Jurnalis Juga Manusia; Pembaca Harus Lebih Dewasa

Jurnalis juga manusia_01

Ketika tulisan ini dibuat, 24 Januari, 2015, pukul 09:00 WIB, kasus penangkapan Bambang Widjojanto (BW) telah berkembang jauh dari apa yang saya dengar di depan kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin. Memeriksa di internet, saya mendapati beberapa media massa telah mengabarkan bahwa BW dibebaskan oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Artikel di Kompas.com

Artikel di Kompas.com

Situs Kompas.com, misalnya, pada artikel bertanggal 24 Januari, 2015, pukul 02:27 WIB, mengabarkan bahwa Polri menangguhkan penahanan terhadap BW setelah KPK bertemu dengan Wakil Kepala Polri Komjen Badrodin Haiti.[1] Begitu pula artikel pada situs detiknews yang terbit dua jam lalu, mengabarkan bahwa BW dilepaskan oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sekitar pukul 01:30 WIB, kemudian BW tiba di KPK sekitar pukul 02:15 dan sampai di rumahnya di Depok sekitar pukul 04:15 WIB.[2] Artikel dari situs Viva[3], MetroTV News[4], JPNN[5], danTempo[6] juga menegaskan hal yang sama. Dari beberapa sumber ini—meskipun isi beritanya tidak menunjukkan adanya eksplorasi yang berbeda dan mendalam terhadap isu tersebut—saya yang bangun kesiangan di kosan, Depok, menjadi cukup yakin bahwa Bambang Widjojanto memang sudah dibebaskan dini hari tadi. Belum ada kabar terbaru dari daftar artikel yang ditawarkan Google kepada saya.

Artikel di detiknews

Artikel di detiknews

Artikel di Metro TV News

Artikel di Metro TV News

Artikel di Tempo.co.

Artikel di Tempo.co

Menurut saya, di tengah-tengah situasi carut-marut politik yang semakin krisis ini, isu-isu terbaru berkembang demikian cepat seiringan dengan fenomena disinformasi. Dengan begitu banyaknya informasi yang datang ke hadapan kita, baik yang faktual maupun yang berbual, kita rentan tersesat. Mau tidak mau, sebagai masyarakat awam, melakukan pemeriksaan ke berbagai sumber berita menjadi suatu keharusan. Apalagi bagi para jurnalis profesional, memastikan informasi yang mereka dapat berasal dari sumber yang benar merupakan tanggung jawab profesinya supaya tidak menyesatkan publik pembaca.

Di tulisan ini, saya berniat menjadikan isu BW sebagai latar. Saya ingin berbagi pengalaman ketika berada di depan kantor KPK kemarin, melihat-lihat suasana demonstrasi yang memprotes penangkapan itu.

Jum’at, 23 Januari, 2015, saya baru saja terbangun—lagi-lagi kesiangan—di kamar kosan ketika ponsel saya berdering. Otty, Direktur Program akumassa Forum Lenteng, berbicara dari rumahnya di Cibubur, menanyakan apakah saya sudah mendengar kabar bahwa BW ditangkap polisi. “DiFacebook sekarang lagi ramai, tuh!” serunya.

Langsung saja saya memeriksa media sosial dan mendapati beberapa kawan di Facebookmembagi-bagikan publikasi tentang agenda berkumpul di depan kantor KPK, usai waktu sholat Jum’at, untuk melakukan aksi massa. Saya masih belum percaya dengan apa yang terjadi. “Kok makin ngaco aja, sih?” begitulah justru reaksi saya, awalnya, ketika membaca berita-berita penangkapan BW.

Beberapa saat kemudian, teman saya, Bagas, seorang peneliti muda di Yayasan Interseksi, mengirim pesan melalui whatsapp: “Ke KPK, yok!”

Menerima pesan seperti itu, “Wah, beneran, nih, ternyata!” seru saya kepada diri sendiri. Tanpa banyak basa-basi, saya pun menyetujui ajakan Bagas dan bergegas menemuinya di kantornya sebelum akhirnya kami menaiki kereta dari Pasar Minggu menuju Cawang, dan lanjut menaikiTransjakarta menuju Kuningan, Jakarta.

Pemandangan yang saya tangkap dari halte Kuningan Madya.

Pemandangan yang saya tangkap dari halte Kuningan Madya.

Ketika turun dari bus Transjakarta di halte Kuningan Madya, saya langsung mendengar suara orasi demonstran. Beberapa detik kemudian, sebuah lagu dari pengeras suara terdengar begitu kencang. Iringan demonstran yang saya dengar orasinya itu menggunakan banyak pengeras suara di mobil panggung—tempat berdirinya si orator—yang berhenti di pinggir jalan, depan gedung kantor KPK.

“Mafia hukum, hukum saja! Karena hukum tak mengenal siapa.”

Lirik dari band Navicula, berjudul Mafia Hukum terdengar berkali-kali diputar oleh demonstran di sela-sela orasi mereka. Saya melihat umbul-umbul dan spanduk bertuliskan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dibawa oleh mereka. Sekali lagi saya tegaskan, dengan loudspeaker yang mereka gunakan, suara orator terdengar sangat jelas.

“Kami, para buruh, datang ke sini untuk mendukung KPK!” begitulah kira-kira ujaran orator, berkali-kali.

Pemandangan yang saya tangkap dari halte Kuningan Madya.

Warga menonton aksi demonstrasi.

Warga menonton aksi demonstrasi.

Sementara itu, penyampaian tiga tuntutan dalam demonstrasi oleh Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi sudah dibacakan ketika saya masih berada di dalam kereta. Tapi saya mendapatkan foto lembaran siaran pers melalui whatsapp dari seorang teman. Isi dari tiga tuntutan itu, antara lain adalah (1) bebaskan Bambang Widjojanto, (2) Presiden Jokowi [harus] membatalkan pengangkatan Komjen (Pol) Budi Gunawan menjadi Kapolri dan mendukung pengusutan oleh KPK, (3) mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membela KPK.

Foto lembaran siaran pers yang dikirim teman saya melalui whatsapp.

Foto lembaran siaran pers yang dikirim teman saya melalui whatsapp.

Rombongan massa buruh. Tampak di foto, mobil panggung yang meggunakan pengeras suara.

Rombongan massa buruh. Tampak di foto, mobil panggung yang meggunakan pengeras suara.

Selain rombongan buruh dan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi, ada juga rombongan demonstran lainnya, misalnya Solidaritas Aksi Mahasiswa Anti Demoralisasi (SAMAD) dan Pembela Kesatuan Tanah Air (Pekat). Lucunya, kesemua rombongan massa yang saya sebutkan itu berorasi dengan rombongannya masing-masing, tidak di bawah satu komando. Dan suara dari rombongan buruh—beberapa rombongan mahasiswa bergabung dengan rombongan buruh—tetap paling keras dan paling menggema sore itu, sedangkan rombongan demonstran lain hanya menggunakan toa.

Rombongan demonstran yang mengatasnamakan SAMAD.

Rombongan demonstran yang mengatasnamakan SAMAD.

Melihat namanya menyematkan kata “anti demoralisasi”, saya awalnya menduga rombongan SAMAD ini membela KPK. Akan tetapi, mereka justru membakar kain yang bertempelkan foto Abraham Samad. “Lho, kok…?”

Jurnalis juga manusia_12

Jurnalis juga manusia_13

Ketika saya masuk ke halaman kantor KPK, tepat di depan rombongan massa yang membawa spanduk dan kertas karton bertuliskan “Save KPK” dan “Saya KPK”, saya bertemu seorang teman (yang dulu satu jurusan kriminologi di Universitas Indonesia) yang sudah menjadi jurnalis. Ia baru saja selesai meliput untuk siaran stasiun televisi tempatnya bekerja.

Ngapain, Kak, ke sini?” tanyanya.

“Iseng aja, pengen tahu!” jawab saya dan Bagas, nyengir.

“Oh…!”

Dapet apa aja?” tanya saya, penasaran, kepada teman saya itu.

Dapet banyak! Ada kabar katanya mau lanjut ke Mabes Polri. Terus katanya ada massa bayaran juga.”

“Oh, ya?! Yang di sebelah kanan itu, ya?” kata saya (maksudnya, di sebelah kanan gedung KPK). Teman saya itu mengangguk.

“Bayarannya dari mana?” tanya saya lagi.

“Ya, gitu, deh! Biasa, dengarnya, sih, dari Hasto Cs…!” katanya tersenyum. “Ya, udah! Saya lanjut dulu, ya, Kak!” Teman saya itu pun berlalu.

Saya tidak bermaksud menuduh Hasto Cs dalam tulisan ini karena informasi dari teman saya yang wartawan itu belum tentu benar sama sekali. Akan tetapi, dugaan bahwa adanya massa bayaran di depan gedung KPK kemarin memang terasa begitu kuat. Massa yang berorasi di depan pintu masuk kantor KPK pun sempat berteriak “Huuu!” kepada rombongan demonstran yang berada di sebelah kanan gedung. Tingkah laku mereka tidak baik, seperti berusaha memaksa masuk dengan memanjat pagar—karena petugas kepolisian menjaga pintu gerbang.

Apa yang dilakukan oleh rombongan yang saya duga sebagai massa bayaran ini berbeda dengan rombongan buruh yang hanya berorasi di luar halaman, di pinggir jalan, tanpa menerobos masuk atau memanjat-manjat pagar.

Jurnalis juga manusia_14

Artikel berita dari Suara.com menyebutkan bahwa rombongan SAMAD adalah demonstran yang menuntut pengusutan terhadap Abraham Samad dengan tuduhan melanggar kode etik karena menemui politisi untuk meminta jabatan cawapres[7]—seperti yang kita tahu, isu ‘jabatan cawapres’ ini datang dari Hasto Kristiyanto.[8]

Sementara itu, pada artikel di situs Tempo, informasinya sedikit rancu: “Massa yang berkumpul di halaman merupakan pendukung KPK. Sedangkan segerombolan orang di jalan merupakan pendukung Polri,” tulis Tempo. “Massa di gedung KPK…itu digawangi tokoh-tokoh masyarakat…Sedangkan massa di jalanan tidak dihadiri satu pun tokoh masyarakat…Selain berorasi, massa di luar pagar KPK itu juga menyetel musik dengan kencang. Keberadaan mereka membuat macet jalanan sekitar.”[9]

Menurut saya, artikel di situs Tempo itu agak gegabah karena, seperti yang saya lihat sendiri di sana kemarin, tidak semua demonstran yang berdiri di jalan adalah anti KPK. Bahkan, salah seorang orator dari rombongan buruh sempat marah dan memanggil wartawan dari Kompas TVyang berada di lokasi.

“Kami minta Kompas TV meminta maaf karena sudah salah memberitakan dengan menyampaikan bahwa kami, buruh, anti KPK!” seru si orator. “Padahal, kami datang jauh-jauh ke sini adalah untuk mendukung KPK. Kompas TV harus meminta maaf dan memberikan klarifikasi!”

Saya yang saat itu kebetulan sedang membeli rokok kepada salah seorang pedagang asongan di luar pagar, melihat seorang jurnalis perempuan dari Kompas TV mendatangi mobil panggung milik rombongan demonstran buruh. Ia didampingi oleh petugas polisi.

“Beri tepuk tangan untuk Kompas TV karena jiwa besar wartawannya yang mau mendatangi kita untuk melakukan klarifikasi,” kata si orator. “Kawan-kawan, mohon tahan, jangan ada terjadi kerusuhan!”

Jurnalis Kompas TV yang meminta maaf ke rombongan massa buruh.

Jurnalis Kompas TV yang meminta maaf ke rombongan massa buruh.

Saya langsung bergegas mengerahkan kamera android saya, merekam video dan berharap si jurnalis akan berbicara melalui pengeras suara untuk meminta maaf atas kesalahan pemberitaan dari medianya. Tapi harapan itu tidak terjadi. Sepertinya, si jurnalis hanya memberitahu bahwaKompas TV akan melakukan siaran live sekali lagi untuk memberikan pemberitaan yang benar soal keberadaan buruh di depan gedung KPK dan meralat pemberitaan sebelumnya.

Si Jurnalis Kompas TV masuk kembali ke halaman gedung KPK, melewati gerbang yang dijaga petugas polisi.

Si Jurnalis Kompas TV masuk kembali ke halaman gedung KPK, melewati gerbang yang dijaga petugas polisi.

Ketika si jurnalis turun dari mobil panggung dan masuk kembali ke halaman gedung, tetap diiringi oleh petugas polisi, saya mendengar beberapa orang buruh berteriak, “Kawal! Kawal!” Mungkin maksudnya adalah mengawal dan memastikan bahwa si wartawan akan melakukan apa yang ia katakan. Saya pun mengikuti si jurnalis itu, berniat untuk merekam kegiatan siaran live mereka. Tapi, apa daya, karena berbaju kaos dan celana bahan, menyandang tas, persis seperti anak SMA yang baru saja pulang sekolah dan menyimpan seragamnya di dalam tas, saya tidak diizinkan petugas brimob yang berjaga di depan gerbang untuk masuk kembali ke halaman gedung.

“Lah, tadi boleh-boleh aja, Bang!” kata saya. “Saya mau ngawal itu!”

“Sekarang sudah tidak bisa, Mas!” kata salah seorang petugas.

Saya berbalik dengan kecewa. Saya lihat Bagas tertawa.

“Tadi gue juga mau masuk lagi, gak boleh!” kata Bagas. “Gue ampe ngaku anak LBH, padahal. ‘Itu temen-teman saya di dalam semua, Pak!’, tapi tetep aja gak diizinin masuk.”

Dengan kecewa, saya dan Bagas pun hanya duduk sambil merokok di trotoar jalan depan gedung kantor Jasa Raharja (sebelah kiri gedung KPK), mendengarkan oras-orasi para demonstran buruh yang tak lelah menyampaikan pandangan mereka tentang situasi politik di Indonesia sekarang ini. Pukul setengah enam sore, kami memutuskan pulang dan meninggalkan perkembangan-perkembangan terkini di lokasi sehubungan dengan peristiwa aksi massa tersebut.

Suasana jalan di depan gedung KPK pada sore, sekitar pukul setengah enam.

Suasana jalan di depan gedung KPK pada sore, sekitar pukul setengah enam.

Melalui pengalaman ini, saya pribadi menyadari betapa kesalahan informasi yang sangat kecil sekalipun akan dapat berakibat fatal. Saya merasakan nuansa ketegangan saat rombongan buruh marah ketika mengetahui pihak Kompas TV keliru menayangkan informasi. Padahal, bisa saja itu hanyalah kekhilafan manusia biasa—tapi tetap saja fatal karena sudah tayang. Untung saja, massa masih bisa meredam emosinya.

Sementara itu, pada pemberitaan Tempo, walau tidak sepenuhnya salah—artinya, tidak pula sepenuhnya benar—terasa adanya kecenderungan untuk melakukan stereotipe terhadap para demonstran di luar pagar gedung KPK sebagai perusuh. Si Jurnalis bahkan tidak menerangkan bahwa massa yang berada di luar pagar itu juga terdiri dari beberapa rombongan yang berbeda tujuan dan cara. Selain itu, saya sendiri bingung, apakah telinga si jurnalis demikian pekak sehingga tidak mendengar suara kencang dari loudspeaker rombongan buruh yang menyatakan dukungannya kepada KPK?

Walau tak ada niat untuk menyudutkan beberapa pihak—terlepas dari praktek jurnalis bodrek, kelalaian-kelalaian para jurnalis di lapangan seringkali terjadi tanpa disadari. Dan ini berdampak pada isi informasi yang diproduksi kemudian. Jurnalis juga manusia. Oleh karenanya, yang dituntut lebih aktif pada masa sekarang adalah kritisisme masyarakat pembaca dalam menilai kualitas berita yang akan dikonsumsi.

Penekanan saya di dalam tulisan ini ialah kewajiban untuk menjadi media massa yang baik dan pembaca yang baik. Krisis politik di Indonesia saling mempengaruhi terhadap situasi terpecah-pecahnya masyarakat, mulai dari elite, ahli, media massa, jurnalis, bahkan warga biasa. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini, terutama bagi para pelaku media massa, ialah menghindari praktik dramatisasi isu, diskriminasi kelompok, dan menegaskan posisi untuk berpihak pada kepentingan publik. Pada titik itulah, nurani media yang kita harapkan muncul sebagai solusi. Sementara itu, sebagai pembaca media, kita harus bagaimana? Literasi media menganjurkan kita agar mau meluangkan waktu untuk memilah, memahami, menganalisa dan bertanya secara terus-menerus citra yang dibangun oleh media.

 


[1] Ihsanuddin, 24 Januari, 2015, “Bambang Widjojanto Tetap Pimpinan KPK”, Kompas.com, diakses darihttp://nasional.kompas.com/read/2015/01/24/0227343/Bambang.Widjojanto.Tetap.Pimpinan.KPK, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:00.

[2] Ray Jordan, 24 Januari, 2015, “Kronologi Sehari Penangkapan Bambang Widjojanto Hingga Bebas” detiknews, diakses darihttp://news.detik.com/read/2015/01/24/080147/2812697/10/3/kronologi-sehari-penangkapan-bambang-widjojanto-hingga-bebas, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:10.

[3] Bayu Adi Wicaksono, 24 Januari, 2015, “Bambang Widjojanto Bebas”, Viva.co.id, diakses darihttp://nasional.news.viva.co.id/news/read/581508-bambang-widjojanto-bebas, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:10.

[4] MetroTV News, 24 Januari, 2015, “Bambang Widjojanto Sampaikan Kronologis Hingga Bebas”, diakses dari http://news.metrotvnews.com/read/2015/01/24/349252/8203-bambang-widjojanto-sampaikan-kronologis-hingga-bebas, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:15.

[5] JPNN, 24 Januari, 2015, “Akhirnya, Bambang Widjojanto Bebas”, diakses darihttp://www.jpnn.com/read/2015/01/24/283407/Akhirnya,-Bambang-Widjojanto-Bebas, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:15.

[6] Linda Trianita & Muhamad Rizki, 24 Januari, 2015, “Bambang Widjojanto Sebut Ada Penelikung”, Tempo.co, diakses darihttp://www.tempo.co/read/news/2015/01/24/078637274/bambang-widjojanto-sebut-ada-penelikung, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 09:15.

[7] Laban Laisila & Dwi Bowo Raharjo, 23 Januari, 2015, “Pendukung dan Anti KPK Berhadapan di Gedung KPK”, Suara.com, diakses darihttp://www.suara.com/news/2015/01/23/161251/pendukung-dan-anti-kpk-berhadapan-di-gedung-kpk, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 10:00.

[8] Lihat di Indri Maulidar, 22 Januari, 2015, “Tanpa Izin Mega, Hasto Kristiyanto Serang KPK”,Tempo.co, diakses dari http://www.tempo.co/read/news/2015/01/22/078636839/Tanpa-Izin-Mega-Hasto-Kristiyanto-Serang-KPK, dan juga di Fidel Ali Permana (Ed.), 22 Januari, 2015, “Pernyataan Hasto Jadi Blunder untuk PDI-P”, Kompas.com, diakses darihttp://nasional.kompas.com/read/2015/01/22/20045621/Pernyataan.Hasto.Jadi.Blunder.untuk.PDI-P. Kedua sumber diakses tanggal 24 Januari, 2015, pukul 10:30.

[9] Linda Trianita, 23 Januari, 2015, “Aktivis Gelar Aksi Save KPK, Muncul Demo Tandingan”,Tempo.co, diakses dari http://www.tempo.co/read/news/2015/01/23/078637080/Aktivis-Gelar-Aksi-Save-KPK-Muncul-Demo-Tandingan, tanggal 24 Januari, 2015, pukul 11:00.

— — —

Tulisan ini sudah pernah dimuat di situs web akumassa: “Jurnalis Juga Manusia; Pembaca Harus Lebih Dewasa“, pada tanggal 24 Januari, 2015.

[Tanpa] Basa-Basi Soal Pemilu 2014

Tulisan ini sudah pernah dimuat di website akumassa, tertanggal 7 April, 2014.

“Tempat nyobolos di mana nanti, ya, Pak?” tanya saya kepada Pak Taeng, Pak Kos, ketika membayar uang kosan.

“Ada nanti di lapangan, dekat rawa itu,” jawabnya. Di belakang kompleks kos-kosan saya, ada lapangan luas yang merupakan pekarangan sebuah masjid besar, bernama Masjid Al-Hikam. Biasanya, acara-acara yang berhubungan dengan kerumunan warga di sekitaran Kukusan Teknik (biasa disingkat Kutek), Beji, Depok, diadakan di sana. Dan mungkin juga untuk Pemilu 2014 ini.

Atribut kampanye yang masih menggantung di tiang listrik depan Masjid Al-Hikam (7 April, 2014)
Atribut kampanye yang masih menggantung di tiang listrik depan Masjid Al-Hikam (7 April, 2014).

Setelah membayar uang kos, saya segera bergegas mandi dan bersiap-siap berangkat  menuju Lenteng Agung. Niat saya untuk berbincang lebih jauh soal keikutsertaan Pak Taeng di Pemilu 2014 terpaksa harus ditunda. Sepertinya, beliau ada urusan keluarga sehingga tak bisa menemani saya ngobrol lebih lama.

Sebelum berangkat ke Lenteng Agung, saya sempatkan diri untuk melihat ke lapangan belakang. Ada Aboy, seorang teman dari Lebak, yang menyertai saya hari itu. Seperti sudah saya duga sebelumnya, tak ada tanda-tanda keberadaan tenda TPS. Kerangka tendanya pun belum ada. Mungkin baru akan dibangun besok, H-1 pemungutan suara.

Atribut kampanye yang masih menempel di gerbang Kutek (tanggal 7 April, 2014)
Atribut kampanye yang masih menempel di gerbang Kutek (tanggal 7 April, 2014).

Saya dan Aboy juga tak langsung menuju Lenteng Agung. Kami mampir dulu ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Meskipun sudah lulus dari kampus itu, saya sering menyempatkan diri ke sana sekedar untuk bertemu kawan-kawan mahasiswa atau dosen. Di perjalanan, saat melewati pintu gerbang menuju kampus, saya melihat beberapa alat peraga kampanye masih menempel di pagar gerbang. Hari ini adalah hari kedua dari tiga hari tenang Pemilu Legislatif 2014 (tanggal 6, 7 dan 8 April, 2014). Ada beberapa artikel di media online menyebutkan bahwa target pembersihan total akan rampung pada H-1 coblos, ada juga yang menyebutkan bahwa seharusnya semua alat peraga kampanye dibersihkan sebelum masa tenang. Terlepas ada unsur kesengajaan atau tidak, apa yang saya lihat di gerbang Kutek menunjukkan kinerja Panwaslu dan Bawaslu dalam mengawasi peserta pemilu tahun ini.

