjadi salah satu pintu bagi kita untuk menafsirkan preferensi-preferensi generasi masa kini, terutama bagaimana dan darimana millennial mengungkapkan ekspresi teraktual mereka.

Terkait hal itu, sebagai contoh, kita bisa merefleksikan bagaimana “akun-akun religius” yang mendistribusikan konten-konten berparadigma fundamentalis-radikal memilih langgam-langgam visual dan tipografi tertentu dalam membangun nuansa emosional dan kedekatan dengan publik sasarannya; bagaimana akun-akun ini menghadirkan “azab ilahi” sebagai propaganda kepentingan kelompok dalam rangka mempertahankan status quo. Begitu pula dengan “akun-akun pujangga jaman now” yang menerbitkan konten-konten bijak dan mendulang keuntungan dari situ; atau “akun-akun selangkangan” yang menerbitkan konten-konten yang sarat pornografi dalam rangka dagang obat kuat secara ilegal; atau “akun-akun gaya hidup berwajah DIY” yang mengomodifikasi berbagai hal yang accessible menjadi konsumerisme baru; atau “akun-akun kolom aplikasi chat” yang menghadirkan tontonan gosip model baru; atau bahkan “akun-akun humor receh” yang membingkai celetukan-celetukan yang berseliweran di hari-hari kita menjadi suatu hiburan sepintas lewat, tapi muncul terus-menerus. Terlepas apakah pengelola akun-akun tersebut memiliki kesadaran seperti Kruger atau tidak, sirkulasi konten yang mereka munculkan, tak bisa dibantah, telah menjadi bagian dalam pertarungan politik representasi yang berkembang di kehidupan kita sekarang ini. Usaha-usaha untuk menginterpretasi text/imagetext/image tersebut, baik terhadap masalah hubungannya dengan medan sosial yang ada di luar konten, maupun terhadap masalah bentuk dan substansi di dalam kontennya, adalah reaksi paling tepat yang harus kita ambil agar kita tidak tersesat dalam kelindan text/image yang jumlahnya tak terbatas ini.

@masdalu: Politik Keseharian

Suatu hari dalam wawancara singkat yang saya lakukan, Dalu pernah bercerita tentang kebiasaannya dahulu sebelum bertemu dengan Instagram. Katanya, ia sering membuat catatan di lembaran-lembaran sticky note atau di kertas-kertas kecil, lalu menempelkannya di tempat yang ia suka. Isinya bisa macam-macam, tapi yang paling sering adalah ingatan-ingatan tentang ujaran-ujaran atau pesan-pesan yang ia dengar dari siapa pun atau dari peristiwa yang tak sengaja ia curi dengar. Agaknya, kebiasaan inilah yang memengaruhi bagaimana kemudian akun @masdalu diperlakukan oleh si senimannya. Keputusan Dalu untuk memilih jenis huruf dari TrueType berbentuk script yang dikomposisikan di atas background bergaris-garis (seperti halaman buku catatan harian), bisa kita anggap sebagai pilihan subjektif dalam rangka merepresentasikan kekhasan personalnya, yang ia rasa penting untuk dikomunikasikan kepada publik.

Kita bisa berasumsi—dan mungkin asumsi ini juga disetujui oleh kalangan yang bekerja di ranah tipografi—bahwa jenis huruf script biasanya dipilih karena, secara visual, dapat membangun keintiman di kepala orang yang melihat/membacanya, sepadan dengan tindakan menggumam atau menggerutu yang ditumpahkan ke dalam catatan harian, atau menjadi perpanjangan ide dari aktivitas doodling—jenis huruf script menuansakan hal yang spontan. Nyatanya, indikasi-indikasi ini tidak hanya terjadi pada Instagram-nya Dalu Kusma, tetapi juga pada akun-akun media sosial sejumlah pegiat media yang, di luar aktivitas bermedia-sosial mereka, saya ketahui kerap berkutat dengan aksi-aksi spontan di atas kertas.

