Bagaimana Karya Seni yang Performatif

Pada zaman sekarang, sudah tak bisa dibantah bahwa teknologi (dan praktik-praktik sosial baru, entah itu yang berkaitan langsung, atau tidak berkaitan langsung, dengan teknologi) telah membuat transformasi radikal pada kehidupan manusia.

Lyndon B. Johnson mengambil sumpah jabatan di atas Air Force One di Bandara Love Field dua jam delapan menit setelah pembunuhan John F. Kennedy, Dallas, Texas. Di sebelah kanan, terlihat Jackie Kennedy masih mengenakan pakaian yang berlumuran darah.  (Foto: Cecil W. Stoughton, 1963 [Public domain]).

Bagi Walter Benjamin, yang sebenarnya secara radikal berubah adalah modus persepsi (modes of perception) daripada modus produksi (modes of production).[1] Di mata saya, perubahan ini membuat topik performativitas menjadi menarik dalam kaitannya dengan persepsi mengenai aura. Bukan saja karena impian untuk membuat “karya aural” sudah menjadi hal yang tidak mungkin (atau hampir tidak mungkin) di dalam lingkup dunia termediasi, seperti dunia maya yang tercipta oleh kehadiran internet, tetapi juga adanya tuntutan untuk melepas belenggu-belenggu ritualistik tradisional yang tidak sedikit justru melanggengkan ketidaksetaraan kelas dan menjauhkan kita dari impian akan desentralitas pengetahuan.

Saya mencoba memperpanjang perdebatan tentang pentingnya wacana mengenai performativitas ini karena terinspirasi oleh sebuah artikel terbaru, di bidang seni, yang ditulis oleh penulis lokal, yaitu himbauan Otty Widasari tentang “generasi performatif”.[2] Di dalam artikel tersebut, Widasari melihat bahwa ketidaktentuan arah seni yang kita rasakan pada masa digital-internet-mobile justru menjadi peluang eksperimental bagi generasi yang hidup pada masa tersebut, asalkan ketidaktentuan arah—yang ia sebut sebagai “situasi absurd” itu—dapat disadari sebagai modal bahasa untuk menelurkan estetika-estetika baru. Ketegasan Widasari menyematkan istilah “performatif” untuk menyebut generasi ini, menurut saya, bukan karena semata ingin mengategorikannya sebagai generasi yang hidup di “era performatif” (era media sosial) saja. Lebih dari itu, “generasi performatif” mesti dimaknai sebagai generasi yang mampu menciptakan suatu efek tertentu pada dunia tempatnya hidup.[3] Argumen ini, memang, saya ajukan dengan merujuk pengertian dasar dari “performatif” dan “performativitas” itu sendiri.

Performativitas, Seberapa Pentingkah Itu…?

Foto: Peter Greenberg, 2017, di bawah lisensi Creative Commons: CC BY-SA 4.0

Ada banyak filsuf yang secara langsung atau tidak langsung telah membangun pengertian dari konsep performativitas. Dua di antaranya yang terkenal—karena eksplisit menggunakan kata tersebut—adalah John Langshaw Austin (di lingkup filsafat bahasa)[4] dan Judith Butler (di lingkup kajian feminis)[5].

Operator mesin bubut menara sedang mengerjakan bagian-bagian untuk pesawat pengangkut di pabrik Consolidated Aircraft Corporation, Fort Worth, Texas, AS. (Foto: Howard R. Hollem, 1942 [Public domain] via Wikimedia Commons).

Belum lagi jika kita menelaah interpretasi yang lebih bersifat dekonstruktif dari Butler tentang konstruksi sosial yang “menguasai” tubuh, di mana performativitas dalam konteks pemikirannya menjelaskan bagaimana sebuah “gaya” (style) yang bekerja pada tubuh bukanlah “gaya mandiri”, melainkan gaya yang memiliki sejarah tertentu dan mengondisikan serta membatasi kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki tubuh.[8]

Menurut Austin, sesuatu yang dapat dianggap performatif adalah sesuatu yang, jika kita mengungkapkannya, maka kita [secara bersamaan juga sedang] melaksanakan atau menampilkan (to perform) sesuatu itu; pengungkapan tersebut harus bukan dalam pengertian yang sama dengan semata mengucapkannya saja, juga bukan sekadar “mendeskripsikan”, apalagi dalam logika dualisme “benar” dan “salah”.[6] Cukup merepotkan, memang, menyederhanakan skema teoretik yang dibangun oleh Austin. Saya pun tak memiliki kucing yang jinak untuk diletakkan di atas meja[7] demi memperingatkan betapa rumitnya teori tersebut.

Oleh karena itu, untuk mempersingkat tulisan ini, saya pikir artikel yang ditulis oleh Malik Gaines adalah yang paling bernas dan efektif dalam menguraikan definisi dari performativitas, bahkan ia membandingkannya dengan istilah “performatif” (sebagai kata sifat dan kata benda) dan “performans”:

Performativity (noun) is a representational apparatus produced through language, mimetic action, or another mode of signification, which, in the moment of utterance or presentation, enacts a social transformation or confirms a social condition. A performative (noun) is the particular piece of speech or action that performs such an enactment or confirmation. Performative (adjective) modifies concrete terms to instantiate change.
_______The noun performance indicates a set of disciplinary considerations in addition to action and speech, including movement, narrative, ritual, and spectacle.”[9]

Malik Gaines, “Performativity”, 2016

Gaines memberikan kata kunci “aparatus representasional”, [yang diciptakan melalui] “bahasa” dan “modus signifikasi”, untuk membatasi istilah performativitas; serta kata kunci “transformasi” dan “penegasan” untuk mengindikasikan dampak dari performativitas itu sendiri terhadap keadaan sosial. Dengan mengacu pengertian sederhana ini, kita dapat pula berargumen bahwa penerangan yang diberikan oleh Walter Benjamin tentang “era reproduksi mekanis”—zaman tatkala terkesampingkannya aura—adalah himbauan untuk memposisikan “performativitas” ke dalam cara-cara penafsiran tentang relevansi sebuah produk budaya terhadap konteks kiwari-nya. Dengan menyadari posisi itu, kita dihimbau untuk tidak terjebak pada situasi yang hanya menjadikan sebuah karya sebagai ruang semata ekspresi dan kontemplasi, juga bukan sekadar persoalan estetika dan bentuk (form), melainkan juga sebagai kanal spesifik yang melaluinya kita bisa berperan sebagai agensi politik yang signifikan.

Transmission (2016) karya seni performans Abi Rama. Menggunakan perangkat video online, Abi mencoba mengungkap persoalan “kehadiran” dan “ketidakhadiran” serta ambiguitas antara yang representasi dan presentasi dengan mengintervensi secara langsung teknologi yang ia gunakan sebagai bahasa seni performansnya. (Foto: 69 Performance Club).

Adakah Aura Bersanding dengan Performativitas…?

Tentu saja ada! Saya berpendapat bahwa sebuah karya yang beraura (yang unik karena autentisitasnya), misalnya lukisan, belum tentu performatif, begitu pula sebaliknya: yang performatif belum tentu hadir dengan pancaran energi aura. Akan tetapi, sebuah karya dapat mengandung kedua prinsip tersebut (aura dan performativitas). Selain itu, pada perkembangan era reproduksi mekanis, sebuah output dari reproduksi mekanis nyatanya juga bisa memunculkan auranya sendiri meskipun ia tidak berdiri pada hal yang autentik (yaitu, keautentikan yang dimaksud Walter Benjamin—sebagaimana penjelasan saya di bawah). Inilah yang, saya kira, penting untuk digarisbawahi dalam rangka memahami mengapa pemikiran Walter Benjamin lebih menekankan modus persepsi.

Jean Arp, 1915, Abstract Composition, Oil on canvas. [Public domain via Wikiart]

Pokok persoalannya adalah, meskipun di satu sisi terdapat revolusi teknologi, yang secara signifikan mengubah cara manusia memproduksi dan mereproduksi sesuatu, pada sisi yang lain terdapat revolusi cara pandang manusia dalam memaknai realitas objektif.

Gambar Leonardo da Vinci, Codex Atlanticus, 1490/95: The eye as a camera obscura (‘Mata sebagai kamera obskura). (Sumber: Julia Schneider, “Part 2/10: The Camera Obscura”, diakses dari situs web Städel Blog).
View from the Window at Le Gras (1826/1827) oleh Nicéphore Niépce / Public domain, via Wikimedia Commons.
Portrait of Louis Daguerre (1787-1851) diambil oleh fotografer Jean-Baptiste Sabatier-Blot pada tahun 1844 dengan menggunakan sebuah alat yang disebut daguerreotype. Konon, alat tersebut adalah teknologi fotografis paling pertama yang tersedia untuk publik luas (untuk kepentingan komersil). (Sumber: koleksi George Eastman Museum / Public domain, via Wikimedia Commons).

Kemunculan teknologi fotografi memang memudahkan manusia untuk memproduksi visual, tetapi perdebatan mengenai performativitas—seiring meluruhnya aura (atau meluruhnya ketergantungan karya seni terhadap hal-hal yang bersifat ritualistik)—justru muncul dalam rangka afirmasi atas kemungkinan-kemungkinan lain—yang sebelumnya tidak terjamah—dari karakteristik masing-masing alat atau medium yang berbeda, yaitu antara yang berbasis perangkat mekanis (mesin) dan yang berbasis teknik non-mekanis (non-mesin). Kritikus seperti André Bazin tidak melihat fotografi sebagai ancaman yang menghancurleburkan sama sekali eksistensi senirupa—yang ia rujuk adalah lukisan. Justru, baginya, dengan hadirnya fotografi, senirupa menghadapi perlintasan yang lebih visioner untuk “menemukan otonomi estetis-nya sendiri” hingga menjadi “sesuatu sebagai dirinya sendiri”, yang mana, “relasinya dengan alam tidak lagi menjadi pembenaran akan keberadaannya”.[10] Sementara itu, Clive Bell berpendapat bahwa nilai dari suatu bentuk representatif (representative form) adalah bentuk (form) itu sendiri, bukan representasinya (representation).[11] Pernyataan inilah yang oleh Ronny Agustinus dijelaskan sebagai pandangan tentang pembebasan senirupa dari obsesinya terhadap realisme, dalam arti: senirupa tidak lagi mengejar “kemiripan” (atau “kepersisan”, dalam istilah Agustinus), tetapi lebih fokus pada hakikat rupa.[12] Ketiga pendapat tersebut adalah beberapa dari sekian banyak contoh pemikiran yang menegaskan adanya perubahan cara pandang manusia dalam memaknai kenyataan.

