Proses Kegiatan Pelatihan Program Akumassa Bernas

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa pada tanggal 24 Juli 2013.

Pelatihan akumassa bernas, sebuah program lanjutan dari akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng, guna meningkatkan kemampuan para penulis akumassa agar dapat menghasilkan karya tulis berdasarkan hasil liputan mendalam, diselenggarakan selama empat hari, tanggal 20-23 Juli 2013. Kegiatan ini berjalan dengan lancar. Para partisipan akumassa bernas mendapat wawasan baru mengenai jurnalisme investigasi secara umum, sekaligus pengalaman turun lapangan dan melakukan liputan mendalam untuk dijadikan bahan tulisan.

Otty Widasari, Koordinator Program akumassa Forum Lenteng, sekaligus fasilitator pelatihan akumassa bernas, memandu para partisipan dalam membedah tulisannya masing-masing.

Pada hari pertama, tanggal 20 Juli 2013, Otty Widasari, Koordinator Program akumassa yang sekaligus menjadi fasilitator dalam kegiatan pelatihan akumassa bernas, melakukan identifikasi dan pemetaan masalah terhadap isu-isu yang berada di sekitar para partisipan di wilayah lokalnya masing-masing. Pemetaan ini dilakukan dengan cara mendedah tulisan-tulisan para partisipan yang sudah pernah dimuat di dalam website http://www.akumassa.org. Otty mengupas kekuatan dan kelemahan setiap tulisan, sekaligus memaparkan peluang-peluang yang dimiliki si penulis serta isu yang ditulisnya, agar dapat menghasilkan karya tulis yang bernas: tajam, tangkas, padat berisi dan mendalam, serta dapat dipercaya.

Bambang Sulistyo memberikan materi tentang moralitas, etika dan hukum kewartawanan.

Siang harinya, setelah jeda waktu sholat zuhur, para partisipan mendapatkan materi dari Bambang Sulistyo, seorang jurnalis Desk Seni dan Budaya di Majalah Gatra, mengenai moralitas, etika dan hukum kewartawanan. Secara mendalam, Bambang menjelaskan setiap poin yang ada di dalam Kode Etik Jurnalistik, memberikan contoh-contoh bagaimana jurnalis profesional menerapkannya, lantas mengaitkan konteks bagaimana Kode Etik Jurnalistik dapat juga menjadi pedoman bagi warga biasa ketika akan melakukan kegiatan-kegiatan mengarah ke aktivitas jurnalistik, seperti membuat tulisan akumassa, salah satunya. Dalam menjelaskan contoh ini, Bambang menceritakan pengalamannya dalam melakukan investigasi di Bali mengenai praktek pedofilia yang dilakukan oleh seorang pemilik sebuah yayasan terhadap anak-anak di lingkungan setempat.

Bambang Sulistyo memberikan materi tentang bagaimana membuat outline dalam kerja jurnalisme investigasi.

Malam harinya, Bambang memberikan materi tentang bagaimana membuat outline sebuah tulisan investigasi. Wawasan tentang pembuatan outline liputan investigasi ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan para partisipan sehingga dapat diterapkan dalam melakukan liputan mendalam di lapangan. Unsur-unsur penting dalam pembuatan outline tersebut antara lain adalah penjabaran tentang latar belakang dan angle yang hendak diambil, rencana teknis pengumpulan data (termasuk juga di dalamnya rencana foto-foto yang akan diambil untuk keperluan tulisan). Di dalam outline juga dicantumkan penjelasan mengenai manajemen pelaksanaan investigasi, seperti durasi kerja dan dana yang dibutuhkan.

Meskipun apa yang dijelaskan oleh Bambang adalah metode para jurnalis profesional, Bambang menyampaikan kepada para partisipan bahwa metode tersebut dapat diadopsi sesuai kebutuhan bagi para penulis warga, seperti penulis-penulis akumassa. Selain itu, Bambang juga berpesan bahwa menulis karya jurnalistik investigasi yang baik harus dilakukan secara sabar dan pelan-pelan.