Di media massa cetak, seperti surat kabar harian, kita ingat, format visual semacam ini umumnya terletak di kolom-kolom hiburan atau trivia, menjadi suatu “catatan pinggir” para redaktur, berdekatan tatak letaknya dengan konten-konten karikatur. Meskipun kehadirannya berada di lingkup bidang yang kecil, rubrik ini mengandung substansi yang signifikan bagi konstruksi keseluruhan redaksional media massa cetak tersebut. Oleh Dalu, model ini dispesifikkan dan dibungkus menjadi konstruksi yang utama. Ini seturut dengan gagasan proyek @masdalu itu sendiri, yaitu mengangkat “hal yang receh” sebagai suatu persoalan yang terbingkai sebagai konten dominan. Pembingkaian “hal yang receh” atau narasi-narasi kecil itu, tentu saja, berada pada jalur ideologi yang terkait dengan aktivisme media alternatif dalam menandingi narasi-narasi besar media arus utama.

Sampai di sini, saya teringat pernyataan seorang teman yang merupakan salah seorang pegiat media sosial kawakan, bahwa “politik pengalihan” sering menjadi alasan yang menentukan konten-konten akun media sosial yang memiliki jumlah follower lebih dari puluhan ribu. Dalam bidang studi kajian media, “politik pengalihan” biasanya digunakan sebagai istilah untuk mengacu gelagat para pelaku politik praktis, pemangku kebijakan, atau tokoh-tokoh publik yang dengan sengaja mendistraksi atensi publik dari isu tertentu dengan cara menghadirkan isu lain. Efek dari tindakan ini, meskipun terkadang bertujuan untuk menghindari kaos, tetap menciptakan ketimpangan arus informasi di masyarakat.

Menurut saya, bingkaian terhadap “hal yang receh” pada @masdalu justru menjadi siasat terhadap “politik pengalihan”, karena kesadaran publik terhadap isu-isu besar tetap dijaga @masdalu melalui penyajian konten berupa isu-isu receh yang ditampilkan menjadi kritik tidak langsung, dan yang menjadi sasarannya justru masyarakat ketimbang pelaku-pelaku isu besar. Dalam konteks itu, @masdalu mengedepankan gagasan “politik keseharian”. Berbeda dengan “konten-konten pinggir” pada surat kabar yang masih kental berhubungan dengan narasi-narasi besar secara langsung, @masdalu justru telah beranjak dari kecenderungan itu melalui strategi desain visual.

Ketika menyebut “desain visual”, dalam konteks @masdalu ini, objek yang saya maksud tentu bukan hanya tipografi berbentuk tulisan tangan itu saja, tetapi bagaimana tipografi itu diperlakukan, ditempatkan atau dikomposisi-konstruksi dengan elemen-elemen lainnya di dalam frame 1×1 Instagram. Kita bisa meninjau terbitan-terbitan @masdalu tentang seri “kamus”,

seri “diagram proses lingkaran”,

seri tagar #terusyang,

seri “strikethrough” dan “kata yang dipenggal”,

seri “latar depan yang buram”,

atau yang baru saja terbit tanggal 2 April lalu: “EARTH.”

Dan secara umum, di keseluruhan puisi-puisi @masdalu, penempatan setiap baris kalimat atau kata kerap memperhitungkan rima dan irama, baik yang bertujuan untuk mengimajinasikan tekstur bunyi dalam konteks pengucapannya, ataupun konteks rupa yang sudah pasti akan berkomparasi dengan ruang putih bergaris-garis yang menjadi latarnya. Metode ini adalah salah satu wacana yang juga berkembang di ranah sastra negeri kita. Kata-kata pada @masdalu dirangkai bukan semata sebagai kalimat ujaran seperti yang biasa kita lihat di Facebook atau Twitter, tetapi dikonstruksi sebagai garis-garis yang memiliki tempo, dan bahkan durasi.

Telepas dari pesan objektif yang dimaksud di dalamnya, puisi-puisi @masdalu sudah pasti mengandung polemik bentuk dari segi visual. Tagar #terusyang, sebagai contoh, akan memiliki konotasi yang berbeda sama sekali jika Dalu meletakkannya di atas latar yang berwarna lain (misalnya, merah) atau hanya menggunakannya sebagai “kata bertagar” pada kolom caption. Sebab, ketika ia juga digunakan sebagai image, aspek fungsionalitas tagar Instagram (atau media sosial) justru dikritik melalui semantika dari kata “terusyang” itu sendiri. Perlu disinggung pula (paling tidak hal ini penting di mata saya sendiri), bahwa “nuansa sticky note” pada dasarnya telah menjadi bahasa komunikasi yang juga spesifik. Dalam konteks @masdalu, selain sebagai identitas yang mencirikan pribadi si seniman, visual “catatan harian” seakan menjadi ruang steril terhadap prasangka-prasangka yang tendensius, juga performatif lagi artistik dalam derajat yang tidak berlebihan. Akan tetapi, karena “sticky note” inilah, sebagai efeknya, penempatan #terusyang sebagai bagian dari text-image @masdalu hadir sebagai sebuah spekulasi dan refleksi sekaligus.

