All posts filed under: Dari Parungkuda

Bagian Kampung Sawah

Originally posted on dariwarga:
Senang dan bahagia sekali rasanya! Akhirnya, proyek [cetak]dariwarga yang pertama rampung juga. Meskipun belum sampai pada proses cetak, namun buku yang diberi judul “Bagian Kampung Sawah” ini sudah ada versi E-Book nya, lho! Hehehe… Desain sampul Buku Bagian Kampung Sawah (Proyek jurnalisme warga: [cetak]dariwarga) Proyek ini sudah sempat diserukan oleh Zikri di blognya, dengan postingan berjudul “Proyek [cetak]dariwarga“, yang sedikit banyak menjelaskan konsep serta maksud dan tujuannya. Sedikit bocoran, isi buku ini adalah kumpulan tulisan gaya jurnalisme warga, yang sudah pernah dimuat di dalam blog ini. Aku, Zikri dan Alit mencoba menyeleksi beberapa karya tulisan kemudian mengkurasinya menjadi sebuah buku. Terimakasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Uda Riosadja, yang sudah bermurah hati menyulap foto sederhana hasil jepretanku di suatu siang menjadi sampul buku yang sangat menarik. Tanpa bantuannya, tentunya buku ini tidak akan pernah rampung (soalnya, Zikri juga belajar banyak kepada Uda Rio mengenai dasar-dasar tata pengaturan layout dengan menggunakan Adobe InDesign). Untuk Zikri dan Alit, juga terimakasih, ya!. Sebab, atas dorongan mereka berdua, semangatku untuk membuat buku ini (yang sempat tertunda…

Proyek [cetak]dariwarga

fokus saya lebih banyak menekankan pada ritual-ritual yang menjadi kenangan dalam keluarga Ageung, seperti acara selamatan keluarga, santai sore hari di rumah tetangga (yang sebenarnya juga anggota keluarga Ageung), pengalaman-pengalaman bermain-main di sekitar rumah, serta kenangan-kenangan manis lainnya di keluarga Ageung.

Buruh Orasi di Bojongkokosan

Pada artikel berjudul Akan Orasi di Bojongkokosan, saya sempat berjanji akan memuat artikel lanjutan mengenai demonstrasi buruh di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Saya dan Ageung membuat sebuah tulisan mengenai peringatan Hari Buruh Internasional yang dilakukan di Bojongkokosan, dan dimuat di website akumassa dengan judul Sedikit Cerita tentang Serikat Buruh di Parungkuda, pada tanggal 2 Mei 2013. Tulisan ini sedikit banyak adalah hasil buah pikir Ageung sementara saya menyumbangkan buah pikiran melalui diskusi dan saran-saran mengenai bentuk kerangka atau kemasan tulisan. Ageung juga memuat artikel ini di blognya. Berikut saya post artikelnya. Silahkan dibaca, tanggapi, dan sebarkan! #asyek —————-***—————- Sabtu, 27 April 2013, ketika menuju kamar kecil, aku melihat ada banyak selebaran pengumuman ditempel di dinding-dinding bagian dalam gedung pabrik tempatku bekerja, di PT. Nina Venus Indonesia, Jalan Angkrong, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Isinya adalah pemberitahuan tentang pergantian hari libur untuk buruh pabrik. Semua buruh di PT. Nina diwajibkan masuk kerja pada tanggal 9 Mei, yang merupakan hari libur nasional, sebagai pengganti hari tidak masuk kerja pada Hari Rabu, 1 Mei 2013. Bagi pihak perusahaan, May Day seharusnya bukan …

batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama. Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya. Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi …

akan orasi di Bojongkokosan

Siang, Hari Kamis, 25 April 2013, melalui ponsel Ageung bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dari pabrik PT. Nina 1 di Jl. Angkrong, Parungkuda. Katanya, tanggal 1 Mei tidak masuk kerja karena para buruh akan memperingati Hari Buruh Sedunia. “Kami akan berkumpul di Monumen,” kata Ageung. “Kamu ingat taman yang pernah kita kunjungi bersama Fajar dulu itu, kan?” “Oh, iya… aku ingat!” jawabku. “Buruh-buruhnya akan berorasi di sana?” “Iya, kalau kamu bisa datang ke Parungkuda, kita ke sana, yuk?! Kita bisa tulis peristiwa itu.” “Boleh juga, tuh! Lumayan cari isu tentang May Day yang baru, gak melulu di Jakarta.” Lokasi yang dimaksud Ageung adalah Monumen di Bojongkokosan, sebuah desa di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di taman tersebut, kalau saya tidak salah ingat, terdapat dua monumen. Monumen pertama adalah 5 patung pejuang yang disebut Monumen Palagan. Pada sebuah artikel di blog bernama pecintawisata, dijelaskan tentang monumen tersebut: “Di Monumen Palagan, terdapat 5 patung pejuang. Tepat di tengah-tengah, patung pejuang yang dengan bangganya memegang sang saka merah putih. Di sebelah kiri, patung pejuang yang menyerbu dengan menggunakan …