Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari.

Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya.

“Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!”

Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia.

Sementara itu, seminggu terakhir ini, aku tengah terbius bunyi-bunyi dari Pemenang, dan tadi pagi kudengar Si Piano Kecil Biru itu mendendangkannya pula. Aku pun tergoda. Aku rasa aku harus bergerak cepat agar Si Piano Kecil Biru lebih memilihku daripasa Sang Penari. Aku membutuhkannya. Sebab, aku juga ingin bisa terbang ke alam memori, seperti ke dunia Sang Burung Kecil, alamnya puisi-puisi.

Kamus

Tulisan berikut ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler yang diselenggarakan di Forum Lenteng, difasilitasi oleh Otty Widasari.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang ada di atas meja di depan saya sekarang adalah buku yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2012. Buku tersebut memiliki 1704 halaman, bersampul cokelat. Ada cap Forum Lenteng di halaman judulnya. Selama ini, buku itu terletak di rak di dekat pintu, tidak disentuh orang-orag. Sampulnya berdebu. Saya mengambilnya dari sudut rak itu.

Kamus ini sebelumnya berada di rak tersebut untuk dipajang. Di Forum Lenteng, orang-orang bekerja untuk membuat tulisan. Mungkin, kamis ini berguna untuk membantu mereka membuat tulisan. Tapi, saya tida pernah melihat ada anggota Forum Lenteng yang menggunakannya. Jadi, kesimpulan saya, kamus ini ada di sini, selain untuk dipajang, adalah untuk menjadi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada membaca kamus berbentuk buku. Kalaupun masih memilih buku kamus, sekarang juga sudah ada buku KBBI yang terbit lebih baru. Artinya, kamus di depan saya bisa dibilang sudah using. Akakah ia tetap digunakan oleh orang-orang di kantor ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kamus ini akan kembali diletakkan di rak tersebut, untuk dipajang lagi, hingga sampulnya berdebu.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kamus ini mengandung sejumlah halaman yang berisi informasi tentang kata-kata serapan asing; juga ada informasi soal lema-lema yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Informasi soal kata-kata serapan asing dan lema-lema itu lumayan penting. Kalau begitu, saya angkut saja buku ini ke sebelah laptop saya nanti, untuk saya gunakan.


Lalu, di bagian yang ini, adalah versi setelah teks tersebut diubah beberapa katanya, sebagai bagian dari simulasi yang dilakukan di dalam kelas “Roman Picisan” (26 Maret 2016).

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang menempel di atas akrilik di depan Walay sekarang adalah kitab yang diproduksi oleh Pusat Bahasa. Kitab tersebut berisi 1704 lembar kartas, berkulit cokelat. Tertera nama kantor saya di lembar mukanya. Selama ini, kitab itu berdiri di batu di dekat ventilasi, tidak dimakan kutu-kutu. Kulitnya berjamur. Saya mengambilnya dari bawah ventilasi itu.

Kitab ini sebelumnya berdiri di batu tersebut untuk dipuja. Di kantor saya, orang-orang hidup untuk mencipta wacana. Mungkin kitab ini bertujuan untuk memengaruhi mereka mencipta wacana. Tapi, saya tidak pernah melihat orang-orang mendekatinya. Jadi, kesimpulan saya, kitab ini hinggap di sini, selain untuk dipuja, adalah untuk menginspirasi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada mencerna kitab berukuran batako. Kalaupun masih memilih kitab kamus, sekarang juga sudah ada kitab KBBI yang berusia lebih baru. Artinya, kitab di depan saya, bisa dibilang, sudah tua. Akankah ia tetap dijauhi oleh kutu-kutu di rumah ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kitab ini akan kembali berdiam di batu tersebut, untuk dipuja lagi, hingga kulitnya melepuh.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kitab ini menyimpan sejumlah lembaran yang berisi peta tentang aksara-aksara kuno. Juga ada peta soal sandi-sandi yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Peta soal aksara-aksara kuno dan sandi-sandi itu lumayan penting. Kalau begitu, saya baringkan saja kitab ini ke sebelah tas saya nanti, untuk saya sembah.

Mencoba Mengurai Benang Hantu

Satu malam sebelum malam Tapa Kelomang ditiupkan untuk menyambut empat orang pembawa obor-obor kecil yang, lagi-lagi, menyenandungkan syair Pong Pang Kelinti Capung di atas laut; satu malam sebelum saya melihat cahaya obor di dermaga; saya kebetulan duduk di atas motor, sambil menunggu kedatangan Muhammad Gozali yang tengah mengambil barangnya yang ketinggalan di Taman Sari.

Tulisan ini adalah esai reflektif tentang proyek residensi Bangsal Menggawe 2019, bersama-sama dengan Otty Widasari, Maria Silalahi, Pingkan Polla, Dhuha Ramadhani, Theo Nugraha, dan Anggraeni Widhiasih yang saya presentasikan di Forum Lenteng (21 Maret 2019).

Video kumpulan senyuman warga Pemenang, bagian dari proyek Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

Saya khusyuk menatap ke arah cahaya yang berpendar dari layar yang melekat di sebuah bangunan batu, berpadu menyerupai monumen kecil, di depan terminal. Di layar itu, kita bisa melihat ratusan rekaman orang-orang Pemenang yang tengah tersenyum. Dalam format video looping, kita menyaksikan senyuman yang berulang-ulang.

Tapi kala itu saya tak hanya melihat representasi senyuman di layar, tetapi juga senyum (bahkan gelak tawa gembira) dari tiga hingga lima orang pemuda lokal yang, seperti saya, khusyuk menonton senyum-senyuman dari teman-teman mereka.

Momen puitik, kalau boleh saya bilang begitu, menghampiri saya dengan cara menghadirkan secara sekaligus dua macam kenyataan: dunia representasi dan dunia non-representasi.

Pada suatu hari ketika sedang menyunting tulisan Fahrul Fiqi Izomi, datanglah Muhammad Sibawaihi dan Muhammad Gozali ke ruangan yang saya gunakan untuk bekerja di depan laptop, lengkap dengan pakaian yang menunjukkan bahwa mereka, sepertinya, baru pulang dari pengajian. Dan memang, mereka baru pulang dari kegiatan mengaji—membaca surat Yasin—di rumah Kadus Ihsan, Karang Bedil.

Baik Sibawaihi maupun Gozali bercerita tentang peristiwa “flashmob membaca Yasin” itu dan kebingungan bercampur kekhusyukan si tuan rumah menghadapi situasi yang mengejutkan. Saya sebut flashmob karena dalam praktiknya, aksi yang mereka lakukan memang seperi itu: datang beramai-ramai membuat suatu peristiwa, lalu bubar seketika, menyisakan tanda tanya di orang-orang yang menyaksikan atau mengalaminya.

Gozali mengulang cerita peristiwa membaca Yasin yang merupakan bagian dari Teater Isin Angsat, sebuah proyek seni yang memberikan kejutan kepada orang-orang yang suka mengejutkan, dengan kerangka naskahnya: Gozali mendapat amanah dari Bapuq Basin melalui mimpi, untuk membaca Yasin di rumah Kadus Ihsan.

