042 – Pertanyaan di Masa Massa Menjaga Jarak

Masih terbilang sedikit yang mau menyadari—kusebut “mau” daripada “bisa” karena memang begitulah kecenderungannya—bahwa gelombang yang menghantam kita biasanya berasal dari sapuan takramah manusia atas hamparan luas air garam.

Ya, sedikit yang mau menyadari bahwa api yang menyerang kita biasanya berasal dari sisiran dan garuan bengis manusia atas padang belukar. Memang, masih sedikit yang mau menyadari bahwa panas yang menerpa kita biasanya berasal dari jelajahan pongah manusia atas rimba belantara.

Kusebut “mau” daripada “bisa” karena sebenarnya banyak yang bisa, tapi takmau, menyadari bahwa getaran yang menghantui kita sehari-hari biasanya berasal dari pandangan tak acuh manusia atas genangan dingin embun. Kau dan aku adalah dua dari manusia itu.

Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung. Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung. Mentigi dasan embe laine pak kecubrek! Mentigi dasan embe laine pak kecubrek…! Suara Sang Badai melintas di kepala si sosok kecil. Matanya masih menatap senyum jahil Sang Dahrun. Yang kepalanya dilintasi bunyi ini, mengingat-ingat, sejak kapan ia tahu kalau ia sudah tak tahu arah?

Sedangkan Wafda, juga Lili, memandang kedua orang laki-laki dewasa di berugaq itu; kepala mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, ke Sang Dahrun dan ke si sosok kecil, serentak, seirama, begitu juga lirikan mata mereka, bagaikan tatapan lekat para penonton bulu tangkis yang terus mengikuti ke mana pun kok diarahtembakkan oleh para pemain yang semakin lama semakin memanas. Tapi tidak ada orang yang bergerak-gerak cepat, berteriak seru, dan berkeringat pada hari itu. Tidak ada yang panas di atas berugaq kecuali sinar matahari yang menerpa lantai kayu yang mereka duduki bersama. Di mata Wafda dan Lili, mungkin sekali, adegannya tampak konyol: laki-laki dewasa yang satu seakan merana di bawah kuasa kejahilan laki-laki dewasa yang lain. Atau sebaliknya: lelaki dewasa yang kedua sedang menaruh simpati atas kegelisahan lelaki dewasa yang pertama. (“Mengapa Bapak harus bersimpati…?” mungkin Wafda sering bertanya begitu di dalam hatinya).

Sedangkan para perempuan dewasa—ibunya Wafda dan ibunya Lili beserta si ahli tani dan dua-tiga orang gadis yang usianya lebih muda dari mereka—juga ada di sana, di dekat mereka, dan sudah menghabiskan tiga per empat isi piring mereka masing-masing. Mereka saling tertawa satu sama lain, taktahu menertawakan apa. Perbincangan mereka sungguh-sungguh terlewatkan oleh si sosok kecil gara-gara pikiran melanturnya yang semakin hari semakin tumbuh liar. Dan sekarang Sang Dahrun sudah muncul di hadapannya, ditambah pula ingatannya sendiri ikut mengompori kejahilan-berlipat-ganda siang itu dengan memunculkan suara Sang Badai di ruang pikirannya, maka isi yang menjadi penyebab pecahnya tawa para perempuan dewasa tersebut semakin takdapat ia simak. Sama sekali takdapat, Sarah.

Benar, memang, si sosok kecil sedang gelisah; semakin hari semakin kencang saja, kegelisahannya itu. Wajar juga kalau orang sebaik Sang Dahrun—meskipun ia sering jahil (toh, itu hanya canda supaya orang-orang bisa tertawa lantas bahagia)—akhirnya bersimpati kepada si sosok kecil yang tak putus dirundung gelisah. Apakah itu, bersimpati, adalah suatu hal yang sangat buang-buang waktu…? Tentu tidak. Tapi bagi Wafda dan Lili, orang yang sedari beberapa hari lalu mengajaknya menggambar gajah terbang ini memang cukup menggelikan.

Seandainya, Sarah, seandainya Greta beserta kekuatannya hari ini sudah lebih dulu ada sebelum abad ke-14, mungkin hari ini kita tidak akan kebingungan dengan keputusan para leluhur moyang kita untuk tidak lagi meramu di hutan yang satu sebelum pindah ke hutan yang lain. Mungkin juga kita tidak akan pernah mengenal kematian kelam. Tapi sekarang, kita benar-benar dihukum; kosmos pun sepertinya setuju untuk memaksa manusia agar mau berpindah sejarang mungkin.

Di situasi begitu, bagaimana caranya si sosok kecil bisa dengan rinci menjelaskan kepada Wafda dan Lili tentang seekor gajah yang ingin terbang menemui langit, dan bahwa keinginan gajah itu cukup mendesak dan sudah membuatku, juga kau, Sarah, dan abangmu, bertanya-tanya cukup lama…? *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

041 – Momen Rumpang Pascarerapuhan

Peristiwa yang biasa-biasa saja semuanya sama; setiap peristiwa yang mengejutkan mengejuti kita dengan caranya sendiri.

Hal-hal yang tidak terduga kerap datang dengan aura yang mengejutkan tanpa timbang-timbang. Tapi, sering juga manusia malah dengan pongah bertegak pinggang dan balik menantang, melantunkan koar yang, kedengarannya, jauh lebih panjang. Di saat krisis begini pun, koar sebagian orang—kebanyakan para pejabat—sama saja: awalnya berlagak garang, pada akhirnya gamang.

“Sialan!!! Dahrun…?!!! Bagaimana kau tiba-tiba bisa ada di tengah-tengah kami…!?” si sosok kecil yang tersentak dari lamunan berkata kepada dirinya sendiri. Dia ingat betul, tidak ada laki-laki dewasa yang hadir di berugaq, siang itu,selain dirinya…, tadinya.

Bukan hal yang wajar jika pada siang hari tidak ada laki-laki dewasa datang pulang, atau berkumpul ke berugaq itu, untuk makan siang bersama. Rutinitas orang-orang di Kelinti Capung tampak mencolok: tengah hari adalah waktu untuk bersantai di berugaq; para bujang dan bapak-bapak biasanya akan bersiap-siap untuk dijamu makan siang oleh kakak atau adik perempuan atau istri mereka. (Hei, desa ini tidak sebebas yang kau kira, jika kita bicara perihal kesetaraan hak.) Karenanya, si sosok kecil tentu akan ingat sekali jika sebelumnya dia menyadari tidak ada laki-laki dewasa di berugaq itu. Tidak biasa. Hari itu berbeda daripada hari-hari biasa: hanya dia, laki-laki dewasa, yang siang hari datang ke berugaq. Karena tidak biasa, tidak mungkin dia tidak ingat bagaimana situasi yang terakhir kali—terkait jumlah orang dan siapa-siapa saja yang ada—sebelum mereka memulai ritual makan siang bersama.

Iya!!! Kubilang sekali lagi! Dia ingat betul bahwa memang tidak ada laki-laki dewasa selain dirinya sendiri waktu si ahli tani mengajak semua orang duduk di berugaq untuk makan siang. Bahkan, hingga suapan ke-entah-berapa—sampai akhirnya ia melamunkan Taifun Olga sebagai dalih untuk menyangkal revolusi yang sedang digalakkan ingatan-ingatannya (yang memang sudah lama membangkang)—terutama waktu dia melirik Wafda sambil menduga-duga komentar Sarah tentang rerapuhan kimiawi yang menghujam tubuh representasi Sentot Sudiharto di atas pita hitam-putih itu, si sosok kecil benar-benar masih sadar dan sungguh berani bersumpah bahwa memang tidak ada laki-laki dewasa selain dirinya di berugaq.

Lah, sekarang, di hadapannya, Sang Dahrun muncul tiba-tiba sembari tersenyum! Senyumnya sangat khas; senyum yang laki-laki itu lontarkan setiap kali orang-orang memandang kepadanya dengan raut muka kebingungan.

Tapi detik itu si sosok kecil tidak kebingungan. Dia sedikit terkejut, memang. Sedikit saja, tahu!? Yah, kejutnya jelas sekali tidak nyaman; dia mengalami sensasi seperti habis terlempar dari alam pikirannya sendiri. (Artinya, sebelumnya, dia, entah bagaimana, sempat mengalami keberadaan di alam yang bukan nyata: terbius rerapuhan ingatannya sendiri, gara-gara berusaha menjahit suatu alasan dari arsip-arsip tarian yang secara waktu berjarak cukup jauh dari usia generasi pascalanggas; bius yang membuatnya seakan-akan berada di suatu ambang yang mengantarai alam semesta dan alam pikiran.) Serdawa sang-sakti-mandraguna-Sang-Dahrun-yang-dipertuan-besar-atas-alam-kelakar-se-hutan-bambu-kebun-belakang-rumah-Nengah-Karuna telah mengganggu komunikasi-komunikasi yang bergulat di internal kepalanya. Serdawa itu telah menariknya kembali ke sumber bunyi-bunyi konkret, tapi juga seakan menstilasi selera makannya.