Ada dua hal yang kemudian menjadi penting untuk kita perhatikan. Pertama, melalui cara pandang Bazin dan Bell, kita bisa mengapresiasi bagaimana karya-karya pada sejumlah gerakan senirupa dunia yang masih terpayungi kanon “-isme”[13], yang memikul dan memancarkan energi auratik, di satu sisi, sebenarnya juga sekaligus bisa menggaungkan prinsip performativitas, di sisi yang lain. Sebab, perlintasan gerakan-gerakan senirupa tersebut, dalam mencari otonomi estetis mereka sendiri, didasarkan oleh penjelasan-penjelasan rasional. Karena para seniman di dalam gerakan-gerakan ini mendasarkan penciptaan dan penghadiran rupa pada sains dan tidak lagi terbatasi oleh wibawa ritualisme tradisional, maka motif berbasis sains itu, seperti yang akan saya jelaskan nanti lewat contoh, akan memicu suatu transformasi atau penegasan estetik, bahasa, dan modus-modus penciptaan. Dengan kata lain, ungkapan visual mereka akan menciptakan suatu efek bagi medan sosialnya. Hal ini menjadi dasar argumen saya untuk menyatakan bahwa ada prinsip performativitas yang juga bekerja di domain mereka—senirupa (lukisan). Kedua, melalui cara pandang Bazin pulalah, kita bisa menyadari bagaimana “pemain utama” di era reproduksi mekanis, yaitu film, menemukan salah satu jati dirinya di dalam teori auteur-isme, yaitu ketika sinema akhirnya mengadopsi kembali ide tentang pentingnya “kepengarangan”. Pada suatu masa di dalam era ini, kita tidak bisa mengelak dari apa yang dalam konteks esai ini akan saya istilahkan sebagai “ritual teknologis”, yang dengan sendirinya memperkaya—kalau bukan merombak—pemahaman kita mengenai konsep aura yang dikritisi oleh Walter Benjamin.

Claude Monet, Impression, soleil levant (Impression, Sunrise), 1872, oil on canvas, Musée Marmottan Monet, Paris. (Sumber: Claude Monet / Public domain via Wikimedia Commons).
Venus de Milo (130 – 100 SM) karya Alexandros of Antioch. Koleksi Louvre Museum, Paris, Prancis. (Foto: Livioandronico2013 / CC BY-SA, via Wikimedia Commons). Patung kuno Venus adalah contoh objek yang disebut oleh Walter Benjamin untuk menjelaskan konsep “aura” dan “nilai unik fundamental”.

Berbicara tentang aura, konteks yang dibicarakan oleh Walter Benjamin bertumpu pada nilai unik sebuah karya yang berdiri di atas prinsip “autentisitas”. Ke-autentik-an itulah yang dinilai berperan terhadap bagaimana manusia mempersepsikan karya. Persepsi manusia yang dimaksud Walter Benjamin, terhadap karya-karya seni agung atau adiluhung, ialah persepsi tentang nilai-nilai ritual yang melingkunginya. Dahulu, karya seni (seperti lukisan dan patung) dipersepsikan dalam rangka ritual magis, lalu berkembang menjadi persepsi dalam rangka ritual keagamaan, sebagaimana yang terjadi pada masa kegelapan (Dark Ages). Inilah yang disebut oleh Walter Benjamin sebagai nilai dari “keunikan fundamental” (fundamental uniqueness): nilai yang mendasari dibuatnya karya, nilai yang berkaitan dengan fungsi, yaitu “fungsi pemujaan”. Karena berhubungan langsung dengan fungsi sosialnya, maka sebuah karya disebut “autentik”.

David, 1501-1504, karya Michelangelo, 517 cm × 199 cm. Galleria dell’Accademia, Florence, Italia (Foto: Jörg Bittner Unna / CC BY, via Wikimedia Commons).

Pada era Renaisans, ketika konsep “humanisme” menjadi dasar intelektual, seniman tidak lagi tunduk di bawah kewajiban untuk membuat karya demi kebutuhan ritual baik magis maupun religius, tetapi mereka bekerja di bawah keinginannya sendiri atau di bawah patron tertentu. Tapi kemudian, “ritual seni” (atau “ritual yang disekularisasi” [secularized ritual], dalam istilah Walter Benjamin) menggeser imajinasi penikmat karya: wibawa (kekultusan) sebuah karya (yang dari sana aura itu memancar; dan dari sana nilai fungsi karya itu diamini) tidak lagi ditakar dari nilai unik fundamentalnya (apakah untuk kepentingan magis atau religus), tetapi dari keunikan empiris atau pencapaian kreatif si pembuatnya (pengarangnya).[14] Dalam arti, sebuah karya menjadi bernilai karena berkaitan langsung dengan keberadaan si pembuatnya.

Begitulah kiranya kita bisa memahami keberadaan lukisan-lukisan Renaisans, misalnya The Birth of Venus (1484-1486) karya Sandro Botticelli yang—berdasarkan anggapan banyak kritikus dan sejarawan seni (sebagaimana tertulis di Wikipedia Bahasa Inggris)—dibuat dalam rangka glorifikasi status keluarga besar Medici yang kala itu menjadi patron budaya Renaisans di Italia. Jika karya itu dipotret menggunakan kamera, reproduksi lukisan venus dalam bentuk fotografi tidak memiliki hubungan langsung dengan fungsi unik dari keberadaan lukisan Venus, dan dengan demikian fotografi dari lukisan Venus itu bukanlah sesuatu yang autentik, tidak asli, dan tidak memiliki aura.

Sandro Botticelli, The Birth of Venus (c. 1484–86). Tempera on canvas. 172.5 cm × 278.9 cm (67.9 in × 109.6 in). Sumber: Sandro Botticelli / Public domain, via Wikimedia Commons.

Dari sudut pandang ini, dapat kita pahami bahwa, yang berperan dalam mekanisme kerja aura adalah modus persepsi yang dimiliki penikmat karya dalam melihat atau memaknai sebuah karya seni. Reproduksi mekanis/teknologis, menurut Walter Benjamin, muncul bersamaan dengan berubahnya modus persepsi, dari yang awalnya mengutamakan “pemujaan” terhadap sesuatu (dan menekankan esensi “jarak pandang” dalam melihatnya), berubah menjadi kebutuhan untuk dapat “mendekatkan sesuatu itu” secara meruang dan manusiawi. Perubahan modus persepsi ini sebenarnya membuat karya seni menjadi merdeka dan tidak lagi tunduk terhadap ritual-ritual yang disebut di atas. Film adalah contoh yang paling dikuliti oleh Walter Benjamin untuk memaparkan argumennya.

Dokumentasi foto dari penayangan perdana film Modern Times (1936) karya Charlie Chaplin. (Sumber: Credit – International News Photos / Public domain, via Wikimedia Commons).

Namun, pada kenyataannya, penciptaan karya dengan teknologi (—dengan mekanik—mesin), juga menumbuhkan kekultusan tersendiri di kalangan para pembuat atau penikmat karya. Dalam konteks karya film, misalnya, pergulatan (ke-empirik-an) seorang sutradara dengan kamera dan seluloid dalam proses pembuatan film, atau kekhidmatan penonton yang ‘patuh’ terhadap ruang gelap sinema saat menonton film, tidak jarang menjadi tolok ukur untuk merasakan signifikansi dari suatu energi gaib yang memancar dari film. Semua aparatus yang ada dalam mekanisme produksi dan presentasi film merupakan sebuah ritual unik yang menghasilkan auranya sendiri yang khas.

The Birth of a Nation, sebagai salah satu contoh, adalah film bisu Amerika yang disutradarai dan diproduksi D. W. Griffith tahun 1915. Terlepas dari sisi kontroversinya terkait isu rasisme, film ini dianggap penting dan merupakan salah satu penanda zaman dalam sejarah film dunia karena telah menerapkan teknik-teknik penceritaan dan konstruksi sinema yang sedemikian canggih dan kompleks hingga memengaruhi bahasa film di masa-masa setelahnya.

Sementara itu, seri karya seni performans berjudul Out of In The Penal Colony (2017-2018) karya 69 Performance Club menggali wacana tentang layar dan ruang gelap secara filosofis.
Karya tersebut menginterpretasi cerpen Kafka lewat pendekatan lintas-disiplin.
Presentasi karya ini pun juga mengarah pada eksperimentasi lainnya, seperti penyajian di ruang diskursus teater. Foto ini adalah salah satu penampilan proyek tersebut di Teater Garasi, Yogyakarta.

Film, salah satu medium yang telah dipercaya mengemansipasi seni dari ketundukan terhadap ritual, pun memiliki kekultusannya sendiri; ritual yang melekat padanya adalah “ritual teknologis”. Sebuah karya film menjadi penting karena, salah satunya yang utama, hubungan sosial si pembuatnya dengan teknologi yang ia gunakan. Film menghasilkan citra-citra yang, bisa dibilang, bukanlah “autentik” (sebagaimana konsep autentisitas yang sudah saya jelaskan di atas) karena kamera hanya mereproduksi image dari alam, namun kehadirannya sebagai “karya/kerja teknologis” (termasuk juga konteks bagaimana karya film itu diproyeksikan di dalam sinema) sebenarnya juga tetap menekankan “jarak” (prinsip utama dari kerja aura). Akan tetapi, autentisitas pada film hadir dalam konsep yang berbeda sama sekali: pengalaman ketubuhan atas kamera (yang secara empirik milik si pembuat) dan pengalaman penonton di dalam sinema, bisa dibilang, adalah fungsi-fungsi sosial yang menegaskan keautentisitasan film untuk dapat menjadi beraura.

Sampai di sini, maka kita tidak bisa serta merta mengatakan bahwa era reproduksi mekanis (atau reproduksi teknologis) telah menghilangkan sama sekali konsep aura. Sebab, bagaimana mungkin kita akan berargumen demikian jika ternyata Sinema juga mempunyai aura…? Kalau begitu, modus yang bagaimanakah yang membuat kita bisa menangkap performativitas sebuah karya? Apakah performativitas hanya melekat pada karya-karya yang diproduksi lewat mesin-mesin? Apakah lukisan, yang umumnya auratik, juga bisa dimaknai sebagai sesuatu yang performatif? Untuk menjawab pertanyaan ini, kata kunci yang disebutkan oleh Gaines pun, akhirnya, menjadi penting di sini: modus signifikasi atau modus penandaan (modes of signification).

Sejumlah Contoh Karya yang Performatif

Nude Descending a Staircase, No. 2 (1912) karya Marcel Duchamp. (Sumber: spDuchamp, [CC BY 2.0], via Flickr)

Sebelumnya saya sudah menyinggung bahwa fotografi mendorong senirupa menempuh landasan-landasan sains untuk tetap menegaskan keberadaannya. Hal ini berkaitan dengan modus penandaan, dan ketika suatu modus penandaan dari sebuah karya tepat mencapai sasarannya, pada titik itulah karya tersebut menjadi performatif.

Modus penandaan pada sebuah karya harus berorientasi pada bagaimana daya ungkapnya—bahasa—mempunyai efek yang mentransformasi secara sosial, atau setidaknya menegaskan suatu keadaan sosial, tetapi tidak dalam pengertian bahwa karya tersebut mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan sosial yang ada. Prinsip ini merujuk dasar teori tentang “ungkapan performatif” yang dijelaskan oleh J. L. Austin ketika membangun konsep performativitas.

Dalam konteks senirupa seperti lukisan, keadaan sosial dihadirkan bukan seperti kutipan/salinan atas dunia nyata, melainkan dihadirkan sebagai kode-kode yang bisa jadi konstruksinya tidak menunjukkan kepersisan sama sekali dengan dunia nyata.

Ilustrasi penyebaran warna dengan prisma. (Sumber: Spiggetderivative work: Cepheiden [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons).
Roda warna Goethe dalam Theory of Colours (1810). (Sumber: Goethe, via Prof. Dr. Hans Irtel [Public domain], via Wikimedia Commons).

Teori cahaya yang digali oleh Isaac Newton di Abad ke-18 menjadi salah satu sains yang menjadi dasar bagi penciptaan rupa. Penggalian logika warna ini, bisa dibilang, merupakan aspek yang didayakan sebagai salah satu modus penandaan dalam karya-karya senirupa.