Kasus meng-image-kan tagar ini pun juga terjadi pada terbitan #kamitidakngantuk. Di situ, kata bertagar tidak lagi berfungsi sebagai penjaring data teks ataupun pengait jaringan konten, melainkan bertindak sebagai sebuah statement.

Jika Barbara Kruger masih men-superimpose kata-kata dengan gambar-gambar dan karenanya ia kerap bersifat politis, maka praktik Dalu Kusma dalam konteks ini menjadi lebih menarik karena ia sering memposisikan kata-kata pada @masdalu sebagai “gambar” itu sendiri. Permainan tanda pada @masdalu, bisa dibilang, satu langkah lebih kompleks karena kata-kata ditempatkan di dunia virtual pada latar gambar yang kembali ke dasar (yaitu: bentuk garis) dan menyasar netizen—jenis publik yang juga spesifik.

Tentu saja, interpretasi semacam ini merupakan suatu permulaan dan spekulasi awal. Penelaahan yang lebih berarti baru akan bisa kita dapatkan jika meneliti setiap elemen, menarik beragam konteks, atau mengomparasi setiap terbitan @masdalu. Niatan itu tentu membutuhkan pembahasan tersendiri di luar konteks esai ini. Oleh karena itu, saya pribadi lebih memposisikan esai ini, selain sebagai peta baru tentang majas media Dalu Kusma, juga sebagai suatu seruan. Bukan saja seruan untuk menginterpretasi karya-karya @masdalu, tetapi juga seruan untuk menginterpretasi konten-konten text/image oleh akun-akun media sosial yang lain. Sekaranglah saatnya kita lebih cermat memperhatikan memescreencapt, Instagram Story, kolom komentar, dan caption. Sebab, sesungguhnya setiap detik kita tengah berhadapan dengan “politik representasi” dan “politik keseharian”. ***

Catatan Kaki:

[1] TED (Januari 2009), “David Carson”, diakses dari TED tanggal 29 Maret 2019. (Terjemahan Indonesia dari penulis). Lihat juga video presentasi David Carson di TED.

[2] Lewis Blackwell, The End of Print: The Grafik Design of David Carson (London: Laurence King Publishing, 2000), hal. 2. (Terjemahan Indonesia dan kata bercetak tebal berasal dari penulis).

[3] Kalimat ini merupakan paraphrase dari penjelasan yang dikemukakan oleh Sharan Shetty dalam artikel berjudul “The Rise And Fall Of Grunge Typography”, The Awl, 21 Agustus 2012. Diakses dari The Awl, tanggal 29 Maret 2019.

[4] Roland Barthes, Image, Music, Text (New York: Hill and Wang, 1977), terj. Stephen Heath.

[5] Ellen Lupton, Thinking with Type: A Critical Guide for Designers, Writers, Editors, and Students (New York: Princeton Architectural Press, 2004), hal. 63.

[6] Lesley Lanir mengurai kerumitan yang terkandung dalam esai Barthes itu ke dalam penjelasan sederhana yang mudah dicerna lewat artikelnya, berjudul “Barthes’ Description of the Object ‘Text’” di situs web Decoded Science, 17 April 2013. Diakses tanggal 29 Maret 2019.

[7] Lihat dalil pertama Barthes pada “From Work to Text”, dalam Roland Barthes, op. cit., hal. 156-157.

[8] Ellen Lupton, op. cit., hal. 68.

[9] Lihat di Katherine McCoy & David Frej, “Typography as Discourse”, 1988, dalam Helen Armstrong (Ed.), Graphic Design Theory: Reading from The Field (Ney York: Princeton Architectural Press, 2009), hal. 82-83. Terjemahan bahasa Indonesia berasal dari penulis.