Pak Yayat.
Pak Yayat.

Sesampainya di kampus, saya langsung ke warung langganan saya, warung Pak Yayat, untuk membeli rokok. Saya biasanya memanggilnya Babe, dan tanpa basa-basi, saya bertanya padanya tentang keikutsertaan di Pemilu 2014.

“Tanggal 9 ntar, nyobolos, ga, Be?”

“Ya, nyoblos… biasanya juga nyoblos.”

“Kalau nyoblos, ke TPS mana biasanya?”

“Itu di Pocin (Pondok Cina-red).”

Udah urus daftar sebagai pemilih, Be?”

“Sudah, kan nanti tinggal dateng aja,” katanya. Pak Yayat sibuk dengan pekerjaannya membersihkan tong sampah.

“Kalau di tempat saya, sih, katanya diurusin RT, dateng ke rumah-rumah, ngasih tahu ke TPS mana.”

“Kita udah daftar,” katanya, sepertinya tak nyambung dengan maksud ucapan saya. “Kalau gak daftar, ya kagak bisa, lah!”

Saya lalu diam dan hanya memperhatikan si ibu yang sedang mengambilkan enam batang rokok kretek buat saya. Tak lama kemudian, Pak Yayat berkata lagi, “Kalau dulu, kan pake bawa surat ‘abe’ aja, noh…! Yang kemarin bawa begitu juga, gak bisa, karena gak kedaftar.”

Saya malah tambah bingung dengan penjelasan Pak Yayat. Mungkin, surat ‘abe’ yang ia maksud itu adalah Surat Formulir C6 (surat undangan atau surat pemberitahuan dari Ketua RT setemat) kalau dalam Pemilu 2014. Saya sudah browsing di internet, dan memeriksa kemungkinan nama surat di Pemilu 2009 dan 2004, tak saya temukan yang namanya surat ‘abe’. Kalaupun ada yang bunyinya mirip, ialah surat ‘ate’, atau Surat Formulir A.T., dan itu pun khusus dipegang oleh KPU.

Contoh surat forumulir C6 (milik Mba Minah, induk semang di Forum Lenteng, dan keluarga).
Contoh surat formulir C6 (milik Mba Minah, induk semang di Forum Lenteng, dan keluarga).

Ada tiga model surat dalam Pemilu 2014. Pertama, surat model C (1-6), sebagai surat berita acara. Model C1 untuk hasil penghitungan perolehan suara di TPS, C2 untuk pencatatan kejadian khusus dan keberatan saksi dalam proses pemungutan suara di TPS, C3 untuk surat pernyataan pendamping pemilih, C4 untuk pengantar penyampaian berita acara pemungutan dan penghitungan suara di TPS dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) kepada Panitia Pemungutan Suara (PPS), C5 untuk tanda terima penyampaian berita acara bagi para saksi dan Pengawas Pemilu Lapangan (PPL), dan C6 untuk surat pemberitahuan (undangan) pemungutan suara bagi para pemilih terdaftar. Sementara itu, untuk surat keterangan pindah memilih ke TPS lain, disebut Forumulir A5. Model yang terakhir, Formulir A.T., berfungsi untuk pencatatan nama-nama pemlih yang datang ke TPS menggunakan KTP.

Dari warung rokok, saya beranjak ke warung langganan yang lain untuk memesan es teh. Namanya warung Mang Ari. Salah seorang pegawai Mang Ari, namanya Mang Andi, menyapa saya, “Zikri!”

“Eh, Mang, pesen es teh, yak!” seru saya sembari mengambil sendiri es tehnya dan memberikan uang dua ribu rupiah. Dan juga tanpa basa-basi, saya pun bertanya padanya, “Tanggal 9 ikut nyoblos gak, Mang?”

Nggak. Golput aja.”

“Lho, kenapa golput?”

Emangnya kenapa? Salah, ya, kalau golput?”

“Ya, enggak, sih… tapi ya sayang aja surat suaranya.”

Mang Andi berjalan ke dapur warungnya untuk mengambil pesanan nasi yang siap untuk dihantarkan ke pelanggan.

Mang Andi sedang bekerja di warungnya.
Mang Andi sedang bekerja di warungnya.

“Kenapa, sih, Mang, kok golput?”

“Jauh…!” serunya Mang Andi singkat.

“Emang dapil-nya masuk daftar mana?”

“Bogor. Gak kekejar, harus bolak-balik.”

“TPS-nya di Bogor? Emang Mang Andi tinggal di mana? Bogor juga, kan?”

“Ya…” tangan kanannya bergerak menunjuk ke depan dan ke dirinya.

“Oh, maksudnya repot bolak-balik ke Bogor pas jam dagang, ya?”

“Iya, padahal cuma sebentar doang, tapi susah ninggalin…”

“Tapi kalau milih, ada sih, yak?”

“Ya, gitu-gitu aja… sama aja semua, mah…!”

Jiah…!” seru saya sembari berlalu dari warungnya.

Saya sampai tak sadar ada Aboy yang menemani saya sedari tadi. Ternyata dia sudah duduk di salah satu meja kantin dan memesan es teh juga. Tapi, bukannya menghampiri mejanya, saya justru menghampiri meja yang lain, di belakang meja kasir. Di meja yang saya datangi itu, ada seorang teman, senior saya dulu saat masih kuliah di Jurusan Kriminologi UI.

“Apa kabar, lu?” tanya Galih, teman saya itu. “Gimana dunia kerja?”

“Ya, gitu-gitu aja, Bang. Hahaha!”

“Tapi masih di sana, di Lenteng?” yang dia maksud adalah Forum Lenteng, tempat saya berkegiatan sekarang. “Jadi bikin buku?” sambungnya menanggapi anggukan kepala saya.

“Jadi, itu, tuh salah satu penulisnya,” kata saya menunjuk Aboy di mejanya.

“Oh, kumpulan tulisan, ya, bentuknya?” seru Galih seraya menghembuskan asap rokok yang ia hisap sedari tadi. “Emanglah, ya, mahasiswa krimminologi yang satu ini. Beda sendiri. Keren die!” Galih mengucapkan kalimat itu ke Mas Min, si penjaga kasir yang mejanya di sebelah meja kami, yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat obrolan kami berdua.

Mas Min
Mas Min.

Sekali lagi, tanpa basa-basi, saya melemparkan pertanyan yang sama ke Mas Min, “Tanggal 9 ikut nyoblos gak, Mas?”

Nggakgak bisa milih di sini aku…” jawabnya.

“Oh, DPT-nya beda, ya?” kata saya. Saya bertanya ke Galih, “Mas Min dari mana, sih?”

“Solo,” jawab Galih.

“Kan, bisa diurus, Mas…?!”

“Belum diurus…”

“Padahal kemarin BEM UI sempat buka posko bantuan untuk ngurus itu, Mas!” kata saya. “Tapi, ya emang cuma tiga hari…”

“Sekarang udah gak bisa?!” Galih menanggapi, entah bertanya, entah memberi tahu.

“Ya, sekarang kan udah masa tenang.”

Saya lanjut bertanya ke Mas Min, “Tapi sebenarnya ada yang mau dipilih, Mas?”

“Nggak ada… aku ya pengennya milih di kampung, tapi gak ada waktu untuk balik,” jawab Mas Min.

“Oh, kalau di sini nggak ada yang kenal, ya, Mas? Tapi kalau di kampung ada yang kenal? Maksudnya, ada yang mau didukung?” tanya saya bertubi-tubi. Mas Min hanya menganggukkan kepala.

“Kamu sendiri, milih gak?” Mas Min balik bertanya.

“Ya, nggak lah…! Saya, mah, golput aja. Kagak ada yang kenal…!” ucapan saya itu disambut tawa oleh Mas Min dan Galih. Saya sempat melirik Aboy, dia sedang asik dengan handphone-nya.

“Kalau gue, sih… kenal, ya, kenal dengan caleg-caleg Depok,” ujar Galih. “Tapi sepak terjangnya itu kan yang kita gak tahu…”

Dari ucapan itu, obrolan saya dan Galih melebar ke persoalan-persoalan korupsi dan kampanye hitam para caleg. Tak lupa pula menyinggung perdebatan soal hak suara yang harus diselamatkan, antara BEM UI dan beberapa BEM tingkat fakultas.

“Yang satu, argumennya, arus suara bisa kacau karena orang-orang rantauan, ‘kan sejatinya gak kenal dengan caleg-caleg di Depok. Buka posko pemindahan DPT justru mendorong orang asal milih,” saya menjelaskan apa yang saya tahu soal isu aksi protes beberapa kalangan mahasiswa atas tindakan BEM UI yang membuka posko bantuan pengurusan pemindahan daftar pilih ke TPS di Depok bagi mahasiswa rantauan. “Sementara, dari BEM UI-nya sendiri bilang bahwa motivasinya, ya, murni untuk menyelamatkan hak suara, daripada disalahgunakan di daerah asal.”

“Argumen keduanya benar, sih…” tanggap Galih mengangguk-angguk. “Tapi, kan, persoalannya, mahasiswanya bisa kritis atau tidak. Ya, yang namanya politik, pasti korupsi. Pemilu itu musimnya banget. Sekarang mana ada yang bisa memaparkan baik-buruknya caleg secara detil… makanya gue tadi bilang, kalau kenal, sih, kenal… tapi, kan itu, sepak terjangnya yang kita gak tahu. Kalau soal suara yang dimainin, ya, bukan hal baru.”

“Udah, nyoblos aja, nyoblos…!” Mas Min menimpali, setelah beberapa menit ia tak ikut serta dalam obrolan karena harus melayani pelanggan-pelanggan yang membayar uang makan.

Saya, saat menyadari ada ibu-ibu penjual nasi pecel (saya tak tahu namanya karena jarang membeli makanan di warungnya), langsung melemparkan pertanyaan juga, “Tanggal 9, nyoblos, gak, Bu?”

“Apa, Mas?”

“Ikut nyoblos, gak?”

“Ya, ikut…”

Nyoblosnya di mana, Bu, biasanya?”

Si Ibu itu menyebutkan nama sebuah gang, tapi saya tak ingat. Waktu saya tanya ke Galih, daerah mana yang ia maksud, Galih mengatakan itu sebuah gang di dekat kompleks perumahan Pesona Khayangan, Jalan Margonda, Depok.

Lu lagi survei, nih, ceritanya?” Galih menggoda saya.

“Ya, rencananya gue mau buat tulisan. Pengen tahu aja, motivasi orang-orang nyoblos atau golput.”

“Intinya, tuh, Zik… bukannya kita atau gue gitu, gak mau nyoblos…” Mas Min menanggapi. Terkadang dia ber-‘aku-kamu’, kadang ber-‘gue-elu’. “Tapi, ngurusnya itu lama. Harus bawa surat lagi, urus yang di kampung dulu, kasih ke pengurus yang di sini. Lama. Dan banyak maunya juga… ini-itu…”

“Ada pungli-pungli gitu, maksudnya?”

“Ya, ada juga yang begitu…!” kata Mas Min. “Makanya, ya mendingan gak usah milih. Yang dulu-dulu juga gak milih…”

Dateng aja, Mas, ke TPS-nya… ‘golput putih’, coblos aja semuanya… sayang surat suaranya, Mas!” seru Galih.

“Kalau partai, Mas… kira-kira dukung yang mana?” tanya saya.

“Apa, ya…?”

“Pasti ada, dong…”

Nggak juga… biasa aja… soalnya yang di kepala itu, ya golput… jadi gak ngikutin perkembangan, gak tahu mau mana yang harus didukung.”

Sebenarnya, keluhan-keluhan seperti Mas Min itu bisa saja diredam meskipun memang harus bergantung kepada kesadaran masing-masing individu. Seperti mengurus surat pindahan memilih ke TPS di tempat rantau, misalnya. Jika sudah siap sejak jauh-jauh hari, si pemilih terdaftar bisa terlebih dahulu mengurus formulir A5 ke PPS asal hanya dengan menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) saja sebagai bukti bahwa nama yang bersangkutan terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setelah mendapatkan Surat A5 dari PPS asal, si pemilih harus melaporkan ke PPS tempat tinggalnya yang sekarang. Jika tak sempat, pada hari H pemilihan, Surat A5 itu juga tetap berfungsi dan bisa diserahkan ke KPPS setempat, sebagai bukti sudah pindah TPS. Tak merepotkan, sebenarnya, dan si pemilik surat A5 tetap dapat memilih.

Setelah tak ada lagi bahan obrolan, dan juga karena Galih harus pergi ke suatu tempat, saya beranjak ke meja yang lain (tak lupa mengajak Aboy), ke tempat tongkrongan mahasiswa kriminologi. Jawaban-jawaban mereka tak jauh beda ketika saya menanyakan apakah masing-masing dari mereka akan ikut nyoblos di tanggal 9 April atau tidak. Tanpa basa-basi, mereka mengatakan akan golput saja karena tak akrab dengan para caleg. Berbeda dengan topik legislatif, bayangan-bayangan akan memilih calon presiden yang mana, lebih terlihat jelas. Citra-citra para calon presiden di media massa, paling tidak, sedikit memberikan gambaran bagi para mahasiswa yang saya temui itu. Mereka mampu memilah yang mana penjahat media, penjahat kemanusiaan, dan yang mana yang kutu loncat. Saya lupa menanyakan pendapat Pak Yayat, Mang Andi dan Mas Min soal calon presiden. Tentunya pendapat mereka akan lebih menarik. Mungkin lain waktu, karena jam di handphone saya memberitahukan bahwa saya dan Aboy harus segera ke Forum Lenteng.

Mbak Minah dan keluarga sedang bercengkrama saat makan malam..
Mbak Minah dan keluarga sedang bercengkrama saat makan malam.

Isi perbincangan saya hari ini tak jauh beda dengan ujaran-ujaran Mbak Minah dan suaminya, induk semang di kontrakan Forum Lenteng, dua hari lalu. Mereka bilang bahwa mereka cukup menunggu kabar dari Pak RT saja soal kapan dan di mana harus mencoblos. Ketika saya tanya pandangan mereka soal siapa kira-kira caleg yang layak dipertimbangkan, jawabnya, “Ya, yang kita tahu dari poster-poster aja. Mau pilih siapa, ya rahasia, dong!”

Suasa kantin kampus FISIP UI di malam hari.
Suasa kantin kampus FISIP UI di malam hari.

Jawaban-jawaban atas pertanyaan pancingan saya kepada orang-orang yang saya temui itu seakan merefleksikan suatu kejenuhan atas demokrasi. Atau mungkin, hanya karena memang saya yang jenuh? Mulai dari cara parta-partai mengkader anggota untuk dijadikan perwakilan, cara berkampanye yang tak sehat, hingga proses sosialisasi dari Bawaslu dan Panwaslu yang tak maksimal. Barangkali, Pemilu 2014, bagi kita, tak lagi menjadi sebuah perayaan, tapi lebih kepada kebiasaan lima tahunan yang mesti dijalankan. Menyikapinya seolah-olah dipaksa menjadi mudah: jika lupa ikuti perkembangan, golput saja; jika sayang dengan surat suaranya, coblos semua nomor saja; jika memang ingin memilih, pilih yang paling sering dilihat saja. Fasilitas dan akses bagi peningkatan kritisisme masyarakat terhadap pemilu dan para peserta pemilu, sepertinya belum lagi terbangun dengan baik. Tak tahulah pada saat pemilihan presiden nanti. Sebab, katanya, ada warna baru yang sudah lama dinanti-nanti. *

Akses Terhadap Pemilu Layaknya Akses Warga Terhadap Perbaikan Jalan

Artikel ini sudah pernah dimuat di website akumassa, tertanggal 10 April, 2014.

IMG_3575

Rencana saya di tanggal 9 April, 2014, berantakan gara-gara bangun kesiangan. Pukul setengah sepuluh, saat terjaga, saya langsung bangun dari tempat tidur dan berlari menuju TPS di Gang Anyar, Jalan Lenteng Agung. Bukan untuk nyoblos, tapi untuk memperhatikan orang-orang nyoblos, khususnya Mbak Minah dan Mas Min, pasangan suami-isteri yang merupakan induk semang di kontrakan tempat Forum Lenteng bermarkas.

IMG_3582

Sudah pastilah harapan saya ketika berlari tak akan terwujud, yakni menyaksikan Mbak Minah dan suaminya nyoblos. Sebab, sehari sebelumnya mereka bilang akan nyoblos pada jam tujuh pagi. Setibanya di TPS No. 16, RT 007/RW 002, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa itu, saya hanya melihat pemandangan biasa yang tak jauh beda dengan peristiwa pemungutan suara Gubernur Jakarta pada Bulan Juli, 2012. Saya sempat memperhatikan peristiwa itu beberapa menit, lalu memutuskan kembali ke kontrakan Forum Lenteng, memutar otak untuk mencari angle baru untuk tulisan yang hendak dibuat.

IMG_3636
IMG_3635

Siang harinya, saya kembali mendatangi TPS itu. Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sedang menghitung jumlah suara. Panitia menyebut, “Satu suara untuk si anu dan partai anu” atau terkadang juga menyebut, “Satu suara untuk partai anu saja, tanpa nama calon”. Karena peristiwa itu masih membosankan, saya pulang lagi ke Forum Lenteng.

Sore harinya, saya datang lagi ke TPS. Panitia masih menghitung suara. Beberapa orang sibuk di depan papan pencatatan suara, menghitung-hitung dan menulis jumlah suara. Saya menunggu cukup lama, tapi tak terjadi sesuatu. Saya bertanya ke salah seorang ibu yang ada di sana, “Hasilnya sudah diumumkan, Bu?”

Nggak, katanya hasilnya nggak diumumin,” jawab ibu itu.

Lalu, saya mendengar salah seorang panitia berseru, “Ini dilipat saja, ya?! Sudah dihitung, kan?”

Sedetik kemudian saya menghampiri si panitia, dan meminta izin ingin mengambil foto kertas-kertas penghitungan suara yang akan dilipat. Sialnya, saya hanya dapat mengambil foto hasil suara untuk pemilihan DPD.

IMG_3625
IMG_3626

Saat kembali ke Forum Lenteng maghribnya, saya tetap tak menemukan angle baru. Sebab, memang incaran saya adalah kisah Mbak Minah dan suaminya saat mencoblos. Pertimbangan saya mengapa harus Mbak Minah dan suaminya adalah karena pasangan suami-istri ini merupakan rantauan dari Cilacap dan Kebumen yang sudah tinggal cukup lama di Jakarta. Pandangan mereka mengenai peristiwa Pemilu 2014, secara umum melalui pengalaman mereka di TPS Lenteng Agung, saya rasa cukup tepat untuk membuka wacana perspektif warga masyarakat awam mengenai demokrasi.

Akhirnya, Kamis pagi, 10 April, 2014, saya putuskan untuk tetap mewawancarai Mbak Minah dan suaminya. Saya minta mereka menceritakan pengalaman mereka saat nyoblos. Percakapan yang tertera di bawah ini hanya kira-kira, seingat saya saja, karena memang wawancaranya tak saya rekam. Lebih kurang, dialog yang saya tuliskan di sini mengandung inti percakapan kami.

IMG_3640

“Saya gak tahu, Kri!” ujar Mbak Minah. “Gak ngerti omongan yang begitu. Milih, ya milih aja. Kemarin juga datangnya telat, udah sepi…”

“Kemarin ke TPS-nya jam berapa, Mbak?” tanya saya. “Sama-sama dengan Mas Min juga?”

“Siang saya datangnya… Kalau Mas Min udah duluan, pagi-pagi.”

“Ya, saya pengen tahu, bagaimana Mbak Minah milihnya,” saya coba pancing terus ketika ada penolakan darinya untuk berbagi pengalaman. “Kenapa milihnya si itu, alasannya apa?”

“Saya juga bingung,” katanya. “Orang kemarin saya panggil panitianya, ‘Sini-sini, saya gak tahu ini gimana caranya?!’ … Begitu!” Mbak Minah memperagakan ceritanya dengan menggerakkan tangan seperti memanggil orang.

“Lagi survei, Mas?” tanya seorang laki-laki yang kebetulan waktu itu ikut duduk di depan warungnya Mbak Minah. Saya tak tahu dia siapa.

“Iya, untuk tulisan tentang pemilu,” kata saya.

“LSI atau…?”

“Ini, Forum Lenteng,” kata saya sambil menunjuk kantor Forum Lenteng yang berada tepat di depan warung Mbak Minah.

“Sama dia aja, dia lebih tahu!” kata Mba Minah.

“Ya, yang lain juga nanti saya tanya, tapi saya mau tahu pengalaman Mbak Minah dulu,” kata saya. “Gini, lho, Mbak! Pengalaman Mbak Minah aja, pertimbangan Mbak Minah kenapa milihcaleg-nya. Calegnya gak perlu disebut.”

“Orang aja gak kenal, gak tahu mau milih yang mana…”

“Tapi tetap nyoblos, kan? Pernah lihat calon-calonnya di TV atau tahu dari mana, gitu?”

Nggak, sekarang ini saya udah jarang nonton TV, Kri…”

“Terus, pas milih kemarin, gimana nentuinnya?”

“Ya, pilih yang mana suka aja.”

“Alasan sukanya…?”

“Kemarin sebelum masuk nyoblos, saya lihat dulu di papan depan TPS, tuh, kan ada foto-foto calonnya,” cerita Mba Minah. “Pas mau nyoblos, bingung… ‘Oh, iya! Ingat fotonya, sempat lihat di depan…!’ Ya, saya pilih itu.”

Gitu doang???”

“Iya…” kata Mbak Minah dengan ekspresi meyakinkan. “Orang bingung… beda kayak yang pemilu dulu.”

Emang yang dulu gimana?” saya penasaran. “Bedanya apa?”

“Kalau dulu itu, kan ada foto-fotonya, ada partainya, ada namanya,” kata Mbak Minah. “Kalau yang sekarang nggak, foto aja semua. Ada juga yang cuma partainya doang, terus nama-nama, gak ada foto.”