Modus penandaan pada karya-karya Impresionisme, misalnya, memiliki performativitas tertentu bukan karena mereka menggambarkan atau mendeskripsikan dengan meniru visual dari kehidupan sosial masyarakat di luar studio. Lagipula, memang tidak akan kita temukan motif untuk mencapai “kepersisan” dalam Impressionisme. Yang sebenarnya terjadi ialah, para seniman Impressionisme tengah menegaskan suatu keadaan zaman—yang telah dihinggapi fotografi—dengan menjadikan “kerja cahaya” atau ungkapan optikal sebagai studi kasus mereka. Sapuan kasar dan modifikasi warna adalah beberapa di antaranya yang merupakan bagian dari modus penandaan Impressionisme. Dengan kata lain, keadaan zaman kala itu diungkapkan secara visual dengan “mem-perform-kan” kerja cahaya itu sendiri. Kerja optikal bukan dideskripsikan, tetapi di-perform-kan lewat lukisan.

Dengan cara pandang ini, kita bisa berargumen bahwa prinsip aura (yang mengacu kepada keunikan empiris si pengarang) dapat bersanding dengan prinsip performatif (dengan melihat efek dari modus penandaan yang mereka lakukan terhadap medan sosial seni). Temuan-temuan analitis dan penyelidikan artistik Paul Cézanne, seperti yang dapat ditinjau dalam seri Mont Sainte-Victoire, bisa dibilang sebagai karya yang sangat performatif karena modus penandaan yang dilakukannya mentransformasi secara sosial medan senirupa modern di kemudian hari. Jika Georges Braque dianggap sebagai “Bapak Kubisme”, Pablo Picasso (co-founder Kubisme lainnya) bahkan menyatakan bahwa Cézanne adalah “Bapak dari kita semua”.

Soleil couchant à Ivry (Sunset at Ivry, 1873) karya Armand Guillaumin (Sumber: Armand Guillaumin [Public domain], via Wikimedia Commons).
Bal du moulin de la Galette (1876) karya Pierre-Auguste Renoir (Sumber: Pierre-Auguste Renoir [Public domain], via Wikimedia Commons).
La Seine au point du jour (1877) karya Alfred Sisley. (Sumber: Alfred Sisley [CC BY-SA 4.0], via Wikimedia Commons).
At the Races (1877-1880) karya Edgar Degas. (Sumber: Edgar Degas [Public domain], via Wikimedia Commons).
Stilleben mit Früchtekorb (1888-1890) karya Paul Cézanne. (Sumber: Paul Cézanne [Public domain], via Wikimedia Commons).
Stilleben mit Zuckerdose (1888-1890) karya Paul Cézanne. (Sumber: Paul Cézanne [Public domain], via Wikimedia Commons).
Still Life with Apples and a Pot of Primroses (1890) karya Paul Cézanne. (Sumber: Paul Cézanne [Public domain], via Wikimedia Commons).
Mont Sainte-Victoire (La Montagne Sainte-Victoire) (1885-1895) karya Paul Cézanne. (Sumber: Paul Cézanne [Public domain], via Wikimedia Commons).
Mont Sainte-Victoire and Château Noir (1904-1906) karya Paul Cézanne. (Sumber: Paul Cézanne [Public domain], via Wikimedia Commons)

Contoh di atas, tentu saja, bukan pula dalam rangka untuk menyatakan bahwa semua karya Impressionisme (hingga Kubisme dan ismeisme lainnya) adalah aural sekaligus performatif. Sebab, dengan berpegang teguh pada dasar-dasar teoretik Austin, kita harus mengakui bahwa performativitas adalah sesuatu yang terjadi karena sejumlah syarat dan prasyarat. Bahkan, tak jarang—meskipun ini bukan yang utama—ia terkait dengan momentum atau konteks tertentu. Selain itu, sebagai “aparatus representasional” yang lahir dari “modus penandaan”, performativitas perlu dilihat dalam kerangka pikir struktural dan sistemis dari suatu proses penyampaian makna, layaknya bagaimana sebuah bahasa bekerja di dalam kehidupan kita. Dalam penangkapannya oleh manusia, yang bekerja adalah sistem pemaknaan daripada kompleksitas rasa. Dengan kata lain, performativitas adalah hal yang diskursif sehingga penyimpulannya perlu melalui penjelajahan “konstelasi” [citra] tertentu.

Bisa dikatakan bahwa, dalam menyelidiki performativitas, kita akan mendapatkan penerangan yang paling gamblang ketika menelaah kerja media. Sebab, media kerap memiliki efek yang nyata terhadap reaksi ketubuhan manusia. Keterkejutan orang-orang terhadap “kereta yang datang mendekat” saat Lumière Bersaudara pertama kali mengajak massa menonton film—beberapa penonton konon bersembunyi ke balik bangku—adalah contoh yang paling jelas dari bagaimana media adalah performatif. Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan menonton di dalam sinema dilestarikan dengan konvensi-konvensi. Ruang gelap sinema, yang di subjudul sebelumnya saya sebut juga memiliki auranya sendiri itu, pada dasarnya adalah performatif karena memunculkan efek di tubuh manusia: duduk diam tenggelam menikmati film—dan logika ini tentu saja juga ada pada teater (seni pertunjukan, atau performing arts, yang berkembang sebelum film) yang mengutamakan penggunaan ruang gelap dan panggung.

Peristiwa sejarah tentang keterkejutan orang-orang saat menonton film yang ditayangkan Lumiere bersaudara (lihat cuplikan video di atas), diilustrasikan di dalam cerita film Hugo (2011) karya Martin Scorsese (lihat video bawah).

Masih mengambil sinema sebagai contoh: film-film propaganda adalah yang paling dekat untuk menerangkan performativitas film. Battleship Potemkin (1925) karya Sergei Eisenstein, merupakan karya yang performatif bukan karena ia mendeskripsikan salah satu peristiwa (yang terjadi di tahun 1905) dalam kronologi revolusi bangsa Rusia (yaitu Revolusi Bolshevik yang memuncak di tahun 1917), tetapi lebih sebagai maneuver taktis atas audiens. Dengan jenius, Eisenstein justru menggunakan modus penandaan pada film dengan memotong durasi sejarah asli sebagai kronologi cerita film itu—sedangkan puncak perayaan atas hari revolusi dihadirkan pada film berjudul October: Ten Days That Shook the World (1928). Hal itu dilakukan Eisenstein dalam rangka “…revolusi sinematik yang mentransformasi gagasan sosialisme ke ranah konstruksi citra…efek film…untuk melanjutkan perjuangan revolusi.”[15]

Film berjudul Man with a Movie Camera (1929) karya Dziga Vertov, contoh lainnya, merupakan lompatan visioner dalam sejarah media (terutama moving image). Karya ini performatif bukan saja karena ia dianggap telah menjadi indeks utama dalam pengembangan bahasa media baru[16], tetapi juga karena berhasil bermain-main dengan modus penandaan yang berorientasi pada transformasi sosial atas fungsi kamera dan medium film itu sendiri. Lewat manifesto Kino-Eye, Vertov menyatakan bahwa film harus menjadi alat seni dan Man with a Movie Camera adalah cara dia mengungkapkannya. Karya tersebut mentransformasi film, dari yang sekadar “alat hiburan” menjadi “alat seni”, bukan dengan “mendeskripsikan atau menceritakan betapa seni membutuhkan film”, tetapi dengan menerapkan langsung (dengan kata lain: mem-perform-kan) potensi batiniahnya sebagai film.

Sergei Eisenstein dan Dziga Vertov dapat dikatakan menghasilkan karya-karya performatif karena, juga perlu diakui, berada dalam suatu momentum yang pas, yaitu bersamaan dengan memuncaknya orientasi dari politik kebudayaan Rusia untuk mentransformasi bangsa secara menyeluruh. Memahami karya-karya mereka tidak bisa terlepas dari konteks diskursus ideologis yang bekerja di negeri tersebut. Selain itu, perlu pula dicatat (sebelum kita beranjak ke contoh selanjutnya) bahwa, kedua sutradara tersebut juga aktif di masa Futurisme Rusia[17] yang konon mengadopsi Futurisme Italia—tetapi menjadi polemik karena, katanya, sejumlah Futuris Rusia kala itu menekankan independensi mereka dari Futurisme Italia[18]—sementara Futurisme Italia mengakar pada pemikiran Filippo Tommaso Marinetti.

Teil der Schaumaschinerie (Part of the Mechanical Setting) (1920-21, diterbitkan tahun 1923) karya El Lissitzky. (Sumber: El Lissitzky [Public domain], via Wikimedia Commons).

Nama Filippo Tommaso Marinetti disinggung oleh Walter Benjamin pada bagian akhir dari esainya tentang “era reproduksi mekanis”, untuk menjelaskan bagaimana kekerasan perang memiliki relasi dengan estetika. “…Fasisme meng-estetik-kan situasi politik; Komunisme menanggapinya dengan mem-politik-kan seni,” tulis Benjamin, menutup esainya.[19] Di sini, dapat kita pahami bahwa, alih-alih menekankan seni sebagai sarana kontemplasi, revolusi dan perang antar-negara yang terjadi pada masa-masa itu justru menunjukkan bagaimana kesenian berkaitan kuat dengan performa massa. Karya seni secara sosial bukan lagi berfungsi sebagai penggambaran dari situasi tertentu, atau pemujaan yang bersifat ritualistik, tapi bekerja layaknya media yang bisa menentukan opini, sikap, dan perilaku massa. Di tangan mereka, seni (apa pun subbidangnya, termasuk senirupa) menjadi performatif.

Lady with a fan (1916) karya Mikhail Larionov. (Sumber: Mikhail Larionov [Public domain], via Wikimedia Commons).
Cyclist (1913) karya Natalia Goncharova. (Sumber: Natalia Goncharova [Public domain], via Wikimedia Commons).
Guernica (1937) karya Pablo Picasso. (Sumber: Herbert Behrens / Anefo / CC0, via Wikimedia Commons).
Angelus Novus (1920) karya Paul Klee. (Sumber: Paul Klee [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons).

Freddie Rokem, menurut saya, menawarkan sebuah metode pembacaan yang cukup relevan untuk menilai performativitas sebuah karya seni, lewat ulasan komparatifnya tentang lukisan Guernica (1937) karya Pablo Picasso dan karya cetak mono Angelus Novus (1920) karya Paul Klee.[20] Dalam rangka mengungkap bagaimana proses kanonisasi terjadi pada karya seni, Rokem menarik hubungan kontekstual dari kedua karya tersebut terhadap wacana kekerasan dan konflik yang berlangsung pada masa pergolakan sosiopolitik di tingkat global pada penghujung era 1930-an, juga memeriksa bagaimana perlakuan terhadap kedua karya itu, baik di saat maupun sesudah era 1930-an, dan lantas memeriksa kembali posisi peristiwa-peristiwa sejarah yang ada ke dalam wacana estetika. Terdapat kondisi khas pada masing-masing karya: Guernica adalah karya yang dipresentasikan di berbagai belahan dunia ke hadapan publik sementara Angelus Novus dimiliki secara privat oleh Walter Benjamin. Di akhir ulasannya, Rokem berkesimpulan bahwa baik Guernica maupun Angelus Novus sama-sama membangun suatu konstelasi tentang bencana (catastrophic constellation), tetapi dengan konstruksi yang berbeda. Guernica menjadi fetish dan monumental seturut dengan situasinya yang dipresentasikan di ruang publik, dan secara langsung terkontekstualisasi melalui diskursus publik yang ia picu. Sementara itu, Angelus Novus menjadi ikonik justru lewat pembacaan personal Walter Benjamin yang memiliki karya cetak itu secara privat. Poin lain yang bisa kita tangkap dari kesimpulan Rokem adalah, kedua karya tersebut performatif karena menghadirkan efek tertentu di kepala masyarakat dalam memaknai wacana kekerasan, sebagaimana yang ditulis Rokem:

“Picasso has transformed us into direct witnesses of a particular catastrophe, while Benjamin asks us to transform an already known chain of events into a universal, abstract catastrophe: history itself.”[21]

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kesimpulan Rokem di atas, dalam kaitannya dengan gagasan performativitas yang tengah kita bahas, justru menunjukkan bagaimana sebenarnya performativitas pada karya tidak muncul begitu saja, tetapi dengan adanya kontekstualisasi tertentu yang berkaitan dengan modus penandaan yang terdapat pada karya. Metode tafsir Rokem ini, menurut saya, relevan dengan teoretisasi yang ditawarkan oleh Austin mengenai ungkapan performatif, meskipun ungkapan yang ia kaji adalah “ungkapan visual” (karya senirupa).

