Pemberdayaan: Suatu Pendalaman tentang Seni sebagai Aktivisme

img_20160720_225142

Image © Manshur Zikri, 2016

Dalam rangka mengkaji secara terus-menerus esensi aktivisme pemberdayaan, usaha untuk turut mendistribusikan beberapa karya tulis menyangkut topik “pemberdayaan” lewat blog ini, pada dasarnya, menjadi bagian langsung dari praktik pemberdayaan itu sendiri. Pikiran dan pengalaman yang tertuang dalam karya-karya tulis ini hanyalah sedemikian kecil bagian dari keseluruhan cakrawala gagasan mengenai pemberdayaan yang bagian-bagian lainnya dapat dikatakan belum tereksplorasi secara mendalam oleh para pegiat akar rumput (termasuk penulis sendiri).

Esai-esai berikut ditulis berdasarkan pengalaman (empirik) penulis dalam beberapa proyek/program yang diorganisir oleh Forum Lenteng (organisasi nirlaba berbasis di Jakarta, tempat penulis beraktivitas). Satu tulisan, berjudul “Sadar Instagram”, merupakan esai yang dibuat di waktu senggang sekitar dua tahun lalu, menanggapi keseruan beberapa kawan yang mencoba berkreasi dengan menggunakan media sosial. Sementara itu, sebuah resensi berjudul “Tantangan Pemberontakan Baru Atas Media [Filem]”, sebenarnya merupakan sebuah esai kuratorial untuk program penayangan filem The Uprising (2013) karya Peter Snowdon di festival filem ARKIPEL 2014. Filem tersebut merespon fenomena media sosial (YouTube). Oleh penulis, gagasan dalam kuratorial ini cukup relevan sebagai salah satu contoh praktik alternatif dari pemberdayaan yang mendasarkan literasi media sebagai kerangka pikirnya.

Filem berjudul Gerimis Sepanjang Tahun (2015) yang diproduksi oleh Forum Lenteng, bekerja sama dengan Komunitas Ciranggon, adalah salah satu karya komunitas lokal yang juga merepresentasikan esensi pemberdayaan media. Berpartisipasi dalam proyek lokakarya AKUMASSA Jatiwangi yang diselenggarakan oleh Forum Lenteng (atas undangan sekaligus dukungan Jatiwangi Art Factory), warga lokal di Dusun Wates (Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat) lantas mendirikan Komunitas Ciranggon sebagai langkah konkret pengorganisiran suatu gerakan pemberdayaan lokal. Filem ini adalah suatu cara untuk bersuara dengan mendayakan puisi visual: lanskap sebuah lokasi yang dinarasikan melalui sudut pandang warga. Rekaman tentang rivalitas antara ‘pembangunan modern’ dan ‘rutinitas tradisional’ ini dibingkai baik sebagai kritik sosial maupun sebagai pintu untuk mengimajinasikan spekulasi-spekulasi taktikal dalam rangka mengantisipasi gegar budaya di masa mendatang yang dapat diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang bergerak pelan tapi pasti itu.

Penulis terlibat secara langsung dalam produksi filem Gerimis Sepanjang Tahun, baik sebagai peneliti, fasilitator lokakarya, maupun sebagai salah satu kolaborator yang turut merekam peristiwa dan menyunting gambar. Pemuatan link YouTube filem tersebut di blog ini adalah bagian dari upaya untuk mendukung agenda Forum Lenteng dalam mendistribusikan karya-karya audiovisual secara terbuka kepada khalayak luas, semata demi kepentingan pendidikan.

Suatu gerakan, suatu pemberdayaan, dan cita-cita aktivisme, tak akan pernah tercapai secara maksimal tanpa totalitas dalam hal pengorganisirannya. Ini berkaitan dengan inisiatif untuk mengelola berbagai materi—termasuk pengelolaan arsip. Lewat blog ini, saya mencoba menerapkan gagasan itu: memilah kembali, lantas mengolahnya ke dalam editorial “pemberdayaan”, dengan harapan arsip ini dapat terus membuka berbagai peluang pengelolaan yang lebih baik di masa depan.

Selamat membaca!

Daftar Isi

Esai (Tematik)
Masyarakat Berdaya Untuk Pemberdayaan Pemerintah
Pemberdayaan. Apakah itu?
Sadar Instagram
Disrupsi Terhadap Konstruksi Arsip: Tatkala Kamera Mencerminkan Gelagatnya

AKUMASSA
Wates Bermedia Membangun Desa

Halaman Papua
Keaksaraan Media Pangkal Bagi Perbaikan Sistem Pelayanan Kesehatan

Resensi
Tantangan Pemberontakan Baru Atas Media [Filem]

Image
Gerimis Sepanjang Tahun

Awal Mula Menerapkan Rubrikasi untuk Blog Ini

Adalah sebuah progresivitas, sebagaimana yang saya percaya, jika muncul inisiatif untuk memikirkan bentuk (atau ‘form’). Bahkan, dalam kerja penerbitan atau menyebarkan semacam kemasan pemikiran pun, hal itu bukanlah sepele.

Atasnama Viet (04)
Image © Manshur Zikri, 2018

Bentuk (atau tampilan) ke hadapan publik mengandung suatu statement, setidak-tidaknya itu menunjukkan energi dan totalitas yang khas. Pada bentuklah suatu struktur berpikir si pengarang dapat ditakar dengan menghindari dramatisasi nan jemu.

Bahkah, dalam hal tata letak pun, teks juga menuntut kepiawaian pengarang dalam menghadirkan dirinya sebagai “bentuk”, baik dalam sifat lirisnya maupun visualnya.

Blog adalah sarana bagi penulis warga untuk menerbitkan jurnal personal versi mereka sendiri. Sebagian besar penyedia layanan blog memiliki fasilitas untuk para penulis menerbitkan tulisan dengan batasan waktu yang tidak kaku, bergantung keinginan si penulisnya (atau si pengelola blog). Daily post, umumnya.

Image © Manshur Zikri, 2018

Namun, di mata saya sendiri, mencoba mengadopsi terbitan jurnal berkala (dengan beberapa artikel sekali terbit) menjadi tantangan lain. Kerja semacam itu memicu, di satu sisi, adanya penyediaan ruang untuk berpikir secara lebih saksama (tidak terbebani oleh keharusan menerbitkan artikel setiap hari) sembari tetap menjaga intensitas terbitan dan kedalaman isi. Di sisi yang lain, meskipun barangkali kuantitas terbitan menurun, mekanisme semacam ini menuntut usaha yang lebih tinggi: kerangka berpikir editorial, rumusan tematik, membutuhkan bingkaian kuratorial.

Image © Manshur Zikri, 2018

Atas dasar pertimbangan itulah, saya lantas juga menerakan rubrikasi pada blog ini yang serupa dengan jurnal-jurnal tematik pada umumnya. Semoga memberikan suasana baru sekaligus memicu upaya melepaskan dahaga untuk menghasilkan karya-karya yang dibuat secara matang.

Selamat membaca!

Daftar Isi

Esai
Kita-[sebagai]-Media; KitaMedia
Otty Widasari: Yang Melihat Media
Kritik Untuk Jurusan Kuliah

Akumassa
Kembali Ke Bangsal; Kembali Ke Kehidupan
Aktivasi Ruang Demi Seni Sehari-hari

Resensi
Menemui Lagi Siti

Image
Atasnama Viet, Namakan Nam
Warteg Bu Sri
Sabtu Ke Bogor