IMG_3573
IMG_3572
IMG_3571

Lalu saya meminta Mbak Minah menjelaskan bentuk surat suara yang ia coblos. Penjelasannya serupa dengan contoh surat suara Pemilu 2014 yang saya lihat di internet. Surat pertama berwarna merah yang di dalamnya tertera foto-foto bernama (tanpa partai), untuk memilih anggota DPD. Kedua (biru) dan ketiga (kuning) adalah surat yang di dalamnya tertera logo partai dan nama-nama di bawah setiap logo, yakni surat untuk memilih anggota DPRD dan DPR RI. Menurut Mbak Minah, pemilu sebelumnya tidak seperti itu. Kemasannya lebih lengkap, setiap partai mencantumkan foto dan nama. Oleh sebab itu, Mbak Minah menentukan pilihannya berdasarkan foto yang ia lihat terpampang di papan pengumuman depan TPS. Ia pun tak mencoblos nama, hanya logo partainya.

IMG_3642

“Pokoknya bingung, Kri…!” kata Mbak Minah menegaskan lagi. “Kalau nenek-nenek yang milih pasti juga makin bingung…”

Saya tertawa mendengar keluhan Mbak Minah itu. Diam beberapa saat, laki-laki yang tadi bertanya kepada saya, mencoba memberikan pendapatnya.

“Sekarang ini, ya susah juga, Mas!” katanya, yang ketika saya tanya mengaku bernama Suyanto. “Kalau milih, belum tentu baik buat kita. Gak milih, juga gak baik buat kita. Jadi, ya daripada gakmilih, ya ikut nyoblos aja.”

Saya diam saja mendengar pendapatnya dan dia berkata lagi, “Daripada gak ada…?! Palingnggak, ya satu suara untuk partai. Karena, kan sekarang ini susah kalau gak lewat partai. Mana ada sekarang tokoh yang independen terus maju jadi presiden?! Makanya, yang pileg kemarin, coblos untuk partainya saja.”

“Ya, memang sih, susah kalau berpolitik gak lewat partai,” kata saya.

“Terus juga kalau diamati, ya, Mas, masyarakat itu juga memilih kalau bukan karena duit, ya gak akan milih,” katanya. “Banyak itu kejadian. Contohnya, kayak di kampung isteri saya itu, begitu…!”

“Kampungnya di mana, Mas?”

Mas Suyanto diam sebentar, lalu berakta, “Ya, di sekitaran Solo lah…”

“Hm… terus, terus?!”

“Ya, masyarakat awal dukung yang ini. Pagi-pagi sebelum milih, dikasih seratus lima puluh, langsung semuanya balik,” kata Mas Suyanto melanjutkan cerita. “Walaupun masyarakat dukungnya yang ini, kalau lawannya bisa ngasih duit lebih banyak, ya semua orang milih yang ada duitnya.” Mas Suyanto bercerita sambil memperagakan sekawanan orang-orang di atas meja dengan jarinya, lalu jari-jari tangannya itu bergerak ke arah yang berlawanan.

“Iya, saya juga mah kalau ada duitnya, gak bakal nolak!” Mbak Minah menimpali, lalu tertawa keras.

“Tapi, ya kalau dipikir-pikir, dari semua caleg itu, yang nyuap juga cuma dua puluh persen,” kata Mas Suyanto lagi. “Selebihnya, masyarakat yang minta, yang akhirnya bikin para caleg menyuap secara gak langsung.”

Saya mengerutkan kening mendengar pendapat itu. Menyadari kebingungan saya, Mas Suyanto menjelaskan lagi, “Sekarang-sekarang ini memang udah jarang orang yang datang ngasih duit supaya masyarakat mau coblos. Tapi, warga di kampung-kampung itu biasanya akan milih kalau si calon bisa kasih sesuatu buat kampungnya.”

Cerita Mas Suyanto itu cukup panjang. Ringkasnya, menurut Mas Suyanto, umumnya warga akan memilih seorang calon jika calon tersebut dapat memenuhi tuntutan warga pada saat pra pemilihan. Dalam pandangan Mas Suyanto, warga sudah sulit untuk percaya dengan para calon karena jika sudah terpilih, ujung-ujungnya hanya dibohongi dan warga tidak dapat apa-apa. Jadi, ketika kampanye, warga terlebih dahulu menuntut sesuatu dari calon sebagai jaminan, dan kalau sudah dipenuhi, barulah warga memilih. Berdasarkan pengalaman Mas Suyanto, yang diakuinya ia dapatkan dari obrolan sesama warga, di warung kopi, dan pengalaman di kampung, mulai dari pemilihan Lurah, Camat hingga sekelas Legislatif, yang diminta oleh warga masyarakat adalah perbaikan jalan atau infrastruktur kampung.

“Biasanya mereka minta sekian ratus sak semen, buat perbaikan jalan,” kata Mas Suyanto. “Jadi, ya masyarakatnya juga yang bikin caleg-caleg jadi nyuap. Iya, toh?”

Saya hanya mengangguk-angguk saja.

“Ya, begitu! Kalau tidak dipilih, ya mau gimana? Lebih baik, kan daripada roda pemerintahan gakjalan. Ya, paling nggak dana kampanyenya bisa buat warga, bisa beli kebutuhan-kebutuhan… beli gas… Yang paling penting, biasanya, ya perbaikan jalan.”

“Iya, jalan itu penting. Soalnya buat akses kita juga, Kri, kalau mau ke mana-mana,” Mas Min akhirnya angkat bicara juga. “Sama kayak di kampung kita, juga begitu, kan?”

“Iya!” kata Mbak Minah. “Lurah di kampung saya itu gobloknya minta ampun. Masa kebutuhan warga soal perbaikan jalan nggak dipenuhin. Katanya, karena belum balik modal.”

“Lurahnya ngomong begitu?”

“Iya…!”

“Nama kelurahan di kampung Mbak Minah itu apa?”

“Apa, yak?” Mbak Minah malah bertanya ke suaminya.

Mas Min berpikir mengingat-ingat, kemudian menyebut nama Kelurahan Kali Gending, Kecamatan Sadang, Kebumen. Desa tempat tinggal mereka adalah Desa Pereng.

“Itu tahun berapa kejadiannya, Mbak?”

“Baru-baru ini… Lurahnya masih menjabat. Kalau nggak salah, dua tahun lagi, apa, masa jabatannya selesai…” kata Mbak Minah. “Pernah masuk TV juga itu…”

Semua keterangan itu saya catat di kertas yang saya bawa. Melihat saya mencatat seperti itu, Mas Suyanto pun bertanya  lagi, “Kalau survei-survei begini, bisanya bisa langsung ke pemerintah, gitu ya, Mas?”

“Ya, gak secara langsung, sih…” jawab saya.

“Nah, itu… menyampaikan aspirasi ke pemerintah itu juga susah,” kata Mas Suyanto. “Kita orang kecil ini gak bisa apa-apa.”

“Sama juga itu kayak RT di kampung saya, suruh bikin proposal untuk perbaikan jalan ke Lurah,gak bisa-bisa,” kata Mas Min.

Mbak Minah dan Mas Min pun menceritakan bahwa RT di tempat tinggal mereka di Desa Pereng itu masih termasuk saudara mereka sehingga obrolan mereka bisa lebih santai ketika membahas si Lurah.

“Saya pernah marahin RT-nya,” kata Mbak Minah. “Saya bilang, ‘Kamu itu gimana, sih jadi RT? Goblok bener?! Masa ngurusin buat jalan ini ke Lurah aja gak bisa-bisa?!’ Soalnya dia juga keluarga kita, gitu, jadi bisa ngomong blak-blakan.”

Mas Suyanto pun memberikan pendapatnya lagi bahwa seharusnya yang terpilih bisa menyampaikan apa yang diinginkan masyarakat. Tapi, kenyataannya tidak, warga dibohongi. Apalagi sekarang, calon-calon yang maju tidak dikenal oleh masyarakat.

“Banyak pilihan, tapi justru gak bisa milih, ya, Mas?” ujar saya.

“Iya, bener!” seru Mas Suyanto. “Mendingan dulu zaman Pak Harto, tiga partai aja cukup, gakperlu pusing. Kalau zaman dia itu, kan, masyarakat gak perlu tahu negara ada utang berapa, yang penting bisa hidup tenang. Gaji sedikit tapi berasa kaya. Gak kayak sekarang, gaji banyak tapi kok gak cukup-cukup…”

Piye kabare? Enak jamanku toh, Le?” ucap Mbak Minah menirukan iklan kampanye sejumlah calon legislatif yang menggunkan ikon Soeharto untuk menarik perhatian warga.

Miris juga mendengar pendapat-pendapat seperti itu. Ada semacam keterputusan pemahaman tentang polemik jatuhnya rezim Orde Baru dan kebermanfaatan era keterbukaan informasi di mata orang-orang yang saya ajak bicara tersebut. Tapi, saya tak mencoba untuk menggangu pendapat mereka. Saya biarkan saja mereka mengutarakan apa yang mereka rasakan.

IMG_3641

Saya pun hanya menjelaskan cara kerja penelitian saya, “Kita buat tulisan ini untuk naik di mediaonline, di internet, nanti disebar. Jadi semua orang bisa baca. Paling nggak, ya masyarakat bisa membacanya dan kemudian jadi sadar dan kritis.”

“Sebenarnya sekarang ini udah banyak masyarakat yang kritis, lho, Mas?” kata Mas Suyanto menanggapi saya.

“Ya, kritis itu kan ada dua macam. Kritis yang mengeluh saja, atau kritis yang ada aksi konkretnya.”

“Nah, itu dia, yang ada ya ngeluhnya doang!” seru Mas Min, dan Mas Suyanto pun mengiyakan.

“Makanya, kalau Forum Lenteng biasanya memuat tulisan yang selain mencoba menyadarkan masyarakat, kita sebisa mungkin memaparkan semacam rekomendasi dan solusi yang bisa diikuti oleh warga yang membaca, jadi tidak hanya tinggal diam mengeluh. Ya, kita sama-sama usaha.”

Setelah itu, oborlan kami mulai beranjak jauh dari bahasan pemilu. Saya pun berpamitan dari warung Mbak Minah dan kembali ke ruangan kerja untuk langsung menulis.

Ah, sungguh aneh, memang! Di era kebeasan seperti ini masyarakat justru terkungkung dalam ketidakmengertian dan ketidaktegasan memilih. Budaya “ikut apa kata pemerintah” yang dilakukan oleh Orde Baru, justru menjadi hal yang dirindukan. Paling tidak, oleh tiga orang yang saya ajak berbincang sebagai narasumber itu.

Sekali lagi, seperti yang disampaikan oleh Mas Suyanto, “Toh yang ngusulin calon DPR itu, kan partai! Bukan usulan benar-benar dari masyarakat. Lebih baik dulu, tiga partai saja. Kita pilih saja partainya, nanti baru mereka yang tentukan. Jadinya tidak mubazir dan buang-buang duit buat kampanye. Mendingan duitnya dikasih buat orang-orang kecil beli makan.”

Ada baiknya kita tangkap cara berpikir seperti itu sebagai suatu dampak kekecewaan atas tiadanya signifikansi reformasi bagi masyarakat awam (di luar keuntungan bagi kaum intelektual dan pers). Masyarakat ingin sesuatu yang konkret, bukan kebebasan mengawang yang justru memberikan keterbatasan dalam bentuk yang baru. Jika dulu tak tahu mengapa seorang tokoh bisa terpilih jadi pejabat, sekarang masyarakat tak mengerti kok bisa begitu banyak orang bisa mencalonkan diri, padahal tak dikenal.

IMG_3580

Mungkin, masyarakat membutuhkan akses dan cara yang jelas, terukur pasti, dan mudah diindikasi langkah apa yang harus dilakukan, tidak terkecuali dalam isu pemilu ini. Sama halnya dengan pandangan masyarakat yang meyakini bahwa perbaikan jalan sebagai akses penting untuk membantu kondisi ekonomi, akses yang jelas ke informasi tentang apa dan mengapa harus memilih pun juga harus konkret. Paling tidak, akses yang jelas untuk menyampaikan aspirasi, semacam proposal perbaikan jalan. Apa jadinya jika kampanye lebih dianggap sebagai momentum yang lebih menguntungkan ketimbang waktu pencoblosan dan pasca pemilihan. Betapa, nasib demokrasi kita sekarang. *

Lindungi Kemanusiaan dari Kekeliruan Sistem

Artikel ini sudah pernah terbit di jurnal akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 5 Maret 2014.

Hari ini adalah hari kedua di minggu keempat. Dengan kata lain, sudah tiga minggu lebih dua hari, saya berada di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Beberapa kali, saya dan Gelar sempat bermobilisasi ke Depapre, menghabiskan waktu lebih kurang dua jam di perjalanan, atau juga ke Waena, dengan waktu tempuh yang hampir sama, mengunjungi tiga orang teman kami di sana, Siba, Paul dan Komeng.

Kehadiran kami di Papua bermaksud melaksanakan pelatihan media—Program Media Untuk Papua Sehat yang diinisiasi oleh Forum Lenteng—untuk para peserta yang merupakan warga asli Papua. Saya, Gelar, Siba dan Paul sudah berada di Papua sejak tanggal 10 Februari, 2014. Kegiatan pelatihan untuk peserta di Sentani dimulai sejak tanggal 12 Februari, bertempat di Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, Kompleks Misi Katolik, Sentani, Kabupaten Jayapura. Sementara itu, kegiatan pelatihan untuk peserta di Perumnas III, Waena, Kota Jayapura dimulai tanggal 13 Februari. Saya dan Gelar bertugas sebagai fasilitator pelatihan di Kabupaten, sedangkan Siba dan Paul di Kota. Diki dan Komeng datang ke Papua tanggal 20 Februari sebagai bala bantuan yang akan melakukan monitoring kegiatan ini.

Saya, Gelar dan Diki, menginap di SKPKC. Lembaga ini berada di bawah naungan Gereja Katolik dan Ordo Fransiskan yang aktif melakukan aksi pemberdayaan masyarakat. Sekretariat ini berdiri di atas tanah yang luas. Selain Kantor SKPKC FP, di Kompleks Misi Katolik Sentani terdapat bangunan berupa aula (yang bisa digunakan oleh publik, seperti penyelenggaraan pesta pernikahan dan pertemuan), susteran KSFL, penginapan dan tempat-tempat pelatihan bagi para pelajar. Meskipun sudah disediakan satu kamar di penginapan oleh tuan rumah, kami bertiga lebih sering tidur di kantor SKPKC, lantai bawah. Lantai atas bangunan kantor tersebut merupakan ruangan kerja para pegawai sementara lantai bawah merupakan ‘ruang dapur’ atau ‘ruang keluarga’.

Kegiatan pelatihan Media Untuk Papua Sehat dilakukan di lantai bawah, dan oleh karenanya selalu ramai tiga minggu terakhir ini. Dalam pelatihan Media Untuk Papua Sehat, kami mendampingi para peserta pelatihan untuk mempelajari media sebagai langkah strategis membicarakan isu-isu kesehatan. Thomas Waisima dan Stefanus Abraw adalah peserta pelatihan yang sering ikut menginap bersama kami.

Hampir setiap malam, kami berdiskusi tentang media dan kesehatan. Kami juga memperbincangkan hal-hal lain, seperti cara makan papeda (sagu), kerusuhan yang sering dilakukan oleh pemabuk-pemabuk, konflik-konflik yang terjadi di Papua, bahkan pandangan-pandangan masyarakat Papua mengenai ‘wilayah pusat’ dan militer. Kami jarang berjalan-jalan keluar di atas pukul sepuluh. Selain karena pertimbangan pintu gerbang SKPKC tutup pada jam segitu, kami menghindari tingkah laku rusuh para pemabuk di jalanan.

***

SKPKC, seperti hasil perbincangan saya dengan Br. Edy Rosariyanto, sang direktur, bekerja di wilayah pemberdayaan masyarakat dengan dasar pemikiran yang menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan. SKPKC juga bergerak di bidang ekologi, guna melakukan pemetaan terhadap perkembangan lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat Papua, baik secara sosial, kultural, maupun dari perspektif ilmu eksakta. Selain itu, SKPKC juga sering menjadi mediator yang membantu menyuarakan aspirasi masyarakat Papua ke pemangku kebijakan, terkait kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya erat dengan konteks lokal Papua. Lembaga ini pun turut aktif dalam penyelesaian berbagai konflik dan sengketa tanah dengan pendekatan soft approach (diplomasi, negosiasi, dan musyawarah yang mengutamakan perdamaian dan keadilan bagi semua pihak), yang mempertemukan masyarakat Adat, pemangku kebijakan, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya dalam sebuah forum yang egaliter.

Kantor SKPKC Fransiskan Papua.

Yang membuat saya percaya dengan perjuangan lembaga ini ialah kegiatannya yang sadar dengan penelitian. Di kantor SKPKC, saya menemukan banyak dokumen-dokumen berupa laporan penelitian tentang kehiduan masyarakat Papua. Laporan-laporan ini tersusun sesuai dengan kode tahun. Bahkan, Bernard, koordinator lokal yang mendampingi kami menyelenggarakan kegiatan pelatihan di sini, sempat menunjukkan buku hasil penelitian tentang pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayawijaya di tahun 2006, berjudul “Sehat itu Sa Pu Hak” (Sehat itu Hak Saya). Nico, koordinator lokal yang bertanggung jawab untuk pelatihan di Waena, juga sempat menunjukkan literatur hasil investigasinya tentang aksi-aksi penembakan yang sering terjadi di wilayah konflik. Di bidang ekologi, SKPKC juga aktif melakukan seminar-seminar hasil penelitian. Misalnya, di tahun 2011, ketika masih di bawah kepemimpinan Br. Rudolf Kambayong, OFM, SKPKC menyelenggarakan seminar hasil penelitian tentang dampak pertambangan emas di Sungai Degeuwo.

Lemari arsip SKPKC.
Buku hasil penelitian SKPKC, berjudul “Sehat itu Sa Pu Hak”.
Suasana ruang kerja di SKPKC.

“Apa biasanya kendala yang sering ditemukan dalam melakukan aksi-aksi seperti ini, khususnya dalam konteks Papua, Bruder?” kira-kira begitu pertanyaan saya kepada Br. Edy, suatu hari.

Dengan jelas dan ringkas, Br. Edy memaparkan bahwa masalah Papua menjadi ‘tak kunjung selesai’ karena kurangnya kesadaran untuk menyatukan suara. Terutama di masyarakat Adat, mereka sering bentrok karena perbedaan pendapat sehingga menyulitkan proses pewacanaan isu. Selain itu, tindakan intimidasi juga sering dilakukan oleh pihak penguasa kepada masyarakat Adat dan kaum buruh. Br. Edy juga bercerita bahwa pernah suatu kali beberapa orang buruh dipecat oleh perusahaan mereka karena ketahuan turut aktif dalam kegiatan-kegiatan serikat buruh.

“Hari ini mereka mengadu ke SKPKC, besoknya mereka sudah kehilangan pekerjaan,” ucap Br. Edy.

Br. Edy Rosariyanto.

Bruder juga bercerita bahwa pemetaan isu yang mereka lakukan juga banyak berangkat dari pengaduan masyarakat. Mereka bergerak ketika masyarakat yang meminta. Dalam memenuhi permohonan itu, SKPKC berperan sebagai pendamping. Mengubah kebijakan secara langsung memang tidak mungkin, tetapi mengawasi hingga suatu persoalan masyarakat ditanggapi oleh pemerintah, sudah pasti dilakukan oleh SKPKC.

***

Pater (atau Pastor, biasanya disingkat P.) Paul Tumayang, OFM menemani kami makan di sebuah rumah makan ikan gurame tadi malam. Beliau aktif berkegiatan di SKPKC, khususnya di wilayah keagamaan.

P. Paul bercerita banyak tentang pengalamannya mendatangi daerah-daerah di Papua. Benturan-benturan keadaan sosial-kultural masyarakat yang harus dihadapinya seakan mengajarkannya tentang karakter orang Papua. Tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami.

“Jika kau berjalan-jalan di Wamena, lebih baik jalan kaki, karena kalau pakai mobil nabrak, nanti kau diminta ganti rugi satu babi,” kata P. Paul seraya tertawa, menceritakan pengalamannya di Wamena. “Harga satu babi bisa sampai enam puluh juta. Untung jika diminta langsung denda saja, tapi biasanya kau akan babak belur dulu sebelumnya karena dipukuli masyarakat.”

P. Paul ketika sedang bekerja.

P. Paul menjelaskan bahwa tingkah laku kriminal yang sering terjadi di Papua sesungguhnya bukan disebabkan oleh karakter masyarakat Papua itu sendiri, tetapi memang karena keadaan yang memaksakan demikian. Negara gagal memenuhi kebutuhan masyarakat di Papua. Itu sudah terjadi sejak era diktatorial Orde Baru, sehingga trauma itu seringkali muncul dan terjadilah bentrok antara kaum pendatang dan penduduk lokal. Bahkan tak jarang, bentrok juga terjadi antara sesama orang Papua.

“Kau pernah melihat orang mengais sampah lalu makan di tempat?” tanya P. Paul. “Di sini saya sering lihat. Seperti itu lah ketidakadilan yang terjadi di Papua. Makanya, menurut saya wajar, jika dampaknya ke perilaku mencuri. Orang butuh makan.”

Bahkan, menurut cerita P. Paul, kompor yang sedang menyala untuk menanak nasi pun bisa hilang dicuri orang. “Hilang dengan tungku-tungkunya sekaligus.”

Hal itu senada dengan ujaran salah seorang pedagang di Puskesmas Sentani.

“Jangankan handphone, gembok untuk menutup peti tempat menyimpan tenda saja bisa hilang, Kaka!” kata pedagang itu. “Kalau ;handphone, kan jelas, berharga…! Gembok?!” serunya seraya memukul jidat, dan disambut tawa oleh beberapa orang pembeli yang mendengar ceritanya.

Menurut P. Paul, persoalan ini tak ada bedanya dengan daerah-daerah lain yang menjadi sasaran transmigrasi. Ketika kaum pendatang berbaur dengan penduduk asli, terjadi persaingan. Penduduk asli biasanya kalah dalam persaingan itu, terutama di hal ekonomi. Ini yang menjadi penyebab kesenjangan sosial, dan akhirnya kriminalitas meningkat.

“Sistem negara kita juga keliru,” P. Paul berpendapat. “Terutama gara-gara program raskin itu, toh…?! Mendidik masyarakat jadi malas bekerja, padahal tanah banyak yang bisa diolah, tetapi karena terbiasa oleh raskin, tidak ada yang bekerja jadinya.”

***

Saya tidak tahu banyak tentang Katolik. Mendengar dari namanya, SKPKC Fransiskan Papua, seketika bisa diketahui bahwa lembaga ini memang bergerak di bawah prinsip-prinsip keagamaan yang diajarkan oleh Santo Fransiskus Assisi, santo yang melindungi hewan, pedagang dan lingkungan. “Pelindung” adalah kata kunci. “Fransiskan” atau Ordo Fratrum Minorum, bergerak demi kepentingan minoritas, bersahabat dengan alam, menumbuhkembangkan persaudaraan dan perdamaian.

