limabelas

Ageung

image

Ageung sedang bergembira di kala jeda kegiatan workshop akumassa bernas

Padahal baru satu minggu. “Udah berasa satu bulan tau!” keluh Ageung.
Suaranya dari seberang sana melalui piranti komunikasi ini benar-benar membuat saya tak berdaya menahan keinginan untuk segera berjumpa. Hahaha! Tak sabar, rasanya, saya ingin segera bermain dan bergembira lagi, terutama keliling warung mi ayam buat mengumpulkan narasi-narasi kecil warga tentang peristiwa dari rasa di lidah ke hasrat berbagi cerita; dari si penjual hingga para pembeli. Ah, ada banyak project dan ide-ide yang seru dan menarik, deh, yang menanti di Parungkuda. Tapi, tentunya yang paling membuat rasa rindu ini semakin tak tertahan ialah tak lain Ageung-nya sendiri. Hahaha!

image

Ageung

Ah, cantik dan manisnya…! I love her sooo much! Hahaha!

one of best moments

Proyek [cetak]dariwarga

Semakin hari, saya semakin semangat mengerjakan proyek [cetak]dariwarga bersama Ageung. Bukan hanya kami berdua, Aliet, adiknya Ageung, yang sekarang menempuh pendidikan guru di Balikpapan, juga terlibat dalam proyek ini.

Awalnya, kami hanya berniat menyalurkan hobi menulis dan kemudian memuatnya di blog dariwarga. Sebenarnya, dariwarga itu blog-nya Ageung. Beberapa kali Ageung meminta saya untuk menulis. Tulisan berjudul “Cerita Di Belakang Warung Bordir” merupakan salah satu tulisan panjang saya di blog itu.

Saya sangat senang membaca tulisan-tulisan Ageung tentang peristiwa-peristiwa yang ia alami atau cerita-cerita yang ia miliki di sekitar rumahnya di Parungkuda. Setelah diamati lebih jauh, ternyata tulisan-tulisan Ageung memiliki sebuah benang merah yang cukup menarik. Tema-tema tulisannya—seperti yang pernah didiskusikan juga di akumassa, dalam rangka mengkurasi tulisan-tulisan di website akumassa.org untuk program penerbitan buku kumpulan tulisan akumassa oleh Forum Lenteng—tidak pernah lepas dari fenomena pabrik, teknologi piranti mobile dan internet, serta dampak dua faktor itu kepada kehidupan masyarakat di sekitar Kampung Sawah, sebuah wilayah tempat berdirinya rumah Ageung.

Namun, fokus saya sedikit berbeda dengan apa yang dilihat oleh akumassa mengenai tulisan Ageung. Akumassa lebih melihat bagaimana keberhinggapan tekonologi (mobile dan internet) pada masyarakat di Parungkuda, melalui kaca mata Ageung, memiliki kesalingkaitan dengan kultur masyarakat pabrik. Sedangkan fokus saya lebih banyak menekankan pada ritual-ritual yang menjadi kenangan dalam keluarga Ageung, seperti acara selamatan keluarga, santai sore hari di rumah tetangga (yang sebenarnya juga anggota keluarga Ageung), pengalaman-pengalaman bermain-main di sekitar rumah, serta kenangan-kenangan manis lainnya di keluarga Ageung. Semua ritual-ritual itu, tentunya, juga tidak lepas dari obrolan tentang pabrik dan hadirnya teknologi piranti mobile dan internet ke dalam kehidupan keluarga Ageung, terlebih lagi setelah Ageung memiliki sebuah kamera pocket yang dibeli dengan uang hasil tabungan kami berdua. Teknologi kamera itu menjadi medium utama bagi Ageung untuk merekam ritual-ritual tersebut.

Dengan terkumpulnya tulisan-tulisan itu, juga tulisan-tulisan Aliet tentang kenangan-kenangan yang ia miliki di Parungkuda (yang gaya tulisannya juga sangat terinspirasi oleh gaya tulisan Ageung), saya dan Ageung sepakat untuk membuat sebuah buku kumpulan tulisan, yang akhirnya menjadi proyek [cetak]dariwarga.

Isi buku kumpulan tulisan ini dikurasi oleh Ageung dan saya secara bersama-sama. Secara khusus, saya berperan sebagai editor dalam proses pembuatan buku ini sementara Ageung dan Aliet membuat tulisan-tulisannya. Ageung juga mengambil banyak foto di sekitar rumahnya: bangunan-bangunan, barang-barang, orang, dan peristiwa-perisitwa yang ada di dalam dan di sekitar rumah. Proyek ini sudah kami mulai secara serius sejak Bulan April, dan bukunya masih dalam proses penyuntingan.

Dalam mengkurasi tulisan-tulisan Ageung dan Aliet—hanya ada satu tulisan saya, ditaruh di awal, menjadi semacam pengantar—yang isu dari masing-masing tulisan masih terpisah-pisah, saya dan Ageung sepakat untuk menyelipkan sebuah percakapan yang menjadi jembatan antara satu tulisan ke tulisan yang lain, dan demikian juga untuk foto-fotonya. Foto-foto itu berguna sebagai ilustrasi, dan ada juga serangkaian foto yang berdiri sendiri sebagai esai di luar tulisan yang ada. Dalam mengemas kumpulan tulisan dan foto ini menjadi sebuah bangunan yang, sedikit-banyak, mengandung nilai cerita (bersifat naratif), pada percakapan-percakapan itu juga saya cantumkan obrolan mengenai proses pengerjaan proyek ini sehingga kedekatan antara saya, Ageung, dan Aliet [memang disengaja] ditonjolkan. Dalam dokumentasi foto-foto, kedekatan antara Ageung dan keluarganya juga ditonjolkan. Dengan kata lain, buku ini menjadi semacam dokumentasi keluarga Ageung, dan saya juga hadir di dalamnya sebagai teman dekat Ageung yang sering bermain dan menginap di rumahnya.

