All posts tagged: Film

Menemui Lagi Siti

TULISAN INI TERPICU dari ketidaksetujuan saya atas pendapat Panji Wibowo yang mengatakan bahwa Siti (2014), karya Eddie Cahyono, adalah “sebuah parodi getir dari kebanyakan fil[e]m-fil[e]m Indonesia yang masih terjebak dalam konsepsi moral baik-buruk.”[1] Justru, Siti-lah satu di antara kebanyakan filem-filem itu. Siti mencubit paha orang, tetapi lupa mencubit pahanya sendiri. Siti memenangkan beberapa penghargaan nasional dan internasional.[2] Prestasi itu memicu gerakan tagar #SitiMasukBioskop[3] demi kampanye keadilan bagi statusnya sebagai “filem nonbioskop”,[4] serta menyeret cukup banyak opini dari kalangan perfileman sendiri yang menilai positif kualitas filem tersebut. Tulisan ini hadir sebagai kritik penyeimbang dalam rangka membuka perdebatan sehat tentang Siti. Siti mengamini praktik subordinasi sekunder terhadap perempuan karena menyiratkan bahwa perempuan barulah dianggap istimewa jika mampu berperilaku di luar ranah gendernya. Hal pertama yang perlu kita perhatikan ialah Siti bukan “narasi tentang kekuatan” sebagaimana pendapat Hikmat Darmawan. Tiada mengedepankan keberpihakan terhadap perempuan, Siti melanggengkan kedangkalan berbahasa yang telah puluhan tahun menjangkiti industri perfileman kita. Siti memang “tak hendak menyajikan perempuan sebagai korban,”[5] tapi ia mengorbankan perempuan itu sendiri. Dalam hal ini, Eddie gagal meloloskan diri dari dua …

ANAK SABIRAN…

Silakan datang ke Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, tanggal 29 Maret 2013, pukul 19.00 WIB. #asyek ANAK SABIRAN, DI BALIK CAHAYA GEMERLAPAN (SANG ARSIP), 160 Menit. “Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)” mencoba membaca gagasan pengarsipan filem yang ada di dalam pikiran Misbach Yusa Biran sebagai seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfileman Indonesia yang disimpannya di Sinematek Indonesia. Filem ini kemudian menelusuri jejak-jejak ‘pengetahuan’ dari Sang Arsip yang memutuskan berhenti menjadi sutradara dan memilih menjadi pengarsip filem. Melalui pemikirannya lahirlah Sinematek Indonesia yang menjadi pusat pengarsipan filem pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Kehadiran Sinematek Indonesia tidak bisa dilihat hanya sebagai sebuah ruang penyimpanan artefak-artefak bersejarah, tetapi juga sebagai ruang pengawetan sejarah gagasan dan wacana sinema Indonesia. Namun situasi Sinematek Indonesia yang semakin memburuk telah mengancam artefak-artefak sejarah gagasan dan wacana kepada hal yang paling mengerikan dalam peradaban manusia, punahnya sejarah pengetahuan. Dalam filem yang berdurasi sekitar 160 menit ini, dihadirkan dua sudut pandang dari generasi yang berbeda dalam …

kritikus dan pengkarya

“…yang paling mengerikan lagi bagi situasi perfileman Indonesia adalah ketika sekelompok kritikus ingin membangun tradisi kritik di Indonesia dengan baik, namun bagi sebagian sutradara yang dikritik hal itu membuatnya geram. Dan yang paling lucu adalah, antara pengkritik dan sutradara itu, sebenarnya saling berkawan, tetapi ‘sutradara-sutradara muda’ yang tidak mengetahui peta itu justru menganggap bahwa si kritikus adalah orang yang ‘harus dimusuhi’. Ini gila. Padahal, kritik itu menjadi salah satu infrastruktur yang penting untuk pengembangan filem. Dan di negara mana pun, antara kritikus dan sutradara itu selalu berkawan walau ia selalu berdebat habis-habisan di forum, tetapi setelah itu ia minum kopi bersama. Dan ruang-ruang seperti Kineforum menjadi salah satu infrastruktur yang juga harus dibangun. Di ruang inilah para sutradara handal itu dapat bernegosiasi tentang artistik ataupun isu yang ingin diangkatnya. Ruang menonton seperti XXI biarlah berjalan. Ia sudah memiliki mekanismenya sendiri yang tidak akan pernah bangkrut. Kini, giliran ruang seperti Kineforum lah yang harus dibangun oleh orang-orang yang perduli terhadap filem ataupun orang-orang yang mengaku ‘sutradara’, tidak masalah. Yang penting, ruang wacana harus tetap hidup, dengan …

Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film dan Video di Indonesia

Merupakan suatu keniscayaan bahwa karya video, sama halnya dengan film, dapat dilihat dari berbagai perspektif dan interdisiplin pengetahuan. Perspektif film pun, pada dasarnya, dapat dijadikan sebagai salah satu pisau bedah dalam mengkaji karya video yang memiliki attitude dan bahasanya sendiri itu. Dan merupakan suatu keharusan bagi pembuat karya seni video untuk memiliki kesadaran tentang bahasa film dan konsepsi sinema dalam berkarya.

Santapan Dadakan di Tengah Bosan Hari Ini

Tadi sore, sekitar pukul tiga, saya benar-benar merasa bosan. Bagaimana tidak, dari awal menjadi mahasiswa baru, kegiatan acara yang disuguhkan oleh lembaga-lembaga mahasiswa di kampus saya selalu begitu saja, tidak ada nuansa baru yang menarik hati. Jengah berada di dalam ruangan yang mulai gerah karena banyaknya penonton—saya sendiri bingung mengapa acara semacam TRIVIA, semacam kompetisi layaknya cerdas-cermat berkelompok, masih diminati oleh mahasiswa untuk ditonton, padahal acara tidak menghibur jika diulang-ulang (jelas ini hanya pendapat pribadi saya)—saya memutuskan untuk pergi menuju taman di depan Gedung MBRC (yang dikenal dengan nama Plasa oleh warga kampus FISIP UI), duduk sendiri, bermenung dan menghela-hela napas: bosan. Baru beberapa detik setelah saya memutuskan untuk segera berangkat menuju Forum Lenteng—lembaga riset independen tempat saya beraktivitas di luar kampus—tiba-tiba seseorang memanggil saya. Orang itu adalah Bang Jaka, salah seorang teman di Forum Lenteng. Tentu saja saya kaget, mengapa dia berada di kampus FISIP UI. “Gue jadi pembiacara,” katanya. “Acara Bioskop Sosio.” Saya lantas teringat bahwa minggu ini Jurusan Sosiologi memang sedang mengadakan acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa-nya yang cukup menarik (setidaknya …