Lina Lapelyte, Rugile Barzdziukaite, Vaiva Grinyte. Tiga seniman yang membuat Sun & Sea. (Sumber foto: © Andrej Vasilenko, diakses dari situs web Sun & Sea (Marina)).

Menyebut satu contoh terakhir, ialah opera-performans berjudul Sun & Sea (2017) karya Rugilė Barzdžiukaitė, Vaiva Grainytė, Lina Lapelytė. Untuk versi yang ditampilkan di Venice Biennale 2019 dengan judul Sun & Sea (Marina), karya ini mendapat penghargaan Golden Lion for Best National Participation. Meskipun saya tidak pernah hadir pada perhelatan tersebut—dan dengan kata lain belum pernah melihat langsung karya itu, dan berusaha menilainya hanya berdasarkan tinjauan terhadap sejumlah dokumentasi dan ulasan tentang karya tersebut di sejumlah artikel, saya berpendapat bahwa karya ini dapat kita sebut performatif.

Sun & Sea (Marina) (2019) karya Rugile Barzdziukaite, Vaiva Grainyte, Lina Lapelyte, opera-performance, Biennale Arte 2019, Venice (Sumber foto: © Andrej Vasilenko, diakses dari situs web Sun & Sea (Marina)).

Alasannya tentu saja bukan hanya karena Sun & Sea adalah karya performans—yang mana hal itu sudah menyatakan keterkaitan yang kuat dengan gagasan performativitas. Tapi, lebih dari itu, Sun & Sea secara riil memenggal lanskap dari sebuah fenomena global tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Sebagai sebuah karya performans, Sun & Sea bertindak aktif sebagai suatu metonimia.

Sun & Sea (Marina) (2019) karya Rugile Barzdziukaite, Vaiva Grainyte, Lina Lapelyte, opera-performance, Biennale Arte 2019, Venice (Sumber foto: © Andrej Vasilenko, diakses dari situs web Sun & Sea (Marina)).

Selain menghadirkan konstruksi visual yang massif dalam rangka menegaskan keadaan sosial yang benar-benar kita alami sekarang ini, opera yang menggunakan “pantai artifisial” tersebut menyajikan kompleksitas penandaan dalam permainan majas bahasa (visual) sehari-hari manusia ke skala pemanggungan eksperimental. Orang-orang di luar tim penampil pun dipersilakan untuk berpartisipasi ke dalam performans tersebut untuk ikut mengalami sebuah refleksi yang terkondisikan.[22] Lewat cara itu, Sun & Sea (Marina) membuka batas antara yang representasi dan presentasi sehingga kecenderungan untuk menjadi sekadar deskripsi pun ditinggalkan dan karenanya karya tersebut menjadi performatif dengan tidak “mengutip” pengalaman nyata, tetapi justru “menghadirkan” pengalaman nyata sehari-hari lewat konsep interaksi yang berbeda. ***

Endnotes:

[1] David Suisman, “Thinking Historically About Sound and Sense”, dalam David Suisman & Susan Strasser (Eds.), Sound in the Age of Mechanical Reproduction, Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 2010, hlm. 3.

[2] Lihat Otty Widasari, “Seni Performans Indonesia di Generasi Performatif”, 22 April 2019, diakses dari situs web 69 Performance Club tanggal 17 Mei 2019.

[3] Lihat Manshur Zikri, “Notabene Generasi Performatif”, 5 Mei 2019, diakses dari situs web Manshur Zikri tanggal 17 Mei 2019.

[4] John Langshaw Austin, How to Do Things with Words, Oxford University Press, 1962.

[5] Judith Butler, Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity, New York & London: Routledge, 1999, hlm. 171-190.

[6] John Langshaw Austin, op. cit., hlm. 4-7.

[7] Ungkapan Austin dalam Lecture II dibuku yang sama. Lihat John Langshaw Austin, op. cit., hlm. 20.

[8] Judith Butler, op. cit., hlm. 177.

[9] Malik Gaines, “Performativity”, 2016, diakses dari situs web In Terms of Performance tanggal 17 Mei 2017.

[10] André Bazin, “The Ontology of Photographic Image”, dalam A. Bazin, & H. Gray (Penyunt.), What Is Cinema? (H. Gray, Penerj., Vol. I), London: University of California Press Ltd., 1967, hlm. (9-16)

[11] Clive Bell, “The Aesthetic Hypothesis”, dalam Charles Harrison dan Paul Wood (Eds.), Art in Theory 1900-1990: An Anthology of Changing Ideas, Oxford & Cambridge: Blackwell, 1993, hlm. 115.

[12] Ronny Agustinus, “Video: Not All Correct…”, diakses dari situs web http://www.senimedia.id tanggal 17 Mei 2019.

[13] Seperti Impressionisme, Ekspresionisme, Kubisme, Surrealisme, dll.

[14] Lihat Walter Benjamin, “The Work of Art in the Age of Its Technological Reproduction” (Versi Ketiga), dalam Michael W. Jennings, Marcus Bullock, Howard Eiland, dan Gary Smith (Eds.), Walter Benjamin: Selected Writings, Harvard University Press, 2006, hlm. 256. (Catatan penulis: dalam versi terjemahan lainnya, seperti versi terjemahan dari Harry Zohn, esai ini dijuduli “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”. Lihat di situs web http://www.marxist.org).

[15] Manshur Zikri, “Tantangan Pemberontakan Baru Atas Media [Filem]”, dalam Manshur Zikri dan Ugeng T. Moetidjo (Eds), ARKIPEL Electoral Risk – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Jakarta: Forum Lenteng, 2014, hlm. 138.

[16] Lev Manovich membangun analisa tentang bahasa media baru dalam The Language of New Media (The MIT Press, 2001) dengan terlebih dahulu menunjukkan bahwa karya Dziga Vertov tersebut sejak awal telah menjadi katalog utama bagi perkembangan dari logika bahasa media baru.

[17] Sarah Dadswell berpendapat bahwa rentang waktu dari Futurisme Rusia adalah dari tahun 1908 hingga 1928. Lihat Sarah Dadswell, “Re-approaching Russian Futurism: The Inter-Revolutionary Years, 1908-1915”, Studies in Slavic Cultures (SISC), Issue IV, “Bakhtin”, September, 2003.

[18] Lihat Anna Lawton, “Russian and Italian Futurist Manifestoes”, The Slavic and East European Journal, Vol. 20, No. 4 (Winter, 1976), hlm. 405-420.

[19] Walter Benjamin, op. cit., hlm. 270.

[20] Lihat Freddie Rokem, “Catastrophic Constellations: Picasso’s Guernica and Klee’s Angelus Novus”, International Journal of Arts and Technology, 2008 Vol.1 No.1, hlm. 34-42.

[21] Freddie Rokem, ibid., hlm. 40

[22] Lihat keterangan mengenai ini di situs web resmi Sun & Sea (Marina) untuk Venice Biennale di menu “Participate!”.

Otty Widasari: Yang Melihat Media

Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

I. Lukisan dan Sinema

Ada tiga hal yang pertama sekali ingin saya utarakan dalam kuratorial ini, sehubungan dengan usaha untuk meletakkan pondasi dan kerangka dalam membangun nilai-nilai pemahaman terhadap aksi bermedia yang dilakukan oleh Otty Widasari—sengaja saya garisbawahi kata “bermedia”, karena itulah satu kata yang cukup mendeskripsikan sang seniman ini secara menyeluruh.

Pertama, jawaban sederhananya atas pertanyaan yang dulu pernah saya ungkapkan, “Mengapa selalu mencatat di buku harian?”, padahal kini, ia—sebagaimana orang kebanyakan—telah akrab dengan teknologi tanpa-tulis-tangan. Jawabannya biasa saja: “Agar tidak lupa.” Bukankah sekarang mencatat hal-hal kecil di perangkat digital nirkabel juga memungkinkan, bahkan (bagi sebagian besar orang) justru lebih memudahkan? Jadi, mengapa aktivitas menulis dengan tangan tetap menjadi penting baginya?

11053323_10153152416751732_3085117567335526632_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Kedua, di banyak lembaran buku hariannya—ia sering menunjukkan beberapa halaman kepada saya dengan selalu semangat—Otty senang menggambar wajah orang-orang yang dekat dengannya atau berada di dekatnya. Ia juga suka menggambar hal-hal lain, seperti badan manusia, benda-benda bukan orang, atau bentuk-bentuk yang tidak mengacu ke objek riil selain titik-titik, garis-garis, dan kotak-kotak. Akan tetapi, goresan pulpen atau cat air—dua alat yang paling sering ia gunakan untuk catatan hariannya, sejauh yang saya tahu—yang merupakan wajah-wajah orang, sangat dominan. Wajah-wajah orang yang ia gambar itu beberapa dapat saya kenali, beberapa tidak. Ia juga sering meminta saya menebak wajah siapa yang sudah ia gambar, menguji ketangkasan visual saya untuk mengilasbalik realitas dan pengalaman sehari-hari untuk dikontekstualisasikan dengan representasi yang terpampang di lembaran buku hariannya itu.

Sketsa Otty Widasari, 22 Mei 2018: Maria dan Pingkan, dua orang anggota Forum Lenteng, di suasana mempersiapkan pameran tunggal Hafiz, “Social Organism”, di Galeri Nasional Indonesia. Diperoleh dari Instagram @ottyrancajale.

Sebelumnya, saya sempat menduga, berdasarkan perhatian saya terhadap kebiasaannya, mungkinkah kegiatan santai sehari-hari sambil menggambar wajah orang-orang itu adalah tindakan di bawah alam sadarnya untuk mempelajari karakteristik mereka yang ia kenal? Saya kemudian teringat, ketika kami pernah berdiskusi mengenai disiplin ilmu apa yang kami dambakan masing-masing, Otty menyebut bahwa ia ingin sekali mendalami antropologi. Baru beberapa menit yang lalu, saya menyadari, rasanya tak mungkin tindakan tersebut dilakukan tanpa kesadaran.

11998881_10153152416171732_5022548632416268854_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.
Sketsa Otty Widasari, 11 Desember 2017: Abi Rama a.k.a. @lykerex, salah satu seniman media kontemporer Indonesia yang cukup berpengaruh di scene-nya; Abi juga anggota Forum Lenteng. Diperoleh dari Instagram @ottyrancajale.