Menyunting sebuah buku, ternyata, tidak semudah yang saya pikirkan sebelumnya. Menggunakan perangkat lunak Adobe InDesign membutuhkan ketelitian yang super hati-hati. Mengemas tata letak (layout) juga susah, ternyata. Dengan modal insting dan perasaan saja, saya mencoba-coba untuk berkreasi dalam mengatur penempatan tulisan dan foto-fotonya. Sejauh ini saya masih belum menemukan masalah, ya, meskipun jika dilihat-lihat lagi, gaya saya dalam mengatur tata letak isi buku masih sangat kaku. Hahaha!

Masih ada beberapa tulisan lagi yang harus saya sunting dan diatur ke dalam bukunya. Saya juga masih menunggu foto-foto baru dari Ageung. Doakan saja, semoga proyek buku kumpulan tulisan ini rampung, dan blog dariwarga dapat menerbitkan (self-publishing) tulisan-tulisan versi cetak pertamanya. Amin!

Ayo, Ageung, Aliet, tetap semangat! #asyek

Membaca Gus Dur di Rumah Parungkuda

Wah, nyaman sekali menikmati pagi seperti ini. Hari ini adalah sebuah prestasi. Tadi malam, saya berhasil untuk tidak larut malam. Pukul sembilan lebih sedikit, saya sudah terlelap. Saya bangun pagi pukul enam. #asyek

Pagi ini saya di rumah Ageung. Di rumahnya, ada sebuah kamar kecil di atas loteng, dan di sanalah saya tidur jika menginap di rumah Ageung. Ibu Ageung (dan Ageung sendiri, tentunya) biasanya menganjurkan saya untuk menginap barang semalam dua malam di rumahnya jika datang bersilaturahmi. Udara di Parungkuda jelas berbeda dengan Depok, dan bangun pagi di Kampung Sawah itu lebih nikmat dibanding Kutek.

Saya sedang mengetik pagi hari (foto diambil Ageung)

Saya sedang mengetik, pagi hari, di kamar loteng rumah Ageung (foto diambil Ageung)

Sementara Ageung diomelin oleh ibunya karena gagal membantu membuat kue karena sudah terlanjur ketiduran di dalam kamarnya sendiri, tadi malam itu saya sibuk membaca buku kumpulan tulisan Gus Dur. Saya tertidur ketika selesai membaca sebuah tulisan yang berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”. Tulisan itu benar-benar mencerahkan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang pro-kontra kerudung yang semakin hari semakin ruwet dan sikut-sikutan antara yang mengkampanyekan hijab dan yang sinis terhadap hijab. Gus Dur, tokoh intelektual pecinta damai ini memaparkan pandangan obyektif mengenai hal itu.

dokumen-tooftolenk_membaca Gus Dur_02

Dulu, saya pernah memuat artikel di dalam blog ini, yakni sebuah ulasan atas potongan karya sastra Orhan Pamuk berjudul Snow. Potongan itu dimuat dalam Majalah Granta edisi 85 yang bertema Hidden History, dan diberi judul “A Religious Conversation” oleh redaksi. Sedangkan artikel ulasan saya, saya ber judul “Percakapan Imani”. Ringkasnya, karya sastra Pamuk, menurut saya, berbicara tentang polemik-polemik…seringkali muncul karena agama dan keyakinan selalu mengalami benturan dengan konstruksi-konstruksi sosial, Undang-Undang dan ketentuan hukum lainnya.

Pada artikel “A Religious Conversation”, kita akan disuguhkan perdebatan antara pihak sekolah yang menentang pelanggaran aturan mengenakan seragam atas dasar sekularisme, dengan seorang fundamentalis yang menentang pemberian sanksi terhadap siswi yang mengenakan kerudung atas dasar keyakinan beragama. Di akhir artikel, Pamuk menyerahkan kuasa kepada pembaca untuk merefleksi perdebatan itu; jawaban ada di tangan pembaca.

Setelah saya mengulik abis artikel Pamuk, sebenarnya pemahaman saya tentang pro-kontra kerudung masih mengambang, tak jelas ke mana arahnya. Saya hanya bersiteguh bahwa mengenakan kerudung akan sia-sia ketika ia hanyalah menjadi simbol belaka. Perbedaan antara pandangan sekularis dan fundamentalis pun akhirnya menjadi hal yang saya raba-raba saja.

Buku kumpulan tulisan Gus Dur, terbitan LKiS tahun 1999

Buku kumpulan tulisan Gus Dur, terbitan LKiS tahun 1999 (foto diambil oleh Ageung)

Tulisan Gus Dur itu, sedikit banyak, memberi penerangan yang memuaskan. Gus Dur juga memulai tulisannya dengan kasus yang sama dengan cerita Pamuk, yakni adanya kasus pemberian sanksi kepada siswi yang mengenakan jilbab oleh sekolah. Akan tetapi, tulisan Gus Dur tidak berbentuk karya sastra. Dia lebih sebagai sebuah refleksi dengan berbagai argumen penjelasan. Gus Dur berangkat dari latar belakang masyarakat Indonesia secara umum dan kemudian memberikan pandangannya sendiri.