Eh, sebentar, sebentar…! Jangan salah paham dulu! Sang Dahrun bukan pejabat, apalagi orang yang gamang. Jangan kau kira si sosok kecil sedang mengkritik sang-sakti-mandraguna itu! Justru, si sosok kecil merasa agak lega—meskipun sempat tak nyaman akibat kejutan yang ia terima—karena Sang Dahrun mendadak hadir di hadapannya. Dia tahu, dari peristiwa-peristiwa yang biasanya, akan lebih mudah mengajak Wafda menggambar saat bocah itu berada di dekat ayahnya. Tentu saja, anak-anak perempuan yang bahagia semuanya sama; setiap anak perempuan cerdas, ya…, cerdas dengan caranya sendiri. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

040 – Melankolia dan Empedu

Makan, si sosok kecil diam-diam mengakui bahwa dirinya menyimpan melankolia yang berbeda jenisnya, apalagi warnanya, dengan empedu milik orang-orang yang sungguh pernah merasa terlempar ke sudut ruang.

Terpelanting, tubuh orang-orang itu melintasi ambang—tanpa memijak lantai!!! Bergetar, ambang itu lekas runtuh akibat efek terdekat dari lengking-dengking di bawah kaki yang tiba-tiba menguning.

Getir di telinga, pekik itu menjalar secepat kilat, tapi yang kasatmata bukanlah cahaya, melainkan lekuk pasir cokelat bergradasi ungu, rumput hijau yang basah dan kedinginan, bebatuan beserta lumut-lumut mereka yang menempel di lapisan terluar, dan tanah humus bercampur kulit sapi dan kuda yang membentang membentuk permadani yang menolak bunga-bunga; hamparan yang murung nian.

Namun begitu, empedu yang mereka punya mampu memintas bukan hanya proses pencernaan makanan yang biasanya mesti melalui muara halus sepanjang dua puluh lima hingga tiga puluh delapan sentimeter, ataupun hanya proses penayangan tragedi populer siap saji versi standar lainnya yang berdurasi tiga menit, tetapi juga jalan menuju komedi hitam yang bisa mengubah diri mereka menjadi penyintas yang kelak terbiasa merayakan hal-hal masygul di atas cincin api.

Mereka tahu betul bahwa seni tidak diperintah, dan bahwa “seni tidak diperintah” juga harus dijelajahi berdasarkan rambu-rambu yang sudah banyak dicatat, dan bahwa catatan-catatan itu tidaklah kaku sama sekali, bukan doktrin, apalagi sekaku bentuk yang sering dibayang-bayangkan—hanya dibayangkan tanpa dialami benar-benar—sebagai dogma oleh orang-orang fasik dan sinis berlebihan; para fasik yang menjadikan puisi sebagai dalih kemalasan atau tujuan pelarian mereka yang tak elok. Mereka, yang selalu menjaga kesehatan empedunya, tahu betul bagaimana merangkul para fasik macam itu. Ya, nyatanya memang karena empedu sehat yang mereka selalu jaga seperti itulah yang akan membuat kita bertanya: melankolia macam apa lagi yang bisa dipindah ke panggung drama demi menyaingi ketangkasan orang-orang seperti ini…?

Yang si kecil juga ingat, terutama tatkala mintakat-mintakat temaram (sebagaimana yang diyakini para pengagum Zomia) mulai menjadi entitas yang tengah mendesak diujarkannya untai-untai liris mengenai sifat remang milik mereka, ialah niskala yang konon ingin menggubah sajak berwujud Monodon monoceros dengan garis-garisnya. Sangat kuat! Menjadi persimpangan tempat lalu lintas makhluk-makhluk terpencil (tak berwajah; tak penting) selama jutaan tahun, niskala mengemban takdir sebagai akal budi yang jauh lebih tua daripada usia para penjajah, namun terus dianaktirikan kemajuan industri.

Makhluk Bunyi-bunyian di tanah Melayu, salah satu kawanan dari jenis mereka, adalah jejak-jejak asli yang mengingatkan kita bagaimana anak-anak kecil sering bersembunyi diam-diam, atau diculik dengan diam-diam, ke dalam semak-semak kota—kalau bukan ke hutan rimba di kampung-kampung—saat senja hari. Kejadian itu menuntut piuhan waktu dari kedua belah dimensi, dan piuhan-piuhan yang dihasilkan, sebenarnya, adalah ambangan-ambangan (remah-remah di ambang) yang mengerumuni penglihatan mental si sosok kecil pada suapannya yang ketiga. Ia terkejut, kera dansa kini menyaru capung-capung di desa tempat sohibnya, Onyong, berada. Gila, seperiuk nasi telah disekulerisasi menjadi komedi tergenggam. Tak lebih dari lima belas detik, dan hanya selebar telapak tangan, kera dansa itu memicu pikiranmu terbahak.

Mungkin sekali, situasi yang sedang dihadapinya sama saja: menyelisik kemungkinan-kemungkinan kecil dari seekor itik yang makan kue (atau mungkin sebenarnya mereka terdiri dari beberapa ekor…?! Siapa tahu?!) ibarat mempreteli bungkus alat supersonik; alat yang bisingnya sering kali dengan gagap digaung-gaungkan kawula muda maniak kelas menengah hingga lupa waktu. Lupa waktu! Kau dengar, Sarah? Mereka lupa waktu, bahkan lupa bagaimana caranya bermalas-malasan dengan indah.

Sang Dahrun berserdawa, si sosok kecil terlempar—meskipun tidak ke sudut ruang—lepas dari lamunan. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

039 – Yang Menelan Pengalaman hingga Jauh; Yang Membuat Ingatan-ingatan Lari

Waktu mengatur segalanya—menurut Lucy, bukan menurutku, juga bukan menurut kitab sucimu. Waktu mengaburkan konstruksi dan narasi, Sarah.

Setelah suapan pertama, ingatanku berlari entah ke mana. Adegan teman Wafda dan Lili yang tersungkur tadi, di dalam kepalaku, pelan-pelan tertutup kabut. Aku sedang berusaha menilik kembali kecelakaan yang menimpanya. Namun, perlahan-lahan pekarangan di depan dapur umum tenggelam di asap abu-abu yang meluap tiba-tiba. Beberapa peristiwa sedang didorong ke belakang—er… tertelan ke dalam—kabut itu; ia seolah-olah menjelmakan keniskalaan Waktu yang mengatur segala apa yang bergerak di dunia.

Kalau suatu hari nanti kaupunya kesempatan menonton bagaimana Taifun Olga menerjang Sentot Sudiharto di Osaka, engkau akan paham maksudku: bagaimana ingatan-ingatan bisa berlari dari kepala. Yang kaulihat ketika menyaksikan terjangan taifun di tubuh Sentot Sudiharto itu adalah apa yang juga kulihat—detik ini—di dalam kepalaku. Saat menonton, kau akan menyadari bahwa tubuh Sentot bukan hanya diterjang taifun, tetapi juga diterpa oleh rerapuhan—kalau istilah ini boleh kupakai—suatu material. Ya, rerapuhan material tersebut mengabut, memilin, dan bahkan memelintir tatapan para penonton di ruang gelap yang pengap dan berisik. Kau tahu, rerapuhan itu adalah Waktu; waktu yang fisik.

Begitu jugalah kabut di dalam kepalaku sekarang ini: ia memelintir lidahku untuk berbasa-basi. Tepat ketika lidahku terpenjara diam dan menjadi kaku, di saat itu pulalah kabut menggulung di pekarangan berugaq, mendorong—atau menelan…?—semua pengalaman tersudut ke belakangnya. Kabut itu membuat pengalaman-pengalaman menjauh sementara ingatan-ingatan mulai bergerak bangun, lantas memutuskan berlari dan meninggalkan lidahku yang akhirnya cuma mampu melegakan diri—dengan tergagap-gagap, sialnya—dari kesemutan yang menyusul kemudian.

