Delman dan Polemik Kemanusiawian Jakarta

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama, “Delman dan Polemik Kemanusiaan Jakarta”, pada tanggal 24 Juni 2013.

PERAYAAN HARI ULANG Tahun DKI Jakarta tahun ini mengusung tema “Jakarta Baru, Jakarta Kita”. Kompas.com, pada Mei, 2013, memuat penjelasan Asisten Pemerintahan DKI, Sylviana Murni, selaku ketua panitia perayaan hari jadi DKI Jakarta. Katanya, tema itu mengusung semangat untuk mengubah dan menata Jakarta yang lebih humanis, futuris, dan pluralis.

Sepulang dari diskusi di Warung Daun, depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, saya iseng pergi ke Monas untuk melihat euforia hari jadi DKI. Sebenarnya, saya sangat menyayangkan tak sempat hadir pada ‘PRJ Monas’ atau Pekan Produk Kreatif Daerah, pada tanggal 14-16 Juni 2013 lalu. Padahal, proyek uji coba Jokowi, yang oleh beberapa media massa disebut-sebut akan menjadi embrio Pesta Rakyat Jakarta di tahun 2014 nanti itu, merupakan momen yang tepat untuk membaca langkah evaluasi pemerintah terhadap acara-acara serupa yang mengusung nama Jakarta. Oleh sebab itu, pada Hari Sabtu, 22 Juni 2013, saya mondar-mandir di area Monas berharap dapat menemukan sesuatu yang menarik di detik-detik puncak perayaan pesta besar ulang tahun Ibukota, paling tidak menemukan salah satu dari tiga hal yang disebut humanis, futuris, dan pluralis.

Suasana di luar area Monas pada siang hari, 22 Juni 2013

Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud meninjau keberhasilan acara perayaan HUT DKI Jakarta. Sebab, saya hanya mampu melawan panas terik matahari di Monas hingga pukul empat sore. Ketika baterai kamera saya habis, saya memutuskan pulang, mengingat ada kegiatan lain yang harus saya hadiri malam itu. Tapi, saya punya pendapat bahwa semangat humanis, futuris dan pluralis, sedapat mungkin memang direpresentasikan oleh Pemda DKI dalam rangkaian acara perayaan tahun ini. Salah satunya pameran prototipe kereta monorel—yang bisa dibilang menjadi bagian dari langkah sosialisasi proyek Monorel Jakarta, demi masa depan transportasi Ibukota yang lebih baik (futuris)—yang sungguh sangat disayangkan juga, tak sempat sempat saya lihat karena pameran itu baru akan dibuka untuk publik pada petang hari, sedangkan pukul enam sore saya sudah harus berada di Depok.

Pameran Monorel Jakarta.
Pintu gerbang untuk masuk ke dalam pameran monorel. Pameran belum dibuka ketika saya datang berkunjung, siang hari pukul 13.00 WIB.

Saya memang tak mempunyai cukup bahan untuk mengevaluasi “Jakarta Baru, Jakarta Kita”. Tapi, jika kembali merefleksi pengalaman sepintas saya ketika berjalan-jalan di area Monas siang itu, saya ingin fokus membahas satu di antara tiga semangat yang diusung pada HUT DKI tahun ini, yakni semangat Jakarta yang lebih humanis. Dan sebelum mendebatkannya lebih jauh, saya ingin bercerita tentang delman di Monas.

Sering kali saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang harus manusiawi dari Jakarta?” Pertanyaan itu kembali muncul di benak saya setelah sempat berbincang dengan seorang kusir delman yang berkeliaran di sekitar Monas. Karena tak kuat berjalan kaki menaklukkan luasnya Lapangan Medan Merdeka, saya akhirnya memilih menaiki delman. Jujur saja, hari itu baru pertama kalinya saya melihat delman bebas keluar-masuk area Monas sejak saya tinggal di Jakarta dari tahun 2009. Otomatis, saya paham bahwa transportasi tradisional Betawi itu hadir dalam rangka memeriahkah HUT DKI Jakarta ke-486. Tampilan delman-delman itu meriah, lengkap dengan hiasan ondel-ondel di bagian kanan-kiri tempat duduk penumpang sementara pak kusir mengenakan baju khas betawi, seperti babe-babe yang saya lihat di drama seri TV, Si Doel Anak Sekolahan.