Berikut ini, saya kutip tulisan Gus Dur berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”, dalam kumpulan tulisan “Tuhan Tidak Perlu Dibela” terbitan LKitahun 1999, yang saya kira akan menjelaskan mengapa saya melihatnya sebagai sebuah jawaban atas kebingungan saya setelah membaca cerita Pamuk:

 “Apa yang dilupakan kebanyakan orang adalah penglihatan global terhadap masalah kerudung itu. ia tidak lain adalah pencerminan dari kuatnya tuntutan di kalangan remaja muslim, agar ajaran Islam dilaksanakan secara tuntas dan konsekuen. Ia adalah bagian dari ketekunan yang semakin bertambah untuk meramaikan masjid, merumuskan ‘sikap Islam’ terhadap berbagai masalah, dan keberangan terhadap apa yang digeneralisasi sebagai ‘pandangan-pandangan sekularistik’ di kalangan kaum muslimin sendiri. Kasus kerudung itu adalah bagian dari meningkatnya kesadaran beragama di kalangan kaum remaja muslim dewasa ini.

Kesadaran itu muncul dari banyak sebab. Di antaranya adalah kekecewaan terhadap kebangkrutan teknologi dan ilmu pengetahuan modern, yang diredusir kedudukannya menjadi hamba kekuasaan modal saja, tanpa membawa perbaikan mendasar atas tingkat kehidupan manusia. Juga kekecewaan melihat terbatasnya kemampuan umat manusia untuk mencari pemecahan hakiki atas persoalan-persoalan utama yang dihadapinya. Tidak kurang pentingnya adalah juga kekecewaan mereka terhadap kegagalan elit kaum muslimin di seluruh dunia, yang tidak mampu meningkatkan derajat agama mereka di hadapan tantangan ‘pihak luar’ terhadap Islam.

Dapat dimengerti kalau kesadaran itu juga mempunyai imbas fisiknya atas perilaku para remaja muslim di mana-mana, termasuk mereka yang lalu memelihara jenggot dan memakai kerudung. Perilaku seperti itu tidak sepatutnya diremehkan dan disepelekan karena ia merupakan bagian dari kesadaran untuk menegakkan Islam sebagai ‘jalan hidup’. Boleh kita tidak setuju dengan aspirasi holistic seperti itu, namun dihargai sebagai upaya untuk menemukan Islam dalam kebulatan dan keutuhan, jadi motifnya berwatak transendental.

Jika ‘tindak disipliner’ atas ‘pelanggaran gadis berkerudung’ di salah satu SMA di Bandung itu tidak diperhitungkan dari sudut kesadaran beragama ini, terlepasnya dari keputusan apa yang akan diambil maka sebenarnya tindakan itu tidak memecahkan masalah. Ia hanya menunda atau memindahkan persoalannya saja. Kasus-kasus serupa akan tetap muncul, dengan intensitas dan implikasi yang mungkin semakin gawat bagi masa depan kita semua sebagia bangsa.”

Nah, keren gak, tuh!? #asyek

Saya sengaja mengutip panjang dan tidak mencantumkan pendapat saya lebih jauh karena menurut saya, tulisan Gus Dur itu sendiri sudan memberikan pemaparan yang jelas tentang bagaimana sebaiknya kita menyikapi fenomena pro-kontra kerudung.

Ah, bahagia sekali rasanya membaca Gus Dur di pagi Parungkuda. #ngopi #ngerokok #asyek

Buruh Orasi di Bojongkokosan

Pada artikel berjudul Akan Orasi di Bojongkokosan, saya sempat berjanji akan memuat artikel lanjutan mengenai demonstrasi buruh di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Saya dan Ageung membuat sebuah tulisan mengenai peringatan Hari Buruh Internasional yang dilakukan di Bojongkokosan, dan dimuat di website akumassa dengan judul Sedikit Cerita tentang Serikat Buruh di Parungkuda, pada tanggal 2 Mei 2013.

Tulisan ini sedikit banyak adalah hasil buah pikir Ageung sementara saya menyumbangkan buah pikiran melalui diskusi dan saran-saran mengenai bentuk kerangka atau kemasan tulisan. Ageung juga memuat artikel ini di blognya.

Berikut saya post artikelnya. Silahkan dibaca, tanggapi, dan sebarkan! #asyek

—————-***—————-

Sabtu, 27 April 2013, ketika menuju kamar kecil, aku melihat ada banyak selebaran pengumuman ditempel di dinding-dinding bagian dalam gedung pabrik tempatku bekerja, di PT. Nina Venus Indonesia, Jalan Angkrong, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Isinya adalah pemberitahuan tentang pergantian hari libur untuk buruh pabrik. Semua buruh di PT. Nina diwajibkan masuk kerja pada tanggal 9 Mei, yang merupakan hari libur nasional, sebagai pengganti hari tidak masuk kerja pada Hari Rabu, 1 Mei 2013. Bagi pihak perusahaan, May Day seharusnya bukan hari libur.

Spanduk-MAY-DAY-1

Tiga hari kemudian, temanku, Zikri, bertanya, “Gimana hasil obrolanmu dengan ketua serikat buruh di sana?”

