All posts filed under: Pengalaman

Peraga

Senin sore hari, 22 April 2013, sepulang dari tempat service laptop, saya mampir ke kampus. Kebetulan, waktu itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) mengadakan acara pembukaan Peraga 2013. Peraga adalah singkatan dari Pekan Olahraga. Saya sudah mulai jarang datang ke kampus sehingga tidak begitu mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga mahasiswa. Biasanya, kegiatan-kegiatan di kampus FISIP UI selalu “terdengar”. Di tahun ini, nuansa heboh itu sedikit berkurang. Selain acara Pekan Komunikasi yang telah ditutup beberapa hari lalu, pembukaan acara Peraga 2013 adalah kegiatan mahasiswa FISIP UI kedua yang saya lihat secara langsung. “Lo hadirnya kalau di Takor doang sih, Bang!” ujar salah seorang mahasiswa. “Jadi gak tau apa-apa aja yang udah diadain di FISIP.” Ya, jelas saja! Mana mungkin saya menghadiri satu per satu kegiatan mahasiswa yang jumlahnya begitu banyak? Badan saya cuma satu. Namun, saya tetap mengeluh bahwa aktivitas mahasiswa di FISIP UI, di tahun ini, memang terasa sangat kurang (tapi bukan berarti tahun-tahun sebelumnya lebih baik dari tahun ini). Masalah utama yang selalu saya …

Santapan Dadakan di Tengah Bosan Hari Ini

Tadi sore, sekitar pukul tiga, saya benar-benar merasa bosan. Bagaimana tidak, dari awal menjadi mahasiswa baru, kegiatan acara yang disuguhkan oleh lembaga-lembaga mahasiswa di kampus saya selalu begitu saja, tidak ada nuansa baru yang menarik hati. Jengah berada di dalam ruangan yang mulai gerah karena banyaknya penonton—saya sendiri bingung mengapa acara semacam TRIVIA, semacam kompetisi layaknya cerdas-cermat berkelompok, masih diminati oleh mahasiswa untuk ditonton, padahal acara tidak menghibur jika diulang-ulang (jelas ini hanya pendapat pribadi saya)—saya memutuskan untuk pergi menuju taman di depan Gedung MBRC (yang dikenal dengan nama Plasa oleh warga kampus FISIP UI), duduk sendiri, bermenung dan menghela-hela napas: bosan. Baru beberapa detik setelah saya memutuskan untuk segera berangkat menuju Forum Lenteng—lembaga riset independen tempat saya beraktivitas di luar kampus—tiba-tiba seseorang memanggil saya. Orang itu adalah Bang Jaka, salah seorang teman di Forum Lenteng. Tentu saja saya kaget, mengapa dia berada di kampus FISIP UI. “Gue jadi pembiacara,” katanya. “Acara Bioskop Sosio.” Saya lantas teringat bahwa minggu ini Jurusan Sosiologi memang sedang mengadakan acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa-nya yang cukup menarik (setidaknya …

Terang Bukan Kenangan

‘terang’ yang didambakan oleh Kartini bukan lah sebuah kenangan masa lalu, melainkan sesuatu yang memang harus kita perjuangkan. ‘Terang’ itu beriak-riak di masa sekarang, dan harus kita ramu untuk menjadi terang yang sesungguhnya di masa datang. Mungkin, Kartini tidak akan pernah tahu. Akan tetapi saya berani berkata, ‘terang’ Kartini adalah sebuah masa depan yang pasti akan datang, ketika kita bisa memahami esensi dari perjuangan sang tokoh yang berhasil memperkenalkan Batik Jepara ke seluruh jagat raya ini, lantas melakukannya dalam sebuah wujud aksi yang konkret tanpa banyak kata.

Berantas Semut Penjalar Kotak Rokok

Yang menjadi masalah setiap mahasiswa (umunya laki-laki) yang jauh dari orang tua adalah: hidup tidak teratur dan berantakan. Itu semua tercermin dari keadaan kamar kosannya: Kamar penuh sampah, barang-barang berserakan di mana-mana, kamar mandi tidak pernah dikuras sehingga bau semerbak menyebar ke mana-mana. Singkatnya: kotor di mana-mana. Mahasiswa yang baik adalah mereka yang sadar akan ketidakteraturan mereka, dan mau beranjak dari tempat tidur untuk berbenah diri: mulai untuk hidup teratur lagi. Maka bergerak lah ia dengan beberapa langkah: 1. Semua yang berbau dan kotor diangkat keluar (khusus untuk tempat tidur yang sudah penuh dengan semut). Semut-semut ini harus diberantas, karena dia aktor penting peganggu tidur di malam hari… …dan ke sini lah hal-hal yang berbau itu ditempatkan: TARAAAAA….: genteng! 2. Kemudian membuang semua sampah-sampah yang lain, merapikan barang-barang dengan meletakkannya ke tempat yang layak. Begini lah kira-kira: kardus-kardus mulai dirapikan… kamar mandi mulai dibersihkan (yang terpenting, ketersediaan air. Cukup sudah merana tak ada air karena bak-nya kotor). Begitulah. Semua itu aku lakukan selama lebih/kurang empat jam. Hasilnya, kamar yang bersih lagi nyaman untuk siap-siap akan …