Pak Yahya, salah seorang kusir delman yang hari itu ikut menawarkan jasa angkutan kereta kudanya di area Monas.

Pak Yahya, warga Pulo Jahe, si kusir delman yang saya naiki, awalnya menyebut lima puluh ribu rupiah untuk sekali naik. Saya menawarnya menjadi tiga puluh lima ribu. Meskipun dengan tampang tak senang, dia bersedia mengantar saya berkeliling Monas.

“Udah sejak kapan bawa delman, Pak?” tanya saya mencoba memecah keheningan di atas kereta kuda.

“Udah lama, dua puluh tahun ada,” jawabnya sambil melecuti si kuda supaya baik jalannya.

“Ini delman memang sengaja buat ultah Jakarta atau gimana, Pak?”

“Ya…kalau sekarang iya. Tapi, tiap Sabtu, Minggu, biasanya juga ada.”

“Sabtu dan Minggu?”

“Iya, tapi baru sekarang. Kalau dulu gak boleh. Cuma boleh setiap Hari Sabtu dan Minggu, tapi di luar aja, gak boleh ke dalem sini. Baru sekarang ama Jokowi dikasih ijin masuk ke sini.”

“Dulu itu, maksudnya, kapan, Pak?” tanya saya lagi sembari mengeluarkan kamera yang baterainya sudah sekarat, mengambil beberapa foto, dan kemudian merekam pembicaraan kami.

“Waktu Fauzi Bowo,” jawabnya sambil melirik kamera saya. “Tapi, waktu Sutiyoso gak ada masalah… Fauzi Bowo aja…”

Pemandangan yang saya tangkap ketika menaiki delman Pak Yahya.

Cerita tentang nasib menyedihkan yang menimpa para kusir delman di Jakarta memang bukan kabar baru. Lebih kurang empat tahun terakhir, terutama sejak kebijakan pada masa Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yakni Surat Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat, No 911/1.754, tanggal 15 Juni 2007, keberadaan delman di Jakarta semakin kembang kempis. Alasannya sederhana saja: delman mengganggu kebersihan, ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

Hingga Bulan Maret 2013, di mata pemerintah Ibukota, delman masih dilihat sebagai transportasi terlarang. Akibat aturan itu, pasukan ‘pengusaha berkuda’ yang umumnya berasal dari Kemanggisan, Palmerah ini, mau tak mau harus main kucing-kucingan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Kalau situasi sedang ‘aman’, masyarakat saat ini hanya menggunakan jasanya sebagai transportasi wisata atau wahana bermain ‘kuda-kudaan’ karena anak-anak kecil jaman sekarang sudah jarang melihat kuda menarik kereta di tengah kota.

“Kalau misalnya hari biasa, mangkal di mana, Pak?”

“Ya, keliling-keliling aja, bawa anak-anak yang mau naik, biasanya itu. Kadang juga di Pondok Kopi, Buaran, tapi jarang…”

Saya diam sebentar, kemudian Pak Yahya berkata lagi, “Sebenarnya, ya itu, waktu Fauzi Bowo dilarang, cuman bolehnya Hari Sabtu Minggu aja. Tapi di luar. Kalau sekarang, kayaknya udah dibolehin lagi,” ujarnya. “Kemarin kita dikasih modal sama Jokowi, buat ngebersihin.”

“Ngebersihin? Maksudnya?” tanya saya bingung.

“Ya, ini, buat cat, hiasan, biar rapi, jadi enak dilihat… ini, kan sebelumnya jelek, kotor…” jawab Pak Yahya sambil menunjuk delmannya yang berpenampilan baru. “Kita juga dikasih baju, seragam, biar sama.”

“Oh, gitu…”

“Tapi gak tahu, deh, besok-besok dibolehin lagi apa yak?”