“Tidak memuaskan,” jawabku. “Sepanjang obrolan, mereka selalu mempertanyakan status keanggotaanku di serikat, apa aku udah jadi anggota atau belum.”

Emangnya harus daftar dulu baru bisa tahu tentang serikat buruh itu?”

Gak tahu, deh! Pokoknya, setiap aku bertanya tentang serikat buruh itu, tentang struktur organisasinya, gimana kerjanya…, semuanya deh, obrolan selau diarahkan ke sana. Bahkan, waktu aku nyoba ngasih ide bikin blog untuk serikat buruh, mereka bilang aku harus jadi anggota dulu. ‘Kalau tidak begitu, statusnya gimana?’ katanya…”

Serikat buruh yang kami perbincangkan itu adalah Serikat Buruh Industri Plastik – Gabungan Serikat Buruh Independen, disingkat SBIP-GSBI, tetapi biasanya buruh-buruh di PT. Nina menyebutnya dengan ‘GSBI’ saja. Beberapa hari belakangan, aku tertarik dengan keberadaan serikat buruh ini, dan sempat terniat ingin bergabung ke dalamnya meskipun belum menyerahkan formulir pendaftaran yang aku dapatkan lebih dari sebulan yang lalu.

Baju-seragam-GSBI-yang-mengusung-prinsip-independen-militan-patriotik-dan-demokratis

Menurut Anton, ketua GSBI PT. Nina Venus Indonesia, yang sempat berbincang denganku dua hari yang lalu, buruh se-Parungkuda akan melakukan orasi di halaman taman Monumen Bojongkokosan, yang berjarak sekitar sepuluh menit menaiki angkot dari Stasiun Parungkuda ke arah Bogor.

Taman-Monumen-Bojongkokosan

Kemarin, pagi hari, 1 Mei 2013, Teh Asih, teman satu pabrik di PT. Nina Venus Indonesia yangngontrak kamar di rumahku sedang mengepel lantai. Sambil menikmati segelas kopi, Zikri bertanya padanya, “Gak ikutan demo ke Bojongkokosan, Teh?”

Nggak, ah! Takut rusuh!” jawab Teh Asih. “Belum demo aja, kemarin udah ada pabrik yangkebakar.”

“Oh, yang Hari Minggu kemarin itu, ya?” kata Zikri. Dia dan aku sempat melihat kepulan asap memenuhi langit di arah Bogor ketika menaiki angkot dari Parakansalak menuju Stasiun Parungkuda. “Itu di mana, Teh? Kenapa bisa terbakar?”

“Pabrik garmen, katanya. Menurut gosipnya, ada yang bilang karena puntung rokok, tapi ada juga yang bilang karena lampu listrik.”

“Udah kayak pertanda akan terjadi apa-apa ya, Teh?” kata Zikri bercanda sementara Teh Asih menanggapinya dengan tertawa.

Tapi, toh ternyata memang tidak terjadi kerusuhan atau malapetaka apa-apa di Bojongkokosan. Penyelenggaraan demonstrasi oleh para buruh yang dikawal ketat oleh satuan keamanan dari Polres Kabupaten Sukabumi dan TNI itu berlangsung biasa-biasa saja. Barisan massanya tidak seheboh di Bundaran HI ketika aku berkesempatan melihat acara peringatan May Day di Jakarta tahun lalu. Yang tidak biasa adalah justru kebingunganku dengan keberadaan Serikat Buruh di Parungkuda, khususnya GSBI di PT. Nina Venus Indonesia, sehubungan dengan kegunaan dan fungsinya bagi kesejahteraan para buruh di Parungkuda.

Yang aku bayangkan, seharusnya serikat buruh itu bertugas sebagai wakil buruh untuk pengantar pesan aspirasi buruh. Artinya, serikat buruh harus melakukan segala usaha untuk membantu semua buruh tanpa terkecuali. Menurut hasil diskusiku dengan Zikri, serikat buruh menjadi penting bagi penyelesaian masalah-masalah buruh, seperti masalah perampasan hak buruh akan aset-aset publik, masalah akses pendidikan bagi kaum buruh, masalah kesetaraan hak dan jaminan kesehatan, khususnya bagi kaum perempuan dan anak, serta masalah perlindungan kemanan dan kenyamanan kerja buruh, terutama bagi buruh migran di luar negeri.

Aku pernah bertanya kepada Munir dan Teh Amira , temanku di pabrik, tentang alasan mereka mengapa bergabung ke serikat buruh. “Supaya punya tempat berlindung,” kata mereka.

Munir berkata, “Kita tidak tahu 5 tahun lagi, entah nanti pabrik bangkrut, terus kita di-PHK, jadi ada yang iniin kita lah… biar gak di-PHK.”

Sedangkan Teh Amira berkata, “Awal-awal kenaikan gaji buruh mengikuti UMR, banyak buruh yang ditekan dan gosipnya akan diancam keluar. Terus masuk ke serikat, biar ada tempat berlindung.”

Namun, aku bertanya-tanya di dalam hati, “Tempat berlindung yang seperti apa?” Bagaimana mungkin menjelaskan tempat berlindung itu hanya dengan menyebutnya sebagai suatu wadah yang bisa menjamin kenaikan gaji atau aman dari PHK saja. Tidak ada penjelasan yang lain? Kesan yang aku dapatkan adalah GSBI, atau serikat buruh umumnya di Parungkuda, dianggap ada kalau soal gaji saja, dan ketika gaji sudah memuaskan, ya sudah. Teh Puput pun, temanku yang lain, pernah bercanda waktu aku bertanya apakah dia akan ikut serta GSBI untuk demo atau tidak di Bojongkokosan, “Arek naon demo, pan geus naek gaji na?!” (“Ngapain demo, kan udah naik gajinya?”)