“Warga biasa lebih bebas, karena tidak tertekan oleh deadline dan pengaruh perusahaan medianya,” begitulah kira-kira kata Bambang. “Banyak para jurnalis profesional yang sebenarnya memiliki cita-cita menjadi penulis independen seperti para penulis akumassa. Jadi, manfaatkanlah sebaik-baiknya kelebihan kalian.”

Linda Christanty memberikan materi tentang Jurnalisme Baru, Jurnalisme Sastrawi dan Jurnalisme Naratif.

Pada hari kedua, 21 Juli 2013, pukul setengah sembilan pagi, para partisipan mendapatkan materi tentang jurnalisme investigasi dan jurnalisme sastrawi dari seorang sastrawan cum-wartawan, Linda Christanty. Dalam sesi itu, Linda secara detail menerangkan kepada para partisipan tentang sejarah perkembangan teori dari investigasi, di antaranya dimulai dari Jurnalisme Baru di kisaran tahun 1960-1970, yang memiliki ciri khas berupa adanya adegan, detail, dialog, dan sudut pandang orang ketiga dalam karya tulis jurnalistik. Gaya jurnalisme ini mendapat kritik dan sekaligus dikembangkan oleh teori Jurnalisme Sastrawi, yang menggunakan sudut pandang orang pertama. Di dalam praktek jurnalisme sastrawi, unsur-unsur yang digunakan antara lain adalah adanya fakta, konflik, karakter, emosi, akses, perjalanan waktu, dan kebaruan.

Lebih jauh, Linda Christanty juga menjelaskan tentang Jurnalisme Naratif, yang menurut Robert Vare, dianggap sebagai puncak dari jurnalisme bercerita. Linda menjelaskan bahwa dalam jurnalisme baru, unsur 5W+1H merupakan hal utama, tetapi memiliki istilah yang berbeda dari jurnalisme biasa: who berubah menjadi karakter, what berubah menjadi alur atau plot, why berubah menjadi motif, when berubah menjadi kronologi, where berubah menjadi setting, dan how berubah menjadi narasi.

Firmansyah (kedua dari kiri) sedang membacakan karya tulis Dian Komala, berjudul “Berjanji”.

Setelah memberikan materi tentang teori jurnalisme investigasi tersebut, Linda mempersilahkan satu dua orang partisipan membacakan sebuah karya tulis yang sudah pernah dimuat di website http://www.akumassa.org, untuk kemudian dikupas lebih jauh. Dua tulisan yang dibacakan ialah “Ditangkap Satpol PP” karya Chandra Zefri Airlangga dari Padangpanjang, Sumatera Barat (dibacakan oleh partisipan dari Lombok, Muhammad Sibawaihi), dan “Berjanji” karya Dian Komala dari Parungkuda, Sukabumi (dibacakan oleh partisipan dari Lebak, Firmansyah). Melalui dua tulisan tersebut, Linda kemudian menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing tulisan berdasarkan teori yang telah dijelaskan sebelumnya.

Satu prinsip yang kemudian ditekankan oleh Linda adalah, “Dalam jurnalisme, objektif itu bukanlah tujuan, melainkan metode.” Hal ini memberikan pemahaman kepada para partisipan bahwa objektivitas sebuah karya jurnalistik hanya dapat dicapai jika menerapkan kerangka kerja yang baik dan benar.

Pada hari ketiga, sore, 22 Juli 2013, para partisipan melakukan simulasi dengan turun lapangan ke lokasi secara langsung. Lokasi yang dipilih adalah kawasan Warung Kaleng, atau Kampung Sampai, Cisarua, Bogor. Setiap orang dibagi berdasarkan desk yang sudah ditentukan dalam diskusi outline pada pagi harinya. Observasi di lapangan ini berlangsung dari sekitar pukul tiga hingga pukul tujuh. Setelah merasa cukup mengumpulkan bahan-bahan, para partisipan kembali ke Vila Radiant Bamboo untuk memberikan laporan kepada fasilitator, di mana diskusi tersebut dipimpin oleh pemimpin redaksi sementara akumassa bernas, yakni Muhammad Sibawaihi.