Plecing kangkung mengganggu dayaku untuk mencegah ingatan-ingatan itu pergi. Aku dongkol sekali saat menyadari bahwa diriku mengalami gejala sindrom Wafda: semua ingatan kabur pada menit-menit sebelum auman di tengah hari berhasil dilakukan.

Nasi suapan keduaku masih tergenggam di tangan yang menggantung diam, enggan menghampiri mulutku sendiri, karena mataku kemudian mengamati hal yang lain. Wafda lebih dari sekali melirik kotak oil pastel yang kuletakkan di samping pahaku. Dia duduk lesehan sementara piring nasinya mengantarai kedua kakinya yang menjulur lebar ke kanan ke kiri. Tangannya mengubek-ubek nasi yang berkurang sedikit demi sedikit jumlahnya karena tumpah dari piring; beberapa sudah terlanjur hilang karena lebih dulu dilumat gigi-gigi kecilnya, beberapa lainnya jatuh ke lantai dan ikut meramaikan bintik-bintik pasir di atas papan berugaq.  Sementara itu, mataku tidak hanya sekali melirik mata Wafda yang melirik lebih dari sekali kotak oil pastel-ku. Sedangkan Lili, yang tampak lebih acuh tak acuh dengan keberadaan oil pastel, duduk diam sambil matanya mengikuti arah sendok yang diterbangkan ibunya ke sana ke mari, sebelum sendok itu mendarat di mulut mungilnya.

Aku tahu benar, tak berapa lama lagi, papan berugaq yang kami duduki sekarang akan menjadi arena negosiasi antara si sosok kecil dan Wafda sekali lagi. Ketegangan di antara keduanya sudah terlalu lama, sepertinya. Sementara tidak ada yang tahu di mana catatan-catatan tentang bebek makan kue itu tercecer, di bagian selatan ibu kota si burung tukan sedang menyiapkan beberapa dokumen hitam-putih untuk bisa diintip bersama-sama. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

038 – Tersungkurnya Teman Wafda dan Lili

Maka, keesokan harinya, dengan pikiran yang penuh duga-duga terkait cerita Sang Badai tentang rusa, si sosok kecil berjalan pelan, melanjutkan niatnya untuk mengajak Wafda dan Lili menggambar. Dia menjinjing sekotak oil pastel untuk menggambar. Hari itu, kata ibu-ibu yang duduk ngaso di depan warung yang berada di sebelah huntara tempat ia biasa menginap, Wafda dan Lili sedang bermain kejar-kejaran di halaman sekitar berugaq yang menghadap sebuah lapangan bola kecil yang tak pernah rapi.

Jarak berugaq itu tidak jauh dari huntara. Seperti biasanya di hari-hari terik, setapak yang mengantarai huntara dan berugaq yang dituju si sosok kecil tampak retak-retak. Kondisi basah dan lembab di malam hari, apalagi jika malam hari hujan turun, membuat tanah yang diterpa cahaya matahari panas menjadi kering lagi regang. Karenanya, si sosok kecil tetap harus berjalan dengan hati-hati. Sebagaimana tanah yang becek, tanah kering dan retak-retak itu juga bisa membuatnya terjerembap.

Jarak berugaq semakin dekat, si sosok kecil mendengar sayup-sayup suara Wafda dan Lili yang berteriak-teriak riang. Bukan mereka berdua saja anak-anak kecil yang ada di pekarangan depan berugaq itu. Ada tiga bocah laki-laki lainnya. Si sosok kecil tidak kenal ketiganya.

Saat dirinya masuk ke pekarangan, seorang ahli tani—istri dari seorang penyair—tengah memasak sayur kelor di dapur umum yang berada di belakang berugaq. Seorang perempuan lainnya membantu si ahli tani. Ia mengenal perempuan yang membantu si ahli tani itu sebagai Ana, istri Sang Dahrun—ibunya Wafda. Seorang perempuan lagi, yang membantu si ahli tani dan Ana, adalah si pemilik rumah di Meno, ibunya Lili. Ketiga perempuan itu acuh tak acuh dengan kedatangannya. Si sosok kecil memperhatikan kegiatan ketiga perempuan itu sebentar saja karena matanya kemudian lebih tertarik mengikuti pergerakan Wafda dan Lili beserta tiga bocah laki-laki sepantaran mereka yang berlari-lari.

Anak-anak itu berlari mengitari area dapur umum, kemudian masuk ke kebun sayur, keluar dari kebun sayur lantas berlari ke samping berugaq, lalu muncul lagi dari arah yang berlawanan ke dekat dapur umum, kemudian berhenti di tengah-tengah pekarangan. Semua bocah bersorak gembira saat Wafda berhasil menepuk bahu salah seorang bocah laki-laki. Sebelumnya, empat bocah berlari menghindari kejaran Wafda. Sekarang, si bocah laki-laki itu yang harus mengejar dan menyentuh salah satu dari empat temannya. Lili berlari tidak selincah Wafda, memang, tapi dia cukup lihai menghindari tangkapan si bocah laki-laki yang “terhukum” menjadi “pemburu”.

Tanah di pekarangan itu sama kering dan regangnya dengan lapisan setapak yang tadi dilalui oleh si sosok kecil. Tanah yang mengkhawatirkan, kalau bukan menakutkan; wajah tanah yang harus diperhatikan baik-baik, yang bisa membahayakan keselamatan kita.

Benar saja, tak lama setelah si sosok kecil membayangkan kemungkinan risiko yang disebabkan kondisi tanah, seorang bocah laki-laki, yang berusaha menghindari kejaran si bocah laki-laki yang sedang “kena kutuk”, jatuh tersungkur di gundukan retak yang menjadi batas area kebun sayur. Sorak-sorai girang keempat temannya mendadak berhenti, dan sedetik kemudian, meledaklah tangis si bocah yang tersungkur itu. Tiga orang perempuan yang sedang memasak pun menghentikan pekerjaan mereka. Si ahli tani bergerak cepat, menarik ke atas lengan si bocah yang tersungkur, membantu si anak itu berdiri. “Hati-hati!” kata si ahli tani itu, dengan nada yang sedikit memarahi tapi lebih kental kesan perhatiannya. “Bagian mana yang sakit…?!”

Si bocah yang tersungkur dan menangis itu menggeleng saja. Wajahnya memerah, matanya banjir air mata. Tak berapa lama kemudian, seorang ibu muncul dari pekarangan rumah lain—tetangga berugaq yang berada di sebelah kanan area dapur umum (jika kita mengukur letaknya dengan menghadap ke arah lapangan bola yang tak pernah rapi itu). Si ibu yang baru datang tersebut, tentunya, adalah ibu si anak yang sekarang menangis dengan lebih keras. Si ahli tani lantas tertawa geli, begitu pula dengan Ana dan si pemilik rumah di Meno. Wafda dan Lili, serta dua bocah laki-laki lainnya, diam saja. Mereka menatap peristiwa itu dengan wajah yang bingung, tapi peduli.

Sedangkan si sosok kecil, wajahnya datar saja. Dia kemudian menghisap rokok, berusaha menyimak momen.

Aku bukannya tak peduli dengan si bocah yang tersungkur itu. Lagipula, ibunya sudah datang menghampiri. Ia sekarang menggendong dan membawa anaknya itu pulang ke rumah sembari mengusap-usap punggung si bocah yang menjadi korban tanah yang tak kokoh. Si bocah, dengan tangis yang semakin kencang, memeluk erat ibunya.

“Sudah, sudah, jangan lari-larian lagi, ya…!” seru si ahli tani kepada empat anak yang masih berada di pekarangan berugaq. Maka, permainan pun selesai. Orang-orang di sekitaran dapur umum itu, baik yang masih anak-anak maupun orang-orang dewasa, tahu bahwa anjuran untuk berhenti bermain dari si ahli tani juga siratan untuk mengajak semuanya duduk bersama di atas berugaq, karena hidangan makan siang sudah tersaji hangat dan tampak sangat lezat.

Aku bukannya tak peduli dengan si bocah yang tersungkur itu. Lagipula, semakin banyak tangan yang membantu mengurusnya, akan semakin tidak baik. Memilih diam, agaknya, wajar-wajar saja. Dan sepertinya juga, peristiwa jatuhnya si bocah itu tidak mencederai tubuh si anak sedikit pun. Dia mungkin menangis karena merasa malu terlihat konyol di depan orang-orang, di depan teman-temannya.

“Hei! Ayo ikut makan!” kata si ahli tani kepada si sosok kecil.

“Ya…, tentu!” jawabnya, sembari mematikan bara api di ujung puntung rokok yang masih tersisa setengah batang.