Di sisi lain, penjelasan Anton sebagai ketua Serikat Buruh GSBI PT. Nina juga tidak memuaskan. Ketika aku bertanya tentang apa contoh konkret yang bisa diperjuangkan oleh GSBI soal hak buruh, dia menjelaskan seperti ini:

“Kalau perempuan, kan punya hari libur karena mens dan hamil. Nah, dengan adanya serikat, hak bagi buruh laki-laki juga akan diperjuangkan, misalnya. Jadi semuanya adil.”

“Ha?!” itulah ekspresiku ketika mendengar jawabannya. Aku benar-benar bingung. Sebenarnya, adil yang diinginkan serikat buruh itu yang seperti apa, ya?

Awalnya Zikri kurang percaya dengan ceritaku itu. “Masa begitu, sih cara berpikirnya?” ucap Zikri. Namun, begitu, kebingungan ini tidak mengurungkan niat kami untuk menyaksikan bagaimana situasi demonstrasi yang akan dilangsungkan di Monumen Bojongkokosan pada hari May Day.

Kami tiba sekitar pukul setengah sembilan pagi di Monumen Bojongkokosan. Suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa polisi yang sedang berjaga-jaga.

Monumen-Bojongkokosan-masih-sepi-pada-pagi-hari

“Demonstrasinya mulai jam berapa, Pak?” tanya Zikri kepada salah seorang polisi.

“Seharusnya jam delapan, tapi gak tahu, deh. Belum ada laporan lagi. Ditunggu saja!” jawab polisi tersebut. “Dari mana?”

“Saya mahasiswa, Pak, mau nulis aja buat blog tentang demo buruh di Parungkuda pas Hari Buruh,” kata Zikri. “Kami ijin ambil-ambil gambar, ya, Pak?”

“Ya, silahkan!”

Di sepanjang pagar taman Monumen Bojongkokosan, dipampang berbagai spanduk, salah satunya Koalisi Buruh Sukabumi (KBS) dan GSBI. Pada spanduk itu tertulis: “Gerakan Buruh Indonesia Melawan Perampasan Upah, Tanah, Kerja & Union Busting”. Di depan kantor Badan Pembina Pelestarian Nilai-Nilai 45, yang terletak di sebelah taman Monumen Bojongkokosan, juga terpampang spanduk besar yang berisi ucapan selamat Hari Buruh Internasional dari Polres Sukabumi. Di sana juga ada mobil bertuliskan “Donor Sekarang” yang melayani para sukarelawan yang ingin mendonorkan darahnya.

Spanduk-MAY-DAY-2

“Lah, itu mereka pada ke mana?” seruku ketika melihat rombongan motor mengenakan baju warna biru-biru (seragam GSBI) melintas di depan taman Monumen Bojongkokosan, menyusuri Jalan Raya Parungkuda ke arah Cicurug. Hingga detik itu, kami tidak tahu bahwa ternyata barisan massa buruh berkumpul di Cicurug dan akan berjalan kaki menuju Bojongkokosan untuk berorasi. Kami baru mengetahuinya setelah jam makan siang, pukul 13:06 WIB, ketika rombongan massa gabungan buruh se-Parungkuda datang dengan iring-iringan mobil panggung berisi sound systemdan bendera-bendera serikat buruh. Menjelang siang itu, Bojongkokosan sepi, hanya ada beberapa buruh yang datang duluan, dan para petugas keamanan.

Suasana di Monumen Bojongkokosan ketika para buruh yang-tiba terlebih dahulu di sana menunggu rombongan massa dari Cicurug

Suasana di Monumen Bojongkokosan ketika para buruh yang-tiba terlebih dahulu di sana menunggu rombongan massa dari Cicurug

Suasana-di-Monumen-Bojongkokosan-ketika-para-buruh-yang-tiba-terlebih-dahulu-di-sana-menunggu-rombongan-massa-dari-Cicurug-2

Beberapa-buruh-yang-menunggu-rombongan-massa-dari-Cicurug-juga-menyiapkan-bendera-serikatnya-masing-masing

Beberapa-buruh-sudah-tiba-di-Monumen-Bojongkokosan

Beberapa-buruh-dan-petugas-keamanan-mencari-tempat-berteduh-di-bawah-pohon

Suasana-makan-siang-petugas-keamanan-1

Saat rombongan buruh yang berjalan kaki itu tiba di Bojongkokosan, seorang orator yang merupakan Koordinator Koalisi Buruh Sukabumi (KBS), Bung Dadeng Nazarudin, menyapa para buruh.

Bung-Dadeng-Nazarudin-Koordinator-Koalisi-Buruh-Sukabumi-KBS

“Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup buruh!”serunya. “Ayo temen-temen, semuanya bergabung ke tengah, jangan ada yang berteduh. Bagi buruh-buruh yang berteduh, kalau perempuan, saya sumpahi akan hitam keling, dan bagi buruh laki-laki, saya sumpahi tidak akan pernah bisa bersenggama dengan buruh perempuan itu!”

“Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup Buruh!” serunya lagi. “Hidup… buruh… perempuan!” serunya diakhir.