Tampilan delman Pak Yahya pada hari ulang tahun DKI Jakarta ke-486.

Sepertinya, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Joko Widodo, memang khusus mengeluarkan izin bagi para kusir supaya bisa beroperasi di dalam dan di luar kawasan Monumen Nasional untuk mendukung perayaan ulang tahun Jakarta saja. Sebab, belum ada peraturan resmi yang menyangkut nasib delman-delman tersebut. Jokowi sendiri mengakui bahwa dia belum membahas lebih jauh terkait keputusan yang menyangkut nasib transportasi bebas polusi asap itu. Dalam video yang diunggah ke YouTube, oleh akun GubernurJokowiAhok, tanggal 15 Juni 2013, Joko Widodo menuturkan bahwa pada dasarnya delman-delman Betawi dapat beroperasi di mana saja, asal tidak mengganggu kenyamanan dan kebersihan Kota Jakarta.

Baru saja saya salut dengan langkah bijak Pemda ini, saya dikejutkan oleh ekspresi Pak Yahya yang kaget ketika melihat beberapa petugas Satpol PP yang menghadang delmannya dan delman-delman lain yang melalui jalur yang sama. Salah seorang petugas memukul kuda delman yang berada di depan kami, lalu berteriak, “Kan sudah dibilang gak boleh ke sini!? Pergi! Pergi!” Kemudian, semua kusir yang melalui jalur itu memutar balik delmannya, menjauhi petugas Satpol PP.

“Loh, katanya udah boleh, Pak, tapi kok diusir lagi?” tanya saya beberapa detik kemudian.

“Gak tahu,” jawab Pak Yahya bingung. “Lewat sini saja, ya…?”

“Iya, Pak… saya berhenti di dekat rumput di ujung saja,” kata saya sambil menunjuk pohon-pohon yang ada di sekitaran area Monas, tepatnya di dekat panggung besar yang akan diisi acara pesta pada malam puncak. “Mungkin memang jalur yang itu dilarang, Pak.”

“Gak tahu juga. Tapi tadi boleh-boleh aja, sekarang dilarang,” kata Pak Yahya kesal.

Menjelang mencapai tempat berhenti yang saya tunjuk itu, perbincangan kami mengarah ke nasib-nasib para kusir yang masih eksis hingga sekarang. Mulai dari penghasilan yang sudah tak memuaskan– dulunya bisa mencapai lebih kurang lima ratus ribu rupiah sehari, merosot menjadi lebih kurang seratus lima puluh ribu rupiah—hingga ke usaha-usaha para kusir dalam bernegosiasi dengan para pejabat.

“Ada, namanya, Bang Hasan, yang datang ke Jokowi waktu itu,” kata Pak Yahya.

“Dia siapa, Pak? Kusir juga?”

“Iya, dia kusir,” jawab Pak Yahya. “Tapi, ya… dia yang mimpin kita-kita lah, yang ngurusin ngomong ke gubernur…”

Turun dari delman, saya kesal karena ternyata kamera saya mati dan tidak merekam semua kejadian. Setelah saya periksa, adegan Satpol PP menghalau delman tidak terekam. Bahkan, perbincangan kami juga terpotong.

Saya akhirnya memutuskan pulang. Saya menuju Stasiun Juanda dengan berjalan kaki. Di area luar Monas, saya melihat ada beberapa delman yang melintas, bahkan ada yang melawan arus macet Jakarta. Dandanan delman-delman itu sama dengan delman-delman yang ada di dalam area Monas. Sekali lagi sayang, saya tak bisa mengabadikannya karena kamera saya sudah tak bisa menyala.

Suasana siang hari di Monas pada hari ulang tahun DKI Jakarta.
Suasana para pengujung yang duduk ngaso di salah satu rerumputan di area Monas, menunggu acara panggung hiburan yang akan dimulai petang hari.
Suasana persiapan panggung untuk acara puncak ulang tahun DKI Jakarta di Monas.
Suasana siang hari di Monas, para pengunjung berjalan-jalan di sekitar tenda-tenda pameran/jualan.
Suasana siang hari di Monas, para pedagang kecil juga membuka lapak di area Monas pada hari ulang tahun Jakarta.