Bernard, ketka sedang membaca koran di siang hari, di ruang keluarga SKPKC.

Hari-hari di Sentani, saya banyak belajar dari Br. Edy, P. Paul dan Bernard tentang pentingnya menolong sesama, menghindari dendam dan sakit hati terhadap orang lain.

“Mengapa kau kasih uang ke orang mabuk itu?” tanya saya kemarin sore ketika membahas perjalanan kami menuju Puskesmas Depapre pagi harinya.

“Ah, sudah, tidak apa-apa!” jawab Bernard. “Anggap saja kita saling menolong sesama.”

Bagaimana mungkin kita memaksakan aturan dan kehendak kepada masyarakat yang mengalami ‘penindasan’ kekuasaan, apalagi menyalah-nyalahkan perilaku mereka yang berbeda dengan kita? Sebagaimana cerita P. Paul tadi malam, saya berkesimpulan bahwa semua itu bukan soal bagaimana kita harus menyalahkan siapa karena siapa, tetapi hanya karena kekeliruan sistem saja yang membentuk mental masyarakat Papua menjadi sulit untuk percaya kepada hal-hal yang baru.

Dengan keyakinan untuk mempertahankan nilai kemanusiaan dari kekejaman sistem itu lah, lembaga semacam SKPKC Fransiskan Papua bergerak menciptakan keutuhan-ciptaan hidup masyarakat Papua. *

Salah Satu Siasat Melawan Serangan Primetime TV

Kagak seru, nih pilemnya, ganti aje dah tipinya, ganti!” teriak salah seorang yang duduk berjongkok di teras kantor RW, yang kemudian disambut tawa orang-orang di sekitarnya.

“Pukulannya kurang tajemtuh!” yang lain menimpali.

Turnamen-Terbuka-PB-Perintis-RW-02-Paseban

Mereka bukan sedang mengomentari sebuah adegan perkelahian dari sebuah filem yang diputar di TV. Saat itu, warga di sekitaran RW 02, Kelurahan Paseban, Senen, Jakarta Pusat, sedang berkumpul di sebuah lapangan yang dikenal dengan nama Lapangan Perintis. Mereka menyaksikan pertandingan bulutangkis antar Persatuan Bulutangkis (PB) dari setiap RW yang ada di Kelurahan Paseban. Saya pun jadi sadar, setiap malam, TV di rumah Mba Ira dan Bang Galis, pemilik rumah tempat salah satu markas tim akumassa Ad Hoc, tidak pernah menyala. Orang-orang rumah pergi ke lapangan untuk menonton bulutangkis.

Celetukan-celetukan yang terkesan meremehkan sering kali muncul ketika pertandingan, seakan-akan memang disengaja dilontarkan oleh warga setempat untuk menguji lawan yang datang bertandang ke kandang RW 02. Lebih-lebih, jika bukan dari PB RW 02 yang berlaga, guyonan yang keluar bahkan berupa ‘anjuran’ untuk tak menonton pertandingan. Itu membuat saya teringat dengan kebiasaan jika menonton laga bulutangkis di TV: kalau bukan Indonesia yang bertanding, biasanya saya memindahkan channel TV ke program acara yang lebih menarik.

Lapangan Perintis, Paseban.

Lapangan Perintis, Paseban.

Setiap hari, saya melihat ada banyak kegiatan di Lapangan Perintis. Ada aktivitas rutin anak-anak yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kantor RW 02, ada kegiatan loka karya ibu-ibu setiap minggu, hingga kompetisi olah raga, seperti bulutangkis. Di sela-selanya, lapangan itu selalu ramai oleh hiruk-pikuk warga. Anak-anak bermain kejar-kejaran di lapangan, ibu-ibu bergosip di depan warung di salah satu sudut lapangan (terkadang sembari menggendong atau menyuapi anaknya), dan muda-mudi pun turut nangkring dari sore hingga larut malam.

Turnamen-Terbuka-PB-Perintis-RW-02-Paseban2

Detik-detik laga final di Turnamen Terbuka PB Perintis RW 02 Kelurahan Paseban, Wawan Kurniawan Cup.

Acara kompetisi bulutangkis yang saya sebut di awal itu bernama Turnamen Terbuka (Open Tournament) Bulu Tangkis PB Perintis RW 02 Kelurahan Paseban, Wawan Kurniawan Cup, yang diadakan selama lebih kurang sepuluh hari, ditutup pada tanggal 27 Oktober malam, tahun 2013. PB Perintis—sudah ada di Paseban sejak tahun 1984—mengumpulkan dana dari berbagai sponsor, salah satunya dari relawan Wawan Kurniawan, demi menghidupkan kembali kegiatan olah raga bulutangkis yang sempat vakum sejak tiga belas tahun yang lalu. Dan kompetisi tahun ini, adalah turnamen bulutangkis ganda putra.

Saya dan teman-teman akumassa Ad Hoc menyimak perhelatan kompetisi tersebut sejak tanggal 20 Oktober. Kami mencoba merekam peristiwa massa tersebut untuk menjadi salah satu bingkaian video tentang Paseban. Bagi saya sendiri, alasannya sederhana saja: Lapangan Perintis, setelah kami amati beberapa waktu selama nge-kos di Paseban, adalah salah satu ‘kanal siasat’ bagi warga setempat untuk meningkatkan kebersamaan dan semangat sportifitas melalui beragam kegiatan-kegiatan positif yang diinisiasi oleh mereka sendiri.

Auviar Rizky Wicaksanti, dalam tulisannya “Malam di Paseban” (lihat di akumassa.org, 21 Oktober 2013), mengabarkan bahwa menurut keterangan beberapa warga setempat, acara turnamen itu diadakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2013. Dan Bang Heru, tokoh pemuda sekaligus ketua panitia turnamen tersebut, mengatakan bahwa di tahun-tahun selanjutnya, PB Perintis akan terus aktif menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan olah raga serupa.

***

Peristiwa massa kompetisi bulutangkis ala warga, di sebuah lokasi perumahan di tengah-tengah Ibukota itu, ternyata juga menyimpan narasi-narasi kecil. Narasi itu pun pastinya berhubungan dengan keberadaan Lapangan Perintis sebagai titik pusat aktivitas warga masyarakat RW 02 di Paseban.

Suasana warung Pak Tatang di siang hari.

Suasana warung Pak Tatang di siang hari.

Ageung dan Siba, yang sempat duduk berbincang dengan ibu-ibu di warung Pak Tatang—yang letaknya di salah satu sudut lapangan—mendapat narasi bahwa dahulunya di Paseban ada banyak tanah lapang. Seiring munculnya perumahan warga, lapangan-lapangan itu banyak yang musnah. Di area tempat kami nge-kos, hanya ada dua lapangan yang tersisa, yakni Lapangan Perintis dan lapangan di Gang Mayit.

Dulu, ada seseorang yang dikenal sebagai Pak Amin, salah seorang perintis yang mematenkan sebuah tanah lapang menjadi lapangan bulutangkis. Lapangan itu kemudian diberi nama Lapangan Perintis, dan di sisinya berdiri Kantor RW 02, yang sekaligs menjadi balai warga dan hingga sekarang jadi pusat kegiatan masyarakat setempat. Pak Amin dikenal sebagai penggerak yang sering berinisiatif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan warga, salah satunya olah raga bulutangkis. Dia melakukannya hanya atas dasar kesenangannya dengan jenis olah raga tersebut. Dia yakin dan berharap, jika ada lapangan bulutangkis, anak-anak muda di daerahnya pasti bersemangat untuk berolahraga setiap hari.

“Kalau dulu, bulutangkisnya seru,” begitulah kira-kira ujaran Pak Tatang ketika berbincang dengan Ageung dan SIba. “Dulu warga di sini banyak yang senang dengan bulutangkis, banyak yang main, dan bagus-bagus.”

Pak Tatang juga menceritakan bahwa bahkan dulu pernah ada seorang warga yang meninggal gara-gara terserang asma dan kelelahan seusai bermain bulutangkis. Namun menurutnya, itu justru menjadi sebuah kebanggaan, di mana semangat berolahraga hidup di setiap diri warga Paseban.

“Beda dengan sekarang, yang muda-mudanya sedikit yang pegang raket,” lanjut Pak Tatang.

Pak Tatang.

Pak Tatang.

Pak Tatang sendiri mengaku bahwa dia juga menyenangi bulutangkis. Ketika muda, dia sering ikut bermain bersama-sama warga. Sekarang, kalau ada lomba bulutangkis di Lapangan Perintis, Pak Tatang hanya jadi penonton sembari melayani pembeli yang datang ke warungnya. Dan bangku-bangku di depan warung Pak Tatang adalah lokasi yang paling ramai disinggahi warga setiap malam ketika menonton Turnamen Terbuka Wawan Kurniawan Cup tersebut.

***

Kemarin adalah laga final, yakni laga antara Dali/Erwin dari PB Pas melawan Iwan/Parto dari PB 03-05. Sepenglihatan saya, yang berlaga di final ini adalah bapak-bapak, padahal di hari-hari sebelumnya saya melihat ada banyak pemain yang muda-muda.

Dali cs VS Parto cs.

Dali cs VS Parto cs.

Dali CS dan Parto CS tidak berasal dari PB Perintis, atau dari RW 02. Akan tetapi, warga yang menyaksikan final terasa lebih ramai dibanding laga-laga lainnya di turnamen itu. Masing-masing sudut lapangan dipenuhi warga dari empat gang. Dengan istilah yang saya buat sendiri, keempat gang itu adalah ‘gang kanan pos RW’, ‘gang kiri Pos RW’, ‘gang warung Pak Tatang’, dan ‘gang dekat warung Bu Biah’.

Saya berdiri menyaksikan pertandingan di sudut ‘gang warung Pak Tatang’. Sependengaran saya, warga yang duduk di sudut ini mendukung tim Pak Dali sebagai pemenang. Sedangkan di sudut yang berhadapan diagonal dari tempat saya berdiri, yakni ‘gang kanan pos RW’, berkumpul warga yang mendukung tim Pak Parto.

Gang-kanan-Pos-RW

Gang kanan Pos RW.

Gang-kiri-Pos-RW

Gang kiri Pos RW.

Gang-warung-Bu-Biah

Gang dekat warung Bu Biah.

Gang-warung-Pak-Tatang

Gang warung Pak Tatang.

“Ayo, Pak Dali! Pasti bisa!” kata salah seorang bapak yang berdiri di sebelah saya. Sedari awal pertandingan, dia begitu semangat. “Pertandingan masih seru… masih seru!”

“Gak perlu ganti tipi, masih seru…!” timpal yang lain.

Saat itu, skor tim Pak Dali ketinggalan jauh. Kalau saya tidak salah ingat, momen paling seru adalah ketika tim Pak Dali mengejar ketertinggalan sembilan angka, 22-13.

Dari posisi saya berdiri, saya bisa melihat kerumunan warga yang berdiri di Gang kiri Pos RW.

Dari posisi saya berdiri, saya bisa melihat kerumunan warga yang berdiri di Gang kiri Pos RW.

“Ayo merah putih!” teriak seseorang dari sudut lapangan. Teriakannya ditujukan ke tim Pak Parto. Rekan satu timnya, Pak Iwan, mengenakan baju warna biru sementara Pak Parto mengenakan baju merah putih. Sedangkan tim Pak Dali CS, kedua-duanya mengenakan baju warna biru.

Warga yang berkerumun di Gang warung Pak Tatang.

Warga yang berkerumun di Gang warung Pak Tatang.

Kira-kira setengah jam kemudian, tim Pak Dali berhasil mengejar ketertinggalan skor menjadi 25-27. Sembari menonton, saya terus merekam pertandingan dengan kamera digital yang saya bawa. Di dalam frame, saya melihat wajah-wajah warga yang menyimak pertandingan dengan seksama. Gerakan kepala dan lirikan mata mereka secara serentak melihat ke kanan-kiri-atas-bawah mengikuti gerak cock yang menjadi penentu peraihan skor. Ketika cock jatuh masuk ke benteng pertahanan Pak Parto, hakim garis yang duduk mencolok di tengah kerumunan warga menjulurkan tangan ke depan.

“Poin!” seru wasit.

Skor bertambah untuk Pak Dali. Di dalam frame, saya melihat kekhidmatan dan gerakan serentak mata-mata warga yang fokus itu pecah dengan tawa, senyum, dan tepuk tangan girang.

“Ayo, Pak Dali! Mumpung bola pertama, manfaatkan sebaik-baiknya! Pasti bisa!”

Terasa cukup lama dan melelahkan juga hingga akhirnya tim Pak Dali mampu menyeimbangkan skor menjadi 27 sama. Ketika para penonton bersorak, “Minum dulu! Minum dulu! Kalem… jangan buru-buru. Kasih minum dulu, Sit!”, si wasit pun berseru, “Time up!” mempersilahkan para pemain untuk jeda sejenak menenggak air minum.

Pak Parto.

Pak Parto.

Jika kembali mengingat apa yang saya tonton sejak tanggal 20 Oktober, secara pribadi saya juga mendukung Pak Dali. Saya berharap dia menang dalam laga final itu. Namun, tim Pak Parto kembali unggul, secara berurutan menambah dua angka, 29-27. Harapan saya muncul kembali ketika kendali cock berpindah sekali lagi ke tim Pak Dali. Saya masih mendengar seruan yang menyemangati Pak Dali, bahwa timnya pasti bisa menang.

Dua kali suguhan service, keduanya gagal; pindah bola ke tim Pak Parto. Suara-suara warga di pinggir lapangan bergemuruh, serasa berasa di stadion sungguhan. Para pendukung Pak Parto semakin bersemangat.

Baru beberapa detik saya berujar di dalam hati, “Yah, kalah deh!”, bola tipuan dari Pak Parto bergerak pelan, menipu tim Pak Dali yang sudah kelelahan diserang smash beruntun, cock jatuh ke wilayah tim Pak Dali. Pak Parto kemudian mengangkat tangan girang, para pendukung di sudut ‘gang kanan pos RW’ berhamburan ke tengah lapangan. Laga final di Wawan Kurniawan Cup pun akhirnya dimenangkan oleh tim Pak Parto.

Selebrasi tim Pak Parto atas kemenangannya melawan tim Pak Dali.

Selebrasi tim Pak Parto atas kemenangannya melawan tim Pak Dali.

Pak Dali cs meraih Juara 2.

Pak Dali cs meraih Juara 2.

Pak Parto cs, sang juara.

Pak Parto cs, sang juara.

***

Yang saya pahami, Sumpah Pemuda adalah sebuah ikrar para pemuda yang memimpikan persatuan dan kebersamaan. Dengan persatuan dan keberasamaan lah peradaban warga masyarakat madani dapat terbangun. Sumpah Pemuda menjadi salah satu peristiwa yang menandai perlawanan terhadap penjajahan dan kolonisasi Barat di bumi pertiwi.

Anak-anak turut menjadi penonton setia Turnamen Wawan Kurniawan Cup.

Anak-anak turut menjadi penonton setia Turnamen Wawan Kurniawan Cup.

Mungkin itu pula lah yang melatarbelakangi semangat para pemuda di RW 02, Kelurahan Paseban. Meskipun tidak terlibat banyak, atau tidak menjadi ‘garda depan’ dalam turnamen, penyelenggaraan kegiatan itu ada karena inisiatif yang muda-muda juga.

Dan apakah penyelenggaraan turnamen itu adalah sebuah gerakan persatuan yang melawan penjajahan? Sempat terucap dari mulut salah seorang tim akumassa Ad Hoc bahwa sangat disayangkan kegiatan warga itu, secara tidak langsung, menjadi ajang kampanye caleg dan iklan pemilik modal (provider seluler).

pak-parto-menang2

Terserahlah! Mengabaikan faktor-faktor itu, saya sendiri menganggap dan menafsir Turnamen Terbuka PB Perintis RW 02, Kelurahan Paseban, sebagai salah satu siasat melawan “penjajahan”. Pengalaman selama merekam peristiwa massa itu menyadarkan saya tentang fenomena “warga masyarakat tontonan-penonton”; kita hidup di lingkungan dinamika kolonisasi oleh media. TV, salah satunya, yang begitu mempengaruhi pola hidup masyarakat. Kegiatan turnamen bulutangkis setiap malam itu justru memberikan efek positif. Warga dengan suka rela keluar rumah barang sejenak, tak menyentuh TV di waktu prime time (pukul delapan hingga sebelas malam), melepas kungkungan sajian-sajian opera sabun yang sudah tak ada kualitasnya sama sekali.

Meskipun ujaran, celetukan dan guyonan yang keluar dari mulut-mulut warga berangkat dariattitude yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman mereka menonton media TV, seperti menonton SEA Games, Asian Games, All England, Thomas & Uber Cup, tontonan turnamen bulutangkis selama sepuluh hari di Paseban itu justru hadir secara beda: sportifitas hadir secara riil di tengah-tengah gosip ibu-ibu, grasak-grusuk bocah-bocah, seduan kopi dari warung, asap rokok bapak-bapak, bahkan suara gorengan dari si pedagang nasgor tek-tek.

Sadar tidak sadar, warga berkumpul melawan kolonisasi yang mengungkung mereka setiap hari. Ini menjadi narasi baru, tentu saja, dan karena itulah akumassa bertanggung jawab untuk bersiasat merekamnya menjadi sejarah.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 28 Oktober 2013, dan juga di dalam Jurnal Akumassa Ad Hoc, berjudul Seni di Batas Senen (Forum Lenteng, 2013).

Kami, Pendatang, Bongkar Senen Sekarang

Ada apa di Senen? Banyak. Sebagian besar sejarah Ibukota, di Senen. Sebagian besar realisasi dari kebijakan pemerintah Ibukota—juga kegagalannya, di Senen. Sebagian besar rivalitas-rivalitas sosial dan budaya Ibukota, di Senen. Siasat dan daya muslihat warga—baik asli maupun pendatang—atas tuntutan ekonomi, di Senen. Intinya, sebagian besar narasi dan peristiwa massa Ibukota, di Senen.

BW1-VCxCMAAUxZt-copy

Kalimat-kalimat itu jadi semacam kesimpulan awal saya, sebagai seorang perantau di Ibukota Jakarta, mengenai Senen.

Memang, sih, semua tempat di belahan dunia mana pun pasti juga begitu. Akan tetapi, jikangomong soal Jakarta, Senen jadi salah satu bahan utama. Sebagaimana kata salah seorang saudara yang sudah merantau lebih dulu ke sini, “Kau tak akan mengenal Jakarta kalau belum mengenal Senen.”

header_logo-JB2013-no-background-copy

Lebih kurang setengah bulan sudah, saya dan beberapa kawan melakukan riset mengenai Senen. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Program akumassa Forum Lenteng, yang dinamakan proyek akumassa Ad Hoc, dalam rangka berpartisipasi pada Jakarta Biennale—sebuah perhelatan seni rupa kontemporer berskala internasional yang diselenggarakan dan didukung penuh oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Pariwisata & Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta—tahun 2013, dengan tema ‘SIASAT’ (Tactic). Berpijak pada pengertian perhelatan biennale sebagai sebuah pembacaan yang berkelanjutan atas kota melalui perspektif seni kontemporer, akumassa ditantang untuk melihat dan menanggapi dinamika kota melalui aksi merekam kenyataan sosial dalam lingkup ruang dan waktu yang spesifik, demi mendapatkan suatu tafsir berupa produk karya terkait soal hubungan antara praktik sosial dan kemungkinan estetik.

Tim akumassa Ad Hoc sendiri terdiri dari para partisipan yang berasal dari beberapa komunitas dampingan akumassa. Otty Widasari, Koordinator Program akumassa Forum Lenteng, memimpin awak akumassa Ad Hoc, yang diantaranya adalah Anib dan Ghembrang (perwakilan dari Komunitas Anak Seribu Pulau, Blora), Umam (perwakilan dari Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan), Ageung dan Jayu (perwakilan dari Komunitas Suburbia, Depok), Siba (perwakilan dari Komunitas Pasir Putih, Lombok Utara), Ari (perwakilan dari Komunitas Sarueh, Padangpanjang), dan Andre serta saya sendiri, Zikri (perwakilan dari Forum Lenteng, Jakarta).

DSCN1284

Setelah melalui proses pemantapan ide dan identifikasi isu mengenai Senen—lokasi yang menjadi fokus akumassa dalam proyek kali ini—Anib, Umam dan Andre, partisipan yang sudah berada di Jakarta sejak awal Bulan Oktober, melakukan tinjauan awal ke lapangan beberapa kali. Mereka berkeliling kawasan Senen dan sekitarnya, mulai dari sekitaran rel kereta api di Timur hingga ke area bantaran Sungai Ciliwung di Barat, dari pagi hingga malam hari. Tinjauan itu bahkan sedikit diperluas ke wilayah Kecamatan Johar Baru, yakni di Galur dan Kota Paris, demi memperluas kemungkinan-kemungkinan tangkapan atas bentuk aktivitas sosial masyarakat di sekitar Senen, untuk dapat didedah lebih jauh dan dibingkai menjadi sebuah karya. Hal ini sesuai dengan konsep dan metode kerja akumassa, yang selalu berhubungan dengan tiga hal utama, yakni lokasi, narasi-narasi kecil, dan peristiwa massa, sehingga wilayah-wilayah yang berbatasan atau bersentuhan dengan daerah yang menjadi fokus pun seringkali juga menjadi wilayah riset dan bahan tambahan untuk berkarya.

DSCN1269

Tinjauan awal mereka itu menghasilkan beberapa catatan mengenai titik-titik lokasi yang lebih sepesifik dan identik dengan narasi-narasi warga setempat yang menarik dan unik. Dan berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan selama proses tinjauan awal tersebut berlangsung, titik-titik lokasi beserta narasi-narasinya itu lah yang menjadi kepingan-kepingan fragmen dari konstruksi wacana terkait Senen—hasil dedahan dalam proses riset—yang nantinya akan dirangkai menjadi fragmen dari konstruksi wacana Senen yang baru sebagai suatu pembacaan atas problematika warga masyarakat sehubungan dengan kebertahanannya menghadapi segala macam keterbatasan, ancaman dan masalah-masalah yang dihadapi.

DSC_0034

Ada apa di Senen?