Meskipun saya tak ikut serta membaca Yasin, cerita Gozali mampu memberikan gambaran di kepala saya tentang suatu kejadian yang juga menggabungkan pengalaman personal dan pengalaman persona secara bersamaan—sebuah momen teatrikal yang juga bermain-main di ambang batas antara dunia konsep dan dunia sehari-hari.

Muhammad Imran, Dhuha Ramadhani, dan Theo Nugraha mencoba memasang kabel untuk disalurkan ke berugaq warga. (Foto: arsip Pasirputih).

Hal lain yang cukup menempel di kepala saya adalah peristiwa di saat Muhammad Imran dan Dhuha Ramadhani bolak-balik lebih dari sehari-duahari setiap minggu, berjalan atau mengendarai motor, membawa bergulung-gulung kabel dan TV sembari mengenakan topi bambu (walaupun tidak selalu). Mereka melawan terik mentari untuk mencari celah bagaimana caranya sebuah alat operator pemutar video yang ada di Berugaq Pasirputih terhubung ke berugaq milik warga.

Aktivitas bolak-balik itu terjadi berkali-kali di hadapan saya, di waktu-waktu ketika saya pergi membuang hajat ke toilet atau mengambil makan siang ke dapur, atau sekadar untuk merokok di Berugaq Pasirputih.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Berugaq TV memang nyatanya mengejar output berupa tayangan televisi tentang aktivitas sehari-hari masyarakat, yang ditampilkan di berugaq-berugaq atau rumah-rumah beberapa warga, yang sengaja dipilih untuk menjadi situs-situs perintis bagi keberlanjutan pengelolaan distribusi informasi dan pengarsipan warga Pemenang.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Ia menjadi siasat yang mengambil manfaat dari fenomena guyub khas masyarakat kita, seolah kembali menerapkan teknis paling dasar dari bermulanya aktivitas memproduksi dan mendistribusikan informasi: orang-orang berbondong-bondong mendatangi papan pengumuman jadwal keberangkatan kapal angkutan.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Juga membuka pusat baru bagi pergaulan sosial dan ekspektasi di masa depan akan kosmopolitanisme ala warga Lombok yang memilih rehat sejenak dari bising-bising pariwisata. Nyatanya, Shift Café menjadi tempat bagi peluncuran perdana Berugaq TV; café itu dikelola oleh pemuda-pemuda yang sadar untuk beranjak dari dominasi pariwisata dan berinisiatif melakukan penanaman kembali daerah-daerah hutan di Pemenang yang telah rusak, dengan membentuk kelompok baru bernama Bale Kebon.

Muhammad Imran (di atas motor) dan Dhuha Ramadhani ketika bersiap-siap mengangkut TV ke berugaq warga, untuk presentasi Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Tapi bagi saya pribadi, visual yang berulang-ulang saya lihat sekelebat ini justru lebih menarik hati: peristiwanya seakan menjadi mantra gestural, alih-alih suara untuk indera pendengaran, yang dari aktivitas semacam itulah—berdasarkan pengakuan dua pegiatnya—dapat dipahami bagaimana suatu sistem jaringan, baik itu jaringan elektronis maupun jaringan ketetanggaan, bekerja dalam kehidupan kita. Di sini, menurut saya, juga terjadi dua gagasan sekaligus: otak-atik teknologis dan otak-atik sosial. Otak-atik yang berulang-ulang, membuahkan suatu kekhusyukan tertentu yang tidak hanya memengaruhi tubuh pada satu titik di lokasi ritual, tetapi lebih berupa penjelajahan ruang-ruang masyarakat: Imran dan Dhuha seakan menjadi pengelana fenomena tetangga, bagi saya.


Selanjutnya, apalagi yang berulang-ulang selain mereka?

Mencangkul…

Memangkas…

Dan membersihkan… lapangan berumput.

Dokumentasi salah satu pertandingan Bangsal Cup U-13, tahun 2019, bagian dari Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

Menghadirkan keramaian yang terancam punah akibat privatisasi ruang yang terjadi di Pemenang, Bangsal Cup tidak hanya menjadi semacam perayaan akan keharuman namanya sebagai penghasil atlet kelas dunia, atau sekadar wadah untuk menyalurkan minat di bidang tertentu, ataupun semata cara untuk memupuk mimpi menjadi pemain profesional di masa depan. Bukan hanya itu.

Turnamen tahunan ini telah menjadi wujud dari konsistensi “Pemberdayaan Raga” tanpa embel-embel laba, yang memperjuangkan hak warga atas ruang-ruang terbuka.

Kerangka konsep saya mengenai hubungan antara “Pemberdayaan Raga” dan “Pemberdayaan Seni”.

Moetidjo pernah berpendapat bahwa “Kerja Ragawi” itu adalah hal yang berbeda dengan “Kerja Seni”, dan ia juga sempat mengkritisi bahwa kerja-kerja pemberdayaan kerap meniadakan “takdir seni”. Namun, di mata saya, usaha penyelenggaraan Bangsal Cup yang konsisten, barangkali, bisa kita petakan seperti ini: bahwa sesungguhnya, “pengasingan” dalam konteks pewacanaan seni (yang tak jarang terjebak dalam subjektivitas dan intelektualitas elite), pasti akan tetap memiliki hubungan dengan “penempatan” dalam konteks pewacanaan kerja pemberdayaan yang melebur kepada warga. Dalam konteks itu, area yang penuh jebakan-jebakan inilah, sebetulnya, menurut saya, yang menjadi area tempat Bangsal Menggawe bereksperimen—sebagaimana yang bisa kita telusuri dari pemikran Otty Widasari sejak Bangsal Menggawe “Membasaq”. Kita, mau tidak mau, memang harus bertransaksi di antara berbagai kepentingan.

Dalam konteks itu, aktivisme yang diusahakan oleh AKUMASSA ketika bersama-sama Pasirputih menginisiasi festival rakyat ini perlu kita refleksikan lebih dalam, bukan sebagai aktivisme yang berorientasi propagandis (dalam artian mengejar massa untuk menumbangkan kekuasaan), tetapi justru aktivisme yang rendah hati (mencintai narasi dan merayakannya dengan membuat peristiwa-peristiwa yang bisa dinarasikan lagi, dan lagi).

Meskipun terlalu dini untuk menyebutkannya, tapi saya berpikir bahwa aktivisme Bangsal Menggawe adalah “aktivisme” yang berusaha melampaui aktivisime.

Pasirputih, sebagai inisiator utama pesta itu, pada kenyataannya masih kerap berada dalam keragu-raguan atau kegamangan soal keterputusan dengan warga dan lingkungan sekitarnya. Komunitas yang sudah berumur satu dekade ini tentu tidak lepas dari kritik.

Akan tetapi, apa yang kemudian mereka ulangkan setiap tahun lewat Bangsal Menggawe, lambat laun akan menjadi tuntunan baru untuk mewujudkan cita-cita Bangsal Menggawe sebagai peristiwa yang benar-benar milik warga.

Proyek-proyek yang digarap dalam Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”, tetap berada pada jalur untuk menjadi “tidak putus” dengan lingkungan sekitar. Mengumpulkan bambu, minyak jelantah, dan botol-botol bekas; senam ke sekolah-sekolah dan perkumpulan ibu-ibu; tawar-menawar di berugaq untuk dijadikan ruang presentasi TV; gotong-royong di lapangan; dan bahkan menggugah pelabuhan lewat kegiatan mengamen yang dibayar cukup hanya dengan senyuman; dan juga menakil. Itu semua terjadi berulang-ulang.