Tidak ada orang dewasa laki-laki di berugaq siang itu. Hanya aku. Dan kurasa momen makan siang ini bisa menjadi kesempatan yang lumayan akan berhasil untuk merayu Wafda dan Lili lagi. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

037 – Pada Saat Berpindah

Seharusnya, seperti ini legendanya: usai membantu Denok, seseorang yang membebaskan para gajah dari jeratan langit-langit yang buruk pada akhirnya bergerak ke desa-desa barat laut, sebelum sampai di Danau Ingatan. Konon, ia ingin mengikuti dan menemani rusa.

Akan tetapi, tahu-tahu terjadi suatu gegar yang sulit dimengerti. Agaknya, gegar itulah yang telah menguak kenyataan tentang kegagapan Sang Menara Gading dalam mengenali fondasi-fondasi organiknya sendiri. Dan mungkin sekali, gegar yang sama, juga telah melukai mata Semut Rangrang dengan sayatan beruntun yang sangat tajam, hingga Semut Rangrang meraung dan, mau tak mau, berenang di genangan kekesalannya sendiri tatkala menyadari dirinya diseret hanyut oleh arus paling ekstrem, arus yang memaksanya memandangi titik nadir. Tapi tarikan arus itu memicu sensasi yang lian dalam dirinya: ada imajinasi untuk melompat lebih jauh…, jaaauuuuuh sekali…!

Semut Rangrang menatap tembok runtuh. Menyedihkan. Tapi mungkin di balik tembok itu ada hal berbeda yang bisa dilihat, pikir Semut Rangrang di tengah-tengah kegiatannya menyeberangi samudra air matanya. Namun, tak ada satu orang pun yang tahu dan berani meyakini itu. Hanya karena sifatnya yang pantang jatuh—karena ia juga keras kepala, Semut Rangrang masih terus berenang hingga sekarang, berusaha mencapai tepi kelopak yang dibanjiri luka, demi melihat pemandangan apa yang ada di balik tembok yang runtuh.

Seharusnya, memang seperti ini legendanya: usai membantu Denok, seseorang yang sudah bekerja membantu pembebasan para gajah, semestinya, melanjutkan perjalanan ke arah barat laut, mengikuti dan menemani rusa, membangun teritorinya yang tenang juga nyaman di sudut sebuah desa. Namun, gegar yang aneh itu rupanya membuat rencana-rencana yang telah disusun menjadi tertunda untuk beberapa periode. Perjalanan harus berbelok sebentar ke arah timur, sekadar untuk memungut sejumput dua jumput isin angsat baru. Meskipun bukan dari Kelinti Capung, isin angsat khusus yang sedang dicari oleh si pembebas gajah itu mungkin bisa jadi bekal yang jauh lebih sakti dari Benda Temokan mana pun.

Tapi, si rusa tampaknya lelah menunggu, dan mungkin juga karena jarak pandangnya yang cukup jauh, makanya ia terus saja berlari melompat menyusuri jalanan yang tidak berbelok, melupakan keberadaan si pembebas gajah yang begitu ingin mengikuti dan menemaninya. Sementara, Denok pun tidak menyahut ketika si pengelana —si pembebas para gajah yang kuceritakan ini— memanggil-manggil, dengan panik bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Sepertinya Denok juga menghilang, menyusul hilangnya si rusa dari pandangan. Si pembebas para gajah itu menjadi sangat sedih sekali.

Barangkali si sosok kecil yang tengah terdiam di depan pintu, karena menyimak gerimis yang sedari sore turun segan-segan, juga mengalami kesedihan yang sama karena ia tak kunjung mengerti gegar-gegar apakah yang sering mengganggu kita semua, yang bahkan bisa membuat “seorang prajurit berani mati” sekalipun mengalami kegugupan yang sangat tidak biasa.

Hm…! Aku lupa, Sarah, sudah berapa lama, ya, aku tidak melihat wajahmu yang ceria? Bagaimana nasib mesin sayap kita?

Kau tahu, seorang kakak sepupu gendut yang belum kau kenal dekat, menurut kabarnya, sedang dalam perjalanan menuju pinggir kota yang dahulu didirikan oleh Ngabehi. Ia juga membawa setumpuk pertanyaan, tak lebih sedikit dari pertanyaan-pertanyaan si sosok kecil sendiri yang tampak gundah di depan pintu huntara sekarang ini.

Beberapa orang masih mencari rumah baru untuk pindah dari atap yang sudah lama rubuh, di atas bumi yang suatu waktu bisa bergoncang lagi, dan di bawah langit yang kapan-kapan bisa bergemuruh lebih keras lagi. Nyatanya, beberapa waktu yang lalu, mereka bergoncang dan bergemuruh lagi, meskipun kita merasakannya hanya karena kata-kata dan teks-teks singkat. 

Satu di antara orang-orang yang sibuk mencari-cari rumah itu, terlihat sedang duduk dan berpikir-pikir, mengulang-ulang pertanyaan yang pernah diucapkan oleh seorang fotografer muda di Brooklyn yang tahun depan akan berusia seperempat abad: “Mau ke mana kau biar senang?” *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

036 – Sang Badai dan Ceritanya tentang Rusa

Segera saja aku bangun dari posisi berbaring, berjongkok cepat, menjulurkan leher hingga kepalaku melewati ambang pintu dan menyentuh sinar jingga senja yang menggaris di sisi luar dinding bangunan. Aku mengejap lantas membuka kedua kelopak mata lebar-lebar, mencoba meyakinkan diri tentang siapa yang melambai-lambaikan tangan itu. Denok masih berdiri di posisi yang sama.

Aku mengejapkan mata lagi. Sosok Denok hilang.

Aku kemudian berdiri, bertegak pinggang dengan tangan kiri sementara tangan kanan menggaruk-garuk kepala. Ke mana gadis itu? Aku yakin tadi dia berdiri di sana!

Kebingunganku disambut oleh bunyi gemuruh langit yang terdengar samar. Ada petir jauh di sana, barangkali…? Tanpa kilat…? Yang jelas, itu bukan gemuruh bangunan yang runtuh. Kemudian angin berhembus pelan. Langit tidak berubah. Dengan tampangnya yang kencang lagi dingin itu, aku tak tahu pasti apakah ia mulai memendungkan diri untuk kemudian menjatuhkan jutaan rintik air ke Kelinti Capung. Awan tak ada. Langit tetap saja tampak datar dan tawar.

Kebingungan yang sebenarnya singkat itu terasa lumayan melelahkan karena kepalaku berusaha mencerna kejadian yang baru saja lewat dengan pikiran maksimal, sekuat yang aku bisa, dan sedetail mungkin; seakan-akan aku sedang menggerakkan semua badan di dalam air sungai, berusaha berenang melawan arusnya demi menggapai tepian yang kasar. Melelahkan!

Kau keliru jika misalnya mengharapkan Denok tiba-tiba muncul di belakang atau di sampingku —aku pribadi masih tak yakin dengan apa yang baru saja kulihat. Denok, si gadis dalam mimpi, sesekali memang masih mengganggu pikiran, tapi gangguannya tidak berhasil menyita perhatianku dari urgensi mengajak Wafda dan Lili menggambar— karena yang justru muncul di belakangku adalah Sang Badai. Ketika aku menoleh, dia baru saja akan duduk di dekat pintu bagian belakang huntara. Tentunya dia masuk ke huntara ini dari pintu sebelah sana.

Aku pun masuk ke dalam, lalu lebih dulu mengambil posisi duduk di dekat bantal sambil meminta sebatang rokok darinya. Sang Badai mengeluarkan sebungkus rokok dari saku sembari melempar pelan tas hitam kecilnya ke atas tikar yang menjadi alas lantai ruangan.

Seminggu terakhir, aku lebih sering bermenung-menung dan jarang menemani Sang Badai jalan-jalan keliling desa. Dia lebih sibuk sekarang, dan sebagian besar urusan yang dia kerjakan tidak ada sangkut pautnya denganku.

Sang Badai duduk tenang-tenang. Berbeda dengan saudaranya yang selalu karismatik dan mengandung jutaan misteri di setiap gestur dan mimik, Sang Badai tampil dengan pembawaan yang memadukan keseriusan dan komedi. Tenang, dalam bahasa tubuh Sang Badai, adalah kesederhanaan yang mengisi kesadaran atas tanggung jawabnya sebagai salah seorang pemikir di lingkungan desa.