Apa sebenarnya yang harus manusiawi dari Jakarta? Sekali lagi saya bertanya, bahkan ketika menulis ini. Semakin hari, manusia Jakarta, mau tak mau, harus berkompromi untuk menjadi ‘tak manusiawi’ karena berhadapan dengan kepadatan Jakarta yang semakin tak ramah. Masalahnya, hal-hal yang dianggap bergerak lambat dilihat sebagai gangguan. Kita dapat menilainya mulai dari tingkah laku sebagian besar warga Jakarta yang mengabaikan jembatan penyeberangan, aksi masa bodoh para pedagang yang membuka lapak di sembarang tempat, hingga tanggapan pemerintah yang melakukan penggusuran warung-warung warga di pinggir jalan, dan pelarangan alat transportasi yang tidak menggunakan mesin/motor, seperti delman, contohnya. Masih banyak lagi hal-hal tak manusiawi yang terjadi di Jakarta, baik yang dilakukan oleh warganya maupun oleh pemerintahnya.

Khusus pada kasus delman di Jakarta, hanya karena alasan tahi kuda mengotori jalanan dan gerak jalannya yang lambat menyebabkan macet di jalanan, transportasi khas Betawi ini dilarang melalui surat keputusan pemerintah. Di mata masyarakat, kepopuleran delman tergerus oleh ‘kehebatan’ angkutan kendaraan bermotor. Padahal, kalau dipikir-pikir, kotoran mesin bermotor lebih berbahaya ketimbang kotoran delman. Macet Jakarta juga sebenarnya disebabkan oleh semakin tak manusiawi-nya perilaku konsumsi warga masyarakat terhadap barang tersier yang memberikan kepastian kelas dan citra (mobil dan sepeda motor pribadi). Menurut saya, penataan terhadap Jakarta, untuk membangun Ibukota yang lebih manusiawi, justru melupakan esensi kemanusiaan ketika ‘penertiban’ delman, atau kasus-kasus lainnya yang senada, menjadi agenda yang diutamakan.

Salah satu delman menunggu warga mangkal di area dalam Monas di hari ulang tahun Jakarta.

Pengalaman naik delman di hari ulang tahun Jakarta itu memunculkan kesan di dalam diri saya bahwa delman kembali dilirik hanya ketika dia dapat menjadi ikon kebanggaan Ibukota. “Warisan budaya masyarakat yang Jakarta (Betawi) banget!” biasanya orang-orang berujar. Sementara itu, hal yang paling ‘khas’ dari Jakarta itu sendiri, seakan dilupakan. Mengapa tak ‘memamerkan’ jalanan yang macet saja jika ingin menunjukkan karakter Jakarta yang sesungguhnya? *

Sumpah Pemuda di Mata Warga RT 10/02

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 30 Oktober 2012.

Ide tentang kerukunan umat beragama, suku dan bangsa, atau yang lebih populer disebut sebagai multikulturalisme, terdengar pada malam itu. Seorang bertubuh tinggi mengenakan jas dan kopiah, berdiri di atas mimbar sembari membaca sebuah teks pidato. Beberapa saat kemudian, orang itu membacakan sebuah teks lagi, teks yang berisikan ikrar atau sumpah, yang pernah dibacakan pula 84 tahun yang lalu: teks Sumpah Pemuda. Setiap bait yang ia bacakan diikuti kemudian oleh orang-orang yang saat itu menyaksikannya. Iringan lagu pun membahana dari balik panggung dan menambah suasana romantisme sejarah tentang masa-masa awal pergerakan nasional.