Buat saya, semua peristiwa itu adalah mantra (yang berarti juga doa), bukan hanya karena beragam peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi berulang-ulang baik dalam gerak fisik, pengeinderaan, dan pewacanaan—DISKUSI HAMPIR SETIAP MALAM, dan bukan juga karena pegiatnya berbondong-bondong menghimbau orang-orang untuk berdoa ke Bangsal, tetapi juga “mengulangi” prinsip dasar dari seni berkomunikasi: SAMBUNG HATI, menyuarakan bahasa-bahasa yang diam, …

Salah satu sketsa dari penelitian tentang pemetaan bunyi-bunyi di lingkungan Pemenang yang digarap oleh Theo Nugraha untuk Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

melalui dongeng-dongeng yang berbunyi di berugaq-berugaq, …

Maestro Rudat Zakaria mensosialisasikan senam tari rudat di sekolah-sekolah dalam rangka Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

melintasi keluhan-keluhan sang maestro—yang juga berulang-ulang …

Tapa Kelomang, karya kolaborasi Maria Silalahi, Mintarja, dan warga Pemenang untuk Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: Otty Widasari).

Membangun Tapa Kelomang: bertapa seperti keong.

Lewat bahasa-bahasa berulang—bunyi suara, gerak raga, dan pengalaman peristiwa—mereka menjadi mantra-mantra ampuh dalam tawar-menawar antara kearifan budaya dan pembangunan desa. Sebagai mantra, bahasa-bahasa ini membangkitkan apa yang selama ini diyakini ada tapi abai terlihat, apa yang selama ini selalu dirasa tapi jarang diungkap.

Mantra-mantra inilah yang mengurai benang-benang lampau, untuk melampaui sekat-sekat antardivisi sosial, untuk dijahit kembali menjadi peta kewargaan Pemenang yang sesungguhnya.


Ketika merancang presentasi ini semalam, dengan sedikit sok tahu saya memilih kata “Aksi-Trans” sebagai judul presentasi, tapi belakangan saya justru kelabakan untuk mengurai istilah yang lahir dari wacana Modernisme Barat itu. Sang kurator menyarankan saya untuk mencoba memahami “benang hantu”. Hanya “benang hantu”. Hanya “benang hantu”.

Dan saya kira, benang-benang itu tersembunyi, salah satunya, di lirik ini:

 

Lirik tentang aktivitas sehari-hari seorang ibu yang menimang-nimang anaknya di tengah hari desa, berkali-kali melantunkan syair itu, dengan tujuan sederhana saja, mungkin, yaitu untuk menentramkan si anak sembari meneruskan pekerjaannya… (saya selalu membayangkan ibu itu berdiri di tengah-tengah sawah siang hari). Pemenang memang mesti harus terus bekerja.

Foto bersama para pemimpin umat agama Islam, Hindu, dan Budha di Pemenang, pada malam puncak Bangsal Menggawe 2019. (Foto: Hafiz Rancajale).

Transendensi Bangsal Menggawe bukanlah perihal memistifikasi narasi, tetapi ia akan mencapai titik ultima aktivismenya karena konsistensi.

_______

Unduh materi dalam bentuk Power Point dari esai ini di sini: Presentasi Bangsal Menggawe untuk Forum Lenteng.

Carangan atas Carangan

“Kalau Afrizal bilang ‘penempatan’, saya ‘pengasingan’, itu sebetulnya dua model yang beda. ‘Pengasingan’ itu ‘takdir seni’; ‘penempatan’ itu ‘kerja ragawi’…!” kata Ugeng T. Moetidjo, lantas dia tertawa, bersamaan dengan tawa hadirin yang mendengarkan diskusi itu.

Ini adalah tulisan yang dibuat sekadar untuk mengingat-ingat kembali pengalaman saya menghadiri dan mendengarkan diskusi kemarin sore, setelah cukup lama tidak hadir di sebuah acara diskusi yang menjungkir-balikkan isi kepala saya.

Salah satu karya Ugeng T. Moetidjo di pameran tunggalnya yang bertajuk Gambaur (di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018). (Foto: Pingkan Polla @pingtje)

Ugeng T. Moetidjo, 2012
ruang dalam ruang luar
cat akrilik dan objek temuan
pada kertas 60 x 40 cm.
(Foto: Manshur Zikri).

“Akhir-akhir ini,” Ugeng melanjutkan. “sebetulnya, kata ‘pengasingan’ itu hampir tidak digunakan karena dia membuat modus seni terasa seperti terjangkiti fungsi-fungsi laten kita. Jadi, seni-seni yang begitu ingin disebut seni tapi melakukan proses penelitian itu yang ingin, sebetulnya, meniadakan takdir seni. Mereka ingin membunuh apa yang disebut sebagai ‘tuhan seni’ meskipun sebetulnya ‘tuhan seni’ sudah tidak ada.

“Perbedaan antara—kita bisa singkirkan ini—cara kita melihat sekarang, sebetulnya—bahkan di karya-karya yang menolak ‘seni pengasingan’ itu—adalah kenyataan bahwa mereka tidak mengubah kata ‘penciptaan’, ‘pencipta’, menjadi ‘produser’ dan ‘pembuat’. Padahal, seharusnya, pada kerja-kerja seni yang ‘non-pengasingan’ itu, mereka menggunakan kata ‘produser’ ketimbang ‘the creation’. Karena, ‘the creation’ itu warisan Michelangelo yang adanya di Gereja Sistine, dan itu erat hubungannya dengan bagaimana seni terhubung dengan nilai-nilai perilaku masyarakatnya.

Ugeng T. Moetidjo, 2014
tajin
bulpen, akrilik dan objek temuan
pada kertas 19 x 12 cm.
(Foto: Manshur Zikri).

“Kenapa ‘penempatan’ itu merupakan ‘raga’? Karena itu tadi, saya sudah bilang, bahwa tugas manusia di dunia cuma dua: ‘berolahraga’ dan ‘berdoa’. Nah, saya ingin masuk yang ‘berdoa’ saja dibanding yang ‘berolahraga’, karena yang ‘berolahraga’ tidak perlu orang ketahui.”

Kemudian Afrizal Malna mengganggu pendapat Ugeng T. Moetidjo dengan menyinggung kata ‘kerja’, dan si seniman yang tengah berpameran tunggal itu menjawab, “Berolahraga itu bukannya ‘bekerja’ juga, ya? Karena… ‘memelintir tubuh’.”

Yuki Aditya (kiri), Alifah Melisa (tengah), dan Anggraeni Widhiasih (kanan), tiga orang anggota Forum Lenteng, berpose di depan karya-karya gambar Ugeng T. Moetidjo di pameran tunggal bertajuk “Gambaur”(di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018). (Foto: Pingkan Polla @pingkan.jpg).


Kalimat-kalimat kutipan dari Ugeng dalam tulisan ini adalah penggalan—yang sudah saya sunting—dari isi rekaman audio diskusi pada pameran tunggal Ugeng T. Moetidjo. Diskusi itu dimoderatori oleh Afrizal Malna, menghadirkan pembicara Cecil Mariani dan Ugeng T. Moetidjo, dilangsungkan pada hari Minggu, 21 Oktober 2018 di galerikertas-Studiohanafi, dan adalah bagian dari rangkaian acara pameran tunggal Ugeng T. Moetidjo yang berjudul “Gambaur” (berlangsung dari 13 Oktober hingga 5 November 2018).

