All posts filed under: Resensi

Menemui Lagi Siti

TULISAN INI TERPICU dari ketidaksetujuan saya atas pendapat Panji Wibowo yang mengatakan bahwa Siti (2014), karya Eddie Cahyono, adalah “sebuah parodi getir dari kebanyakan fil[e]m-fil[e]m Indonesia yang masih terjebak dalam konsepsi moral baik-buruk.”[1] Justru, Siti-lah satu di antara kebanyakan filem-filem itu. Siti mencubit paha orang, tetapi lupa mencubit pahanya sendiri. Siti memenangkan beberapa penghargaan nasional dan internasional.[2] Prestasi itu memicu gerakan tagar #SitiMasukBioskop[3] demi kampanye keadilan bagi statusnya sebagai “filem nonbioskop”,[4] serta menyeret cukup banyak opini dari kalangan perfileman sendiri yang menilai positif kualitas filem tersebut. Tulisan ini hadir sebagai kritik penyeimbang dalam rangka membuka perdebatan sehat tentang Siti. Siti mengamini praktik subordinasi sekunder terhadap perempuan karena menyiratkan bahwa perempuan barulah dianggap istimewa jika mampu berperilaku di luar ranah gendernya. Hal pertama yang perlu kita perhatikan ialah Siti bukan “narasi tentang kekuatan” sebagaimana pendapat Hikmat Darmawan. Tiada mengedepankan keberpihakan terhadap perempuan, Siti melanggengkan kedangkalan berbahasa yang telah puluhan tahun menjangkiti industri perfileman kita. Siti memang “tak hendak menyajikan perempuan sebagai korban,”[5] tapi ia mengorbankan perempuan itu sendiri. Dalam hal ini, Eddie gagal meloloskan diri dari dua …

Membaca Gus Dur di Rumah Parungkuda

Wah, nyaman sekali menikmati pagi seperti ini. Hari ini adalah sebuah prestasi. Tadi malam, saya berhasil untuk tidak larut malam. Pukul sembilan lebih sedikit, saya sudah terlelap. Saya bangun pagi pukul enam. #asyek Pagi ini saya di rumah Ageung. Di rumahnya, ada sebuah kamar kecil di atas loteng, dan di sanalah saya tidur jika menginap di rumah Ageung. Ibu Ageung (dan Ageung sendiri, tentunya) biasanya menganjurkan saya untuk menginap barang semalam dua malam di rumahnya jika datang bersilaturahmi. Udara di Parungkuda jelas berbeda dengan Depok, dan bangun pagi di Kampung Sawah itu lebih nikmat dibanding Kutek. Sementara Ageung diomelin oleh ibunya karena gagal membantu membuat kue karena sudah terlanjur ketiduran di dalam kamarnya sendiri, tadi malam itu saya sibuk membaca buku kumpulan tulisan Gus Dur. Saya tertidur ketika selesai membaca sebuah tulisan yang berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”. Tulisan itu benar-benar mencerahkan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang pro-kontra kerudung yang semakin hari semakin ruwet dan sikut-sikutan antara yang mengkampanyekan hijab dan yang sinis terhadap hijab. Gus Dur, tokoh intelektual pecinta damai ini memaparkan pandangan obyektif …

YORICK: Cemoohan dari Jalan Sepuluh Selatan

Dalam “Yorick”, kita tidak menemukan keseluruhan delapan unsur yang dijabarkan oleh Linden Peach. Akan tetapi, konsepsi tentang kejahatan sebagai bentuk cemoohan terhadap modernitas sangat menonjol pada tiga unsur, yaitu unsur mengkriminalisasikan modernitas (criminalizing modernity), citra terbalik (the inverse image) dan pembagian wilayah desa-kota (a divided countryside).

Sekali Peristiwa di Banten Selatan: semangat gotong royong, keberanian, dalam mencari kebenaran!

“Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar; Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran itu tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar…” — Pramoedya Ananta Toer. Kalau sudah melihat buku Pram, apakah itu milik teman atau di perpustakaan, biasanya saya akan tergoda untuk membacanya. Akan tetapi, untuk buku yang satu ini, saya begitu tergoda ketika melihat kutipan di atas, yang tertera di belakang cover buku. Tentang kebenaran, yang harus diperjuangkan.