[10] Lihat Katherine McCoy, “American Graphic Design Expression: The Evolution of American Typography”, Design Quarterly 149 (Cambridge: The MIT Press, 1990), hal. 3-22; diakses dari dokumen online pada situs web Graphic Design Theory tanggal 2 April, hal 1.

[11] Ibid., hal. 2

[12] Ibid.

[13] Lihat Ellen Lupton, op. cit., hal. 73.

[14] Penjelasan Ellen Upton tentang pemikiran Katherine McCoy, lihat Ellen Lupton, Mixing Messages: Graphic Design in Contemporary Culture (New York: Princeton Architectural Press, 1996), hal. 51.

[15] The Australian, “Anti-consumerist chic makes a statement”, 26 Desember 2005, hal. 9.

[16] The Sunday Age, Preview, “The artist as brand”, 4 Desember 2005, hal. 4.

[17] ‘Wit’ adalah salah satu bentuk atau cara mengekspresikan humor intelektual melalui permainan kata baik yang diucapkan (lisan) maupun dituliskan. Lihat artinya di situs web Oxford Dictionaries, diakses tanggal 2 April 2019.

[18] Ariela Gittlen, “How Feminist Artists Reclaimed Futura from New York’s Mad Men”, 11 Agustus 2017, diakses dari situs web Artsy tanggal 2 April 2019.

[19] Lihat Miriam Harris, “Here’s everything you should know about Futura, on its 90th anniversary”, 6 Oktober 2017, diakses dari situs web DigitalArts tanggal 2 April 2019.

[20] Ariela Gittlen, op. cit.

[21] Ibid.

[22] W. J. T. Mitchell & Barbara Kruger, “An Interview with Barbara Kruger”, Critical Inquiry, Vol. 17, No. 2 (Winter, 1991), hal. 438.

[23] Informasi diakses dari situs web Vector tersebut tanggal 29 Maret 2019.

[24] Lihat situs Forest Watch Impress atau halaman yang menginformasikan si pemilik fontpada situs web Vector berikut ini. Diakses tanggal 29 Maret 2019.

Peta Majas Media @masdalu (Bag. 2)

Esai ini saya buat dalam rangka penelitian kuratorial dan usaha mewacanakan praktik artistik seniman Dalu Kusma yang membuat karya dengan medium media sosial Instagram, @masdalu. Esai ini sudah pernah dimuat di situs web @masdalu pada tanggal 1 Januari 2019.

MESKIPUN “FAKTA TEORETIK”-NYA masih dapat berlaku bagi praktik-praktiknya hingga sekarang, sebagaimana yang tertera dalam salah satu teori konvensional tentang humor[1] yang sering diacu (oleh kebanyakan akademisi di ranah psikologi dan sosial), bahwa humor biasanya dapat dicapai tatkala dua syarat terpenuhi (yaitu, adanya (1) “keganjilan” dan (2) “resolusi atas keganjilan tersebut sebagai punchline”), aksi-aksi komedi kontemporer yang umumnya termediasi oleh media sosial perlu dipahami dengan cara yang berbeda.

Saya kira, poin kelucuan pada “Yha Challenge” atau “Seberapa Greget Lo?”, sebagai contoh, dapat terjadi (dan terakumulasi) bukan hanya karena adanya kalimat yang saling beroposisi (atau paradox), ataupun adanya pembelokan ekspektasi penonton, tapi juga karena ada “atribut pemicu” yang menjadi alat utama penegas punchline mereka. Yang mesti digarisbawahi dari dua contoh ini adalah aspek pragmatik[2] dari suatu pernyataan jenaka yang di-perform-kan. Aspek itu dapat diteliti dari, pertama, karakteristik mediumnya, yaitu moving image (atau video) yang diviralkan, dan kedua, dari bagaimana konten lucu dan ekspresi yang menyertainya diujarkan. Konteks moving image yang saya maksud tentunya merujuk kepada fenomena video online karena konten-konten lucu ini memang bertujuan untuk menjadi viral, di media sosial bukan di televisi, dan hadir sebagai image yang vernakular. Sedangkan cara ujaran, itu berkaitan dengan apa saja elemen-elemen naratif dan visual yang digunakan si pembuat di dalam kontennya.