Konon—seperti yang beberapa kali disebut oleh orang-orang di Studiohanafi—untuk kesemua hal yang berkaitan dengan pameran tunggalnya itu, Ugeng mengurasinya sendiri (dia menjadi kurator bagi pameran tunggalnya), termasuk kudapan yang dapat disantap oleh pengunjung pameran.

Jujur saja, saya belum dapat berkomentar banyak karena bahkan untuk memahami satu per satu bagian-bagian atau topik-topik atau kata-kata (istilah-istilah) serta konsep-konsep, apalagi narasi-narasi historis, yang disinggung para pembicara dan sejumlah hadirin yang berpendapat pada diskusi itu, saya masih sangat kesulitan.

Saya setuju kata-kata Hafiz, yang ia utarakan pada hari itu, bahwa membaca Ugeng bukan lagi persoalan tentang membaca garis-garisnya, juga bukan soal bagaimana mempertanyakan tawaran estetikanya. Sebab, semua tingkatan itu sudah ‘diselesaikan’ oleh Ugeng. Mungkin maksud Hafiz, si aki-aki tua nan tengil ini sudah berada di titik yang beyond, dan karena itu, seharusnya, kita perlu membongkar kode-kode yang kerap dimainkan Ugeng, bahkan pada pameran tunggalnya yang mengejutkan banyak orang itu. Saya pun, pagi ini, memahaminya bahwa Ugeng barangkali sudah berada di level yang sering disebut-sebut Hafiz dalam banyak diskusi-diskusi santai kami di Forum Lenteng, yaitu level bahwa “si seniman itu sendirilah seni-nya”. Beban-beban kultural yang ada di tubuh Ugeng, adalah hal utama yang perlu dibongkar ketimbang sekadar menganalisa kemampuan teknis maupun estetis dari praktik berkesenian Ugeng.

Ya, ini hanya catatan selintas, bukan ulasan tentang pameran tunggal Ugeng. Jika ingin menghadirkan ulasan, saya harus mengerjakannya dengan benar-benar matang dan teliti—harus sedisiplin ketika saya mengerjakan esai kuratorial untuk dua pameran tunggal Otty Widasari. Saya juga sempat terpikir untuk menulis esai reflektif tentang pameran tunggal Hafiz. Dan itu belum bisa saya lakukan sekarang.

Saya senang untuk mengakui, bahwa di dalam perjalanan hidup saya berkesenian hingga detik ini, tiga nama seniman—Otty Widasari, Hafiz, dan Ugeng T. Moetidjo—adalah legenda kebudayaan yang tak terbantahkan. Posisi mereka layaknya legenda para Hokage atau Tiga Sannin di mata Naruto dan para shinobi-shinobi muda Konoha, atau seperti Gold D. Roger dan para Yonko di mata Luffy dan kru bajak laut topi jerami.

Menyusul huru-hara seni yang belum lama terjadi tahun ini di Indonesia — you know what I mean! — tiga nama ini, “Otty”, “Hafiz”, dan “Ugeng”, sekarang lebih saya sikapi sebagai Yonko saja. Soalnya, saya mulai berpikir untuk move on dari keluhan tentang “Generasi Ngambek” itu, dan harus berani merangkul optimisme dari gagasan “Generasi Terburuk” (ya, saya memang sedang merujuk para rookie di komik ciptaan Eiichiro Oda). Sebagai bagian dari generasi terburuk, katakanlah seperti itu, satu-satunya cara saya—dan kawan-kawan yang juga setuju dengan hal itu—untuk bertahan dan melampaui zaman adalah dengan percaya pada militansi dan kedisiplinan untuk menggaris, mengarsir, merekam, membingkai, dan mengintervensi objek, sebanyak ribuan hingga jutaan kali, demi mendapatkan (atau setidaknya memahami) barang satu atau dua Haki yang menjadi “tangan magic” di tubuh ketiga legenda yang saya sebut itu.

Ketika meninjau lagi rekaman audio yang saya punya, saya menyadari bahwa dalam diskusi kemarin, di sesi terakhir sebelum Afrizal menutup acara, Ugeng berkali-kali menyebut kata “carangan” (sebuah istilah dalam ilmu per-wayang-an yang saya sendiri belum tahu sedikit pun tentang itu), atau tepatnya: “metode carangan”.

Satu sumber di internet menyebutkan: “Lakon carangan, atau cerita carangan adalah lakon wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) kisah Mahabarata atau Ramayana. Namun, para pemeran dan tempat-tempat dalam cerita carangan itu tetap menggunakan tokoh-tokoh Wayang Purwa yang berdasarkan Mahabarata atau Ramayana seperti biasanya.”

Robyy Octavian, Dhanurendra Pandji, dan Syahrullah, tiga orang anggota Forum Lenteng, sedang melihat-lihat pameran tunggal “Gambaur” Ugeng T. Moetidjo di galerikerta-Studiohanafi, Depok.

Tentang konsep “carangan” atau “metode carangan”, Ugeng mencontohkan bahwa, dalam tradisi wayang kulit di Jawa, beberapa cerita diciptakan tanpa mengikuti kanon dari India. Misalnya, Petruk jadi Ratu atau Raja; hal ini tidak ada presedennya ataupun contoh kasusnya di India. “Termasuk juga, misalnya, Lima Panakawan, tapi satu Panakawan itu hilang; yang selalu tampil adalah Empat Panakawan,” kata Ugeng.

Konsep itu, oleh Ugeng, dipetik dalam rangka kritisisme-nya terhadap cara pandang kita mengenai senirupa kontemporer di Indonesia, yang menurutnya masih bersifat kanonik.

“Kanonik ini sebetulnya yang membuat saya merasa—atau teman-teman lainnya itu—mempunyai beban-beban sejarah laten yang bentuknya visual,” Ugeng berpendapat. “Saya berani katakan bahwa perkembangan histori senirupa Indonesia tidak ditentukan oleh ideologi atau konsep-konsep yang melatarinya, tetapi oleh gambaran-gambaran atau contoh-contoh karya sebagaimana yang sekarang kita lihat di media sosial. Sebetulnya media sosial pun juga bukan hal yang baru. Di tradisi raja-raja Indian atau para ningrat Indian—suku-suku Indian itu, mereka sudah punya “medsos”. Dengan cara, adalah: kalau dia kaya (ningrat), dia punya sepuluh orang [tukang] pos yang akan mengantarkan pesan dan gambar dia secepat sekarang. Atau dua puluh, atau seribu—waktu itu seribu, biasanya, kalau yang kaya. Dan juga para ningrat Rusia.

“Nah, masalahnya adalah, yang kanon itu memang kelihatan seperti punya nilai. Bahkan, Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pun pada akhirnya percaya bahwa yang kanonik adalah sesuatu yang paling mungkin dibahas dalam studi-studi tentang senirupa ketimbang, misalnya, yang sempalan. Siapa di antara teman-teman ini yang masih ingat dengan Citro Walyuo…? Dengan Sastro Gambar…? Kedua orang ini melukis di atas kaca, salah satunya adalah menggambarkan Petruk sedang mabuk di depan istana Mangkunegara. Tetapi, di atasnya itu ada pesawat terbang Jepang.”