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-1

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-2

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-3

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-4

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-5

Bung Dadeng menyampaikan pidato politiknya, yang secara garis besar berisikan tentang sejarah Hari Buruh, di mana pada tahun 1890 merupakan momentum bagi kesejahteraan buruh karena ada kesepakatan dalam Konvensi ILO No. 01 tahun 1919 dan Konvensi Internasional No. 47 tahun 1935 yang menetapkan jam kerja buruh selama 8 jam sehari, mengganti ketetapan lama, yakni 18 jam sehari.

“Tapi, apa yang kawan-kawan rasakan di Sukabumi? Kita bekerja lebih dari 8 jam. Kita pulang hingga pukul 11!” teriaknya keras dan dilanjutkan dengan menyumpahi pejabat-pejabat yang ada di Komisi Perburuhan, tanpa mau menyebut fraksi partainya, karena buta dan tuli dengan tuntutan-tuntutan para buruh di Parungkuda selama ini.

Dalam pidato politiknya itu pula, Bung Dadeng menyampaikan 10 tuntutan buruh. Butir pertama, buruh menuntut penghapusan Kepmen No. 231 Tahun 2003 Tentang Tata Cara Penangguhan Upah Minimum, dan menuntut diberlakukannya Upah Minimum Nasional. “Harga bala-bala di Jakarta dan di Sukabumi sama, betul tidak kawan-kawan?! Harga indomie di Jakarta dan di Sukabumi sama, betul tidak kawan-kawan?!”

Spanduk-berisi-10-tuntutan-buruh-pada-May-Day-2013

Butir kedua, buruh menuntut penghentian pemberangusan serikat buruh. Butir ketiga, buruh menolak Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) serta menuntut jaminan sosial bagi kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia di mana kewajiban itu ditanggung oleh negara. Butir keempat, buruh menuntut dihapuskannya sistem kerja kontrak dan outsourcing. Butir kelima, buruh menolak privatisasi aset-aset negara. Butir keenam, buruh menuntut pemberlakuan Undang-Undang yang pro buruh. Butir ketujuh, buruh menuntut perlindungan sejati bagi buruh migran Indonesia sekaligus juga menuntut dicabutnya Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan TKI Di Luar Negeri (PPTKILN) No. 39 Tahun 2004.

Butir kedelapan, buruh menuntut supaya tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari libur nasional. Aku dan Zikri sempat membaca berita terkait hal ini. Katanya, Presiden SBY telah menyetujui untuk menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional meskipun baru akan berlaku tahun depan. “Jadi, tidak ada lagi hari libur nasional lain dijadikan hari kerja oleh perusahaan untuk mengganti tanggal 1 Mei!” seru Bung Dadeng.

Butir kesembilan, buruh menuntut supaya dihentikan liberalisasi perdagangan. Dan di butir kesepuluh, para buruh menuntut dihentikannya perampasan upah, tanah, dan kerja, serta menuntut dilaksanakannya land reform sejati bagi kaum buruh. Butir kesepuluh itu yang menjadi tema May Day di Parungkuda pada tahun ini.

Ke sepuluh butir tersebut dituliskan pada spanduk, tertanggal 1 Mei 2013 di Parungkuda, oleh gabungan serikat-serikat buruh, yakni  Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Serikat Pekerja Danone Aqua Group (SPDAG), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), dan Serikat Pekerja Nasional (SPN).

Pada sesi akhir pidato politiknya, Bung Dadeng menyebutkan bahwa demonstrasi hari itu juga didukung oleh pihak pemerintah setempat, yakni ajaran Muspida (Musyawara Pimpinan Daerah), seperti Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi dan Kapolres Sukabumi AKBP M Firman, dan juga dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Sukabumi Akhmad Jajuli, dan Kepala Disnakertrans Aam Amarhalim.

Beberapa-pejabat-juga-turut-hadir-dalam-kegiatan-orasi-memperingati-Hari-Buruh-Internasional-di-Monumen-Bojongkokosan

Namun, yang membuat kami bingung, orasi ini semakin lama terasa seperti kampanye. Pada pidato itu disebutkan bahwa Pak Aam, Kepala Disnakertrans, berencana akan mencalonkan diri menjadi Bupati pada periode selanjutnya. “Kami para buruh yang tergabung dalam Koalisi Buruh Sukabumi, sangat mendukung beliau, karena beliau sangat dekat dan mau bekerjasama dengan kita,” kata Bung Dadeng. Dia bahkan memuji-muji para pejabat yang berdiri di atas panggung mobil karena rela berpanas-panas ikut mengiringi massa buruh yang berjalan kaki dari Cicurug menuju Bojongkokosan. Ketika nama Kepala Disnakertrans itu diteriakkan, “Hidup Aam!”, para buruh yang berkumpul di depan panggung turut berteriak, “Hidup!”

Suasana-ketika-orasi-di-Bojongkokosan-1

Suasana-ketika-orasi-di-Bojongkokosan-2

Setelah Bung Dadeng, satu per satu pejabat-pejabat tersebut juga memberi kata sambutan. Wakil Bupati sangat mengapresiasi kegiatan aksi damai yang berlangsung hari itu dan memuji-muji buruh yang begitu semangat bertahan di bawah panas terik matahari. Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi juga demikian, dan sangat menghimbau para buruh untuk tidak segan-segan menyampaikan suaranya kepada jajaran dewan agar dapat dipertimbangkan dalam penentuan kebijakan mengenai buruh.