Ketiga, komentar seorang kawan yang tinggal di Amsterdam terhadap lukisan-lukisan dan sketsa-sketsa Otty yang dibuat selama residensi satu bulan di Utrecht, Belanda, penghujung tahun lalu. Berdasarkan komentar kawan kami yang seorang pembuat filem itu, Otty memiliki jalan setapaknya sendiri: di saat orang-orang beralih dari teknologi seluloid ke teknologi serba digital untuk mencari kemungkinan-kemungkinan terbaru dalam memahami dunia representasi dan realitas citra diam maupun citra bergerak—atau justru jangan-jangan kita sedang berusaha berlari kencang untuk menghindari kenyataan, bahwa teknologi pun tak mampu hidup abadi—Otty justru “bersinema” menggunakan medium lukis.

“Lukisanmu menghidupkan yang telah mati,” kata kawan kami itu. Rasanya, bagi saya, Otty justru dengan sadar memanggil kembali kodrat media yang melekat di masa awal sejarah, yakni dengan melakukan perekaan bentuk dan pengungkaian kata melaui kegiatan menggores atau menyapu menggunakan tangan.

12003420_10153152416906732_9106626487849214186_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.
Sketsa Otty Widasari, 8 Februari 2018: salah satu suasana kuliah MILISIFILEM, yakni sebuah platform untuk studi kolektif tentang filem (eksperimental) berdasarkan disiplin seni rupa. Diperoleh dari Intagram @ottyrancajale.

Di era termutakhir saat manusia telah mampu membuat dan menggunakan pelbagai teknologi perekaan super canggih yang dapat membuat representasi objek (lantas mereproduksinya) menjadi 100% serupa dengan bentuk riil, pemilihan “tata cara lama” untuk membingkai kenyataan dan imajinasi, seperti kegiatan melukis, saya rasa masih relevan untuk dilihat pada hari ini sebagai sebuah aksi untuk membaca bagaimana sesungguhnya kerja media dalam mengonstruksi realitas dan sejarah kita.

12003898_10153152416586732_88244120644764666_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Perlu diketahui—dan inilah alasan mengapa saya menyebutnya bermedia—bahwa keakraban Otty dengan media tidak hanya dengan lukisan dan tulisan (namun dua hal itu tetaplah yang utama baginya). Filem dan video—belakangan, ia senang menguliti teknologi digital pada ponsel pintar miliknya—adalah dua macam teknologi media yang turut memengaruhinya dalam memahami realitas dan representasi, terutama dalam aktivitasnya berjibaku dengan visual. Mengacu latar belakang tersebut, berarti ada aspek terkait gagasan sinema yang wajar dan patut disinggung dalam proyek pamerannya ini.

Merujuk kepada sejarah teori sinema, André Bazin pernah membahas benturan antara lukisan dan sinema (Bazin, 1967). Tentu saja, Bazin duduk di sisi sinema dalam menilai perbedaan sifat dan medium dari keduanya. Terutama, pokok-pokok yang dia sorot adalah soal kemungkinan yang terjadi jika lukisan—atau seni rupa—hadir ke dalam karya filem. Bazin lantas mengutarakan pandangannya mengenai perbedaan garis tepi yang membatasi visual di dalam lukisan dengan yang di dalam sinema/filem. Garis tepi “bingkai” (atau frame, yakni milik lukisan) berbeda dengan garis tepi “layar” (atau screen, yakni milik sinema): yang pertama memiliki gaya sentripetal—tarikan mengarah ke dalam—sementara yang kedua memiliki gaya sentrifugal—tarikan mengarah ke luar.

12004065_10153152416021732_617480907145423436_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Bingkai yang membatasi gambar (picture) pada lukisan memposisikan dunia yang ada di dalamnya menjadi berdiri sendiri. Interpretasi seorang pelukis atas dunia riil terpusat ke dalam bingkai sehingga “keadaan terhubung” dengan dunia di luar bingkai itu hilang sama sekali meskipun visual yang kita lihat, bisa saja, merepresentasikan sesuatu yang ada di alam semesta. Bagi Bazin, dunia representasi pada lukisan adalah “daerah kontemplatif sang pelukis yang membuka semata-mata ke bagian dalam lukisan” (hal. 166) dan “menyertakan suatu ruang yang bisa dikatakan berorientasi ke tujuan berbeda” (hal. 165). Sementara itu, garis tepi pada layar adalah “tepian dari selapis alas yang menunjukkan sebagian saja dari kenyataan” (hal. 166) dan lebih tepat dilihat sebagai garis transparan yang memungkinkan dunia citra (image) di dalamnya niscaya terhubung tanpa batas ke alam semesta kita. Jika diandaikan ada sepotong bagian dari gambar lukisan yang ditampilkan sebagai citra di atas layar, pada dasarnya, gambar tersebut telah mengalami pemuaian, dan oleh karena itu “ruang lukisan kehilangan orientasinya dan batas-batasnya, dan dihadirkan ke imajinasi dengan tanpa batas apa pun” (hal. 166). Artinya, saat berhadapan dengan layar—dengan kata lain, berhadapan dengan sinema, contohnya, menonton filem tentang lukisan—sesungguhnya “penonton melihat gambar (lukisan) melalui perantaraan (atau alat bantu) milik sebuah bentuk seni yang sangat mengubah kodrat lukisan itu sendiri” (hal. 165).

12009775_10153152416861732_6569372676048057134_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Penjelasan Bazin tersebut menunjukkan, bahwa perbedaan “bingkai” dan “layar” dapat diindikasi dari aspek “tangibilitas” materialnya, terutama ketika mereka dipresentasikan ke hadapan orang-orang. Sementara kita dapat meraba material yang ada di dalam “bingkai”, yang kita saksikan di atas “layar” sesungguhnya hanyalah cahaya yang tak dapat disentuh. Inilah yang kemudian mendorong Bazin untuk menyatakan bahwa gambar lukisan yang ditangkap kamera, yang citranya kita lihat di layar tontonan, sesungguhnya telah mengalami pergeseran sifat, bentuk, dan medium. Lukisan yang dimaksud telah “menerima sifat spasial sinema dan menjadi bagian dari sinema itu sendiri” (hal. 166).

Refleksi dialektis terhadap teori itu, mungkin, memancing kita untuk melemparkan pertanyaan sederhana: bagaimana jika suatu proses yang berkenaan dengan gambar (pictorial process) itu dibalik: dari ranah sinema ke ranah seni rupa (atau dari filem ke lukisan)? Jika itu dilakukan, bukankah inisiatif itu dengan demikian akan menyertakan suatu ruang yang diorientasikan dalam sebuah haluan yang berbeda, yakni ruang yang berkiblat ke arah atau tujuan yang sama sekali berlainan dengan maksud citra bergerak? Lantas, apa spekulasi yang dapat diajukan dari perubahan itu, khususnya di masa kini?

II. Ones Who Looked at the Presence

Proyek pameran ini adalah bagian dari proyek seni berkelanjutan Otty Widasari yang dimulainya sejak menjalani program residensi seniman di Utrecht, Belanda, tahun lalu. Sang seniman mengembangkan dan mengeksplorasi hubungan antara media, arsip, aksi dokumentasi, dan fenomena reproduksi.

Otty melakukan riset mendalam terhadap arsip-arisp kolonial yang menunjukkan bagaimana teknologi perekaman dan gambar bergerak hadir di Hindia Belanda serta bagaimana reaksi orang-orang pada masa itu terhadap kamera. Otty pernah menyampaikan pendapatnya kepada saya, bahwa kamera, bagaimanapun, akan selalu menggugah sebuah lokasi, apakah itu berupa penolakan ataupun penerimaan dari subjek-subjek yang akan disorot oleh teknologi itu. Reaksi terhadap kamera, setidak-tidaknya, terlihat dari tingkah laku atau sikap seseorang ketika berada di dekat teknologi tersebut.

Liputan Harian Kompas (12 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Harian KOMPAS (12 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Arsip-arsip yang dikumpulkan dan menjadi bahan riset utama Otty adalah materi gambar bergerak hasil rekaman yang dilakukan oleh penjajah kolonial terhadap tujuh lokasi, yakni Balikpapan, Banjarmasin, Toraja, Jakarta (dan Bandung), Jawa Tengah, Lamalera (Kabupaten Lembata), dan Papua. Peristiwa dan situasi di setiap lokasi yang direkam tersebut memiliki muatan spesifiknya masing-masing.

Rekaman di Balikpapan menunjukkan suasana di sekitar pelabuhan dan pantai di dekat sebuah teluk dan bukit, dan di lokasi itu terdapat suatu area kilang minyak. Kamera menyorot pemandangan dari arah kapal datang, dan kita akan melihat orang-orang Barat—yang sangat dapat diduga adalah petugas kilang minyak di masa itu—beraktivitas di sekitaran pantai, semacam berlibur di sela hari-hari kerjanya. Ada juga subjek-subjek yang merupakan orang-orang berkulit cokelat yang tampak sebagai kuli.

Rekaman di Banjarmasin menunjukkan suasana kota dan pasar. Ada pedagang [tukang obat?] yang menawarkan barang dagangannya. Anak-anak bermain-main, dan beberapa di antaranya merespon kehadiran kamera, seakan menyapa kita tanpa ada rasa beban sama sekali. Rekaman di Toraja adalah peristiwa upacara adat penguburan mayat. Sementara itu, rekaman di Lamalera menunjukkan aktivitas penduduk lokal ketika berburu paus—di antara para pemburu paus itu, ada juru tombak yang bergelar lamafa.

Rekaman di Jakarta—dan juga Bandung, tetapi tidak terlalu banyak—menunjukkan suasana di sekitar Waterlooplein (sekarang kita mengenalnya dengan nama Lapangan Banteng) dan aktivitas orang-orang bermain bola. Sedangkan rekaman di Jawa Tengah menunjukkan aktivitas dan suasana pembangunan rel kereta api yang pada masa itu (akan dimanfaatkan) sebagai jalur distribusi bahan-bahan logistik, serta aktivitas penduduk setempat dan para petugas kolonial saat mengeksploitasi tanaman jati. Jalur kereta yang dimaksud melintasi daerah Magelang, Muntilan, dan Yogyakarta. Rekaman lokasi Jakarta dan Jawa Tengah ini dapat kita ketahui dibuat oleh J.C. Lamster (berdasarkan teks yang tertera di dalamnya), dan tampak diperuntukkan sebagai laporan mengenai perkembangan pembangunan infrastruktur kepada pemerintah kolonial Belanda—pembangunan jalur kereta itu, misalnya, telah dimulai sejak Raja Willem I.

Sementara itu, rekaman di Papua, menceritakan kehidupan masyarakat suku Asmat. Rekaman ini telah dikonstruksi sebagaimana dokumenter yang umumnya kita kenal, menceritakan keadaan di periode pascakemerdekaan Indonesia, tahun 1948-1952 [?]. Akan tetapi, rekaman ini sebagiannya berisi foto-foto dokumentasi. Pada skena-skena gambar bergerak, beberapa di antaranya kita dapat melihat aktivitas subjek-subjek anggota suku yang sedang menyampan perahu atau satu-dua orang yang menyadari sedang diperhatikan oleh kamera.