Terkait argumen itu, Afrizal pun bertanya kepada Ugeng, “Jadi, karya-karyamu ini carangan dari kanon…?”

Ugeng diam sebentar, lalu menjawab bahwa karya-karya di pameran tunggalnya itu adalah usaha untuk “Berpikir tentang carangan. Bahwa kemudian aku bisa atau tidak, itu kayaknya…, itu: berolahraga dan berdoa. Terus-menerus berolahraga dan berdoa.”

Karya Ugeng T. Moetidjo yang menggunakan medium konte di atas kertas kardus, merekam beton-beton urban, dipamerkan di acara pameran tunggalnya yang bertajuk “Gambaur” (di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018).

Di sini, saya dengan serampangan mencoba mengaitkan gagasan itu dengan refleksi saya tentang kisah Luffy dan kawan-kawan. Saya sengaja memilih komik sebagai sempalan dalam tulisan ini karena saya teringat bahwa suatu kali ketika Ugeng meminjami saya sebuah buku komik tentang komik, pada saat itulah saya mulai paham logika montase pada gambar. Sebelumnya, saya selalu pusing tujuh keliling karena terombang-ambing oleh penjelasan Sartre di L’Imaginaire: Psychologie phénoménologique de l’imagination—dan buku ini, jujur saja, belum pula selesai saya baca. Di dalam buku komik tentang komik tersebut, ada bagian yang menyiratkan bahwa konsep susunan gambar pada manga (komik Jepang) adalah contoh yang cukup baik dan paling jelas dalam mengategorisasikan karakteristik-karakteristik tentang montase (yang digunakan dalam logika bahasa film).

Video di akun instagram Pingkan Polla (@pingkan.jpg) yang merekam Ugeng T. Moetidjo.

 

Sebenarnya, ini hanya usaha untuk mencari-cari pintu dan jendela agar saya bisa masuk ke dalam dan lebih mudah menjelajahi kompleksitas ruang polemik yang lahir dari diskusi kemarin. Mengingat pengalaman baca komik yang satu, lalu celetukan Ugeng, Otty, atau Hafiz yang itu, lantas isi diskusi yang entah kapan di masa lalu, kemudian sedikit kutipan dari bacaan yang terbaca sepintas lalu; semuanya saya coba kait-kaitkan bukan dalam rangka mencari kesimpulan, tapi hanya untuk mengingat. Bahwa, barangkali “carangan” yang dimaksud Ugeng juga bisa dipahami seperti saya memahami keberanian kru topi jerami ketika meledek Big Mom, atau keteguhan Luffy untuk menunggu sajian makan malam dari Sanji di Pulau Kue, atau perintahnya kapada Sogeking untuk membakar bendera pemerintah di pulau Enies Lobby. Semua itu adalah keputusan-keputusan yang menyimpang dari prosedur standar per-bajak-laut-an. Meskipun digambarkan sebagai sosok yang tidak bisa berpikir sedikit lebih pintar dan bijak, keputusan-keputusan itu diambil oleh si bajak laut bertubuh karet dengan penuh kesadaran bahwa ia tidak ingin ikut apa yang sudah dilakukan oleh generasi-generasi yang lebih tua. Karenanya, ia disebut sebagai salah satu tukang onar dari “Generasi Terburuk”. Tapi, cerita kru bajak laut topi jerami selalu membuahkan harapan tentang perubahan-perubahan baru di masa depan, walaupun perubahan itu tidak bisa diprediksi.

Generasi Terburuk sekarang tengah menantang para Yonko. Kalau kita mengamini generasi millennial seni di Indonesia ini sebagai generasi terburuk senirupa Indonesia, berarti kita harus berani menantang ketiga nama itu dan pegiat-pegiat segenerasinya. Tapi, sebagaimana bajak laut topi jerami, mereka menantang penguasa-penguasa laut dengan mencari dan mengumpulkan poneglyph yang menyimpan banyak kode tentang sejarah dunia yang hilang (dengan kata lain, mereka selalu mengelilingi lautan), sembari memupuk raga dan doa untuk meningkatkan Haki.

Mungkin saya harus banyak mengurangi aktivitas bermedia sosial, serta—meminjam istilah Afrizal Malna—mengurasi kata-kata. Saya juga harus lebih banyak berolahraga dan berdoa supaya bisa tahu apa itu carangan.

Charcoal punya Maria

Kesan: bentuknya seperti penghapus, teksturnya halus. Ketika disentuh, rasanya lebih kokoh, seperti memegang batu, bukan kayu.

Ketika digunakan, goresannya terasa lebih keras, dan lebih cepat menempel di kertas; ketika disapu atau diratakan, serbuknya tidak tersebar luas.

Saya sudah menggambar dua karya visual: sebuah ruang yang mengingat Dementia-nya Hafiz, tetapi rasanya gagal; satu lagi ialah potret Otty mencatat komentar-komentar millennial.

Cerita ini saya buat sebagai materi presentasi dalam diskusi #romanpicisan tanggal 1 Oktober 2018. #romanpicisan adalah kegiatan diskusi reguler yang diadakan di Forum Lenteng setiap hari Senin dan Selasa malam.

Di charcoal ini, ada tertulis kata warna putih: “Medium”.

Charcoal memang medium; medium untuk menciptakan visual. Dengan visual, kita bisa bercerita, tetapi menceritakan medium ini tak kalah sulitnya dengan menggoreskan tubuhnya di atas halaman kertas buku catatan harian saya.

“Mengingat Dementia-nya Hafiz” (Image © Manshur Zikri, 2018).

“Otty mencatat komentar-komentar millennial” (Image © Manshur Zikri, 2018).

Sebatang charcoal ini punya Maria, bukan punya saya. Tapi, sebagian serbuknya sudah jadi milik saya karena sudah melekat di dalam buku catatan saya, menjadi bahasa tutur saya.

PM Toh bilang, arti sebuah benda bisa kita ubah, tapi dengan syarat kita harus mengenalnya. Saya berkenalan dengan charcoal punya Maria dengan cara membuat gambar di buku catatan saya. Menggambar, atau membuat visual, adalah mengenal medium.

Saya dan Medium sudah berkenalan, dan cukup dekat. Dia ada di tangan saya, seakan lupa Maria, si pemilik sebelumnya, sebagaimana si Medium tadi sore juga dekat dengan Maria, melupakan pemilik aslinya.

Oh, iya! Hari ini, Medium sudah ke Pasar Minggu. Saya belum. Mungkin, nanti subuh atau besok sore, giliran saya yang akan mengajaknya berjalan-jalan ke Pasar Minggu.

Tentang berpindah

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel seorang blogger. Isinya manis. Saya mengunjungi blognya karena si penulis me-repost pernyataan saya tentang Feminisme di Instagram Stories. Akun Instagram kami memang saling mengikuti.