Pada contoh yang pertama, “atribut pemicu” yang saya maksud ialah seruan “Yha!”, sebagai satu bagian dari act of speech, yang diteriakkan sembari memperagakan gerakan yang menunjukkan rasa “geli”, serentak beramai-ramai oleh para pelawak—atau para awam yang bermaksud mem-perform-kan tindakan melawak—di dalam video yang mereka unggah.[3] Pada contoh kedua, biasanya dilakukan dengan menampilkan teriakan seru, seperti “Wooo!”, yang menyiratkan pujian: “Betapa jeniusnya jawabanmu!” atau “Lo swag banget, Bro!”, lengkap dengan efek visual yang menegaskan ulang nuansa ke-swag-an yang dimaksud sebagai poin kelucuan. Selain itu, sering kali di dalam seri kalimat jenaka yang di-perform-kan pada video “Seberapa Greget Lo?”, si pembuat menyelipkan satu atau dua ujaran ironis dengan menyinggung topik “jomblo”—dan pada bagian ini, yang bekerja adalah teori superioritas dalam humor. Tapi yang menarik untuk dipikirkan ulang, efek-efek visual yang mereka gunakan (jika ada) mungkin bukan dalam niatan/kerangka pikir seorang pembuat film yang berusaha menyentuh emosi penonton, tetapi sebagai mocking (dan lebih spesifik: mocking atas karakteristik teknologi medianya sendiri), dan karenanya sangat efektif sebagai “komedi-receh visual” ala netizen.

Menurut saya, dua kasus di atas bisa kita maknai juga sebagai contoh dari “tiga aspek yang tak terucapkan dalam humor” yang diajukan oleh Marlene Dolitsky,[4] atau contoh lain dari pemanfaatan metode yang belajar dari fenomena “wabah tawa Tanganyika”: jika tawa bisa menular (dan ditularkan) maka penularan tawa pun bisa dipicu. Metode ini, saya pikir, juga digunakan oleh banyak YouTuber ketika menyunting video-video mereka, baik dari cara mereka mengonstruksi gambar maupun dari cara mereka menghadirkan “subjek penggembira” untuk memancing penonton agar ikut tertawa. Memang, ini bukan metode yang baru karena televisi sudah menerapkannya lebih dulu. Bukankah tepat juga jika kita mengatakan bahwa konten-konten awam di YouTube sudah banyak yang terjebak pada gaya hiburan khas televisi yang lebih dulu populer sejak generasi-generasi sebelum millennial? Tapi, paling minimal, dari sini kita bisa melihat lebih jelas apa yang membuat konten-konten video itu tetap “lucu”.

Saya sengaja menyoroti “atribut pemicu” di dalam dua kasus “video lucu” yang viral sejak setengah tahun lalu itu karena, setelah memikirkannya cukup lama (hampir setahun), saya berpendapat bahwa konten-konten “video lucu” semacam itu relatif tidak lucu jika dinilai dari segi substansialnya. Apalagi kalau kita menganalisanya dengan menggunakan “teori-teori besar” dalam disiplin komedi dan humor. Mungkin ini pula alasan yang menyebabkan munculnya istilah “humor receh”. Akan tetapi, ternyata konten-konten receh tersebut, yang dipandang sebelah mata oleh para snob, juga memiliki suatu daya yang tetap bisa melepas “energi psikis” (yang terwujud dalam bentuk tawa) yang dimaksud Freud. Walau tak lucu, kita tetap tertawa, atau setidaknya tersenyum. Paling tidak, itu yang saya alami: saya sering tertawa menyaksikan video-video “Yha Challenge” ataupun “Seberapa Greget Lo?” di waktu-waktu dini hari ketika mata saya tak kunjung terpejam akibat mengonsumsi media sosial.

***

Konon Louise Michel pernah berkata bahwa puisi telah menjadi milik semua orang sebagaimana halnya drama yang tak lagi melulu ditemukan di dalam teater.[5] Peter Snowdon pun berargumen bahwa moving image juga mengalami hal yang sama. Kini kita pun bisa berargumen—dengan menyadari buntut dari fenomena semakin membuminya segala hal yang berkaitan dengan aktivitas bermedia ini ke masyarakat—bahwa komedi juga telah menjadi milik semua orang.