Kau mungkin mencerna ceritaku bahwa aku sedang mengamati Sang Badai. Cernaan seperti itu pun keliru. Nyatanya, apa yang kuutarakan sedari tadi hanyalah apa yang biasanya kusadari dari seorang Sang Badai. Alih-alih diamati oleh mataku, Sang Badailah yang justru mengamati gaya dudukku, yang dari gaya duduk itu mungkin oleh matanya tertangkap suatu kegelisahan yang rumit. Aku tidak tahu, rumit yang seperti apa. Aku sendiri tidak menganggap bahwa emosiku sedang rumit, apalagi gaya dudukku. Tapi, mata Sang Badai, yang mengamat-amatiku dengan saksama, mengindikasikan kesimpulannya bahwa aku sedang rumit. Dan kerumitan yang ia tangkap merupakan kasus yang akan selalu menarik perhatiannya.

Sang Badai bisa menyederhanakan hal-hal rumit. Tentu saja, menyederhanakan bukan dalam arti menyepelekan. Penyederhanaan dalam kamus Sang Badai adalah usaha menemukan ungkaian-ungkaian ringan dan layak cerna, tanpa mengurangi bobot-bobot utama dari masalah yang perlu disederhanakan. Aku masih ingat bagaimana Sang Badai bisa menyederhanakan kebingunganku tentang strategi membendung bahaya industri pariwisata hanya dengan dua kata lokal, padahal strategi-strategi semacam itu seharusnya membutuhkan penjelasan panjang, paling tidak sepanjang belasan halaman jurnal ilmiah. Dengan dua kata yang ia cetuskan waktu itu, pertanyaan bocah dari mulutku bisa berhenti seketika. Aku langsung nurut.

Ah, seandainya aku bisa meminta pendapatnya tentang seekor rusa yang mengambil kacamataku pada suatu malam di belakang keramaian orang-orang yang sedang menari menyambut senandung khayalan…! Mengenakan kacamataku di wajahnya, rusa itu berlari dan menyelinap ke dalam celah-celah yang tercipta dari langkah orang-orang yang bergerak serempak. Dalam kegirangannya, sesekali rusa itu melirik ke arahku, tersenyum. Saat khayalan yang bersenandung melalui layar supraantropologis itu berakhir, ia kembali mendekat dan mengabaikan keramaian yang ada. Ia menatapku lekat, dan mengucapkan hal-hal yang sulit dilupakan. Karena sulit dilupakan itulah, rusa itu menjadi rumit di mataku, begitu pula ingatan tentangnya.

Bagaimana kiranya kata-kata sederhana yang akan tercetus dari mulut Sang Badai jika kuceritakan padanya tentang rusa itu? Apakah sesingkat nasihat yang pernah ia berikan di waktu yang lebih dulu lagi, saat dia berusaha mencegah niatku untuk menemui kembali senja yang dituang?

“Ente masih nggak terima dihantui perempuan itu, Heib?” Sang Badai bertanya tiba-tiba, memotong lamunanku. Orang-orang Kelinti Capung memang suka sekali memotong lamunan teman bicaranya. “Hhh… tsseu thaq tse qeuh…!” Sang Badai mengeluarkan bunyi dari mulutnya. Ya, dia pun bisa bermain bunyi ketika menghembuskan asap rokok, seperti yang sering dilakukan Onyong.

Aku tidak menjawab iya, pun tidak menjawab tidak. Aku diam saja mendengar pertanyaan Sang Badai yang terdengar datar itu. Tidak ada nada penasaran sama sekali di dalam pertanyaannya maka aku diam saja. Karena diam sudah cukup untuk menjadi jawaban yang sangat sederhana buat Sang Badai, kan?

“Ck, ck, ck!” Sang Badai menggeleng sambil tersenyum jahil. Dia menghisap rokoknya lagi.

Sekarang, kami berdua sama-sama diam. Di dalam huntara, udara terasa sejuk. Hari sudah gelap. Suara jangkrik belum terdengar kencang, suara anjing-anjing juga belum datang. Suara sapi-sapi yang merebahkan diri di petakan antara huntara kami dan parit kecil di tepi kebun kelor, terdengar sayup, seolah mengajak orang-orang di dalam rumah untuk ikut bersantai bersama mereka. Sapi-sapi itu tampak masih mengunyah rumput.

“Kau dengar suara petir tadi…?” tanyaku, memotong diam kami yang membosankan.

Sang Badai mendadak mematung. Empat puluh tiga detik, lamanya. Sungguh! Aku menghitungnya benar-benar. Jarinya yang menggenggam rokok berhenti di ambang bibir. Setelah lewat semenit, kepalanya menoleh dengan sangat pelan ke arahku; matanya menatap mataku lekat-lekat, selekat tatapan rusa yang kuceritakan tadi—rusa yang mengambil kacamataku.

“Sepertinya langit masih belum puas dengan puisi yang ane buat, ya, Heib?” katanya, dengan wajah yang serius.

“Ha…?!” aku mengernyit, bingung dengan kata-katanya.

Sang Badai lantas tertawa, menertawai kebingunganku, tertawa begitu lepas dan keras. Sang Badai sialan!

“Maksudnya bagaimana?”

“Sudah, lupakan saja!” serunya. “Eh, di mana kacamataku?” Sang Badai mengorek isi tas hitam kecilnya.

“Kenapa langit begitu penting di sini, Heib?” tanyaku. Grasak-grusuk tangan Sang Badai di dalam tas hitam membuatku teringat lagi rusa yang mengambil kacamata. Tapi rupanya Sang Badai menganggap penting pertanyaanku, dan jawabannya mengejutkan:

“Biasa saja, sebenarnya, Heib! Langit terasa penting karena kau terlalu memikirkannya.”

“Mengapa Si Gajah ingin bertemu Si Langit…?”

“Denok. Gajah ingin bertemu Denok,” kata Sang Badai dengan senyum girang.

“Lah…?! Jadi benar kalau anak perempuan itu langit…?!” aku berkata sambil menegakkan badan. Pantatku meninggalkan bantal yang sedari tadi kududuki. Pernyataan Sang Badai semakin membuat perjalanan ini terasa semakin tai.

Sang Badai berhasil mengambil kacamata dari dalam tasnya. Dia membersihkan lensa kacamata itu, lalu mengenakannya untuk membaca sebuah catatan. Kami diam lagi, karena Sang Badai tengah membaca. Tapi diamnya hanya sebentar. Sang Badai melirikku. Dia menghela napas, lalu menutup buku catatannya, memasukkan kacamata itu kembali ke dalam tas.

“Itu ada kisahnya, Heib…” Sang Badai menanggapi kebingunganku dengan santai, sesantai ia meregangkan badan sembari menguap lalu mengambil bantal, meletakkan bantal itu di posisi yang lebih dekat ke pintu. Sang Badai berbaring, melepas lelah. Dia memejamkan mata sembari bersenandung kecil: Cupreng terijiq lepang, masok kude balen cangklung, Mentigi dasan embe laine pak kecubrek…

Aku masih diam. Kali ini menunggunya selesai melantunkan syair. Meskipun tidak sememukau Sang Dahrun, orang yang menelentangkan badan di depanku saat itu jauh lebih memancing rasa penasaran. Seakan-akan ia tengah menyindir, betapa aku kehilangan arah tujuan…

“Kisah tentang gajah yang belajar dari burung-burung, gajah kecil yang ingin terbang,” kata Sang Badai, usai ia bernyanyi. “Semua orang juga tahu, kisah-kisah itu hidup di dalam cerita-cerita rakyat yang memoros pada si kancil. Karena kecerdikannya, rusa kecil itu disebut kancil. Padahal, sama saja, ia tetap saja rusa.”

“Artinya…?”

“Aku kira sejak awal kau sudah salah mengira, Heib…” kata Sang Badai. “Mungkin itu terjadi karena kau berusaha menampik apa yang sebenarnya terjadi, atau luput memeriksa alasan yang paling jujur dari tindakan-tindakanmu…”

Aku jadi merasa aneh.

“Mengapa kau tidak menjelaskannya dengan sederhana saja seperti biasa…?” kataku, gemas. “Rumit sekali, harus menarik kancil—rusa kecil itu—dan teman-temannya segala…?! Ayolah! Maksudnya apa…?”

Aku terpaksa harus menyelanya demikian karena, aku ingat, jika kami harus menyertakan begitu banyak binatang ke dalam percakapan ini, berarti aku masih punya pekerjaan rumah yang belum selesai. Jangankan teman-teman Si Kancil, aku masih harus bertemu dengan empat teman Si Gajah yang lain. (“Kau masih ingat siapa saja mereka, kan?”). Belum lagi Si Tupai…

“Masalahnya, Heib, kunci persoalan ini, ane rasa, bukan ada pada Si Tupai,” kata Sang Badai, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

“Terus, ada pada siapa?” ketusku. “Rusa…?!”