Sebenarnya, peristiwa itu hanyalah cuplikan dari sebuah drama yang dilakoni oleh anak-anak di lingkungan warga RT 10/02, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Si orang berjas hitam dan berkopiah itu, diperkenalkan oleh sang narator sebagai Soekarno, Bapak Proklamator yang telah menjadi ikon pemuda pada era awal pergerakan nasional. Aneh memang, karena adegan itu justru bertentangan dengan beberapa catatan atau literatur sejarah kita. Pada tanggal 28 Oktober 1928, yang membacakan teks Sumpah Pemuda ialah Soegondo, dan lantas dijelaskan panjang lebar oleh Muhammad Yamin kepada Jong-jong perwakilan daerah yang hadir dalam forum, karena dia lah yang merumuskan teks tersebut. Sedangkan Soekarno, katanya, tidak terlibat begitu banyak dalam peristiwa yang digadang-gadang sebagai salah satu dari lima simpul sejarah penting perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan kaum penjajah.

Para aktor drama yang berperan sebagai tentara Belanda.

“Gebyar Kreasi dan Seni” baru pertama kali diadakan di RT 10/02. Sebuah acara, yang mana ‘drama sumpah pemuda’ itu menjadi salah satu bagian dari rangkaian acaranya, yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 27 Oktober 2012 malam hari itu, terbilang relatif meriah dengan kemasan sederhana. Warga masyarakat yang tinggal di lingkungan rukun tetangga itu mengapresiasinya dengan begitu antusias. Sebagai sebuah acara yang digagas untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda, para pemuda-pemudi setempat jelas terlibat banyak dalam realisasi acaranya. Mulai dari pembacaan puisi, drama, lomba menggambar bertema “lingkungan sehat”, dan penampilan hiburan berupa musik akustik, semuanya melibatkan anak-anak muda. Acara ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh ketua panitia acara, Ir. Sutiyo Budi Irianto, memang memiliki tujuan untuk menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Lenteng Agung, khususnya RT 10/02, memiliki potensi di bidang kreasi dan seni dan mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan Ibu Pertiwi.

Salah satu adegan dalam drama.

“Kalau di sini, kegiatan anak-anak mudanya apa aja, sih, Pak?” tanya Ageung ketika ia datang bersilaturahmi ke rumah Pak Juanda, Ketua RT 10/02, keesokan harinya.

“Awalnya nggak ada, biasa saja,” jawabnya menjelaskan. “Secara umum, nggak ada. Kalau individu, ya, ada. Tapi, kan, kalau sudah berbicara lingkungan, kan, umum. Pendidikan, ya, biasa aja… sarjana, sedikit.”

Ketika ditanya tanggapannya tentang etos kerja dan kreatifitas anak-anak muda di lingkungan RT 10/02, Pak Juanda menjelaskan, “Jadi, melalui media ini (akumassa.org), di balik gitu, loh! Menurut saya, seharusnya orang yang sudah dewasa, yang sudah ahli, yang sudah kaya, yang sudah mampu, harus begini, gitu, loh! Menyadarkannya, gitu, loh!” katanya mencoba menjelaskan dengan semangat seraya memperagakan gerakan tangan membalik sesuatu.

Berdasarkan penjelasan Pak Juanda, acara tersebut merupakan satu usaha untuk mengubah pola perilaku warga masyarakat agar mau produktif dan aktif melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat.

“Saya kemarin, tuh, pelopor-pelopor saya, tuh: saya, Pak Irwan, Pak Anto, ya, kan… bertiga…!” Pak Juanda bercerita tentang usaha-usahanya dulu. “Kalau anak-anak, kan, nggak ngerti urusan sosial lainnya. Tahunya… ‘Saya siap!’ kalau ada ini itu… Terus saya ajak berpikir… berusaha meninggalkan pola-pola kebodohan… sirik, dengki, kikir, terus… sok ‘wah’… sok ‘weh’… Itu nggak gampang.”

Warga RT 10/02, Lenteng Agung.

Performa dari kelompok Hadro, yang menyenandungkan syair-syair sholawat, menjadi penampilan pembuka pada acara tersebut. Sekitar setengah jam kemudian, dua orang pembawa acara (dua orang pemudi), naik ke panggung dan memandu acara. Meskipun dengan malu-malu atau canggung, acara tetap berjalan dengan tertib di bawah panduan mereka berdua. “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Yes, yes, yes! Huuuu ha!” begitulah salah satu yel-yel yang mereka teriakkan untuk menjaga semangat warga RT 10/02, yang satu demi satu mulai meramaikan lokasi acara, berupa tanah lapang di depan rumah Pak RT, tempat panggung kecil dan loud speaker sederhana didirikan.