Wakil-Bupati-memberikan-sepatah-dua-patah-kata

Ketika giliran Kepala Disnakertrans, dia berseru sebagaimana Bung Dadeng sebelumnya, “Hidup Buruh! Hidup Buruh! Hidup Buruh!” setiap seruannya disambut oleh para buruh. Kemudian, dia berseru lagi, “Perempuan… buruh!” katanya pelan sambil menunjuk rombongan buruh perempuan yang berteduh di bawah pohon di depan mobil panggung, dan disambut dengan tertawa kecil oleh buruh laki-laki.

Kepala-Disnakertrans-memberikan-sepatah-dua-patah-kata1

Pada pidato Kepala Dianakertrans tersebut, disampaikan bahwa sudah ada Surat Keputusan (SK) Upah untuk sektor makan dan minuman. Menurut SK tersebut, UMR buruh di sektor makanan dan minuman meningkat dari 1,2 juta menjadi 1,4 juta. Kabar ini disambut dengan gembira, dan pada saat itu pula SK itu dibacakan secara lengkap di hadapan para buruh yang hadir.

Dirasa-rasa, seperti komentar Zikri kepadaku, demonstrasi KBS kemarin di Bojongkokosan lebih berbentuk acara seremonial untuk menyampaikan dukungan daripada menyampaikan protes. Selain menyampaikan 10 tuntutan dan pengumuman tentang SK baru mengenai UMR tersebut, acara ini juga diisi dengan pemberian cinderamata dari KBS kepada dua orang buruh berprestasi yang dianggap memiliki kontribusi besar dalam organisasi.

Akhirnya, sekitar pukul dua siang, aku dan Zikri memutuskan untuk pulang ke rumah karena acara orasi telah selesai dan ditutup dengan sujud syukur bersama, foto-foto, dan pertunjukkan kesenian oleh buruh-buruh yang masih bertahan di depan panggung hingga orasi selesai.

Buruh-melakukan-sujud-syukur-di-akhir-kegiatan-orasi1

Buruh-melakukan-foto-foto-diakhir-orasi

Di angkot, aku berkata pada Zikri, “Agak menyedihkan, ya…?! Demonya cuma begitu doang…”

“Ya, namanya juga serikat buruh, rentan oleh konflik kepentingan,” Zikri menanggapi. “Aneh, ya, aspirasi buruh perempuan kurang diangkat. Padahal, sebagian besar buruh di sini perempuan, kan?”

“Ya, gitu deh…!” kataku pelan.

————–***————–

Demikian tulisan tentang buruh di Parungkuda. Semoga lain waktu saya dan Ageung bisa menghasilkan tulisan-tulisan lainnya dari Parungkuda. #asyek

batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama.

Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya.

Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi PT. Nina 2) ada sebuah pohon besar tempat bersarangnya para setan. Sekarang, pohon itu sudah tidak ada. “Udah ditebas, katanya,” jelas Ageung.[1]

Menurut saya, tentunya cerita ini sudah terdramatisasi sedemikian rupa karena selalu dibumbui dengan segala tambahan peristiwa khayal ketika diceritakan secara terus-menerus dari mulut ke mulut. Sangat mungkin bahwa si buruh perempuan yang mati kesurupan itu, sebenarnya, mengalami kematian yang wajar-wajar saja. Pengalaman-pengalaman tentang kesurupan itu membuat persepsi orang-orang di sekitarnya mencoba mengait-ngaitkan penyebab kematian dengan hal-hal gaib.

“Tapi, kalau menurut Munir, sih, perempuan itu matinya gak wajar,” kata Ageung. “Sebelum mati, kelihatan tanda-tanda serangan si setan, seperti air liur yang selalu menetes seperti anak kecil, dan sebelah matanya juling. Tapi itu katanya, ya…! Hahaha!”

Masih ada yang percaya bahwa para setan di PT. Nina 2 sekarang ini belum pergi dari pabrik itu. Ada kemungkinan akan terjadi peristiwa kesurupan lanjutan, bisa nanti, besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan pun… kita tidak tahu.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Soalnya, kata Munir masih ada satu benda yang belum ditemukan,” jawab Ageung.

“Satu benda? Maksudnya?”

“Iya, satu benda misteri, semacam permata, yang jadi sarang si setan.”

“Oh, gitu…”

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat novel Harry Potter. Musuh besar Harry, si Lord Voldemort, membagi jiwanya menjadi tujuh dan menyimpannya di tujuh benda keramat. Untuk memusnahkan Voldemort, Harry harus menghancurkan ke tujuh benda itu, yang oleh para penyihir disebut sebagai Horcrux.

Saya jadi tertawa ketika mendengar cerita Ageung. “Wah, berarti pohon besar itu horcrux si setan pangeran, dong?”

“Iya, bisa dibilang begitu! Hahaha!” ucap Ageung tertawa juga. “Ya, kalau bahasa kitanya, pohon besar atau permata itu seperti jimat gitu, deh…”

“Nah, omong-omong soal jimat, dulu ada orang di dekat rumah yang sering kesurupan juga,” lanjut Ageung. “Kira-kira waktu aku masih SMP, deh…”

“Gimana kesurupannya?” saya bertanya penasaran. (Dan saya masih berharap-harap cemas kalau jawabannya adalah kesurupan karena mati keselek cireng. Ini soal prinsip: cerita misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng itu lebih menarik ketimbang acara reality show “dunia lain” di TV. #asyek)

 “Jadi, orang itu sering kesurupan gara-gara dirasuki oleh siluman ular,” jawab Ageung. (“Yaaaaaaaaaah…!!!” saya berseru kecewa di dalam hati).