Kalau saya ingat-ingat, alasan saya mengikuti Instagramnya—kapan tepatnya saya mulai mengikuti, saya lupa—adalah karena perempuan ini berbasis di Yogyakarta dan—sebagaimana yang saya lihat di daftar follower miliknya—ia juga banyak mengikuti akun para pegiat kebudayaan yang saya kenal. Selain itu—lagi-lagi kalau saya tidak salah ingat—alasannya juga karena dia sempat terlibat kegiatan seni yang di dalamnya saya juga berpartisipasi. Atau bukan? Apa pun itu, tapi biasanya, saya memang akan mem-follow akun Instagram seseorang jika isi halaman akun miliknya menarik atau menggambarkan suatu aktivitas tertentu di daerah tertentu; gelagat ini semacam membaca peta. Alasan lainnya: untung-untung dapat teman baru. Alasan yang lebih konyolnya: supaya di-folback—alasan yang wajar-wajar saja, toh?

***

Pernyataan tentang Feminisme yang saya buat di Instagram Stories itu sebenarnya merupakan tanggapan saya pribadi terhadap kasus Jojo (Jonatan Christie, atlet Asian Games). Awalnya, saya ingin menganggap lalu saja kasus itu. Tapi, dua artikel di situs web Magdalene, yang mencoba menanggapi kehebohan itu dengan maksud membela kaum perempuan dengan/dari sudut pandang teoretik dan juga menegaskan sikap dan posisi kaum Feminis, mendorong saya untuk ikut berkomentar pula. Dalam komentar itu, saya pun turut membela Feminisme, tetapi berusaha mengutarakan pendapat sebagai jalan tengah. Intinya: kita harus menghindari hipokrisi dan hiperkritikal(itas); nyatanya, hipokrisi dan hiperkritik terhadap Feminisme masih menjadi gelagat umum dari orang-orang yang tidak menyetujui paham ini.

Pernyataan saya di Instagram Stories @manshurzikri

Ada banyak kampanye tentang kesetaraan gender yang menghimbau berbagai elemen masyarakat supaya mau dan tak segan-segan menyatakan dirinya berpaham Feminisme, terlepas apa jenis kelaminnya. Kesediaan yang didorong-dorong itu, mungkin, dianggap dapat mengakumulasi efek positif dari gerakan Feminisme kontemporer. Ketika kampanye-kampanye sejenisnya sampai ke telinga saya, kerap saya bertanya kepada diri sendiri: bersediakah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis?

Ketika saya masih kuliah di UI dulu, ada satu-dua orang teman bertanya: “Memangnya ada Feminis yang laki-laki?” Saya kurang tahu. Tapi, dalam kehidupan nyata, di lingkungan terdekat saya, saya melihat ada banyak laki-laki yang cara berpikirnya (dan kehidupan sehari-harinya) sangat mencerminkan gagasan-gagasan Feminisme meskipun mereka tak pernah menyatakan diri sebagai seorang Feminis. Jujur saja, dari merekalah saya juga banyak belajar tentang esensi dari ide dan gerakan tersebut, hingga hari ini, selain dari perempuan-perempuan yang (di mata saya) sangat Feminis tapi mereka tak ambil pusing dengan “gelar” itu—karena yang mereka utamakan adalah esensi keadilan bagi perempuan ketimbang mempublikasikan diri sebagai seseorang yang memegang Feminisme.

Di salah satu obrolan yang saya ingat, seorang teman saya berujar: “Kartini berbicara tentang kesetaraan karena melihat semuanya sebagai manusia; sudut pandangnya adalah sudut pandang kemanusiaan.” Saya menginterpretasi pendapat teman saya itu, begini: Keadilan adalah hal yang mutlak diperjuangkan dan diberikan kepada siapa pun, dan ini bukan semata soal mencari kesetaraan antara perempuan dan laki-laki saja; jika dunia tercipta tanpa adanya perbedaan itu pun, perjuangan mencari keadilan akan tetap ada. Artinya, yang menjadi penekanan dari pendapat teman saya itu, sebagaimana ia merujuk Kartini, ialah keadilan bagi setiap individu manusia, bukan lagi hanya persoalan di level tentang bagaimana gender yang satu bisa setara dengan gender yang lain.

Saya, jujur saja, tidak tahu (dan tidak yakin) apakah Kartini pernah berujar atau menulis pemikiran seperti itu. Jangan-jangan, itu hanya interpretasi teman saya saja terhadap pemikiran-pemikiran Kartini. Tapi, kalau memang benar Kartini pernah menerlukan gagasan itu, maka Kartini akan menjadi semakin keren di mata saya.

Tapi, bagaimanapun, gagasan tidak boleh melupakan konteks realitas; dan pada kenyataannya, “keadilan tanpa urusan gender” merupakan utopia; itu juga rentan menjadi cara pandang yang bisa menjebak kita kembali terjerat ke dalam dunia patriarki. Pendapat teman saya itu bisa saja dimanfaatkan oleh mereka yang, sadar tak sadar, mengamini kuasa kaum laki-laki terhadap perempuan. Pendapat semacam itu bisa saja juga menjadi pembenaran oleh patriarki untuk meredam kecerewetan para pejuang kesetaraan gender. Mengingat adanya kemungkinan itu, saya memilih untuk tak menyetujui pendapat teman saya sepenuhnya. Sebab, realitas tentang kaum perempuan yang selama ini bergerak memperjuangkan haknya di masyarakat, adalah fakta sejarah yang tak bisa dibantah. Seorang teman saya di Yogyakarta mengingatkan hal ini kepada saya beberapa minggu lalu ketika saya menemuinya di sebuah acara festival musik. Dengan kata lain, berbicara keadilan dalam konteks Feminisme memang tidak bisa dilakukan secara gegabah, apalagi dengan mengabaikan kenyataan bahwa gender yang disebut sebagai “perempuan” itu memang ada di kehidupan kita. Dalam konteks ini, keberpihakan menjadi hal yang penting. Perjuangan untuk kesetaraan gender, saya kira, akan gagal mencapai sasarannya jika tidak ada keberpihakan (terhadap perempuan).

Bersediakah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis? Alih-alih menjawab pertanyaan itu, saya punya pertanyaan lain: “Beranikah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis?”

Menjawab pertanyaan yang terakhir itu pun juga sangat sulit. Yakinkah saya bahwa Feminisme itu telah mendarah daging di tubuh saya ini? Jangankan saya, si orang yang tidak begitu menyelami dunia perjuangan perempuan ini, mereka yang sudah bertahun-tahun berjuang membela hak perempuan pun masih sering keliru menyerap dan menerapkan paham Feminisme. Itu yang sering saya lihat. Yang terjadi malah bumerang: bukannya membuat situasi menjadi baik, tingkah pongah dari beberapa orang yang telah mengaku sebagai Feminis itu tidak jarang malah melipatgandakan misogyny. Padahal, apa yang saya yakini adalah, Feminisme tidak bekerja dengan seruntulan, apalagi dengan kesombongan.

Jadi, terlepas apakah saya bersedia atau tidak, berani atau tidak, menyatakan diri sebagai seorang Feminis, sementara ini saya cenderung untuk meyakini bahwa Feminisme adalah sebuah paham yang akan mengantarkan masyarakat kita ke kehidupan yang lebih baik dan adil. Feminisme bukan semata teori, tapi ia layaknya sebuah keyakinan atau falsafah hidup yang menolak ketidakadilan dalam bentuk apa pun. Dan karena esensinya adalah kebaikan, maka tak ada alasan bagi saya untuk meragukan Feminisme. Kekeliruan-kekeliruan yang kerap terjadi dalam penerapan paham Feminisme, sebagaimana kekeliruan dari beberapa orang yang sering saya temui di kehidupan sehari-hari, adalah sebuah kewajaran. Bukankah sabda-sabda Nabi pun juga sering disalahartikan oleh umatnya? Apalagi Feminisme yang hanya ciptaan manusia biasa?