Partisipan pelatihan akumassa bernas sedang bersiap-siap melakukan observasi di kawasan Kampung Arab (Warung Kaleng), Cisarua, Bogor.
Firmansyah (baju putih), partisipan dari Komunitas Saidjah Forum, Lebak, ketika sedang melakukan observasi ke warung-warung di sekitar Kampung Arab.
Pijar (baju kuning), partisipan dari Komunitas Kinetik, Surabaya, ketika sedang melakukan wawancara kepada penjaga kios ponsel di sekitar Kampung Arab.

Bahan-bahan yang dilaporkan oleh masing-masing partisipan ini, kemudian, oleh fasilitator, dipilah-pilah menjadi tiga kategori, yakni fakta, asumsi, dan kesimpulan sementara. Setiap data dituliskan di dalam post-it dan ditempelkan di papan tulis. Setelah semua data dijabarkan, para partisipan dipersilahkan untuk berdiskusi lebih jauh agar dapat menentukan angle tulisan, serta tema unik apa yang dapat ditulis. Setelah diskusi outline dan pemilahan data ini, setiap partisipan membuat satu karya tulis sebelum kemudian diserahkan kepada fasilitator untuk dikoreksi.

Partisipan akumassa bernas melakukan diskusi dan laporan hasil observasi.
Otty Widasari, memandu partisipan untuk melakukan pemilahan data.
Otty Widasari, memandu partisipan untuk melakukan pemilahan data.

Pada hari keempat, 23 Juli 2013, sesi terakhir dari rangkaian kegiatan pelatihan ini adalah bagaimana cara membuat proposal sederhana untuk pengajuan ide karya tulis dalam Program akumassa bernas. Sesi ini diberikan oleh Hafiz, Ketua Forum Lenteng. Pada sesi itu, para partisipan juga mendiskusikan bagaimana teknis pelaksanaan Program akumassa bernas, seperti bentuk kerjasama antara mereka dengan tim redaksi akumassa di Jakarta, tentang bagaimana teknis pengiriman karya, serta proses pendampingan, dan sebagainya.

Hafiz, Ketua Forum Lenteng, ketika memberikan materi tentang pembuatan proposal.

Rangkaian kegiatan pelatihan Program akumassa bernas berakhir setelah sesi Hafiz. Para partisipan, yang sejak pagi sudah check out dari kamar masing-masing, dipersilahkan untuk membawa barang-barang ke mobil jemputan, dan tak lama setelah itu, rombongan akumassa bernas kembali pulang menuju markas Forum Lenteng, di Lenteng Agung, Jakarta.

Dalam beberapa waktu ke depan, redaksi http://www.akumassa.org akan memuat tulisan-tulisan hasil simulasi akumassa bernas sebagai rangkaian tulisan akumassa bernas yang pertama. *

Program Akumassa Bernas

Artikel ini sudah lebih dulu terbit di jurnal akumassa pada tanggal 20 Juli 2013.

AKUMASSA adalah program utama yang terus dikembangkan oleh Forum Lenteng untuk menciptakan tatanan masyarakat yang sadar terhadap media. Melalui program ini, kesadaran warga dibangun untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, ekonomi dan budaya, sekaligus juga ditempa keterampilannya dalam memproduksi informasi secara independen dan kemudian mengelolanya menjadi sumber pengetahuan yang dapat disebarkan secara luas ke masyarakat.

Pertemuan hari pertama kegiatan pelatihan program akumassa bernas.

Lebih kurang empat tahun, Program akumassa dijalankan oleh Forum Lenteng. Tahun 2008 hingga 2012, program ini berjalan di beberapa lokasi dalam bentuk kegiatan workshop selama satu bulan, dengan output berupa karya video akumassa. Setiap komunitas yang berpartisipasi dalam program ini—biasa disebut sebagai komunitas dampingan akumassa—juga memproduksi informasi dalam bentuk teks (tulisan) dan image (foto dan gambar) oleh para anggotanya, dan karya-karya itu dimuat di website online http://www.akumassa.org. Selain komunitas dampingan akumassa, ada juga para kontributor dari lokasi-lokasi lain, baik personal maupun komunitas, yang turut menyumbangkan karya tulisannya kepada jurnal online ini.

Dokumentasi akumassa: Peluncuran Buku Rekam Media (April, 2013).