Maksud saya tentang “kepemilikan” ini bukan berarti bahwa dahulunya komedi tak dimiliki semua orang. Saya pribadi percaya bahwa komedi atau humor sesungguhnya lahir dari keseharian masyarakat. Sementara, “kepemilikan” yang saya maksud itu sehubungan dengan bagaimana “kelucuan” itu dikemas dan didistribusikan lewat alat-alat produksi (media) yang kini sudah mudah diakses. Untuk memproduksi dan menyajikan konten humor, orang-orang tak membutuhkan kemampuan khusus layaknya seorang komedian profesional. Bagi yang ingin melucu di media sosial, mereka cukup ikuti perkembangan tagar terbaru, lalu konstruk kontennya sesuai rules (dengan mengadopsi atau mengulangi konten-konten serupa yang sudah beredar), lalu tinggal tunggu hasilnya: berapa like dan repost yang akan kita dapat. Dan bisa dispekulasikan, tidak sedikit netizen akan terhibur dan bahkan terpicu untuk menjadi “komedian” pula. Soal apakah fase berikutnya si creator akan menjadi terkenal dan berhasil mendulang kekayaan dari aktivitas tersebut, itu hanyalah dampak ekonomis yang lumrah dalam persaingan media, tapi dengan adanya fakta di atas, rasa-rasanya kita cukup beralasan untuk menyebutnya demikian: mereka telah menjadi “pembuat konten humor”.

Lalu, muncul pertanyaan di kepala saya: apakah gerangan yang akan terjadi jika, dari konten-konten humor yang termediasi oleh media sosial itu, kita penggal dan buang aspek “performativitas teknologi medsos” yang melekat pada mereka? Jika itu mungkin direalisasikan, apakah mereka akan tetap mengandung sense of humour yang nilainya sama dengan keadaan mereka ketika sebelum dipenggal? Jika konten-konten tersebut diadopsi ke dalam drama di ranah teater, apakah penonton akan tertawa karena nilai kelucuan yang murni lahir dari substansi tekstualnya, atau justru hanya karena ada memori kolektif di kepala penonton tentang keberadaan media sosial yang telah menjadi latarbelakang sosial hampir seluruh elemen masyarakat dewasa ini? Apakah mereka sebenarnya semata merupakan in-jokes di lingkungan netizen, atau juga akan bernilai humor di mata orang-orang bukan user? Atau, apakah itu semua hanyalah humor-humor kolot yang sudah/sedang berganti tempat distribusi saja? Apakah media sosial itu sendiri memiliki signifikansi tertentu dalam proses terbentuknya persepsi user atas makna konten-konten tersebut, atau tidak?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu baru akan bisa dijawab dengan tepat jika kita melakukan suatu penelitian panjang dan mendalam dengan menerapkan metode, pendekatan, dan begitu banyak variabel yang memusingkan kepala. Namun, untuk sementara saya mencoba percaya bahwa “aspek teknologis dari media sosial” memainkan peran yang penting dalam fenomena merebaknya konten-konten humor ala medsos tersebut, bukan dalam hal produksi dan distribusi saja, tetapi juga aspek estetika humornya. Ini pun bukan sekadar soal dari mana konten humor itu lahir dan kemudian menjadi fenomenal (antara offline dan online). Lebih dari itu, perbedaan ranah media itulah yang sesungguhnya bisa kita jadikan picuan untuk berpikir bahwa karakter dari setiap konten yang kita konsumsi sehari-hari memiliki kekhasan: kodrat dari konten media online (khususnya media sosial) jelas berbeda dengan konten-konten di media konvensional. Misalnya, logika humor pada kalimat semacam “Ya, iyalah, masa ya, iya, dong!” yang—seingat saya—pernah populer di dalam dialog pada tayangan sinetron di televisi atau di dalam pecakapan sehari-hari kaum remaja, tidak akan laku dalam logika video “Yha Challenge” sekarang ini, sebagaimana halnya mekanisme humor dalam “20 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Waktu Putus”-nya Chandra Liow (2014) akan sulit menemukan punchline-nya jika dipertunjukan dalam acara stand-up comedy ala televisi yang, kebanyakan, tampil abusive. Dan “Kejahatan Dunia Maya! Medan Garis Keras!” (2016) yang menjadi bagian dari seri Medanegle-nya Kamaratas! adalah sebuah lompatan dalam perkembangan “humor performatif”, dan lompatan itulah yang selama ini gagal dilakukan oleh produser-produser program reality show televisi.