Yang menjadi penting di sini justru usaha untuk mendalami paham Feminisme itu setepat-tepatnya. Usaha itulah yang kemudian layak dinilai—dan di tingkat itu, ia menjadi persoalan moral. Tatkala semua orang berusaha mendalami Feminisme dalam rangka mencari esensinya, hipokrisi dan hiperkritikal (baik dari pihak yang mengaku Feminis maupun dari pihak yang meragukan Feminisme) akan dapat kita hindari; dan menghindari hipokrisi sekaligus hiperkritikal itu, menurut saya, adalah salah satu cara untuk mengurangi pertikaian. Bukankah begitu?

***

Artikel si blogger yang saya baca itu berkisah tentang “berpindah”—ruang, fisik, dan rasa. Di dalamnya, tersirat pula suatu refleksi tentang apa yang pada akhirnya tetap tinggal, juga tentang yang ditinggalkan, dan yang dibawa pergi. Semuanya mengalir sebagai kenangan yang bercampur pengalaman-pengalaman baru, di dalam ketersalinghubungan minat kultural yang dimiliki sebuah pasangan. Dapat diduga, tulisan itu adalah kisah nyata si blogger—sebagaimana dua buah foto yang terpampang di akhir tulisan itu. Kalau pun bukan, kuat saya meyakini itu terinspirasi dari pengalaman—entah milik ia si penulis atau teman/kerabatnya—yang benar adanya. Si blogger mengartikulasikan refleksinya itu dengan cukup jenaka.

Kisahnya itu memancing saya untuk mengingat-ingat sebuah puisi yang pernah saya buat mengenai Waktu. Bahwa, Waktulah yang paling ber-maha-kuasa selain Tuhan. Waktu bisa membuat apa yang pergi mendatangkan kebaruan; apa yang menyesalkan melahirkan pembelajaran.

Tadi malam, saya dan beberapa teman berbincang hingga larut tentang perasaan. Di antara kami, ada yang berusaha tidur karena sedang ditekan—atau menekan—perasaannya sendiri. Sebenarnya, bisa dibilang bahwa teman saya itu sudah berhasil “pindah” dari tekanan yang lebih lampau, tapi sepertinya pengalaman terbaru yang ia hadapi sekarang tak kalah merisaukan hatinya. Tidak sekali saya menggoda teman saya yang tengah berusaha tidur itu, dengan berkata: “Ceritalah!” Tapi dia menolak.

Teman saya itu memang sedang gundah gulana; dan gundah gulananya menyebabkan sebuah perubahan tindak-tanduk, karakternya sedikit “berpindah” dari keadaan yang biasanya. Itu semua saya simpulkan karena saya menyimak Instagram Stories miliknya. Betapa layar berdurasi 15 detik itu kini menjadi rupa-citra baru bagi orang-orang kontemporer yang saya kenal.

Dahulu Facebook—sebelumnya Friendster—kini Instagram. Tentu bukan mutlak pada tiga platform media sosial itu saja; orang lain mungkin punya pilihan yang berbeda. Misalnya, ada orang yang dulu gandrung Myspace—sedangkan saya tidak begitu meminatinya sejak dulu—sebelum mereka benar-benar meninggalkannya; atau sekarang ini, ada banyak teman saya yang mulai kembali berpindah ke Twitter. Saya pribadi lebih senang untuk tetap menjadikan WordPress sebagai ruang ekspresi utama—meskipun jarang membukanya belakangan ini—dibandingkan dengan platform media sosial lainya, yang begitu banyak jenisnya itu. Di internet, nyatanya, semua orang juga punya banyak pilihan untuk “berpindah” ruang, fisik (artifisial), dan rasa.

Saya juga harus mengingatkan diri sendiri: saya harus segera pindah. Sebab, semut-semut hitam mulai berjalan-jalan lagi di sebelah kotak putih saya—“Oh, saya sebenarnya sudah ‘berpindah’ ke kotak kuning!” Tapi, apakah sekarang saya mesti berteriak sekali lagi seperti dulu: “Hoi, tebing yang ingin kau panjat masih menunggu, ayo kembali ke rencana semula!” …? Geli juga, rasanya.

Sedetik lalu, saya jadi ingat—dan sekarang mulai bertanya-tanya juga—apakah si jurnalis sang pujaan hati itu sudah “berpindah” pula demi menghindari induk semangnya yang—katanya—menyebalkan? Lagian, di sana ada kamera CCTV, bayangkan saja?! Dan apakah ia juga sudah benar-benar “pindah” dari masa lalunya yang memberatkan, karena bukankah ia—sepertinya—sudah mulai banyak membaca literatur-literatur Feminis? Seandainya “Jalan Damai” bukan semata nama sebuah jalan, tetapi lintasan sungguhan yang bisa dilalui oleh orang-orang yang sulit “memindahkan diri” dari hal-hal yang memberatkan. Betapa masygul, jika niat baik sebuah hubungan terpaksa dihentikan karena adanya keengganan untuk “berpindah” keyakinan dan adat.

Meskipun saya sendiri memilih untuk percaya bahwa kedua hal yang saya sebut terakhir di atas bukanlah sesuatu yang perlu dipindah-pindahkan, juga bukan suatu tempat di mana kita bisa saling memindahkan diri, keberanian untuk menerabas cara pikir umum memang bukanlah sesuatu yang mudah dicerna; dan memindahkan cara berpikir khusus ini ke semua orang adalah hal yang paling tidak mungkin. Jadi, ada kalanya orang memutuskan untuk menetap, enggan berpindah, karena satu atau lebih musabab.

Nah, tentang saya sendiri: saya memang harus segera berpindah, sepertinya. Saya pikir, “berpindah” mungkin adalah cara terbaik untuk tetap sadar. Bukankah sebuah garis di atas kertas tak akan tercipta jika ujung alat tulis tidak berpindah dari satu titik ke titik yang lain…? Feminisme pun begitu, ia berpindah dari satu fase ke fasenya yang baru, meninggalkan kekurangan di masa lampau, mencari kelengkapan di masa dan cara yang baru, agar tidak disalahmengerti oleh dunia.

Selain itu, “berpindah” juga bisa menjadi manifestasi untuk tetap dapat mengelola rasa. Apa kiranya yang akan dipikirkan oleh teman-teman saya tadi malam, jika saya mengucapkan kalimat ini? Iya, kan? Berpindah…? Hm…!?

Dari sebuah sajak yang saya baca tadi pagi

Arundhati Roy

Teks ini ditulis pada pagi hari, 3 Agustus 2017, pukul 09:55. Kira-kira lima menit yang lalu, saya berbagi cerita kepada Asti yang baru saja datang dari rumahnya ke sini, markas Forum Lenteng. Saya sedang duduk di depan meja panjang, di teras belakang, bersiap-siap menghadap layar laptop untuk mengetik… apa saja yang ingin diketik.