Liputan Harian Kompas (20 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Harian KOMPAS (20 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Otty sendiri tumbuh menjadi dirinya sekarang dengan karakter hasil tempaan pengalaman menjelajah begitu banyak lokasi. Di masa remaja, Otty juga sering berkunjung ke lokasi-lokasi seantero Jawa. Selain itu, kisah-kisah dari ibunya mengenai daerah perumahan tempat terletaknya area kilang minyak di Balikpapan—kota kelahiran dan masa kecil Otty—dan cerita-cerita di Ambarawa, menjadi faktor penguat betapa Otty memiliki pengalaman personal yang kuat dengan daerah-daerah tersebut. Di Balikpapan itu, misalnya, kisah ibunya tentang cahaya-cahaya lampu perumahan di area kilang minyak yang katanya dahulu membentuk mahkota Wilhelmina di malam hari, terbentuk menjadi suatu imajinasi yang tak dapat dilepaskan dari romantisasi sang seniman terhadap lokasi tersebut. Bahkan di Jakarta, tempat-tempat peninggalan kolonial pun menjadi lokasi yang sering ia kunjungi bersama ayahnya, ke berbagai tempat yang dulunya menjadi tempat bermain ayahnya sewaktu kecil saat tinggal di Jl. Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat. Latar belakang ini menunjukkan bahwa beberapa lokasi yang terekam di dalam arsip citra bergerak memiliki korelasi dengan pengalaman personal Otty yang selalu berpindah-pindah. Pengalaman ketubuhan terhadap lokasi tersebut, tentunya, memengaruhi bagaimana Otty menginterpretasi arsip-arsip citra bergerak tersebut.

Liputan Majalah GATRA (25 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Majalah GATRA (24-30 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Praktik yang dilakukan Otty terhadap arsip-arsip itu adalah dengan menonton semua rekaman gambar bergerak yang ia kumpulkan, lalu ia menginterpretasi visual yang ditontonnya di layar komputer jinjingnya itu menjadi banyak lukisan, membedah satu demi satu dari setiap adegan dan mengolahnya menjadi imajinasi baru yang dituangkan ke atas kertas.

12032960_10153184652626732_5301002338128912714_n1
Liputan Harian Tribun Jogja (27 September, 2015) tentang Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Interpretasi lainnya juga dilakukan dengan merekam ulang citra-citra gambar bergerak dari arsip tentang tujuh lokasi tersebut. Caranya, Otty meletakkan komputer jinjingnya di lokasi-lokasi yang berelasi dengan lokasi dan peristiwa di masa lalu yang terekam di dalam arsip, lalu memutar arsip-arsip gambar bergerak mengenai tujuh lokasi tersebut di komputernya. Sementara komputer itu menyala dan memutar arsip gambar bergerak, Otty merekamnya menggunakan kamera video ponsel pribadi. Bidikan kamera video dilakukan dengan ambilan yang bergerak menjauh atau zooming out. Kemudian, di lokasi yang berbeda (yang tetap memiliki relasi dengan lokasi sebelumnya), video yang ia buat tadi diputar di komputer jinjing yang sama, dan Otty merekam video baru yang menyorot komputer yang sedang memutar video pertama, juga dengan teknik ambilan zooming out. Di lokasi ketiga, giliran hasil video kedua itu yang diputar di komputer untuk pengambilan video yang ketiga, dan begitu seterusnya, hingga citra bergerak dari arsip yang ia gunakan di awal seakan hilang tenggelam di dalam rekaman video yang dibuat oleh Otty. Proses ini dilakukan berkali-kali dan di lokasi yang berbeda-beda, sehingga hasil rekaman yang dibuat Otty menunjukkan realitas yang berlapis-lapis, meleburkan representasi peristiwa masa lalu dengan representasi peristiwa di masa kini.

Liputan Majalah TEMPO (15 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Majalah TEMPO (24 September 4 Oktober, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Di samping itu, dalam bentuk karya video yang lain, Otty merekonstruksi materi-materi arsip gambar bergerak itu dengan cara mem-blow up beberapa adegan melalui editing. Di karya video yang ini, Otty memilih-pilah adegan-adegan dari arsip gambar bergerak yang menunjukkan adanya subjek yang menoleh, melihat, atau menyadari kamera. Wajah subjek-subjek tersebut lantas difokuskan melalui teknik zooming in.

Liputan Koran TEMPO (29 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie.
Liputan Koran TEMPO (29 September, 2015), untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, di Ark Galerie. Foto: dokumentasi pribadi, 2015.

Melalui tiga cara yang dijelaskan di atas, eksperimen yang dilakukan oleh Otty dalam proyeknya, baik yang karya lukisan maupun yang karya video, menjadi aksi untuk membuka lipatan interseksi antara lokasi, kehadiran, dan fungsi dari materi-materi/tubuh/medium, dan juga gesture sosial. Dengan melukis, Otty seakan sedang melakukan “pause” untuk menciptakan daya jeda reflektif melalui medium yang berbeda, dan dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa medium lukis melepas ide penjedaan itu dari otoritas aparatus cyborgian kamera dan peranti pemutaran. Sedangkan pada karya video yang dibuatnya—di dalam pameran ini, alih-alih sekadar layar, citra bergerak dari video itu nantinya justru akan diproyeksikan ke atas kertas—Otty seakan sedang mereduksi nilai-nilai yang melekat pada materi arsip gambar bergerak itu dan mengubahnya menjadi karya seni yang memiliki orientasi berbeda: menggerogoti keterbatasan akses terhadap masa lalu dan mentransformasinya menjadi materi otentik baru yang aksesibel untuk masa kini. Metode ini memberikan celah bagi penafsiran baru untuk mengungkap selubung misteri yang menghubungkan “kehadiran teknologi”, “kehadiran tubuh”, “lokasi”, “reaksi subjek-subjek”, “gesture sosial”, “masa lalu”, dan “masa kini”.

III. Melihat Mereka yang Melihat dan Tidak Melihat ke Arah Kamera

Polemik yang juga menjadi persoalan untuk dipaparkan dalam pameran ini ialah tentang material arsip gambar bergerak itu sendiri. Dua kata yang perlu kita cermati ialah “representasi” dan “reproduksi”. Faktanya, rekaman yang dikumpulkan Otty sesungguhnya adalah reproduksi dari rekaman original yang dimiliki oleh bangsa Barat. Sementara di masa lalu rekaman originial itu diambil dengan teknologi seluloid, sekarang ini Otty justru memiliki dan menyaksikan reproduksinya dalam bentuk materi digital (video).

12002758_10153152416526732_2012836527117340511_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Situasi tersebut mengindikasikan persoalan tentang aksesibilitas sang seniman—dan juga orang-orang kebanyakan—terhadap arsip sebagai materi pengetahuan. Di masa kolonial, bukan hanya sumber daya alam, praktik kolonisasi pada dasarnya juga mengeruk dan tidak menyisakan sedikit saja pengetahuan soal media kepada bangsa yang dijajah. Segala macam aktivitas kehidupan di tanah jajahan direkam, lalu dibawa oleh aparatus kolonial ke negara mereka masing-masing dan di simpan di dalam ruang-ruang arsip yang jaraknya ribuan kilometer dari lokasi asal. Di saat kita ingin mengetahui materi-materi tersebut untuk dipelajari saat ini, akses kita atasnya sangat terbatas. Memang, pada masa sekarang, akses itu sebenarnya telah dibuka oleh teknologi digital dan juga internet. Namun, materi arsip yang dapat kita lihat tetap hanyalah tampilan yang tak lebih dari hasil reproduksi, yang sesungguhnya telah kehilangan daya auratiknya. Bukan hanya jarak, sistem penguasaan ilmu pengetahuan seperti itu, dengan demikian, membuat kita juga berjarak sangat jauh dengan masa lalu; berjarak dengan sejarah kita sendiri.

11036952_10153152416951732_4839258548904617951_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Keterbatasan inilah, salah satunya, yang coba dibicarakan oleh Otty dalam lukisan-lukisan Ones Who Looked at the Presence-nya. Pada sebagian lukisan-lukisannya di pameran ini, sang seniman menangkap wajah-wajah dan gesture tubuh dari subjek-subjek yang terekam kamera kolonial, dan mengidentifikasinya dengan membubuhkan kalimat “yang melihat ke arah kamera” dan “yang tidak melihat ke arah kamera” di beberapa lukisan. Pola yang kita temukan ialah, hanya sedikit subjek lokal (orang yang dijajah) yang melihat ke kamera dalam gesture yang mengerti akan fungsi teknologi tersebut. Berbeda dengan subjek-subjek yang merupakan orang Barat: mereka secara sadar merespon kamera yang membidik mereka sebagai alat yang dapat “mengabadikan” momen. Hal itu tertunjukkan, misalnya, dari ekspresi wajah dan tubuh dari subjek-subjek yang dilukis oleh Otty: orang lokal melihat ke kamera dengan tatapan datar atau dengan pose canggung—atau kita bahkan merasakan suatu impresi keterusikan dari subjek itu—sedangkan orang Barat justru melihat dengan gesture riang gembira atau dengan pose yang siap, seperti mengangkat topi atau melambai-lambaikan tangan. Argumentasi mengenai perbedaan sikap ini ialah, teknologi kamera, pada dasarnya, adalah buah dari modernitas dan sejatinya merupakan kultur Barat; kamera adalah representasi dari modernitas. Namun, modernitas dalam hal ini tidak hanya dilihat melalui aspek kemunculan dan penguasaan terhadap teknologi, tetapi juga struktur-struktur yang terukur sehubungan dengan kehidupan, mental, dan sikap, serta kesadaran yang dikonstruksi oleh sistemnya.

11988634_10153152416806732_8288421648224155242_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Lukisan, dalam konteks pameran tunggal Otty di Ark Galerie, dengan kemampuan sublimitasnya untuk memunculkan daya auratik, memainkan peran untuk mengembalikan sisi kemanusiaan yang telah terlanjur tenggelam oleh kedigdayaan modernitas Barat. Aksi melukis justru menjadi cara Otty untuk mengimplementasikan aksi literasi media dan mendadar mekanisme kerja media massa—rekaman-rekaman digital hasil reproduksi arsip original itu, bagaimanapun, sekarang telah menjadi bagian dari wacana media massa. Estetika di dalam seni, sejatinya, berpeluang untuk memecahkan keterbatasan-keterbatasan kita saat berhadapan dengan kontrol media. Sebagaimana filem, kesadaran Otty terhadap lukisan salah satunya didorong oleh hasrat untuk memahami medium, karena pemahaman atas medium adalah dasar untuk memahami mekanisme sistem produksi media itu sendiri.

11986556_10153152416096732_6603734582195688504_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.
11998956_10153152415966732_1108988465318390797_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.
12002898_10153152416286732_4341885628071461816_n
Pemandangan suasana pameran tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence (Ark Galerie, Yogyakarta, 2015). Foto: Hafiz Rancajale, 2015.