17 Oktober, 2013, saya turut bergabung dengan rombongan Anib, Umam dan Andre, melakukan observasi lanjutan demi mendapatkan informasi-informasi tambahan. Yang menjadi penekanan, riset kami ini bukan “menggali-gali peninggalan bersejarah” terkait Senen, melainkan merekam peristiwa-peristiwa massa dan narasi-narasi kecil yang menyertainya untuk dilihat dalam konteks sekarang, dari perspektif kami sebagai orang pendatang (atau lebih tepatnya, pendatang di Senen).

Berbekal hasil temuan pada riset awal di lapangan dan kesepakatan pada diskusi-diskusi sebelumnya, titik-titik lokasi yang kami datangi di sekitaran Senen terasa lebih mudah dan lebih tentu arah. Tidak seperti cerita Anib, yang mana pada hari-hari sebelumnya mereka benar-benar harus mengelilingi seluruh kawasan Senen, hari itu kami hanya mengobservasi beberapa tempat saja.

Titik-titk lokasi yang kami datangi hari itu umumnya berada di area Proyek Senen, di antaranya adalah sebuah tempat sholat dan toilet umum pada salah satu blok di area Proyek Senen; ibu-ibu penjahit tangan yang duduk berjejer di sekitaran tangga pada salah satu blok di area Proyek Senen juga; blok-blok bagian dalam Proyek Senen, di mana para penjual baju bekas berdagang saling bersebelahan dan hadap-hadapan; dan tempat parkir yang berhadapan langsung dengan Jalan Pasar Senen. Selain itu, agak jauh dari area Proyek Senen, kami juga mengunjungi sebuah warung makan di bawah jembatan (koridor) Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo (RSCM) Kencana yang melintasi Sungai Ciliwung, di Jalan Inspeksi Kenari.

IMG_0247

Tempat sholat dan toilet umum yang kami kunjungi itu menarik karena, sebagaimana pendapat Umam yang melakukan riset di sana sedari awal, titik lokasi itu memiliki persoalan tentang bagaimana ruang religiusitas dalam bentuk yang memiliki kontradiksi dengan pemahaman wajar masyarakat umum tentang tempat ibadah. Yang pertama, gelaran sejadah dan pembatas dinding dengan triplek yang serta merta—atau, lebih tepatnya, mau tidak mau, karena keterbatasan akses—dijadikan ‘musholla’. Kontradiksi kedua ialah tentang ritual ibadah sholat yang identik dengan kebersihan, namun pada realitasnya hal itu berbanding terbalik dengan keadaan tempat ibadah yang kumuh dan berhadapan langsung dengan pintu WC (toilet umum terletak persis di arah kiblat sholat). Sedangkan kontradiksi ketiga adalah persepsi tentang kebebasan dalam beribadah, yakni tak ada tanggungan lain selain penyerahan diri kepada Sang Khalik, menjadi kian dipertanyakan karena pertimbangan ekonomis; kebutuhan mengakses air wudhu mensyaratkan para pengunjung musholla untuk mengeluarkan uang seribu-dua ribu rupiah (tempat ibadah menjadi komoditas).

DSCN1332

Aktivitas menjahit secara manual, atau menggunakan tangan, yang dilakukan oleh ibu-ibu di sekitaran tangga di salah satu blok pada area Pasar Senen juga menarik perhatian kami karena terbersit rasa penarasan: mengapa di antara begitu banyak toko jahit pakaian yang berproduksi menggunakan mesin, masih ada orang yang mau melayani pesanan dengan menggunakan tangan? Setelah melakukan riset lebih jauh, kami mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh ibu-ibu itu ternyata merupakan bagian dari proses pembuatan pakaian dari setiap toko-toko jahit yang ada di titik lokasi tersebut. Dengan kata lain, mereka merupakan pegawai dari toko-toko jahit tersebut. Mereka menjahit dengan tangan karena, dalam proses penjahitan pakaian, memang ada satu proses yang tidak dilakukan menggunakan mesin, yakni teknik tusuk som dan pasang kancing. Namun, pemandangan menjahit dengan menggunakan tangan itu tetap menarik karena ibu-ibu duduk berjejer di lantai keramik, bersandar ke dinding-dinding toko dan memakan tempat di perlintasan pejalan kaki. Alasan mereka, seperti yang diutarakan oleh salah seorang ibu (yang tak mau menyebut namanya), “Kalau di dalam agak gelap dan gerah, makanya duduk di luar.”

IMG_20131008_1508411

Sementara itu, di area blok bagian dalam, fenomena jual baju murah juga tak kalah menarik. Masuk ke area itu seakan-akan masuk ke dalam timbunan baju-baju. Para pembeli dengan bebas mengobrak-abrik gunungan pakaian untuk memilih model yang mereka suka. Meskipun padat dan pengap, orang-orang yang membeli tetap bersemangat menawar-nawar harga penuh harap. Para pedagang yang umumnya berdiri di tengah-tengah gunungan pakaian, meneriakkan harga obral dagangan masing-masing, saling beradu suara dari lapak siapa yang lebih keras, terkadang mereka saling sahut-menyahut, menjadi sebuah interaksi yang memiliki keunikan sendiri sebagai sebuah peristiwa massa yang terjadi setiap hari. Selain visual, audio pada lokasi tersebut dapat ditangkap sebagai representasi sebuah persoalan terkait rivalitas-rivalitas warga dalam isu jual-beli di pasar.

DSCN1340

Sedangkan di area luar Proyek Senen, tepatnya tempat parkir, juga menjadi titik lokasi yang kami incar karena alasan mobilitas dan pergantian bentuk aktivitas para warganya. Siang hari, tempat itu adalah lahan parkir sepeda motor, berbagi tempat dengan para pedagang baju murah yang membuka lapak di lahan pejalan kaki. Mungkin, karena ‘tak kebagian tempat’ di area dalam rumah-rumah toko (blok bagian dalam Proyek Senen). Menjelang sore, ketika area parkir mulai sepi, satu per satu mobil box berhenti di pinggir Jalan Pasar Senen, dan orang-orang menurunkan kotak-kotak berisi beragam jenis kue dari mobil tersebut, mulai dari kue basah, kue kering, kue tart hingga ke makanan jenis roti, yang siap didagangkan pada malam hari, sampai waktu subuh esok harinya. Hiruk pikuk keramaian yang diciptakan tak kalah riuh dengan siang hari. Selain itu, terpaan visual warna-warni yang dihasilkan dari kue-kue yang dipajang seolah menjadi muslihat yang menggoda mata dan perut pembeli agar mau mampir ke salah satu lapak. Orang-orang menyebut ‘wajah malam’ tempat parkir itu sebagai tempat jual kue subuh.

IMG_20131008_122253

Yang terakhir, ialah sebuah lokasi di luar Kelurahan Senen. Terdapat sebuah warung kecil yang terletak di pinggiran Jalan Inspeksi Kenari, tepat di bawah jembatan RSCM Kencana yang melintasi Sungai Ciliwung. Pemandangan alat-alat berat yang mengeruk sungai menemani aktivitas para pembeli di meja makan. Di warung itu, jika kita mau lebih cermat memperhatikan pada jam-jam makan siang, terutama, ada peristiwa menarik, yakni orang memesan makanan dari atas jembatan. Jembatan yang sesungguhnya menjad koridor RSCM tersebut terbagi dua jalur, dan di tengah-tengah jalur tersebut ada celah jeruji yang menjadi atap warung. Cukup dengan menghampiri koridor, para pegawai RSCM yang merasa lapar, tapi enggan berjalan jauh, memanfaatkan celah jeruji itu sebagai jalan pintas untuk memesan makanan, tanpa perlu ke luar gedung dan memutari lahan parkir menuju warung.

IMG_20131008_132152

Beberapa titik lokasi yang telah dijabarkan tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk ditangkap oleh bingkai kamera dan direpresentasikan secara visual, atau dijadikan bahan karya tulis yang mengulas fenomena itu dari perspektif seni, menyorot ‘SIASAT’ yang tercipta dari peristiwa massa maupun dari narasi lokalnya.

IMG_0170-2

Sebenarnya, masih ada lokasi lain yang termasuk dalam daftar incaran tim akumassa Ad Hoc, di antaranya adalah titik lokasi di daerah Galur dan Kota Paris di Kecamatan Johar Baru. Dua lokasi yang dipisahkan oleh kali itu menjadi menarik karena ada fenomena warga masyarakat yang sering menerbangkan burung-burung merpati balap peliharaan mereka, dan juga keberadaan gang-gang kecil di antara rumah-rumah susun yang membentuk semacam labirin yang cukup membingungkan.

IMG_20131001_161421

Fenomena Bioskop Grand yang terletak di persimpangan Jalan Keramat Bunder dan Keramat Raya juga termasuk dalam daftar titik lokasi yang menjadi incaran tim akumassa Ad Hoc, mengingat kabar angin mengenai lokasi itu terkait penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang dengan dalih menonton filem. Namun, bagi akumassa sendiri, titik lokasi itu menjadi menarik justru karena keterkaitannya dengan sejarah dan wacana filem di Indonesia. Melalui proyek ini, kami berharap menemukan harta-harta karun ‘sinematis’ yang mungkin selama ini luput dari perhatian akibat selubung-selubung aktivitas-aktivitas para pelanggan yang umumnya dianggap menyimpang oleh norma masyarakat umum.

IMG_2280

Lokasi lainnya adalah Kelurahan Paseban. Di kelurahan tersebut ada sebuah komunitas, bernama Sanggar Budaya Paseban, yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan pemberdayaan warga masyarakat dengan melibatkan perangkat-perangkat RT/RW. Rumah Bang Galis dan Mba Ira, yang merupakan markas komunitas tersebut, menjadi markas sementara tim akumassa Ad Hoc selama melakukan riset lapangan di daerah Senen.

Rumah Bang Galis dan Mbak Ira, aktivis seni-budaya di Sanggar Budaya Paseban, yang menjadi markas sementara kami selama melakukan riset di Senen.

Rumah Bang Galis dan Mbak Ira, aktivis seni-budaya di Sanggar Budaya Paseban, yang menjadi markas sementara kami selama melakukan riset di Senen.

Hingga sekarang, aktivitas riset di kawasan Senen, dan terkhusus di Kelurahan Paseban, masih terus berlangsung. Terutama untuk titik-titik lokasi yang disebutkan belakangan, observasi dan pengenalan secara lebih mendalam terus kami lakukan pada hari-hari selanjutnya sampai kami benar-benar mendapatkan angle yang pas untuk membingkai lokasi tersebut menjadi sebuah karya.

DSCN1264

Dan dalam beberapa waktu ke depan, setiap harinya Redaksi akumassa akan menaikkan tulisan-tulisan terkait perkembangan proses kerja proyek akumassa Ad Hoc, serta tulisan-tulisanakumassa lainnya yang berhubungan dengan isu-isu yang ada di kawasan Senen.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 20 Oktober, 2013, dan juga di dalam Jurnal Akumassa Ad Hoc, berjudul Seni di Batas Senen (Forum Lenteng, 2013).

Zakat Fitrah di Masjid Ar-Rahim

“Dari mana?” seorang bapak berkemeja hijau bertanya kepada bapak yang mengenakan baju muslim berwarna oranye, seraya menunjuk saya, yang duduk di sebelahnya. Si bapak berbaju muslim, saya memanggilnya Pak Edy, melirik saya, kemudian menggeleng seakan mengisyaratkan kepada temannya itu bahwa saya bukanlah hal penting.

Masjid Ar-Rahim.
Masjid Ar-Rahim.

Saat itu, saya sedang duduk di antara bapak-bapak pengurus Masjid Ar-Rahim di RW 03, Kelurahan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, Riau. Pada malam terakhir Bulan Ramadhan 1434 H itu, tanggal 6 Agustus 2013, setelah sholat tarawih, di masjid tersebut sedang ada kegiatan pembagian zakat fitrah kepada warga RW 03.

Sebelumnya, Pak Edy menyuruh saya menunggu barang sebentar, menjelang dia selesai mengurus proses pemberian zakat fitrah dan menghitung uang sisa yang belum tersalurkan. Saya menduga-duga tebakannya tentang saya: mungkin mahasiswa, mungkin juga wartawan. Yang jelas, saya telah menerangkan padanya bahwa saya akan menulis cerita tentang kegiatan pemberian zakat fitrah di Masjid Ar-Rahim, dan akan memuatnya di sebuah media online.

IMG_1156

Saya memilih masjid itu karena kemudahan akses yang saya dapat dibandingkan dengan masjid-masjid lain di Kelurahan Jadirejo. Kedekatan saya dengan Masjid Ar-Rahim sudah terbangun sejak kecil. Ada banyak ritual keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat setempat yang saya alami di masjid itu, mulai dari peringatan hari besar keagamaan, kerja bakti, pembangunan madrasah, hingga acara-acara perayaan, seperti khatam Al-Quran. Ketika saya duduk di bangku Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Ar-Rahim, setiap hari saya memasuki masjid, dan menyimak setiap perkembangan yang terjadi. Dulu, saya kenal dengan penjaga masjid. Pak Masrul, namanya, yang juga merupakan salah seorang guru di MDA Ar-Rahim. Penjaga masjid berganti beberapa kali, bahkan sekarang saya sudah tak kenal siapa penjaga masjidnya, apalagi sejak merantau ke Jakarta. Namun, penjaga masjid yang sekarang usianya tak jauh berbeda dengan saya, dan lebihnyambung diajak ngobrol. Imam masjid juga begitu, berganti-ganti. Kata ibu, ketika masih hidup, kakek saya adalah salah seorang imam Masjid Ar-Rahim terpandang, disegani, dan sering terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan yang diadakan oleh panitia masjid. Salah satunya, sebagai ketua panitia zakat fitrah di Bulan Ramadhan. Selain itu, ayah saya juga pernah menjabat bendahara RW 03, dan ketika masih aktif sebagai pemuda masjid, ayah pernah pula mengurus keuangan masjid selama Ramadhan.

Para jamaah masjid Ar-Rahim sedang bersiap-siap mendengar ceramah sholat tarawih.
Para jamaah masjid Ar-Rahim sedang bersiap-siap mendengar ceramah sholat tarawih.
Seorang ustadz memberikan santapan rohani kepada jamaah.
Seorang ustadz memberikan santapan rohani kepada jamaah.

Bibi saya mengatakan bahwa dulu, ketika ia masih remaja, pemberian zakat fitrah Masjid Ar-Rahim diadakan pada malam takbir. Tak ada yang tahu pasti di keluarga saya mengapa belakangan pemberian zakat fitrah berubah menjadi malam terakhir Bulan Ramadhan. Alasan yang paling logis datang dari sepupu saya, Sabil, “Mungkin, supaya yang menerima zakat fitrah juga punya waktu untuk belanja keperluan lebaran,” katanya berpendapat.

Sementara ayah saya, yang punya pengalaman menjadi pengurus RW dan masjid, mengatakan bahwa sistem kepanitiaan sudah banyak yang berubah, malah semakin berantakan, sejak para tokoh masyarakat yang dipercaya, salah satunya nenek saya yang dikenal sebagai Ibu Kepala MDA Ar-Rahim, tak terlibat lagi dalam banyak kegiatan, biasanya karena sudah terlalu tua atau meninggal. Kepengurusan yang sekarang dilakukan salamak paruikpanitia (seenak perut panitia), kalau istilah ayah saya, yang maksudnya adalah ‘sesuka hati para panitia’ tanpa mempertimbangkan dan mengutamakan kemaslahatan umat.

Tentu saja itu adalah pendapat subyektif ayah, dan belum tentu benar. Oleh sebab itu, gosip-gosip mengenai kebobrokan moral para pengurus masjid atau orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pengurusan masjid, ingin saya buktikan sendiri. Zakat fitrah di bulan puasa, saya rasa cukup pas untuk meninjau hal ini.

Sesi pengumpulan infak dan sadakah setelah ceramah sholat tarawih.
Sesi pengumpulan infak dan sadakah setelah ceramah sholat tarawih.
Panitia masjid mengumpulkan infak dari jamaah.
Panitia masjid mengumpulkan infak dari jamaah.
Sholat tarawih.
Sholat tarawih.

Saya tertawa kecil di dalam hati waktu melihat kekikukan para panitia masjid malam itu. Saya mengerti bahwa ada kekhawatiran yang muncul di wajah mereka ketika menyadari kamera di tangan saya. Saya mulai jepret sana jepret sini ketika ceramah sebelum sholat tarawih dimulai. Dan itu terus berlanjut hingga sesi pemberian zakat fitrah. Tanpa ragu, saya mengambil gambar aktivitas penghitungan uang infak, sadakah, dan uang zakat fitrah. Orang-orang yang menghitungnya pun saya abadikan. Maka maklum, ketika saya bertanya tentang sistem dan proses pembagian zakat fitrah itu, dengan tegas dan sikap membatasi diri, Pak Edy berkata, “Ini semua untuk warga yang membutuhkan. Kami tidak ada sedikit pun mengambil jatah, tidak ada hak. Jadi, kami tidak mengambil bagian, karena itu berdosa!”

“Iya, Pak!” kata saya. “Saya cuma pengen tahu, ada berapa kepala keluarga yang menerima zakat fitrah di RW kita?”

“Hitungannya per jiwa, bukan KK,” kata Pak Edy. Dia pun menunjukkan dokumen yang berisikan daftar para penerima zakat fitrah kepada saya. “Di RW 03 ini ada enam RT, 48 KK yang masuk kategori, ada 196 jiwa.”

Melalui pengumuman panitia, saya mengetahui bahwa dalam satu kepala keluarga yang berhak menerima zakat fitrah, hanya dianggap ada lima jiwa, dengan total uang zakat fitrah adalah Rp 480.000,- per kepala keluarganya.

“Jadi, kalau ada yang enam jiwa dalam satu KK, hanya mendapat delapan puluh ribu saja,” terang Pak Edy melalui pengeras suara.

Keramaian di pos penerimaan zakat.
Keramaian di pos penerimaan zakat.
Pak Edy (baju oranye), salah seorang panitia zakat, sedang memberikan santunan anak yatim dari hamba Allah.
Pak Edy (baju oranye), salah seorang panitia zakat, sedang memberikan santunan anak yatim dari hamba Allah.
Panitia sedang menghitung keuangan masjid.
Panitia sedang menghitung keuangan masjid.
IMG_1205

Sebelumnya, saya tak pernah melihat proses pemberian zakat fitrah. Dalam bayangan saya, para panitia akan berdiri di pintu masjid sementara di dekat mereka ada banyak sembako, lalu warga fakir dan miskin berbaris antri untuk menerima sekantong atau dua kantong sembako. Jujur saja, bayangan itu dipengaruhi oleh opera-opera sabun bernuansa islami di TV, yang biasanya menjamur di bulan puasa. Atau bayangan lainnya, pemberian zakat fitrah yang berujung ricuh karena warga berebutan. Hal itu seringkali menjadi pemberitaan di TV-TV, biasanya sehari atau dua hari setelah bulan puasa berakhir.

Panitia amil zakat memberikan zakat fitrah kepda warga yan berhak.
Panitia amil zakat memberikan zakat fitrah kepda warga yan berhak.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.

Di Masjid Ar-Rahim, warga fakir dan miskin—sejauh amatan saya, mayoritas yang mengambil hak zakat fitrah adalah perempuan—duduk dengan sabar di dalam masjid, sedangkan jamaah masjid yang bukan masuk dalam golongan penerima zakat sudah pulang ke rumah masing-masing. Panitia duduk di dekat mimbar, dan sambil menghitung uang dan mencatat data-data para penerima, mereka memanggil satu per satu nama jiwa yang berhak. Satu per satu para penerima maju ke depan, dan menerima amplop berisi uang. Peristiwa itu persis seperti pengumuman absen kehadiran siswa MDA ketika menerima rapor kenaikan kelas waktu saya masih sekolah mengaji dulu.

Salah seorang warga RW 03 sedang membayar zakat fitrah.
Salah seorang warga RW 03 sedang membayar zakat fitrah.
IMG_1184

Selama proses pemberian zakat itu, pos pembayaran zakat fitrah juga masih dibuka di depan pintu masuk masjid. Hingga malam itu, saya masih melihat ada banyak orang membayar zakat, ada yang dengan uang, ada juga yang langsung memberikan beras.

Yang saya pelajari sewaktu masih duduk di bangku MDA, dan juga melalui diskusi dengan ibu, zakat fitrah memiliki ketentuan, yakni pengeluaran wajib bagi umat muslim berupa sebagian harta berbentuk makanan pokok, tergantung dari makanan pokok apa yang dikonsumsi di wilayah lokal tertentu. Misalnya, di Indonesia yang umumnya mengkonsumsi makanan pokok berupa beras, orang-orang membayar zakat fitrah dengan beras atau uang sesuai bobot harga beras yang dikonsumsi. Bobot pengeluaran zakat fitrah adalah satu sha’ makanan pokok. Pada beberapa artikel di internet yang saya telusuri, mayoritas ulama di Indonesia menyepakati bahwa satu sha’beras untuk konteks Indonesia setara dengan 2,5 kilogram beras.

Formulir keterangan membayar zakat fitrah Masjid Ar-Rahim.
Formulir keterangan membayar zakat fitrah Masjid Ar-Rahim.

Pada kertas formulir keterangan pembayaran zakat fitrah Masjid Ar-Rahim, saya melihat ada tiga jenis beras yang umumnya dikonsumsi masyarakat. Beras pertama adalah beras ramos (IR 64), sering juga disebut Setra Ramos. Sebuah artikel di http://jagoanberas.blogspot.com/ menerangkan bahwa beras ini paling banyak ditemui di pasaran karena harganya yang terjangkau. Beras ini memiliki ciri lonjong (tidak bulat). Pada formulir itu, harga per kilogram beras ramos adalah Rp 11.000,- dan dengan kata lain, harga zakat fitrah yang harus dibayar adalah Rp 27.500,-.

Beras jenis kedua adalah beras pandan wangi yang dijual seharga Rp 10.000,- per kilogram. Artikel di website Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, http://diperta.jabarprov.go.id, menyebutkan bahwa beras ini merupakan varietas padi lokal khas Cianjur, di daerah Kecamatan Cibeber (Desa Cisalak/Mayak), dan mulai popular di Jakarta sekitaran tahun 1980. Bentuk gabah beras ini bulat dengan tekstur nasi yang pulen. Sesuai perhitungan sha’, zakat fitrah bagi pengkonsumsi beras ini adalah Rp 25.000,-. Ibu mengatakan bahwa keluarga kami mengkonsumsi beras jenis ini.