“Lah, iya, Heib! Siapa lagi…?!” kata Sang Badai.

Aku terdiam. Jantungku berdebar.

“Kau tahu, dalam legenda burung-burung pembawa petuah disebutkan bahwa orang yang membantu Denok membebaskan gajah-gajah dari jeratan para dewa adalah dia yang hampir setiap hari bermain dengan rusa,” kata Sang Badai. “Si penolong gajah itu tidak suka memburu binatang-binatang, dan lebih memilih berteman dengan mereka semua. Karena itu Denok senang padanya. Konon, kata orang-orang tua yang mendengar cerita dari orang-orang tua yang hidup di masa sebelum Tuan Guru, si penolong gajah menghilang dari desa ini pada suatu hari. Beberapa hari sebelum menghilang, orang itu berkata kepada Denok bahwa dia punya rencana untuk menempuh perjalanan selama tiga hari menuju arah barat laut, menuju bekas letusan bumi yang sangat luar biasa. Bekas letusan itu kini menjadi sebuah danau yang sangat luas, yang di dalamnya triliunan ingatan lintas zaman diselamatkan. Dia memilih mengembara karena dia sudah paham betul bahwa rusa bisa memberikan ketenangan yang lebih jujur daripada yang lain-lainnya.”

“Jadi, kau ingin bilang bahwa Denok masih mencari orang itu karena dia tidak pulang-pulang…, begitu…?!”

“Ya, kalau dalam cerita-cerita picisan, kan, begitu, Heib…” jawab Sang Badai, tertawa geli.

“Kau sepertinya sengaja menghindari penjelasan yang sederhana, oh, Sang Badai!” seruku, kesal.

“Hahaha! Kalau kau ingin sesuatu yang sederhana, jangan mengharapkan hal itu dariku kali ini. Mintalah kepada rusa…!”

Aku masih mengerutkan kening!

“Iya, rusa yang mengambil kacamatamu malam hari itu…” kata Sang Badai. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

035 – Pesan Si Tupai

Dari salah satu titik di permukaan bumi, di antara koordinat 110°21′ – 110°50′ BT dan 7°46′ – 8°09′ LS, tampak arsiran awan kelabu merembes ke pantulan jingga rembulan senja, yang mana diameternya nyaris menyentuh garis tepi dari siluet bukit yang melandai ke horizon berwarna hitam lebih pekat. Di belakang mereka, terhampar luas langit dengan gradasi kuning, jingga, merah, dan abu-abu, sedangkan yang lebih dekat ke mata si pemandang ialah ranting pepohonan entah jenis apa. Mengagumi lukisan alam perbukitan kapur itu, Si Tupai pun menyebarkan sebuah pesan yang dahulu pernah dijahit Papuq Mekas ke dalam bingkai—kisah yang tanpa malu-malu bahagia—pada tahun terakhir milenium kedua kalender Gregorian. “Tatkala aku bergerak maju, sesekali kulihat kilasan-kilasan ringkas keindahan,” begitu kalimat si papuq yang dikutip menjadi pesan oleh Si Tupai.

Sayangnya, tidak ada pemandangan seperti itu yang dapat kulihat melalui ambang pintu huntara. Padahal, di sini, hari juga sudah senja. Wafda dan Lili tak lagi kelihatan sejak mereka mengiyakan ajakanku tadi siang untuk menggambar di berugaq pada sore hari. Memandangi langit, seolah-olah mengajaknya bicara, aku bukan sedang termangu seperti orang bodoh. Bukan! Aku sedang berpikir dan mengira-ngira, bagaimana cara dan kapan waktu yang pas untuk menghadang kedua bocah itu, lalu menodong mereka dengan sekotak pastel minyak—yang kujawab pensil lilin warna-warni ketika mereka bertanya itu apa—dan sebuah buku gambar berisi dua puluh empat lembar kertas putih. Baiklah, kalau memang bukan gajah terbang, melainkan bebek makan kue, yang ingin mereka gambar lebih dulu, aku rela menuruti mereka asalkan cara itu berguna. Barangkali saja, kan, dari suasana yang akrab-akrab begitu, muncul kesempatan baru untuk merayu mereka kembali sehingga mau menggambar gajah terbang…?!

Onyong juga tak muncul-muncul lagi. Terakhir kali bertemu, dia menemaniku membeli buku gambar di Pasar Capung seminggu yang lalu. Ke mana dia? Kalau Sang Dahrun…? Yah, dia ada di mana-mana! Seperti adiknya, yang kerap hilang sesaat, tapi lebih sering muncul ke tengah tongkrongan para pengeliling api unggun yang membara dari tumpukan sampah berisi campuran botol-botol plastik, batang-batang lidi tusuk sate ayam, dan rumput-rumput. Bara api itu biasanya menyala pada sore atau malam hari, tapi tak pernah sampai larut. Nah, selain langit senja yang dingin, yang sepertinya enggan bercakap-cakap denganku, tumpukan sampah itulah yang terlihat dari ambang pintu huntara di mana aku kini berbaring sambil menimbang-nimbang pesan yang ditulis ulang oleh Si Tupai. Adakah mungkin ia sudah mendengar cerita itu hingga selesai, narasi yang membungkus pengalaman sang arsip selama tiga puluh tahun menghadapi sekian gejolak zaman…?

Mengakui ketidakmampuannya mencari tahu dari mana dan ke mana hidupnya bermula dan berakhir, si papuq tua Mekas dengan riang gembira merayakan kebancuhan citra-citra —wujud lain ingatan— yang ia percaya mengandung beberapa jenis orde tertentu, kendati masih sukar dipahami. Toh, ia malahan benar-benar tak ingin memahaminya. Kalau diperkenankan meniru model pembelaan diri si Cipto, cerpenis Jogja yang pernah diinterogasi Prima terkait pencurian buku mediokernya itu, menurutku kita memang perlu mencuri sejumlah ingatan dengan tangkapan layar, seiring citra-citra mereka menerpa mata para pengagum mimpi. Sebab, pencurian yang demikian, boleh jadi, adalah alasan mengapa, di dalam ruang gema kiwari ini, Clair de Lune milik Debussy bisa sampai ke telinga-telinga yang ramah. Telinga Si Tupai yang cantik jelita itu, salah satunya.

Tahukah kau, Sarah, bahwa mereka sanggup membingkai sisi lain dari situs-situs, yang oleh kebanyakan orang dianggap menyeramkan, untuk kemudian dihayati sebagai suatu kefirdausan, alih-alih sekadar kebersituasian belaka? Tangkapan impresionis Si Tupai terhadap rembulan senja itu mencuri perhatianku karena ia seakan sedang memperingatkan kita: betapa gundah gulana kawula muda penggandrung senja dan kopi tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pengalaman katastropis, trauma sejarah, dan mimpi para penjaga dongeng-dongeng desa. Isin angsat, yang kemudian kuingat. Bulan jingga itu pada akhirnya berkias, sedangkan diriku menilainya sebagai metafora dari sebuah tempuran yang di situ beragam sisa-sisa dapat bertemu dan saling mengemukakan kembali diri.

Tapi, sekali lagi kubilang, bukan langit seperti itu yang kulihat melalui ambang pintu huntara yang berdiri di tengah lapangan bekas sawah ini. Cuaca hari ini tenang sekali. (“Tumben…?!”). Walau begitu, tampang langit yang berada di hadapanku ini tak semenggairahkan citra yang ditangkap Si Tupai. Langit yang ini —apakah dia sedang menatapku sekarang?— terkesan tawar, kaku, dan tidak ramah. Kalau dia punya wajah, tentu wajahnya begitu kencang meskipun tidak ada angin yang bertiup kencang di sekitaran huntara. Tenang, tapi menegangkan.

Aku tahu, aku tahu…! Langit memang bukan antagonis, tidak etis kalau aku terus-terusan menyalahkannya. Lagi pula, Kelinti Capung masih bersedia bersahabat, bahkan sejak kuketahui bahwa langit memantulkan regangan bumi. Ya, ya, ya…! Aku harus lebih santai menyikapi kerongsengan langit. (“Tapi kemarin aku rongseng karena kerongsengan langit ini! Kan, kau tahu itu…?!”). Bukan juga karena keberadaannya yang tanpa sengaja terlanjur tercitrakan menjadi antagonis itu yang membuatku berkali-kali mendongak ke atas untuk menatapnya berulang-ulang. Aku cuma ingin tahu, sebelum misi menerbangkan gajah ini berhasil (“Semoga saja!”), mengapa gajah tolol itu ingin menemui langit? Mengapa Sarah dan Aghy juga mengiranya begitu? Lebih lagi, kurasa langit pun juga mengharapkan keberhasilan misi ini. Siapa dia…?!