Menjawab pertanyaan yang saya utarakan di akhir bagian subjudul pertama esai ini, ide dan metode yang sedang dikembangkan dan diwacanakan oleh Otty dalam proyek Ones Who Looked at the Presence, layaknya, dapat kita nilai sebagai sebuah usaha untuk meraih kembali harta karun yang telah dicuri oleh sistem kolonialisme itu—harta karun yang saya maksud ialah akses dan kebebasan atas pengetahuan dan sejarah—dan meletakkannya secara tepat di ranah konteks seni kontemporer saat ini. Lukisan, dengan demikian, tidak lagi terjebak dalam kerangka usang. Sebagai manusia zaman sekarang, Otty sedang melakukan “perekaman antropologis” atas peristiwa-peristiwa masa lalu. “Daya bingkai (frame)” dan “ruang” pada lukisan menjadi suatu legitimasi untuk membuat gambar-gambar yang dilukis Otty, berdasarkan visual yang ia lihat dan pelajari dari arsip-arsip gambar bergerak itu, tidak menjadi sekadar pengulangan visual dari materi gambar bergeraknya (dengan kata lain, bukan reproduksi), melainkan sebagai bentuk yang benar-benar baru, sebagai representasi baru, yang memiliki orientasi yang berbeda: menjadikannya sebagai materi pengetahuan universal dan bebas yang murni berasal dari tangan manusia yang lahir di tanah asalnya. ***

Bibliography

Bazin, A. (1967). “Painting and Cinema”. Dalam A. Bazin, & H. Gray (Penyunt.), What Is Cinema? (H. Gray, Penerj., Vol. I, hal. 164-169). London: University of California Press Ltd.


Tulisan ini merupakan esai kuratorial yang saya buat untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, yang berlangsung dari tanggal 10 September hingga 15 Oktober 2015 di Ark Galerie, Yogyakarta. Selain sebagai dokumentasi, esai kuratorial, berjudul “Otty Widasari: Yang Melihat Media” saya muat di blog ini dengan tujuan agar dapat dibaca oleh khalayak yang lebih luas. Foto-foto yang diikutsertakan diambil oleh Hafiz Rancajale. (Silakan lihat Pernyataan Kuratorial).

Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film dan Video di Indonesia

Ada semacam kesulitan bagi kita jika hendak membicarakan persinggungan antara film dan video dalam konteks Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya semacam kegagapan dari kalangan pelaku film dan video sendiri pada awal kehadiran kamera video yang datang secara instan di tengah masyarakat. Kegagapan ini membuat mereka meraba-raba dan pada akhirnya menciptakan suatu kekosongan, bahkan kekeliruan dalam menafsirkan perbedaan utama dari kedua medium tersebut. Oleh sebab itu untuk membaca persinggungan antara film dan video di Indonesia lebih mungkin dilihat dari aspek sosial daripada aspek artistik maupun estetiknya.

Film dan Video Beda

Jika kita merujuk pada definisinya, film dan video adalah dua hal berbeda. Film dilihat sebagai kelanjutan dari tradisi seni pendahulunya yang lahir dari perkembangan teknologi (film disebut sebagai “seni ketujuh” dalam tradisi kebudayaan Prancis). Sebagai strategi ekspresi, film tetap mengikuti tradisi baku di bidang seni pertunjukan konvensional (dalam hal ini tradisi teater). Kata “sinema” sendiri bahkan merujuk pada tradisi panggung: sebuah “ruang gelap” di mana terjadi aktivitas menonton suatu bentuk pementasan, pertunjukan (Hafiz, Forum Lenteng, 2011). Sementara André Bazin, kritikus film dari Prancis, berpendapat bahwa konsepsi tentang sinema, pada dasarnya, telah muncul sebelum adanya teknologi film itu sendiri. Ide bawaan yang terdapat pada “film” dan “sinema” muncul dari hasrat untuk mereproduksi realitas sebagaimana yang dirasakan oleh manusia. Dengan demikian, film (teknologi canggih itu) berasal dari dorongan mendasar untuk menghadirkan kembali “yang nyata” dari realitas sosial.

Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa film dan sinema berdiri sendiri karena hasrat tradisi berkesenian untuk menghadiran kembali apa “yang nyata” sedetail mungkin. Alih-alih mengatakan bahwa film dan sinema muncul karena teknologi, maka lebih tepat untuk menyimpulkan bahwa film dan sinema adalah sebuah pencapaian puncak dari tradisi seni dalam kebudayaan dunia yang menggabungkan pelbagai medium kesenian yang hadir melalui temuan teknologi (Hafiz, 2011).

Sementara jika kita mendefinisikan video maka yang akan kita temukan adalah sebuah bentuk teknologi yang mampu memproses, menangkap, merekam, menyimpan, mentransimisi, dan merekonstruksi rentetaan gambar diam secara elektronis yang kemudian menghasilkan serangkaian gambar bergerak (Wikipedia). Dari sekian banyak pengertian tentang apa itu “seni video”, pernyataan dari Veronika Kusumaryati, kritikus film Kelompok Kajian Film IKJ, mungkin dapat membantu. Ia menjelaskan bahwa “medium video menyangkut perangkat berbasis teknologi elektronik dan berisi citraan yang merupakan reaksi terhadap teknologi itu sendiri. Sedangkan Mahardika Yudha, peneliti dari Forum Lenteng, menjelaskan bahwa video lahir dari rahim televisi (media massa). Televisi pulalah yang kemudian menjadi landasan bagi persebaran, perkembangan, dan penggunaan medium video. Di sini pendapat Mahardika memiliki kesamaan dengan pendapat Veronika, bahwa seni video lahir sebagai bentuk tanggapan atas teknologi itu sendiri (Hafiz, 2011).

Berpijak pada pengertian di atas, kita dapat melangkah lebih jauh untuk melihat persinggungan antara film dan video. Sejatinya, persinggungan ini dapat diutarakan dengan kalimat sederhana: kedua medium tersebut sama-sama menangkap objek dan menampilkannya pada permukaan layar. Namun pemahaman ini menjadi sesuatu yang dilupakan. Tidak adanya kesadaran dalam memahami esensi film dan video menyebabkan para praktisi (khususnya di Indonesia sendiri) terjebak dalam euforia kecanggihan teknologi semata sehingga yang dilihat oleh mereka hanyalah aspek praktis dalam aktivitas produksi dan distribusi semata. Bahkan sejak periode 80-an hingga sekarang, persinggungan kedua medium tersebut di Indonesia tidak dilihat sebagai pertemuan yang berpotensi menciptakan bahasa visual dan elemen artistik yang khas dan terus berkembang. Di Indonesia keduanya hanya ditempatkan sebagai sarana komunikasi (bahkan lebih sempit lagi: hiburan) yang sebisa mungkin diterima oleh masyarakat.

Kilas Balik Video sebagai Alat Produksi Film

Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. Di Indonesia sinetron cukup memperlihatkan singgungan antara kedua medium tersebut, yaitu “sinema” (yang merujuk pada “film”) dan “elektronik” (yang merujuk pada video sebagai piranti elektronis).

Sinetron bisa menjadi pijakan pertama dalam membicarakan persinggungan ini karena ia merupakan sebuah produk budaya yang mengamini perkembangan media dan teknologi, sekaligus sebagai cara untuk menyiasati permasalahan ekonomi yang melanda pada masanya. Ketika produksi film di tahun 80-an mengalami kemerosotan karena tingginya biaya, para pembuat film mengalami kesulitan untuk menarik massa agar datang ke bioskop. Maka muncul sebuah strategi alternatif: film yang justru mendatangi massa-nya melalui media televisi. Fritz G. Schadt, salah satu penggiat perfilman Indonesia pada dekade 1970-1980-an pernah mengatakan bahwa televisi adalah medium yang khas rumah tangga; “film” tidak lagi hadir di bioskop melainkan di dalam rumah kita sendiri. Kehadiran televisi membuat para pelaku film tidak lagi memproduksi karya dengan peralatan yang mahal dan dengan proses yang rumit. Mereka memanfaatkan piranti video (dan televisi) yang lebih murah dan cepat. Berangkat dari titik inilah kemudian film dan video (yang diwakili oleh televisi) mengalami persinggungan yang konkrit di tengah-tengah kita.

Catatan sejarah memperlihatkan bahwa kehadiran sinetron menjadi bagian penting dalam soal ini, yaitu ketika di tahun 1985 sebuah film televisi berjudul Gadis Kami Tercinta arahan sutradara Tiar Muslim memenangkan piala Vidia dalam Festifal Film Indonesia di Bandung. Lebih dari itu, kemajuan teknologi video kala itu terlihat pada fenomena merebaknya jumlah video rental (jumlah tempat penyewaan video ketika itu mencapai 1.200 buah), semakin meluasnya kegiatan perekaman yang menggunakan pita magnetis di masyarakat, dan stasiun TV nasional TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang semakin gencar menggunakan video dalam memproduksi program acara, termasuk sandiwara. Arswendo Atmowiloto sebagai orang yang memperkenalkan istilah “sinema elektronik” dan Ali Shahab sebagai salah satu pelopor produksi sinetron pada dekade 1980-an percaya bahwa “…yang akan merajai dunia film bukan lagi bahan baku seluloid, tapi video” (Majalah Tempo Online, Agustus 1985).

Penggunaan video untuk menghasilkan karya film terus berlanjut. Terutama ketika pertengahan tahun 90-an muncul semacam gerakan yang disebut “Sinema Gerilya” [1]. Lalu lahir generasi muda yang dibesarkan oleh beragamnya kanal-kanal televisi (khususnya stasiun MTV / Music Television yang pertama kali hadir di Indonesia pada 1993). Mereka sangat intens dalam memproduksi video musik, video iklan, dan video dokumenter. Berbagai festival film pendek bermunculan, seperti Festival Film-Video Independen Indonesia dan Jakarta International Film Festival (JIFFest) di tahun 1999, satu tahun setelah Reformasi 1998. Kemunculan film Kuldesak (1998) menguatkan hasrat untuk menciptakan kultur “sinema independen” [2]. Hal ini kemudian berlanjut pada maraknya aktivitas produksi film panjang (feature) yang dilakukan dengan kamera digital kemudian mentransfernya ke dalam format pita seluloid 35 mm untuk diedarkan ke gedung-gedung bioskop (Gotot Prakosa, 2001: 13).

Hingga awal tahun 2000-an video masih hanya digunakan sebagai alat untuk merekam dan membuat film semata. Meskipun ada gerakan lain di awal tahun 90-an yang mendayagunakan video sebagai medium ekspresi seni lain (baca: seni rupa). Sebutlah Heri Dono sebagai salah satu pelakunya melalui karya video Hoping to Hear from You Soon (1992) dan Krisna Murti lewat karya 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993). Tetapi apa yang mereka lakukan belum memberikan dampak berarti terhadap kesadaran akan potensi medium video yang sesungguhnya dapat berdiri sebagai medium artistik. Bahkan, pasca Reformasi 1998 yang membuka potensi kebebasan berekspresi dan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk dapat secara bebas menggunakan medium video pun hanya ditanggapi dengan hadirnya Komunitas Film Independen (Konfiden) tahun 1999. Kenyataan ini hanyalah gerakan kultural repetitif yang kembali menafsirkan video sebagai alat untuk membuat film semata [3]. Pada tahun 2001, ruangrupa Jakarta membuat semacam proyek bernama Silent Forces dan melakukan riset awal untuk membaca perkembangan seni video di Indonesia. Hasilnya adalah hampir 90% karya yang didapatkan dari proyek itu merupakan film pendek dan dokumentasi performance art oleh kalangan seniman (Hafiz, 2011).

Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film Indonesia

Pemaparan di atas merupakan bukti bahwa video di Indonesia masih dijadikan alat untuk “menyempurnakan” tradisi seni terdahulu. Video menjadi piranti untuk memindahkan panggung teater ke dalam bentuk tampilan layar datar. Dengan kata lain, produksi video adalah produksi film. Atas pertimbangan kendala dari alat-alat yang lama (baca: produksi film konvensional dan mahal), para pembuat film menggunakan video (dengan mental filmmaker) untuk terus menghidupkan sinema, yang justru berujung pada penurunan kualitas estetik film itu sendiri. Terlebih lagi karena kemunculan sinetron, film-film yang hadir di televisi (juga di layar lebar), mau tidak mau harus tunduk pada kepentingan industri kejar tayang untuk memuaskan hasrat penonton yang sudah terlenakan dengan visual-visual yang tidak berbobot [4].