Beras jenis ketiga adalah beras belida. Saya tak menemukan artikel yang menerangkan jenis beras ini. Katanya, beras ini berasal dari Palembang. Kalau menurut keterangan dari bibi, orang-orang menyebutnya beras belida karena pada bungkus beras dari pabriknya terdapat tulisan “Belida” dan ada gambar ikan belida. Pada formulir zakat fitrah, tertera harga per kilogram beras belida adalah Rp 9.600,- dan harga zakat fitrahnya menjadi Rp 24.000,-.

Panitia memberikan zakat fitrah kepada warga yang berhak. Terlihat dalam foto, Pak Edy sedang memandu proses pembagian zakat.
Panitia memberikan zakat fitrah kepada warga yang berhak. Terlihat dalam foto, Pak Edy sedang memandu proses pembagian zakat.

“Lalu, bagaimana cara menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah, Pak?” Tanya saya lagi.

“Itu berdasarkan seleksi RT masing-masing,” jawab Pak Edy.

“Bukan, maksud saya, kategori untuk menentukan bahwa keluarga A masuk kategori penerima zakat, itu bagaimana cara menentukannya?”

“Ya, kalau di ajaran kita, kan ada delapan golongan yang berhak menerima zakat,” begitulah kira-kira penjelasan Pak Edy. “Tapi sebaiknya yang didahulukan adalah golongan fakir dan miskin. Kalau fakir itu, kan ndak punya penghasilan, ndak ada kerja. Kalau orang miskin itu, kadang ada, kadang ndakNdak tetap penghasilannya.”

Dalam ajaran Islam, delapan golongan yang dimaksud oleh Pak Edy itu disebut Mustahiq. Berdasarkan artikel di website Lembaga Amil Zakathttp://zakat.or.id/, delapan golongan itu adalah Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Riqab (hamba sahaya atau budak), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang),Mualaf (orang yang baru masuk Islam), Fisabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan) dan Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat).

“Tapi, Pak, bagaimana mengetahuinya, yang fakir dan miskin itu?”

“Ya, kalau awak kok kan alah samo-samo tahu. Jadi, berdasarkan pertimbangan, sia nan ka dapek atau indak, awak tantuan basamo-samo. Awak lah tau baa urangnyo, apo karajonyo, hiduiknyo…” (Ya, kalau kita sudah sama-sama tahu. Jadi, berdasarkan pertimbangan, siapa yang berhak mendapat atau tidak, kita tentukan bersama-sama. Kita sudah tahu bagaimana orangnya, pekerjaannya, hidupnya…)

Jawaban dari Pak Edy ini tidak memuaskan saya mengenai gambaran tentang tolak ukur siapa yang berhak. Penentuannya hanya berdasarkan pertimbangan sejauh mana mengenal dan memahami si warga. Pak Edy menjelaskan bahwa yang menjadi anggota panitia zakat fitrah haruslah orang yang memang benar-benar mengerti keadaan warga di lingkungan RW 03 tersebut. Akan tetapi, ketika saya konfirmasi ke ayah dan ibu, ternyata masing-masing RT melakukan seleksi berdasarkan catatan kependudukan setiap kepala keluarga.

“Di dalam catatan itu, terdapat keterangan mengenai seberapa besar penghasilan, apa jenis pekerjaan, berapa banyak tanggungan jiwa, dan semua hal terkait keadaan ekonomi KK yang bersangkutan,” terang ibu beberapa hari setelah saya mewawancarai Pak Edy.

Panitia amil zakat sedang menghitung uang zakat yang tersisa.
Panitia amil zakat sedang menghitung uang zakat yang tersisa.

“Semuanya kita kasih kepada yang berhak,” sekali lagi Pak Edy mengatakan, tepat di waktu ketika ia memberi sebuah amplop kepada seorang bapak yang saya lihat ikut menghitung uang selama proses pemberian zakat fitrah tersebut. “Tapi, sepuluh persen juga diberikan kepada para panitia, amil zakat, termasuk para RT juga kita kasih.”

“Para RT?”

“Iya, uang lelah, karena mereka ikut mendata dan menyeleksi warga yang berhak menerima. Selain itu juga, RT mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta bayaran uang zakat fitrah.”

“Oh, jadi panitia gak cuma menunggu di masjid, Pak?”

“Iya, supaya terdata semua, panitia juga mendatangi rumah-rumah warga untuk mengingatkan sekaligus menerima pembayaran zakat fitrah. Jadi, warga tidak perlu bersusah payah mendatangi pos pembayaran zakat.”

Ketika berbincang dengan Pak Edy, saya melihat beberapa pengurus masjid mulai beranjak pulang setelah menerima hak mereka sebagai amil zakat. Warga yang berhak menerima zakat juga sudah pulang semua. Di dalam masjid, hanya tinggal saya, Pak Edy, dan dua orang temannya. Saya mencatat semua keterangan Pak Edy sementara dia melanjutkan menghitung uang-uang yang masih ada di hadapan mereka.

Pak Edy sedang memeriksa daftar nama warga yang berhak menerima zakat fitrah.
Pak Edy sedang memeriksa daftar nama warga yang berhak menerima zakat fitrah.

“Semuanya sudah menerima, Pak?” tanya saya kemudian.

“Ada satu yang tidak datang mengambil, berhalangan, katanya,” jawab Pak Edy.

“Itu bagaimana nasibnya, Pak?”

“Ya, nanti kita antarkan ke rumahnya.”

“Nah, kalau yang uang zakat baru masuk malam ini, Pak, disalurkan kemana?”

“Pos zakat masih buka hingga besok, sampai sebelum sholat ied. Nanti, zakat yang masuk belakangan kita salurkan langsung ke tempat-tempat orang yang berhak, ke warga-warga sekitar yang terlihat. Biasanya, pagi-pagi ada banyak yang datang ke masjid, di luar daftar kita.”

“Kalau yang dalam bentuk beras itu, Pak?” kata saya seraya menunjuk tumpukan beras di dekat pintu.

“Ya, sama. Nanti akan kita salurkan juga.”

Pak Edy dan dua temannya masih terlihat sangat sibuk. Meskipun sudah sepi, dan uang sudah disimpan ke dalam amplop, mereka masih mencatat beberapa nama yang, menurut dugaan saya, masih perlu didata untuk menerima zakat fitrah.

Pak Edy sedang mencatat beberapa nama warga yang, saya duga, masih berhak menerima zakat.
Pak Edy sedang mencatat beberapa nama warga yang, saya duga, masih berhak menerima zakat.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya mengapa beberapa panitia (artinya; tidak semua) terlihat takut-takut menjawab pertanyaan saya, seolah tidak mau disalahkan bahwa mereka ‘memakan’ uang. Toh sesungguhnya mereka memang tidak akan disalahkan jika mengambil bagian, karena mereka termasuk golongan yang juga berhak menerima (amil zakat). Kepala saya tak pernah lepas dari ingatan mengenai ekspresi Pak Edy yang terlihat berusaha menampik dengan menekankan bahwa dia tidak ‘memakan’ uang.

Hal ini kemudian saya ceritakan kepada ayah, ibu, dan bibi. Khususnya ayah, yang tahu banyak hal krisis moral di lingkungan masjid, menjelaskan bahwa hal itu wajar-wajar saja terjadi. Sebab, kepercayaan dan optimisme masyarakat terhadap kejujuran para pengurus masjid sudah mulai berkurang. Ayah tak lupa pula menceritakan tentang kasus salah seorang penjaga Masjid Ar-Rahim yang dulu pernah melarikan uang infak dan sedekah. Ada juga cerita tentang keributan di antara para imam masjid yang sekarang ini. Mereka berpacu ingin menjadi imam Masjid Ar-Rahim karena ada janji honor untuk para imam yang rajin memimpin sholat. Belum lagi persoalan penghitungan uang pemasukan masjid yang tidak jelas juntrungannya digunakan untuk apa. Tidak ada laporan yang jelas dan transparan kepada warga masyarakat.

“Ada kesan kebanggaan jika mengumumkan kas masjid banyak,” kata ayah. “Padahal, seharusnya uang kas itu harus kosong, dalam artian jelas digunakan untuk apa, ya untuk kesejahteraan umat.”

Mendengar pernyataan ayah itu, saya jadi teringat artikel yang ditulis oleh Eddi Santosa di http://ramadan.detik.com, mengutip pernyataan Richo Wibowo, seorang mahasiswa program doktor ilmu hukum  di Utrecht, Belanda. Katanya, merujuk pada pemikiran Salim A. Fillah, “Mengumumkan kekayaan masjid sementara ada warga sekitar yang sedang membutuhkan adalah bentuk atas tragedi dalam berdakwah.”

IMG_1196

Yah, terlepas dari benar atau tidaknya cerita ayah, saya justru melihat dengan mata kepala sendiri keteraturan pengelolaan zakat di lingkungan Masjid Ar-Rahim, khususnya proses pembagian zakat fitrah di tahun ini yang berjalan dengan baik dan aman. Pendataan kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat dilakukan melalui kerjasama para RT di lingkungan RW, tidak dibebankan kepada pengurus masjid saja. Paling tidak, pengalaman ini menunjukkan kepada saya kerjasama warga masyarakat RW 03 dalam menciptakan dan membangun kemaslahatan warga.Toh, bukankah itu esensi dari zakat fitrah itu sendiri, yakni berbagi kenikmatan bagi sesama umat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 10 Agustus, 2013.

Muslihat OK. Video

“Tahun ini, setelah melihat kembali lima festival sebelumnya, kami memutuskan untuk membahas suatu hal yang sangat dekat dengan keseharian orang Indonesia,” jelas Mahardika Yudha, Direktur Festival MUSLIHAT OK. Video – The 6th Jakarta International Video Festival, pada acara konferensi pers yang diadakan di Ruang Seminar Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, No. 14, Jakarta, Sabtu sore, 3 September 2013. “Itu tentang praktek bagaimana konsumen menyikapi kehadiran teknologi dalam kehidupan sehari-hari.”

Acara konferensi Pers MUSLIHAT OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.
Acara konferensi Pers MUSLIHAT OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.

Sore itu aku menyempatkan diri hadir untuk menyaksikan konferensi pers tersebut, hitung-hitung untuk mencari makanan gratis sembari mengetahui latar belakang ide tema Festival OK. Video tahun ini, yang akan dibuka pada tanggal 4 September 2013, pukul 19:00 WIB, di Galeri Nasional Indonesia.

Acara konferensi Pers MUSLIHAT OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival. Konferensi pers ini diadakan di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.
Acara konferensi Pers MUSLIHAT OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival. Konferensi pers ini diadakan di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.

OK. Video – Jakarta International Video Festival merupakan sebuah acara festival dua tahunan yang digagas oleh ruangrupa, sebuah organisasi seni rupa kontemporer, atau biasa disebutartists’ initiative, yang didirikan pada 2000 oleh sekelompok seniman di Jakarta yang bergiat mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, penelitian, serta penerbitan buku, majalah, dan jurnal (lihat http://ruangrupa.org/). Pada website resminya, http://okvideofestival.org/, disebutkan bahwa festival ini sudah diinisiasi sejak tahun 2003 dan secara berurutan telah menghadirkan beragam tema kontekstual, yakni SUB/VERSION di tahun 2005, MILITIA di tahun 2007,  COMEDY di tahun 2009, FLESH di tahun 2011, dan untuk tahun 2013 ini mengusung temaMUSLIHAT. Festival ini merupakan salah satu acara besar di ranah seni yang tak lelah menghadirkan wacana dalam melihat, mencatat dan membaca sejauh mana teknologi media (video) hadir dan digunakan dalam ruang lingkup praktek-prektek sosial dan kultural, terutama dalam konteks perkembangan masyarakat global dan tekonologi informasi dan komunikasi dewasa ini.

MUSLIHAT-OK.-Video-AkuMassa

Pada tema MUSLIHAT ini, OK. Video menaruh perhatian yang besar pada hasrat masyarakat dalam menanggapi teknologi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari kita. Tanpa disadari, banyak aksi mengakali teknologi yang dilakukan oleh orang-orang, sesungguhnya, merupakan sebuah wacana yang layak diperdebatkan, mengingat situasi dan kondisi dunia sekarang ini, mulai dari krisis di negara-negara zona euro, gejolak Timur Tengah, ketegangan di Semenanjung Korea, kebangkitan Negara Jalur Sutra, hingga fenomena kebertahanan negara-negara berkembang, dan khususnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Ternyata, akal-akalan warga biasa terhadap teknologi-teknologi produksi negara-negara maju yang selama ini kita lihat, bukanlah sekedar kecerdasan musiman atau kebetulan, tetapi bisa kita baca lebih jauh relevansinya terkait polemik sosial-ekonomi-politik-budaya global.

Mahardika Yudha (jaket hitam), Direktur Festival, sedang menjelaskan OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.
Mahardika Yudha (jaket hitam), Direktur Festival, sedang menjelaskan OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.

Penekanannya ialah tentang bagaimana konsumen “Tidak hanya berhenti sebagai seorang konsumen, tapi juga dia sebagai produsen,” kata Diki, panggilan akrab sang Direktur Festival. “Dalam lima tahun terakhir ini, kita melihat bagaimana fenomena digital dan perkembangan media cukup pesat. Di satu sisi, si konsumen punya posisi sebagai pengkonsumsi itu sendiri, di sisi lain dia juga memproduksi konten yang bisa didistribusikan (salah satunya.red) secara online. Ada hal menarik soal bagaimana konsumen melihat tekonologi itu sebagai alat produksi, pake tanda kutip, “produksi”.”

Diki kemudian menjelaskan salah satu contohnya, yakni akal-akalan warga yang menjadikan tutup panci sebagai antenna TV. Akal-akalan yang serupa dengan hal itu, khususnya di Indonesia, telah bertumbuhkembang secara organik, dan secara tidak langsung telah menegaskan pondasi wacana mengenai strategi konsumen yang menggunakan cara-caranya yang mandiri untuk mengembangkan atau memenuhi hasratnya demi mengakases teknologi itu sendiri. Diki menyatakan bahwa fenomena ini dapat diperbincangkan dan dipahami sebagai pertumbuhan kultural yang penting, dan juga relevansinya dengan masalah sosial dan politik, salah satunya terkait dengan kehadiran Negara China sebagai salah satu negara produsen teknologi terbesar di dunia.

Pembawa acara menjelaskan jadwal penyelenggaraan OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.
Pembawa acara menjelaskan jadwal penyelenggaraan OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.

Di tengah-tengah keramaian para wartawan yang sibuk mencatat setiap penjelasan sang Direktur Festival, aku mulai merasakan pegal di tangan akibat menggenggam kamera video yang merekam konferensi pers tersebut. Perutku juga semakin lapar, tetapi aku mencoba untuk mencerna setiap pemaparan yang diberikan oleh Diki dan para pembicara yang hadir saat itu.

Dalam kurun waktu satu setengah tahun belakangan, aku mendapatkan kesan bahwa di lingkungan kelompok intelektual yang sering aku datangi, baik di kampus maupun di komunitas atau organisasi non-pemerintah, terdapat semacam keyakinan (atau kecenderungan untuk meyakini) bahwa masalah krisis dunia yang sekarang sedang terjadi memiliki jawabannya di negara-negara berkembang. Ketidakteraturan yang ada di wilayah “tidak/belum maju” ini tak lagi dilihat sebagai sengkarut dan kalibut. Akan tetapi, ide-ide mustahil yang mencoba “melanggar” tata aturan (seperti tata aturan cara pemakaian alat/teknologi yang benar) justru diamini sebagai gejala positif yang memantapkan fleksibilitas hidup masyarakat yang tak mau terkungkung dalam kekakuan sebuah keteraturan.

Setelah banyak berdiskusi dengan beberapa orang mengenai fenomena ini, aku tersadar bahwa ada “energi swadaya” yang unik yang menjadi ciri khas negara-negara Asia atau negara-negara “non-produsen”. Sebagaimana gagasan yang sempat kubaca pada salah satu artikel yang dinaikkan KOMPAS pada sekitaran Bulan Maret 2012, terkait isu krisis Eropa, kekhasan negara-negara Asia adalah memiliki mazhab komunal. Krisis bisa diatasi dengan akal-akalan warga yang melandaskan pengabdian hidupnya melalui prinsip gotong royong: warga secara bersama-sama memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka, yang tidak melulu merujuk pada persoalan finansial, tetapi lebih kepada kesadaran dan upaya bersama. Aku bahkan sempat takjub ketika menyadari bahwa salah satu yang membantu pertumbuhan ekonomi bangsa kita pasca krisis ekonomi 1997 adalah hadirnya warung-warung kelontong atau warung-warung tenda yang dengan demikian tetap menjaga sirkulasi ekonomi yang sedang gonjang-ganjing pada masa itu. Hal ini berbeda dengan negara-negara maju di Eropa, terutama yang orientasi sistem kapitalisme dan liberal-nya kuat, yang tidak mengenal mazhab komunal. Atau dengan kata lain, sistem yang telah maju itu pun bisa dibilang tak mengenal “inisiatif warga” sebagaimana cara kita mengenalnya. Aturan baku sistem tak sepenuhnya harus terus dipatuhi, ada kalanya kita harus “melanggar” untuk tetap bisa berjalan.

Suasana ketika acara konferensi pers belum dimulai.
Suasana ketika acara konferensi pers belum dimulai.

Lalu, bagaimana melihat fenomena ini dalam konteks aksi mengakali tekonologi yang diwacanakan oleh OK. Video? Jika kita mencermati isu yang diwacanakan KOMPAS adalah mengenai akal-akalan terhadap sistem ekonomi, sebenarnya hal itu tak jauh dengan ideMUSLIHAT dalam festival ini. Aturan-aturan baku dari cara pakai dan kegunaan tekonologi harus “dilanggar” (atau istilah ramahnya: dikembangkan dengan dasar perspektif warga itu).

Tentu saja, aku tidak sedang menyetujui tingkah laku negatif beberapa orang. Beberapa contohnya seperti pengguna jalan yang menjadikan trotoar sebagai jalur perlintasan sepeda motor, akal-akalan pedagang yang mendirikan lapak dadakan sehingga memunculkan kemacetan jalan, atau aksi curi listrik oleh oknum yang memanipulasi saluran PLN. Aksi “melanggar” aturan yang kumaksud adalah aksi-aksi warga yang berdampak positif. Contohnya, aksi para pedagang kopi sepeda atau odong-odong di alun-alun kota, yang menemukan strategi untuk tetap dapat melanjutkan usaha tanpa harus memakan ruang, dan bahkan menawarkan cara baru untuk memberi kemudahan dalam melestarikan interaksi sosial yang terbangun di ruang publik: warung kopi versi mobile. Contoh lainnya, teknologi pembangkit listrik tenaga onthel (PLTO) yang ditemukan oleh seorang pemuda, bernama Median Wahyu Utomo, di Kendal, Jawa Tengah (lihat di http://dreamindonesia.wordpress.com/2011/05/31/kreatif-warga-desa-ciptakan-plto-pembangkit-listrik-tenaga-onthel/). Atau aksi seperti yang disebutkan oleh Diki itu, tutup panci jadi antenna TV. Aksi-aksi seperti itu jelas “melanggar” aturan yang lazim, tetapi memunculkan fungsi atau peran yang baru dari teknologi itu sendiri. Dan pada OK. Video, fokus MUSLIHAT kemudian dicoba untuk diperbincangkan sesuai konteksnya dengan kehadiran tekonologi media (video).

Penjelasan singkat yang aku paparkan di atas menjadi argumentasi pribadiku untuk mengatakan bahwa MUSLIHAT OK. Video penting. Sebagaimana yang dipresentasikan pada konferesi pers waktu itu, ada enam motif yang digunakan OK. Video sebagai pendekatan untuk membaca gagasan MUSLIHAT, yakni substitusi atau untuk mencari pengganti, menambah atau mengubah fungsi atau nilai guna benda, menambah usia penggunaan, main-main, estetika, ataupun untuk sengaja menentang, menantang, dan meretas sistem. Melalui festival ini, kita akan mendapat pengetahuan atau wawasan dalam memahami bagaimana individu atau komunitas dalam masyarakat mengakali keterbatasan teknologi untuk berbagai tujuan, mulai dari yang pribadi hingga berkembang menjadi tujuan-tujuan kolektif yang sifatnya lebih mapan.

Rizki Lazuardi dan Irma Chantily, dua dari tiga orang kurator OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.
Rizki Lazuardi dan Irma Chantily, dua dari tiga orang kurator OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.

Faktor lain yang menjadikan festival ini penting adalah metode penyelenggaraannya, di mana pihak festival menantang tiga kurator muda untuk membaca fenomena tersebut di masyarakat kita. Tantangannya, bagaimana menerjemahkan fenomena MUSLIHAT (yang dalam pengertian lain berhubungan dengan makna mistis, yakni membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin) ke dalam sajian presentasi karya seni video (dan seni media lainnya) dalam pameranOK. Video 2013 yang akan dilangsungkan dari tanggal 5 hingga 15 September nanti. Tiga kurator tersebut adalah Irma Chantily, Julia Sarisetiati, dan Rizki Lazuardi. Mereka mengkurasi karya-karya seniman dari berbagai dunia yang dianggap sedang membicarakan (atau berhubungan erat dengan) konteks MUSLIHAT tersebut. Dan dalam acara konferensi pers itu, dua kurator Irma Chantily dan Rizki Lazuardi turut hadir untuk menjelaskan kepada wartawan mengenai proses kurasi yang dilakukan OK. Video tahun ini.

“Yang paling utama kita lihat adalah penggunaan teknologi audio-visual, karena video sendiri adalah bagian dari teknologi tersebut,” Rizki Lazuardi menjelaskan tentang kuratorial MUSLIHAT. “Kita memperhatikan pola-pola apa saja yang ada di masyarakat, dan akhirnya pola itu berkembang. Cara masyarakat, terutama di negara non-produsen, dalam mengakali teknologi itu bersinggungan dengan banyak hal, dengan konvensi-konvensi ekonomi, hukum, dan juga nilai-nilai yang sudah jauh mengakar di masyarakat, seperti agama.”

Dalam penjelasan Rizki Lazuardi itu, dia mengutarakan bahwa terdapat perbedaan antara negara maju dan negara-negara non-produsen. Negara-negara maju lebih cenderung menciptakan karya yang memang tidak dimaksudkan untuk bentuk MUSLIHAT karena sistem yang mereka miliki telah mapan dan pola konsumsi yang jelas. Kondisi sosial-kultural ini menjadikannya berbeda dengan karya-karya dari negara-negara non-produsen. Yang menarik, Rizki mengutarakan bahwa pada proses kurasi yang ia lakukan bersama dua kurator lainnya dalam membaca fenomenaMUSLIHAT, mereka menemukan bahwa ternyata aksi “mematahkan” konvensi yang dilakukan oleh warga itu ternyata tidak dibarengi dengan kesadaran yang penuh mengapa mereka melakukan hal itu. Temuan ini akhirnya menjadi fokus OK. Video untuk mengkaji dan menafsir fenomena mengapa masyarakat kita melakukan tindakan seperti itu.