Bulan Februari, 2012, Forum Lenteng melakukan sebuah gebrakan dengan mencetuskan program pemantauan terhadap media massa arus utama yang beroperasi di tingkat lokal, yang disebut Program Rekam Media : Pemantauan Media Berbasis Komunitas. Program yang melibatkan sepuluh orang warga biasa sebagai pemantau media massa ini, rampung pada Bulan Februari 2013, dengan output berupa hasil penelitian tentang sajian media massa lokal, dan diterbitkan dalam bentuk buku, berjudul Kajian Terhadap Sajian Informasi Media Massa Lokal Melalui Lima Kategori Isu (Good Governance, Hak Asasi Manusia, Perempuan dan/atau Anak, Kriminalitas, dan Lingkungan Hidup) Dari Perspektif Akumassa, pada Bulan April 2013.

Dari kanan: Manshur Zikri, Anib Basatada Wicaksono, Albert Rahman Putra, Pijar Crissanti, Muhammad Sibawaihi.

Gebrakan Forum Lenteng tidak berhenti sampai di situ. Setelah beraksi dalam wacana “literasi media” dan “kritisisme terhadap media”, Program akumassa melangkah lebih jauh untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas konten dan kemampuan penulis-penulis akumassa. Maka, pada pertengahan tahun ini, Forum Lenteng mencetuskan Program akumassa bernas: Liputan Mendalam Berbasis Komunitas, yang mana penyelenggaraan pelatihan program ini dilaksanakan tepatnya pada tanggal 20-23 Juli 2013, di Villa Radiant Bamboo, Jl. Raya Cidokom Pasir Kuta, Megamendung, Bogor (Puncak).

Program akumassa bernas: Liputan Mendalam Berbasis Komunitas memiliki fokus bagaimana menempa kemampuan para penulis akumassa untuk dapat memproduksi karya jurnalisme warga yang lebih baik dari segi konten. Tidak lain, tujuan yang hendak dicapai dari program ini ialah menghasilkan para penulis jurnalisme warga berwawasan dan bermental profesional, serta karya-karya tulisan mendalam yang diakui, dipercaya, dan diapresiasi serta disejajarkan dengan karya-karya jurnalisme profesional. Hal ini menjadi semacam usaha dari Forum Lenteng untuk menjawab tantangan bagi jurnalisme warga dalam menjawab keraguan terhadap karya-karya tulisan yang memiliki gaya dan perspektif dari perspektif warga biasa.

Firmansyah.

Dalam menjalankan program pelatihan ini, akumassa mengundang enam orang penulis akumassa yang berasal dari beberapa daerah (empat di antaranya adalah komunitas dampingan akumassa, dan satu komunitas di luar dampingan akumassa). Mereka adalah Albert Rahman Putra, dari Komunitas Gubuak Kopi, Solok, Sumatera Barat; Firmansyah, dari Komunitas Saidjah Forum, Lebak, Banten; Pijar Crissandi, dari Komunitas Kinetik, Surabaya, Jawa Timur; Anib Basatada Wicaksono, dari Komunitas Anak Seribu Pulau, Blora, Jawa Tengah; Muhammad Sibawaihi, dari Komunitas Pasir Putih, Pemenang, Lombok Utara; dan Manshur Zikri, dari perwakilan akumassa di Jakarta.

Otty Widasari, Koordinator Program akumassa sedang menjelaskan Program akumassa bernas.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut, diundang dua orang pemateri yang sudah lama berkecimpung di wilayah kerja profesional, yakni Bambang Sulistyo dari Majalah Gatra, dan Linda Christanty, seorang sastrawan cum-wartawan, yang pernah menulis beberapa buku, salah satunya berjudul Jangan Tulis Kami Teroris. Selain itu, kegiatan pelatihan ini juga diisi oleh Otty Widasari, Koordinator Program akumassa, dan juga oleh Hafiz, Ketua Forum Lenteng.

Dalam beberapa hari ke depan, jurnal online http://www.akumassa.org akan memuat artikel yang fokus melaporkan perkembangan kegiatan pelatihan Program akumassa bernas, dan secara khusus tulisan yang mengulas proses pembelajaran yang berlangsung dalam kegiatan tersebut. *