Apa sebenarnya yang terjadi antara Si Langit—kalau nama ini cocok untuknya—dan Si Gajah? Apakah benar Si Gajah sedang bersedih? Lagi-lagi si sosok kecil curiga, jangan-jangan Sarah dan Aghy hanya mengerjainya saja.

Aaah…! Sekawanan burung tiba-tiba melintas. Sekilas saja. Tidak berlama-lama mereka berkeliling di area cakupan pandang si sosok kecil. Semakin lama semakin ia waspada bagaimana supaya perenungan tentang Si Langit dan Si Gajah tak akan menyebabkan jiwanya memiliki kesamaan dengan jiwa-jiwa yang menjadi lanskap perjalanan para penari Verlaine; bagaimana agar mereka yang berjalan kaki di dalam jiwanya bukanlah para pemain kecapi yang hampir bersedih di bawah penyamaran. Jika hal itu terjadi, tentulah burung-burung itu sedang bermimpi sekarang.

“Tapi, Sarah, kita tak perlu khawatir!” ujarnya dalam hati, seolah-olah Sarah menyimak setiap kata-katanya. “Aku yakin, kita bukan sedang menjalani masa dekadensi. Aku yakin itu karena itulah maksud Si Tupai yang sebenarnya dari pesan yang ia sebar. Benar, kan, Heib? Si Gajah tak akan berlama-lama murung. Tenang saja…!”

Baru saja aku berlagak bijak dengan mengucap semacam petuah di dalam hati, tiba-tiba aku terkejut. Denok…! Gadis itu berdiri di seberang tanah bekas sawah, dan sambil tersenyum melambai-lambaikan tangan ke arahku. Ck!!! *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

034 – Danau Ingatan

Mungkin kau bertanya-tanya tentang kronologi waktu. Jadi, begini, Heib: manusia bisa terombang-ambing di dalam danau ingatan. Danau! Bukan sekadar kolam. Manusia itu mungkin saja tidak tenggelam, hanya melayang-layang di dalamnya, kalau bukan mengambang di permukaan.

Danau itu bukan danau buatan, memang, bukan pula danau yang mati. Danau yang sangat luas meskipun tidak seluas lautan. Manusia tidak tenggelam, tapi gelombang yang berputar-putar, yang hidup di bawah permukaan air-ingatan danau itu, bisa membuat kita berpindah-pindah dari satu ingatan ke ingatan lainnya dalam satu seri kejadian yang melibatkan ragam masa.

Seri kejadian itu, bentuknya, bisa dibilang seperti vortex, dengan garis yang saling bersitumpuk dan meliuk-lingkar menuju satu lubang hitam yang kelam. Kalau kau masih tak paham, kita bisa bertanya kepada dæmon dari Danau Enara yang pernah bercerita kepada Lyra tentang alam semesta yang berlapis-lapis seperti kue lapis, yang jika diiris-iris akan menghasilkan celah-celah setipis garis; melalui celah itulah kita bisa mengintip ungkapan-ungkapan liris dari dunia-dunia yang jauh berbeda dan, tentunya, lebih fantastis.

“Rentangkan kedua tanganmu, seperti ini, maka kau sebenarnya sedang menyentuh jutaan dunia yang masing-masing berbeda dimensi!” kata dæmon itu. Tapi Lyra tidak melihat ada dunia lain selain dunia tempat dia merentangkan tangan.

Seri kejadian yang dilalui manusia yang terombang-ambing di dalam danau ingatan bisa menjadi pengalaman yang aneh: terasa kronologis dari sudut pandang faali fisiknya, tetapi bisa jadi merupakan tumpukan waktu yang tidak runut jika dilihat dari sudut pandang masa alam semesta kita. Pengalaman fisik terhadap ingatan yang satu akan menyaru dengan pengalaman fisik terkait ingatan yang lain yang diingat pada waktu yang lain. Atau pada kasus lain: ingatan akan pengalaman yang satu akan tumpang-tindih dengan ingatan akan pengalaman lain di waktu yang juga lain. Bahkan, kau bisa mengingat kejadian tentang peristiwa lain yang belum terjadi.

Jika kau terombang-ambing di dalam danau ingatan, kau mungkin saja mengingat sebuah kejadian yang sebenarnya belum kau alami sama sekali. Kejadian itu, mungkin, baru akan benar-benar ada lima hari kemudian jika dihitung maju dari momen ketika kau mengingatnya. Lima hari itu contoh saja. Mungkin satu bulan, atau satu tahun, atau justru hanya sepersekian detik setelahnya. Tapi, kau malah bercerita kepada orang-orang di sekitarmu seakan-akan kejadian yang kau ingat itu adalah kejadian masa lampau, padahal bukan. Sebagian besar orang meyakininya sebagai imajinasi sementara yang lain menyepelekannya sebagai khayalan, tapi tidak sedikit juga yang mengamininya sebagai harapan. Tapi, ingat saja pesan ini: itu semua ingatan.

Di dalam danau ingatan, tubuh kita bisa terlempar ke lapis ingatan yang sebenarnya ditakdirkan akan diingat pada satu waktu, sedangkan kejadian yang menjadi isi ingatan itu baru akan terjadi pada waktu yang berbeda. Kemudian, tubuhmu itu akan terlempar lagi ke lapis lainnya, yaitu lapis yang berada di urutan sebelum lapis pertama. Dari segi raga, tubuh si pengingat merasa bahwa lapis pertama adalah kejadian fisik yang dialaminya lebih dulu, dan lapis kedua adalah kejadian fisik setelahnya. Padahal, yang sebenarnya terjadi—jika kita melihat lewat mata alam semesta tempat kita benar-benar berada, yaitu alam Sang Penutur—adalah sebaliknya.

Aneh, bukan…?

Begitulah! Nyatanya, Wafda mengaum di depan huntara tujuh hari setelah si sosok kecil memukul kepalanya di pekarangan rumah Sang Dahrun gara-gara teringat puisi Gegutu Indah. Sebuah ingatan, mengenai bunyi, yang melarikan diri dari pikiran Wafda, faktanya, terjadi enam hari setelah sebuah niatan terlintas di pikiran si sosok kecil untuk mengajak gadis kecil itu menggambar mesin sayap buat Si Gajah. Begitu juga, tiga hari setelah ia bermimpi bertemu Denok, barulah si sosok kecil melihat Lili berlari-lari menggoda ayahnya di depan huntara. Tapi, itu semua justru merupakan ingatan belaka bagi si sosok kecil pada saat ia duduk bersama Onyong, bercakap-cakap sembari menghabiskan segelas kopi, di hari kedua pascakesembuhannya dari demam yang diakibatkan oleh lompatan ingatan ke masa depan sejauh satu tahun dua bulan. 

Cobalah kau ingat gerutu si sosok kecil seratus enam puluh lima hari yang lalu…

Lucunya, ketika semua momen itu benar-benar terjadi, si sosok kecil tak pula merasa bahwa dirinya tengah mengalami déjà vu. Menurutnya, itu semua semata ingatan. Dia tidak pernah benar-benar percaya déjà vu, tapi dengan bodohnya tak pula pernah menyadari bahwa dirinya kini tengah terombang-ambing di dalam danau ingatan. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

033 – Jeda di atas Motor

Semut Rangrang pernah berkata, Sarah, bahwa bingkai bisa datang dari mana saja, tidak jarang juga pada waktu-waktu yang tak pernah kau duga sebelumnya. Bingkai juga bisa dibangun dari remah-remah, bahkan dalam situasi ketika kau kehabisan strategi. Bingkai, pada dasarnya, adalah cara melihat dengan tepat, atau panduan untuk memilah tuturan-tuturan yang pantas. Bingkai menghindari kesia-siaan, tapi mengindahkan sisa-sisa.