Hasil kurasi yang mereka bertiga lakukan akhirnya membuahkan kategori-kategori besar. “Bagi kami itu penting untuk melihat apa-apa saja yang bisa jadi payung-payung pembacaan kami,” papar Irma Chantily, melanjutkan penjelasan Rizki Lazuardi.

Pertama, karya-karya yang memang sengaja dibuat untuk ide MUSLIHAT itu sendiri. Irma menjelaskan bahwa karya-karya ini biasanya bermain-main dengan medium teknologi yang digunakan sebagai karyanya sendiri. Yang kedua, karya-karya yang hadir sebagai pertanyaan tentang realitas. Kategori ini menjadi perhatian karena sebagaimana pernyataan Irma, “Ketika aktivitas pengolahan media dan pengalaman membuat representasi telah dialami oleh berbagai lapisan masyarakat, maka akan tercipta pula kesadaran mengenai subjektivitas di balik karya itu.”

Kategori selanjutnya adalah karya dan aktivitas utak-atik teknologi (media dan video), di mana kategori ini melihat bagaimana fungsi-fungsi teknologi yang kemudian dimodifikasi atau diubah sedemikian rupa sehingga mempunyai nilai dan fungsi baru dalam pengoperasiannya. Selanjutnya, kategori mengenai karya-karya yang hadir sebagai tanggapan atau komentar terhadap konvensi seni rupa. “Rupanya, banyak yang menggunakan karya-karya yang menyertai teknologi ini untuk mengkritik dirinya sendiri, otokritik terhadap konvensi seni rupa. Apa itu seni, siapa yang berhak mengatakan ini karya seni atau bukan, semacam itu,” kata Irma.

Dan untuk kategori yang terakhir, adalah kategori yang berbicara mengenai karya sebagai refleksiMUSLIHAT konsumen. “Kategori ini ingin melihat bagaimana media partisipatif telah berkontribusi dalam memberi ruang bagi keinginan dasar manusia untuk bersuara dan didengar, bahwa semuanya sekarang bisa menjadi produsen,” jelas Irma. “Dan ini sedikit berkaitan dengan kategori-kategori yang lain.”

Namun begitu, Irma mengatakan bahwa dalam presentasi karya pada pameran nanti, para kurator memang tidak men-display karya sesuai kategori-kategori tersebut. “Kami ingin pengunjung dengan bebas melihat dan memaknai sendiri, bisa saja mengikuti kategori-kategori yang sudah kami buat, tapi tentu pengunjung diharapkan bisa menikmatinya sendiri dan berinteraksi dengan karya itu sendiri dan memaknai apa itu MUSLIHAT,” jelasnya.

Keiko Okamura (Media/Art Kitchen) dan Ade Darmawan (Direktur ruangrupa, sekaligus Kurator Media/Art Kitchen Jakarta), turut hadir dalam acara konferensi pers OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.
Keiko Okamura (Media/Art Kitchen) dan Ade Darmawan (Direktur ruangrupa, sekaligus Kurator Media/Art Kitchen Jakarta), turut hadir dalam acara konferensi pers OK. Video — The 6th Jakarta International Video Festival.

Dalam penyelenggarannya, MUSLIHAT OK. Video – The 6th Jakarta International Video Festivaljuga menginisiasi beberapa program, hasil kerja sama dengan beberapa lembaga festival luar negeri. Di antaranya adalah Media/Art Kitchen (edisi Jakarta), bekerja sama dengan Japan Foundation, yang menghadirkan 23 karya seni media dari Jepang dan Asia Tenggara, dengan kurator Ade Darmawan (Direktur ruangrupa) dan Sigit Budi Santoso. Program ini dilaksanakan tanggal 5 September 2013, di Galeri Nasional Indonesia.

Selanjutnya, ada program Video Out, bekerjasa sama dengan IMPAKT Festival (Belanda) dan Videobrasil (Brazil), serta Media/Art Kitchen, berupa pemutaran karya-karya dari tanggal 7 hingga 15 September 2013 di Kineforum. Selain itu, festival ini juga memiliki program publik berupa rangkaian diskusi, bincang seniman, festival tur, presentasi kurator dan workshop. Keterangan lebih lanjut mengenai jadwal festival bisa dilihat di website resmi OK. Video MUSLIHAT ini, http://okvideofestival.org/2013/.

E-Ruqyah (2013), karya Arya Sukapura Putra, yang sempat diputar pada acara konferensi pers OK. Video Muslihat — The 6th Jakarta International Video Festival.
E-Ruqyah (2013), karya Arya Sukapura Putra, yang sempat diputar pada acara konferensi pers OK. Video Muslihat — The 6th Jakarta International Video Festival.

Di penghujung acara konferensi pers tersebut, diputar sebuah karya video seniman Yogyakarta, Arya Sukapura Putra, berjudul E-Ruqyah (02’08” | 2013). Sebuah karya yang menampilkan seseorang bertelanjang dada sedang menempelkan ponsel ke kepala, dada, dan tangan, seolah-olah ponsel itu adalah batu ajaib yang dapat mengusir penyakit atau energi negatif dalam tubuh. Performens yang dilakukan orang tersebut diiringi dengan suara latar berupa bacaan ayat Al-qur’an. Karya ini, sederhananya, membicarakan fenomena ruqyah yang diyakini sebagai salah satu metode atau terapi untuk mengusir energi negatif dalam tubuh manusia melalui pembacaan ayat-ayat kitab suci. Si seniman merespon fenomena itu dengan menarik konteksnya terhadap perkembangan teknologi, di mana ponsel jaman sekarang memiliki perangkat yang dapat memutar audio, atau perangkat aplikasi yang secara khusus memuat audio-audio bacaan ayat suci Al-qur’an.

Video tersebut dipilih sebagai preview kepada pers karena dianggap oleh para kurator sebagai salah satu karya yang mewakili ide MUSLIHAT, tentang bagaimana teknologi media dapat berubah nilai dan fungsinya sesuai perkembangan nilai-nilai sosial dan kultural yang ada di lingkungan masyarakat tertentu.

IMG_1391

Sekitar pukul lima sore, acara konferensi pers pun berakhir, dan satu per satu wartawan mulai meninggalkan Ruang Seminar Galeri Nasional (ada juga yang menghampiri para panitia atau Direktur Festival untuk melakukan wawancara lebih mendalam). Sembari memutar otak untuk ide tulisan akumassa dan mengutak-atik MUSLIHAT di dalam kepala, aku mengincar nasi uduk yang disediakan oleh para panitia, dan segera pulang setelah perut kenyang.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 3 September, 2013.

Ngobrol di Warung Teh Talua si Rozi

Artikel ini sudah terbit lebih dulu dengan judul yang sama, “Ngobrol di Warung Teh Talua si Rozi“, di jurnal akumassa pada tanggal 1 Agustus 2013.

AKU BARU MENYADARI kehadirannya beberapa detik kemudian ketika dia mulai mendekat sambil tersenyum. Aku masih ingat dan kenal betul pemuda yang lantas mengambil posisi duduk di depanku seraya menyulut rokoknya.

Kubalas senyumnya, dan sambil berusaha keras menarik sebuah nama dari ingatan yang teronggok dan tak tersentuh lebih dari tiga tahun, aku bertanya tanpa rasa canggung, “Baa kaba ang?” (Bagaimana kabarmu?).

Dia jawab pelan, “Elok-elok se…” (Baik-baik saja…).

Warung Teh Talua si Rozi.

Suaranya tak jauh berubah. Meskipun rambutnya sekarang lebih panjang, pemuda itu tetap saja Romel yang kukenal waktu masih sekolah mengaji dulu. Pagi hari, kami bersekolah di Sekolah Dasar (SD) yang berbeda, tetapi siangnya pergi mengaji ke sekolah yang sama, yakni Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) Ar-Rahim.

Sejak tamat MDA, aku sangat jarang bertemu dengannya. Bahkan, bukan hanya dengannya. Bisa dibilang, aku memang sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman sepermainan di sekitar rumahku di Kota Pekanbaru, Riau, yang beralamat Jalan Pepaya No. 66, Kecamatan Sukajadi. Terutama sekali sejak aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Waktu aku masih SD, bersama abang-abangku, anak-anak di sekitar rumah sering bermain sepakbola di lapangan upacara milik kantor yang berada tepat di depan rumah kami—dulu, kantor itu bernama Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, lalu berganti fungsi menjadi Kantor Poltabes Pekanbaru, berganti lagi menjadi Kantor Palang Merah Indonesia Riau, dan sekarang menjadi Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau. Kegiatan ekstrakurikuler yang padat menyebabkan aku lebih banyak menghabiskan waktu di SMA Negeri 8—beralamat di Jalan Abdul Muis No. 14, Kecamatan Sail—hingga sore hari. Bermain bola ala kadar, tanpa alas kaki, di lantai batu, dengan batas gawang menggunakan sandal jepit, dan pembagian tim-nya berdasarkan hompimpah, berganti pola menjadi pertandingan sepakbola antar kelas atau antar sekolah, menggunakan seragam lengkap, di lapangan bola bergawang besi milik sekolah, dan ditambah kehadiran teman-teman perempuan sekelas yang berteriak-teriak menjadi supporter dadakan.

Kantor BNN Riau yang berada di depan rumahku.

Intinya, intensitas bercengkrama antara aku dan Romel, dan juga dengan pemuda-pemuda sepantaran di dekat rumah, memang terbilang rendah. Namun, bukan berarti kami tak saling kenal. Sering kami bertemu di jalan dan bertegur sapa sambil berseru, “Hoi! Nio kama ang?” (Hei! Mau kemana kau?), atau sekedar menaikkan alis mata, tanda bahwa satu sama lain masih saling kenal. Aku tahu dia warga asli di sekitar rumah—aku warga RW 3 sementara dia warga RW 1 (sekarang konon berubah jadi RW 4)—begitu pun dia mengenalku. Dan memang, setahuku, begitulah cara interaksi warga di lingkungan tetangga tempatku tinggal itu terbangun: keakraban yang wajar dan tak dilebih-lebihkan, saling tahu satu sama lain sebagai sesama warga; tak bertemu dalam waktu yang lama, tak serta merta sebabkan sikap kikuk atau pangling.

Romel. Di belakangnya, para pemuda Gang Tanjung sedang duduk-duduk menikmati teh talua.

“Waktu itu, terakhir kali bertemu, dia seperti tak kenal…pangling!” kata Romel, menjawab pertanyaanku mengenai kabar beberapa teman yang juga merantau ke Jakarta, sama sepertiku. Orang yang disebutnya pangling itu bernama Riyan, temanku di MDA Ar-rahim juga, anak pemilik jasa percetakan yang sempat jadi langgananku di jaman-jaman aku sibuk membeli perlengkapan sekolah. UD Citra Karya, nama tokonya.

“Oh, ya!?” seruku tak percaya. Sebab, keterangan itu bertentangan dengan keakraban wajar yang selama ini aku pahami sebagai karakter penduduk di sekitar rumah. “Kok bisa sampai gak kenal?” tanyaku dalam hati.

Berangkat dari keganjilan itulah aku dan Romel mulai bercakap-cakap lebih jauh mengenai apa-apa saja yang berubah dan tak berubah dari pola gaya hidup teman-teman sepermainan yang, secara umur, kini telah sah menjadi pemuda lokal, usia produktif, di kawasan Jalan Pepaya, Kelurahan Jadirejo.

***

SUDAH LAMA AKU ingin menulis cerita tentang sebuah warung tenda di pinggir Jalan Pepaya, tempat di mana aku berbincang-bincang dengan Romel pada malam ke-25 Bulan Ramadhan 1434 H/2013 M itu. Ketika liburan semester Bulan Januari lalu, aku tak sempat menulisnya. Liburan semester kali ini, tentu aku tak ingin mengabaikan narasi-narasi kecil yang menumpuk di meja-meja warung itu. Satu hal yang menarik perhatianku adalah tampang orang-orang yang kukenal sebagai pemuda Gang Tanjung, sebuah gang kecil tempat MDA dan Masjid Ar-rahim berada, terlihat duduk-duduk di sana hingga larut malam bermain domino. Dan menurutku, keadaan itu contoh dari sesuatu yang telah berubah: pemuda Gang Tanjung yang dulunya nongkrong di sekitaran masjid, sekarang beralih nongkrong di warung tenda itu.

Maka, berkebetulan dengan jadwal mati listrik di rumah sehingga aku terpaksa menghentikan aktivitas ngenet, aku melangkah ke luar rumah, menuju warung tenda itu untuk memesan segelas teh talua (teh telor)—minuman khas orang Minang, berupa seduhan teh manis panas pekat dicampur dengan dua butir kuning telur ayam kampung yang dikocok sampai putih berbusa, dan rasanya seperti capucino panas. Teh talua sering diminum untuk menguatkan stamina tubuh. Bagi para pemuda setempat yang kebagian tugas ronda, teh talua jadi menu favorit.

Ketika pesanan teh talua-ku jadi, aku bertanya kepada Romel mengenai tongkrongan pemuda Gang Tanjung itu.

“Baru-baru ko, ko, pado nongkrong siko,” ujar Romel. “Biasonyo kan dakek masajik, tuh nyo! Dek bahutang…namonyo juo wak bedagang, kan?” (Baru belakangan ini nongkrong di sini. Biasanya di dekat mesjid. Karena hutang…namanya juga berdagang, kan?)

Sebagai mahasiswa yang juga hobi ngutang, aku mengerti sekali alasan-alasan yang menyebabkan orang-orang berpindah tongkrongan warung. Dan mendengar kata Romel itu, aku lantas tertawa.

Pak Jon sedang mengeringkan nasi yang baru dimasak agar mudah dibuat menjadi nasi goreng.

Warung tenda teh talua ini milik seseorang yang oleh Ayahku sering dipanggil si Jon, tak tahu Jon apa nama lengkapnya. Yang jelas, anaknya, Rozi, yang membantunya berdagang teh talua, adalah temanku juga di waktu MDA dulu. Abangnya, si Jepri—aku biasa memanggilnya “Jepri tok“–merupakan teman sekelasku di MDA. Kami semua teman sepermainan di lingkungan sekolah mengaji di dekat rumah. Sebenarnya, warung tenda teh talua si Rozi ini sudah lama ada. Ayahku mengatakan bahwa pemuda setempat sering nongkrong di sana. Akan tetapi, pemuda yang seumuranku, atau tiga hingga lima tahun lebih tua dariku, memang baru-baru ini nongkrong di sana.

Ruko-ruko di pinggir Jalan Pepaya, di sebelah rumahku. Di bulan puasa ini, ruko-ruko ini lebih sering tutup.

Tetangga rumahku banyak yang membangun rumah toko (ruko), dan umumnya jadi usaha rumah makan atau jasa percetakan. Riyan adalah salah satu pemilik ruko percetakan di Jalan Pepaya. Dulu, Riyan memang terkenal sebagai anak berprestasi di MDA, tetapi juga orang rumahan. Aku akrab dengannya, tetapi dia tak akrab dengan anak-anak lain di Jalan Pepaya dan Gang Tanjung.

Ruko Citra Karya, toko percetakan milik ayah Riyan.

Sama sepertiku, ketika merantau ke Jakarta, Riyan juga jarang pulang ke Pekanbaru dan membaur dengan pemuda-pemuda sepantarannya. Begitulah keterangan yang diutarakan oleh Romel.

“Si Rozi saja yang sering jualan di sini yang bertemu Riyan,” kata Romel. “Aku jarang.”

Jika malam hari, ruko mereka tutup, dan di halaman parkir di depannya orang lain membuka warung tenda nasi goreng atau teh talua. Jadi, hingga lewat tengah malam pun, mudah sekali mencari makanan karena di kanan-kiri rumahku ada banyak warung tenda. Dan warung tenda teh talua si Rozi ini adalah salah satu yang jadi favorit ayahku, sejak ia dan ayahnya membuka usaha tersebut.

Bahkan, ibuku yang sangat ketat memilih-milih makanan, pernah berujar, “Kalau warung si Rozi, tuh lamak. Ndak samo jo nan di sabalahko. Itu a, tuh!? Pecin jo sado rasonyo!” (Warung si Rozi itu, enak. Tidak sama dengan yang di sebelah itu. Apa itu!?Vetsin-nya saja yang terasa!).

Suasana malam hari di ruko-ruko sebelah rumahku.
Suasana malam hari di ruko-ruko sebelah rumahku.
Salah satu warung nasi goreng yang buka pada malam hari ketika ruko-ruko di sebelah rumahku tutup.

Di tengah tawaku itu, si Rozi datang dan duduk di sebelah Romel. Dia baru saja tiba seusai mengambil dan membawa air seember dengan motor, dari tempat yang aku tak tahu di mana (mungkin saja rumahnya). Tak jauh beda dengan Romel, dia menanyakan kabarku, kabar saudara sulungku yang sudah di Korea, kabar sepupuku yang dulu juga masuk rombongan teman-teman sepermainan di MDA, kabar adikku, bagaimana aktivitas kuliahku, pekerjaanku, dan pertanyaan-pertanyaan standar lainnya yang ditanyakan seseorang jika memulai perbincangan dengan orang yang sudah lama tak dilihatnya.

Rozi tertarik dengan cerita dan pengalamanku di Jakarta. Dia bahkan bertanya dengan antusias, “Berarti lah banyak jumpo artis di situ ndak, Bang?” (Berarti kau sudah banyak bertemu artis di situ ya, Bang?).

Yo ado beberapo, ado namo tampek nongkrong artis-artis, tuh, ruangrupa namonyo kalau di Jakarta, tuh!” (Ya, ada beberapa. Ada nama tempat nongkrong artis-artis di Jakarta ruangrupa namanya!)

Aku menjelaskan kepada mereka bahwa di Jakarta, ada banyak organisasi atau komunitas-komunitas tempat berkumpul para seniman, peneliti, akademisi, sastrawan dan budayawan, serta artis-artis.

Tapi artis nan rancak yo! Kalau nan buruak macam Kangen Band, atau yang di tivi-tivi, tuh, ndak tau den do!” (Tapi artis yang bagus, ya! Kalau yang seperti Kangen Band atau yang di TV itu, aku tidak tahu!) ujarku menjelaskan.

Begitu juga dengan Romel, yang tertarik dengan obrolan perkuliahan. Dia mengatakan bahwa dia juga sedang menempuh bangku kuliah, di Muhammadiyah Pekanbaru, jurusan komunikasi, semester tiga.

“Wah, rancak, tuh ma! A peminatan ka ang nio ambiak, beko?” (Wah, bagus itu! Peminatan apa yang akan kau ambil nanti?) tanyaku.

“Jurnalistik,” jawabnya.

Aku kemudian menceritakan bahwa selain kuliah, di Jakarta aku juga bekerja sebagai penulis di sebuah jurnal online bernama akumassa. Dengan singkat padat aku jelaskan padanya hal-hal apa yang aku jadikan bahan tulisan.

“Iko warung si Rozi ko ni ka den tulis mah rencanonyo!” (Warung si Rozi ini akan kutulis, rencananya!) seruku. Disambut tawa gembira si Rozi, aku berseru lagi, “Tampek nongkrong nak-nak mudo Jalan Pepaya!” (Tempat nongkrong pemuda di Jalan Pepaya!)

Rozi, baju hitam, pemilik warung teh talua.

Aku kemudian bertanya tentang isu geng motor di Pekanbaru. Tba-tiba saja isu itu terlintas di kepalaku sebab kabar terbaru yang aku simak di media massa nasional tentang Kota Pekanbaru adalah fenomena geng motor yang mulai marak di Kota Bertuah ini.

“Di siko sarang alternatifnyo mah!” (Di sini, kan jalur alternatifnya!) kata Rozi.

Makasuiknyo?” (Maksudnya?) tanyaku dengan kening berkerut.

“Kalau bacakak, dikaja polisi, larinyo lewat jalan ko, ka balakang pasa, taruih ka Panam!” (Kalau berkelahi, dikejar polisi, larinya lewat jalan ini, ke belakang pasar, terus ke Panam!) jelas si Rozi.

Panam adalah sebutan untuk sebuah kawasan di Pekanbaru, tepatnya kawasan Jalan Hr. Subrantas, Kecamatan Tampan. Berdasarkan laporan dari Riau Pos, Mei 2013, peta mayoritas geng motor di Pekanbaru terbagi menjadi dua kubu yang selalu bersiteru. Geng motor kubu Panam adalah wilayah kekuasaan si Klewang, residivis yang memang terkenal karena track record tindak kriminalnya. Klewang membawahi banyak geng motor, antara lain XTC, Laser, Sinchan, Keparat, BMR (Benteng Merah), B2R (Black Baron) dan Atit Abang.

Sedangkan kubu Kota, terdiri dari kelompok geng motor bernama Ghost Night, L2N (Lajang-Lajang Nekat), Astec, dan Opsi. Rozi dan Romel menjelaskan kepadaku bahwa penguasa di kubu Kota bernama Wen (atau begitulah orang-orang memanggilnya). Geng motor Ghost Night dan Astec adalah yang terkuat di Kota, sedangkan geng motor terkuat di Panam adalah XTC (milik Klewang). Tertangkapnya Klewang pada Bulan Mei 2013 lalu, ternyata tidak mengurangi tingkat keberadaan dan keonaran geng motor. Penjelasan dari Rozi dan Romel—aku percaya mereka sangat mengerti hal-hal begitu karena pergaulan mereka cukup luas sebagai akamsi (anak kampung sini) di dekat rumahku—menyebutkan bahwa anggota-anggota geng motor yang belum tertangkap masih sering buat onar.

“Panglima-panglima geng si Klewang masih ado tuh yang ndak tatangkok…” (Panglima-panglima geng si Klewang masih ada, tuh yang belum tertangkap…) kata mereka. Pemimpin geng motor di bawah Klewang terkenal dengan sebutan Panglima.

Pak Jon sedang melayani pelanggan yang sedang membayar.

Rozi kemudian melanjutkan, “Kalo lah malam hari, tuh, ijan lei, Bang! Banyak kejadian, trutamo dakek SMA 8, tuh ha! Kan banyak anak-anak nongkrong depan sekolah, tuh, kan? Abis sadonyo kanai bantai geng-geng motor tuh.” (Kalau sudah malam, jangan deh, Bang! Banyak kejadian, terutama dekat SMA 8 itu! Banyak anak-anak nongkrong di depan sekolah itu, kan? Semuanya habis dihajar geng-geng motor itu).