“Bapak orang yang kesurupan itu memiliki sebuah batu yang bentuknya seperti telur ular,” Ageung melanjutkan penjelasannya tanpa mau mengerti kekecewaan saya. #hiks

“Batu apa?”

“Batu jimat gitu, deh… bentuknya seperti telur ular,” kata Ageung. “Nah, anaknya mengalami kesurupan karena, katanya, batu jimat itu dikasih ke orang lain. Silumannya marah sehingga merasuki tubuh si anak.”

“Hmm… gitu…!” saya berujar masa bodoh. “Gak ada cerita tentang orang yang kesurupan arwah gentayangan yang mati keselek cireng, yak?”

“Gak ada!” seru Ageung sedikit kesal, kemudian dia tertawa (mungkin membayangkan tampang kecewa saya yang bodoh. Hahaha!)

“Eh, ada lagi cerita yang lain,” kata Ageung.

“Keselek cireng, gak?”

“Bukaaaan!”

“Ya udah, ya udah… gimana ceritanya?”

“Cerita ini udah lama, waktu aku masih SD. Tentang setan Batu Kecapi.”

“Batu apa?”

“Kecapi…”

“Alat musik?”

“Iya, alat musik.”

“Oh, jadi setannya keluar dari alat musik?”

“Bukan, Batu Kecapi. Itu nama lokasi, daerahnya di wilayah bagian atas.[2] Di daerah itu ada batu yang bentuknya mirip kecapi.”

“Oh, terus…?”

“Nah, dulu aku punya saudara, waktu itu dia masih remaja, sering kesurupan juga.”

“Siapa namanya?”

“Aduh, aku lupa… Sebentar, aku tanya ibu dulu, ya!” di ponsel terdengar suara langkah Ageung berlari menuruni tangga kamar tidurnya. Saya menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian: “Ah, ibu juga lupa ceritanya. Hahaha!”

“Yeee, gimana dah?!”

“Seinget aku aja, ya?”

“Sok, lanjut…!”

“Jadi, saudara jauhku itu sering mengalami kesurupan. Dia sering dirasuki oleh setan yang merupakan nenek buyutnya sendiri. Nenek buyutnya itu dijadikan istri oleh Jin Pangeran yang berasal dari Batu Kecapi.”[3]

“Pangeran lagi…?!”

“Iya… Katanya, setelah sadar dari kesurupan, dia mengaku merasa sedang naik kuda emas, lengkap dengan iring-iringan kerajaan. Dulu, nenek buyutnya itu hilang secara tiba-tiba ketika masih remaja. Nah, kata orang, dia itu hilang karena dipersunting oleh si Jin Pangeran.”

“Batu Kecapi itu adanya di kecamatan apa?”

“Itu udah jadi nama daerah. Masih wilayah Parungkuda, kok, kalau aku gak salah. Sama halnya kalau kamu di Jakarta, orang kenal nama Lenteng, Proposal, atau di Depok ada Kutek dan sebagainya.”

“Oh…”

Ageung juga mengatakan bahwa Batu Kecapi itu[4] sudah sering dipindah-pindahkan, tetapi tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, batu itu selalu berada lagi di lokasi tersebut.

“Katanya, pernah ada yang membawa batu itu ke Pelabuhan Ratu, eh nongol lagi nongol lagi…!” kata Ageung. “Bagi warga di sini, cerita tentang Batu Kecapi itu udah menjadi semacam mitos atau cerita rakyat gitu, deh…!”

“Lokasi tepatnya di mana, sih?” saya semakin penasaran.

“Kamu ingat jalan yang kita lalui waktu pergi berenang bersama Randi? Nah, angkot yang kita naiki melintas di depannya.”

“Hm…” saya menanggapi dengan santai (padahal di dalam kepala saya, jiwa petualang saya mulai muncul. Saya bahkan berniat untuk datang ke sana dan ingin melihat langsung. Semoga saja Batu Kecapi-nya masih ada di sana).

Hadeuh… mulai dari cerita kesurupan di pabrik, malah melebar ke cerita rakyat di lingkungan warga Parungkuda. Hahaha!


[1] Tenang, Ageung bercerita dengan santai, kok! Tidak seperti orang yang hobi cerita serem-serem, yang menunjukkan ekspresi menegangkan demi menakut-nakuti orang yang mendengarkan cerita. Lagipula, Ageung, kan cakep! #preeet

[2] Maksudnya, daerah yang kalau kita melalui jalanan aspal, kita akan melalui jalanan yang mendaki.

[3] Okeh, ceritanya mulai aneh. Padahal, hantu keselek cireng tidak akan se-absurd ini. Saya percaya itu.

[4] Saya mulai membayangkan sebuah batu besar yang bentuknya mirip kecapi. Ceritanya jadi mirip legenda Batu Malinkundang. Hahaha! Tapi saya rada-rada lupa. Kalau tidak salah, tadi malam itu Ageung mengatakan bahwa batu-batu di sana mirip kecapi (berarti batunya banyak). Nah kalau begitu, saya membayangkan sebuah lokasi yang isinya banyak batu, dan batunya mirip kecapi. Atau… au ah! Hahaha!