Pada waktu awak akumassa.org, Zikri dan Ageungdatang, Pak Juanda terlihat sibuk mondar-mandir, mengurusi beberapa pemuda-pemudi yang masih sibuk menggergaji triplek (mungkin untuk persiapan drama) dan menyambut beberapa tamu kehormatan, salah satunya perwakilan dari Lurah Lenteng Agung..

“Ini Ageung, penulis dari media massa lokal Lenteng Agung!” ujar Pak Juanda sembari memperkenalkan kami kepada Wakil Lurah, Muhammad Nafis.

Mereka kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Pihak Lurah pun berpendapat sama, ketika memberikan kata sambutan, bahwa pemuda-pemudi memiliki kekuatan tersendiri untuk membangun bangsanya, dan kegiatan-kegiatan di bidang kesenian seperti ini merupakan salah satu cara untuk mendidik anak-anak agar tidak terjerumus ke lingkaran hitam kenakalan remaja, seperti narkoba dan premanisme.

Kanan, Bapak Wakil Lurah Lenteng Agung (Muhammad Nafis), kiri, Bapak Ketua RT 10/02 (Juanda).

Ketika awak akumassa.org bertanya tentang proses penyelenggaraan acara tersebut, Pak Juanda menjelaskan, “Alhamdulillah semuanya semangat! Kalau saya sendiri, kan, hanya harapan-harapan. Dengan harapan itu, begitu saya turunkan, itu berjalan, mendapat tanggapan positif. Rupanya, pemikiran itu ada, begitu bertemu, nyatu! Terbentuklah program, rencana, dan rencana itu juga proses. Apa pun yang kita kerjakan, kalau itu bisa, kita laksanakan. Kalau nggak, tinggalkan! Dengan hasil sepuluh hari kerja kemarin, anak-anak, yang teater juga, atau secara umum panitia, saya menitipkan beberapa program, seperti ‘rumah sehat’ dan ‘tempat usaha sehat’. Mereka melakukan sosialisasi ke warga.”

Para pemenang Rumah Sehat dan Tempat Usaha Sehat.

“Dananya, itu ngumpulin, ya, Pak?” tanya Ageung.

“Minta sumbangan. Sistemnya, kita edarkan pamflet ‘Kegiatan pemuda-pemudi RT 10/02 yang akan mengadakan acara Sumpah Pemuda: live music, sandiwara, baca puisi’. Mereka (warga) pada tahu, kan?! Masuklah proposal, dua hari, tiga harinya langsung disambut, terhimpunlah sekian…” jelas Pak Juanda sembari menghisap rokok.

Yang menarik, kemasan acara ini tidak jauh-jauh dari keluhan masyarakat Indonesia tentang negerinya. Konflik antar agama, suku, dan etnis, pengaruh buruk media massa, pola hidup masyarakat yang masih tak bisa lepas dari unsur-unsur klenik, serta ketidakadilan negara yang masih memunculkan ketimpangan sosial, menjadi topik-topik yang direfleksikan pada acara itu. Maka jangan terkejut ketika dua orang pemudi seumuran siswa Sekolah Dasar, menyerukan sebuah kritik tentang pengaruh buruk sinetron saat mendeklamasikan puisi bertema Sumpah Pemuda. Begitu pula dalam drama, ‘Soekarno’ berjas hitam dan berkopiah itu menyerukan persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia, dengan mengesampingkan identitas kesukuan dan kepentingan kelompok agama, agar dapat bersatu-padu melawan penjajah.

Dua putri membaca puisi.