“Samo tu nyoh!” (Sama juga!) Romel menimpali cerita Rozi. “Kalau di kampus tuh, di kelas jo dosen, caliak jam, lah jam sambilan malam, ‘Yuk, kita pulang, yuk!’ kecek dosennyo!” (Kalau di kampus, di kelas dosen melihat jam, pas jam sembilan malam, ‘Yuk, kita pulang, yuk!’ kata dosennya!)

Menurut mereka berdua, ketika heboh-hebohnya, geng motor di Pekanbaru memang benar-benar memengaruhi kenyamanan warga. Kerusuhan yang ditimbulkan oleh geng-geng motor itu tidak tanggung-tanggung, mulai dari merampok warnet (warung internet) hingga memperkosa dan pesta sex. Cerita mereka itu sama dengan berita-berita yang kubaca pada artikel-artikel di internet.

Rozi dan Romel juga menceritakan perkembangan aktivitas para pemuda setempat bahwa perkelahian antar daerah pun, seperti anak-anak Gang Tanjung tawuran dengan anak-anak Jalan Panger, sudah jarang terjadi. Dulu, biasanya bulan puasa adalah ajang tawuran di subuh hari. Seusai sholat subuh, pemuda-pemuda setempat di dekat rumahku berjalan-jalan subuh dari Jalan Pepaya, menuju Jalan Sudirman, kemudian berkelahi dengan rombongan pemuda yang datang dari Jalan Panger.

Aku bertanya, “Apa karena geng motor?”

Romel menjelaskan bahwa geng motor itu sebenarnya sudah ada sejak lama, dan tidak berpengaruh banyak ke aktivitas pemuda setempat.

“Pemuda di sini yang bergabung juga ada, bahkan ada juga yang tertangkap!” kata Romel. “Tapi yang mengurangi tawuran itu justru karena warnet, game online.”

“Kalau geng motor, tuh, kini labiah banyak balap, urang, Bang!” (Kalau geng motor itu, sekarang lebih banyak balap motor) si Rozi menimpali.

“Apo lai pas marak karajo jadi operator, tuh kan? Musim bana tuh warnet-warnet, pado nongkrong mahabiahan waktu di situ anak-anak siko.” (Apalagi waktu marak pekerjaan jadi operator itu. Musim warnet, pada nongkrong menghabiskan waktu di sana, anak-anak sekitar sini).

“Dari dulu pai kini, bantuak-bantuak iko se nyo, Zik… ndak ado nan barubah labiah elok do… Nongkrong, main domino, judi, ndak banyak berubah pemudanyo doh…” (Dari dulu hingga sekarang, begini-begini saja, Zik. Tidak ada yang berubah lebih baik. Nongkrong, main domino, judi, tidak banyak yang berubah pemudanya). Romel mengatakannya kepadaku dengan nada sedikit sedih dan terkesan sedang menyayangkan situasi yang terjadi di lingkungan tempat tinggal kami.

Obrolan dengan Romel dan Rozi menyadarkanku betapa posisi kaum pemuda sungguh rentan. Hingga saat ini, aku sendiri mengakui bahwa daerah tempat tinggalku di Pekanbaru ini tidak mengalami kemajuan yang berarti, selain pembangunan ruko-ruko yang semakin banyak. Para pemudanya umumnya tak punya pekerjaan yang jelas. Kalau pun punya pekerjaan tetap, bukan pekerjaan dalam artian dapat meningkatkan kualitas hidup. Kalau tidak dengan perkelahian, pemudanya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan, nongkrong di warnet, atau main judi. Hanya terbilang sedikit pemuda yang seperti Romel, yang mau kuliah untuk menambah wawasannya, atau seperti Rozi yang dengan kemampuan seadanya memperbaiki perekonomian keluarga dengan berdagang teh talua dan setiap hari bersabar menghadapi hutang-hutang para pelanggan.

Perbincangan kami kemudian mengarah ke aktivitas-aktivitas yang seharusnya bisa dilakukan anak muda, seperti musik (Romel sangat antusias ketika aku bercerita tentang perkembangan wacana musik di kampusku, Universitas Indonesia), kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus-kampus, lalu pekerjaan-pekerjaan sosial-masyarakat seperti yang dilakukan oleh akumassa. Romel berbagi cerita tentang bagaimana orang-orang di daerah, teman-temannya yang juga pelaku seni, sulit mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Dia berpikir bahwa tentu di Ibukota peluang itu lebih tinggi karena akses untuk mendapatkannya lebih banyak.

Hal itu kemudian mendorongku untuk menjelaskan padanya lebih jauh mengenai Forum Lenteng, salah satu organisasi nirlaba di bidang sosial-kebudayaan di Jakarta, tempatku belajar dan bekerja sebagai penulis. Mengulangi penjelasanku mengenai ruangrupa Jakarta tadi,aku menjelaskan padanya tentang bagaimana Forum Lenteng, yang didirikan oleh periset, mahasiswa, dan seniman, membangun jaringannya melalui kerja kolaborasi, produksi karya, mendokumentasi, untuk memperkuat posisi tawar sehingga mampu menarik perhatian pemerintah setempat, bahkan mampu mempengaruhi kebijakan.

“Di Jakarta, Jogja dan Bandung, ada banyak komunitas dan organisasi seperti itu,” kataku. “Tempat berkumpul para seniman, budayawan, akademisi, dan lainnya, dan biasanya mahasiswa-mahasiswa yang tidak aktif di kampus juga turut berkumpul di sana. Belajar, dan kadang juga kerja sambilan. Kami menulis, mengkaji film, belajar bersama, mengadakan festival dan pameran, memperluas jaringan kerja dengan komunitas-komunitas di daerah lain, saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.”

Romel sedang membuka website http://www.akumassa.org melalui ponselnya.

Aku lantas menunjukkan padanya alamat website www.akumassa.org, dan Romel membaca beberapa tulisan yang dimuat di dalamnya.

Obrolanku dengan Rozi dan Romel pun berakhir ketika kumandang sahur dari masjid berbunyi. Sekitar pukul setengah empat, aku memutuskan pulang dan sahur di rumah, begitu juga dengan Romel. Sedangkan Rozi, masih harus menjaga tokonya hingga azan subuh nanti.

“Seandainya akses bagi setiap pemuda sama rata, obrolanku malam ini dengan mereka pasti akan jauh berbeda,” kataku dalam hati seraya berjalan menuju rumah. *

Sesampainya di Warung Kaleng, Ternyata Sampay Memang Kampung Arab

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa pada tanggal 26 Juli 2013.

Sore menjelang maghrib, 22 Juli 2013, tim akumassa bernas tiba di sebuah lokasi untuk melakukan pengumpulan data bagi keperluan produksi karya tulis pertama. Mobil yang membawa kami berhenti di depan Masjid Al-Muqsith, dan tanpa mengulur waktu, tim kami sudah menyebar ke beberapa titik lokasi yang sudah dipetakan dalam diskusi outline.

Waktu itu saya sedang berjalan ke arah Barat, mencari kantor Kepala Desa Tugu Utara, untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi yang dikenal dengan dua nama—sebagaimana yang saya baca di internet. Lokasi yang saya maksud adalah Desa Sampay atau Warung Kaleng: terkenal dengan keberadaan orang-orang yang datang dari Timur Tengah dan tinggal di daerah itu untuk beberapa waktu. Saya cukup terkesima dengan tulisan-tulisan arab di beberapa toko di pinggiran Jl. Raya Puncak, karena baru pertama kalinya saya datang ke sana. Saya butuh informasi mengenai daerah itu, karena kata “Kampung Arab” yang juga dilekatkan padanya, sudah mengganggu saya sejak sehari sebelumnya ketika diskusi outline tulisan dilakukan bersama teman-teman.

Masjid Al-Muqsith.

Sebenarnya, kalau diperkirakan melalui google map, arah yang saya tuju adalah Barat Laut. Akan tetapi karena Jl. Raya Puncak membelah area pemukiman di sekitarnya menjadi dua bagian, Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan, saya lebih senang menyebutnya sebagai ‘perjalanan ke Barat’ seperti yang dilakukan Pendeta Tong dan ketiga muridnya, mencari pencerahan hidup dan bermaksud untuk membawa pulang kitab suci dari India ke Tiongkok. Maksud saya ke kantor Kepala Desa Tugu Utara adalah untuk mencari dokumen—agar lebih romantis, kita sepakat saja menyebutnya ‘kitab suci’—untuk mencari ‘pencerahan’ mengenai rumor-rumor penyimpangan yang terjadi di Kampung Arab itu, terkait dengan usaha penginapan.

Ketika menulis catatan ini, saya menyadari satu kebetulan menarik. Saya berjalan ke ‘Barat’ mencari ‘kitab suci’, mencari jati diri ‘Kampung Arab’. Sebagian besar masyarakat di Timur, khususnya Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim, setiap tahunnya juga menempuh perjalanan ke Barat, ke tanah Arab untuk menunaikan ibadah haji, juga untuk mencari pencerahan dalam artian yang lain. Maksud saya menyinggung hal ini bukan untuk mengaitkan hal-hal yang berbau ‘Barat’ sebagai tempat bertumbuh-kembangnya filsafat pencerahan. Makanya, saya bilang ini kebetulan saja. Yang justru lebih menarik adalah adanya pola arus yang terbalik: masalah persebaran orang-orang Timur Tengah menuju atau melintasi dataran beriklim tropis, seperti Indonesia, meninggalkan tanah kelahiran mereka yang dalam beberapa literatur sejarah disebut-sebut sebagai tanah tempat diturunkannya agama-agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam), sebuah kepercayaan yang mengagungkan Keesaan Tuhan. Dan sekali lagi saya tegaskan, tanah tujuan atau tanah singgah itu adalah ‘Kampung Arab’ yang sedang kita bicarakan.

Nah, ini dia kendalanya: ternyata google bukanlah ‘tuhan’! Ketika saya menelusurinya di internet, artikel yang saya temukan menginformasikan bahwa Desa Sampay terletak di Tugu Utara—saya lupa melakukan verifikasi temuan data saya kepada Remi, penanggung jawab data sekunder dalam workshop akumassa bernas, tentang di mana lokasi yang benar (dan malam harinya, Remi baru mengatakan bahwa dia sudah menulis di papan tulis bahwa Sampay itu masuk ke dalam bagian Desa Tugu Selatan). Maka, tanpa ragu-ragu saya mendatangi petugas di kantor tersebut.

Kantor Kepala Desa Tugu Utara.

“Kalau soal regulasi, itu bukan wewenang kita,” begitulah kira-kira kata si petugas ketika saya tanya mengenai regulasi yang berlaku di Desa Tugu Utara terkait dengan pembangunan lahan usaha penginapan. “Minta ke kantor Dinas tingkat provinsi.”

Akhirnya, saya hanya membawa 25 lembar ‘kitab suci’ yang berisikan data monografi Desa Tugu Utara, sedangkan informasi mengenai Kampung Arab yang saya dapat hanyalah: terdapat 26 orang warga negara asing berkebangsaan Pakistan (22 orang laki-laki; 4 orang perempuan). Sangat tidak representatif untuk dapat menjelaskan fenomena hadirnya orang-orang Timur Tengah di daerah itu.

Peta wilayah Desa Tugu Utara.

Kalau boleh menebak-nebak berdasarkan wawasan terbatas yang saya miliki, adanya orang-orang Timur Tengah di Indonesia tentu tak lepas dari fenomena migrasi, yang sudah sejak lama menjadi semacam kebutuhan sebagian besar manusia di dunia untuk menghindari kesulitan-kesulitan di daerah asal, seperti konflik perang, menjadi buronan negara, atau hanya sekedar mengurangi kesulitan psikologis terkait kejengahan dengan kondisi geografis tanah tempat mereka lahir. Bahkan, cerita Nabi Muhammad SAW dalam literatur Islam pun mengatakan bahwa migrasi atau hijrah yang dilakukannya dari Mekah ke Madinah adalah untuk menghindari ancaman dari Kaum Quraisy. Catatan investigasi Tempo, Juni 2012, “Menelusuri Sindikat Manusia Perahu”, juga menginformasikan bahwa banyak orang-orang dari Pakistan, Afghanistan, bahkan Iran, menjadi imigran (baik resmi maupun gelap) yang berusaha mencari suaka dan mencoba mengadu nasib di tanah impian, Australia. Dalam jalur ‘hijrah’ yang mereka lakukan, Indonesia adalah negara singgah sebelum mendapat giliran meneruskan perjalanan ke Australia.

Nuansa pegunungan di kawasan Puncak menjadi salah satu alasan orang-orang Timur Tengah mendatangi daerah ini sebagai tempat liburan.

Namun, ada juga beberapa artikel di internet yang menyebutkan bahwa ternyata Indonesia juga menjadi tanah impian bagi sebagian orang Timur Tengah. Kawasan Cisarua, Puncak, terutama. Dataran tinggi yang dikelilingi pemandangan pegunungan dan aliran sungai-sungai gunung ini adalah lokasi favorit untuk berlibur sebagian besar orang Arab Saudi dan Kuwait. Demikian keterangan yang saya dapat dari salah seorang narasumber, yang berprofesi sebagai pemandu wisata sejak tahun 2000-an, pada malam harinya. Biasanya dua kali dalam setahun orang-orang Arab ini datang ke kawasan Puncak untuk berlibur, menghamburkan uang, dan menetap hingga lebih kurang tiga bulan—Bulan Juli, Agustus, dan September, biasanya disebut warga setempat sebagai ‘musim Arab’—di lokasi yang tadi saya maksud sebagai Sampay atau Warung Kaleng.

Kembali ke waktu di sore hari, saya mendapat informasi yang berbeda. “Tidak ada orang Arab di sini,” kata seorang ibu—konon dia adalah isteri salah seorang Pak RT di Tugu Utara—yang sempat saya tanyai di sebuah lapak pedagang takjil di pinggiran Jalan Raya Puncak.

“Di Selatan, tuh, gudang Arab!” sambungnya sambil menunjuk sebuah gang di seberang Jalan Raya Puncak. Dia menerangkan bahwa gang itulah yang disebut-sebut sebagai Warung Kaleng. Memang, sedari awal ketika saya bolak-balik menelusuri jalan itu, ada banyak orang-orang Timur Tengah keluar masuk gang tersebut. Keterangan ini seolah menegaskan data dari kantor Kepala Desa Tugu Utara: hanya sedikit orang-orang Timur Tengah, hanya dari negara Pakistan, yang tinggal di Desa Tugu Utara.

Akan tetapi keterangannya bertentangan dengan pernyataan supir yang mengantarkan tim saya ke lokasi itu, “Kalau yang lebih banyak Arab-nya, di Ciburial,” kata Pak Supir. Dan Kampung Ciburial sendiri masuk ke wilayah Tugu Utara.

“Ini menjadi catatan yang menarik untuk disampaikan ke teman-teman,” saya berkata dalam hati. “Semoga mereka mendapatkan informasi yang bisa menjelaskan pertentangan ini.”

Salah satu pedagang takjil di sekitaran Kampung Arab. Posisi pedagang ini tepatnya di depan Masjid Al-Muqsith (dekat dengan Warung Kaleng atau Desa Sampay Sindang Subur), tetapi orang yang di foto bukan Bu RT yang disebut dalam tulisan ini.

Informasi dari istri Pak RT menyadarkan saya dari kekeliruan memercayai artikel di internet yang menyebutkan lokasi Desa Sampay masuk ke wilayah Desa Tugu Utara. Atas bantuan informasi si pedagang takjil—dia mengaku warga Bogor, mungkin maksudnya Kota Bogor, dan menyatakan bahwa umumnya pedagang warga negara Indonesia di sekitaran sana bukanlah warga Warung Kaleng, tetapi berasal dari lokasi lain—saya menuju Kantor Desa Tugu Selatan, ke arah Kampung Tugu (arah Tenggara, jika diperkirakan dari google map), untuk memastikan apakah Warung Kaleng yang dimaksud itu memang masuk ke wilayah Tugu Selatan.

Kantor Kepala Desa Tugu Selatan.

Petugas di kantor Kepala Desa Tugu Selatan juga tak bisa memberikan keterangan mengenai regulasi pembangunan lahan usaha penginapan di desanya. Alasannya, si Kepala Desa sedang tidak ada di tempat. Namun, hijrahnya saya dari Tugu Utara ke Tugu Selatan ini memberikan kepastian bahwa lokasi yang disebut-sebut sebagai Warung Kaleng itu adalah Sampay Sindang Subur, Tugu Selatan.

Peta wilayah Desa Tugu Selatan.

“Ada juga Sampay di Tugu Utara, tapi namanya Sampay Gang Mangga,” jelas si petugas. Darinya, saya mengetahui bahwa ada 5 daerah yang menyandang nama Sampay. Tiga lainnya, yang masuk ke Tugu Selatan, adalah Sampay Cimapubutan, Sampay Gandamanah, dan Sampay Sekolahan.

Kesimpulannya, Kampung Arab, Kampung Sampay (Sampay Sindang Subur), Warung Kaleng, ternyata memang lokasi yang sama: sebuah gang dengan jalanan menanjak terus ke arah Selatan, dengan deretan rumah penginapan bagi para imigran atau wisatawan Timur Tengah. Lokasi ini menarik perhatian karena rumor yang berkembang tentang praktek kawin kontrak yang ada di kalangan mereka, dengan mendatangkan perempuan dari daerah Cianjur dan Sukabumi. Fenomena kawin kontrak ini tak lepas dari persoalan penginapan yang dijadikan tempat tinggal bersama mereka jika datang ke Puncak.

Jika berbicara tentang kawin kontrak, sebagaimana yang sudah banyak diangkat oleh media-media atau hasil-hasil penelitian sosial, hal ini menjadi tabu karena dugaan adanya praktek ‘perempuan yang dilacurkan’ dengan kedok agama. Dari sudut pandang hukum, praktek ini bertentangan dengan Undang-Undang No 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, pasal 39 dan 63. Kawin kontrak juga terkait dengan keberadaan warung-warung diskotik dan penari perut yang sempat marak dulu. “Tapi sejak tahun 1999, sudah gak ada, karena didemo mahasiswa,” terang narasumber kami, si pemandu wisata, ketika saya berbincang dengannya, malam hari setelah melakukan observasi bersama teman-teman akumassa bernas beberapa jam sebelumnya. Menurutnya, aksi pesta hura-hura yang melanggar norma-norma masyarakat beralih ke vila-vila, dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Salah satu toko di kawasan Kampung Arab yang bertuliskan huruf arab.
Salah satu toko di Kampung Arab yang bertuliskan huruf arab.

“Kalau sekarang, susah! Arab-Arab pada sepi, karena bulan puasa,” kata si pemandu wisata lagi, ketika saya memintanya untuk mengantarkan kami ke warung shisha yang cukup ramai, dengan maksud agar bisa mengamat-amati orang-orang Timur Tengah (dan berharap pula mendapat kesempatan untuk ngobrol).

“Tapi saya bisa bercerita sedikit tentang mereka,” sambungnya. Dan dari si pemandu wisata ini lah saya memverifikasi data-data yang dikumpulkan teman-teman.

Mengenai dugaan-dugaan tentang bertahannya para imigran di sana, misalnya, si pemandu wisata berkata, “Mereka mendapat bantuan dana untuk hidup dari UNHCR, tapi untuk imigran yang resmi saja. Para imigran biasanya menyewa penginapan rumah-rumah warga. Kalau wisatawan asing, di vila-vila.”

“Kalau yang wisatawan nakal-nakal itu, gimana, Pak?” tanya saya.

“Itu biasanya yang muda-muda, yang Arab (Saudi), mereka kaya, ke sini cuma buat pesta,” jawab si pemandu wisata. Namun, lagi-lagi dia mengatakan bahwa di bulan puasa sekarang ini, hal itu tidak terlihat jelas, karena bukan sedang musim Arab. “Tapi, ya, gak semuanya begitu. Ada juga orang Arab yang memang datang untuk benar-benar liburan.”

Arab, yang lekat dengan image keislaman, tentunya akan menjadi persoalan menarik jika dikaitkan dengan fenomena penyimpangan sosial, seperti kawin kontrak. Dan cukup aneh juga, daerah yang biasanya dikenal dengan fenomena itu, terlihat begitu sepi di malam Bulan Ramadhan. Toko-toko yang berbau Timur Tengah tutup dengan cepat. Meskipun begitu, ada juga beberapa anak-anak muda Timur Tengah yang melintas di Jl. Raya Puncak, sekitar pukul 11 malam, saat saya berbincang dengan si pemandu wisata di depan Masjid Al-Muqsith. Akibatnya, niat untuk menggali kembali fenomena kawin kontrak tak bisa diteruskan (dan ini memang sudah terlihat dari awal diskusi outline tentang fenomena migrasi orang Timur Tengah ke Kampung Arab di kawasan Puncak, Bogor).

Ternyata, cerita tentang Kampung Arab bukan hanya satu soal saja yang menarik. Meskipun si pemandu wisata cukup banyak bercerita tentang kawin kontrak, kami mendapatkan temuan-temuan baru, yang akhirnya bisa digunakan untuk mengambil angle lain untuk membahas Kampung Arab, alias Warung Kaleng, alias Sampay Sindang Subur. Antara lain, pemandangan toko-toko dengan plang bertuliskan Arab yang memancing persoalan tersendiri yang unik untuk melihat dinamika perekonomian masyarakat setempat yang sudah sejak tahun 1990 didatangi oleh para imigran dan wisatawan Timur Tengah. Hubungan timbal balik yang terbangun antara dua kelompok yang berasal dari induk ras yang berbeda ini, Mongoloid (Indonesia) dan Kaukasoid (Timur Tengah), juga memancing pro-kontra terkait proses ‘arabisasi’. Kami juga mencoba menarik persoalan ‘musim Arab’ dan status para imigran gelap ke arah pembahasan lebih jauh tentang adanya kemungkinan alasan-alasan lain yang menyebabkan mereka datang ke Puncak.

Tema-tema unik yang disebutkan itu akan disajikan dalam rangkaian tulisan akumassa bernas pertama, yang dibungkus dalam kemasan persoalan mengenai dampak migrasi secara kultural terhadap Puncak, yang menjadi salah satu daerah lokal di Indonesia yang paling sering disinggahi oleh orang-orang Timur Tengah. *


Artikel tajuk ini merupakan bagian dari kumpulan tulisan akumassa bernas yang pertama, hasil workshop Program akumassa bernas di Cisarua, Bogor, 20-23 Juli 2013.