“Gue dapet sajak bagus!” saya berseru.

“Apaan?!” Asti menanggapi.

Saya membuka buku Arundhati Roy, The Ministry of Utmost Happiness, sebuah buku yang saya pilih untuk dibaca dalam beberapa waktu ke depan. Buku terbitan Penguin Books itu kebetulan saya beli dengan uang sisa perjalanan ke London dua bulan lalu (28 Mei – 13 Juni), di salah satu toko buku di bandara Heathrow, ketika akan pulang ke Jakarta. Setelah menemukan sajak yang saya maksud, di halaman ke-44 buku itu, saya menyodorkannya kepada Asti—dia cukup antusias.

Melafalkannya dengan bibir yang bergerak tanpa suara, dia membaca sajak itu, yang tertulis begini:

Fisey ishq ka tiir kaari lage
Usey zindagi kyuun na bhari lage

For one struck down by Cupid’s bow
Life becomes burdensome, isn’t that so?

‘Karena satu hujaman panah Dewa Asmara, hidup jadi memberatkan, bukankah begitu?’ celetuk Wali Dakhani, si Penyair Cinta (dan disebut-sebut sebagai Bapak-nya puisi Urdu), lewat salah satu ghazal-nya.

Menurut pendapat saya pribadi, sajak itu pastinya bisa menyentuh perasaan siapa pun terkait pengalaman-pengalaman yang dirasa “memberatkan”, terutama soal asmara. (Anjaaay…!). Tapi, yang justru lebih memancing decak kagum saya secara pribadi ialah, sajak yang dikutip Roy tersebut bukan hanya mengingatkan kita untuk segera menyadarkan diri dari kemurungan yang sia-sia, tetapi juga menambahkan satu informasi lain: orang-orang yang memiliki pikiran kultural, seperti Roy ataupun Wali, mempunyai ketangguhan yang khas dalam menawar luka kemanusiaan. Dalam waktu yang bersamaan, mereka memiliki kebijaksanaan yang sungguh memukau dalam memaknai luka itu, yaitu dengan menarik satu atau lebih konteks persoalan sejarah dan geopolitik, sehingga luka yang mereka coba maknai kemudian menjadi cermin bagi kita dalam mengoreksi ketidakadilan global. Saya jadi teringat cerita Otty tentang ketangguhan dan kebijaksanaan yang sama, yang juga ada di dalam diri orang-orang seperti Nina Simone dan (yang lebih kini) Erykah Badu. Semuanya tiba-tiba menjadi saling terkait, persis seperti pepatah Lulus Gita: yang perlu kita lakukan adalah connecting the dots.

Meskipun saya belum tuntas membaca novel kedua dari si penulis The God of Small Things (1996) yang terkenal ini (dan saya malah belum membaca sama sekali novelnya yang pertama), saya sudah bisa menduga-duga rasa dari “modus kecanggihan sastrawi” yang konon, oleh para pengamat sastra, sering dilekatkan pada Roy saat menganalisa karya dari pemenang Man Booker Prize for Fiction ini: gaya tuturnya sangat khas karena sarat komedi sekaligus tragedi; novel Roy dengan unik menggunakan bahasa Inggris yang dikonstruk lewat logika si pengarangnya sendiri (bukan sebagaimana logika literatur Inggris lainnya—saya mendengar tentang hal ini dari Otty, tapi jujur, saya belum terlalu memahami konteks tersebut). Roy juga sering menyematkan sejumlah adegan penanda terkait isu-isu atau peristiwa-peristiwa aktual yang lebih luas cakrawalanya daripada dunia di dalam latar cerita yang ia ciptakan (—yang ini selalu menjadi karakteristik para pengarang besar, tentu saja). Semua aspek itu dirangkai Roy lewat kalimat-kalimat yang luar biasa tampil sederhana, bukan dengan kalimat-kalimat yang keindahan permainan kata-katanya dilebih-lebihkan sebagaimana gaya penceritaan yang kita temukan di dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Sajak Wali yang Roy kutip itu, sebagai contoh, hadir di dalam cerita, tentunya, bukan asal kutip hanya karena kata-katanya indah atau menarik. Seperti yang bisa kita telusuri, Urdu adalah salah satu bahasa resmi Pakistan, negara yang bersiteru dengan India. Ahmedabad adalah kota terbesar (dan ibukota di masa lampau) Gujarat, lokasi di mana Wali menutup usia. Tahun 2002, di Gujarat terjadi kerusuhan besar—sering diistilahkan sebagai peristiwa Godhra train burning. Di dalam ceritanya, Roy menyebut bahwa Gujarat adalah kota yang dikunjungi Anjum (tokoh di dalam cerita) setelah perjalanannya ke Ajmer, kota kelahiran Jahanara Begum (salah satu putri Kerajaan Mughal)—menariknya, ibu Anjum juga bernama Jahanara Begum. Tapi Roy juga sempat mengaitkan latar cerita tersebut dengan peristiwa penyerangan 11 September 2001 di New York yang memicu fear of terrorism, yang meningkatkan sentimen keagamaan secara global; dengan menyinggung ini, Roy seakan menawarkan refleksi bahwa jangan-jangan, kerusuhan global memang terjadi karena dramatization of evil (model teoretik yang dicetuskan oleh Frank Tannenbaum, Bapaknya Teori Labeling, dalam menjelaskan sebab-musabab terjadinya peristiwa kejahatan, yang dari segi tertentu ternyata dipicu oleh psikologi massa. Istilah ini sering saya dengar di masa kuliah Kriminologi di UI dulu).

Dapat kita lihat, dengan kata lain, ada keterkaitan peristiwa sejarah dan geopolitik kontemporer yang signifikan, yang Roy rekam sebagai latar kisah di novelnya ini.

Mengingat bahwa cerita Roy, sejauh bab yang sudah saya baca, adalah tentahg Hijra—transgender—yang mengafirmasi kehidupan, kutipan sajak Wali di situ seakan menjadi sebuah celah tipis bekas sayatan tajam di atas helaian sutra; yang disayat dengan kesadaran penuh oleh orang-orang marjinal yang berjuang dalam suatu pergumulan yang esensinya, sepertinya, tak akan pernah dapat kita— “orang-orang bukan marjinal”—pahami dengan utuh jika kita tidak berhasil meletakkan diri dalam suatu mode empatik paling tinggi dari yang tertinggi.

“…hidup jadi berat, bukankah begitu?!”

Ya, memang benar-benar berat tatkala kita hanya berpangku-harap pada keajaiban mitos-mitos dan lupa merasakan pengalaman paling nyata. Saya pun rasa-rasanya jadi agak paham, bahwa orang-orang marjinal-lah yang paling mengerti dan paling bijak menyikapi kejamnya kehidupan karena mereka begitu terlatih—karena sepanjang hidupnya—mempelajari kenyataan dunia kita yang sebenarnya, tanpa henti sedetik pun. Beratnya hidup bukan lagi persoalan yang berat buat mereka. Sedangkan bagi kita, para mayoritas, yang kerap kali lupa dengan polemik dunia, biasanya hanya berharap tanpa juang, dan semata manut-manut saja dengan keadaan, serta mengeluh-kesah jauh lebih sering daripada mereka yang berhak.