Kenyataan tersebut hadir karena sebagian besar pelaku film Indonesia pada masa itu tidak menyadari bahwa video, sesungguhnya, memiliki attitude dan bahasanya sendiri, bahwa video memiliki potensi sebagai satu bentuk seni yang utuh, yang dapat berbeda dari film. Berbeda dengan di negara lain, kehadiran video dengan cepat disadari potensinya oleh para seniman luar, misalnya di Amerika Serikat. Sebutlah nama-nama seperti Howard Fried, Bucky Schwart, Frank Gillete, Nam June Paik, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa video memiliki kemampuan yang luar biasa karena sifatnya yang elektronis mampu memanipulasi citraan (Schadt, 1985). Para pelaku seni ini berusaha mencari celah untuk menjadikan video sebagai sebuah bentuk kesenian baru/new media art (Schadt, 1981). Sementara di Indonesia, video adalah alat sosial (juga finansial) untuk terus menghidupkan film, alih-alih sebagai media yang potensial menciptakan temuan artistik yang baru.

Dengan kehadiran video, produksi film menjadi mudah, distribusi menjadi lebih gampang, dan dalam hal presentasi karya pun video tidak sulit untuk dipindahkan ke dalam berbagai format tayang. Hingga sekarang, sangat sedikit sineas Indonesia yang menggunakan pita seluloid untuk memproduksi film. Mereka lebih memilih video (baik dalam format analog maupun digital) dengan berbagai pertimbangan ekonomisnya. Terlebih jika kita menyadari kehadiran sinetron yang tetap bertahan dan bahkan menjadi primadona di hampir seluruh stasiun televisi nasional saat ini. Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa video memang merajai aktivitas produksi gambar bergerak yang menjadi bahan hiburan tontonan masyarakat, bukan sebagai medium kesenian yang otonom.

Mungkin benar bahwa sejauh ini film dan video saling melengkapi. Akan tetapi sejauh mana mereka bisa saling mengisi? Barangkali jawabannya hanya ada pada level peningkatan kuantitas, bukan pada tataran pertarungan bahasa tutur, peningkatan kualitas, pemahaman dan penafsiran konsep, serta eksplorasi kreatif.

(Kemungkinan) Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Video

Lantas bagaimana dengan munculnya fenomena berkesenian dengan medium video di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir? Benar memang, dalam satu dekade terakhir, para pelaku seni sudah menyadari bahwa video dapat berdiri sebagai medium seni tersendiri. Terutama sejak kehadiran ruangrupa dengan OK. Video-nya yang dianggap menjadi salah satu tonggak perkembangan seni video di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui OK. Video banyak seniman muda yang mulai melirik dan mengutak-atik medium yang sangat luar biasa itu. Namun, tetap saja ada “kekosongan”, ada bayang-bayang gajah yang samar di depan mata.

Gali lubang, tutup lubang. Dalam beberapa hal, seni video ditanggapi sebagai satu hal yang berada sejauh-jauhnya dari persoalan film. Seakan ingin terlepas dari dosa para pendahulu yang aktif di tahun 80 dan 90-an. Tetapi bisa jadi justru terjadi hal yang sebaliknya: muncul semacam glorifikasi berlebihan dari seniman hari ini untuk memperlakukan seni video sebagai hal yang tidak dapat dilihat dari perspektif film dan sinema, dan oleh karena itu muncul kecenderungan untuk membuat karya seni video sebebas-bebasnya. Para pembuat video Indonesia seakan tidak membutuhkan referensi pengetahuan film dan sinema, dan hanya bersandar pada kecanggihan luar biasa dari medium video ini.

Keyakinan seperti inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tergagap jika, misalnya, ada karya seni video yang dibuat dengan menggunakan medium film (seluloid). Oleh sebab itu sudah seharusnya kita dapat menyadari usaha OK. Video – Jakarta International Video Festival yang menghilangkan kata art dari istilah video art dan membiarkan kata “video” berdiri sendiri. Keputusan ini dapat dilihat sebagai strategi untuk membuka segala kemungkinan yang dapat dieksplorasi dari medium video sehingga kita tidak terkungkung pada soal seni video yang diartikan secara sempit: melukis dengan video.

Apa yang selalu menjadi masalah utama adalah kultur berkesenian kita yang tidak berjalan secara runut. Seni video dilahap oleh para pembuatnya tanpa menyadari akar sejarah munculnya medium ini. Mereka tidak pula memahami sejarah perkembangan dan kontribusi sinema dan film dalam persinggungannya dengan video. Kalau pun ingin dikatakan bahwa video tidak memiliki induk, bahwa dia muncul dari budaya media massa?berbeda dengan film yang merupakan tetasan telur dari seni teater?kita tidak dapat memungkiri bahwa video, bagaimana pun bentuknya, adalah karya moving image (citra bergerak) yang tidak dapat begitu saja dipisahkan dari film sebagai pembandingnya, karena mereka sama-sama memiliki kode-kode visual yang dapat dibaca (bahkan) dengan cara yang sama.

Dari sekian banyak karya seni video yang dibuat oleh seniman Indonesia, mungkin hanya sedikit yang dapat kita anggap memiliki kesadaran tentang esensi (signifikansi perspektif) film di dalamnya. Sebutlah misalnya Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz yang masuk dalam kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia (2000-2010).

Karya ini dengan genial mampu menghadirkan representasi satu fragmen dalam sebuah bingkai sehingga membuka kemungkinan bagi penonton untuk membaca kode-kode visual secara horizontal untuk merefleksikan keseharian sang tokoh dalam video itu dan juga pengalamannya selama di Jakarta (Akbar Yumni, 2011). Cara menonton horizontal ini merupakan gagasan Barthes untuk menginterpretasikan kode visual dalam film sebagai hal yang dapat diamati dalam bentuk fragmen (pecahan). Di dalam karya video Hafiz, hal itu sangat dimungkinkan. Akan tetapi karena pembuatnya mengemas bahasa video, maka tata cara pembacaan fragmen-fragmen pada film itu tidak dibutuhkan. Sebab tampilan visual dalam video itu sendiri sudah menjadi satu kesatuan fragmen yang utuh, tidak perlu dipecah-pecah. Kode-kode visual semacam itu hanya akan muncul ketika pembuat videonya menyadari dan mengerti esensi bahasa film dalam meramu bahasa video. Dan pembacaan seperti ini hanya akan disadari ketika kita juga menyadari esensi dari film dan bahasanya. Oleh sebab itu, karya video Alam: Syuhada tidak serta merta berhenti pada bentuk seni video yang sempit, tetapi juga dapat dilihat sebagai karya film eksperimental.

Karya video lain yang mungkin bisa kita lihat sebagai karya yang tidak serta merta melupakan esensi dari film adalah karya-karya video akumassa yang memiliki standar teknis yang merujuk pada bahasa dasar pembuatan film. Melihat video akumassa mengingatkan kita pada konsep penyutradaraan yang dilakukan Hitchcock, yang “memberikan otoritas” kepada subjek di dalam bingkai untuk membangun ruang dan jalur sirkulasinya sendiri. Namun pengemasan gaya bahasa yang mengutamakan eye level dan pengambilan gambar yang selektif untuk menguatkan objektivitas substansi, serta tidak menekankan pada durasi: awal, tengah, akhir; klimaks-antiklimaks, menjadikannya sebagai karya yang memiliki bahasa video tersendiri.

Pemahaman seperti inilah yang harus dimiliki oleh para pembuat film dan video: bahwa persinggungan di antara kedua medium tersebut bisa saja terjadi dalam tataran estetis, bukan sekadar pada tataran sosial (apalagi finansial) yang hanya memandang video sebagai alat memudahkan aktivitas produksi dan distribusi semata. Dalam konteks ini, fungsi bahasa viual dalam film dijadikan sebagai pembongkar aktivitas penciptaan karya video sendiri, begitu juga sebaliknya.

Merupakan suatu keniscayaan bahwa karya video, sama halnya dengan film, dapat dilihat dari berbagai perspektif dan interdisiplin pengetahuan. Perspektif film pun, pada dasarnya, dapat dijadikan sebagai salah satu pisau bedah dalam mengkaji karya video yang memiliki attitude dan bahasanya sendiri itu. Dan merupakan suatu keharusan bagi pembuat karya seni video untuk memiliki kesadaran tentang bahasa film dan konsepsi sinema dalam berkarya.

Film dan video memang berbeda, tetapi keduanya sesungguhnya bergerak ke arah yang sama untuk saling bertemu dan melengkapi. Jika kita terus tenggelam dalam euforia kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan video untuk menutupi persoalan-persoalan teknis film dan sinema, kita tidak akan bisa lepas dari senyum jahil sang gajah yang dengan setia nangkring di depan mata, membutakan kita dari potensi-potensi mengejutkan dari persinggungan antara film dan video itu sendiri.*

Catatan:

[1] Gerakan ini dipelopori oleh Seno Gumira Adjidarma, Marseli dan kawan-kawan (mahasiswa Institut Kesenian Jakarta). Pengertian gerilya di sini merujuk pada aksi memproduksi film secara “bergerilya” karena sulitnya mendapatkan izin produksi pada masa Orde Baru. Namun, pada sisi artistik atau temuan bentuk, sinema gerilya tidak punya dampak signifikan bagi perkembangan film cerita, film eksperimental, dan karya seni video di Indonesia.

[2] Pada perkembangan selanjutnya cita-cita ini diikuti dengan dideklarasikannya sebuah gerakan bernama I Cinema oleh Riri Riza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani dan kawan-kawan. Mereka membayangkan sebuah gerakan industri film yang menguasai pasar Indonesia dengan diputarnya karya-karya anak bangsa di bioskop-bioskop Studio 21. Untuk bacaan lebih lanjut, lihat Gotot Prakosa, “Ketika Film Pendek Bersosialisasi” (Jakarta: Yayasan Layar Putih, 2001).

[3] Komunitas ini menggerakkan anak-anak muda di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) untuk membuat film dengan jargon yang sangat terkenal: “membuat film itu mudah”. Hal ini membawa pandangan di tengah masyarakat bahwa film adalah sesuatu yang “trendy” dan “cool” bagi anak-anak muda di Indonesia. Secara tidak langsung hal ini juga membentuk penonton film-film nasional yang diproduksi oleh komunitas yang ditandai oleh besarnya minat penonton film Indonesia di bioskop. Meskipun ujung-ujungnya tetap industrilah yang mendapat berkahnya.

[4] Padahal, pada masa awal sinema elektronik, kualitas karya yang dihasilkan sangat baik. Beberapa sutradara yang berkualitas itu di antaranya adalah Irwansyah dengan karyanya yang sangat terkenal, Sayekti dan Hanafi.

___________________________________________________________________

Tulisan ini adalah salah satu karya tulis saya tentang video, film dan sinema.Tulisan ini saya buat karena permintaan dari seorang rekan yang aktif di bidang yang bersangkutan, dan dimuat dalam sebuah jurnal online komunitasfilm.org pada tanggal 18 September 2011, di kolom OpiniBisa dilihat di link ini! Tulisan ini saya muat lagi di blog ini sekedar untuk berbagi. Silakan dibaca dan semoga bermanfaat! #asyek