Mpok Indun, salah satu tokoh dalam drama yang diperankan oleh gadis jelita bernama Alda, terlihat malu-malu. Bahkan, sadar tidak sadar, ia berkata, “Gak mau! Malu!” kepada soundmen yang menyodorkan microphone padanya ketika berakting menangisi seorang pejuang lokal yang mati tertembak senapan kompeni. Bukannya terharu, penonton justru tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan ini. Namun demikian, Alda mendapat penghargaan sebagai pemeran perempuan terbaik malam itu, sedangkan Adit, yang berperan sebagai Jenderal Kompeni, menerima penghargaan pemeran laki-laki terbaik. Tentunya, drama diakhiri dengan happy ending, penjajah kalah, dan rakyat Indonesia tidak lagi terpecah-belah. Drama itu seolah menjadi sebuah esai dari warga tentang harapan-harapan mereka akan tatanan masyarakat yang sejahtera, khususnya, di tanggal 28 Oktober, ketika gagasan persatuan itu dikumandangkan oleh para pemuda-pemudi tahun 1928 untuk merangsang semangat rakyat Indonesia agar tak mau berlama-lama menjadi masyarakat terjajah.

Pemuda-pemudi di balik acara Gebyar Kreasi dan Seni.

Pemuda-pemudi adalah kunci bagi tumbuhkembangnya bangsa ini. “Saya, sebagai RT, mengajak dan mengingatkan bahwa pemuda-pemudi itu punya mandat walaupun itu tidak tertulis!” ujar Pak Juanda. “Negara merdeka 1945, Sumpah Pemuda 1928… coba pikirkan… ada kontribusi pemuda di sini. Negara tanpa pemuda, nggak akan merdeka!”

Di penghujung acara, semua anak-anak yang mengikuti lomba menggambar mendapat piala penghargaan. Satu per satu, anak-anak menerima piala yang diserahkan oleh Pak Juanda setelah rangkaian acara terakhir berupa hiburan musik akustik dari panitia. Setelah itu, sebuah kata penutup disampaikan oleh ketua pemuda Karang Taruna Sub-Unit di lingkungan setempat, Pak Irwanto. Dia menghimbau warga untuk terus memberikan dukungan dan apresiasi kepada anak-anak muda di Kelurahan Lenteng Agung agar tetap kreatif dan produktif, khususnya di bidang kesenian. Dia juga menegaskan bahwa drama atau teater adalah salah satu bidang yang harus terus dihidupkan karena mampu melatih kreatifitas. “Biar kemampuan mereka terasah, jago acting, mudah-mudahan bisa sampai menjadi artis sinetron!” ujarnya. Hal itu mengingatkan kami, awak akumassa.org, kepada bait puisi yang sempat dibacakan di pertengahan acara: sinetron memberikan dampak buruk bagi masyarakat. Mungkin harapannya, dengan tenaga aktor-aktris berbakat dari pemuda-pemudi seperti ini, kualitas sinetron dapat menjadi lebih baik kedepannya.

Putra-putri RT 10/02 mendapat penghargaan untuk gambar Rumah Sehat yang mereka buat.

Acara pun ditutup dengan iringan lagu Kemesraan yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Satu per satu warga pulang ke rumah masing-masing sementara panitia acara mulai membereskan panggung. Setelah mengambil jatah kue, awak akumassa.org pun turut pulang dengan membawa segudang refleksi tentang Hari Sumpah Pemuda.

Bagaimana pun, acara “Gebyar Kreasi dan Seni” malam itu merupakan sebuah bingkaian dari sudut pandang warga. Semangat Sumpah Pemuda telah menjadi hal yang begitu melekat dan lantas dirayakan tahun ini oleh warga RT 10/02. Pemahaman yang mendalam tentang sejarah yang sesungguhnya, seperti kontroversi politisasi Sumpah Pemuda di era Orde Lama dan Orde Baru, misalnya, bukan lagi jadi ide yang utama. Toh, apa yang kita bayangkan, sebagai warga masyarakat, tentang kehidupan yang sejahtera, aman dan damai ialah sebuah aspirasi yang mutlak untuk disuarakan. Melenceng sedikit dari kebenaran sejarah, selama untuk tujuan bersama yang baik, tidak masalah. Bukankah Soekarno juga pernah melakukannya untuk membangkitkan semangat para pemuda agar mau membangun bangsanya? Bagi warga, tentunya hal itu sah-sah saja. *