Tiga puluh tiga menit sebelum motor yang kutumpangi ini melaju di lintasan Jalan Raya Kelinti, menuju pasar Capung —tidak, di sana tidak ada pedagang capung— Sang Dahrun tiba-tiba saja muncul dari kamarnya. Suaranya, sebelum ia keluar dari kamarnya itu, seakan terlontar dari lantai dua rumahnya. Oh, aku lupa bercerita bahwa rumah kecil Sang Dahrun memiliki dua lantai. Kamar untuk para pendatang berada di atas, sedangkan kamar Sang Dahrun sendiri berada tepat di bawah kamar tamu itu, di sebelah tangga kayu. Nah, nyatanya, bukan dari ambang pintu kamar yang di atas sebagaimana kesan yang ditangkap telingaku, Sang Dahrun justru memanggil Onyong dari balik tirai kamar pribadinya yang berhadapan langsung dengan ruang tamu (yang sekaligus menjadi ruang makan). Sementara, kamar tempat tidurnya seseorang yang dihantui Denok terletak di sebelah kamar Sang Dahrun; kamar itu juga langsung berhadapan dengan ruang tamu atau ruang makan.

Aneh sekali, pikirku, karena penataan ruang dari rumah Sang Dahrun bisa menyarukan alur gerak suara dari sumber bunyi ke telinga-telinga orang yang ditakdirkan untuk mendengarnya.

Kami —aku dan Onyong— tidak sempat melihat Sang Dahrun dan istrinya pulang ke rumah. Tahu-tahu, mereka sudah di rumah saja. Adakah mungkin percakapan tentang mimpi itu membuat diriku dan Onyong terlepas dari koneksi kesadaran terhadap lingkungan fisik sehingga bebunyian dan gerakan benda-benda alam luput dari indra kami? Bagaimana pun itu, yang pasti suara Sang Dahrun telah menarik kami kembali, dengan mendadak, ke situasi yang terasa nyata. Namun, puisi adiknya, Sang Badai, tidak tertinggal begitu saja di alam percakapan; bait-baitnya ikut terbawa oleh pikiranku ke sini.

Hm…?! Mungkin lebih tepat jika kita menyebut bahwa puisi itu sendirilah yang menemukan kolam baru untuk memarasit dan mereplikasi keberadaannya lewat kehendak subjek-subjek yang terinspirasi untuk mengimitasinya, mengadaptasinya, dan mengubah-ubahnya sedikit. Buatku, puisi Sang Badai adalah bingkai untuk membantu temanmu, Si Gajah, menemui langit.

Bagaimana caranya puisi itu bisa menolong Si Gajah? Aku belum yakin ke mana puisi itu akan membawa kita. Namun, setidaknya, ungkaian kata-kata Sang Badai menyatakan bahwa hal-hal yang dekat adalah bantuan paling tepat. Di dalam puisi itu, tersebutlah satu jenis binatang yang konon membantu Gajah Bersayap pertama, yang pernah kuceritakan kepadamu. Angsa. Para Ingatan, seperti yang bisa diduga, memang menyambut baik rencana gila kita ini —rencana untuk menerbangkan Si Gajah— dan karenanya mereka membawa kita ke desa Kelinti Capung, sebuah negeri tempat berdiamnya orang-orang yang senang mendayagunakan hal-hal yang dekat sebagai solusi untuk berbagai masalah.

Di desa ini masih ada banyak angsa, Sarah! Daripada berpusing-pusing mencari Temokan yang misterius itu, mengapa tak kupetik saja sedikit demi sedikit bulu-bulu angsa Kelinti Capung, untuk kubawa kembali ke rumahmu…? Kau, kan, nanti bisa menggunakan bulu-bulu angsa itu untuk menggantikan sarung bantal berhelai-helai dan kantong-kantong kresek yang sudah kau rakit menjadi mesin sayap sebagaimana petunjuk Si Burung Tukan…?!

Masalahnya, Sarah, Si Burung Tukan sudah pergi entah ke mana. Jika burung misterius itu masih tinggal di dalam rumahmu, tentu kita bisa memintanya menggambarkan rancangan mesin baru berbahan bulu-bulu angsa, bukan sarung bantal, kabel, jeruji kipas angin, dan kantong kresek. Kepergian burung misterius yang penuh tanda tanya itu —tapi kau tidak tampak khawatir sama sekali, kan, Sarah?— sungguh sangat disayangkan, setelah kupikir-pikir.

Sekarang, kita harus mencari siapa yang bisa menggambarkan kita rancangan mesin sayap untuk Si Gajah…! Siapa…?

Kurasa Sang Dahrun, orang sakti mandraguna seantero Kelinti Capung, mengetahui masalah yang kubawa. Ya, dia tentu sudah tahu masalah ini sejak hari-hari sebelum Denok membuat perjalanan melompati ingatan ke masa depan ini semakin runyam. Tanpa bertanya-tanya soal topik perbincanganku dengan Onyong, Sang Dahrun menyarankan kami membeli buku gambar ke pasar Capung. Dia pasti sempat mendengar ucapanku yang berkata, “Ane pengen menggambar saja, Heib!” saat dia masuk ke dalam rumah dengan diam-diam. Dan mungkin sekali dia menguping hampir semua perbincangan kami. Juga tentang niatku untuk mengajak Wafda menggambar.

Sebenarnya, Sarah, aku awalnya tidak percaya bahwa Si Burung Tukan itu ada. Tak pula aku percaya sebelumnya bahwa dialah yang membuatkanmu gambar rancangan mesin sayap itu. Aku sempat menebak, kalau bukan kau, tentu abangmu yang menggambarnya. Tapi, puisi Sang Badai mengingatkanku, bahwa skeptisisme terhadap yang imajinatif adalah kesia-siaan, dan kerap mengabaikan apa-apa saja yang tersisa. Sementara, Temokan Sang Badai, yaitu Bingkai, mengharuskan kita untuk peka terhadap sisa-sisa, dan menghindari apa saja yang sia-sia.

Maka, untuk melanjutkan perjalanan kita demi membantu Si Gajah agar ia bisa terbang menemui langit, seharusnya aku juga mulai menggambar hari ini juga; menggambar mesin sayap, atau menggambar bagaimana rupa gajah ketika terbang, agar kita tidak lagi menyia-nyiakan waktu, dan memanfaatkan sisa-sisa pastel minyak.

Tapi, semua orang juga tahu, gambarku terlalu rumit. Gambar orang-orang lain yang hidup satu generasi denganku, juga sama rumitnya. Artinya, aku harus mencari artikulasi garis yang setara dengan gambar rancangan mesin sayap sebelumnya—karena aku yakin bahwa Si Burung Tukan yang misterius itu menggunakan intuisi tanpa beban, dan gerakan tangannya tak pernah sia-sia, serta kepekaannya yang juga penting karena mengindahkan benda-benda sisa: jeruji kipas angin bekas, kabel, sarung bantal, dan kantong kresek.

Kalau memang benar Si Burung Tukan kini berkelana—entah melompat atau entah bagaimana—ke kota yang dahulu terbagi dua oleh sebuah tembok yang reruntuhannya kini dikeramatkan secara sekuler, tentu berbahagialah ia karena bisa menemukan teman-teman baru yang juga senang menarik garis. Suatu hari nanti, jika Si Burung Tukan bertemu denganmu lagi, Sarah, dan juga dengan abangmu, Aghy, kalian mungkin akan bergotong-royong menarik garis-garis yang lebih tegar daripada kejenuhan hari ini.

Lalu, di antara reaksi-reaksi kejutan yang masih bekerja pada dirinya, si sosok kecil mengulang-ulang kembali syair Pong pang kelinti capung, umba anak tengari desa di saat dirinya menatap tanpa fokus trotoar yang bergerak cepat. Motor Onyong melaju menuju pasar yang ditunjuk Sang Dahrun. Mereka ingin membeli buku gambar dan pensil serta pulpen.

Sembari terus menyanyikan syair itu, si sosok kecil juga berpikir, betapa Sang Dahrun, salah seorang pendendang sejarah desa, begitu terbuka membiarkan sistem-sistem memetis itu bekerja pada diri dan kawan-kawannya, demi melestarikan sari pati negerinya. Pergulatannya dalam menyiasati tantangan yang diberikan Semut Rangrang —subjek lain yang melaluinya para capung masih berpeluang untuk berpindah-pindah di antara kolam-kolam pikiran kita— justru membuahkan suatu sintesa dari peristiwa-peristiwa kecil yang, oleh kebanyakan orang, dipercaya sebagai dongeng. Mereka dengan tegas memungut sisa-sisa demi memperbaiki kesia-siaan. Sisa-sisa getaran bumi, bagi mereka, adalah tanda cemerlang bagi kelanjutan penulisan kisah leluhur mereka di lembaran zaman baru.

Masih terus bernyanyi, si sosok kecil pun menemukan jawaban, ada pada siapakah garis-garis tanpa beban itu di desa ini? Jawabannya: Wafda dan Lili, dua anak kecil yang ingin diajaknya menggambar. *

_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.