***

Praktik artistik Dalu Kusma melalui karyanya, @masdalu, berusaha membingkai fenomena “receh” ini, dan/atau berada di sirkulasi isu-isu tersebut. Kita pun dapat menelaah bahwa negotiation theories dan frame theories (dalam mazhab sosiologis), dan incongruity-resolution theory—sebagaimana yang di-mention oleh Mulder dan Nijholt—serta pendekatan analisa wacana kritis sangat relevan untuk memahami derajat humor yang terkandung di dalam teks-teks @masdalu.

Kita juga dapat menyadari bahwa, pada teks-teks @masdalu yang mendokumentasikan isu “drama-drama receh percintaan”, Dalu Kusma secara sadar mengamini “atribut pemicu” yang sudah saya coba jelaskan di atas, tetapi ia memanfaatkannya dengan kasat mata dan telinga; karena basis karyanya adalah teks-image, bukan audiovisual, maka “atribut pemicu” justru akan “di-perform-kan” dengan sendirinya oleh netizen. Yang malahan terjadi ialah, ia menerakan caption yang menyimpang sama sekali dari pesan tipografinya. Ini juga merupakan cara komedi ala @masdalu dalam menciptakan “pelepasan energi psikis” (baca: tawa): ekspektasi netizen atas caption—yang diasumsikan [seharusnya] berkaitan dengan teks tipografi—diruntuhkan oleh Dalu dengan memberikan caption yang tak nyambung sehingga “resolusi atas keganjilan”—yang sebelumnya dihasilkan dari kelucuan dalam tipografi—dikembalikan menjadi “keganjilan” sekunder untuk diresolusikan lagi sebagai suatu kesatuan “tipografi+caption”. Dengan kata lain, lawakan @masdalu adalah “humor berganda”, dan metode “humor berganda” @masdalu, menurut saya, adalah yang paling efektif di antara akun-akun lain yang mencoba metode lawakan serupa.

Paragraf di atas adalah sebuah analisis progresif terhadap @masdalu dalam konteks alamnya di media sosial. Kata kunci “humor”, atau “komedi”, dalam catatan ini, saya gunakan sebagai pisau bedah justru untuk memetakan gaya bahasa @masdalu, bukan untuk membuktikan eksistensi dari aspek ke-humor-annya. (Meskipun sebenarnya, secara teoretik, rujukan yang saya gunakan dapat menegaskan nilai komedi karyanya).

Dalam rangka memahami lebih jauh gaya bahasa itulah, pertanyaan yang sama dapat kita ajukan: bagaimana jika metode @masdalu ini ia terapkan di alam offline? Apa yang akan terjadi jika Dalu Kusma melompat dari dunia online dan justru bereksperimen di ruang fisik menggunakan tipografi untuk mengolah rekaman-rekaman recehnya itu?

Proyek residensi Dalu Kusma di Bengkel Tiga dan Empat, bisa dibilang, sedang menapaki kemungkinan tersebut sebagai upaya dari Dalu sendiri untuk menelaah dan membuka pemahaman baru atas praktik artistiknya secara lebih mendalam. Visinya bukan melulu harus humor, tetapi bisa jadi suatu imajinasi sastrawi yang lain, yang tak kalah performatifnya, tentu saja. ***

Catatan Kaki

[1] Lihat M.P. Mulder & A. Nijholt,  (2002), “Humor research: State of the art”, CTIT Technical Report series, hlm. 02-24. Diperoleh 1 Januari 2019 dari situs web Anton Nijholt.

[2] Saya merujuk istilah “pragmatik” dalam linguistik.

[3] Memang harus beramai-ramai! Cobalah tinjau video “Yha Challenge” yang dilakukan oleh satu orang, kita tidak akan mendapatkan efek humor sebagaimana mestinya, kecuali jika menertawakan kekonyolan tersebut.

[4] Lihat Marlene Dolitsky, (2009), “Aspects of the unsaid in humor”, Humor – International Journal of Humor Research, 5(1-2), hlm. 33-44. Diperoleh 1 Januari 2019, dari doi:10.1515/humr.1992.5.1-2.33

[5] Saya kutip kalimat ini dari penggalan yang dikutip dan diterjemahkan oleh Peter Snowdon dalam jurnalnya yang berjudul “The Revolution Will be Uploaded: Vernacular Video and the Arab Spring”, Culture Unbound, Volume 6, 2014: 401–429.